Menjelang bulan suci Ramadhan, saya ingin minta maaf kepada semua orang yang telah membaca Fic saya.

Mungkin ada salah-salah kata yang membua anda semua tersinggung jadi saya sangat-sangat minta maaf-Plak-

So, chapter 3 update please enjoy.

P3 Series dan P4 hanya punya atlus


Midnight Channel

Pagi hari yang mendung, Souji bangun sambil memegang belakang kepalanya yang masih terasa sakit akibat ia dilempar oleh Kaori dari kamar mereka berdua. Begitu ia melihat keadaan sekitar, ia menyadari satu hal, Kaori tidak ada. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan melipat futon miliknya sampai terlihat rapih. Dengan cepat ia segera berganti pakaian dan segera menyortir buku-buku pelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran hari ini.

Selesai menyortir buku-buku apa yang akan dibawa Souji turun untuk sarapan dan keheranan karena hanya menemui sosok Nanako tanpa ditemani Kaori. Souji mendekati Nanako yang sepertinya telah menunggunya dari tadi

"Kaori ada dimana Nanako?" tanya Souji sambil duduk di meja keluarga sekaligus meja makan tersebut. "Tadi dia sudah berangkat duluan,katanya ada urusan mendadak." Souji terheran-heran mendengar penjelasan Nanako perihal ia tidak ingat kalau Kaori punya suatu urusan disekolah, kecuali ia ingin mengerjakan PRnya disekolah dengan mencontek pekerjaan orang lain karena seingat Souji tadi malam Kaori langsung beranjak tidur sehabis mengganti pakaiannya menjadi piama bermotif bunga Sakura yang berjatuhan dengan aksen merah terang.

"Kak Souji, cepat kau habiskan makanannya, kita sudah hampir terlambat." Ucap Nanako. Benar saja ketika Souji melihat jam dinding yang terpajang atas sofa, jam itu menunjukan pukul 08:40 A.M. Dengan cepat ia melahap 2 roti isi selai coklat itu bulat-bulat. Nanako yang melihat kelakuan tak senonoh dari Souji cuman memandang dengan pandangan jijik. Sadar Souji dipandang dengan ekspresi jijik dari Nanako, ia buru-buru menelan roti itu dengan bantuan susu putih hangat yang berada tepat di samping piring roti miliknya.

"Ugh, ayo kita berangkat" ajak Souji sambil berdiri dengan memegang tas miliknya. Nanako mengangguk mengikuti Souji dari belakang. Selesai mengunci pintu mereka berdua berjalan dan berpisah di Samegawa River. Ketika Souji berjalan di perempatan jalan yang sama dengan hari sebelumnya, respon tanda bahaya miliknya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang akan menabraknya kalau ia tidak segera menyingkir. Benar saja, sepeda orange yang kemarin hampir menabraknya berjalan ngebut dan nyaris menabraknya lagi kalau dia tidak segera menyingkir. Gagal menabrak Souji sepeda berikut pengendaranya menabrak gundukan sampah yang berada tepat dipojokan jalan, hanya saja kali ini si pengendara masuk kedalam tong sampah yang ada di tempat sampah tersebut.

"Ouuuloooong, awa ada owing iitu?(tolong apa ada orang di situ)" teriak pengendara itu yang sekarang terjebak di dalam tong tersebut. Rasa iba kepada orang malang tersebut muncul dari dalam diri Souji. Tanpa pikir panjang ia segera mendekati pengendara malang tersebut dan mengeluarkannya dari tong sampah.

"Hey, kau tak apa-apa?" tanya Souji kepada pengendara tersebut yang tenyata adalah orang judes yang bernama Yosuke. "Ah, terima kasih, memang dasar sepeda sial disaat-saat seperti ini kenapa remnya malah blong si?" umpat Yosuke.

"Ah ya aku belum memperkenalkan diri, namaku Yosuke Hanamura, dan kau pasti Souji Seta benar?" tanya Yosuke. "Ya, namaku Souji Seta, senang berkenalan denganmu." Souji menjulurkan tangannya dibalas dengan genggaman dari Yosuke. "Ya,senang berkenalan denganmu." Mereka berdua bersalaman.

"Waduh, kita hampir terlambat." kataYosuke sambil melihat arloji miliknya, tiba-tiba ia mendongkak kearah Souji lalu berkata— "Kau mau naik sepedaku? Lebih cepat dan efisien." Dengan cepat Souji menolak ajakan Yosuke dengan halus, lebih baik dia terlambat dari pada kehilangan nyawanya. Lalu Yosuke menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat, diikuti Souji yang berlari di belakang sepeda Yosuke. Sadar ada yang tidak beres Yosuke memalingkan kepalanya dan menemukan Souji berlari hampir menyamai kecepatan sepedanya.

"Wow Souji, larimu cepat juga."kata Yosuke kagum. Souji nyengir "Yah, biasa- YOSUKE AWASSS!" peringatan Souji terlambat di sadari Yosuke dan ia menabrak pintu gerbang yang setengah tertutup. Mungkin hari ini adalah hari sial bagi seorang Yosuke Hanamura.

Sesampainya Souji dan Yosuke kekelas mereka yaitu kelas 2-2, mereka menemukan Kaori dan Chie yang duduk dimeja Souji dan Chie sedang menuliskan sesuatu di buku mereka dengan sebuah buku terbuka lebar di antara mereka berdua.

"Oi, oi pada ngerjain apaan tuh? PR yak? Liat dong." Pinta Yosuke polos. Menyadari kedatangan Yosuke, Chie langsung melirik Yosuke dengan tatapan mata yang tajam. Mental Yosuke langsung ciut di pandang seperti itu, dengan lesu ia segera duduk di bangkunya dan menempelkan wajahnya ke meja.

"Habislah sudah, aku bakal dibantai oleh King Moron sialan itu." gumam Yosuke dengan nada pasrah. Sadar apa yang menjadi masalah Yosuke, Souji segera mengambil buku PR matematikanya dan menyerahkannya pada Yosuke.(King Moron emang lebih enak kalau jadi guru matematika)

"Souji, ini serius?" tanya Yosuke sambil menunjuk buku PR milik Souji. Souji mengangguk mengiyakan, dengan cepat Yosuke menyambar buku PR milik Souji dan mengambil buku tulis dari dalam tasnya. "Thank you Souji." Ucap Yosuke sembari menyalin jawaban Souji.

Kaori yang menyadari kalau Souji yang telah mengerjakan PR yang di berikan King Moron langsung menuntut. "Kenapa kau tidak membertahu aku kalau kau sudah mengerjakan PRnya?"

.

.

.

Sekolah telah usai dan bagi Yosuke dan Chie adalah suatu berkah yang tak ternilai harganya, toh 75% dari apa yang telah mereka pelajari pada gak nyantol di otak mereka berdua. Kaori mendekati Yukiko dan Chie, lalu ia mengajak mereka untuk kekamar mandi dan merekapun setuju. Setelah tiga gadis itu keluar dari kelas tiba-tiba Yosuke mendekati Souji.

"Hei Sou, tadi pagi terima kasih ya." Ucap Yosuke. Tiba-tiba Souji menggeleng. "Bukan masalah besar, memang sudah kewajiban seorang teman untuk saling menolong bukan?" mendengar ucapan Souji Yosuke pun nyengir. "Kalau begitu, aku akan meneraktirmu makan di Junes."

"Junes? Oh disini juga ada toh?"

"Tentu saja, jangan pikir kalau Inaba itu cuman desa terpencil yang tidak mempunyai Mall." Celetuk Yosuke. "Yah, tapi tidak usah deh, aku tidak mau merepotkanmu Yos." Yosuke langsung geleng-geleng kepala. "Jangan begitu, aku berhutang budi padamu, sudah sepantasnya aku membalas kebaikanmu." Souji menyerah dengan tekat Yosuke dan membiarkan Yosuke mentraktir dirinya.

"Kalau kau mau mentraktirnya, kenapa kau tidak mentraktir aku juga?" tanya suara wanita dari balik punggung Yosuke. Begitu Yosuke berbalik ia langsung berhadapan dengan Chie Satonaka.

"Ch-Chie." Ucap Yosuke. "Ingat Yosuke Trial of the Dragon milikku." Kata Chie dengan suara mengancam. Yosuke langsung sweatdropped.

"Yos, lo gak usah traktir aku, aku bisa bayar sendiri kok. Kau traktir saja Chie" Yosuke langsung menatap Souji keheranan. Dari tadi memang Yosuke sudah keheranan, orang mau di traktir kok nolak? Yah Souji memang terlalu rendah hati.

"Chie, kenapa kau selalu ada kenapa kau selalu ada setiap kali mencangkup makanan sih?" tanya Yosuke keheranan. Memang dari dulu Yosuke selalu heran kepada Chie yang makannya banyak tapi gak pernah gendut. Pernah ia sempat berkata 'Chie kamu cacingan ya?' tapi berakhir dengan ditendang oleh Chie dibagian anunya.

Yosuke sudah tak bisa mengelak dari tuntutan Chie, dengan enggan ia menyetujui bahwa dia akan mentraktir Chie. Tiba-tiba Chie berbalik badan dan berkata- "Kaori, Yukiko, kalian mau ikut enggak? Mumpung di traktir sama Yosuke." Yosuke langsung terbalak mendengar ucapan Chie.

"Boleh saja sih, kau bagaimana Yukiko?' Tanya Kaori. Tapi anehnya Yukiko menggeleng. "Maaf aku ada keperluan di penginapan, jadi kalian pergilah tanpa aku." Yukiko langsung mengambil tas miliknya dan pergi meninggalkan ke 4 temannya di kelas.

"Jadi, kapan kita pergi?" tanya Chie

.

.

.

Sesampainya mereka di Junes, Souji melihat sekilas bagaimana bentuk Mall satu-satunya di kota ini. Kalau mau di bandingin sama Mall yang ada di Tokyo, Mall ini kalah jauh. Tapi untuk ukuran di sebuah pedesaan yah bisa terbilang cukup mewah.

Sesampainya mereka di Food court Junes, Chie langsung minta makanan favoritnya yaitu steak. "Sori Chie, kedai steaknya belom dibuka, jadi aku beliin burger aja gimana?" tanya Yosuke dengan cengiran yang menghiasi bibirnya. Chie cemberut tapi setuju aja, ngapain juga dia nolak makanan gratis. Yosuke langsung pergi ke kedai Burger dan kembali membawa 4 buah cheese burger dan 4 soft drink.

"Loh Yos, akukan gak pesan apa-apa." kata Souji. Yosuke nyengir lagi lalu menjawab pertanyaan Souji. "Santai aja Sou, kan udah aku bilang aku yang traktir."

"Tapi kan-"

"Udalah Sou, makan aja, sayang entar dingin." Paksa Yosuke agar Souji memakan burger yang telah ia belikan. Dengan enggan ia memakan burger itu.

"Yos, itu bukannya kak Saki? Kok tampangnya murung gitu ya?" tanya Chie tiba-tiba sambil menatap perempuan berambut pirang pucat bergelombang. Tiba-tiba saja Yosuke langsung berdiri dan pergi ke wanita yang dipanggil saki tersebut. Kaori yang tidak tahu apa-apa langsung bertanya kepada Chie.

"Chie, wanita itu siapa sih?" bisik Kaori. "Dia adalah senior di sekolah kita, orangtuanya mempunyai toko minuman keras di shopping district, dan sekalian saja kuberitahu kalian Yosuke sekarang sedang pedekate dengan kak Saki." Souji mengangkat alisnya sementara Kaori mengangguk-ngangguk. Mereka melihat Yosuke dan Saki sedang bercakap-cakap, tiba-tiba saja mata Saki menatap kearah meja Chie,Kaori dan Souji. Saki lalu beranjak dari kursi miliknya dan mendekati meja mereka bertiga.

"Hai Chie bagaimana dengan latihanmu beladirimu?" tanya Saki. Dengan semangat Chie menjawab. "Sungguh menyenangkan, apa mau aku perlihatkan beberapa jurus yang baru aku pelajari?"

"Boleh saja, tapi jangan disini, nanti akan membuat keributan." Saki lalu melihat kearah Kaori dan Souji. "Dan kalian adalah teman baru Yosuke ya? Namaku Saki Konishi senang bisa berkenalan dengan kalian." Ucapnya Ramah.

"Namaku Kaori Nagisa dan yang ini Souji Seta, senang berkenalanmu kak Saki." Ucap Kaori Ramah. "Tolong kalian jaga Yosuke baik-baik, dia anaknya sedikit penyendiri." Yosuke langsung tertunduk malu dibilang penyendiri oleh orang yang dikasihinya. Saki melihat arlojinya dan pergi sambil mengucapkan salam kepada mereka berempat.

"Orangnya sangat baik ya." Kata Kaori yang dibalas oleh anggukan setuju dari Souji maupun Chie. Sementara Yosuke masih memandang Saki yang telah menjauh. Melihat tingkah laku temannya itu Souji langsung memanggil-manggil nama Yosuke berniat menghilangkan lamunan Yosuke. "Yos, Yosuke sadar woy"

"…Hah..huh? ada apa Souji?" tanya Yosuke gelagapan yang baru saja kembali ke bumi.

"Kau dari tadi bengong aja melihat kak Saki, memangnya ada apa sih?" tanya Souji iseng. Alih-alih langsung menjawab pertanyaan Souji,Yosuke menatap lagi kearah Saki pergi.

"Percuma kau hal apapun kepadanya kalau dia sudah seperti itu, dia itu Saki complex tau." Jelas Chie dengan tampang sebal. "Jadi dia memang selalu seperti itu?" tanya Souji. "Memang"

"Ngomong-ngomong, apa kalian tahu tentang Midnight channel belum?" Souji dan Kaori bingung mendengar pertanyaan Chie. "Midnight channel?" ulang mereka berdua secara bersamaan.

"Ah, tentu saja kalian belum mendengar tentang mitos itu ya." Ucap Chie renyah. "Dengar, Midnight channel adalah sebuah siaran tersembunyi antara hari ini dan esok, bisa di katakan sebuah siaran yang muncul tepat pukul tengah malam." Chie berenti sejenak. "Jika kita melihat siaran tersebut dan melihat seseorang didalam siaran tersebut, diyakini orang yang ada didalam siaran itu akan menjadi soulmate kita." Kaori dan Souji takjub akan penjelasan Chie dan Chie memandang mereka dengan pandangan puas.

"Tapi itukan cuman mitos Chie, tidak sungguhan." Tiba-tiba saja Yosuke langsung ikut kedalam pembicaraan. "Hoo, jadi kau sudah balik kebumi rupanya." Ucap Chie sinis. Yosuke hanya menanggapinya sambil lalu.

"Dengar, yang seperti itu tidak ada, aku sudah mencobanya beberapa kali tapi hasilnya Nihil." Jelas Yosuke, tapi Chie langsung mencela apa yang di jelaskan Yosuke. "Mungkin kau melihatnya ketika hari tidak hujan ataupun berkabut, makanya tidak ada."

"Tidak, aku melihatnya ketika keadaan hujan." Kata Yosuke membela diri. Mereka berdua terus bertengkar mendebatkan apakah Midnight Channel itu ada atau tidak, Souji dan Kaori sudah mencoba menengahi mereka tapi gagal. Hanya satu hal yang membuat mereka berhenti, dan itu adalah hujan.

"Baiklah kalau begitu, kita bertaruh, Jika nanti malam Midnight muncul aku menang, tapi jika tidak kau yang menang." Tantang Chie. Yosuke menyanggupi tantangan Chie, lalu mereka berdua melihat Souji dan Kaori. "Kalian berdua harus ikut melihat siaran itu, dan tugas kalian adalah sebagai saksi." Perintah Chie kepada mereka berdua. Souji dan Kaori berpikir bagaimana cara supaya mereka tidak terlibat duel tersebut. Gagal mereka berdua menyanggupi dengan terpaksa.

.

.

.

"KAMI PULANG" ucap Kaori ketika mereka pulang. "Selamat datang." Nanako segera menyambut mereka. Setelah melepas sepatu Souji dan Nanako mengenyakan diri di meja keluarga, sedangkan Kaori membuka kulkas yang sepertinya mencari makanan. Tak lama setelah itu Kaori sudah mengeluarkan telur,sosis,keju dan beberapa sayuran seperti kol dan wortel. Melihat Kaori mengeluarkan bahan-bahan makanan seperti itu, Souji jadi tertarik apa yang ingin dibuat Kaori, ia segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Nanako yang sedang asik menonton untuk mendekati Kaori.

"Kau membuat apa Kaori?" tanya Souji sambil melihat bahan-bahan yang di taruh di meja makan. "Aku hanya ingin membuat Nasi goreng saja kok, kenapa?" Souji tersenyum lalu mengambil sebuah pisau. "Apa boleh aku bantu?" Kaori heran apa yang baru saja di ucapkan Souji. "Kau bisa masak Souji?" tanya Kaori. "Yah begitulah" jawab Souji singkat. Dengan cekatan Souji memotong-motong Kol dan wortel dengan hasil yang sangat rapih. Kaori terkagum-kagum apa atas yang dikerjakan Souji.

"Kau sudah terbiasa memasak ya?" tanya Kaori. Souji cuman tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Kaori. Dengan kerjasama dari mereka berdua, masakan mereka berdua akhirnya selesai dengan cepat dan sempurna. Nanako terkejut dengan apa yang telah Souji dan Kaori buat.

"Ini, kalian yang membuatnya?" tanya Nanako takjub. "Nanako, kamu mau coba?" tanya Kaori. Nanako mengangguk senang lalu mengambil suapan pertama. Begitu nasi itu sudah masuk kedalam mulut Nanako, wajah Nanako menjadi cerah. "Wah, Nasi goreng ini enak sekali, kapan-kapan tolong ajari aku membuatnya ya." Pinta Nanako dengan tersenyum, Kaori maupun Souji langsung menyetujuinya. Tak lama setelah itu pintu depan terbuka diikuti dengan suara Dojima.

"Aku pulang" ucap Dojima dengan nada lesu. "Selamat datang" sambut mereka bertiga secara serentak. Begitu Dojima masuk ia duduk di sofa dan mengenyakan diri. "Wah, makanan buatan siapa tuh? Kelihatannya enak."

"Ini buatan Kak Souji dan Kak Kaori." Jawab Nanako cepat. Dojima terkejut sekaligus takjub kepada mereka berdua. "Wah, kalau begitu kita tidak usah membeli makanan di luar lagi dong." Mereka berempat tertawa bersama. Tiba-tiba acara yang sedang di tonton Nanako berubah menjadi acara berita.

"Kita kembali pada sekilas info. Pembunuhan aneh yang terjadi pada Mayumi Yamano sampai saat ini belum menemukan titik terang. Berdasarkan hasil otopsi, tidak ada tanda-tanda kekerasan dan lorban tidak memiliki penyakit yang mematikan. Menurut saksi mata setempat, ia hanya melihat sesosok tubuh yang tergantung diantena sebuah rumah." tiba-tiba gambar berubah yang tadinya hanya lelaki dewasa pembawa berita menjadi seorang remaja perempuan dengan rambut pirang pucat dengan wajah yang sengaja di buramkan. "Nah, kita berada disini bersama seorang saksi mata yang melihat kejadian tersebut, apakah anda melihat kejadian tersebut?" tanya sang reporter tersebut kepada remaja itu. "Huh? Aku hanya melihat orang itu tergantung di antena tersebut." jawab Remaja itu dengan suara disamarkan. "Apakah anda melihat ada orang yang mencurigakan disitu?" tanya Reporter itu lagi. "Huh? Tidak, tidak ada orang lain disitu, hanya seorang kakek-kakek tua yang di temani oleh anjing berbulu coklatnya." Tiba-tiba gambarnya berubah lagi kelelaki pembawa berita tersebut.

"Hey, bukankah itu Saki Konishi yang kita temui di Junes tadi?" tanya Kaori. "Sepertinya memang dia, dari rambutnya memang tidak salah lagi itu memang dia." Dojima tidak sengaja mendengar pembicaraan kedua remaja yang berada di depannya. "Jadi kalian mengenal Saki Konishi,heh?" Kaori dan Souji mengangguk secara bersamaan, tapi mereka berdua merasa ada yang ganjil dari perkataan Dojima, darimana dia tau tentang Saki Konishi? "uh, Paman Dojima tahu dari mana mengenai Saki Konishi?" tanya Souji. Dojima menganggkat alisnya. "Dia tadi kami interogasi mengenai pembunuhan nona Yamano, tapi yang sepeti kita ketahui, kata-katanya sama seperti yang berada di TV." Tiba-tiba mata Dojima tertutup diikuti dengan dengkuran keras tang keluar dari mulutnya yang sedikit terbuka.

"Ayah sepertinya kelelahan." Nanako memandang ayahnya dengan pandangan kasihan, Kaori lalu mengajak Nanako untuk tidur, walaupun ini bukan waktunya Nanako untuk tidur. Nanako menurut setelah mendengarkan penjelasan dari Souji bahwa kalau dia disini akan mengganggu Dojima yang sedang tertidur. Sepertinya Souji dan Kaori sudah tau tugasnya masing-masing, kalau Kaori yang biasa menemani Nanako tidur, Souji bertugas membersihkan piring-piring kotor. Selesai menjalankan tugasnya, Souji segera pergi kekamarnya yang ternyata Kaori sudah berada di kamar itu dengan piama yang biasa ia pakai.

"Cepat sekali, kau membuat Nanako tertidur." Tiba-tiba suara rintik-rintik air terdengar dari luar kaca jendela. Souji membuka gorden jendelanya dan tetes-tetes hujan membasahi atap rumah Dojima. "Jadi, apa kita harus menunggu sampai tengah malam?" Souji menatap Kaori dan menjawab pertanyaan yang di longtarkan Kaori dengan anggukan singkat.

.

.

.

Waktu menununjukan pukul 11:55 PM, hanya butuh waktu lima menit untuk mencapai tengah tidak merasa mengantuk sama sekali, bagi Souji ini sudah seperti hal yang biasa karena ia bangun sampai jam 12 malam untuk belajar. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Kaori, ia sekarang sudah tertidur disofa dengan sebuah selimut yang menjaga dirinya agar tetap hangat. Souji duduk tepat dilantai di depan sofa sambil memainkan laptopnya.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pikil 11:59 PM. Souji beranjak berdiri dari meja dan berjalan menuju TV.

11:59:57

11:59:58

11:59:59

00:00:00

Waktu telah menunjukan tengah malam, tapi dilayar TV tidak tampak satu gambarpun yang terlihat. 'Huh, ternyata memang mitos' batin Souji. Tiba-tiba layar menyala dengan sendirinya dan menampilkan seorang wanita dengan teriakan lirih dan menjelaskan kalau ia menderita. Souji terkejut melihat pemandangan unik ini. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Entah apa yang membuatnya sakit ia tidak tahu.

'Thou Art I…'

'Eh? Su-suara apa itu? Ugh!'

'And I Am Thou…'

'The time has nearly come to use your power…'

Souji menutup matanya saking sakitnya. Begitu ia membuka matanya kembali ia sudah bukan berada di kamar miliknya dan Kaori lagi, melainkan tempat berkabut. Kabut itu lumayan tebal tapi ia merasa bahwa yang berada disitu bukan dia saja. Ia berbalik arah dan menemukan seseorang mengenakan jubah hitam memegang tombak di tangan kanannya. Wajah orang tersebut tidak terlalu kelihatan lantaran kabut yang menghalanginya.

"Apa yang akan kau lakukan jika mendapat kekuatan dariku? " tanya sosok hitam yang berada di depannya. Sebuah kata-kata meluncur dari mulut Souji tanpa ia duga. "Aku ingin menemukan suatu kebenaran dan aku ingin melindungi oran-orang yang aku cintai."

"Aku mengerti." Sosok itu mengangkat tombaknya dan menusuknya tepat di jantung Souji. "Aku menghargai kebenaran dari perkataan yang di lontarkan hatimu, sebentar lagi kau dapat menggunakan kekuatanku."

Souji membuka matanya dan sedikit kehilangan keseimbangan, ia mencoba memegang layar TV sebagai tumpuan untuk mengembalikan keseimbangannya. Tapi yang terjadi adalah tangan kanannya masuk kedalam TV tersebut diikuti dengan kepalanya. Ia terasa tertarik kedalam TV tersebut, tapi tangan kirinya telah memegang lemari pakaian sebagai tumpuan untuk menahannya masuk kedalam TV. Dengan sekuat tenaga, Souji memaksa tubuhnya agar keluar dari TV tersebut dan berhasil. Tapi ia sedikit kehilangan keseimbangan ketika berhasil keluar dari TV tersebut dan kepalanya terbentur meja kerja. Suara benturan itu membangunkan Kaori, ia segera beranjak dari Sofa dan mendekati Souji yang meringis kesakitan.

"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Kaori. "Yah, sepertinya yang dikatakan Chie benar, Midnight channel memang benar ada."


Di chapter ini mungkin belum ada Fightnya tapi saya pastikan dichap berikutnya akan ada Fightnya(Yaiyalah-digebuk-)

Terima kasih atar Review dari Hayato Arisato Wisel Infinity,Shaku Zakkousei,meshi-chan.

untuk Hayato Arisato Wisel Infinity: anak yang di mimpiin Kaori bukan Pharos, tapi juga bukan OOC saya juga, yang jelas dia masih ada hubungannya sama P3.

Untuk Shaku Zakkousei: Yup memang benar dua orang itu Chie dan Yukiko. Novel yang di baca Souji itu yang kalo di gamenya ada kata-kata machonya itu, kalo Nanako di bacain sleeping beauty makanya cepet tidur-ditembak sama Dojima-

Untuk meshi-chan: yup pokoknya Akihiko bakal muncul. dan saya harap anda dapat menebak Akihiko bakal jadi apa di fic saya ini.

dan saya ucapkan terima kasih bagi para readers yang telah membaca Fic saya walaupun anda tidak mau mereview fic saya. tapi itu tidak masalah bagi saya.

Dan mungkin saya masih banyak kesalahan dalam hal penulisan dan saya harap anda mau me Review Fic saya dengan mengklik link Review yang berada di bagian bawah fic ini.