Wah...Gomen minna-san telat lagi nih, masih banyak kerjaan nih*di timpuked* ya sudah ini lanjutannya yang kemarin.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC, AU, GAJE

"Antara Aku dan Dia"

Chapter 4

Sakura duduk termenung di bawah pohon sakura yang ada di depan rumahnya. Semilir angin yang tertiup menerbangkan helaian rambut merah muda nan halus miliknya, Sakura memejamkan kedua matanya, mencoba merasakan sejuknya angin yang menyentuh permukaan kulitnya.

"Sakura, kau disini?"

Suara lembut menyadarkan Sakura, di pandanginya sosok yang ada didepannya, dengan senyum manis, Sakura menarik sosok tersebut agar ikut duduk disampingnya. Tangan Sakura menengadah keatas, sambil memandang makhluk Tuhan disampingnya.*?*

"Hinata-chan, coba rasakan angin yang tertiup dibawah pohon ini, huuummm...hatiku terasa tenang, entah kenapa rasanya semua masalah ikut terbang bersama angin itu," ucap Sakura sambil tersenyum riang.

Hinata masih menatap Sakura, alisnya terangkat sebelah, melihat tingkah laku Sakura yang hm...sedikit aneh. Seakan menyadari sesuatu, Hinata memegang tangan kanan Sakura yang masih menengadah keatas langit.

"Se...semua...ma...salah...iku...t...ter...bang? Memang...Sakura-chan ada masalah...?" tanyanya ragu.

Ups! Aku keceplosan batin Sakura.

"Hehe... kurasa setiap manusia pasti punya masalah, bukannya begitu Hinata?"

Hinata mengangkat kedua alisnya untuk kesekian kalinya. "Benar juga yan di katakan Sakura-chan tadi," batin Hinata.

"Eh... iya Sakura-chan, hm... ngomong-ngomong Sakura-chan tidak main lagi kerumahku?" tanya Hinata sambil memasang senyum manisnya.

Pertanyaan Hinata tadi sempat membuat Sakura tercekat. Ia menunduk, menyembunyikan semburat sedih di wajahnya. Sekali lagi Sakura menarik napas dalam-dalam. Dengan sebuah senyuman yang terlihat di paksakan, ia menatap jauh sepasang mata lavender yang ada didepannya.

"Maaf, Hinata-chan, sepaertinya aku tidak bisa kerumahmu untuk akhir-akhir ini, kau pasti tahu kan, 2 bulan lagi ada pentas piano?" tanyanya pada Hinata yang masih diam saja, menyadari sesuatu, Hinata menatap Sakura.

"Benar, aku tahu itu Sakura-chan."

Terdengar ada nada menyesal pada jawaban Hinata tadi.

Angin kembali tertiup. Hamparan padang ilalang yang ada disamping rumah Sakura menari-nari tertiup angin, begitu juga dengan dedaunan yang rontok dan jatuh ke tanah, menerbangkan debu yang ikut terbawa angin. Langit senja kian memerah, menampakkan mega yang dengan indah menghiasi langit kala itu. Sakura dan Hinata berbincang-bincang di tengah indahnya alam saat itu.

Sakura P.O.V.

Aku terbangun dari tidurku, setelah merenggangkan tubuh yang lelah, sekaligus mengumpulkan nyawa yang terbang di dunia mimpi. Aku bangkit dari tempat tidur, walau sedikit gontai, aku berusaha berjalan ke arah jendela kamarku. Jujur, aku sedikit kecewa, yah... kenyataan yang ku hadapi memang tidak sulit, tapi tetap saja, aku masih tidak mampu untuk berharap terlalu jauh lagi. Aku tak sebanding dengan Hinata yang sempurna, maka, wajar saja jika Sasuke menyukai Hinata, eh? Aku tahu dari mana kalau Sasuke menyukai Hinata? Iya aku ingat, sewaktu pergi dari ruang musik beberapa hari yang lalu, aku melihat dengan jelas mata onyx itu memancarkan sinar kekaguman pada Hinata, bukan padaku, ku tegaskan sekali lagi, BUKAN PADAKU! Aku sedih? Tentu saja, siapa yang tak kan sedih saat tahu orang yang ia sukai malah menyukai orang lain? Huh... perasaan sedih, kecewa, dan sakit berkumpul menjadi satu, dan cukup sukses membuatku... arrrgghh... cukup Sakura, Hinata menyukai Naruto, jangan negative thinking. Aku menyibak tira putih yang ada di depanku, cahaya mentari menerobos masuk, dan jatuh tepat di depan mataku, yang membuatku refleks memalingkan wajahku. Dan... waktunya sekolah! Teriakku dalam hati, dan... bertemu err... Uchiha itu lagi, mungkin.

End Sakura P.O.V.

Sakura melangahkan kakinya yang mungil itu menuju kelasnya sambil mendendangkan irama yang terdengar samar-samar. Ia terlalu asyik dengan nyanyiannya itu, tanpa sedikit pun memperhatikan keadaan sekitarnya. Tepat di sebuah belokan. Sakura tergelincir karena lantai yang masih licin seusai di pel Sakura menutup matanya, ia tak tahan jika harus merasakan tubuhnya jatuh dilantai, pasti terasa sakit. Namun...

10 detik berlalu.

Sakura mulai merasa aneh. Kenapa ia tak kunjung merasakan tubuhnya terhempas di lantai? Eh? Ia merasakan ada sebuah tangan yang meraih pinggangnya, sedang tangan yang satunya lagi memegang lengannya, serasa di peluk, tapi pelukan dari samping. Dengan buru-buru ia membuka kedua matanya.

Deg!

Sepasang mata onyx menatap mata emerald miliknya. Tubuhnya panas dingin, sedang Sang Uchiha mengangkat sebelah alisnya. Sakura yang tak menyangka akan ada sosok yang ia kagumi mencegahnya terjatuh, merasa kaget, senang sekaligus bingung refleks mendorong Sasuke agar melepasnya, tapi... dorongan dari Sakura terlalu keras dan membuat Sasuke terjatuh sedang lengan Sakura masih ada di tangannya*?*. Sakura berteriak.

"Aaaa..."

Bruk!

"..."

"..."

Sasuke jatuh ke lantai, sementara Sakura ada di atasnya. Sekali lagi mata Sakura terpejam.

CUP!

Aneh, Sakura merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya dan mencium aroma wangi yang membuat jantungnya bergedup kencang sekali. Perlahan ia membuka kedua matanya*lagi?*.

Hah?.

Ia mendelik. Dengan buru-buru Sakura berdiri, menundukkan kepala.

Aduh baka! Apa yang ku lakukan tadi? Baka! Baka! Baka!.

Sasuke jongkok tepat di depan Sakura yang masih menundukkan kepalanya.

"Aneh," ucap Sasuke dalam hati.

"Kau kenapa?" Sasuke mulai bicara.

Sakura masih malu, sebuah rona merah menghiasi wajah putih miliknya.

"A..maaf... ma..af."

Sasuke semakin bingung. Ia berdiri. Mengangkat dagu Sakura dengan jari telunjuk kanannya. Wajah Sakura terangkat, terlihat oleh Sasuke dengan jelas, ada sebuah rona indah yang menghiasi wajah gadis yang ada di depannya. Tanpa sadar ia bergumam,

"Manis."

"Lupakan saja tadi," ucapnya sambil menarik jarinya dari wajah Sakura dan pergi meninggalkan Sakura yang masih bingung.

Di lain tempat, Sasuke bersandar pada dinding gedung sekolah, kedua tangannya berlipat di dada.

"Rasa tomat," ucapnya sambil menyeringai.*maklum tadi Sakura sebelum berangkat sekolah minum jus tomat.*

Wajah Sakura masih merah padam saat akan memasuki ruang kelasnya, tanpa menyadari bahwa pintu kelas tertutup karena terkena angin yang kencang, dan...

Duaak!

Dahi Sakura dengan sukses membentur pintu. Tubuhnya langsung ambruk ke lantai. Hinata yang baru datang dan melihat Sakura jatuh segera menghampiri Sakura.

"Sakura-chan, hidungmu berdarah," ucap Hinata hampir seperti teriakkan.

"Ap...apa... ber...berda...rah?"

"Eh...?" Hinata terperanjat, mengatakan kata yang bisa membuat Saku...

Bruk!

Untuk sekian kalinya Sakura jatuh ke lantai lagi. Hinata yang panik semakin panik saat ia keceplosan mengucapkan kata "berdarah", yang membuat Sakura jatuh pingsan. Secara kebetulan, atau memang takdir, ketua OSIS bersama wakilnya lewat di sana. Melihat gadis yang ia kagumi yang tengah panik, dan juga sesosok gadis yang err... mencuri first kissnya tadi, Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan...

TBC!

Nisha Uchiha sarang Siwon : Hehe, masih segitiga kok, tapi tu ah bingung...*pundung*

LuthMelody : Sasuke mah gak beon tapi emang dasarnya kagak tau, whahahaha, hm... typo?

Nakamura Kumiko-chan : Wah makasih udah nunggu fictku yang jelek ini. Ya ni udah ku panjangin, gimana kurang panjang? Maaf, penyakit mles merajai saya, hahaha*aneh*.

Chrystha McDohl Suikogirl : Ini salah saya, saya kurang memperjelas crita, sebenrnya Sasuke itu..*hmmpp-di sumpel nasgor-* nanti juga tua kok, hehe...

Illya virsville : Iya, kalau tidak males*di gampred*

Sekian dulu ceritanya, kalau masih ada kesalahan, mohon saya di kasih tahu, dimana letak kesalahan saya.

Gomawo.

RnR?

Review lagi yah...*ngarep mode overlimit*