Authors Note: Haha, maaf ya semua! Ceritanya bersambung disaat yang lagi seru2nya. :P
Sekarang aku lagi sibuk ngapalin Kanji loh! *yang bujubuneng njelimetnya*. Huhu, kenapa harus Kanji? *Dikeplak dosen*
WARNING: Contain affair between Handsome Man. Don't Like? Don't Read!
Disclaimer: Not Own HP *sigh sob*
Enjoy it !
…
Chapter 4- Im afraid fall to you.
Harry berlari menuju ruang tengah, ia mengamati ruangan dengan seksama dan detail. Merasakan tak ada aura kuat sihir Draco, ia berlari lagi menyusuri tiap koridor.
Tak ada apapun. Tak ada siapapun.
"Oh, tuhan. Tolong bantu aku menemukan Draco!". Harry hampir berteriak tetapi ia masih bisa menahannya. Ia mencoba mengatur detak jantungnya dan berusaha tenang.
Pasti Draco masih ada disini , aku bisa merasakannya samar. Tapi dimana ia? Tak ada waktu lagi Harry, berpikir ! Berpikir!
Harry memejamkan matanya lalu ia ingat pertempurannya dahulu di Malfoy Manor melawan Voldemort dan Pelahap Maut. Harry dkk dikurung di tempat gelap dan lembab, di suatu bagian tersembunyi di Malfoy Manor yang indah ini.
Penjara Bawah Tanah!
Harry berlari tanpa suara, ia menuruni tangga dengan hati-hati. Saat Harry memelankan langkahnya, ia mendengar suara Draco berteriak histeris kesakitan.
Draco-
"Rasakan, pecundang! Rasakan!"
Draco!
"Tidak-"
Draco , jangan menangis !
"Oh-Oh, Draco sayang. Kalau kau menangis seperti itu aku semakin bersemangat untuk menyiksamu."
Harry merasakan dadanya tersayat mendengar jerit kesakitan Draco, ia meremas tongkatnya dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, ia merasa urat di tubuhnya menegang.
Tak ada seorangpun yang boleh melukai Draco!
Harry muncul dari balik tembok, Draco mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihatnya. Harry terbelalak kaget melihat luka yang diderita Draco dan spontan mengacungkan tongkatnya. Tangannya bergetar karena amarah.
Pelahap Maut keparat!
"La-lakukan, penjilat. Bunuh kami." Draco tersenyum kesakitan sambil mencoba menyadarkan khayalannya tentang Harry Potter yang datang menyelamatkannya.
Jugson tersenyum penuh kemenangan, ia mengacungkan tongkatnya dan berteriak.
"Avada –"
"Avada Kedavra!"
Harry lebih dahulu melempar Kutukan Tak Termaafkan pada Jugson, ia tidak menunggu pria kejam itu untuk menyadari nyawanya tercabut dengan menyedihkan. Sekelebat cahaya hijau menyilaukan ruangan bawah tanah itu.
Harry menghampiri tubuh tak bernyawa milik Pelahap Maut itu, ia mengatur nafasnya sambil memandang mayat dihadapannya. Matanya nyalang karena amarah.
Aku membunuh lagi- tapi si brengsek ini pantas mati-
Lalu terdengar suara isakan dari sudut penjara. Harry menoleh dengan cepat pada pria berambut pirang itu, ia mengayunkan tongkatnya, melepas rantai yang mengikat Draco dengan mantera.
"Potter-"
"Draco- semuanya baik-baik saja. Jangan menangis –"
Draco memegang erat lengan Harry, mencoba bicara disela isakannya.
"Tidak, Potter- orangtuaku? Dimana mereka? Apa mereka- mereka…Oh- kurasa aku masih berhalusinasi." Draco memandang Harry sambil menangis, ia meremas lengan Harry erat, berharap bahwa pria dihadapannya adalah asli bukan khayalannya.
"Draco, mereka akan baik-baik saja. Jangan lepaskan peganganmu. Kita akan menuju St. Mungo." Harry mengelus pipi Draco yang telah penuh dengan air mata dan darah, lalu memeluknya lembut. Draco berhenti menangis saat merasakan tubuh Harry yang gemetar.
"Kau selamat, Draco-. Kau selamat".
Ya, aku selamat Harry-
…
St. Mungo
Madam Pomfrey tersenyum senang saat melihat Draco membuka matanya perlahan, lalu ia mengelus tangan Draco lembut.
"Oh, Mr Malfoy. Akhirnya kau bangun, kami sangat khawatir."
Draco tersenyum lemah memandang wanita yang telah merawatnya itu, lalu pandangannya berubah khawatir saat mengingat orangtuanya.
"Ayah dan Ibuku? Dimana mereka! ". Draco hampir berteriak dan meronta saat sebuah tangan memeluknya dari samping menghentikan badannya yang gemetar.
"Oh, Draco! Putraku! Kami selamat! Kau juga selamat!"
Narcissa menangis terharu dan memeluk Draco erat hingga ia mengerang kesakitan.
"Mom!"
"Ma-maaf. Ibu benar-benar khawatir . Kau tertidur selama 3 minggu, nak!. Kami benar-benar takut kehilanganmu!. Oh, terimakasih tuhan!" Narcissa kembali memeluk putranya dengan erat, Lucius yang berdiri disamping istrinya hanya diam dan mengelus rambut Draco.
Oh,tidak. Drama dimulai-
Draco tersenyum getir , ia menahan air matanya agar tidak menetes lagi. Cukuplah ia menangis memalukan didepan Harry Potter. Lalu, Draco terbelalak sesaat mengingat penyelamat hidupnya.
"Potter?"
Narcissa melepas pelukan Draco dengan kaget, ia memandang putranya dengan pelan.
"Dimana Potter, Mom?". Draco merasakan dadanya berdegup, ia benar-benar lupa dengan jasa Harry terhadap hidupnya.
Narcissa dan Lucius saling melempar pandangan, kemudian mereka tersenyum samar pada Draco.
"Potter- ia baik-baik saja, kan?. Kenapa kalian hanya diam saja? ". Draco merasa nada bicaranya meninggi, ia benar-benar ingin tahu bagaimana keadaan Harry.
"Tenang, Nak. Ia –"
"Jawab, Ayah! Dimana, Potter?. Aku tak melihatnya disini!". Draco berteriak dan mencengkram lengan ibunya.
"Draco-putraku-"
"Oh- kau akhirnya bangun juga. Dasar si pemalas."
Draco mendongak dan membelalakkan matanya, Harry berdiri didepan pintu dan tersenyum. Sambil bersenandung, ia masuk dan menghampiri Draco.
"Hai, Malfoy."
"Potter-"
Draco merasa ingin meloncat dan memeluk Harry, tapi ia urungkan mengingat banyak orang disekitarnya yang sedang tersenyum melihat ekspresi Draco.
Narcissa bangun dari kasur Draco dan memegang lengan suaminya, ia tersenyum pada Harry dan mencium pelan pipinya.
"Terimakasih, Harry. kau menyelamatkan keluarga kami lagi. Aku tak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikan hatimu." Narcissa memandang lembut Harry.
"Nyonya Malfoy-"
"Panggil, Narcissa saja."
Harry tersenyum malu, kemudian mengangguk.
"Tidak, tak ada yang perlu dibalas. Semuanya berjalan seharusnya. Ini bagian dari tugas saya." Harry tersenyum pada kedua Malfoy senior.
"Aku benar-benar menghormati perhatianmu terhadap keluarga kami, Potter. Jika ada yang kau butuhkan, kami siap membantumu." Lucius tersenyum tipis, senyum yang tak pernah dilihatkannya pada siapapun-kecuali istrinya-.
Draco memandang adegan balas budi dihadapannya dengan malas, kemudian ia berdehem meminta perhatian.
Narcissa menoleh sebentar pada putranya, lalu tersenyum pada Lucius.
"Oh, aku baru ingat , Draco. Ada hal penting yang harus kami urus. Maaf, tapi kami harus meninggalkanmu sebentar." Draco memandang mereka dengan penasaran, tapi kemudian ia menyerah dan hanya mengangguk.
"Sampai nanti, Harry-"
Harry mengangguk membalas senyuman Narcissa, ia kemudian menoleh pada Draco lalu duduk disebelahnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Buruk, tidur selama 3 minggu membuat punggungku lemas." Draco mendengus , membuat Harry tertawa kecil.
"Well- kau memang pemalas, Malfoy. Tak ada yang berubah dari dirimu." Harry memandang pria dihadapannya sambil tersenyum senang.
Draco diam memandang Harry, lalu ia ikut tersenyum.
" Diam, kau Potter."
"Tidak, kau berutang banyak padaku Malfoy. Aku yang harusnya menyuruhmu diam." Harry berdiri , ia mendekati ranjang Draco dan memegang tangannya.
"Potter- tak bisakah kau menjaga tanganmu?" Draco mendengus, tetapi tidak mencoba melepas pegangan tangan Harry.
"Diam, Malfoy." Harry tersenyum lembut, ia memijat tangan Draco pelan membuat pria dihadapannya terlonjak kaget.
Draco merasakan gelombang listrik mengalir dari tangannya, lalu ia bergerak gelisah.
"Berhenti, Potter!. Kau membuatku merinding-". Belum selesai Draco berbicara, Harry membungkam mulut Draco dengan ciumannya. Draco membelalakkan matanya kaget, tapi ia lebih kaget lagi saat tanpa sadar ia menikmati ciuman lembut Harry. Ia memejamkan matanya dan merasakan lembut bibir pria penyelamat hidupnya.
Beberapa detik kemudian Harry melepas ciuman mereka, membuat Draco membuka matanya dengan penasaran.
"Potter-"
"Draco-"
Pria pirang itu mengangkat alisnya mendengar Harry memanggil nama depannya.
"Mm, kuharap kau tidak keberatan aku memanggilmu 'Draco'." Harry tersenyum getir. Draco memandangnya dengan serius , lalu tersenyum nyengir. Yah, senyum nyengir.
"Potter, bodoh."
Harry mengangkat satu alisnya dan cemberut, " Draco, si pemalas."
"Kau, si bodoh mesum." Draco nyengir melihat ekspresi Harry yang tersinggung.
"Aku tidak mesum, Draco. Aku hanya mencoba jujur padamu."
Draco menyeringai, lalu tiba-tiba kembali diam. Ia mengangkat selimutnya tinggi hingga menutup mulutnya.
"Pulang sana, Potter. Aku tak ingin melihatmu lagi."
Harry terbelalak kaget, ia hendak protes dengan perubahan mood Draco yang bagai angin. Sebelum suara seseorang menghentikannya.
"Draco~, bagaimana keadaanmu sayang?". Pansy Parkinson menyeruak diantara mereka. Membuat Harry hampir terjungkal jatuh.
Pig face-
"Baik, tak terlalu baik mungkin."
"Oh, Draco sayang! Setelah mendengar beritamu aku langsung balik dari Paris. Nott sebentar lagi akan menyusul kesini. Blaise dan yang lain juga akan menjengukmu. Untunglah kau selamat!" Pansy tersenyum sambil mengelus-elus tangan Draco yang membuat Harry berdehem.
Pansy menaikkan satu alisnya melihat Harry yang berdiri disampingnya dengan wajah masam.
"Apa, Potter?"
Harry mendengus melihat Pansy melotot padanya, "Maaf mengganggu reuni kalian yang mengharukan. Aku pamit dulu, Draco." Harry berbalik cepat, ia benar-benar tak tahan berada seruangan dengan wanita yang super cerewet itu. Cukuplah Ginny dan Hermione sebagai wanita dalam hidupnya yang boleh cerewet dihadapannya.
Draco terlonjak kaget mendengar Harry berpamitan, ia memanggil Harry dengan gugup.
"Harry-"
Pansy dan Harry menoleh dengan kaget serta penasaran, membuat Draco malu.
"Umh, terimakasih atas semuanya."
Harry hanya mengangguk dan tersenyum , lalu berbalik meninggalkan kamar.
Pansy Parkinson melongo setelah menatap kepergian Harry, lalu dengan cepat balik memandang Draco yang sedang menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kau si pria nakal!. Kutebak si Potter itu sedang tergila-gila padamu!" Pansy membuka selimut Draco dengan paksa, ia tak sabar membombardir pria pirang dihadapannya dengan beribu-ribu pertanyaan.
Draco nyengir, ia menepis tangan Pansy yang mencoba menggelitiknya.
"Diam, kau Pans!. Tak ada hubungannya denganmu!"
"Draco~, dasar kau pria nakal." Pansy tersenyum menggodanya membuat Draco melotot.
"Berhenti memanggilku begitu, dasar kau cerewet!"
Pansy balik melotot dan mencengkram lengan Draco erat yang membuat pria itu menjerit kesakitan.
"Bloody Hell!, kau meremas tulangku yang patah, Pansy!. Kau kesini bermaksud membunuhku?" Draco menepis tangan Pansy lagi dan melotot kesal padanya.
"Dia menyelamatkan keluargamu lagi-"
"Yeah, hobi si Gryfindor."
"Oh, please Draco. Apa kau tidak bisa jujur sedikit tentang Potter?, dia menyelamatkanmu dari kematian, bodoh!"
"Yeah, aku berutang budi tak terkira padanya." Draco menatap enggan pada Pansy yang makin melotot padanya.
"Draco Malfoy, kau benar-benar keras kepala!. Kenapa tidak kau terima saja si Potter itu?, dia tumbuh menjadi pria yang tampan dan menarik, bodoh. Semua orang didunia sihir berbondong-bondong ingin menjadi kekasihnya. Kenapa kau malah-"
Draco mendengus, lalu berbalik sambil menutup selimutnya.
"Draco-"
"Pergi, Pansy!. Aku tak ingin mendengar suaramu lagi!"
Pansy menghela nafas , lalu mengelus pundak Draco pelan.
"Maaf, Draco. aku tak bermaksud memaksamu-"
"Kalau begitu jangan paksa aku!. Aku tak ingin menjalin hubungan serius dengan siapapun, apalagi Potter!".
"Kudengar tadi kau memanggilnya, Harry."
"Oh, shut up!"
"Oke-oke. Aku akan segera pergi. Tapi, kurasa kau harus lebih membuka dirimu, Draco. Aku selalu ada jika kau membutuhkanku. Cepat sembuh, Dragon!". Pansy berbalik dan meninggalkan Draco yang diam memandang tembok.
Bagus, siapa yang tidak tahu bahwa Potter tampan, menarik dan punya tubuh yang atletis?. Aku tidak buta untuk menyadari bahwa ia Bloody Gorgeous!. Terimakasih banyak, Pansy!.
Draco menghela nafas, ia benar-benar menyesal mengusir Harry tadi. Tetapi, jika tidak ia lakukan. Draco takut ia bakal benar-benar jatuh cinta pada Harry. Menepis keraguan hatinya, Draco mengulang-ulang kata yang menemaninya selama ini. Mengucapkannya didalam hati beribu-ribu kali.
Not again, Draco. Your heart was locked for love. -Locked-for-Love-For-Love-for-love-
For love. Damn Potter!
…
Draco menangis- adlh adegan yang paling kusuka dan bisa dibayangkan dengan jelas :p. Draco yg masih trauma dgn cinta mmbuat geregetan! Kuharap Harry bisa membungkam Draco lagi.
Stuju kan?
Tunggu lanjutannya!
Love u all.
Don't Forget, Repiew!.
