Chapter 2 akhirnya kelar juga…. Saia harap chapter ini lebih baik dari chapter kemarin…. So enjoy….
--------------
The Tears
---------------
L pun mencari-cari asal suara yang tengah meneriakan namanya. Dan pandangan langsung tertuju pada sosok seorang yang sangat dikenalnya.
"LAWLIEEEET…..".
"P,paman?! Ada apa?", tanya anak itu lirih.
"Ayo ikut!!", menarik L paksa, menuju ke tepi jalan.
"Ada apa?", tanyanya sekali lagi.
"Mana? Mana uang yang kamu dapat tadi?!", bentak pria itu.
"Uang?!".
"JANGAN PURA-PURA!! TADI ADA ANAK KECIL YANG MEMBERIMU UANG KAN?!".
L mendunduk. Entah dari mana orang itu tau tentang uang pemberian Light tadi.
"serahkan uang itu!", menyodorkan tangannya.
"Hn?!", L menatapnya ragu.
"CEPAT!!!"
L pun memberikan uang tersebut. Dengan nada puas, seorang Damegawa berkata, "Kamu juga diberi roti kan?, Ya sudah untukmu saja!", ucapnya seenaknya.
"Tapi rotinya kan-", orang itu pergi begitu saja, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari anak kecil dihadapanya. Meninggalkan L yang terlihat makin kumel dan pucat.
"P, paman Damegawa…", gumam L dengan nada bergetar.
Anak itu memegangi perutnya yang semakin lapar. Dari kemarin malam tak ada satu pun makanan yang masuk ke perutnya, hanya sekedar air putih saja yang melewati tenggorokannya.
~oOo~ ~oOo~
Siang itu terik matahari terasa menusuk kulit. Hawa panas juga membuat orang-orang menjadi malas. Tapi tidak untuk L, ia tetap menyusuri jalan setapak demi mencari sesuap nasi. Ia berhenti dari satu rumah ke rumah yang lain, dan menyanyikan lagu yang sama ditiap rumah. Walau kadang orang dirumah itu mengusir dan mencacinya, ia menerima itu semua dengan tabah. Dan meski, anak-anak seumurannya menatapnya dengan sinis, L tak pernah mempedulikannya. Ia tetap tersenyum dan bersemangat, menghadapi masa kecilnya dengan harapan dan doa sederhana.
Pemuda itu menengadah ke atas. Kilauan sinar mentari menyilaukannya.
Kruuk. Kruuk.
"L, lapar~…", memegangi perutnya.
Ukh... Tiba-tiba pandangannya berputar.
"Pusing….".
~oOo~ ~oOo~
Klip. Klip.
Ng?
"PAK, DIA SUDAH SADAR", teriak seorang wanita.
"Ini dimana?".
"Wammy's House", jawab pria paruhbaya yang baru datang itu sabar.
L yang baru sadar dari pingsannya itu mencoba bangkit.
"Jangan memaksakan diri, kata dokter tubuhmu masih terlalu lemah", ujar orang itu penuh kelembutan.
"Anda siapa?", Tanya Lpada pria yang kini sudah duduk disebelah ranjangnya.
"Panggil saja aku Watari. Kau sendiri, siapa namamu?".
"Aku Lawliet".
"Anda juga boleh memanggil dengan nama itu"tegasnya.
~oOo~ ~oOo~
"Kalau boleh tau, dimana rumahmu?", Tanya Watari.
"……", Ltak mengatakan apa-apa.
"Orang tuamu?".
Pemuda itu tak menjawab. Ia malah menitikan air mata waktu Watari menanyakan dari mana ia berasal.
Srek. Srek.
Uh ukh… hiks…hiks…
Grep.
Gyuuuts.
Tiba Watari yang awalnya hanya mengusap-usap rambut hitam si kecil L. Kini memeluknya. Pemuda itu pun membalas pelukan pertamanya sambil terus menangis tersedu didada Watari.
"Sejak lahir, aku tidak pernah tau dimana kedua orang tuaku... Yang aku tau hanya paman Damegawa", L mulai bercerita.
"Damegawa?!..." .
"Hmmp. Meski aku diperlakukan tidak baik, cuma dia orang yang ku kenal...", lanjutnya sedikit terbata.
L melepas pelukannya sambil mengusap air matanya dengan lengan baju putih kumelnya.
Grep.
Tiba-tiba saja, Watari menggandeng tangannyanya dan mengajaknya keluar dari kamar yang terlihat begitu luas dimata anak 12 tahun sepertinya.
"Kalau begitu, akan ku buat kau mengenal beberapa orang lagi dalam hidupmu".
~oOo~ ~oOo~
Yeaaaaach……
Woy! Curang……
Week! Kalo bisa tangkap aku!
Hay, jangan lari ya!!...
Drap. Drap. Drap.
Ng?.
Mata L berbinar menatap kerumunan anak kecil yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang bermain kejar-kejaran. Ada yang menyusun puzzle. Ada pula yang tengah menggambar dan menulis, dan banyak lagi.
"Mereka?...", gumam L yang bersembunyi dibalik tubuh Watari.
"Anak asuh di panti ini", jawabWatari.
"Panti asuhan? Jadi ini panti asuhan?!".
"Ayo kita temui mereka!", ajak orang itu.
Dengan tampang takut, anak itu mengikuti Watari dari belakang.
~oOo~ ~oOo~
Begitu melihat kedatangan Watari, anak-anak itu langsung berlarian mendekatinya. Semua nampak sangat menyukai Watari.
"Sepertinya, Tuan Watari itu orang yang baik ya?".
" Hay…", sapa beberapa anak ketika melihat sosok L.
Hn?!
~oOo~ ~oOo~
Tbc…
~oOo~ ~oOo~
A/N; Sebelumnya, saia mau minta maaf buat L-Quu yang udah saia buat dia menderita, sedih dan sengsara…. Abis, saia gak tau bikin cerita yang gimana buat chara Death note yang chara-nya paling pinter. Jadi, saia buat aja nih Fanfic. L dan beberapa chara death note saia bikin umurnya sama, yaitu 12 tahun. Oya, saia juga mau ngucapin terima kasih buat yang udah review... Ternyata memang masih banyak salahnya. Tapi saia akan berusaha lebih baik lagi kok. Sekali lagi, dommo arigatou... Dan saia tunggu reviewnya…….
