Setelah sampai di depan Perusahaan Hyuuga, Hinata turun dari mobil Gaara sambil memegang tas yang berisi Gaun Pengantinnya. "t-trimakasih G-gaara-san." Hinata mengucapkan Trimakasih sambil menunduk malu. "Hn." Setelah itu mobilnya segera melaju, meninggalkan Hinata.
Disclaimer:
Naruto is Masashi Kishimoto
WARNING : Typo, Drama, etc *mohon koreksinya :')
Don't like don't read
Agreement
Chapter 5
Hinata tidur terlentang di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat dirinya dan Gaara menghabiskan waktu bersama. Dia begitu malu, terlebih saat dia pertama kali melihat Gaara yang berada di ruangan kerjanya. Hinata jadi bertambah malu lagi saat Gaara mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata dan menyuruhnya untuk bersiap-siap, dengan kedekatan yang seperti itu, membuat Hinata dapat mencium bau tubuh Gaara yang maskulin. Terlihat semburat merah pada pipi Hinata saat dia mengingat bau tubuh Gaara yang disukainya itu. 'bagaimana ini, beberapa hari lagi aku akan menikah dengannya.' Hinata selalu saja gugup jika mengingat hari pernikahannya yang akan datang itu. 'semoga saja Gaara-san mau menerimaku ya.' Hinata hanya dapat berharap dan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Setelah lama melamun, akhirnya Hinata tertidur.
.
.
.
Di kediaman Sabaku
Di dalam kamar yang luas, Gaara tampak baring terlentang di atas kasur king size nya. Walau sudah larut malam, Gaara belum juga tertidur. Hal seperti inilah yang membuat lingkaran hitam di matanya tak pernah hilang, Karena penyakit insomnia yang dideritanya sejak kecil, Gaara jadi jarang tidur. Entah apa yang dipikirkannya, ekspresinya selalu saja sama. Datar dan tak menunjukkan emosi sedikitpun. Merasa bosan karena kantuk tak kunjung datang, Gaara bangkit dari tidurnya, dan melangkah meninggalkan kamarnya. Hal inilah yang selalu Gaara lakukan setiap malamnya, duduk di ruangan kerja yang berada di sebelah kamarnya, dan menghabiskan malamnya dengan tumpukan dokumen, dan pekerjaan-pekerjaan kantornya, hingga pagi menjelang. Beruntung jika kantuk datang dan mengharuskannya untuk kembali ke kamar dan tidur, Tapi hal yang seperti itu sangatlah jarang terjadi.
.
.
.
.
Setelah 4 hari berlalu, hari pernikahan Gaara dan Hinatapun tiba. Di sebuah hotel berbintang yang sangat megah , disitulah pernikahan mewah keturunan Sabaku dan Hyuuga dilaksanakan. Banyak para tamu undangan yang hadir, orang-orang yang sangat berpengaruh pada dunia perbisnisanlah yang memenuhi ruangan mewah tersebut. Setelah mengucapkan janji sehidup sematinya. Gaara dan Hinata tampak sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. "Neji Nii-san, akhirnya kita benar-benar ditinggal oleh Hinata Nee-san ya. Semoga saja Hinata-Nee bahagia, hidup bersama lelaki dingin yang tampan itu." Hanabi menatap sendu kakak kesayangannya dari kejauhan. Neji yang berada disampingnyapun hanya mengangguk dan berdoa dalam hati. 'ya. Semoga saja.' "Lihat Nii-san, sepertinya Tou-san kesibukan menyambut tamu-tamu penting yang datang. Ayo kita bantu Tou-san." Hanabi segera menarik lengan Neji menuju ke tempat ayahnya berdiri. Neji hanya pasrah dan mengikut saja. Tanpa Neji sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya. Semakin lama ruangan mewah di gedung Hotel itupun semakin sepi. Acara pokok pernikahan Gaara dan Hinata sudah lama usai, tinggal beberapa pemuda-pemudi saja yang terlihat asik menikmati pesta minuman yang merupakan acara akhir dari pernikahan Gaara dan Hinata. Karena merasa lelah, Hinata dan Gaara segera meninggalkan Hotel tersebut.
Kesunyian menghampiri Gaara dan Hinata. Karena merasa lelah, Hinata tidak mau pusing memikirkan kata apa yang harus diucapkannya untuk memecahkan keheningan yang ada di mobil mewah milik Gaara itu. Tetapi, Hinata kembali teringat pada kejadian beberapa menit yang lalu, sebelum Gaara dan Hinata meninggalkan Hotel mewah tempat pernikahan mereka berlangsung.
FLASHBACK
"sudah tidak ada hal penting yang harus dilakukan, sebaiknya kita pulang." Gaara berkata pada Hinata yang duduk disampingnya. "y-ya G-Gaara-san." Hinata hanya menuruti perkataan Gaara yang baru menjadi suaminya tersebut. merasa bahwa Gaara dan Hinata akan pergi, Nyonya Sabaku segera menghampiri mereka. "kalian ingin kemana? Apa kalian tidak ingin menghabisi waktu kalian dengan berpesta sejenak?" seorang wanita yang masih terlihat sangat muda itu tersenyum hangat pada Gaara dan Hinata. Hinata hanya menatap Gaara, menunggu jawaban dari Gaara. "kami akan pulang." Gaara menjawab singkat. "tapi kalian pasti sudah lelah, sebaiknya menginap di Hotel ini saja dulu." Nyonya Sabaku menatap mereka dengan khawatir. "tidak, kami akan pulang ke rumah ku. Aku tidak akan kembali ke kediaman Sabaku." Gaara menatap dingin Nyonya Sabaku. Hinata kaget dengan perkataan Gaara, tapi dia hanya diam. "t-tapi, apakah itu tidak terlalu cepat?" Nyonya Sabaku menatap sedih kepada Gaara. "aku tidak ingin ada yang ikut campur dengan urusan rumah tanggaku." Setelah berkata itu Gaara langsung pergi, meninggalkan Nyonya Sabaku yang menatap punggungnya dengan sedih. "Sa-sabaku-san, apakah anda b-baik-baik saja?" Hinata menatap ibu mertua barunya itu. "ada apa dengan Sabaku-san? Mulai sekarang aku ini sudah menjadi ibumu juga, jadi jangan sungkan ya, dan mulailah memanggilku Kaa-san." Hinata mengangguk dengan senyuman kecil dan pipi meronanya. "aku baik-baik saja, sebaiknya kau segera menyusul Gaara-kun." Nyonya Sabaku memegang pundak kecil Hinata sambil tersenyum hangat. Belum sempat Hinata mengucapkan salam perpisahan, Nyonya Sabaku kembali berbicara. "Hinata-chan, tolong perhatikan Gaara-kun dengan baik ya, dia memang terlihat dingin, tapi aku yakin, ada sisi hangat dalam dirinya, hanya saja dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya." Raut wajah Nyonya Sabaku langsung berubah sedih. Hinata bingung dengan perubahan raut wajah Nyonya Sabaku. "aku bukanlah ibu yang baik, sampai detik ini, aku belum tahu bagaimana sifat Gaara-kun yang sebenarnya." Tanpa disadari air mata Nyonya Sabaku sudah membasahi pipinya. "S-sabaku-san." Hinata tidak tahu harus berbuat apa, dia belum mengenal baik keduanya, baik Nyonya Sabaku, maupun Gaara. Hinata hanya mampu memberikan sebuah tissue kepada Nyonya Sabaku, dan mengelus pelan lengan Nyonya Sabaku. "m-maafkan aku yang jadi emosional seperti ini." Nyonya Sabaku sudah tampak tenang, dan air matanya sudah tidak ada yang menetes. "t-tidak a-apa." Nyonya Sabaku senang, memiliki menantu yang sangat lembut seperti Hinata. Dia tersenyum. "oh iya, kau juga harus mengingatkan Gaara-kun untuk tidur, dia selalu menghabiskan waktunya dengan pekerjaannya. Jadi kau harus selalu mengingatkannya untuk istirahat. Baiklah kau benar-benar harus menyusul Gaara-kun." Hinata mengangguk. "baik K-kaa-san." Nyonya Sabaku tersenyum senang, karena Hinata mau memanggilnya Kaa-san. "s-selamat malam K-kaa-san." Hinata membungkuk sopan pada Nyonya Sabaku, dan Nyonya Sabaku mengangguk dan tersenyum. Lalu Hinata benar-benar pergi.
FLASHBACK OFF
"G-gaara-san." Hinata memberanikan dirinya untuk memulai pembicaraan, tak ada tanggapan, Hinata kembali melanjutkan. "a-apa aku boleh bertanya?" Hinata takut-takut untuk menatap Gaara. "hn." Hanya itu tanggapan Gaara. "mengapa k-kita langsung pindah r-rumah?" Gaara tak menjawab pertanyaan Hinata dan tetap focus mengendarai mobilnya. Dengan keberanian penuh Hinata menatap Gaara yang duduk di sampingnya. merasa dipandangi oleh Hinata, akhirnya Gaara menjawab pertanyaan Hinata. "aku tidak ingin orang lain mencampuri urusanku." Hinata masih menatap Gaara. "t-tapi, m-mereka kan k-keluarga." Gaara menolehkan kepalanya kearah Hinata dan menatapnya datar. "kau tidak tahu apa-apa, jadi diam dan ikuti saja apa kataku." Gaara kembali menatap jalanan. Hinata membulatkan matanya, dia tidak menyangka Gaara akan berkata seperti itu. Hinata menundukkan kepalanya. 'sebenarnya apa yang terjadi pada Keluarga Gaara-san?' "kita akan ke rumahmu dan mengambil barang-barangmu." Hinata menegakkan kepalanya. "t-tapi G-gaara-san sudah lelah, b-besok saja memindahkan barang-barangku." Hinata berbicara pelan, berharap Gaara tidak mendengarnya, tapi tentu saja Gaara tetap mendengarnya. Gaara menghembuskan nafasnya. "kau tidak ingin mengganti bajumu untuk tidur?" Hinata teringat, dia tidak membawa satupun pakaiannya, tapi tetap saja dia mengkhawatirkan Gaara yang akan kelelahan nantinya, jika harus berbolak-balik dari Rumah Hyuuga ke rumah Barunya nanti. 'apa salahnya tidur dengan pakaian ini semalam saja.' Pikir Hinata. "y-ya, a-aku akan p-pakai baju ini saja, s-semalam saja tak m-masalah." Hinata berkata dengan polos. 'dia ini bodoh atau apa, bagaimana bisa dia tidur dengan pakaian berat seperti itu.' Gaara benar-benar heran. "kita akan tetap mengambil barang-barangmu." Gaara berkata dingin. "t-tak apa. Kita pulang s-saja dan b-beristirahat. G-gaara-san pasti lelah." Hinata menundukkan kepalanya, tak berani menatap Gaara. Gaara tak habis pikir, bagaimana bisa seorang pemalu seperti Hinata bisa keras kepala seperti ini. "kau benar-benar keras kepala. Diam dan ikuti apa kataku." Gaara berkata sambil menatap tajam Hinata yang menunduk disampingnya. "i-iya." Hinata hanya mampu menurut dan diam dengan kepala tertunduk.
Sesampainya di rumah Hyuuga, Hinata langsung mengemasi barang-barang yang menurutnya penting saja. sedangkan Gaara menunggu Hinata di ruang tamu rumah Hyuuga ditemani oleh Hanabi. Hanabi tak henti-hentinya menatap Gaara sambil tersenyum-senyum sendiri. Gaara menyadarinya, hanya saja dia pura-pura tidak tahu. "apa kalian tidak menginap disini saja?" Hanabi bertanya sambil menatap Gaara dengan pandangan memuja. Gaara sudah biasa ditatap seperti itu, jadi dia tetap bersikap seperti biasa. "tidak." Gaara menatap datar Hanabi. "ahh kalian ingin berduaan dulu ya dimalam pertama kalian." Hanabi tak malu-malu menggoda Gaara. Gaara sedikit kaget, hanya saja dia tetap tenang "hn." Hanabi tertawa kecil, dia benar-benar senang dengan sifat dingin kakak iparnya itu. "baiklah baiklah, aku mengerti." Hanabi berkata sambil tertawa-tawa kecil.
Hinata yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam koper kecil, menolehkan kepalanya kearah pintu kamarnya yang diketuk pelan dan tiba-tiba terbuka saat dia berkata "masuk." Dia segera tersenyum saat melihat orang yang masuk ke dalam kamarnya tersebut. "Tou-san." Hinata segera berlari kearah ayahnya, dan memeluk ayahnya. "Tou-san aku akan segera pindah, G-gaara-san langsung mengajak ke rumah baru." Hinata sedikit bercicit di dekapan ayahnya. "ya itu bagus." Ayahnya berkata sambil mengelus surai panjang putri kesayangannya. "t-tapi apakah itu tidak terlalu terburu-buru Tou-san?" Hinata menatap ayahnya "tidak sayang, apapun keputusannya, kau harus menghormatinya, dia suamimu sekarang, pemimpinmu, dan keluarga kecilmu nantinya." Hinata melepaskan diri dari pelukan ayahnya. "ya, itu b-benar Tou-san, a-aku tidak boleh egois lagi ya." Hiashi menghapus air mata yang mengalir di kedua pipi anaknya. "baiklah, pergilah, suamimu sudah lama menunggu." Hiashi kembali memeluki Hinata. "baik T-tou-san." Hinata melepaskan pelukan ayahnya, dan pergi meninggalkan ayahnya yang masi berada di dalam kamarnya.
"ooh! Nee-san, apakah sudah selesai mengemasi barangnya?" Hanabi segera beerdiri dari tempat duduknya saat Hinata menuruni tangga dari lantai dua menuju ruang tamu rumah Hyuuga. "i-iya Hanabi-chan." Gaara yang masih duduk di sofa segera berdiri saat Hinata sudah sampai di ruang tamu, didepan Hanabi. "jadi, kalian akan segera berangkat?" Hanabi menatap Gaara dan Hinata bergantian, Hinata yang sejujurnya masih ingin berlama-lama di rumah itu hanya diam saja, menatap Gaara, berharap Gaara yang akan menjawab pertanyaan Hanabi. "Ya." Jawab Gaara singkat. "hmm baiklah, Nee-san katakan saja padaku jika ada yang diperlukan. Aku pasti akan membantu." Hanabi berkata dengan semangat, berharap Hianata akan ikut bersemangat. "b-baiklah Nee-san pasti akan menghubungimu." Hanabi segera memeluk Hinata sebelum Hinata meninggalkan rumah tersebut. "Baiklah, sampai jumpa Nee-san." Gaara yang sedari tadi hanya diam saja melihat interaksi kakak beradik itu segera melangkahkan kakinya saat melihat Hinata dan Hanabi sudah saling melepaskan pelukan. Hinata pun segera menyusul Gaara.
"sampai jumpa, hati-hati ya!" Hanabi berteriak saat mobil Gaara benar-benar berangkat, meninggalkan kediaman Hyuuga.
Agreement
TBC
