Authors Note: Akhirnya ~ setelah sekian lama baru berlanjut. Maaf ya every one. Aku lagi sibuk2 nya Ujian (Kanji, Kaiwa, Chokai, dll) jadi updatenya laaamaaaa banget. Kuharap chapter ini menyenangkan :)

WARNING: Contain affair between Handsome Man. Don't Like? Don't Read!

Disclaimer: Not Own HP *sigh sob*

Enjoy it !

Chapter 5- Your beautiful eyes.

Musim dingin berjalan cepat, tak terasa beberapa hari lagi natal akan datang.

Seorang pria berambut hitam kusut sedang berjalan dengan malas mengitari taman kota London.

Harry Potter, si pria berambut hitam itu menghela nafas saat ia melewati kursi taman yang dipenuhi pasangan mesra.

God, aku benar-benar merasa kesepian-

Harry mengernyitkan hidung dan merapatkan jaket yang menutupi tubuhnya. Ia ingin berteriak pada dunia atas ketidak adilan yang menimpanya sekarang.

"Oh, Draco- kuharap sekarang aku tak sendiri seperti ini. Aku ingin memegang tanganmu, memeluk mu, menciumimu dengan mesra dan berjalan bersamamu sebagai pasangan."

Harry sekali lagi menghela nafas, ia merasa benar-benar menjadi bujangan yang merana.

Dengan perasaan yang campur aduk, Harry berlari menjauhi taman menuju kafe terdekat yang menawarkan kehangatan kopi kesukaannya.

Ia kemudian memelankan langkahnya saat melihat pria mirip Draco dari kejauhan. Dengan gembira, Harry menyusul pria itu dan menyapanya.

"Hei, Draco!"

Saat pria itu menoleh, ekspresi Harry berubah .

"Maaf, kukira anda teman saya. Maaf-" Pria itu hanya mengernyitkan dahinya dan menjauh.

"Oh, god. sekarang aku bahkan terbayang-bayang wajah Draco. Aku mulai tidak waras-" Harry menggeleng kepalanya dan masuk ke dalam kafe terdekat.

Seorang pelayan muda mendatangi Harry dan tersenyum ramah padanya, ia mempersilahkan Harry mengikutinya.

Harry mengamati dengan seksama gerak gerik pelayan muda itu, ia kemudian menggeleng kepalanya saat menyadari ketertarikannya pada pelayan manis itu.

Tidak, Harry. Hanya Draco, tidak ada yang lain-

Harry mendengus murung saat menyadari bahwa wajah pelayan itu pun mirip dengan Draco atau hanya khayalannya saja?

" Mister?, anda ingin pesan apa?." Pelayan itu mengulang pertanyaannya lagi saat Harry hanya diam memandangnya.

"Uh- oh, maaf. Aku pesan Cappucino dan sandwich." Harry tertegun malu saat pelayan itu tersenyum padanya.

"Baik, pesanan akan datang 5 menit lagi. Ada yang lain, Mister?"

Nomer HP?- oh hentikan Harry!

Harry menggeleng pelan.

"Tidak ada?, baiklah. Silahkan anda tunggu sebentar lagi." Pelayan itu tersenyum ramah pada Harry dan kembali beraktifitas.

Harry termenung murung ditempat duduknya. Ia merasa begitu rindu dengan Draco. Pekerjaan yang menumpuk seminggu ini membuat Harry tak bisa mengunjungi Draco dikantornya.

Haruskah aku mendatanginya di Malfoy Manor?,

Ia menggeleng pelan saat membayangkan reaksi kedua Malfoy senior yang pasti heboh, dan hanya duduk gelisah sambil mengamati orang lalu lalang di luar. Kemudian, matanya menangkap sosok yang begitu dikenal dan dirindukannya.

Draco Malfoy? lagi-

"Oh- sudahlah Harry- ia bahkan tak menoleh padamu. Kau hanya berhalusinasi." Harry mencoba meyakinkan dirinya bahwa pria itu bukan Draco. Frustasi, Harry menutup mukanya dan mencoba tenang. Entah kenapa, hanya membayangkan bertemu dengan Draco, jantungnya berdegup kencang dan terasa hangat. Harry tersenyum lembut saat mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Draco di pernikahan Ron dan Hermione. Perasaan yang sama dengan sekarang begitu ia rasakan. Bahkan,saat itu degup jantungnya tak berhenti meski telah kembali ke dunia muggle.

"Potter-"

Harry mendongak mendengar suara seseorang yang dikenalnya.

"Kaget melihatku?"

Lalu, Harry hanya melongo dan mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Dra-draco?"

"Memang siapa lagi-"

Draco berhenti bicara saat melihat binar-binar cahaya di mata Harry, ia menelan ludah pelan dan balas tersenyum pada Harry.

"Bodoh- jangan bilang kau duduk disini berkhayal bertemu denganku." Draco tertawa pelan melihat perubahan ekspresi Harry.

Kemudian, si pirang itu berteriak kaget saat Harry bangkit dan dengan sigap memeluk tubuhnya erat. Harry tak melepaskan pelukannya meski Draco meronta dan meneriakinya.

"Harry!. Apa yang kau lakukan?. Lepaskan aku, bodoh!".

Harry membalas teriakan Draco dengan kikikan. Ia melepas pelukannya pelan tetapi tetap memegang bahu Draco, mencegah pria itu kabur.

"Shit- aku benar-benar merindukanmu. Kurasa kau memang ditakdirkan tuhan untukku, Draco."

Draco memutar bola matanya dan mendengus. "Oh-Potter. Kau benar-benar 'Queen of Drama', berhenti berakting seperti playboy, bodoh."

Harry tersenyum senang, ia tak bisa menyembunyikan bunga-bunga dihatinya melihat Draco.

"Kau tak tahu betapa aku merindukanmu, Draco. Seminggu ini aku benar-benar sibuk, aku tak bisa menemuimu. Benar-benar tersiksa."

"Tolong, Potter. Berhenti bersikap seperti remaja yang sedang jatuh cinta." Draco memutar matanya lagi , tak bisa menyembunyikan geli yang dirasakannya melihat ekspresi Harry.

"Kurasa, kau semakin menarik sejak terakhir aku bertemu denganmu di St. Mungo, Draco."

"Aku memang menarik. Tak ada yang meragukan, Potter." Draco memasang wajah sombong dan senyum nyengirnya. Harry hanya mendengus dan menarik hidung Draco gemas yang seketika membuat Draco menjerit kesakitan.

"Potter! Beraninya kau melukai hidungku!"

Harry memutar matanya sambil nyengir, "Honestly, Draco. Kau berlebihan."

Draco hanya memajukan bibirnya sambil merengut.

Pelayan yang sedari tadi berdiri di samping mereka hanya bisa tersenyum malu melihat dua pria tampan dihadapannya , kemudian ia berdehem pelan.

"Ehem, maaf Mister."

Harry menoleh enggan, dan terbelalak kaget menyadari bahwa orang-orang di kafe itu sedang memperhatikan mereka berdua. Dengan malu,Harry mempersilahkan Draco duduk.

"Pesanan anda, Mister."

"Oh- terimakasih. Kau ingin pesan apa, Draco?"

"Coklat panas"

"Baik, ada yang lain?"

"Tidak"

"Oke, mohon tunggu sebentar. Have a nice day, Mister." Pelayan itu tersenyum dan meninggalkan Harry dalam kekikukan.

"Um-maaf. Mungkin aku terlalu bersemangat sehingga mereka tak berhenti mengamati kita."

"Baguslah kau sadar,Potter." Draco tersenyum nyengir.

"Oh-god. Aku benar-benar bahagia bertemu denganmu, Draco. Seharian ini aku benar-benar kesepian akut."

"Oh, ya?. Seorang Harry Potter kesepian?, tak bisa kubayangkan." Draco tersenyum terhibur dan menyilangkan tangannya didada.

Harry merengut, ia mendekatkan wajahnya pada Draco.

"Aku serius, Draco. Aku bahkan terbayang-bayang wajahmu hingga salah menyapa orang."

Draco tertawa renyah, tawa yang membuat Harry merasa terbang. Kemudian Draco mengelus pipi Harry lembut, membuat pria itu terlonjak kaget karena aliran listrik yang mengalir ditubuhnya.

"Potter,bodoh".

Satu kalimat yang bakal di ingat Harry sepanjang hidupnya. Pria berambut hitam itu balas mengelus jari-jari Draco.

"Aku tidak bercanda, Draco."

"Hm-begitukah?"

Draco tak menyadari sikapnya yang begitu intim pada Harry, ia terlalu sibuk mengamati wajah pria dihadapannya yang membuatnya terpesona.

Aku tak tahu Potter punya bulu mata yang lentik, lalu mata emerald nya yang indah itu, bibirnya yang merah lembut, dan wajahnya yang mulus-

Draco membelalakkan matanya saat menyadari pikirannya yang melantur. Ia menelan ludah pelan sambil mencoba melepas tangannya tetapi Harry meremas pergelangan tangannya kuat hingga Draco menjerit kecil.

"Jangan, jangan lepas tanganmu Draco. Aku ingin seperti ini-sebentar." Harry tersenyum sambil memijat pergelangan tangan Draco lembut.

Draco sekuat tenaga menyembunyikan rona pink diwajahnya, entah kenapa sentuhan Harry berakibat tidak baik pada jantungnya."Potter, kau aneh. Cepat lepas tanganmu, bodoh."

"Harry"

"Oke, Harry. Tolong lepaskan tanganmu dari kulitku yang lembut ini. Please?"

Harry menggeleng kepalanya pelan dan tersenyum nyengir, senyum yang membuat Draco menahan nafas.

"Sudah kubilang, jangan tersenyum dengan senyum milikku, Harry "

Harry tertawa mendengar Draco mengucapkan namanya dengan penekanan, kemudian ia terdiam dan menatap Draco tajam.

"Draco-"

"Apa?" Prat, kenapa ia menatapku seperti itu?

"Kau adalah pemilik mata abu-abu terindah yang pernah kutemui, Draco."

Draco tersentak kaget, ia mengernyitkan dahi menyembunyikan rona pink di pipinya. Saat Draco hendak membalas omongannya, Harry lebih dulu menutup mulut Draco dengan ciuman lembut. Beberapa detik kemudian Harry melepas ciuman mereka.

"Kukira menutup mulutmu adalah langkah tepat sebelum kau menjawab dengan jawaban yang menyebalkan." Harry menyelesaikan kalimatnya dan tertawa pelan melihat wajah Draco yang membeku.

"Ka-kau barusan menciumku, Pot- Harry?"

"Tidak, aku hanya menutup mulutmu, Draco." Harry tersenyum licik.

Draco kehabisan kata-kata melawan Harry, ia hanya diam dan memasang wajah masam.

God, aku kalah dengan si mesum ini!

"Draco?, Potter?"

Draco sontak menarik tangannya mendengar seseorang memanggil mereka.

"Theo?" Draco merasa suaranya bergetar. Ia menoleh pada Harry pelan.

Damn! Kenapa Harry bisa setenang itu? Tak tahukah ia bahwa Theo ini suami Pansy?. Merlin. Kalau Theo disini, berarti –

"Theo?, ada apa?" Pansy menoleh kearah meja disampingnya, matanya terbelalak. "Draco?, tak kusangka bertemu denganmu!. Kenapa kau bisa disini- dan bersama Potter."

Draco mendengus melihat Pansy, wanita itu kemudian tersenyum penuh makna melihat Harry ,dan sontak menggandeng lengan Theo serta menariknya duduk disamping mereka.

"Sayang, tak seharusnya kita mengganggu mereka." Theo melirik istrinya dengan penasaran, tapi ia putuskan diam saat Pansy melotot padanya.

"Hai, Draco Potter. Kuharap kami tidak mengganggu kalian."

"Maaf ya. Kami mengganggu kencan kalian." Theodore Nott tersenyum dan mengedip pada Draco, membuat pria pirang itu menelan ludah.

"Bukan,tidak seperti yang kau pikirkan. Kami tidak kencan, Theo."

Harry memicingkan matanya mengamati wajah Pansy yang sedang tersenyum padanya.

"Tak masalah, kalian boleh duduk bersama kami. Seperti yang Draco bilang, kami tidak kencan. Jadi tak usah sungkan." Harry tersenyum dan melirik Draco yang sedang menunduk gugup.

"Kukira juga begitu." Pansy tersenyum.

"Lalu, jika bukan kencan. Bagaimana bisa mantan musuh besar duduk bersama?". Theodore bertanya dengan iseng, ia tak henti-hentinya mengamati ekspresi Draco yang seakan ingin kabur.

"Kami hanya tak sengaja bertemu." Harry menjawab pertanyaan Theo dengan datar.

"Oh-." Theo membuat suara tak percaya yang membuat Draco ingin melemparnya ke jurang. Theo mengalihkan pembicaraan pada istrinya.

"Sayang, kau ingin pesan apa?"

"Hm?, aku sedang tidak ingin makan apa-apa."

"Oke. Pelayan!, aku pesan cokelat panas."

Draco angkat bicara.

"Tumben kalian ada di dunia muggle."

"Oh-kami baru saja melihat pameran lukisan di sekitar sini. Lalu, tak kusangka bertemu denganmu, Draco." Pansy tersenyum senang sambil menatap Draco tajam, "Lalu, apa yang kau lakukan disini, Draco?".

"Mm- hanya jalan-jalan. Melepas penat karena tugas yang menggunung. Tak sengaja bertemu Harry."

Oh, God. Tak seharusnya aku menyebut nama depannya.

Pansy tertawa keras, sambil menyikut lengan suaminya ia berkata dengan suara cukup keras untuk didengar jelas oleh Harry.

"Bahkan mereka sudah memanggil nama depan masing-masing. Apa menurutmu mereka cocok jadi pasangan, sayang?" Pansy mengedip pada suaminya.

"Hm-pasangan?. Kurasa tak ada kata lain selain cocok untuk mereka." Theo tersenyum pada Harry yang sedari tadi hanya mengerjapkan matanya.

"Kau dengar, Draco?. Mereka bilang kita cocok jadi pasangan." Harry memandang lembut pria pirang dihadapannya.

Draco menelan ludah dan tersenyum samar," Kau pikir begitu?"

"Tentu saja, Draco!. Aku tak tahu apa yang membuat kalian begitu cocok bersama, hanya intuisi ku berkata seperti itu." Theo menepuk pundak Draco lembut.

Draco hanya balas mendengus.

Damn, mereka berdua benar-benar menyebalkan!

...

Hope u enjoy!

Don't Forget, Repiew!. J

TBC