A/ N: Gomen telat up-nya…. Padahal, saia pengen up nih fic tepat di hari ulang tahun Mello…. Yah, please RnR tis fic, okey…… arigatou minna~……….
The Tears
Chapter 3
"Hai~".
"H, hai," jawab L malu ketika beberapa anak datang menghampirinya.
"Aku Mello".
"Dan Aku Matt," kata mereka bergantian.
"Panggil saja aku Near".
" A, aku L," jawabnya malu-malu.
"L ya?!".
~o~ ~o~
Waktu hampir menunjukkan pukul 7 malam. L dan kawan-kawannya masih terlarut pada game yang mereka mainkan. Sampai akhirnya...
Kruyuuuuuuuuuuk.
"A, aku lapar~," gumam Matt sambil mengelus perutnya yang mengempis.
"Wah, benar juga. Ini kan sudah waktunya makan malam. Tapi kenapa kita belum dipanggil juga ya?" Mello mengiyakan.
"Mungkin mereka lu-".
Belum selesai Near berbicara, seorang gadis yang juga pengurus panti keluar dan mengajak anak-anak itu untuk makan malam.
Semua anak berlarian ke ruang tengah, dimana meja makan yang terdapat hidangan lezat tengah menanti.
Drap. Drap. Drap.
"L, ayo!!" ajak Near ketika L tetap tak beranjak dari duduknya.
Hn?!.
"Ayo, kamu kan sudah jadi bagian di tempat ini!" imbuh Matt.
L sempat ragu. Namun akhirnya.
"I, iya...," ucapnya mengekor kawan-kawan barunya.
~o~ ~o~
Perut telah penuh terisi. Wajah anak-anak itu nampak senang sekali, tak terkecuali L. Berbeda dari biasanya, dia terlihat bahagia. Wajah murungnya digantikan oleh sunggingan senyum manis dari bibirnya.
Tap. Tap. Tap.
"Hh?! L, kamu tidak tidur?" tanya Watari ketika melihat anak berambut hitam itu muncul.
L hanya menggeleng.
"Apa ada masalah?. M, maaf. Sebenarnya, saya tidak bisa tinggal disini. Karena...," dia tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Kamu berat meninggalkan rumahmu ya?".
" ..., I, iya", ucapnya lirih.
Tep.
Watari mengusap-usap rambut L.
"Ya sudah, aku juga tidak bisa memaksamu 'kan. Tapi, tempat ini selalu terbuka untukmu," L tersenyum.
Dengan tampang malu-malu, anak itu berkata, "terima kasih".
~o~ ~o~
L pun kembali kerumahnya. Dan, disana sang paman sedang terlelap dalam mimpinya. Kesempatan bagus untuk mengendap-endap. Berharap, orang itu tidak terbangun. Karena, jika itu terjadi, Damegawa pasti akan menghukumnya habis-habisan.
"Fuh….." L menghela nafas lega dan berbaring diatas tikar usangnya. Lalu ia memejamkan mata dan tetap tersenyum simpul, berharap mendapat mimpi indah malam ini. Dan esok ketika ia bangun, ia berharap mendapatkan kebahagian yang lebih dari hari ini.
~o~ ~o~
Esok harinya……
"L!! Kemarin kamu ngamen dimana? Kenapa malam sekali pulangnya?!" tanya Damegawa dengan suara keras seperti biasa
" Aku tidak ingat, tapi-," anak itu merogo saku celana lusuhnya dan memberikan beberapa lembar uang 100 ribu pada Damegawa.
Hh?! orang itu menatap L curiga.
"KAU MENCURI YA?!!".
L terhentak, "ini diberi, Paman," ucapnya ketakutan.
"Heh,mana ada orang baik jaman sekarang! Bodoh!!"
" Benar Paman, uang ini dapat dari paman Watari".
"Watari?!. Maksudmu pemilik panti asuhan yang kaya raya itu?".
L mengangguk pelan.
"Bodoh!!" bukan rasa terima kasih yang ia dapat, tapi malah tamparan karena ia datang dan mendekati panti itu.
"K, kenapa paman?" tanya L memberanikan diri.
"Kenapa?! Dengar ya, Watari itu berusaha mengambilmu dariku. Dia memang orang yang baik dan kaya, dia akan memberikan semua kemauan anak-anak karena kecintaannya pada mereka".
L menatap Damegawa yang terlihat sangat marah.
"Tapi karena kebaikannya itu akan membuatmu meninggalkan tempat ini, dan meninggalkanku. Aku tidak mau itu terjadi, aku tidak ingin kehilangan satu-satunya mata pencaharianku," katanya egois.
L menunduk.
"Tapi~…...".
"Jangan sekali-kali kamu mendekati tempat itu! Kalau kau melanggar, kau sudah tau apa yang akan terjadi kan?!" ancam orang itu sambil menggeplak kepala L.
Anak itu hampir saja menunjukan air matanya didepan Damegawa, tapi orang itu keburu menyuruhnya pergi, mengamen.
~o~ ~o~
Dengan langkah sedih karena tak dapat datang lagi ke tempat yang dianggapnya sebagai surga, L berjalan menuju perempatan. Ia ingin sekali melanggar perintah Damegawa dan kembali ke Wammy's House, tapi ia tak dapat melakukan hal itu. Karena pria berwajah seperti shinigami itu mengancam untuk tidak memberitahu dimana kedua orang tuanya. Dan ia pun selalu mematuhinya demi keinginan untuk bertemu dengan orang tuanya. Meski ia harus menunggu 5 tahun lagi untuk mengetahui semua fakta mengenai keluarganya.
Tak ada manusia yang terlahir sempurna, nyanyi L diantara mobil-mobil yang berbaris tak beraturan di lampu merah.
"Terimakasih," kata itu yang terucap dari bibir mungilnya, meski orang didalam mobil itu tidak memberi uang, bahkan melirik saja enggan. Pemuda itu tetap tersenyum.
Merah...
Kuning...
Hijau...
Lampu hijau telah menyala. Ia segera berlari ke tepi, menghidari lalu lalang mobil dan motor di jalan.
Tapi, belum sampai ia ke tepi, sesuatu terjadi..
Cieeeeeeeet.
BRUAK.
"Kecelakaan," pikirnya dalam hati.
Ia pun berlari mendekati kerumunan orang-orang yang mengamati seorang yang tengah jatuh tersungkur di jalanan. Tangan dan kakinya terluka. Wajahnya nampak sangat pucat dan ketakutan.
"Ayo, kita tolong anak ini!" perintah seorang pria.
"Dia 'kan?..".
---
Tbc…
---
Plisss, saia tunggu review-nya….. dan gommen kalo chapter ini gak lebih baik dari chapter sebelumnya…… THANKS……
