Sore yang cukup panas untuk awal musim panas.
Kekhawatiranku terhadap keadaannya semalam (atau pagi?) membuatku memutuskan untuk pergi ke studio Sherow Artist Society untuk menemuinya. Aku membawakannya sekotak bento yang kubeli di konbini yang kulewati tadi, juga sports drink rendah kalori. Ia sangat menjaga tubuhnya, setahuku.
Suasana musim panas sangat terasa di sana. Beberapa gadis yang kutemui bahkan sudah mengenakan yukata yang cantik.
"Akazaki-san?" sapa seseorang.
Kulihat sorang laki-laki berwajah imut sudah berdiri di depanku. Rambutnya diikat ekor kuda, menyisakan hanya beberapa helaian halus di wajahnya, membuatku hampir tidak mengenalinya, seandainya dia tidak punya tanda lahir yang khas di bawah mata kirinya.
Ia membawa tas, kurasa ada gitar elektrik di dalamnya, mengenakan celana pendek dan kaos tipis dengan print grafiti.
"Oh, Teru-kun... konnichiwa,"
"Mmm... biar kutebak, pasti Anda ingin bertemu dengan Kamijou-kun?" tanya Teru sambil tersenyum cantik.
"Bukan... eh, mungkin iya, aku memang ingin bertemu Kamijou-san, tapi sebelumnya aku ingin bertemu Yuuichi dulu," jawabku.
"Yuu...ichi? Ah, ya! Jasmine-kun!"
Bukan, bukan Jamine, aku ingin bertemu dengan Yuuichi. Yuuichi yang kukenal.
"Sayang sekali, Akazaki-san, hari ini Yuu-kun tidak datang untuk recording. Aku tidak tahu mengapa, tapi mungkin Kamijou-kun tahu. Jadi lebih baik Anda menemuinya," kata Teru dengan manis.
"Ya, terima kasih, Teru-kun"
"Douzo!" jawabnya sambil melangkah ringan keluar studio.
***
Yang jelas aku cemas terhadap keadaan Yuu. Sakitkah dia? Mengapa dia tidak datang rekaman? Apakah orang-orang itu berbuat jahat terhadapnya?
"Aku tidak perlu orang seperti dia!" terdengar suara berteriak yang kukenal dari dalam ruangan Kamijou-san.
"Tetapi kau tidak bisa begitu, Hizaki!" terdengar suara lain yang lebih dalam. Aku berani bertaruh bahwa itu suara Kamijou-san.
"Aku tidak mau dia justru menjai penghalang jalan kita! Aku pulang."
Dan pintu pun terbuka. Seorang laki-laki membukanya dengan kasar. Rambut pirangnya diikat ekor kuda seluruhnya. Jika mengenakan kaus longgar dan celana jeans usang seperti itu, tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah sang putri dengan busana ala Marie Antoinette ketika di atas panggung.
"Eh, Akazaki-san... konnichiwa. Maaf, saya emosi, mungkin karena udara yang panas," katanya sambil tersenyum kepadaku.
"Memang musim panas kadang dapat memanaskan kepala kita juga," kataku sambil memaksakan tersenyum, menutupi kekagetanku.
"Pasti Anda ingin bertemu Yuuji... eh, Kamijo... silakan," katanya sambil mempersilakan aku masuk.
Aku membungkukkan badan dan memasuki ruangan yang pintunya telah terbuka itu.
Aroma teh hijau yang menenangkan langsung menghipnotisku ketika memasuki ruangan itu. Aku menjadi heran bagaimana Hizaki bisa marah-marah dalam suasana yang begitu menenangkan ini?
Yang duduk di hadapanku sekarang adalah pimpinan dari Sherow Artist Society, frontman dari band tempat Yuu mencurahkan ide dan hidupnya.
"Akazaki-san! Konnichiwa," sapa Kamijo dengan gaya yang anggun, seperti biasanya, sambil menjabat tanganku.
Dia menjadi semakin tampan belakangan ini, padahal dulu ketika ia masih menjadi roadie Malice Mizer, aku sempat bingung bagaimana supaya makeup dapat menutupi wajahnya yang 'kurang'.
Tapi sekarang, tanpa makeup pun ia sudah terlihat tampan.
"Kau terlihat segar," komentarku setelah Kamijo mempersilakanku untuk duduk.
"Benarkah? Sebenarnya aku agak lelah," jawabnya.
Kudengar suaranya agak serak. Sepertinya rekaman itu memang benar melelahkan.
"Sebelumnya selamat, atas debut major kalian," kataku.
"Terima kasih, aku merasa terhormat sekali memperoleh ucapan selamat dari Akazaki-san. Ngomong-ngomong, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Terus terang aku suka gaya Kamijo yang terlihat sangat menghormati orang lain itu.
"Sebenarnya aku ingin membawakan bento untuk Yuuichi, dia terlihat kurang sehat, tapi kata Teru tadi dia tidak datang hari ini."
"Mmm.. ya, memang Yuu hari ini tidak datang untuk recording, katanya dia kurang enak badan, namun ia akan kembali rekaman segera, mungkin besok atau lusa. Biasa, mungkin heatstroke... musim panas kali ini memang agak ekstrim,"
"Maaf, tapi sepertinya dia perlu istirahat," kataku.
Kamijou tersenyum arif.
"Ya, aku mengerti. Kami semua lelah, tentu Yuu juga. Namun ini adalah debut major kami, tentunya kami semua ingin melakukan yang terbaik, kan?" kata laki-laki yang lekat dengan simbol vampire itu dengan suaranya yang lembut.
"Aku rasa aku mengerti kecemasan Anda, Akazaki-san. Yuu akhir-akhir ini nampak kurang sehat. Ia sering nampak lelah dan kehilangan konsentrasinya,"
"Seandainya dia pulang sebentar ke Aichi?" tanyaku, sehati-hati yang kubisa.
"Ano... sebenarnya hari-hari ini adalah saat-saat final pengerjaan debut major kami, tinggal sedikit lagi dan semuanya akan beres. Sebenarnya..." Kamijo nampak gugup.
"Saya akan mengantarnya pulang ke Aichi. Biarkan dia istirahat sebentar, aku janji setelah beberapa hari dia akan kembali seperti semula. Onegaishimasu," kataku sambil membungkukkan badanku.
"Akazaki-san... sudahlah, silakan saja, saya yakin pilihan Anda adalah yang terbaik," kata Kamijo sambil memintaku menegakkan badanku lagi.
"Terima kasih, Kamijou-san." kataku sambil pamit, keluar dari ruangan yang menenangkan itu.
***
Aku melihat mobil sport miliknya ada di tempat parkir seperti biasanya, tanda ia ada di apartemennya.
"Ya?" terdengar suara dari pintu salah satu apartemen dengan nama Kageyama tertulis di dindingnya.
"Ini aku, Shun," jawabku.
"Oh, Akazaki-san... silakan masuk saja,"
Apartemen itu sebenarnya sederhana saja, namun Yuu berhasil membuatnya menjadi seperti galeri pribadinya. Di balik hobinya terhadap otomotif dan magic, segala hal dirawatnya dengan baik, hingga detail terkecilnya. Hal yang sudah kuduga dari seorang Jasmine You, kali ini Jasmine You, yang penuh perhatian terhadap segala detail.
"Ocha? atau sesuatu yang dingin?" tawarnya setelah mempersilakan aku duduk.
Ia nampak sangat pucat dan kusut.
"PRAANGG!!!!"
Dan ia memecahkan gelas ketika menuangkan teh dingin untukku.
"Lebih baik kau duduk juga," kataku sambil memapah dia ke kamarnya.
Kamar itu tidak terlalu luas, kira-kira enam tatami, namun terawat dengan baik. Semua barang di dalamnya tersusun dengan cantik, hingga pada detail terkecilnya.
"Sebenarnya aku membelikan bento untukmu, namun sepertinya lebih baik jika aku membuatkan bubur atau sup," kataku sambil memposisikannya untuk istirahat.
"Tidak usah, Akazaki... eh, Shun... bento tidak apa-apa, duduklah saja di sini, maaf berantakan," katanya sambil menarik tanganku.
"Baik, tapi makanlah. Kau terlihat tidak sehat. Mungkin seharusnya aku membawakanmu obat juga," kataku sambil membuka kotak bento yang kubeli tadi.
"Tidak, tidak apa-apa... hanya heatstroke kurasa, tidak enak badan karena musim panas," katanya sambil membuka bungkusan sumpit. "Itadakimasu,"
"Setelah makan bersiaplah, aku akan mengantarmu pulang. Ke Aichi," kataku sambil menuangkan sports drink ke dalam gelas mika.
"Tapi besok aku... aku sudah janji dengan Hizaki-san dan yang lainnya jika besok kami akan mulai rekaman lagi, lagipula ada jadwal..."
"Sssttt..." kuletakkan telunjuk ke bibirku. Memintanya diam.
"Aku sudah bicara dengan Kamijo, tenang saja," kataku.
"Tapi, Hizaki-san..."
"Sudahlah, sekarang makan dan pulanglah. Keluarga besar Kageyama pasti sudah merindukan Yuuichi yang mereka kenal kembali ke rumah setelah hampir tiga tahun di Tokyo." kataku.
Kulihat ia menundukkan kepalanya. Sumpit di tangannya bergetar sebelum akhirnya jatuh.
"Ya, Kageyama Yuuichi pulang..." katanya.
***
Hari mulai gelap ketika kami berangkat ke Aichi. Jalanan tetap padat seperti biasanya.
Keadaannya benar-benar tidak baik. Aku perlu memapahnya untuk bisa sampai ke mobilku.
Sepanjang jalan kami lebih banyak diam. Dia mendengarkan lagu lewat Ipod-nya sepanjang perjalanan. Entah apa yang didengarkannya. Mungkin lagu-lagu Versailles, atau lagu-lagu Hizaki Grace Project atau bahkan lagu-lagu Jakura, band pertamanya. Yang jelas, ia sangat menyukai hal-hal nostalgis seperti itu. Sementara aku sendiri lebih banyak larut dalam pikiranku sendiri. Teringat ketika pertama kali kulihat dia sebagai daya tarik, seorang yang paling cantik, di Jakura, kemudian terkena pengaruh Hizaki ketika bergabung dalam Hizaki Grace Project hingga kini melahirkan karakter Jasmine You yang begitu kuat dengan kesan glamour, 'liar' dan elegannya.
Namun yang ada di sampingku sekarang bukan mereka semua, bahkan bukan Jasmine You yang dengan hangat memeluk segenap fans-nya. Yang ada di sampingku hanyalah Yuuichi yang kukenal....
