VENUS

Dazai and All the Girls Around

[A Remake Story by Phoebe ; Bungou Stray Dogs belong toKafka Asagiri and Sango Harukawa]

[ Cast: Dazai x Atsushi slight Akutagawa x Atsushi ; Dazai x Chuuya ; Rated M ]

Warning : AU, GENDERSWITCH (GS), OOC, TYPO(S), DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

[ Bagian 29 ]

[Loving then loosing]

"Haruskah aku pergi sekarang?"

"Kau tetap harus kembali ke Tokyo karena masa bertugasmu sudah habis. Kenapa kau kelihatannya sedih Dazai? Bukankah naik Jabatan dan Kembali ke Tokyo adalah keinginanmu yang selalu kau impikan? Sekarang kau mendapatkannya lalu kenapa wajahmu seperti itu?"

Dazai menghela nafas. Naik jabatan dan hidup di Tokyo adalah impiannya? Benar. Tapi bila itu semua harus membuatnya jauh dari Atsushi, Dazai merasa impiannya akan kehilangan arti. Sekarang apa yang harus di lakukannya? Dazai memandangi kedua telapak tangannya dengan khidmat. Tangan ini yang menyentuh Atsushi di Lift waktu itu dan tangan itu juga yang merasakan ada sesuatu yang lain yang Atsushi sembunyikan darinya. Dazai seharusnya curiga, tapi mengapa ia tidak bisa? Tubuh Atsushi tidak sama dengan tubuhnya yang biasa, Dazai memegangi kepalanya. Ia menekan tuts ponselnya dan itu sudah berkali-kali di lakukannya hari ini. Mencoba menelpon Atsushi adalah satu-satunya cara yang bisa di lakukannya sekarang karena Atsushi sudah menghilang sama sekali dari pandangannya. Naomi juga selalu menghindar setiap kali ia bertanya. Dan Akutagawa, Anak itu bahkan tidak lagi menyapanya karena kemarahan yang tidak di mengerti. Pintu ruangan kerja Dazai terbuka sehingga mata Dazai membesar saat melihat asistennya masuk ke ruangan Tanpa permisi.

"Maaf mengganggu anda!", Katanya pelan.

"Aku sudah berusaha mengetuk pintu tapi anda tidak mendengarkannya, Seseorang menitipkan ini dan dia bilang ini adalah sesuatu yang penting yang harus sampai di tangan anda saat ini juga!" Laki-laki itu kemudian meletakkan sebuah kotak berwarna merah hati di hadapan Dazai.

Dazai menghela nafas berat lalu membuka kotak itu dengan lesu. Sebuah ponsel dan cincin bermata ruby dalam sebuah kotak beludru berwarna merah. Semua ini hanya membuat ingatannya tertuju pada satu orang. "Atsushi?" Desisnya.

Semangatnya tiba-tiba saja muncul, Dazai menegakkan kepalanya dan menatap pegawainya dengan serius. "Yang mengantarkannya wanita? Kapan dia datang?"

"Ya, Wanita itu baru saja pergi Setelah memberikan benda itu!"

Tidak ada satupun yang bisa menghalangi kehendaknya sekarang. Yang Ingin Dazai lakukan adalah datang kepada Atsushi secepatnya. Ia berlari sekuat tenaga berharap bisa menyusul Atsushi dan tidak kehilangannya lagi. Dazai bahkan tidak bisa menunggu lift dan memilih untuk menuruni tangga darurat dengan terburu-buru. Kepalanya berkeliling mencari-cari, kakinya bergerak kesana kemari. Atsushi menghilang dan ia benar-benar terlambat. Dazai berhenti bergerak dan merasa sangat bodoh karena sudah menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya selama ini. Sekarang apa yang harus di lakukannya?

"Kau mencariku?"

Sebuah suara datang dari arah belakang, Dazai berbalik dan memandangi seorang gadis yang sangat di kenalnya meskipun bukan seseorang yang sedang di harapkannya. Naomi.

"Kau?" Dazai terkejut. "Kau yang mengantarkan barang-barang itu kepadaku?"

"Kau berharap orang lain? Atsushi?"

"Tentu saja. Kau sendiri tau aku hampir gila karena wanita itu menghilang begitu saja. Selama ini meskipun dia selalu bersikap dingin, setidaknya setiap hari aku bisa melihat wajahnya. Sekarang dia dimana? Kau masih menolak untuk memberi tahuku?"

"Dazai-kun," Naomi berdesis. "Kau sudah membuatku mengingkari janjiku kepadanya. Aku bertaruh dengan diriku sendiri, bila kau turun dan mengejarku aku akan mengatakan dimana dia sekarang. Tapi kau membuatku hampir putus asa karena aku harus menunggu lama disini!"

"Baiklah aku minta maaf, Sekarang dimana Atsushi?"

"Apa kau tidak ingin mendengar ceritaku dulu?"

"Nanti aku akan mendatangimu untuk itu. Aku harus segera pindah ke Tokyo akhir minggu ini dan aku harus menemukannya sebelum waktu kepergianku tiba."

"Dazai-kun, Apakah kau benar-benar mengharapkannya untuk berada di sisimu? Kau mengharapkannya dengan hatimu atau…"

"Aku bahkan siap memberikan darahku kalau dia menginginkan itu!"

"Baiklah." Naomi menghela nafas lega. "Aku tidak tau apa yang akan Atsushi lakukan. Yang aku tau dia sekarang tinggal di sebuah apartement mewah di selatan. Dia pernah mengatakan kepadaku kalau ia akan berangkat ke Dalas dalam waktu dekat, tapi Atsushi tidak pernah memberi tahuku kapan rencana kepindahannya. Seharusnya dia sudah pindah beberapa hari lalu bersama keluarga itu, tapi aku tidak mengerti kenapa dia membatalkannya."

"Apartement itu punya siapa?"

"Punya keluarga dokter itu. Tapi keluarga itu sudah pergi ke Dalas lebih dulu dan Atsushi menempatinya beberapa hari belakangan ini."

"Baiklah terimakasih!"

Lagi-lagi Dazai harus melakukan hal bodoh ini. Ia datang ke Apartement dan menaiki lift yang sama dengan lift yang menjadi tempatnya melepas kerinduan bersama Atsushi beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang bukan saatnya untuk mengenang apa-apa, dengan gelisah kaki-kaki Dazai mengetuk lantai lift dengan irama yang tidak teratur sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam lift bersamanya memandanginya berkali-kali. Ini hal yang bodoh tapi Dazai tidak akan perduli. Beberapa hari ini Atsushi berada di Apartemen ini? Lantai delapan. Ya, Saat itu Atsushi keluar di lantai delapan karena ingin menemui seseorang. Apakah itu hari kepindaannya ke tempat ini? Dazai tidak yakin, ia bahkan masih bisa melihat Atsushi yang membuang wajahnya saat mereka bertemu pandang setelah Dazai pulang kerja hari itu, Tapi pada pagi hari ia sadar kalau Atsushi sudah menghilang sama sekali. Bunyi dentingan halus membuat Dazai melangkahkan kaki selebar mungkin keluar dari lift dan berusaha mendekati pintu yang Naomi katakan kepadanya. Tapi tidak ada seorangpun yang menjawab. Sangat hening.

[ Bersambung ]