Hallo semua, maaf atas keterlambatan update-dihajar-
akhir-akhir saya terlalu sibuk jadi maaf kalau sering kelamaan gak update-ditinju-
tanpa banyak bacot please enjoy this chapter
disclaimer: P3 Series dan P4 cuman punya Atlus.
All Begins
Pagi ini berkabut, tentu saja di kota kecil bernama Inaba ini suatu hal yang biasa. Tapi suara sirine polisi memecahkan ketenangan kota kecil itu. Souji yang sedang menyortir buku-buku pelajarannya berhenti sejenak dan menatap keluar jendela. Ia merasa bahwa ada kasus baru lagi yang muncul. Ia menghela nafasnya sejenak lalu melanjutkan menyortir buku-buku pelajarannya kembali. Setelah selesai ia segera turun untuk sarapan bersama Nanako dan menunggu Kaori selesai mandi.
Begitu sampai dibawah, Souji segera mendekati Nanako dan duduk untuk memakan sarapannya. Ketika sedang melahap makanannya Souji melihat muka Nanako yang murung dan ia tahu apa penyebab Nanako bertampang seperti itu. "Ayahmu tidak pulang ya semalam?" Nanako mengangguk. Sejak kasus Mayumi Yamano, Dojima memang sering pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi buta. Souji merasa kalau apa yang di alami Nanako hampir sama dengannya, orang tuanya jarang sekali pulang dan selalu meninggalkan ia seorang diri dirumah sedangkan kakaknya tinggal di asrama. Ia memang pernah ditawari untuk tinggal di asrama bersama Akihiko di Port Island, tapi ia menolak dengan alasan 'Jauh dari orang tua' walaupun alasan sebenarnya ia tidak ingin tinggal di asrama karena ada Akihiko.
"Kenapa ayah selalu mementingkan pekerjaannya? Apakah ayah tidak menganggap aku sebagai anaknya lagi?" perkataan Nanako membuat Souji menganggkat alisnya. Souji juga pernah berpikiran seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu ia menjadi mengerti mengapa orangtuanya selalu lebih mengutamakan pekerjaanya.
"Nanako, ayahmu bukannya tidak menyayangimu malah ia lebih menyayangimu dari apa yang selama ini kamu duga." Kata Souji. Nanako sekarang menatap Souji dengan pandangan kalau ia tidak mengerti. Souji menghela nafasnya sejenak lalu mulai berbicara lagi. "Kamu tahu kenapa ayahmu bekerja sampai larut malam seperti itu?"
"Tentu saja, untuk menangkap penjahat." jawab Nanako. Souji menggelengkan kepalanya. "Secara teknis begitu, tapi sebenarnya ayahmu bekerja seperti itu untukmu Nanako." Nanako semakin tidak mengerti maksud penjelasan Souji. "Maksud ayah bekerja untukku itu apa?"
"Ayahmu bekerja seperti itu agar kamu aman Nanako, tadi kamu bilang ayahmu bekerja untuk menangkap penjahatkan? Maka dari itu ia berusaha menangkap para penjahat agar tidak ada orang yang berbuat jahat kepadamu."
Nanako mengangguk-ngangguk mengerti, wajahnya sedikit lebih cerah dari yang tadi. Souji melihat jam dinding dan ia baru ingat arlojinya yang ia tinggal di kamar. Ia segera berdiri lalu naik kekamarnya. Ketika ia berada di depan pintu ia merasa kalau ada yang tidak beres. Benar saja, ketika ia membuka pintu ia melihat Kaori sedang mengenakan baju seragamnya yang baru ingin di kancing, sedangkan bawahanya ia belum memakai rok sama sekali yang artinya ia hanya memakai celana dalam saja. Mereka berdua shock selama beberapa detik dan diikuti dengan jeritan Kaori dengan wajah merah padam. Ia segera mengambil barang apapun yang bisa ia jangkau lalu melemparnya kearah Souji. Sementara Souji dengan muka merah karena malu segera lari menuruni tangga.
"Ada apa, kok tadi aku mendengar kak Kaori teriak?" tanya Nanako. "Bukan apa-apa Nanako, cuman kesalah pahaman kecil." Souji memalingkan wajahnya sedikit agar rona merah di wajahnya tidak telihat. Mereka berdua segera melanjutkan sarapan. Tak lama kemudian Kaori turun dengan muka merah padam dan tentu saja ia mengenakan seragam lengkap dari atas sampai bawah. Ketika Souji menengok kearah Kaori, Kaori langsung memalingkan mukanya. Ia segera duduk dan memakan sarapannya dengan cepat, ia juga tidak memperdulikan tatapan bersalah dari Souji. Nanako yang tidak tahu apa-apa cuman menatap mereka berdua dan berkata. "Kalian berdua kenapa?"
Setelah mereka menyelesaikan sarapan. Mereka segera beranjak untuk pergi kesekolah masing-masing. Tapi karena kejadian tidak mengenakan tadi Kaori pergi terlebih dahulu meninggalkan Souji. Souji mengharapkan kemarahan Kaori bisa cepat mereda, keadaan seperti ini sangat mengganggunya. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Nanako ia segera pergi menuju sekolahnya. Ketika ia berjalan di sebuah pertigaan ia melihat garis polisi menutup sebuah jalan yang berlawanan dengan arah sekolahnya. Souji melirik kearah jalan tersebut dan melihat pamannya sedang berbicara dengan beberapa polisi, sementara asistennya yang pernah ia jumpai ketika ia bersama Yukiko,Kaori dan Chie sedang muntah-muntah diselokan. Souji melihat arlojinya dan berjalan kembali menuju sekolahnya.
Ketika ia sampai di sekolah, terdengar suara gaduh murid-murid lain yang sedang membicarakan suatu hal. Souji tanpa sengaja mendengar seorang murid perempuanberbicara dengan temannya. "Hey kau tahu, salah satu murid sekolah kita ada yang meninggal loh." kata murid perempuan itu. Souji hanya menghela nafasnya lalu melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya. Ketika sampai, Souji melihat keempat temannya sedang berkumpul. Ia segera menaruh tasnya di mejanya dan mendekati mereka berempat.
"Hey Sou, Kau sudah dengar tentang kabar yang beredar." tanya Yosuke. "Maksudmu tentang anak murid dari sekolah kita ada yang meninggal?" Yosuke mengangguk."Aku belum tahu secara detail, memang ia kenapa?"
"Kita juga belum tahu juga, tapi emang dasar anak-anak mereka langsung membuat gosip macam-macam ada yang bilang ia dibunuh, ada yang bilang kecelakaan, ada juga yang bilang ia bunuh diri." kata Chie. "Memangnya yang meninggal itu siapa" tanya Souji. Teman-temannya hanya menggeleng. Ketika ia menatap Kaori, Kaori langsung memalingkan mukanya lagi yang sepertinya ia memang masih marah.
Tiba-tiba bel pengumuman berkumandang diikuti dengan suara petugas informasi yang menyampaikan sebuah pengumuman.
"Kepada seluruh murid diharapkan agar menuju Aula sekarang juga. Sekali lagi kepada seluruh murid diharapkan agar menuju Aula sekarang juga, terima kasih." suara petugas itu menghilang digantikan dengan suara gaduh dari kelas maupun koridor sekolah. Souji,Kaori,Yosuke,Chie dan Yukiko hanya saling menatap satu dengan yang lain dan mereka berlima langsung pergi Aula yang dimaksud.
Sesampainya mereka disana, Aula tersebut sudah terisi sebagian murid-murid. Diatas podium bediri seorang guru wanita dan dipinggir podium duduk seorang pria paruh baya dengan jenggotnya yang lumayan panjang.
"Ehm, terima kasih atas kehadiran kalian semua disini, ada hal-hal yang ingin di sampaikan oleh kepala sekolah kepada kalian, kepada kepala sekolah di persilahkan." Guru itu mempersilahkan kepala sekolah itu untuk maju ketengah podium. Sang kepala sekolah segera berdiri lalu berjalan dengan badan tegak layaknya ia masih muda. Ketika kepala sekolah tersebut sampai di tengah podium ia segera mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Ehm, Hari ini kita telah kehilangan salah satu murid terbaik sekolah kita yaitu Saki Konishi." terdengar suara gemuruh dan shock dari murid-murid , Souji,Kaori,Chie dan Yukiko shock mendengar berita ini tapi tidak ada dari mereka yang shock melebihi Yosuke. Matanya membalak tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Souji melihat kearah temannya tersebut lalu menepuk punggungnya agar ia tegar.
"Ia ditemukan meninggal jalan Arakawa tepat tadi pagi, dan mari kita berdoa agar arwahnya tenang disana, berdoa mulai." setelah Komando dari Kepala sekolah, semua orang yang berada disitu menunduk dan memanjatkan doa untuk Saki Konoshi. Setelah pengumuman iru semua orang menjadi ricuh membicarakan kematian Saki Konishi kecuali Yosuke, Ia hanya diam dan tidak berbicara sedikitpun.
.
.
.
Sepanjang hari Yosuke hanya diam dan tidak banya berbicara, ia hanya berbicara jika ia ditanya. Melihat sikap Yosuke seperti itu Souji, Kaori, Chie dan Yukiko mencoba memberinya semangat mulai dari menceritakan hal lucu sampai mentraktirnya makan steak(yang ini adalah ide Chie). Tapi semua usaha itu berjalan sia-sia, Yosuke masih bertampang murung dan lesu sampai bel pulang sekolah. Seperti biasa Yukiko selalu pergi terlebih dahulu karena ada urusan dengan penginapan yang dikelola oleh keluarganya. Ketika mereka berempat sampai di loker sepatu tiba-tiba Yosuke mulai berbicara. "Aku harus kesana."
Souji,Kaori dan Chie kaget karena Yosuke mulai berbicara. "Yosuke, kau mau kemana?" tanya Chie. Yosuke menatap Chie galak. "Tentu saja ke tempat itu, mau kemana lagi?" "Tempat itu terlalu berbahaya, apa lagi kita tidak tahu bagaimana cara kembali dari sana kalau tidak ada beruang itu." kata Kaori. "Kalau soal itu aku sudah memikirkan caranya." Yosuke langsung berlari keluar dari sekolah itu. sedangkan Souji,Kaori dan Chie hanya saling pandang.
"Jadi bagaimana?" tanya Kaori. Tanpa berbicara Souji langsung berlari mengejar Yosuke. Melihat itu Kaori dan Chie ikut berlari mengikuti Souji.
Sesampainya di Junes mereka langsung pergi kebagian elektronik, disana mereka tidak menemukan Yosuke sama sekali. Tak lama setelah itu Yosuke muncul sambil membawa Stick Golf, tongkat besi dan tali tambang yang terikat di perutnya.
"Kali ini kita kesana tidak lagi dengan tangan kosong, masing-masing dari kalian pegang ini." Yosuke segera menyerahkan Stick golf kepada Souji dan tongkat besi kepada Kaori. Sementara tali tambang ia serahkan kepada Chie. Chie yang tidak mengerti apa maksud dari pertbuatan Yosuke langsung bertanya. "Apa maksudmu dengan ini semua Yosuke?"
"Aku, Souji dan Kaori akan masuk kedalam TV, sementara kau disini untuk memegang tali ini agar kami yang berada di dalam tidak tersesat ketika kami ingin menemukan jalan pulang." jelas Yosuke. "Tapi kenapa harus aku dan lagi apa ide ini akan berhasil?" Yosuke mengangguk dan mulai menjawab pertanyaan Chie. "Alasan kenapa kau yang memegang tali ini karena aku tak mau kau terlalu banyak menggerutu seperti halnya yang terjadi kemarin dan lagi diantara kita semua tenagamu kan yang paling kuat."
"APA KAU MENGEJEKU YOSUKE!" teriak Chie tidak memerdulikan orang-orang yang melihat mereka. Yosuke tidak terlalu memperdulikan teriakan Chie dan ia meminta Souji agar masuk terlebih dahulu. Souji mengangguk dan ia segera memasukan kepalanya kedalam TV di ikuti Kaori dan Yosuke. Dibelakang mereka Chie hanya bisa menggerutu kesal.
.
.
.
Didalam dunia TV mereka bertemu dengan beruang yang kemarin membantu mereka keluar dari TV. Beruang itu terkejut dengan kedatangan mereka kembali. Mereka bertiga segera mendekati beruang tersebut
"Hey, kenapa kalian berada disini lagi? dan dimana gadis berjaket hijau? *kuma*" tanya beruang itu. "Dia berjaga di dunia kami untuk menunjukan jalan keluar dengan menggunakan tali…LHO TALINYA PUTUS?" jerit Yosuke melihat tali yang melilit perutnya putus.
"Oh, jadi kalian yang selama ini yang mengganggu ketentraman duniaku? *kuma*" hardik Beruang itu. "Tentu saja tidak, untuk apa kami mengganggu duniamu lagi pula kami baru bisa masuk kedalam duniamu kemarin." jelas Kaori. Souji menyadari ada yang aneh disini."Tunggu dulu, memangnya ada orang lain selain kami yang dapat masuk ke dunia ini?"
"Memang ada, terakhir kali itu terjadi sekitar dua hari yang lalu. Orang terus menjerit-jerit selama ia menghadapi Shadow miliknya *kuma*." jelas beruang itu. "Shadow? Apa itu shadow?" tanya Yosuke.
"Itu adalah makhluk lain yang tinggal disini selain aku dan pasti kalian yang telah mengirim orang itu kedalam dunia ini benarkan!" Yosuke yang jengkel sudah mengangkat tangannya dan siap untuk meninju beruang itu, tapi sebelum Yosuke menjalankan niatnya tangannya tertahan oleh tangan Souji. Alih-alih memukul Yosuke menarik kepala mascot beruang itu hingga terlepas dari tubuhnya. Alangkah terkejutnya mereka kalau ternyata didalam kostum beruang itu ternyata kosong dan tidak ada apa-apa. Anehnya badan beruang itu masih bisa bergerak-gerak mencari kepalanya hingga dapat. Setelah dapat tubuh beruang itu menyatukan bagian kepalanya dengan badannya.
"Dengar, Kaori tadi sudah mengatakan bahwa kami tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di duniamu dan kami ingin tahu siapa orang yang kau sebut barusan." Berkat penjelasan dari Souji, beruang itu menjadi sedikit lebih percaya kepada mereka. Walaupun beruang itu telah member kepercayaan kepada mereka bertiga Souji tetap menanyakan siapa orang yang beruang itu tadi sebutkan.
"Hm, aku tidak tahu siapa dia tapi ia mempunyai ciri-ciri berambut putih bergelombang, mengenakan pakaian abu-abu lalu.." beruang itu tidak menyelesaikan penjelasannya karena melihat orang-orang yang berada di depannya berwajah shock. Souji menatap Yosuke yang sekarang matanya terbuka lebar akibat shock yang ia alami. Tiba-tiba Kaori meminta beruang itu menunjukan dimana terakhir kali ia melihat wanita itu.
"Baiklah akan aku tunjukan, sebelum itu perkenalkan namaku Teddie dan disini aku akan menjadi pemandu kalian." kata beruang itu memperkenalkan diri. Souji,Kaori dan Yosuke langsung memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada beruang itu. Beruang itu mengangguk lalu mengeluarkan 3 buah kaca mata berwarna hitam, kuning dan coklat.
"Pakailah, ini akan sangat membantu kalian disini.*kuma*" Mereka bertiga mengambil kacamata tersebut dari tangan kuma. Souji mengambil yang berwarna hitam, Yosuke kuning dan Kaori coklat. Mereka bertiga terkejut apa yang mereka lihat setelah memakai kacamata tersebut.
"Wow, kabut disekeliling kita menghilang, pemandangannya menjadi jernih." Kata Yosuke kagum. Setelah itu Teddie member isyarat kalau mereka bertiga harus mengikutinya. Mereka bertiga berjalan menuju sebuah pintu berbentuk riak berwarna merah dan hitam. Setelah melewati pintu itu, mereka telah berdiri dijalan yang diapit oleh ruko-ruko dengan tulisan closed atau out for business.
"Hey, bukankah ini Shopping district?" tanya Yosuke sambil melihat-lihat keadaan sekitarnya. Teddie mengisyaratkan mereka agar mengikutinya lagi. Ia berhenti di sebuah toko minuman keras dengan pintu seperti riak air. Yosuke langsung mengenali tempat itu sebagai tempat usaha keluarga Konishi.
"Ternyata keluarga kak Saki mempunyai usaha minuman keras ya?" Yosuke mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Kaori. Tiba-tiba suara-suara aneh terdengar dari arah dalam toko tersebut. Entah kenapa Teddie langsung berlindung di belakang Souji dengan wajah ketakutan.
"Teddie ada apa?" tanya Kaori khawatir. "Shadow, mereka datang." kata Teddie dengan suara yang bergetar.
Setelah Teddie mangatakanhal itu, dua buah topeng muncul dari riak tersebut. Topeng-topeng itu jatuh diikuti sebuah cairan seperti lumpur yang menempel pada kedua topeng tersebut. Anehnya lumpur-lumpur itu menggumpal dan membentuk dua buah bola besar berwarna merah muda bercampur hitam. Souji,Kaori dan Yosuke terkejut melihat bola-bola itu memiliki sebuah mulut dan lidahnya terjulur keluar,
Salah satu Shadow itu maju menyerang Souji. Souji memukul Shadow itu dengan tongkat golf sebagai usaha mempertahankan diri, tapi tongkat itu bengkok ketika tongkat itu berhasi memukul Shadow tersebut. Souji terjungkal kebelakang dan menimpa Teddie. Kaori maju menerjang Shadow tersebut tapi hasil yang sama dialami olehnya, tongkat bersinya bengkok. Sadar ada yang menyerangnya, Shadow itu memukul balik Kaori dengan lidahnya.
"Percuma *kuma* serangan biasa tidak akan mempan *kuma*." kata Teddie berusaha berdiri. Dalam kebingungan dan ketakutan kepala Souji tiba-tiba terasa sakit. Ia merasa kalau kepalanya serasa ingin pecah.
Thou…
Art i…
Suara yang sama seperti dua hari sebelumnya muncul kembali di kepala Souji. Ia menutup matanya sebentar, dan ketika ia membuka matanya ia terkejut ia tidak berada di jalanan Shopping District melainkan tempat putih berkabut. Ia melihat bayangan seseorang membawa tombak yang sama seperti dua hari yang lalu.
"Waktunya telah tiba untuk menggunakan kekuatanku, apakah kau siap untuk menerimanya?" tanya bayangan itu sambil menyerah kan tombak miliknya. Selama beberapa detik Souji terpaku melihat orang itu meyerahkan tombaknya. Ia melihat pegangan tombak itu dililit sebuah kain putih. Tanpa keraguan sedikitpun Souji langsung menggenggam tombak itu.
Setelah Souji memegang tombak itu, pemandangan sekitar berubah kembali menjadi pemandangan Shopping District. Ia merasa memegang sesuatu di tangan kanannya. Ia melihat sebuah kartu berwarna biru Velvet tepat di tangan kanannya. Rasa takut yang melandanya perlahan-lahan menghilang di gantikan sebuah keberanian yang memberinya sebuah kekuatan. Seiring keberaniannya yang terus meningkat, kartu yang berada di tanganya mulai berubah menjadi lidah api biru.
Salah satu Shadow yang melihat itu langsung menerjang Souji. Menyadari hal itu Souji menatap tajam Shadow yang menyerangnya dan melakukan sesuatu yang dari tadi ingin ia lakukan.
"Per…"
"So…."
"Na…."
Souji langsung meremas lidah api yang berada ditangan kanannya diikuti suara pecahan kaca dan jeritan Shadow yang berada baru saja menerjang dirinya. Ia melihat lidah Shadow itu menghilang diikuti oleh cairan hitam yang keluar dari mulut shadow tersebut. Sebuah suara entah darimana bergema disekeliling tempat itu.
"Thou Art I…"
"And i am thou…"
"From the sea of thy soul…"
"I've come…"
"To find the truth behind the truth"
"I am Izanagi"
"The male who invites"
Ketika Souji mengadahkan kepalanya keatas,ia melihat seorang berjubah hitam layaknya Yakuza melayang di atasnya, orang itu memakai ikat kepala dan topeng membawa tombak yang dipegangannya dililit oleh kain putih.
Yosuke,Teddie dan Kaori terkejut melihat makhluk yang melayang diatas Souji. Sementara shadow yang baru saja kehilangan lidahnya tersebut bersiap menyerang Souji kembali.
Layaknya teleport, Izanagi yang membantu Souji itu sekarang sudah berada di belakang shadow yang kehilangan lidahnya tersebut. Hanya dengan sekali tebasan saja shadow itu terbelah menjadi dua dan berubah menjadi sebuah lumpur hitam yang menjijikan. Dibelakang Izanagi, shadow yang sama sudah membuka mulutnya lebar dan berniat menggigit kepala Izanagi. Sebelum shadow itu menyentuh Izanagi sebuah petir menyambarnya dan shadow rubuh lalu berubah menjadi lumpur sama seperti shadow sebelumnya.
Setelah selesai menjalankan tugasnya Izanagi menatap Souji, melihat hal itu Souji mengangguk diikuti anggukan dari Izanagi dan ia menghilang menjadi serpihan cahaya yang masuk kedalam tubuh Souji.
Author:Oke, saya minta maaf karena lama tidak update karena akhir-akhir ini saya menjadi sangat sibuk.
Souji: Sibuk apaan kir? Bukannya kerjaan lu maen hack/G.U mulu dari kemaren?
Author:Yah, gimana yah? Mungkin juga gitu. Masalahnya saya lagi getol-getolnya maen tuh game dari Rebirth sampe Redemption.
Akihiko:Rebirth? Bukanya lo cuman punya Redemption doang yak?
Author: Namanya juga baru beli, makanya jadi lupa kalo saya ada kewajiban menyelesaikan ini fic, jadi maaf, dan lo ngapain disini ki?
Akihiko: Gw kesini mau protes, masa di fic ini gw cuman jadi tokoh sampingan doang?
Author: Entar lo ada bagiannya sendiri, tenang aja.
Souji: hooh, terus gimana nih kelanjutannya, masa battlenya cuman segitu?
Author: Yah, mungkin di chap selanjutnya kan ada shadow Yosuke tuh, nah mungkin disitu battlenya rada lama.
Souji: Terus Reviewnya gimana nih? Kan tumben fic lu banyak yang review.
Author: ah, ya benar juga. Terima kasih kepada meshi-chan, Hayato Arisato Wisel Infinity, NeeNao, MiLuSa ShaCaKi, danSky Zephyrus yang telah member sumbangan reviewnya, dan terima kasih kepada para readers yang mau membaca fic saya yang satu ini. Balasan Review akan disampaikan oleh Akihiko dan Souji.
Akihiko & Souji: kenapa harus kita?
Author: Gw ada urusan, jadi tolong yak -langsung cabut-
Souji: oke, untuk Sky Zephyrus masalah Pairing ya? tapi kata Akira masih lama dan rahasia, saya aja gak tau apa rencana yang bakal dia buat.
Akihiko: umm.. untuk MiLuSa ShaCaKi, terima kasih atas pembelaannya. Saya tidak menyangka ternyata banyak juga yang membela saya. *smile*
Souji: caelah, sombong banget si, mentang-mentang Fansnya banyak. Untuk NeeNao si Akira bilang kalo dia ngucapin terima kasih atas keritikan yang anda berikan. Dan untuk Hayato Arisato Wisel Infinitysi Akira bilang kalo dia mau minta maap sebesar-besarnya karena di chap ini battlenya terlalu sedikit, katanya dia si di chap selanjutnya bakal di perbanyak.
Akihiko: untuk meshi-chan, itukan sebuah kecelakaan tapi si Soujinya aja lebay dan nyalah-nyalahin saya mulu.
Souji: Lah, gw kan cuman jalanin apa yang disuruh sama Akira, hak serius itu.
Akihiko: Tapi acting lo meyakinkan banget si, kayak beneran gitu.
Souji: Namanya juga kewajiban, harus dilakukan dengan serius dong.
Akihiko: Oke,oke. Akira berpesan untuk para Readers bahwa ia masih menunggu kritik dan saran anda, dan jika anda ingin memberikan kritik atau saran anda bisa mengklik link Review dibawah ini.
