Authors Note: Aku berharap kalian menyukai karyaku yang kedua ini. Untuk sementara So Quiet Strange harus aku Hiatus dulu. Aku harus berpikir ulang untuk melanjutkannya . Maaf yang sedang menunggu kelanjutannya, aku benar-benar minta maaf. Aku bener-bener berharap kalian terhibur dengan karyaku yang ini…!
Warning: Affair between man… I suggest don't read if u don't like.
Disclaimer: Not own,Huff…
…
Chapter 3- Avada Kedavra!
Suara kaca terbentur dan patukan di jendela membuat Harry kesal. Ia bangun dari kasurnya dengan kasar, menggapai kacamatanya cepat dan berlari membuka jendela.
"Oh- shit. You fucking owl !" Harry mengumpat dan mengambil surat itu cepat. Ia sedang tidak mood untuk surat di tengah malam yang menggigil.
Siapa yang mengirim surat sialan ini tengah malam?. Dia pikir siapa dia!
Harry mendengus dan membuka dengan kasar amplopnya.
"Oh- siapa lagi kalau bukan Mr. Crouch !. God. Sekarang menuju ke kementerian? Penting?. Bagus!" Harry meremas surat itu dan berlari mengambil jubahnya.
"Kementerian Sihir !"
Harry tiba di Atrium Kementerian Sihir dan berlari menuju lantai 5. Tak disangka, banyak pegawai di sana berlalu lalang. Dengan penasaran, Harry berlari menuju kantornya.
"Mr. Crouch !"
"Oh- Mr. Potter, aku senang kau datang cepat. Sebelumnya maafkan aku membangunkanmu dari mimpi indah dan kasur yang hangat."
Bagus, kenapa dia membuatku tambah kesal dengan mengingatkan pada kasur hangat dirumah?
Harry menggeleng pelan menyadari keegoisannya, lalu memandang Crouch dengan serius. "Apa yang terjadi,Mr. Crouch?"
"Mr. Potter , kita ada masalah besar. Muggle menyerang kantor kita di Irlandia. Masalah yang terjadi akan dijelaskan oleh Mr. Terry Boot. Aku butuh anda untuk menenangkan mereka, kau adalah diplomat terbaik inggris." Mr. Crouch menatap Harry sambil meremas tangannya.
Harry tertegun sebentar dan mengangguk pelan.
"Aku yakin, Mr Boot sekarang sedang kerepotan. Kita harus cepat."
Mr Crouch tersenyum tipis dan berjalan disamping Harry, " Terimakasih, Mr Potter. Kita akan lewat jaringan Floo, mari."
Harry dan Mr Crouch sampai disana dalam hitungan detik. Harry berlari menuju kantor utama dan mendapati Mr Boot sedang duduk di kursinya.
"Potter! Oh akhirnya kau datang!". Pria itu memeluk Harry dan meremas tangannya.
"Hei, Boot. Aku tak pernah membayangkan bertemu denganmu lagi dengan kondisi seperti ini." Harry nyengir dan menepuk pundak teman seangkatannya di Hogwart lalu matanya terbelalak melihat luka di bibir Boot.
"Apa mereka melakukan ini padamu?"
"Well- kecerdasan Ravenclaw tak cukup untuk menenangkan mereka. Kau tahu, mereka memukulku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Kuharap pemakaian sihir boleh untuk membungkam mereka, sementara." Boot mendengus kesal sambil menyentuh bibirnya.
"Kalau begitu caranya, kita tak dibutuhkan, Boot. Oke, apa pemicu mereka datang kesini dan berunjuk rasa?"
"Kasus kecelakaan kereta api yang menewaskan 56 warga Irlandia Utara yang penyebabnya masih belum ditemukan oleh kepolisian Irlandia. Terjadi tepat jam 12 malam hari ini. Mereka para pimpinan kepolisian yang mengetahui tentang adanya dunia sihir datang dan menyalahkan kita. Kasusnya juga sangat aneh, Potter. Tapi aku tak bisa meyakinkan mereka bahwa belum tentu pelakunya adalah penyihir."
"Baiklah, mereka dimana?"
"Ada di ruang tamu. Mereka semua orang berjabatan tinggi dan berpendidikan, kau harus benar-benar diplomatik Potter."
"Well- kita diplomat, Boot."
Harry tersenyum dan melenggang menuju ruang tamu, saat Harry muncul di ruang tamu, mereka langsung mendatanginya dan seseorang menarik kerah Harry dengan kasar.
"Kami tidak butuh penjelasan omong kosong, yang kami butuhkan adalah pelakunya!"
Harry menelan ludah pelan dan menatap pria kekar dihadapannya yang melotot padanya.
Berpendidikan?, my arse.
"Kenapa kita tidak duduk dengan nyaman dan biarkan saya memperkenalkan diri. Kalau anda tidak keberatan?" Harry berkata dengan tenang.
Pria kekar itu tampak marah, ia kelihatan hampir melempar Harry sebelum suara seseorang menenangkannya.
"Mister Vaisey, kami disini untuk mengetahui penyebab kecelakaan itu. Tolong anda jangan main kasar." Pria berumur yang terlihat bersahaja bangun dari duduknya dan mendatangi Harry lalu melepas tangan pria kekar itu.
"Terimakasih atas pengertiannya, saya mohon anda sekalian tidak buru-buru. Tolong anda duduk dan biarkan saya mengerti apa yang terjadi. Saya Harry Potter." Harry tersenyum lembut dan berjabat tangan dengan pria bersahaja dihadapannya.
"Wayne Hopkins. Mr. Potter, kami benar-benar menyerah dengan kasus ini, kecelakaan yang benar-benar tak biasa dan weird."
Harry mengernyitkan dahinya , lalu ia mempersilahkan mereka duduk kembali.
"Ceritakan yang terjadi, saya yakin kalian menyembunyikan kenyataan ini dari publik, bukan?"
"Ya, Mr. Potter. Berita kami karang, tapi hanya bisa menahan berita ini agar tidak tersebar. Para saksi sudah kami kumpulkan."
Harry menghela nafas lalu balik menatap Mr. Hopkins.
"Biarkan saya tahu detail kecelakaannya."
…
Draco Malfoy berlari cepat menuju lantai 5, saat itu jam menunjukkan pukul 01.00. Ia mencari pria yang telah mengganggu tidur nyenyaknya. Draco mendengus saat suara seseorang yang tidak asing meneriakkan namanya.
"Malfoy! Disini !"
"Potter-". Draco mendatangi Harry dengan penasaran melihat ekspresi Harry yang tersenyum dengan mata bersinar.
Si Potter ini sempat-sempatnya berbahagia di situasi runyam begini?
"Oh- terimakasih kau mau datang. Mari duduk." Harry mempersilahkan Draco duduk dan mulai berkata.
"Aku butuh bantuanmu, ini menyangkut penyalahgunaan sihir yang dilakukan di dunia muggle."
Draco mengernyitkan dahinya, " Potter, apa yang terjadi?"
"Ada kecelakaan kereta api di Irlandia Utara, aku yakin berdasarkan bukti dan penjelasan para saksi. Kereta itu di kuasai sihir. "
"Sihir- "
"Dan aku yakin, pelakunya adalah- Pelahap Maut yang masih hidup."
Draco menatap tajam Harry, lalu ia menggeleng pelan, " Jangan mulai, Potter. Aku tahu salah satu dari mereka masih ada yang hidup. Tapi aku tak bisa menuduh seperti itu tanpa melihat kerusakannya."
"kalau begitu ikut aku, kita bersama melihat kecelakaan dan bangkai kereta." Harry bangun lalu menarik tangan Draco erat , menyeretnya bangun.
"Potter! "
"Diam, Malfoy. Kita akan ber-apparate. Pegang lenganku."
Draco mendengus dan dengan enggan menyentuh lengan Harry. Beberapa detik perjalanan tidak menyenangkan , mereka tiba di stasiun yang penuh dengan polisi dan police line.
"Mr. Potter! Saya harap anda membawa orang yang tepat." Mr. Hopkins berlari mendatangi Harry dan menatap Draco.
"Kenalkan Mr. Hopkins, dia adalah yang terbaik di Departemen Bencana dan Kecelakaan Sihir." Draco menawarkan tangannya yang langsung disambut oleh Hopkins.
"Draco Malfoy"
"Wayne Hopkins, mari Mr. Malfoy dan Mr. Potter, saya antar anda sekalian kedalam." Hopkins berjalan duluan sambil mengarahkan anak buahnya. Draco menoleh sebentar pada Harry yang tersenyum padanya .
"Mari Mr. Malfoy, saya antar anda kedalam." Harry mengulang perkataan Hopkins sambil tersenyum nyengir dan mempersilahkan tangannya .
"Potter-". Draco melotot kesal pada Harry yang dibalas pria itu dengan senyuman.
"Malfoy-" Harry tiba-tiba kembali pada ekspresinya yang biasa dan menatap tajam pria pirang dihadapannya. Wajah Harry yang mendekat membuat Draco terkejut, lalu Harry tersenyum dan membalik badannya.
Oh- kupikir Potter hendak menciumku…
Draco menggeleng pelan dan mengikuti Harry yang berjalan didepannya.
Mereka berdua sudah tiba di TKP. Draco terkejut melihat apa yang terjadi, ia mengeluarkan tongkatnya dengan gemetar dan mulai merasakan aura kejahatan yang tersisa.
"Bagaimana, Malfoy?"
"Shit- tidak mungkin-"
Harry mendekatkan wajahnya pada Draco, mengamatinya.
"Potter- ini aura sihir Pelahap Maut. Kau benar- monster itu masih hidup." Draco berkata sambil meremas lengannya erat, berharap bisa menghentikan gemetar ditubuhnya.
Harry yang mengamati Draco terkejut dengan perubahan sikapnya, ia memegang pundak Draco dan menggeser posisinya hingga pandangan mereka bertemu.
"Malfoy- lihat aku. Kau baik-baik, saja?"
Draco mengangkat kepalanya dan menatap Harry sinis
"Baik-baik saja?, aku merasa ingin melemparmu kejurang. Of course, im not bloody right , Potter!" Draco melotot pada Harry dan berbalik hendak pergi.
"Malfoy!, hei, tunggu kau mau kemana?" Harry mengejar Draco dan menarik lengannya .
"Lepaskan aku, Potter. Aku mau pergi." Draco mendesih marah.
"Tidak, kau tetap harus disini dan menyelesaikan kasus ini." Harry menatap Draco tajam, " Kau tidak sendiri, Malfoy. Aku akan membantumu."
Draco balik menatap Harry tajam, " Aku tak tahu apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan kabur. Aku mau ber-apparate dan memberitahu departemen ku, bodoh."
Harry melepas lengan Draco dengan malu, "Maaf- kupikir kau-"
"Oh- shut up, Potter. Terimakasih kau mengkhawatirkanku, tapi kau lebih baik mendatangi Hopkins dan menjelaskan padanya, sekarang." Draco mendesih dan menghilang dalam hitungan detik.
Bagus, entah kenapa aku terlihat memalukan.
Harry mendatangi Hopkins dan menceritakan perihal kecelakaan yang terjadi. Tapi, Harry tidak menjelaskan siapa Pelahap Maut itu. Ia segera kembali ke Kementerian Sihir, menyusul Draco Malfoy.
"Mr. Malfoy?, barusan saja ia pergi. Ia sudah mengutus beberapa anggota Auror untuk berjaga di sekitar london. Ia terlihat tegang. Kurasa dalam situasi seperti ini, pantas ia sangat tegang. Tapi ia tak berhenti memegangi lengannya."
Harry merasa jantungnya berhenti.
"Kemana ia pergi?"
"Saya tak tahu, yang kutahu ia berkata tentang Ayah dan Ibunya, lalu segera pergi."
Oh tidak-
"Terimakasih, John."
Harry tanpa berpikir panjang langsung ber-apparate menuju Malfoy Manor. Ia tiba di taman dan terbelalak kaget melihat kerusakan yang terjadi. Harry berlari kencang masuk kedalam rumah dan melihat Lucius dan Narcissa tergeletak tak berdaya serta berlumuran darah di lantai. Harry mendatangi mereka dan berbisik
"Mr Malfoy?, anda masih bisa mendengar saya?"
Lucius membuka matanya perlahan , sambil menahan sakit ia memaksa dirinya berbicara.
"Tolong, Po-tter. Selamatkan istri dan putraku-"
"Saya akan menyelamatkan kalian bertiga. Pegang tangan saya, kita akan ber-apparate menuju St Mungo. Nyonya Malfoy, anda akan baik-baik saja!".
Narcissa meneteskan airmata dan mengangguk pada Harry, ia dengan gemetar dan menahan sakit memegang lengan Harry. Tanpa menunggu sedetik pun, Harry ber-apparate menuju St Mungo.
"Nyonya Pomfrey!"
Wanita yang lembut itu terbelalak kaget melihat Harry membawa keluarga Malfoy yang terluka parah.
"Oh, Harry!. Cepat Healer!, bawa Mr. Malfoy dan Nyonya Malfoy kesini!" Nyonya Pomfrey yang terkejut dengan kedatangan Harry segera mengambil alih tugas. Ia mengecek detak jantung, tekanan darah dan luka ditubuh Lucius dan Narcissa kemudian menatap Harry yang gelisah disebelahnya.
"Oh, demi Tuhan. Kau telah menyelamatkan nyawa mereka, Harry!.Sedetik pun kau terlambat membawa mereka kesini, mereka takkan tertolong."
Harry menghela nafas lega dan mengangguk pelan, lalu segera mundur hendak ber-apparate.
"Aku harus menolong Draco, Nyonya Pomfrey. Tolong kerahkan seluruh tenaga anda untuk menyelamatkan mereka." Harry tersenyum tipis kemudian menghilang.
…
Draco mengedipkan matanya pelan, ia merasa tubuhnya remuk sekali. Darah yang mengucur dipelipis matanya menganggu pandangannya. Ia menatap sekeliling dengan pelan dan menyadari bahwa ia sedang di penjara bawah tanah Malfoy Manor.
"Oh, kepalaku-"
"Hei, pemalas. Kau akhirnya bangun juga."
Draco mengangkat kepalanya pelan, mengindahkan rasa sakit bagai palu godam memukul kepalanya berkali-kali itu.
"Ka-kau-"
" Lemah! Pecundang!, tak kusangka kalian keluarga pengkhianat bisa lolos dari penjara Azkaban!. Setelah aku membunuh kalian, aku akan hidup dengan tenang. Dendam ini takkan terbalaskan sebelum melihat kalian mati ditanganku!"
Draco memicingkan matanya, ia sama sekali tak mengenal orang yang ada dihadapannya ini.
"Penasaran, Draco?. Aku Jugson. Tentu saja kau tak mengenaliku, karena aku mengubah wajahku."
"Jugson- si penjilat itu-" Belum selesai Draco berbicara, ia merasa mantera Crucio mengenai tubuhnya. Draco berteriak histeris merasakan sakit yang bagai membakar tubuhnya. Jugson tertawa keras melihat pria berambut pirang dihadapannya berteriak kesakitan.
"Rasakan, pecundang! Rasakan!"
"Tidak-"
Draco menangis, ia menangis saat mengetahui ajal segera menjemput keluarganya.
"Oh-Oh, Draco sayang. Kalau kau menangis seperti itu aku semakin bersemangat untuk menyiksamu." Jugson tertawa pelan dan mengacungkan tongkatnya tepat di jantung Draco.
"Tak ada gunanya membiarkan keluarga pengkhianat seperti kalian hidup."
Draco sekali lagi mendongakkan kepalanya, ia memandang pria kejam dihadapannya dengan tersenyum kesakitan.
"La-lakukan, penjilat. Bunuh kami."
Jugson tersenyum penuh kemenangan , ia mengacungkan tongkatnya dan berteriak.
"Avada Kedavra!"
…
*Hwaah-Apa yang akan terjadi selanjutnya?*
Sedikit ada drama laga begini,,, semoga kalian menyukainya.
Please review oke!
Love u all !
