Coba nge-reply review pake gaya ini ah^^
MelZzZ: Iya, kurasa OOC-nya yg di bagian kedua ini. Setahuku klo lagi mode serius, kyknya Zoro manggil Sanji pake namanya deh. CMIIW. Oh ya dalem dong, kan pembicaraan wanita yg ngewakili perasaan kita *ceilah*
ReadR: Hahaha, aku suka pengandaianmu soal Luffy kirim undangan nikah ke Buggy. Sempurna ma Sempurna bakal kaku, ga sempurna ma ga sempurna lebih buruk lagi. Jadi? Pokoknya, manusia butuh pelengkap terbaik hehehe...
Sanji Koiwai: Wah, suram ya? Padahal kan harusnya Sanji itu gokil dan bawel kyk bebek *PLAK*
Aquilaa: Hahaha, aku jadi inget ucapan Robin di Marchen Time. Lha, bener kan? Zoro is unlovable XD. Daya tarik Zoro itu ada di gayanya yg dingin dan bodinya yg hot, bukan tampang ganteng dan otak cerdas kyk Sanji hehehe...
Sayaka Dini-chan: Ah, itu dia. Bumbu shounen-ai nya di sini. Tapi emang cuma sedikit kok. Dan, pastinya mereka bersatu kok, masa Sanji berubah meleng ke Zoro XD.
Cendy Hoseki: Oh, hai. Thanks udah nge-fave dan nge-review.
Makasih review-nya, Kali ini review lagi ya...
Malam semakin larut. Sanji tidak bisa tidur karena pikirannya masih berkecamuk. Akhirnya ia pun memutuskan untuk merokok di luar. Ia menyandarkan punggungnya pada pagar dek Sunny. Lalu, matanya menangkap sesuatu yang datang mendekatinya.
"Kau juga tidak bisa tidur, Marimo?" sapa Sanji. "Kukira waktu hibernasi siangmu tidak pernah cukup," ledeknya.
"Aku ingin menemanimu sebentar," jawab Zoro.
Eh, ditemani? Sanji sedikit bergidik. "Kau masih gusar soal siang tadi? Tidak biasanya,"
"Kau memang sangat menyebalkan! Ini bukan lagi soal Nami atau apa. Tapi, kau orang yang paling tidak sayang nyawa sendiri di sini."
"Marimo-kun, kau peduli padaku ternyata..," Sanji tersenyum meledek.
"Aku tak ingin melihat Luffy atau siapa pun sedih."
"Bicara apa kau? Bukankah kau juga pernah siap mengantar nyawa saat berhadapan dengan Kuma di Thriller Bark?"
"Tidak," jawab Zoro. "Aku tahu batas tubuhku sendiri. Aku yakin bisa menahan segala derita Luffy. Meski terdengar mustahil, tapi aku sekaligus ingin mengukur kekuatanku dan kesetiaanku sebagai seorang pria sejati apakah aku pantas menjadi first mate-nya. Tapi kau? Kata-katamu yang ingin aku menyampaikan pada Luffy bahwa ia harus cari koki baru menandakan bahwa kau malah siap mati. Dan jujur saja, aku tak sudi kau mati demi menggantikan aku."
Sanji mendengar ada penekanan nada pada bicara Zoro, merasa bahwa ia tak jujur, bahwa ia ingin memberitahu bahwa Luffy dan dirinya juga akan sama terlukanya dengan Nami. Dan, pastinya teman-temannya yang lain juga. Tapi lagi-lagi Sanji mengelak, "Tuh kan? Sudah kubilang kau peduli padaku juga ternyata..."
Santai sekali, pikir Zoro. Itu karena kita nakama, bodoh! Tanpa jujur dari mulut pun, harusnya kau sudah tahu dengan mudah. Kenapa masih harus berpura-pura? Ia lalu mencengkeram kerah Sanji, "Sekali lagi kau masih bisa berbicara seperti itu, aku akan..."
"Akan apa?"
"...menghajarmu sampai kau sadar!"
Sekali lagi bibir Sanji membentuk untaian senyum di balik rokoknya yang ia gigit. "Kau memang sahabat terbaikku, Zoro." Hanya kau yang paling bisa mengertiku.
"You are really a stupid Kishido," gerutu Zoro melepaskan cengkeramannya.
"So you are with your stubborn Bushido," balas Sanji. Setelah duel melawan Mihawk di restoranku itu, kemudian menghadapi Kuma seorang diri, lalu apa lagi yang akan membuatmu nyaris kehilangan nyawa hah? Kau pikir kami juga tak kalah khawatir? Yeah, meski Luffy selalu percaya penuh padamu sih.
Zoro tidak menolak disebut demikian. Kemudian mereka tertawa kecil.
"Hei, Marimo," panggil Sanji. "Perjalanan kita sudah berakhir, apa kau akan terus sendiri?"
"Entahlah, bahkan sampai detik ini aku enggan memikirkan hal itu."
"Ya ya, kau memang tak butuh wanita."
"Memang, jangan samakan aku denganmu."
"Hei, kau tetap lelaki normal kan?"
"Kau kira aku gay!"
"Jika aku mengiramu begitu, aku sudah dari tadi menyingkir darimu, bodoh!" kata Sanji merasakan bahwa jarak berdiri mereka sangat dekat. Malam-malam hanya berdua di luar pula. "Kau sih aneh-aneh pakai mau menemaniku segala." Tapi, thanks ya, batinnya.
"Huh, aku tak mau jadi idiot sepertimu. Cinta itu hanya membuat pusing."
"Tapi, kau sudah tak terkekang dengan janjimu yang kau buat sendiri pada teman masa kecilmu itu lagi kan? Kau sudah berhasil memenuhinya kan? Apa salahnya membuka diri."
"Oi Oi, sekarang kau mau menasihatiku soal cinta?"
"Kenapa tidak, kan kau tak sebodoh Luffy untuk tidak tahu hal ini."
"Maaf saja, kalaupun ada, aku tak suka orang lain tahu, bahkan kau sekalipun."
"Memang seperti itulah dirimu, Marimo. Aku tidak kaget dan itu juga bukan kepentinganku untuk tahu siapa orangnya."
"Baguslah kalau kau paham," Zoro tersenyum sinis. Ia lalu melipat tangannya di atas pagar dek dan memandang ke arah laut.
Hening.
Sanji memperhatikan lamunan Zoro dan ia menangkap sesuatu. "Hei! Barusan kau sedang memikirkan dia."
"Apa-apaan pertanyaanmu itu?" jawab Zoro gusar langsung kembali menatap Sanji.
"Hmphf," kata Sanji menahan tawa. "Wajahmu mendadak lucu sekali, Marimo."
"APA?" Zoro tahu ia tak bisa melihat wajahnya sendiri tanpa cermin. Memangnya apa yang Sanji lihat? Apa yang terjadi dengan wajahnya? "Jangan mengerjaiku, Alis Pelintir!"
"Tidak."
"Kalau begitu hentikan senyuman penuh ledekan itu!" seru Zoro kembali mencengkeram kerah Sanji.
"Tidak bisa. Itu fakta yang aku lihat jelas di wajahmu," kata Sanji menunjuk.
"Jangan main-main denganku, Koki brengsek!" kali ini Zoro mendorong Sanji keras hingga Sanji terjatuh merebahkan diri di atas rumput.
"Huahahaha!" tawa Sanji justru semakin kencang.
"Kau...," Zoro mulai kehilangan kesabaran.
.
.
"Kalian ribut sekali..." Terdengar sebuah suara lembut yang membekukan gerakan Zoro dan tawa Sanji.
.
.
"Oh, hai-selamat malam, Robin-chan. Kau belum tidur?" tanya Sanji kaku celingukan. "Maaf atas keributan ini."
"How weird!" seru Nami ternyata berdiri di belakang Robin, memandang dua lelaki itu tampak sedang...
"Shit," seru Sanji menyadari. Ia lalu menekuk salah satu lututnya, menaruh telapak sepatunya ke dada Zoro, dan mendorongnya. "Berdiri kau, Marimo!"
Zoro pun segera menjauh dari Sanji, terlambat menyadari posisi anehnya yang menindih Sanji.
"Huh!' kata Nami sambil berbalik. "Merusak mood. Aku ingin kembali tidur."
Eh? Apa ia tadi keluar kamar bermaksud menyampaikan sesuatu? "Tu-tunggu, Nami-san!" seru Sanji bangkit berdiri mengejar Nami.
.
.
Tinggallah Zoro dan Robin berdua.
"Malam yang panjang, Kenshi-san?" kata Robin membuka pembicaraan.
"Yeah, begitulah," jawab Zoro seadanya. Ia memang tak pernah menimpali Robin dengan banyak kalimat.
"Kau tadi menemani Cook-san ya?"
"Sebenarnya aku malas, tapi..." kata Zoro menggaruk kepala hijaunya. "Entahlah, aku tak bisa diam melihatnya seperti itu."
"Kau ternyata sangat perhatian padanya ya?" kata Robin bisa menebak dan memahami pembicaraan kedua lelaki itu di luar. Ya, dengan cara mereka sendiri, pasti sama dengan yang kulakukan di dalam kabin untuk Nami barusan, pikirnya.
"Setelah dia, kini kau yang meledekku," kata Zoro menegakkan badan. "Cukup."
Meledek? Sepertinya pembicaraan mengarah ke hal lain. "Memangnya kenapa tadi Cook-san meledekmu? Kukira kalian sedang..."
"Sedang apa?" potong Zoro dengan pandangan menajam tak mau dikorek.
"Pembicaraan serius antar lelaki. Semacam itulah," lanjut Robin tetap santai dengan sikap Zoro.
"Agak mengesalkan memang. Tapi, Sanji tetaplah Sanji. Sampai akhir pun ia akan tetap seperti itu, Kishido-nya. Aku hanya ingin sedikit menyadarkannya agar ia melunak. Selanjutnya, terserah mereka. Kau sendiri pasti tadi juga telah..."
"Sssshh..." kata Robin mendekat. "Bagaimana kalau kita berhenti membahas pasangan lain? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Pertanyaan yang mana?"
"Kenapa saat terakhir yang kulihat Cook-san malah meledekmu?"
Zoro memutar bola matanya ke atas. "Eh, itu..."
"Akhirnya kita ketahuan ya?" kata Robin tersenyum jahil.
"Be-Belum kok," kata Zoro salah tingkah.
"Fufufu..," tawa Robin melihat ekspresi Zoro. Ekspresi yang sama saat ia pernah melihatnya di Water 7 dengan mengenakan Mama Shirt. Pasti itu tadi yang Sanji lihat, entah bagaimana obrolan kedua lelaki itu bisa mengarah ke sana. Dirinya sendiri bisa poker face di hadapan orang lain, tapi Zoro tidak pandai menyembunyikannya. Namun, memang tak ada yang bisa menyadarinya karena sikap Zoro yang sehari-harinya dingin dan cuek.
Zoro menghela napas, merasa tak bisa berkutik di hadapan wanita yang berusia 9 tahun lebih tua darinya itu. Ia lalu melingkarkan lengannya di pinggang Robin. "Kau tahu, Robin?"
"Hm?"
"Aku heran dengan orang-orang yang memperumit perasaan mereka sendiri."
"Kau memang tak cocok dengan cinta jenis itu."
"Tapi, dari dulu aku terus menahan diri. Saat menghadapi Sanji tadi, aku menyadari sesuatu."
"Apa itu?" tanya Robin.
"Mungkin sekarang saatnya aku melepas semua itu. Aku tidak bisa membiarkanmu tersakiti juga begitu lama bahwa aku tidak kalah egoisnya dengan Sanji." If you're a stupid Kishido to make your woman getting hurt, then I'm a stubborn Bushido to do the same thing too, batin Zoro mengulangi kalimat yang mereka saling lontarkan tadi. Bedanya, Robin lebih dewasa menyikapinya dan ia bisa terus sabar dengan hal ini. Tapi, sampai kapan batas kesabaran itu? Zoro sadar bahwa ini harus diakhiri.
"Jadi?" Robin masih menunggu.
Zoro menyibak rambut Robin yang menutupi telinganya dan berbisik di telinga Robin. "Menikahlah denganku, Robin."
Robin membalas dengan melingkarkan lengannya di bahu Zoro yang kekar, ia pun ikut merapat untuk membisikinya. "Ya, tentu."
.
.
...
.
.
Sementara itu...
"Nami-san," kata Sanji masih mengejar Nami. "Ini bukan seperti yang kau lihat. Aku dan Marimo..."
"Bodoh! Kau pikir aku percaya itu?" kata Nami terus berjalan dan telah sampai di kabin cewek. "Tapi, itu memang merusak mood-ku."
Sanji lalu menghalangi pintunya.
"Mau apa kau?" Nami tak dapat masuk.
"Aku mau mendengarmu bicara."
"Siapa yang mau bicara?"
Sanji terdiam dan setelah lama menunggu, tak ada satu pun kalimat yang terlontar dari mulut Nami.
"Ah, iya. Kau benar," kata Sanji kemudian. "Maaf menganggumu, Nami-san. Istirahatlah di dalam."
Sanji lalu menyingkir dari pintu dan mempersilakan Nami. Nami pun membuka gagangnya, ia belum sempat masuk saat mendengar suara lirihnya...
"Selamat tinggal, Nami-san. Kudoakan kau mendapat pria yang lebih baik."
Begitulah, Sanji pergi. Mungkin hanya kembali ke dek rumput untuk melanjutkan obrolannya dengan Zoro dan sekaligus bisa menggoda Robin yang tak ikut kembali bersamanya ke kamar. Mungkin juga ia lelah dan masuk ke kabin cowok untuk tidur. Tapi, hati Nami benar-benar terpukul mendengar kalimat itu. Kenapa, tanyanya pada diri sendiri. Bukankah tadi siang aku sudah menolaknya? Nami lalu menoleh ke belakang. Tunggu, Sanji-kun. Jangan pergi. Godai aku seperti biasa. Kau tidak menyerah hanya karena hal ini kan? Hei! Atau hanya segini nyalimu untuk mendapatkanku?
Nami lantas teringat kalimat Robin. "Mungkin kau berpikir, apa yang kau lakukan mirip dengan saat aku menawarkan diriku pada CP9 dengan dalih kebaikan kalian. Tapi, ini tidak sama. Aku benar-benar sudah tak menengok ke belakang lagi dan tidak menyesal dengan keputusan yg kuambil karena kukira kalian pun tak keberatan melepaskanku yang hanya sebentar menjadi bagian kalian, nyatanya Luffy tetap datang, menembak bendera Pemerintah Dunia, dan itulah titik bailk yang mengubah pendirianku. Sedangkan, Sanji akan berbuat apa saja demi kamu. Bahkan jika kamu memintanya menghilang sekalipun, ia akan lakukan." Bukankah kalimat itu sempat membuatnya berpikir ulang dan mencari Sanji di luar barusan? Kenapa ia berbohong lagi setelah bertemu dengannya?
Ya, ini tidak sama dengan kisah Robin. Kami sama-sama berbohong saat itu. Tapi Robin sama sekali tak kepikiran untuk kembali sementara Luffy bersikeras mengejarnya sehingga meluluhkan tembok esnya. Sedangkan aku barusan saja berharap Sanji tak berubah dan tetap kekeuh ingin mendapatkanku, kenyataannya ia memilih pergi.
"Kau membutuhkan dia, Nami," kata Robin di kepalanya. "Tanpa kau sadari."
Air mata Nami menetes. Belum pernah terbayangkan dalam benak Nami sama sekali bahwa Sanji akan berkata selamat tinggal pada dirinya. Ini tidak seperti jika aku yang memilih meninggalkan dirinya. Bukankah ini sudah sama seperti aku kehilangannya? Kehilangan... Yang bahkan tak ingin kualami untuk kedua kali.
"Kau selalu ingin dia di dekatmu," kata Robin. "Meski itu hanya untuk menyuruhnya pergi, memukulnya, memakinya, memanfaatkannya, membawakanmu minuman, mendengar segala kegombalan dan tingkah anehnya yang sebenarnya bisa membuatmu muak; tapi itu semua sudah lebih dari cukup."
I hate you, Sanji-kun! But I never want you more than I do right now. Nami pun lantas melangkahkan kakinya ke arah sebaliknya.
Sanji sendiri tengah merokok di kebun jeruk Nami, ia tidak kembali ke tempat Zoro, tidak juga ingin tidur. Sudah tidak ada lagi acara berkebun bersama, pikirnya. Lalu, Sanji menengadah menatap langit. Ia tahu kegalauan Nami, tahu apa yang dipermasalahkan Zoro sejak tadi siang. Tapi aku tak bisa. Meski tubuh ini harus mati sekalipun, aku tak bisa diam saja. Menjauh darimu pun, aku tak bisa berhenti memikirkan dirimu. Aku tak bisa membunuh perasaan yang berkembang sejak pertemuan pertama kita di Baratie ini begitu saja. Tapi aku tetap harus pergi kan? Agar kau tak perlu mencemaskanku lagi. Agar kau tak perlu mengomeliku lagi. Agar kau tak perlu melihatku terluka karena kebodohanku sendiri. Agar kau...
"SANJI-KUN!"
Sanji menoleh ke arah suara yang membuyarkan lamunannya itu, "Nami-san? Ke-Kenapa?"
Runtuhkah tembok angkuhmu, Nami, perintahnya pada diri sendiri. Ya, mengapa cinta harus dibuat rumit? Kau ada bersamanya, dia ada bersamamu. Dia melindungimu, kau pun melindunginya. Lawan segala musuh bersama. Bagi kesulitan bersama. Sesekali dengarkan apa yang ia butuh dan inginkan. Jangan biarkan ia sendirian memutuskan seenaknya.
"Apa lamaranmu tadi siang masih berlaku?" tanya Nami.
"Kapan pun aku akan mengatakannya lagi dan lagi sampai kau menjawab ya."
"Kukira kau menyerah."
"Tidak, hanya saja..." Sanji tak meneruskan kalimatnya. Aku takut menyakitimu lagi.
Nami bisa mengerti apa yang Sanji pikirkan dari pandangan matanya. Itu salahnya. "I'm sorry..."
"No," kata Sanji. "Akulah yang seharusnya minta maaf."
"Tidak, akulah yang selalu menggantungkan harapanmu."
"Tidak, akulah yang masih suka melirik wanita lain."
"Aku yang terlalu memikirkan yang tidak-tidak."
"Aku yang tak pernah memahami perasaanmu."
"Kalau begitu, jangan ulangi," pinta Nami akhirnya mengakhiri debat itu. Baiklah, kita sama-sama egois.
"Kau memberiku kesempatan, Nami-san?"
Nami tersenyum ramah kali ini. "I need you, Sanji-kun. I need you here by my side. Forever..."
"So, stay with me, Nami-san. I promise I will live...," Sanji menghembuskan napas rokoknya sebelum ia membuang puntungnya karena memang sudah habis. "...cause you're the reason I always keep my life... Until now."
Nami lalu meraih bahu sang Koki, mendekatkan bibirnya, dan menciumnya lembut penuh perasaan. "I love you," katanya.
"I love you, too," balas Sanji.
.
.
...
.
.
Di bawah, Zoro dan Robin tersenyum lega.
"Apa wanita selalu suka mencuri dengar?" tanya Zoro melihat Robin tampak menumbuhkan telinga atau matanya entah dimana dan tersenyum-senyum sendiri, membuatnya ikut tersenyum juga, merasa tahu apa yang membuat Robin tersenyum kali ini. Sebenarnya ia tak mau mengurusi mereka lagi dan membiarkan saja wanita di depannya itu menguping.
"Tidak selalu," jawab Robin. "Tapi kadang itu bisa jadi bahan pembicaraan untuk bergosip."
Zoro pun mengangkat alis. "Jangan-jangan... Kalian menjadikanku dan Sanji sebagai bahan gosip?"
Robin hanya tertawa kecil. "It's a women secret."
"Dasar wanita," komentar Zoro pedas. Ia tahu tak akan bisa memahami sisi itu. "Baiklah, sebaiknya sekarang kita kembali ke kamar masing-masing."
"Mereka yang di atas tak akan kembali ke kamar. Kau boleh pakai ranjangku," kata Robin memberi sinyal. Bukankah tadi Zoro sudah melamarnya?
"Heh?" Zoro kembali mengangkat alisnya.
"Kutebak, mereka akan ke dapur setelah ini karena berpikir tak ingin menganggu istirahat malamku."
Zoro menggelengkan kepalanya. "Jangan katakan besok pagi kita akan makan di meja bekas..."
"Tentu saja mereka akan melakukannya di lantai kecuali mereka sebodoh itu." Ah, tapi tengah dimabuk cinta bisa membuat orang menjadi lebih bodoh dan melupakan segalanya sih, pikir Robin geli. "Atau, ada banyak tempat kosong di sini yang bisa mereka pilih."
Tempat lain? Zoro tiba-tiba tercetus sesuatu. "Kita ke gym!" sarannya kemudian.
Menara pengawas yang jarang terjamah, tempat Zoro sehari-hari menghabiskan waktunya, basecamp-nya. Ide yang sangat bagus, batin Robin sambil tersenyum.
Bulan purnama bersinar cerah di atas Sunny. Semua penghuni kapal pun menghabiskan malam dengan cara masing-masing. Bercinta? Hei, malam tentu tidak meninggalkan para kru Topi Jerami lainnya yang tenang tidur di dalam kabin mereka begitu saja bukan? Masih ada aktivitas lain yang bisa mereka lakukan: Bermimpi, entah kejutan apa yang akan mereka temukan besok pagi.
The End
R&R, please. Yang jelas, jangan minta "Bikin sequel adegan lemon di gym dan dapurnya dong..." Aku bisa menebak pikiran mesum kalian hehehe... Untuk SanNa udah ada lemon-nya sendiri, untuk ZorRo kapan-kapan az ya? Oya, untuk Zorobin fans, maaf klo porsi mereka kurang banyak. Aku udah berusaha imbang tapi ga tau nih, tetep az tangan gatel untuk lebih nyeritain pair favorit. Seingetku, Nami sama sekali ga pernah minta dilindungi Sanji deh, bener kan ya?
