Hallo, saya kembali dengan chap baru.

sebenarnya chap ini bisa saya upload dari 3 hari yang lalu

sayangnya ada beberapa kekurangan jadi saya tidak upload dulu.

tanpa banya bicara saya harap anda menikmati chapter ini

Disclaimer: P3 series dan P4 hanya punya Atlus


The World Inside TV

Kaori berada di tempat yang sama seperti di mimpinya yang sebelumnya. Sebuah tempat yang gelap ditemani dengan cahaya-cahaya kecil yang sangat banyak diseluruh tempat tersebut. Sama seperti sebelumnya, ia berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas sampai ia menemukan satu-satunya makhluk yang ia pernah temui sebelumnya.

Seorang anak kecil dengan rambut hitam yang poni rambutnya menutupi mata yang beriris mata berwarna merah tersenyum kepadanya. Ia merasa tak yakin apakah ia harus mendekati anak itu atau tidak, sampai anak itu memanggilnya. "Kemarilah."

Dengan ragu ia mengambil langkah mendekati anak itu sampai ia merasa bahwa ia sudah cukup dekat dengan anak itu walaupun dengan jarak agar anak itu tak dapat menyentuhnya. Senyuman anak itu makin melebar hingga menimbulkan kesan ganjil di mukanya. "Kau tampak aneh sekali, apa kau takut denganku?" Kaori merasa kesal dibilang takut kepada anak yang tepat berada di depannya. Tapi perasaan kesal itu segera hilang digantikan perasaan khawatir ketika anak itu melangkah maju mendekati Kaori.

Kaori mencoba untuk melangkah mundur, tapi kakinya tak mau digerakan seperti ada yang menahan kakinya dengan erat. Anak itu berhenti tepat didepan Kaori, mereka hanya terpisah beberapa cm saja. Anak itu menatap Kaori dengan sunyuman ganjil yang menghiasi wajahnya. "Tidak aku sangka, ternyata kita akan bertemu secepat ini ya." kata anak itu.

Tanpa ia duga, sebuah keringat dingin menetes dari keningnya, ketakutan melanda dirinya dan ia tidak tahu mengapa ia merasa ketakutan. Anak itu menatap mata Kaori dan senyuman ganjil yang menghiasi wajahnya justru membuat apa yang sedang dipikirkan anak itu sulit untuk ditebak. Tapi hanya ada satu hal yang pasti,ia mengetahui ketakutan Kaori. "Kenapa kau begitu ketakutan?" tanyanya lagi. Kaori bingung harus menjawab apa perihal ia juga tidak mengerti kenapa ia merasa ketakutan. Apakah karena tempat yang gelap ini atau ia takut terhadap anak tersebut?. Kalau benar ia takut pada kegelapan yang ada disini seharusnya sudah dari tadi ia merasa ketakutan, dari dulu malah.

Kalau ia takut pada anak itu seharusnya ketika pertemuan pertama mereka ia sudah merasa ketakutan, tapi mengapa baru sekarang ia merasa ketakutan? sementara anak kecil yang berada didepannya ini hanya menatapnya tanpa menghilangkan senyumannya. Kaori memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan anak itu, "Aku tidak tahu." jawaban yang cukup singkat dan pendek, tapi sudah cukup mewakili semua hal yang membingungkan ini.

"Jadi, kau tidak tahu apa yang membuatmu takut huh?" Kaori mengangguk. Anak itu berkacak pinggang dan kepalanya sedikit di miringkan. Kesan angkuh itu membuat Kaori sedikit kesal, tapi ia sudah tak bisa berbuat apa-apa dan hanya dapat berbicara saja. "Apa kau bermaksud mengejekku huh?" gertak Kaori. Tapi gertakan itu makin membuat senyum anak itu bertambah lebar.

"Mengejekmu? Kenapa kau berpikir aku mengejekmu?" tanya anak itu. "Gayamu itu seperti kau mengejekku." Anak itu terkejut dengan gayanya atau pura-pura terkejut?. "Gayaku ya? Hmm..maafkan aku kalau itu membuatmu kesal."

"Kalau begitu ada urusan apa kau bertemu denganku lagi?" tanya Kaori. Anak itu mulai memutar-mutar telunjuk jari kanannya. "Aku hanya ingin memperingatkanmu, sudah hampir tiba saatnya kau menjalani apa yang seharusnya menjadi tugasmu." Kaori bertanya-tanya dalam hati apa yang dimaksud anak yang berada didepannya sekarang ini. Anak itu menatap wajah Kaori tajam dan sepertinya ia menyadari kebingungan Kaori.

"Jalan yang akan kau lalui sangat banyak dan apakah kau tau dimana ujung dari masing-masing jalan yang akan kau lalui?" tanya anak itu. Kaori menggeleng, apakah ini sebuah teka-teki? Apakah ini adalah petunjuk yang akan membantunya pada sebuah tugas yang dikatakan anak ini?.

"Aku tahu kau masih bingung, tapi pilihlah dan jalanilah jalan yang akan kau lalui dan pada akhirnya kau akan tau ujung setiap jalan yang akan kau lalui." Anak itu memutar badannya beranjak pergi meninggalkan Kaori di belakangnya. Sebelum anak itu pergi Kaori ingin menanyakan satu hal yang penting menurutnya, ia memanggil anak itu sebelum anak itu kembali menghilang di telan kegelapan.

"Hey kamu, boleh aku tahu siapa namamu?" Anak itu memutar badannya dan menghadap Kaori kembali, ia tersenyum kepada Kaori, tapi senyumannya berbeda dari senyuman yang sebelumnya, senyuman kali ini lebih mengarah sebuah perasaan gembira. "Oh, benar juga aku belum memperkenalkan diriku." Anak itu menunduk sekali ia mendongkak kearah Kaori. "Kau bisa memanggilku Aimont, dan senang berkenalan denganmu Kaori." Kata Aimont(Dibaca: Emon). Kaori terkejut, ia merasa bahwa sebelumnya ia tidak pernah memperkenalkan dirinya sama sekali kepada Aimont tapi ia sama sekali tidak tahu kenapa Aimont bisa mengetahui namanya. Sebelum pertanyaannya terjawab Aimont telah menghilang didalam kegelapan, meninggakan ia sendirian ditengah kegelapan yang mencekam.

.

.

.

"Jadi, sudah jelaskan siapa yang menang?" tanya Chie dengan senyum kemenangan yang tertera diwajahnya. Sementara Yosuke dengan muka pasrah mengakui kalau Midnight channel itu ada. "Kalau begitu Yosuke kau traktir aku makan steak di Junes ya." Yosuke terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Chie. "Hey, sejak kapan ada kesepakatan macam itu?" Yosuke berusaha membela dirinya yang sebenarnya untuk menjaga uangnya agar tidak habis oleh keganasan Chie.

"Sejak kau kalah bertaruh denganku." kata Chie tidak mau kalah. Diantara perdebatan Chie dan Yosuke, Kaori sedang bicara dengan Souji tentang masalah Midnight Channel. Sedangkan Yukiko masih dengan sabarnya mencoba melerai duel argumen Yosuke dan Chie, sayangnya suara Yukiko terlalu kecil dibandingkan teriakan-teriakan yang dilontarkan Yosuke dan Chie.

"Souji, apa kau bisa memperkirakan siapa orang yang ada di Midnight semalam?" Kaori bertanya sambil membaca buku sosiologi. Souji yang dari tadi melihat tangan kanannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan Kaori bahwa ia hanya melihat baju seragam sekolah dan rambut mendongkak, ia merasa mengetahui orang yang mirip dengan ciri-ciri yang baru saja di sebut Souji.

"Kak Saki? apa kau yakin?" tanya Souji kurang yakin akan pendapat Kaori. "Aku sebenarnya kurang yakin tapi bukankah ciri-ciri yang kau sebutkan mirip dengan ciri-ciri yang di miliki Kak Saki?" Souji memegang dagunya dan berpikir. Yosuke dengan tampang muram menepuk punggung Souji. "Sou kau mau ikut ke Junes nanti?" tanya Yosuke. Souji melihat wajah Yosuke lalu melirik kearah Chie, Souji tahu kalau Yosuke baru saja kalah perang karena ia melihat senyum kemenangan dari wajah Chie.

"Jadi—kau mau ikut?" Yosuke mengulangi pertanyaannya. Souji menyutujui ajakan Yosuke. Ia menepuk pundak Kaori dan memberi isyarat kalau ia lebih baik ikut dengannya. Chie mencoba mengajak Yukiko tapi jawaban yang di lontarkan Yukiko sama seperti hari sebelumnya, bahwa ia harus membantu penginapan milik orangtuanya. Akhirnya mereka berempat pergi ke Junes.

Sesampainya mereka di food court Chie langsung memesan steak yang ternyata Kedai Steak baru buka hari ini. Sementara Chie memesan steak Yosuke,Kaori dan Souji membicarakan hal yang mereka lihat tadi malam.

"Jadi menurut kalian siapa orang yang berada di Midnight channel tadi malam?" Yosuke bertanya kepada Souji dan Kaori. Kaori menjelaskan perkiraannya kepada Yosuke. Yosuke menganggkat alisnya. "Kak Saki? tapi setahuku ia tidak kemana-mana kemarin, menurut yang kudengar ia langsung pulang kerumahnya." kata Yosuke. "Tapi, kemarin ia dibawa ke kantor polisi bukan?" Yosuke terkejut mendengar hal itu, ia tak tahu kalau ternyata Saki dibawa kekantor polisi.

"Darimana kalian tahu kalau Kak Saki dibawa kekantor polisi?" Souji langsung menjelaskan kalau ia diberitahu pamannya Saki Konishi dibawa kekantor polisi karena ia menjadi saksi pertama yang melihat mayat Mayumi Yamano. "Jadi kemarin ia di tangkap polisi huh?"

"Bukan di tangkap, hanya di periksa saja dan mungkin karena itu hari ini ia tak bisa masuk." Jelas Kaori. Tak lama setelah itu Chie datang membawa makanannya dan bergabung dengan mereka. "Hey, jadi kalian tahu siapa yang ada di Midnight channel semalam?" Yosuke langsung menjelaskan apa saja yang baru saja mereka bicarakan.

"Benar juga, disekolah tadi aku tidak melihat kak Saki sama sekali." Kata Chie setelah mendengar penjelasan Yosuke. "Kita lupakan hal aneh ini, bagaimana kalau kalian jalan-jalan melihat-lihat Junes?" tawar Yosuke kepada Kaori dan Souji. "Hey, kalian mau meninggalkan aku makan sendirian disini?"

.

.

.

Setelah berjalan-jalan menelusuri ruko-ruko yang berada di dalam Junes, mereka akhirnya sampai di pusat elektronik. Disana berjejer TV-TV LCD, Radio, AC dan sebagainya. Mereka berjalan sambil melihat-lihat TV dan berhenti di sebuah TV yang berlayar cukup besar. Chie terkagum-kagum TV berlayar besar tersebut. Tiba-tiba Handphone Souji berbunyi, ia segera mengambil Handphone miliknya dari dalam saku celananya. Ia melihat nomor yang tidak ia kenal tertera di layar Handphonenya, ia segera menekan tombol bergambar ganggang telepon perwarna hijau di Handphonenya lalu mendekatkan Handphone itu ke telinganya.

"Hai adikku bagaimana kabarmu disana?" tanya suara yang sangat dikenali Souji. Kening Souji langsung berkedut mendengar suara orang yang di bencinya, dengan cepat ia segera memutuskan sambungannya dengan kakaknya tersebut. Tak beberapa kemudian Hpnya berbunyi lagi dan Souji langsung menekan tombol berwarna merah dan mematikan Hpnya. Kaori yang dari tadi memperhatikan langsung bertanya kepada Souji.

"Tadi yang meneleponmu siapa?" Souji menggeleng sambil memasukan Hpnya kedalam saku celananya. "Bukan siapa-siapa." kata Souji. Lalu mereka berdua melihat Yosuke dan Chie yang saling berpandangan, entah apa yang mereka berdua pikirkan. Tiba-taba tangan mereka menyentuh layar TV tersebut. Selama beberapa detik mereka diam dan terus menatap layar TV tersebut.

"Yah, mana mungkin kita bisa masuk kedalam TV dengan cara macam itu." kata Yosuke sambil menggeleng-gelengkan kepala karena tindakan bodohnya. "Yah, kau benar." kata Chie setuju. Lalu mereka berdua berjalan menjauh diikuti oleh Kaori. Sedangkan Souji masih menatap layar TV tersebut dan beralih menatap tangan kanannya. Tanpa berpikir panjang Souji segera mendekati layar TV itu dan menyentuh layarnya. Betapa terkejutnya ia ternyata tangannya masuk dan muncul riak putih dari tangannya yang masuk.

"Nona-nona ini adalah TV keluaran terbaru musim ini, dilengkapi dengan Boom speaker dan—SOUJI APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Yosuke kaget. Chie dan Kaori membalik badannya dan ikut terkejut melihat tangan Souji masuk kedalam TV berlayar lebar yang baru saja disentuh Yosuke dan Chie. Mereka bertiga langsung mendekati Souji.

"Souji, bagaimana bisa kau memasukan tanganmu seperti itu?" tanya Yosuke. "Aku tak tahu, sejak kejadian tadi malam tanganku bisa masuk kedalam TV." Souji menjelaskan kejadian setelah tayangan Midnight Channel, dan mereka bertiga takjub mendengar cerita Souji.

"Tapi bagaimana bisa, aku menonton tayangan itu tapi tidak terjadi apa-apa." kata Yosuke. Souji angkat bahu, ia lalu memasukan kepalanya kedalam TV. "Aduh, aku jadi ingin buang air kecil." keluh Yosuke, tiba-tiba ia melihat 2 orang pengunjung mendekati mereka. "Waduh, ada pengunjung datang kesini, bagaimana ini, BAGAIMANA INI!" mereka bertiga panik dan tanpa sengaja Yosuke terpeleset dan menyenggol Souji, Kaori dan Chie. Mereka berempat masuk kedalam TV tersebut dan meninggalkan riak putih di layar TV tersebut.

Mereka berempat jatuh dengan benturan yang lumayan keras. Mereka berempat bangun sambil meringis kesakitan. Begitu mereka sudah bangun mereka menyadari kalau tempat yang mereka pijaki saat ini bukanlah Junes, melainkan tempat aneh dan berkabut.

"Hey, tempat ini aneh sekali berkabut dan mirip seperti studio." kata Chie. Souji dan Kaori memerhatikan tempat itu dengan seksama, walau di tutupi oleh kabut kentara sekali tempat itu memang seperti sebuah studio. Yosuke mengambil Hpnya dari saku celananya dan kecewa ketika ia melihat kalau ditempat itu dtidakada sinyal.

"Aku mau keluar dari sini, aku tidak mau ada disini" rengek Chie. Kaori mencoba menenangkan Chie dan Souji melihat keadaan sekitar. Ia melihat sebuah riak berwarna merah dan hitam diujung sebuah tangga. "Kalau kita ingin keluar lebih baik kita mencari jalan keluarnya, lihat disana ada sesuatu dan mungkin saja itu pintu keluarnya." kata Souji menunjuk riak tersebut. Yosuke,Kaori dan Chie menyetujui usul Souji dan mereka berjalan menuju riak tersebut. Ketika mereka memasuki riak tersebut merekasampai disebuah balkon seperti balkon apartemen, dan di depan mereka terdapat sebuah riak lagi.

"Hey, apa benar ini jalan yang benar untuk keluar dari sini?" tanya Kaori. "Aku tak tahu tapi tidak ada salahnyakan mencoba." jawab Souji sambil berjalan menuju riak tersebut. Ketika mereka menembus riak tersebut mereka sampai disebuah kamar yang remang-remang dengan banyak poster dan sebuah kursi yang diatasnya tergantung sebuah tali dan sapu tangan merah.

"Tempat mengerikan sekali dan uh aku tak tahan lagi." Yosuke langsung berlari kesudut kamar dan bersuci disitu. "Ih, kau jorok sekali Yosuke." keluh Chie. Setelah selesai menunaikan tugas sucinya, Yosuke mendekati teman-temannya. "Baiklah kita sudah berada disini dan tidak ada jalan keluar dan BAGAIMANA CARANYA KITA KELUAR!" Chie menggerutu keras sambil menghentak-hentakan kakinya kelantai. Yosuke tidak menghiraukan gerutuan Chie, ia terus memperhatikan poster-poster yang terpasang di dinding kamar tersebut.

"Sepertinya aku pernah melihat poster ini tapi dimana ya?" kata Yosuke sambil melipat tangannya di dadanya. "Itu tidak penting, yang penting sekarang kita harus mencari jalan keluarnya." kata Chie. "Aku serius, aku merasa pernah melihat poster ini tapi kenapa kepalaku terasa berat ya?" Ucap Yosuke. Memang benar kepala mereka berempat terasa berat dan pusing. "Lebih baik kita kembali ketempat awal." instuksi Souji disetujui oleh Kaori,Chie dan Yosuke dan mereka berempat segera kembali ketempat semula.

"Jadi kita tidak menemukan jalan keluar dan—HEY, APA ITU?" teriak Kaori sambil menunjuk kearah sebuah bayangan. Bayangan itu pendek dan besar, bayangan itu mendekati mereka dan Souji dan Yosuke sweatdropped melihat sosok bayangan itu. sosok bayangan itu adalah mascot beruang lucu bertampang innocent dan sama sekali tidak meyeramkan. "Kyaa, lucu sekali beruang itu!" kata Kaori dan ia langsung mendekati beruang itu dan mengelus-elus kepala sang beruang. Beruang itu yang awalnya tersenyum makin tersenyum lebar.

"Rawr~ enaknya di elus-elus, aku memang beruang paling beruntung di dunia." Kata mascot itu memuji dirinya sendiri. Souji,Yosuke dan Chie sweatdropped lalu mereka mendekati mascot tersebut. "Hey, kau ini siapa? Dan tempat apa ini." tanya Yosuke ke beruang itu.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, siapa kalian, dan sedang apa kalian di duniaku?" tanya beruang itu. Kaori berhenti mengelus beruang itu lalu mulai menjelaskan apa yang terjadi kepada beruang itu. "Tapi kalian harus keluar dari sini, disini terlalu berbahaya bagi kalian." Kata beruang itu memperingatkan. " Oh ya? Kalau begitu bagaimana caranya kita keluar dari sini? Sedangkan dari tadi kami berempat sudah berjalan kesana kemari dan tidak menemukan jalan keluar." Ucap Chie sinis. Beruang itu menghentak-hentakan kakinya kelantai dan muncul 3 buah TV yang menumpuk menjadi satu.

"Ini jalan keluarnya." Kata beruang itu. "Jalan keluar? Bagaimana caranya?" tanya Kaori bingung. "Sudah jangan banyak bicara, cepat-cepat-cepat." Ucap Beruang itu sambil mendorong mereka berempat menuju ke TV-TV tersebut. Mereka berempat masuk kedalam TV-TV tersebut sama seperti mereka masuk kedalam TV LCD di Junes.

Mereka terjatuh ditempat yang sama sebelum mereka masuk kedalam TV. Tempat yang dipenuhi barang-barang elektronik dan pengunjung. Mereka sadar bahwa mereka berada di pusat elektronik di Junes. Mereka berdiri lalu berpisah untuk pulang kerumah masing-masing.

Sesampainya Souji dan Kaori dirumah Dojima ternyata Nanako sudah menunggu mereka berdua, dan ternyata ia sudah menyiapkan makan malam untuk 3 orang. Souji dan Kaori tahu bahwa Dojima sepertinya tak bisa pulang mala mini karena makanan yang di sediakan Nanako hanya untuk tiga orang.

"Kak Souji tadi ada yang menelepon kakak." Kata Nanako. "Siapa yang menelepon?" tanya Souji. "Kalau tidak salah namanya Akihiko." Souji langsung mengernyit kesal mendengar nama Akihiko. "Nanako, kalau orang itu menelpon lagi lebih baik kamu tutup saja dan kalau kamu tidak mau menutup dan dia menanyakan keberadaanku bilang saja aku sedang pergi ya?" Kaori terkejut mendengar ucapan Souji. "Souji kau jangan mengajarkan Nanako untuk berbohong." Tegur Kaori tapi ia merasa tahu nama Akihiko dan ia terkejut mengetahui siapa Akihiko itu. "Souji, Akihiko Sanada itu bukannya inspektur muda yang terkenal itu bukan." dengan enggan Souji mengangguk. "Dan ia adalah kakakmu!" Souji mengangguk lagi. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Kaori tapi Souji hanya diam saja.

"Tapi kenapa kak Souji mukanya kesal seperti itu mendengar nama Akihiko." Tanya Nanako. "Dia pembunuh." Gumam Souji. Kaori dan Nanako kaget mendengar gumaman Souji. "Pembunuh apa maksudmu?" Souji menatap Kaori, ia menghela nafas sejenak lalu mulai menceritakan kejadian pahit yang pernah dialaminya.

"Dulu aku punya seekor anjing berbulu hitam, ia kuberi namanya Kuro. Aku memeliharanya sejak ia masih kecil, aku dan Kuro selalu besama dan aku selalu merawatnya. Setiap hari ketika aku pulang dari sekolah Kuro selalu menyambutku dan ia selalu menemaniku jalan-jalan ataupun ketika aku disuruh pergi berbelanja Kuro selalu menemaniku." Souji berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya. "Sampai ada kejadian itu." Kaori dan Nanako menyimak cerita Souji tanpa melepaskan pandangan darinya. "Tepat ketika kita liburan musim dingin Akihiko pulang ke Tokyo dari sekolahnya di Tatsumi Port Island, saat itu aku aku kelas 6 SD dan Akihiko kelas 3 SMP. Ia pulang mengajak temannya untuk menginap dirumah kami, teman-teman yang ia ajak yaitu yaitu Mitsuru dan Shinjiro. 3 hari setelah kepulangannya ia mengajakku pergi ketaman bersama teman-temannya dan aku setuju. Ketika aku pergi bersama mereka otomatis Kuro mengikutiku. Ketika kami berada ditaman Akihiko mengajak Shinjiro bermain bola bersamanya, sementara aku,Kuro dan teman Akihiko yang perempuan yaitu Mitsuru hanya menonton mereka. Tiba-tiba Kuro mambawakanku sebuah ranting, ia menatapku dan aku mengerti apa yang ia inginkan. Aku mengambil ranting itu dan melemparnya kearah jalan raya, yah walaupun ranting itu jatuh dekat gerbang taman. Kuro mengejar ranting itu dan ia berhasil mengambilnya." Souji berhenti lagi,ia menari nafasnya dalam-dalam lalu melanjutkan ceritanya.

"Saat itulah kejadian itu terjadi,kejadian dimana Kuro meninggal." Kata Souji dengan wajah yang mengernyit pahit. "Bola yang ditendang Akihiko mengenai Kuro dan Kuro terlempar sampai kejalan raya. Kejadian itu berlangsung cepat, sebuah truk yang sedang lewat menabrak Kuro dan ia meninggal seketika itu juga." Souji mengakhiri ceritanya. Ruangan itu menjadi sunyi sampai Kaori mulai berbicara. "Aku turut berduka atas kejadian itu." Nanako juga mengucapkan hal yang sama sepeti apa yang baru saja Kaori katakan.

"Tapi bukankah itu hanya sebuah kecelakaan?" tanya Kaori. "Yah, memang itu sebuah kecelakaan tapi aku tetap tak bisa memaafkannya maupun memaafkan diriku sendiri sampai sekarang." Ruangan keluarga itu kembali sunyi,yang terdengar hanyalah dentingan-dentingan sumpit dari mereka selesai lebih dahulu lalu ia menaruh makanannya di bak cuci piring lalu pergi kekamarnya dan Kaori. Kaori dan Nanako hanya terdiam.

Setelah mereka berdua menyelesaikan makan malam, Nanako pergi kekamarnya dan Kaori mencuci piring kotor. Setelah selesai ia segera pergi kekamarnya dan melihat Souji sudah tertidur di Futon miliknya. Kaori hanya melihat Souji dengan pandanga perihatin.

"Aku turut sedih,Souji"


Akh, ternyata battlenya bukan berada di chapter ini ternyata huhuhuhu*Dihajar Readers*

Aniways terima kasih atas Reviewnya kepada NeeNao dan meshi-chan.

Dan terima kasih bagi yang telah membaca Fic saya dan mungkin ada salah-salah kata. Dan saya sebagai manusia pasti punya kesalahan dan bagi anda yang mau mengkeritik saya tolong klik link Review di bawah ini.