"kau harus tersenyum ya, jangan sampai suamimu melihatmu menangis. Bagaimanapun keadaanya, kau harus menjadi isteri yang baik bagi suamimu nanti. Kau mengerti?" Hiashi mengelus-elus punggung Hinata yang sudah sesenggukan. Sebenarnya dia juga berat untuk melepaskan anak sulungnya itu. "a-aku mengerti Tou-san." Hinata melepaskan diri dari pelukan ayahnya, dan tersenyum agar tidak membuat ayahnya cemas. "baiklah, kembalilah ke kamar dan beristirahatlah." Hiashi berdiri dan meninggalkan Hinata yang masih terdiam. Setelah lama berdiam diri, akhirnya Hinata berdiri, dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Disclaimer:
Naruto is Masashi Kishimoto
WARNING : Typo, Drama, etc *mohon koreksinya :')
Don't like don't read
Agreement
Chapter 4
"bagaimana Gaara-kun? Hinata-chan cantik kan?" Nyonya Sabaku memecah keheningan di dalam mobil keluarga Sabaku itu, Belum ada seseorang pun yang mengeluarkan suara sejak kepulangan mereka dari rumah keluarga Hyuuga, Gaara tidak menyahut, pertanyaan semacam itu sangatlah tidak penting bagi seseorang seperti Gaara. "oh ya, jangan sampai lupa ya. Kau harus menemani Hinata-chan membeli Gaun pengantinnya." Nyonya Sabaku tetap berbicara. "aku tidak akan lupa." Garaa menjawab . "tentu saja kau tidak boleh lupa." Sunyi kembali.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya keluarga Sabaku tersebut sampai di kediaman Sabaku. Dengan segera para pelayan menyambut kepulangan Tuan dan Nyonya mereka. "Nyonya, sepertinya Tuan Muda Kankuro sudah menunggu sejak tadi." Seorang pelayan berkata sopan pada Nyonya Sabaku. "benarkah? Kau boleh pergi." Pelayan tadi segera pergi setelah mulai merasakan suasana tegang di ruang keluarga Rumah Sabaku tersebut.
"bagaimana pertemuannya? Apakah kau menikmatinya? Apakah kalian sudah puas kalau bukan aku yang akan menikah dengan Hyuuga itu?" Kankuro langsung berbicara tanpa basa-basi lagi. "kau memang anak yang tidak tahu sopan santun." Tuan Sabaku menatap tajam kearah Kankuro, sedangkan Nyonya Sabaku hanya bisa menunduk, dan Gaara tetap dengan wajah datarnya. Kankuro segera berdiri dari duduknya, lalu dia menunduk hormat kearah ayahnya. "anda kembali Tou-sama? Apa anda lelah?" Kankuro kembali menegakkan tubuhnya. "haha! Apakah hal yang seperti itu yang kau inginkan? Setahuku, tidak ada seorang pun dari anakmu yang seperti itu. Jadi jangan berharap." Tuan Sabaku menatap marah anaknya itu. "Kau.." Tuan Sabaku megepalkan tangannya. "sudahlah anata, jangan terlalu keras padanya." Nyonya Sabaku menahan kemarahan suaminya. Tuan Sabaku hanya mendengus kasar, lalu pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya itu. Melihat kepergian ayahnya, Kankuro pun pergi meninggalkan adik dan ibunya itu. "Kankuro-kun, kau mau kemana nak?" Nyonya Sabaku memanggil anaknya yang pergi tanpa mempedulikan apapun. "sebaiknya kita istirahat Gaara-kun, besok kau akan bekerja. Kankuro pasti akan pulang nanti." Nyonya Sabaku memaksakan sebuah senyuman kepada putra bungsunya. "hn." Gaara pergi begitu saja, tanpa mempedulikan ibunya sedikitpun.
.
.
.
Hinata merasa begitu bosan di ruangan kerjanya. Ini sudah 3 hari setelah pertemuan terakhirnya dengan keluarga Sabaku. 4 hari lagi dia akan segera menikah dengan Sabaku Gaara, dia sama sekali belum mengenal Gaara, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. "aku belum membeli Gaun pengantinku, apa Gaara-san benar-benar ingin menemaniku membelinya? Hah, aku harus bagaimana?" Hinata berbicara pada dirinya sendiri. Dia tidak tahu harus menghubungi Gaara duluan atau tidak. "aku ingin menemui Ino-chan dan Tenten-chan." Hinata benar-benar suntuk dan ingin memiliki teman bicara, segera saja dia meninggalkan ruangan kerjanya itu lalu pergi menemui sahabat-sahabatnya.
Hinata, Ino, dan Tenten duduk santai di café langganan mereka. "Hinata, apa kau gila? Sekarang ini belum waktunya makan siang." Ino mengomeli Hinata. "i-iya Ino-chan, hanya saja aku sangat bo-bosan." Hinata meneguk jus jeruk yang di pesannya tadi. "sudahlah Ino, lumayan kan istirahat santai seperti ini tapi gaji tetap utuh. Hehe" Tenten segera tertawa simpul sambil memandangi Hinata. Mereka semua diajak bolos oleh Hinata, hanya saja Hinata sudah berjanji, bahwa gaji mereka tidak akan berkurang karena membolos. "ya ya, kau benar. Sering-seringlah seperti ini ya Hinata." Ino ikut tertawa. "E-eh."
"apa?! Kau akan menikah dengan penerus perusahaan Sabaku Hinata?" Ino berteriak kencang, kaget dengan apa yang didengarnya. Baru sekarang Hinata bisa menceritakan masalah pernikahannya itu kepada kedua sahabatnya. "I-ino-chan, p-pelankan suaramu." Pipi Hinata sudah memerah menahan malu. "oh yaampun aku benar-benar kaget." Ino meneguk kasar segelas air putih yang ada di hadapannya. Untung tidak ada pengunjung lain di café itu, karena sekaranag belum waktunya jam makan siang. "dan kau mau begitu saja menerimanya Hinata?" Tenten bertanya dengan menatap dalam mata Hinata. "a-aku tidak bisa b-berbuat apa-apa." Hinata menundukkan kepalanya. Ino dan Tenten benar-benar kasihan melihat nasib Hinata. "yasudah, kau harus bisa menerimanya Hinata. Semoga kalian dapat menjalani rumah tangga kalian dengan baik nanti." Ino mengelus-elus punggung Hinata yang mulai sesenggukan. "memangnya kapan pernikahan kalian dilaksanakan Hinata?" Tenten bertanya. "e-empat hari l-lagi." Hinata mulai meredakan tangisnya. "APA!" Ino dan Tenten berteriak bersamaan. Sampai-sampai Hinata terkejut oleh teriakan mereka. "Kalian Memang Benar-Benar Gila!" Ino tidak bisa menahan suaranya karena kaget. Tenten sudah terduduk lemas mendengar perkataan Hinata yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu. Hinata hanya bisa menunduk. "i-itu memang gila. S-sampai aku tak d-dapat berpikir apa-apa. A-aku hanya bisa m-menerima." Hinata menjawab dengan kepala tertunduk dalam. Ino dan Tenten segera memeluk Hinata yang kembali menangis. "kau tenang saja Hinata, suatu saat kau pasti akan bahagia, setelah mengalami ini semua." Ino memeluk Hinata erat. "ya, kau harus semangat ya. Kami selalu mendukungmu." Tenten juga memeluk erat Hinata.
Setelah selesai bercerita dan menangis di café tadi, Hiata segera kembali ke ruang kerjanya. Dia benar-benar kaget dengan apa yang dilihatnya, saat baru saja membuka pintu ruangan kerjanya itu. "apa ini yang selalu dilakukan oleh Manager Utama perusahaan Hyuuga?" Hinata membulatkan matanya. "G-gaara-san" Hinata terbata. "sangat tidak professional." Gaara bersandar di meja kerja Hinata dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya. "t-t-tidak, b-bukan b-begitu, t-tadi a-aku mmm" Hinata mencari-cari alasan. "t-tadi a-a-aku b-baru, ah d-dari toilet." Hinata menunduk malu dengan kebohongannya itu. "apakah ke toilet sampai segugup itu?" Gaara mulai berjalan dan mendekati Hinata. Hinata semakin gugup saat merasakan tubuh Gaara sudah ada di hadapannya. Gaara mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata, pipi Hinata sudah benar-benar memerah. Gaara semakin mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata. "bersiaplah, kita akan membeli gaun pengantin." Gaara segera menarik wajahnya, dan menegakkan kembali tubuhnya. Hinata hanya bisa mengangguk dengan wajah yang benar-benar memerah. "aku tidak memiliki banyak waktu." Gaara segera berjalan, pergi meninggalkan ruangan Hinata. Hinata segera sadar bahwa Gaara sudah pergi, dengan cepat dia menyusul Gaara.
Selama di perjalanan tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Hinata benar-benar canggung dengan suasana ini. Setelah mengumpulkan semua keberaniannya, akhirnya Hinata mengeluarkan suaranya. "a-apa G-gaara-san tidak bekerja?" Hinata bertanya sambil menatap kedepan, dia tidak berani menatap Gaara. "hn." Hanya itu jawaban Gaara. 'ya ampun, aku harus bertanya apa lagi. Dia benar-benar dingin.' Hinata kembali gugup. "b-bagaimana G-gaara-san bisa menemui r-ruanganku?" Hinata penasaran dan dengan keberanian penuh dia menatap Gaara yang disampingnya. "bertanya." Gaara tidak membalas tatapan Hinata, dia tetap Fokus mengendarai mobilnya. "b-bertanya pada s-siapa?" Hinata masih penasaran dan tetap menatap Gaara dengan pipi bersemu malu. Gaara menolehkan kepalanya kearah Hinata. Hinata semakin gugup dan gelisah setelah ditatap seperti itu oleh Gaara. Akhirnya Hinata kembali menundukkan kepalanya, tidak berani membalas tatapan mata Gaara. "a-ah p-pasti p-pada o-orang kan?" Hinata menjawab sendiri karena Gaara tak kunjung menjawabnya. "Hn."
Setelah sampai di sebuah Butik Gaun Pernikahan, Gaara memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobilnya, Hinata pun ikut turun dan mengikuti Gaara, memasuki Butik tersebut. seorang pelayan langsung mendekati mereka. "ada yang bisa saya bantu?" pelayan tersebut bertanya setelah membungkuk sopan. "carikan Gaun Pengantin yang pas buatnya." Gaara melirik Hinata. "Baiklah, saya mengerti. Mari Nona." Pelayan tersebut segera mengajak berkeliling Hinata untuk mencari yang sesuai. Sedangkan Gaara langsung duduk di kursi yang sudah disediakan dan membaca Koran yang sudah terlipat rapi di atas meja.
"bagaimana dengan yang itu Nona? Sepertinya Gaun itu akan sangat cocok dengan tubuh anda." Pelayan itu menunjuk sebuah Gaun yang terlihat begitu mewah dan elegan. Hinata hanya mengangguk dan mempersilahkan pelayan untuk memakaikan gaun tersebut ke tubuhnya. "benar-benar indah. Lihatlah, anda benar-benar menawan Nona." Pelayan tersebut segera membalikkan tubuh Hinata kearah cermin. Hinata kaget, dia sendiri kaget dengan penampilannya yang seperti itu. Hinata benar-benar terlihat cantik dengan Gaun panjang itu. Warnanya putih bersih bersinar, dengan sedikit hiasan bunga di bagian bawahnya yang berwarna ungu muda, sangat sesuai dengan warna rambut indahnya. bagian lehernya yang sedikit terbuka, memperlihatkan kulit bahu dan lehernya yang seputih susu. Gaun itu benar-benar pas di tubuh Hinata, memperlihatkan setiap lekuk tubuh sintalnya. "apakah anda ingin mengambil gaun ini?" Hinata sedikit ragu. "apakah perlu kupanggilkan Tuan tadi?" pelayan tadi bertanya dan segera pergi memanggil Gaara. Gaara memasuki ruangan tempat Hinata mengganti pakaiannya. Dia benar-benar terpaku melihat kecantikan Hinata. Tapi, segera saja dia sadar dan mengalihkan pandangannya. "kau mau yang itu?" Gaara bertanya pada Hinata. "y-ya." Jawab Hinata. "aku ambil yang itu." Gaara berkata pada pelayan tadi. "baiklah, silahkan di tunggu Tuan." Pelayan tadi segera mengajak Hinata untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai membeli Gaun pengantin Hinata, mereka segera meninggalkan butik tersebut dan kembali. "kau pulang ke mana?" Gaara bertanya dengan datar. "k-ke Kantor s-saja Gaara-san." Jawab Hinata. "hn."
Setelah sampai di depan Perusahaan Hyuuga, Hinata turun dari mobil Gaara sambil memegang tas yang berisi Gaun Pengantinnya. "t-trimakasih G-gaara-san." Hinata mengucapkan Trimakasih sambil menunduk malu. "Hn." Setelah itu mobilnya segera melaju, meninggalkan Hinata.
Agreement
TBC
maaf kalo dikit, ni mata udah 5 watt, baru ada waktu kalo malem :3 jadi maklum aja ya kalo banyak kurangnya :'(
makasih banyak udah kasih sarannya dan semangatnya *kiss* ganbatte :*
