Pria yang sejak tadi hanya fokus mengendarai mobilnya itu, menolehkan kepalanya dan menatap pria disampingnya yang baru saja membentaknya. "maka dari itu, lebih baik kau diam. Kankuro." pria itu kembali fokus mengendarai mobilnya setelah selesai mengatakan kalimatnya. Pria yang bernama Kankuro itu hanya bisa diam. Tidak mau memancing emosi pria yang disampingnya.
Disclaimer:
Naruto is Masashi Kishimoto
WARNING : Typo, Drama, etc *mohon koreksinya :')
Don't like don't read
Agreement
Chapter 3
"tou-san, ada perlu apa? Mengapa aku harus pulang cepat?" setelah buru-buru pulang ke rumah, Hinata segera menemui ayahnya.
FLASHBACK
"Hinata diamana ya? Apa jangan-jangan dia menghindariku ya? Awas saja kau Hinata." Geram Ino di sebuah café, tempat yang sudah dijanjikan mereka untuk makan siang. "kita tunggu dulu saja Ino, mungkin dia masih ada pekerjaan. Kau ini tak sabar sekali." Tenten membela Hinata. "masalahnya Hinata itu selalu saja menghindar jika di suruh bercerita mengenai masalahnya. Kan kasihan dia, jika di pendam-pendamnya sendiri." Ino berucap khawatir. "ya, aku mengerti, mungkin dia akan bercerita jika sudah waktunya untuk diceritakan. Lebih baik kita memesan saja dulu, nanti jam makan siangnya habis." Tenten berkata sambil memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.
"Ino-chan, Tenten-chan hah hah hah" Hinata berlari-lari menghampiri meja Ino dan Tenten. Ino dan Tenten kaget melihat Hinata yang berlari-lari sampai ngos-ngosan seperti itu. "ada apa Hinata, mengapa harus lari-lari?" Tenten bertanya dengan panik. "lebih baik kau duduk dulu, dan minum ini." Ino menyerahkan segelas air putih untuk Hinata. "i-iya trimakasih." Hinata langsung meneguk habis seluruh air nya. "ma-maaf ya, untuk sekarang a-aku tak bisa bercerita pada kalian, sekarang aku ha-harus pulang, tou-san berkata ada h-hal penting." Hinata merasa tidak enak pada kedua sahabatnya itu. "oh ya, tak apa Hinata, jika itu hal penting kau harus segera pergi. " Ino memahami keperluan Hinata,Tenten hanya mengangguk menanggapi perkataan Ino. "baiklah ka-kalau seperti itu aku pe-pergi dulu ya." Hinata tersenyum dan pergi meninggalkan café itu. "hati-hati Hinata." Teriak Tenten.
FLASHBACK END
Ayah Hinata tetap fokus membaca Koran, Hinata tetap sabar menunggu jawaban dari ayahnya. Setelah melipat Koran dan meletakkannya di atas meja yang ada di sebelah kanan kursi yang didudukinya itu. Hiashi menatap Hinata "persiapkan dirimu, keluarga Sabaku akan ke rumah kita, mereka berencana untuk menentukan tanggal pernikahanmu dan calon suamimu nanti." Hiashi berucap tenang. "ta-tapi mengapa baru diberitahu se-sekarang? Dan juga, Ti-tidakkah terlalu cepat untuk menentukan tanggal?" Hinata tidak menyangka akan secepat ini, dia belum siap sama sekali. "Sabaku-san tadi menelpon tou-san, dia berkata, tidak lama lagi dia akan meninggalkan Jepang, jadi dia ingin acara pernikahannya dipercepat." Hiashi berdiri dari tempat duduknya. "jadi kau harus benar-benar mempersiapkan diri. Nanti malam mereka datang." Hiashi meninggalkan ruangan itu. "ba-baik tou-san." Hinata tidak bisa berkata apa-apa, dia tidak akan membantah.
Hinata sadar dari lamunannya saat sesorang memanggilnya di depan kamarnya. Segera dia bergegas membuka pintu kamarnya dan melihat siapa yang memanggilnya itu. "Hanabi-chan, ada apa?" Hinata membuka pintu dan mempersilahkan adik kesayangannya itu masuk. "apakah kau sudah siap Nee-san? Sepertinya keluarga Sabaku sudah datang. Itu mobilnya sudah terparkir." Hanabi berjalan menuju jendela kamar Hinata, dan melihat ke bawah. Ada mobil mewah yang terparkir di halaman rumah mereka. Hinata hanya mengikuti Hanabi dan melihat mobil itu dengan gugup. Hanabi menyadari kakaknya yang gugup itu. "Hinata Nee-san, kau bisa saja menolak perjodohan ini. Aku tak ingin melihat Nee-san menikah dengan orang yang tak dikenal, kau pasti akan kesulitan Nee-san." Hanabi menatap kakaknya dengan tatapan iba. Hinata hanya diam dan menundukkan kepalanya. "tapi jika ini memang keputusan Nee-san, aku yakin kau bisa mengatasinya. Jika kau sudah menerimanya kau tak akan pernah bisa untuk meninggalkannya begitu saja Nee-san, jadi keputusanmu harus benar-benar bulat." Hanabi meyakinkan kakaknya dan berjalan menghampiri kakaknya untuk menguatkan kakaknya dengan pelukan hangatnya. Hinata meneteskan air matanya. "ya Hanabi-chan, kau te-tenang saja, aku akan mengatasinya. Aku ti-tidak akan mungkin membuat kalian kecewa." Hinata menangis dan membalas pelukan adiknya. "ya, kau harus semangat Nee-san, tunjukkan kalau kau adalah seorang Hyuuga, seorang yang kuat. Jika kau perlu sesuatu, kami pasti akan selalu ada di sisimu Nee-san, jadi jangan khawatir ya!" Hanabi berusaha untuk membuat kakaknya tersenyum. "tentu saja, aku pa-pasti akan merindukan keluarga Hyuuga Hanabi-chan." Hinata melepaskan diri dari pelukan adiknya, dan menghapus air matanya. "Ya Nee-san, semangat Nee-san, buat calon suamimu yang jelek itu menjadi tampan ya. Agar aku senang memiliki kakak ipar yang tampan." Hanabi tertawa mendengar kalimatnya sendiri. Hinata jadi kembali tersenyum dan tertawa setelah mendengar kalimat-kalimat konyol adiknya itu. "ayo kita kebawah Nee-san." Hanabi menarik tangan Hinata. "y-ya!" rasa gugup Hinata sedikit menghilang.
Setelah Hinata dan Hanabi sampai di ruang tamu rumah besarnya itu, dia melihat ayahnya yang duduk sendirian di sisi kanan sofa panjang ruang tamu itu, lalu di depannya ada meja besar, dan didepannya lagi ada sofa panjang juga yang bentuknya sama dengan sofa yang diduduki oleh ayahnya, dan sudah ada keluarga Sabaku yang duduk di sofa tersebut. Tuan Sabaku di pinggir kiri, dan Nyonya Sabaku di pinggir kanan. Tapi satu yang Hinata herankan. Siapa orang yang duduk di tengah-tengah Nyonya Sabaku dan Tuan Sabaku, dia tak mengenalnya, dan dia juga tak melihat Kankuro, calon suaminya. Dia benar-benar Heran. "se-selamat malam, maaf sudah me-membuat menunggu." Hinata membungkuk sopan, "selamat malam, maaf kami baru datang." Hanabi juga membungkuk sopan. "Ahh Hinata-chan, tak masalah nak. Kami juga baru sampai." Nyonya Sabaku langsung berdiri dari duduknya, dan segera memeluk Hinata. Hinata hanya terkaget dengan perlakuan calon mertuanya itu. Setelah selesai memeluk Hinata, Nyonya Sabaku menoleh kepada Hanabi. Merasa dipandangi, Hanabi sadar bahwa dia belum memperkenalkan diri, diapun segera memperkenalkan diri. "maaf sebelumnya, perkenalkan saya Hanabi Hyuuga, saya putri bungsu dari Hiashi Hyuuga. Salam kenal." Sekali lagi Hanabi membungkuk sopan. "wah adik Hinata-chan ternyata, kalian sama-sama cantik." Nyonya Sabaku membagi pelukan hangatnya juga kepada Hanabi. Hanabi kaget, karana dia jadi teringat pada mendiang Ibunya. Hanabi senang, sepertinya kakaknya akan mendapat mertua yang baik. Hiashi pun ikut tersenyum melihat kehangatan Nyonya Sabaku kepada kedua putri nya. "baiklah, mari kita duduk." Nyonya Sabaku kembali duduk di tempatnya tadi, Hinata duduk disamping kiri ayahnya, dan Hanabi duduk di samping kiri Hinata.
Hinata POV
'Aku merasa senang, Nyonya Sabaku benar-benar hangat. Sangat mengingatkanku pada mendiang ibuku. Kurasa Hanabi juga merasakan hal yang sama. Tapi siapa lelaki yang duduk di depanku ini? Aku tidak pernah bertemu dengannya, dan juga dimana Kankuro? Apa dia datang terlambat? Ya ampun, kuharap tidak terjadi apa-apa.' "baiklah, kita langsung keintinya saja. Kehadiran kami ke rumah keluarga Hyuuga ini. Untuk memperkenalkan seseorang pada kalian." Tuan Sabaku berbicara tanpa basa-basi. Seperti mengerti apa yang dimaksud Tuan Sabaku, lelaki yang duduk di samping Tuan Sabaku itu berdiri. aku menatapnya dengan pandangan Heran dan Gugup, karena lelaki itu melihatku dengan tatapan tanpa ekspresi dan terkesan dingin. "perkenalkan, saya Sabaku Gaara." Hanya itu yang diucapkan lelaki yang bernama Gaara itu, tidak ada senyum, tidak ada menunduk sopan. Dia langsung duduk setelah mengucapkan namanya. 'Gaara? Siapa dia, apa dia putra Sabaku-san juga? Setahuku hanya Temari-san dan Kankuro-san saja. dan untuk apa dia datang kemari?' aku terheran-heran. "dia Sabaku Gaara, Putra bungsuku. dia baru menyelesaikan pendidikan bisnisnya di Eropa" tuan Sabaku kembali memperkenalkan putranya itu. 'jadi benar dia putra Sabaku-san. pantas saja aku tak mengenalnya, ternyata selama ini dia berada di luar negri.' " kehadirannya disini untuk memberitahukan, bahwa dialah calon suamimu yang sesungguhnya Hinata." Sabaku-san menatapku. mataku membulat "a-apa? Ba-bagaimana bisa?" aku benar-benar kaget dengan hal ini. Begitu juga dengan Hanabi yang ikut kaget dengan reaksi ku, walau dia tak tahu apa-apa. Dan ayahku tetap terlihat tenang, sepertinya dia sudah mengetahui hal ini.
Hinata POV END
Hanabi POV
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang ini. Hanya saja, dengan melihat kakakku yang terlihat sangat kaget, aku jadi ikut kaget dan heran. Tapi aku ingat sesuatu, Nee-san berkata bahwa calon suaminya itu tidak tampan. Tapi…. Apa-apaan ini? Lelaki setampan ini dibilangnya tidak tampan? Yaampun ada apa dengan Nee-sanku ini. Lebih baik aku saja yang menikah jika lelakinya setampan ini.
Hanabi POV END
Normal POV
"Maaf Hinata-chan, jika kau kaget dengan hal ini. Tapi keputusannya berubah, dan Gaara-kun lah yang akan menikah denganmu nanti. Kau tidak keberatan kan?" Nyonya Sabaku angkat bicara. Hinata masih saja terkaget dan tidak dapat berkata apa-apa. Sedangkan Gaara tetap diam tanpa berkata apapun. Setelah puas dengan kagetnya, Hinata mulai berbicara "y-ya, a-aku tidak ke-keberatan, hanya saja a-apa aku boleh tahu? Me-mengapa tidak Gaara-san yang di-diperkenalkan padaku se-sejak awal?" Hinata bertambah gugup, dia tidak tahu alasannya, dan dia ingin tahu alasannya, hanya saja dia takut untuk mendengar alasannya. Sadar bahwa tidak ada yang menjawabnya Hinata kembali berbicara dengan menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah di pipinya karena malu. "ma-maaf, anggap saja a-aku tidak pernah bertanya." Hinata berbicara dengan sangat pelan, berharap tak ada yang mendengarnya. Tapi semua orang dapat mendengarnya, karena ruangan itu begitu sunyi. "ya Hinata, tidak salah kau bertanya. Suatu saat kau akan mengetahui alasannya." Tuan Sabaku menjawab dengan tenang. "Hinata, bagaimana? Apa keputusanmu sudah bulat, untuk menikah dengan Gaara?" Hiashi akhirnya berbicara. "y-ya, Tou-san. Ke-keputusanku sudah bulat." Hiashi mengangguk menanggapi jawaban anaknya. "bagaimana denganmu Gaara?" Hiashi bertanya pula kepada Gaara. "ya." Hanya itu jawaban dari Gaara. "baiklah, kudengar bahwa Sabaku-san akan segera meninggalkan kota Jepang untuk keperluan bisnis. Jadi bagaimana? Apakah sudah ditentukan tanggal pernikahannya?" Hiashi menatap Tuan Sabaku. "1 minggu lagi, apa ada yang keberatan?" Tuan Sabaku bertanya. 'apa? Satu minggu? Apa aku siap? Apakah cukup untuk mempersiapkan segalanya? Ini benar-benar terburu-buru.' Hinata gugup, dia tidak menyangka akan secepat itu. "tenang saja Hinata-chan, kami sudah mempersiapkan seluruhnya. kau tinggal membeli gaun pengantinmu, dan juga kau bisa mengundang siapapun yang kau inginkan." Nyonya Sabaku berkata, seolah mengerti apa yang ada dipikiran Hinata. "y-ya, masalah Ga-gaun pengantin, aku dapat me-mengatasinya." Hinata menatap Gaara, dia benar-benar terlihat tak berminat sedikit pun, Gaara membalas tatapan Hinata, merasa ketahuan jika dia memperhatikan Gaara, Hinata segera mengalihkan pandangannya. "baiklah jika seperti itu, sampai bertemu satu minggu lagi." Merasa bahwa perbincangannya selesai, Tuan Sabaku segera berdiri dan membungkuk hormat ke arah Hiashi, dan dibalas dengan bungkukan hormat pula dari Hiashi. "oh iya Hinata-chan, kau belum membeli gaun pengantinnya kan?" sebelum meninggalkan rumah Hyuuga, Nyonya Sabaku kembali berbalik kearah Hinata. "Be-belum." Hinata berkata dengan malu-malu. "kalau begitu, kau membelinya dengan Gaara-kun saja, siapa tau kau ingin pendapatnya dalam memilih." Nyonya Sabaku berbicara tanpa mengetahui, bahwa Hinata sudah benar-benar gugup. "ya kan Gaara? Kau bisa meluangkan waktumu kan, untuk menemani Hinata membeli Gaun pengantinnya?" Nyonya Sabaku bertanya pada Gaara yang berdiri di sampingnya. "hn." Hanya itu tanggapan Gaara. 'dia benar-benar dingin, bagaimana aku bisa dekat dengannya.' Hinata menatap Gaara malu-malu. Gaara sadar bahwa Hinata menatapinya, hanya saja dia pura-pura tidak tahu. "Baiklah, kami pulang ya Hinata-chan. Persiapkanlah dirimu ya. Sampai ketemu lagi." Nyonya Sabaku memeluk Hinata singkat, lalu pergi menyusul Gaara yang sudah duluan masuk mobil bersama Tuan Sabaku.
Setelah mobil mewah keluarga Sabaku pergi meninggalkan kediaman Hyuuga, Hinata yang sedari tadi diam di teras rumahnya menatap kepergian keluarga Sabaku itu, langsung masuk kerumahnya dengan perasaan yang bercampur aduk. "Nee-san! Kau bilang calon suamimu tidak tampan? Ya ampun Nee-san, lelaki setampan itu kau bilang tidak tampan? Rambut merahnya yang sangat menarik, hidung mancungnya, bibirnya yang sangat menggoda, tubuhnya yang tegap, kakinya yang jenjang. Ya ampun Nee-san, dia benar-benar maha karya Tuhan yang sempurna." Hanabi yang sedari tadi hanya duduk diam di sofa ruang tamu itu, segera menceramahi kakaknya. "y-ya Hanabi-chan. Ta-tadinya bukan dia yang akan me-menikah denganku. Aku saja sa-sangat kaget." Hinata masih memperlihatkan wajah bingungnya. "haahhh, benarkah Nee-san? Ya ampun kau sangat beruntung, berarti aku tidak jadi memiliki kakak ipar yang jelek. Syukurlahh." Hanabi segera pergi meninggalkan kakaknya yang masih terdiam. "Hinata, kemari nak." Hiashi memanggil Hinata untuk duduk disampingnya. Hinata duduk di samping ayahnya. "Hinata, Tou-san tahu ini sangat terburu-buru, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karna Sabaku-san akan segera meninggalkan Jepang." Hiashi berbicara lembut pada anaknya. "y-ya Tou-san, itu tak masalah." Hinata tersenyum meyakinkan ayahnya. "Hinata, tadi kau berkata, bahwa keputusanmu sudah bulat untuk menerima pernikahan ini, jadi kau akan menikah dengannya, kau tidak akan mungkin untuk menolaknya lagi." Hiashi kembali meyakinkan anaknya. Hinata hanya mengangguk lemah. "Walau pernikahan kalian tanpa dasar cinta, tapi Tou-san harap, kalian dapat menjalani rumah tangga kalian dengan baik nantinya. Semuanya akan baik-baik saja nak." Hiashi memeluk Hinata. "y-ya Tou-san. Aku juga berharap se-semuanya akan baik-baik sa-saja." Hinata berusaha menahan tangisnya di pelukan ayahnya. "kau harus tersenyum ya, jangan sampai suamimu melihatmu menangis. Bagaimanapun keadaanya, kau harus menjadi istri yang baik bagi suamimu nanti. Kau mengerti?" Hiashi mengelus rambut halus Hinata. Sebenarnya dia juga berat untuk melepaskan anak sulungnya itu. "a-aku mengerti Tou-san." Hinata melepaskan diri dari pelukan ayahnya, dan tersenyum agar tidak membuat ayahnya cemas. "baiklah, kembalilah ke kamar dan beristirahatlah." Hiashi berdiri dan meninggalkan Hinata yang sudah meneteskan air matanya. Setelah lama berdiam diri, akhirnya Hinata berdiri dan menyeka air matanya, dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Agreement
TBC
makasih yang udah mau baca dan kasih reviews nya :') see you again~~~
