Last chapter... Uwaah, akhir selesai juga... Yosh, selamat membaca, maaf kalo aneh, soalnya saya buat chapter ini disela-sela waktu nganggur saat pelajaran... Oya, maaf juga kalo summarynya yang kemaren, melenceng jauh dari ceritanya... So, enjoy...

-----------

The Tears

~oOo~ ~oOo~

Light tersenyum senang mendengar celoteh dari sikecil L diperjalanan menuju rumah Damegawa. Hari itu adalah hari yang menggembirakan baginya karena seseorang yang ia cari kini tlah ia temukan.

Tap Tap Tap
Srek.

"Ini dia rumahku, maaf kalau tidak sebagus rumahmu!" Kata L.

"Tak apa, lagipula, rumahku sekarang tinggal puing-puingnya saja," balas Light.

L tersenyum getir.

~oOo~ ~oOo~

"AKU PULANG!! Paman--," teriak L mencari-cari Damegawa.

"Permisi...".

"Masuk saja Light, Paman sedang tidak ada di rumah," kata L yang lebih dulu masuk ke dalam.

"L, apa benar kalau aku boleh tinggal disini?" Tanya pemuda berambut coklat itu ragu.

"Kalau Paman mengusirmu, aku juga akan pergi bersamamu, jadi jangan khawatir," balas L.

Light menyunggingkan senyum termanisnya.

"Ayo masuk, lalu kita tidur. Aku sudah lelah sekali!" Ajak L.

"Iya...".

Light yang masih terjaga memperhatikan L yang tertidur pulas disebelahnya.

"L, terima kasih..." Bisik anak manis itu sebelum terlelap.

~oOo~ ~oOo~

Sudah 3 hari L tak melihat Damegawa. Tidak seperti biasa, orang itu tidak pulang selama itu.

"Hai, L!" Sapa seseorang bernama Matsuda.

"Hai Kak, oya, apa Kakak tau dimana Pamn berada?" Tanya L yang hendak pergi mengamen bersama Light.

"Kau belum tau, Pamanmu kan, ditangkap polisi 3 hari yang lalu" .

"?!" L dan Light terjingkat kaget.

"Kenapa bisa?" Tanya L.

"Dia ketahuan merampok dan membakar rumah 1 keluarga untuk menghilangkan jejak. Semua orang dirumah itu meninggal, hanya anak lelakinya saja yang selamat," cerita Matsuda panjang lebar.

Mendengar cerita orang itu, L hampir tak dapat berkata-kata. Terlebih lagi Light, begitu tau jika Damegawa, Paman sahabatnyalah yang membuat dia kehilangan keluarga yang sangat dicintainya. Tubuh mungil Light seakan lemas seketika, ia benar-benar tidak menyaka hal itu bisa terjadi.

"Light~ aku~--..." L manatap Light dengan tampang penuh sesal.

"Sudah L, jangan bicara apa-apa lagi!" Bisik Light dengan suara tertahan.

"Tapi!—".

"Ya sudah, aku pergi dulu ya!" Matsuda beranjak meninggalkan keduanya.

Sekali lagi, air mata kembali mengalir dipelupuk mata Light yang belum lama mengering.

~oOo~ ~oOo~

Beberapa saat kemudian….

"L".

"Ada apa, Light?".

"Aku, aku ingin kau mengantarkanku kesuatu tempat".

"Kemana?".

Light tak segera menjawab, ia hanya bangkit lalu mengusap airmatanya sebelum berjalan mendahului L. Dengan perasaan takut, L mengikuti langkah kecil teman sebayanya itu. "Maafkan aku Light," umpat L dalam hati.

~oOo~ ~oOo~

Hampir 30 menit keduanya berjalan kaki tanpa saling bicara. Dan, sampailah mereka di tempat yang dituju. Waktu itu Light duduk diantara dua gudukan tanah dengan bunga-bunga yang mengering diatasnya. Dengan wajah duka, anak itu mengelus batu nisan bertuliskan nama ayahnya.

Dan dengan berlinang air mata Light berkata, "Ayah... Ibu... Sayu... Maaf aku baru menemui kalian sekarang. Aku datang membawa temanku, L," Ucapnya.

L yang berdiri tidak jauh dari sana terhentak ketika namanya disebut.

"Aku senang, karena orang yang telah jahat pada keluarga kita sudah ditangkap. Meski aku sedih, karena orang terdekat L-lah yang melakukannya," Lanjut Light.

"Meski aku kesal tapi tak apalah, itu sudah terjadi... Lagipula, sekarang aku sudah tidak kesepian lagi... Karena L selalu bersamaku". "Ayah... Ibu... Istirahatlah dengan tenang disisi-Nya. Aku disini baik-baik saja. Karena L pasti akan selalu menjaga dan menemaniku".
L tersenyum simpul mendengar kata-kata Light.

"Sekarang aku harus pergi, tapi aku pasti akan datang lagi bersama L," pemuda berambut coklat itu bangkht lalu menatap L dalam-dalam. L membalas tatapan itu dengan wajah bersemu malu.

"Maaf... aku sudah mengingkari janjiku agar tidak menangis lagi. Tapi aku janji, lain kali aku tidak akan menunjukkan air mata ini lagi," memeluk L erat-erat.

"Sudah Light, kalau mau menangis, menangis saja. Tidak usah pedulikan janji atau yang lain, asalkan kamu dapat tersenyum setelahnya, aku tidak apa," balas anak berbaju putih kumel itu dewasa.

Light menyungginkan bibirnya senang.

~oOo~ ~oOo~

L dan Light pun meninggalkan tempat itu. Tapi tidak untuk kembali ke tempat Damegawa, melainkan menuju Wammy s House. Berharap, mereka mendapat kebahagian yang beberapa saat hilang. Dengan harapan dan keyakinan bahwa airmata yang telah mereka keluarga, benar-benar berganti kebahagian yang tak akan pernah pudar sampai kapanpun.

Malam harinya, diatap panti asuhan Wammy s House...

"Tiga bintang yang paling bersinar itu keluargaku," Tunjuk Light.

"Benarkah?" Ucap Mello yang berbaring diantara Matt dan Near.

"Indahnya..." Kata Matt dengan wajah tenang.

"Lihat, dua bintang yang saling berdekatan itu!" Tunjuk L antusia.

"Memangnya kenapa?" Tanya Near ingin tau.

"Itu adalah aku dan Light," jawab L.

"Lalu kami?" Tanya Mello iri.

"Tentu saja tiga bintang yang berada didekatnya..." Sahut Light seraya tersenyum.

"Aaa, benar-bemar. Tapi~ kok lebih kecil," gurutu Mello.

"Makannya makan suyuran yang banyak, jangan cuma coklat," ejek Near.

"Heh, jangan bawa-bawa harta palimg berhargaku!!" Mello tidak terima.

"Ssst, jangan ribut!!" Sergah Matt bercanda.

"Yes, My Lord," kata kedua anak yang sedang bertengkar itu kompak dan takut.

Sedang L dan Light terkikik geli karena sikap mereka.

Bintang-bintang yang bertaburan itu menjadi saksi dari awal kebahagian dan kehidupan baru yang telah menanti L dan Light. Sebuah kebahagian dan kebersamaan yang takkan terenggut oleh apapun atau siapapun.

The End...

~oOo~ ~oOo~

Yah, selesai sudah. Terimakasih buat para readers yang telah mengikuti fic gaje ini dari chapter pertama. Dan maaf juga kalo endingnya aneh... Ya sudah, sekali lagi domo arigatou...