"sampai jumpa, hati-hati ya!" Hanabi berteriak saat mobil Gaara benar-benar berangkat, meninggalkan kediaman Hyuuga.
Disclaimer:
Naruto is Masashi Kishimoto
WARNING : Typo, Drama, etc *mohon koreksinya :')
Don't like don't read
Agreement
Chapter 6
'Apakah ini tidak terlalu besar jika hanya untuk ditinggali oleh dua orang?' batin Hinata saat memasukin rumah barunya bersama Gaara. Hinata hanya mengikuti Gaara sejak memasuki rumah besar itu. tiba-tiba Gaara berhenti dan membalikkan badannya menghadap ke Hinata. Hinata langsung menundukkan kepalanya saat sadar bahwa Gaara memandanginya. "aku akan memanggilkan beberapa pelayan dari rumah Sabaku." Ucap Gaara. "b-buat apa?" Hinata pikir mereka tidak memerlukan pelayan, karena mereka hanya berdua saja. "kau akan membutuhkannya." Balas Gaara masih tetap memandangi Hinata yang menundukkan kepalanya. "ku p-pikir itu tidak perlu, k-kita hanya tinggal berdua, t-tidak banyak yang p-perlu dibereskan." 'huh aku baru ingat, gadis ini cukup keras kepala.' Batin Gaara. "terserah kau saja." Gaara kembali melanjutkan jalannya menaiki tangga menuju lantai dua. Hinata masih tetap mengikutinya. "ini kamarmu, kamarku ada di sebelah, dan aku tidak ingin ada yang mencampuri urusanku." Gaara berkata tanpa menoleh ke Hinata sedikitpun, dan segera memasuki kamarnya. 'sabar Hinata kau pasti akan terbiasa dengan hal ini.' Batin Hinata dan segera memasuki kamarnya juga.
Hinata terbangun dari tidurnya saat merasa tergangu oleh sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kamarnya. Hinata segera merapikan kasurnya dan masuk ke kamar mandi yang berada di sudut ruangan tersebut, setelah selesai bersiap-siap, Hinata melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamarnya.
Hinata sangat terkaget saat turun ke bawah dan melihat Gaara yang sudah rapi dengan pakaian kantornya. 'ya ampun, apakah aku kesiangan?' batin Hinata. Dengan keberanian penuh, Hinata segera menyusul Gaara yang hendak keluar dari pintu utama. "G-gaara-san." Panggil Hinata, Gaara menoleh, menunggu kalimat lanjutan dari Hinata. "a-apakah sudah s-sarapan?" Tanya Hinata malu-malu. "aku tidak pernah sarapan." Jawab Gaara dan kembali melanjutkan jalannya. "t-tapi.." kata-kata Hinata terhenti saat sadar bahwa Gaara sudah memasuki mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah mereka. "huh baiklah, kalau seperti itu aku juga akan berangkat bekerja." Gumam Hinata. Sebenarnya Gaara dan Hinata sudah diberikan cuti seminggu pasca pernikahan mereka, tetapi saat melihat Gaara yang tetap bekerja, membuat Hinata ingin bekerja juga. Hinata kembali masuki ke rumah dan menuju ke kamarnya.
setelah siap dengan pakaian kantornya, Hinata keluar kamar dan menuju ke dapur yang berada di lantai satu. Hinata ingin melihat persediaan makanan yang berada di dapur Gaara. "huh tidak ada apa-apa, pantas saja tidak pernah sarapan." Ucap Hinata saat memeriksa semua lemari yang ada di dapur Gaara, makanan instant pun tidak ada, yang ada hanya beberapa botol minuman beralkohol dan air mineral yang ada di dalam kulkas. "baiklah, sepulang kerja aku akan membeli beberapa perseidiaan makanan." Setelah meminum sebotol air mineral Hinata pergi meninggalkan dapur dan pergi keluar rumah. "bodoh, aku mau berangkat kerja menggunakan apa, mobilku ada di rumah Hyuuga." Hinata menepuk jidatnya sendiri. "aa aku naik angkutan umum saja dulu, dan mampir ke rumah untuk mengambil mobil." Itulah kebiasaan Hinata, berdialog dengan dirinya sendiri, tanpa terbata sedikitpun. "huh aku benar-benar tidak tahu ini berada di mana." Hinata duduk di sebuah taman kecil yang tidak jauh dari rumah Gaara. Hinata benar-benar tidak tahu dirinya sekarang sedang berada di mana, salahkan dirinya sendiri, mengapa tidak bertanya ke Gaara, alamat rumah barunya itu. Rasanya Hinata ingin menghubungi Gaara, untuk menanyakan di mana letak rumahnya itu, agar dapat menyuruh supir pribadinya yang berada di kediaman Hyuuga untuk menjemputnya. 'dan aku tidak ingin ada yang mencampuri urusanku.' Kembali teringat olehnya perkataan Gaara semalam. 'tidak, tidak, aku tidak boleh begini, aku harus lebih dekat dengan suamiku sendiri, mengapa harus takut dengan suami sendiri.' Dengan keberanian penuh Hinata segera membuka ponselnya dan mencari kontak Gaara. "di mana ya?" Hinata mencari-cari kontak Gaara di ponselnya. "huh sepertinya aku belum memiliki kontaknya." Hinata baru teringat, dirinya tidak pernah sedikitpun berhubungan dengan Gaara sebelumnya. "sebaiknya aku kembali ke rumah saja." finally Hinata kembali ke rumah dengan lesu.
Disisi lain, Gaara yang berada di dalam ruangan kerjanya, sedang sibuk berkutat dengan dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Menurutnya ini adalah tenggung jawab besarnya, setelah menikah dengan Hinata, ayahnya berjanji akan mempercayakan perusahaan utama yang berada di Jepang ke dalam tangannya. Dan ayahnya yang akan mengurus perusahaan cabang yang ada di Eropa. Temari yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan langsung duduk di sofa panjang yang terdapat di dekat pintu utama ruangan tersebut, sama sekali tidak mengalihkan pandangan Gaara dari dokumen-dokumennya. Hal itu tidak menjadi masalah buat Gaara, karana yang menerobos masuk tanpa mengetuk pintu ruangannya itu adalah kakak sulungnya sendiri. "sampai kapan kau tidak mengacuhkanku Gaara?" Temari menatap malas adik bungsunya tersebut. merasa terus dipandangi, Gaara membalas tatapan malas kakaknya tersebut dengan tatapan yang lebih malas lagi. "katakana ada perlu apa, dan segera tinggalkan ruangan ini." "huh, kau benar-benar tak berubah, apa kau tidak merindukanku?" Temari segera bangkit berdiri dan menghampiri Gaara. "aku sangat merindukanmu, bodoh!" Temari memeluk erat adik bungsunya itu. "bisa kau lepaskan aku, dan pergi dari ruangan ini?" Gaara berkata dengan suara yang tertekan, Temari benar-benar memeluknya dengan erat. "huh aku sudah puas." Ucap Temari setelah melepaskan pelukannya dari Gaara. Gaara hanya membalas dengan tatapan tajam ke Temari. Bagaimana tidak rindu, sudah bertahun-tahun Gaara tidak pulang ke rumah, karena kuliahnya di Eropa, dan Temari yang tidak dapat mengunjunginya karena membantu ayah mereka untuk mengurus perusahaan utama. "huh maafkan aku, tidak dapat menghadiri pernikahanmu." Ucap Temari, Temari tidak dapat menghadiri pernikahan Gaara karena ada yang harus diurusnya di Eropa, di perusahaan cabang, sebelum tuan besar Sabaku datang untuk mengurus semuanya. "hn." Hanya itu jawab Gaara. "oh iya, bagaimana istrimu? apa kau bodoh, mengapa kau meninggalkannya, dan kau lebih memilih dokumen-dokumenmu ini?" Temari masih tak menyangka, sifat workaholic Gaara tidak menghilang sedikitpun. "dia dapat mengurus dirinya sendiri." Jawab Gaara, dan mulai subuk kembali dengan pekerjaannya. "dimana dia?" "dirumahku." "kalian langsung pindah?" Tanya Temari lagi, dan tidak dijawab Gaara. "ya ampun Gaara, apa kau tak kasihan dengannya, dia belum mengetahui sama sekali lingkungan barunya." Kalimat itu mampu mengalihkan perhatian Gaara dari pekerjaanya. Gaara jadi teringat, bahwa dirumahnya tidak ada makanan, super market jauh dari rumah, kendaraan umum tidak mungkin lewat di komplek rumah elitnya, bahkan dia tidak dapat menghubungi Hinata karna tidak memiliki nomor ponsel Hinata, begitupun Hinata, yang tidak memiliki nomor ponsel Gaara. "sudah kuduga, kau pasti meninggalkannya begitu saja tanpa persiapan dan penjelasan sedikitpun." Benar tebakan Temari. "baiklah, aku akan kerumahmu. Mana alamatnya?" "akan kukirim ke e-mail mu." Jawab Gaara, karna Gaara tidak memiliki nomor ponsel Temari, hanya ada alamat e-mail saja, itupun bisa ada hanya karena pekerjaan yang mendesak dan harus segera dikirimkan melalui e-mail. "huh, kau tidak berminat dengan nomor ponselku?" bukan Gaara namanya jika harus meminta nomor ponsel duluan. "mana handphone mu? Ini ya?" Tanya Temari sambil mengampil ponsel Gaara yang tergeletakdi atas meja kerjanya. "baiklah, kirim melalui pesan saja, aku sudah menambahkan nomor handphone ku di kontak mu." Ucap Temari sambil meletakkan kembali ponsel Gaara di atas meja kerjanya. "aku pergi ya, apa perlu kusampaikan salammu?" Goda Temari sebelum pergi meninggalkan ruangan Gaara. "pergilah." Temari segera pergi meninggalkan Gaara. Dan kembali focus pada pekerjaannya.
Hinata yang sedang menanami tenaman kecil di halaman rumah Gaara segera menolehkan kepalanya ke luar pagar, saat tahu bahwa ada sebuah mobil yang tidak dikenalnya parkir di depan pagar rumah barunya. Hinata langsung tersenyum saat melihat bahwa Temarilah yang keluar dari mobil tersebut. "Hai Hinata, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Temari saat melihat Hinata yang sedang memgang tanaman kecil di tangan kirinya. "H-hai Temari-san, a-aku sedang menanam tanaman-tanaman i-ini." Jawab Hinata sambil sedikit mengangkat tanaman yang ada di tangan kirinya. "waah, dapat dari mana tanaman ini? setahuku Gaara tidak mungkin memiliki tanaman bunga seperti ini." Temari menghampiri Hinata dan melihat tanaman-tanaman yang sudah ditanamnya. "a-aku m-minta pada pengurus taman k-kecil yang a-ada di t-tengah komplek." Jawab Hinata sambil malu-malu. "wah kau benar-benar keren Hinata." Temari senang, memiliki adik ipar yang lembut dan rendah hati seperti Hinata. "m-mari masuk T-temari-san." Hinata meletakkan tanaman kecil yang belum sempat ditanamnya itu di atas tanah. Hinata masuk terlebih dahulu dan mencuci tangannya di wastafel yang ada di dapur. Temari masih subuk melihat-lihat rumah baru adik dan adik iparnya itu. 'benar-benar selera Gaara, minimalis dan simple, tapi tidak kekurangan kesan mewahnya.' Temari kembali sadar dari kegiatan melihat-lihatnya saat Hinata sudah berdiri di dekatnya. "s-silahkan duduk T-temari-san." Ucap Hinata lembut. "ya, Trimaksih Hinata." Temari duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu rumah tersebut. "b-bagaimana Temari-san bisa tahu r-rumah ini?" Tanya Hinata, Hinata belum berani menatap mata Temari, karena mereka belum kenal terlalu dekat. Hanya sebatas rekan bisnis. "tadi aku ke ruangan Gaara, hanya untuk memastikan, dia datang bekerja atau tidak, karena aku tahu, sejak dulu dia memiliki sifat workaholic yang gila. Dan benar dugaanku, di ada di ruangannya, dan tentu saja meninggalkanmu sendirian di rumah." Jawab temari. "m-mm m-maaf T-temari-san, tidak ada yang bisa kuhidangkan u-untukmu." Temari tersenyum, ditemukannya lagi sisi baik yang ada dalam diri Hinata, dia gadis yang jujur. "aah tidak masalah, aku sudah menduganya, Gaara itu benar-benar tidak berubah. Aku saja masih heran." Hinata hanya diam tidak menjawab. "Mm Hinata kau harus sedikit bersabar ya dengan sifat Gaara yang seperti itu." Temari berkata lembut. "y-ya, T-tentu saja i-itu tidak masalah." Jawab Hinata dengan sedikit tersenyum. "ya aku yakin, lama-lama kau akan terbiasa, dan lama-lama Gaara pasti akan berbuah." Temari jadi yakin Hinata dapat merubah adik bungsunya itu, setelah melihat senyum kecil Hinata yang tulus tadi. "oh ya, kau pasti belum makan, mari kita ke restoran, dan membeli bahan untuk makan malam kalian nanti." Temari berdiri dari duduknya. "y-ya, t-tapi aku akan berganti p-pakaian dulu." Hinata ikut berdiri. "baiklah aku tunggu di depan ya." Jawab Temari, dan beranjak dari tempatnya berdiri tadi.
Hinata bersiap-siap dan menyusul Temari yang sudah menunggunya di depan, Temari tersenyum saat Hinata sudah siap dan sedikit gemas dengan sifat malu-malu Hinata. 'denganku saja segini gugupnya, bagaimana jika mereka hanya berdua saja, aku tidak bisa membayangkannya.' "baiklah, kalau sudah siap mari berangkat." Ucap Temari sambil menggandeng tangan Hinata, Hinata yang sedikit kaget hanya mampu menyembunyikan wajah malunya dengan menundukkan kepala. "y-ya m-mari Temari-san." 'ya ampun benar-benar menggemaskan, apa benar ini istri adikku yang sangat dingin itu?' Temari tidak tahan memendam perasaan gemasnya pada perlakuan Hinata sejak pertama bertemu tadi. "Hinata, mulai sekarang panggil aku Nee-san saja, aku juga kakakmu sekarang. Mengerti?" ucapnya sambil memeluk singkat Hinata. "oh dan juga, tidak perlu malu-malu denganku. Tatap aku jika berbicara dengan ku." Hinata segera mendongakkan kepalanya dan menatap Temari, masi dengan sedikit rasa malunya. "b-baiklah Temari Nee-san." Ucap Hinata, dengan senyum manisnya. 'Temari Nee benar-benar ramah, aku bisa langsung dekat dengannya, pantas saja Neji Nii-san mencintainya.' Ucap Hinata dalam hati dan terus tersenyum manis ke Temari. "mari berangkat." Ajak Temari, Hinata hanya mengangguk menanggapi.
Setelah sampi di sebuah restoran dan sudah menghabiskan hidangan yang sudah mereka pesan, Hinata dan Temari pergi meninggalkan restoran tersebut dan mampir ke super market terdekat, untuk membeli semua perlengkapan rumah yang dibutuhkan. "b-baiklah Temari Nee, sepertinya ini saja sudah cukup." Hinata berkata sambil melihat kedua keranjang penuh yang mereka bawa, "mm apakah ini saja cukup?" Tanya Temari. "y-ya sepertinya, a-aku masih belum tahu apa saja yang diperlukan Gaara-san." "ah benar, Gaara tidak menyukai makanan dan minuman yang terlalu pedas dan manis, kurasa kau perlu mengingatnya." Ucap Temari mengingatkan. "b-baiklah, aku p-pasti mengingatnya." "jika seperti itu, ini saja dulu, nanti jika ada yang diperlukan lagi, kalian dapat membeli sendiri ya." Finally Temari membayar semua belanjaan, dan mereka langsung pulang saat barang-barang yang dibeli sudah berada di bagasi belakang mobil Temari. "T-temari Nee-san, m-mengapa Nee-san yang membayar s-semua belanjaan t-tadi?" Tanya Hinata, Hinata merasa tidak enak, karena Temari memaksa untuk membayar semua belanjaannya tadi. "anggap saja sebagai permohonan maafku pada kalian karena tidak dapat menghadiri acara pernikahan kalian." "s-seharusnya i-itu tidak jadi masalah." Hinata berkata sangat pelan.
"Baiklah, aku pulang ya Hinata. Sehat-sehat ya. Sampaikan salamku pada Gaara." Ucap Temari dari dalam mobil. Setelah mengantar Hinata dan membantu Hinata untuk mengambil belanjaan. Temari berniat langsung pulang, karena hari sudah semakin larut, mereka saja yang tidak menyadarinya, karena terlalu asik belanja dan mengobrol. "y-ya N-nee-san, Hati-hati di jalan." Mobil Temari segera melaju.
Hinata memasuki rumahnya, masih sepi. 'mungkin Gaara-san belum pulang.' Tapi jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Hinata meletakkan barang belanjaa di dapur. Ada botol air mineral di atas meja dapur, yang airnya sudah diminum setengah. 'mungkin Temari Nee-san yang meminumnya tadi.' Pikir Hinata. Hinata menaiki tangga, hendak beristirahat di kamarnya. Hinata tidak masak makan malam Karena sudah terlalu malam jika ingin makan malam, dan Gaara mungkin sudah makan di tempat kerjanya. Hinata sedikit bingung, karena pintu ruangan yang ada di samping kamar Gaara terbuka sedikit, dan membuat cahaya lampu yang ada di ruangan itu terlihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Pikiran Hinata sudah kemana-mana, inilah yang ditakutkannya saat sendiri di rumah, entah itu manusia, atau makhluk astral, Hinata tidak berani melihatnya jika sudah sendiri di rumah. Dengan keberanian penuh Hinata berjalan pelan-pelan menghampiri pintu ruangan tersebut. "huh aku harus berani." Gumamnya menyemangati diri sendiri. Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan Gaara yang hendak keluar, masih dengan pakaian kerjanya. "apa yang kau lakukan?" ucap Gaara heran melihat Hinata yang mengendap-endap. "G-gaara-san." Hinata menghembuskan nafasnya lega, saat tahu bahwa itu Gaara, bukannya manusia jahat dan makhluk astral yang ada di pikirannya. "a-aku baru pulang b-berbelanja dengan T-temari Nee-san." Jawab Hinata "hn" Gaara segera melewati Hinata dan hendak memasuki kamarnya. "G-gaara-san sudah m-makan belum?" Tanya Hinata sambil menatap Gaara, berharap Gaara menoleh ke arahnya dan mengurungkan niatnya yang hendak memasuki kamar. "sudah." Gaara kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena pertanyaan Hinata tadi. 'bagaimana ini, aku harus berbicara padanya, aku ingin ikut berangkat kerja besok, mobilku masih di rumah Hyuuga.' Hinata sibuk dengan pikirannya, sampai-sampai tidak sadar bahwa Gaara sudah keluar dari kamarnya dan hendak memasuki ruang kerjanya kembali dengan sebuah kertas di tangannya. "m-m G-gaara-san, a-apa besok a-aku boleh ikut denganmu? A-aku ingin mengambil m-mobilku di rumah Hyuuga." Gaara tidak menggubris pertanyaan Hinata dan terus melanjutkan langkahnya memasuki ruangan kerjanya. Merasa tidak diacuhkan Hinata mengumpulkan keberaniannya untuk ikut masuk ke dalam ruangan kerja Gaara. 'ya Hinata, kau harus masuk dan berkata padanya, tidak mungkin kau hanya diam saja di rumah seperti tadi.' "G-gaara-san b-boleh aku masuk?" Tanya Hinata, dan Gaara hanya diam saja. merasa tidak ada penolakan, Hinatapun memasuki ruangan kerja Gaara. "G-gaara-san, bagaimana.." pertanya Hinata terhenti saat Gaara tiba-tiba berkata dingin "jangan menggangguku, keluarlah." Tek. Hinata benar-benar serasa ditusuk pisau tajam pas di hatinya. Gaara berkata dingin dan tidak mengacuhkannya sedikitpun. "b-baiklah Gaara-san, j-jangan lupa i-istirahat. S-selamat malam." Setelah mengucapkan itu Hinata segera meninggalkan ruangan itu.
'mulai sekarang, hal seperti itulah yang akan kualami setiap hari' Hinata hanya mampu merenungkan hal tadi sambil menangis di kamarnya. 'aku pasti kuat, aku pasti bisa, aku akan berusaha untuk mencairkan es yang ada dihatimu Gaara-san, dan aku akan berusaha merobohkan tembok yang membatasi hubungan kita.' Hinata segera menghapus air mata yang mengalir di pipinya, dan bersiap untuk tidur.
Disisi lain, Gaara yang baru selesai mengerjakan pekerjaannya segera meninggalkan ruangan kerjanya. Sebelum memasuki kamarnya untuk beristirahat, Gaara berhenti di depan kamar Hinata, 'cklek' tidak terkunci. "benar-benar ceroboh." Gumamnya pelan. Dilihatnya Hinata yang sudah tertidur. Gaara pun meninggalkan kamar Hinata, dan memasuki kamarnya untu mencoba tidur.
Agreement
TBC
