Bekerja pada shift siang pada musim panas memang melelahkan. Ditambah lagi dengan keluhan orang-orang dari Delacroix dan Warner Music Japan atas terhambatnya rencana mereka karena sakitnya Yuuichi, membuat otakku terasa penuh.

Karena itulah aku merasa perlu bertemu dengan Kamijou-san, sekedar untuk bertukar pikiran dan menyampaikan keluhan-keluhan yang entah mengapa justru tiba padaku, membuatku merasa aku telah melewati kapasitasku lagi. Sebagaimana kukatakan sebelumnya, aku hanya seorang waiter di sebuah bar kecil di Tokyo. Untuk kali ini kapasitasku tidak lebih dari itu.

Dan ketika tiba di depan kantor besar Sherow Artist Society, aku terkejut melihat Aston Martin V12 Vanquish S terparkir di halaman depannya. Tidak banyak orang yang mempunyai mobil berharga sekitar 20 juta yen itu, dan aku kenal persis dengan salah satu pemiliknya.

"Eh, Akazaki-san, konnichiwa!" sapa seseorang, membawa handycam keluar dari mobil itu. Dia mengenakan T-shirt longgar berwarna putih dengan gambar Elmo dan celelana jeans selutut. Rambutnya yang pirang diikat dengan kurang rapi, menyisakan beberapa helai yang jatuh tergerai di bahunya.

Dan dia bukan orang yang kumaksud tadi.

"Konnichiwa, Hizaki-san," sapaku sambil membungkukkan tubuhku sedikit. Aku mencium aroma melati yang samar di tubuh laki-laki yang cantik itu. Menurutku aroma itu tidak biasanya ada di tubuh Hizaki.

"Err... ada yang aneh padaku, Akazaki-san?" tanyanya. Rupanya dia menangkap ada yang aneh pada caraku menatapnya tadi.

"Tidak, maaf... Ngomong-ngomong... mobil baru, Hizaki-san? Bagus sekali," kataku.

Aku ingin mengatakan bahwa mobil itu sama dengan mobil Yuuichi, namun kuurungkan.

"Eh? Mobil baru? Saya bahkan tidak membawa mobil hari ini, Akazaki-san, mobil saya tetap yang dulu dan sekarang sedang diservis juga, jadi tadi saya menumpang mobil Yuki-san ke sini," katanya.

"Eh? Maaf, tadi saya kira itu..." kataku tergagap. Dia ada di sini! Itu mobilnya! Jantungku berdegup kencang.

Tapi bagaimana bisa?

"Oh, itu milik Jasmine... maksud saya Yuu. Saya dimintanya mengambilkan handycam ini dari dalam sana," jawab Hizaki sambil tersenyum.

"Oh, jadi Yuu ada di sini?" tanyaku.

"Iya, tadi dia datang... sekarang kami akan mengambil gambar untuk behind the scene, mungkin nantinya akan jadi seperti DVD History of the Other Side," jawab Hizaki. "Akazaki-san sendiri... apakah ingin bertemu dengan Kamijou-san?" tanyanya.

"Ya, saya ingin ke ruangan Kamijou-san," jawabku.

"Oh... sekarang Kamijou-san sedang bersama yang lainnya, di ruang recording... jika Akazaki-san berkenan, mari kita ke sana bersama-sama, kami sedang melakukan hal yang seru." kata HIzaki sambil melambaikan tangannya, mengajakku ikut bersamanya.

"Baiklah, yoroshiku onegaishimasu," kataku.

Hizaki nampak sedikit sungkan padaku. Geraknya terlihat menjadi kikuk.

"Err... Hizaki-san, saya mencium aroma melati dari Anda," kataku memecah kekakuan itu. Tidak enak rasanya jika ada orang berjalan bersam kita namun hanya diam saja.

"Ah, maaf jika Anda kurang suka, Akazaki-san! Mungkin saya membawa aroma dari dalam mobil Jasmine tadi, aroma melati kuat sekali di sana," jawab Hizaki sambil membungkukkan badannya.

"Oh, sudah kuduga. Tidak, saya suka aroma melati," komentarku.

"Jasmine wa sugoi, ne?" kata Hizaki.

Aku terkejut dengan pertanyaan itu, atau tepatnya tidak mengerti.

"Sugoi?" aku balik bertanya.

"Ya, Jasmine bisa merawat dirinya sendiri dan barang-barangnya dengan baik, sangat hati-hati dan memperhatikan segala hal hingga yang terkecil, bahkan ia memperhatikan hingga pada aromanya. Mobil itu, walaupun sudah dibelinya setahun lalu, namun masih terlihat baru, kan? Lihat, tidak ada goresan sedikit pun," kata Hizaki.

"Mungkin karena harganya 20 juta yen? Saya juga akan sangat hati-hati terhadap benda seharga 20 juta yen," komentarku diiringi oleh tawa Hizaki.

"20 juta yen bisa kugunakan untuk membayar sewa apartemenku sampai aku mati, 166 tahun," kataku.

Dan kami pun tertawa.

***

Hal seru yang dikatakan oleh Hizaki tadi adalah para member Versailles bertukar posisi.

Yuki memegang gitar Hizaki, Teru ada di belakang drum dan Kamijo memegang bass dengan kaku. Sementara di belakang mikrofon ada pemilik mobil seharga 20 juta yen yang kami bicarakan tadi.

"Ah, Shun!" sapanya sambil melambaikan tangan padaku. Ia mengenakan T-shirt hitam berlengan panjang, nampak serasi dengan warna kulitnya.

"Bagaimana kamu bisa di sini?" tanyaku.

"Ada dua pilihan, Jasmine on vocal atau Hime in vocal, dan Kamijou-san, Teru-san, Yuki-san memilih Jasmine on vocal," jawabnya dengan gayanya yang khas.

"Bukan itu maksudku! Bukankah kamu seharusnya ada di Aichi?" tanyaku.

"Oh, ya, Jun mengantarku ke sini. Sekarang ia sedang merokok," jawabnya sambil menunjuk ke smoking room.

Dia tetap bicara dengan halu seperti biasanya, seolah-olah sama sekali tidak mengerti kecemasanku.

"Ayo segera kita mulai... aku sudah tidak sabar lagi!" seru Teru dengan gaya merajuknya yang khas.

"Ok... kita mulai, tiga... dua.. satu!" kata Hizaki seperti sutradara handal.

"Konbanwa, Versailles vocal Jasmine You desu," katanya halus sambil tersenyum manis.

"Versailles guitar Yuki desu," kata Yuki dengan gugup.

"Versailles bass Kamijo desu,"

"Versailles drums Teru desu," Teru menutup dengan gayanya yang riang.

"Versailles cameraman Hizaki desu!" ujar Hizaki tiba-tiba sambil mengacungkan tangannya ke depan kamera dan disambut tawa kecil personel lainnya.

"Minna-san, kami akan menyanyikan sebuah lagu baru dari Versailles, Ballad," kata Yuu sambil mendekatkan mikrofon ke bibirnya.

Yuki mulai memetik gitar dengan grogi, demikian pula dengan Kamijo.

Sementara Teru tangannya sudah gemetar di atas cymbal.

Dan dia pun mulai bernyanyi, menyanyikan sebuah lagu dengan irama ballad, sesuai dengan judulnya. Dia nampak sangat menghayati bagian berbunyi "Anata ni aitai... toki datte yume utsutsu, utakata no negai..." seolah-olah ia memang ingin menyampaikan isi hatinya kepada seseorang, bahwa ia ingin bertemu dengan orang itu, walau hanya dalam mimpi.

Lagu yang dinyanyikannya adalah sebuah balada yang dinyanyikan dengan emosional. Dia nampak menghayati setiap kata dari lagu yang belum pernah kudengar sebelumnya itu, seolah-olah lagu itu dapat menyampaikan perasaannya. Lagu itu dibawakan dengan sederhana saja, sebenarnya, jauh dari kesan lagu-lagu Versailles yang megah, namun suara lembutnya membuat lagu itu terdengar tidak biasa. Seperti membawa banyak perasaan. Sedih, haru, harapan, kainginan, semuanya tergambar dalam suaranya.

"Todashita mou yoru kaete.... todoke otoryou yami no terashite..." dia mengakhiri lagu itu dengan sebuah teriakan panjang. Teriakan dengan gayanya, tentu saja, masih dalam suaranya yang halus.

"OK!!" kata Hizaki sambil mematikan kameranya.

"Lagu yang bagus, Jasmine-san!" seru Teru sambil menepuk pundaknya.

Yuu menyibakkan rambutnya yang terurai menutupi satu matanya.

"Terima kasih, Teru-kun!" katanya sambil memainkan mikrofon di tangannya. Kemudian dari tangan itu keluar sekuntum bunga mawar putih.

"Untukmu, Hime," katanya sambil mengulurkan tangan, memberikan mawar itu kepada Hizaki.

"Cantik sekali! Bagaimana bisa kamu mengeluarkan mawar ini? Kau sembunyikan di mana mawar ini sejak tadi?" tanya Hizaki terkejut.

"Aku alien dan aku punya banyak mawar yang kubawa dari ruang angkasa ke bumi," katanya.

Hizaki tersenyum lebar sambil menerima mawar putih itu.

"Jasmine-san, cepatlah sembuh, aku sudah tidak sabar ingin melihat trik sulapmu lagi," rajuk Teru.

"Apa aku sakit? Aku hanya ingin melihat Hanabi Matsuri di Tokyo Bay, menghabiskan minggu ini untuk menjadi segar dan cantik lagi, kemudian Senin mendatang kita akan mulai sibuk lagi. Bagaimana? Ayolah... kalian juga ingin liburan musim panas, 'kan?" jawabnya dengan nadanya yang khas.

"Ya, setidaknya berjanjilah Senin mendatang kau akan kembali, banyak pekerjaanmu yang belum kau selesaikan," sahut Hizaki.

"Ok, Hime! Aku akan datang pada hari Senin dan boooost.... menyelesaikan semua tanggunganku!" katanya sambil melambaikan tangan.

"Baiklah, aku tunggu kamu pada hari Senin, pagi-pagi sekali," kata Kamijo ikut menanggapi.

"Baik, Kamijou-san! Aku akan datang langsung setelah aku minum teh melati porsi pagiku!" jawabnya bersemangat.

***

Entah apakah video dia menyanyi itu dipublish kepada penggemar atau tidak, namun yang jelas aku memiliki satu salinannya. Dan setiap kulihat video itu, air mataku tidak pernah tidak mengalir. Dalam video itu dia masih tersenyum dengan manis dan riang, walaupun dia hanya bisa duduk di tempatnya, tidak sanggup ke mana-mana.

Dalam video itu dia masih tertawa dengan hangat, seolah-olah dia bukan pembohong besar itu. Seolah ia bukan pembual yang mengacaukan segalanya. Dia telah berbohong, ia telah mengingkari janjinya sendiri dan telah membuat banyak orang terluka dalam hati mereka.

Pada Senin itu, Senin yang dikatakannya, Senin yang dijanjikannya, dia tidak datang.

Dan dia tidak akan pernah datang.