Chapter 6 – The Brunett

"Tidal- oh tidak… kau, kau monster?"

Suara geraman bergema di ruangan itu.

"Maafkan aku, tapi darahmu benar-benar membuatku tetap hidup, manis", lalu erangan histeris itu mengisi keheningan malam London.

"Draco! ayolah, aku minta maaf!"

Si pirang itu mendengus kesal dan mempercepat jalannya.

"Pergi, Potter! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi!"

Harry mencengkram pergelangan tangan Draco erat dan menarik badannya.

"Potter!", Draco hampir saja mengeluarkan tongkatnya dan melempar mantera pada Harry kalau saja si rambut hitam itu tidak menutup mulutnya dengan ciuman.

Setelah merasa Draco sedikit relaks , Harry melepas ciumannya gugup, "Draco, tolong dengarkan aku."

Malfoy mengedipkan matanya berkali-kali, lalu mengerang sebal sadar akan kelemahannya atas ciuman Potter.

"Terserah, Potter. Apapun yang kau katakan aku tidak peduli."

Harry tersenyum kecut, "Tolong jangan bicara seperti itu, Draco. Aku minta maaf telah menyinggung masa lalumu dengan seenaknya, aku tak bermaksud menginterogasimu."

Draco memutar matanya sebal dan bergumam pelan,

"Pansy sialan."

Flashback

Harry menyadari Pansy mengedipkan mata berkali-kali padanya, memberi instruksi pada Harry untuk meninggalkan mereka sebentar. Lalu, Harry mengangguk tak terlihat, berharap Draco tidak menyadari sikap anehnya dan berdiri.

"Hm, mau kemana Potter?", Pansy pura-pura bertanya.

"Toilet", ia tersenyum pada Draco dan meninggalkan si pirang itu dalam kekikukan.

Sialan kau, Potter! Beraninya kau meninggalkanku bersama si wanita iblis ini!

"So, Draco. Jadi kau sudah menjalin hubungan dengan si seksi Potter?", Draco memutar matanya dan menatap tajam Nott.

"Aku tak terkesan jika istrimu mengatai pria lain seksi, Nott."

"Oh, jangan jealous, Draco!. Aku hanya mengatakan hal yang nyata, iya kan sayang?", Pansy mengedip pada suaminya yang hanya mengangguk setuju.

Draco mengerang frustasi, ia menatap mereka berdua bergantian.

"Apa mau kalian?, menikahkanku dengan Potter?"

"Kalau kau setuju itu masalah gampang, Draco", Nott tertawa saat mendengar Draco mengerang.

"Aku pergi." Draco berdiri dengan sebal dan mencoba kabur tetapi tangan Pansy mencengkram pergelangannya erat dan menariknya duduk lagi.

"Draco, Dengarkan aku!"

Si pirang itu mendengus.

"Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Draco. Sudah saatnya kau mencari pasangan hidupmu dan melupakan masa lalumu", Pansy memegang erat tangan Draco, "Lupakan dia dan beri kesempatan untuk Potter. Kau tak tahu bagaimana frustasinya Potter ingin mengurungmu dikamarnya." Nott terkikik pelan saat mendengar kata kamar.

Bagus, sekarang mereka bahkan dengan senang hati ingin Potter mengurungku.

"Draco?"

Malfoy menghela nafas pelan, ia menatap satu persatu mantan Slytherin itu.

"Aku tahu, Pans. Aku tahu. Setiap malam aku sudah memikirkannya."

Pansy dan Nott saling berpandangan, "Kau memikirkan, terkurung dikamar bersama Potter?"

"Carmela, bodoh!"

Pansy mendengus dan merengut.

"Sudah 4 tahun berlalu, Draco. Dia juga takkan senang melihatmu dari alam baka sana, Draco Malfoy terkungkung dalam kesendirian."

Draco menatap jendela, dan menghela nafas berat.

"Ya, aku tahu"

Lalu, Harry datang dengan wajah berseri-seri tanpa beban. Ia duduk disamping Draco dan menatapnya lembut.

"So, apa aku kehilangan berita terbaru?"

Draco mengerang pelan, lalu ia bangkit dari kursinya.

"Aku masih ada kerjaan. Aku pergi dulu." Lalu, Draco dengan cepat keluar dari kafe dan menghilang sebelum Harry bisa bereaksi atas sikap Draco yang aneh.

"Draco! Tunggu-"

Pansy menarik tangan Potter cepat, "Tidak sekarang, Potter. Kau harus tetap tinggal disini. Masih ada yang harus kami bicarakan padamu, ini tentang Draco." Harry menatap Pansy dengan tanda tanya, lalu ia mengangguk pelan dan duduk.

"Ceritakan, Parkinson. Semuanya."

..

Harry menatap punggung Draco dalam diam, ia mencoba memberi ruang untuk Draco berpikir. Si pirang itu berdiri disamping danau yang membeku dan dengan malas melempari batu-batu kecil kedalamnya. Lama Harry menunggu Draco membuka mulutnya hingga ia akhirnya mendengar helaan nafas.

"Sampai kapan kau mau berdiri disitu, Potter?"

Harry tersenyum dalam bekunya salju dan dinginnya angin malam, lalu mendekati Draco.

"Pertanyaan yang sama untukmu, Draco."

Harry mendengar suara dengusan, lalu Draco membalik badannya.

"Kenapa kau bersikeras, Potter?"

Harry mencoba memasang wajah biasa, "Karena aku menginginkanmu, Draco."

Malfoy menutup mukanya dengan tangan dan mengerang, "Aku harap kau bercanda, Potter."

Fuck!

Harry mencengkram lengan si pirang itu lalu mengangkat dagunya dengan tangan kirinya hingga mata mereka bertaut. Abu-abu gelap itu sedang menatapnya sedih.

"God, Draco. Aku jatuh cinta padamu! Tak bisakah kau melihatnya?"

Draco menatap Harry gemetar, Hell! Siapa yang tidak tahu, Harry?. Ekspresimu mudah dibaca, dan aku tahu kau tergila-gila padaku. Memangnya itu mengubah bahwa suatu hari nanti kau mungkin akan meninggalkanku juga-

"Tidak, aku tidak tahu." Draco menggeleng pelan.

Harry menarik nafas dalam, ia lalu melepas cengkramannya dan memeluk Draco lembut.

"Baiklah, aku akan mengatakannya dengan jelas dan dengarkan aku. Merlin, aku jatuh cinta padamu sejak kita masih di Hogwart, Draco. Aku mencoba menepis perasaan yang tak normal itu, dan mencoba menjalin hubungan dengan Ginny tetapi kurasa penolakanku terhadap segala keintiman kami membuatku sadar bahwa aku sebenarnya lebih memilih, yeah pria."

Draco hampir tersedak mendengar pengakuan Harry. Ia menarik badannya dari pelukan Harry dan menatap wajah The Chosen One itu dengan mata terbelalak.

"Be-benarkah?, sejak di Hogwart?. Kupikir kau-", Harry menutup mulut Draco dengan jari telunjuknya lalu mengangguk malu.

Oh, tuhan. Wajahnya memerah.

Draco menelan ludah pelan saat merasakan bahwa jantungnya berdetak kencang ketika melihat rona merah di pipi Harry. Ia ingin mencium pria dihadapannya dengan gemas.

"Sejak kapan?"

"Umh, lebih tepatnya saat tahun ke-6. Waktu- aku menguntitmu terus."

Draco ingat saat awal tahun ke-6 ia menendang hidung Harry hingga patah, dan merasa bersalah.

"Aku tahu, aku berakting menyebalkan seperti polisi yang memata-matai teroris. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari tangan Voldemort karena aku peduli padamu." Harry meraih kedua tangan Draco dan menautkan jari-jari mereka, membuat Draco ikut bersemu.

"Potter-"

"Harry, Draco"

"Oke, Harry."

Mereka berdua saling terdiam, Draco mengambil inisiatif dengan mendekati pria dihadapannya lalu menautkan tangannya dileher Harry dengan nervous yang membuat Harry terkikik pelan.

"God, aku pasti gila", lalu Draco mencium Harry lembut hingga ia merasa salju mencair diantara bibir mereka.

"Tidak, Draco. Kau, umh kau sangat indah." Harry meneruskan ciuman Draco dengan gayanya yang penuh permainan lidah, membuat Draco terperanjat dipelukan Harry.

"Oh,god!"

Harry bergumam pelan sambil menggigit lembut bibir Draco, "Mmh, suka?"

Draco mengangguk dan merapatkan tautannya dileher Harry, membawa mereka kedalam kehangatan.

"Aku takut kehilangan seseorang lagi."

Harry merapatkan pelukannya, ia mencium lembut leher Draco yang dingin.

"Tidak, Draco. Aku selalu disini", Harry menciumi leher Draco hingga dagunya dan kembali mencium bibir Draco dengan lembut.

"Harry-"

Keintiman itu terganggu saat sebuah cahaya muncul di depan mereka.

"Shit-", Draco melepas ciuman mereka kaget, "Maaf, Harry. Ada patronus. Penting."

Harry mengangguk pelan, ia tersenyum nyengir saat melihat wajah, bibir dan hidung Draco yang memerah, serta rambutnya yang awut-awutan karena dinginnya salju dan kegiatan mereka barusan.

Incredibly sexy and gorgerous.

Helaan nafas Draco mengalihkan pikiran mesum Harry. "Ugh, tidak lagi."

"Ada apa, Draco?"

"Ada serangan vampir terhadap muggle di London. Aku harus segera kesana." Draco menatap Harry dengan ekspresi khawatir.

"Mau aku ikut denganmu?, aku janji tidak akan mengganggumu."

Draco mengangguk pelan, lalu menawarkan lengannya.

"Kita berapparate, aku tahu tempatnya."

"Korban berumur 20 tahun, ia mati 30 menit yang lalu."

Draco mengamati wajah lelaki dihadapannya yang terbujur kaku.

"Kurang ajar. Ini kasus yang ke 20 ." Draco menggertak giginya keras, "Apa dia vampire yang sama?"

Pria dari Departemen Regulasi dan Kontrol Makhluk Gaib itu mengangguk pelan.

"Aku yakin vampire ini beraksi sendiri, Malfoy."

"Ya, aku tahu."

"dan aku yakin, ia termasuk vampire yang baru. Maksudku, ia baru saja berubah jadi vampire. Mungkin umurnya baru setahun, tak heran ia sangat haus darah hingga menyerang muggle."

Draco mengangguk,"Akan kukirim Auror untuk mengawasi daerah sekitar sini", ia menatap Harry yang berdiri disampingnya.

"Kita ke Ministry sekarang, Harry. Aku butuh koordinasi dengan atasanku."

Harry mengangguk, dan memeluk pundak Draco lalu berapparate.

..

"Aku rasa kita harus menyiagakan Auror di sekitar London dan mengirim beberapa anggota yang lain untuk mengejar vampire itu."

Arnold Peasegold, atasan Draco, sedang duduk dimejanya dan menatap Harry penasaran.

"Aku hanya menemani, Draco. Mr. Peasegold." Harry tersenyum.

"Oh, ternyata rumor yang beredar bahwa kalian berbaikan, benar." Arnold mengembangkan senyumnya dan menatap mereka berdua lalu ia mengembalikan topik ke keadaan semula.

"Bagaimana ciri-ciri vampire itu?"

"Vampire ini pria, berambut cokelat gelap, dan tingginya sekitar 180 cm. Ia lebih memilih menghisap darah lelaki, kurasa ia sedikit , um, mungkin menyukai pria."

Draco melirik Harry pelan, si rambut hitam itu tersenyum nyengir.

"Oh- ada yang lain?"

"Kurasa tidak, selain ia vampire yang masih baru."

Peasegold mengangguk, "Kau boleh pulang, Malfoy. Jika ada informasi baru, aku akan mengabarimu."

Lalu, mereka berdua berpamitan dan berapparate.

House of Potter in London.

"Kau terlihat lelah, Draco."

Si pirang itu tersenyum tipis, lalu melihat sekeliling.

"Ini rumahmu, Harry?. Well rapi juga. Aku terkesan." Draco tersenyum mendengar dengusan Harry.

"Tentu saja, Malfoy. Aku berhasil bertahan hidup tanpa House-Elf."

Draco menatap Harry terhibur.

"Kau pikir aku tak bisa menyaingimu, Harry? . Untuk informasi saja, aku sekarang tinggal sendiri di flatku di London. Well lebih dekat dengan Ministry daripada tempatmu dan tanpa House-elf."

"Benarkah?, kupikir kau tinggal di Malfoy Manor", Harry meneruskan perkataannya," Lalu, kau berhasil bertahan hidup, Draco?". Harry mendekati Draco dan berbisik ditelinganya.

"Um, kurasa iya. Terimakasih banyak karena kita penyihir." Harry tertawa dileher Draco.

"Kurasa kau harus mencoba tinggal disini, Draco. Semua benda dirumahku adalah benda Muggle. Kita lihat sejauh mana kau bertahan hidup."

Draco mendorong Harry untuk menatap wajahnya, "Kau serius?, tak ada sihir disini?"

Harry tertawa, lalu menggeleng.

"Tidak, Draco. Aku menggunakan tenagaku sendiri untuk melakukan semuanya."

Draco mendengus, lalu menggeleng.

"Tipikal Gryfindor. Sok bisa."

Harry tertawa lagi, ia mencubit pipi Draco gemas membuat si pirang itu menjerit kesakitan.

"Bloody Hell!, sakit bodoh!"

"Oh, mendengar jeritanmu kurasa kau belum terlalu lelah untuk bercinta, Draco?", Harry berbisik pelan dan menarik pinggang Draco hingga dada mereka bertabrakan.

"Tidak, Harry. Tidak malam ini, mesum." Draco mengangkat satu alisnya terhibur saat Harry mengerang sebal.

"Draco-"

"Aku lelah, Harry. Ingin tidur." Draco menatap Harry dengan pandangan memohon , "bercinta bisa lain waktu kan, sayang?" Harry mengedip pada Draco,tak percaya bahwa si pirang itu sedang merayunya. Ia mengerang lalu mencium Draco sedikit bersemangat.

"Oke, manis. Lain waktu dan aku takkan membiarkanmu tidur sampai pagi."

Draco menahan nafas membayangkan perkataan Harry.

"All you wish, Potter darling."

Darling – darling…

Hope u enjoy it!

Love u all

TBC