Waduh maafkan saya atas keterlambatan Update-dihajar-

well, sebenarnya saya bingung mau nulis apaan jadi enjoy this chapter

Warning: Full OOC, typo mungkin ada, dialog ngasal semua.

P3 Series dan P4 cuman punya Atlus.


Thunder with Fire

vs

Wind

Souji hanya melihat wujud Spearman hitamitu menghilang menjadi gumpalan-gumpalan cahaya kecil yang memasuki dirinya. Kini ia melihat telapak tangannya sendiri, ia merasakan kehangatan aneh yang menjalar dari kepalanya menuju dada,tangan, hingga ujung kaki. Souji tersenyum kemenangan atas apa yang ia peroleh sekarang ini. Ia mengepal tangannya merasakan gejolak kekuatan baru yang ia rasakan saat ini. Ia melirik kearah teman-temannya dan melihat teman-temannya berlari kearah dirinya. Teddie yang sampai terlebih dahulu langsung bersorak-sorak.

"Hebat sekali guru *kuma*, guru bisa memanggil Persona *kuma*." Kata Teddie dengan girang. Kaori menatap Souji dengan pandangan kagum, sementara Yosuke mengernyit. "Kenapa kau memanggil Souji dengan kata guru? Dan apa itu Persona" Teddie hanya cengar-cengir menanggapi pertanyaan Yosuke. "Aku memanggilnya guru karena guru orang yang pertama kali memanggil Persona *kuma*, dan lagi guru hebat sekali bisa menghabisi shadow itu dengan cepat."

"Kalau begitu Persona itu apa Teddie?" tanya Kaori. "Teddie tidak terlalu mengerti tentang Persona *kuma*, tapi yang Teddie tau Persona itu seperti pelindung kita *kuma*, istilah gaulnya Guardian Angel" Teddie langsung mengayun-ayunkan tangannya kayak orgil yang kesetanan, maunya sih niruin malaikat tapi jadinya kayak ayam abis dicabutin bulunya. Souji, Kaori dan Yosuke sweatdrop dan mereka masuk kedalam toko minuman keras itu meninggalkan Teddie sendirian dibelakang. Sadar dirinya ditinggal Teddie langsung berlari mengejar mereka.

Mereka berempat melihat pemandangan yang berada di dalam toko tersebut. Pemandangan yang begitu kacau, banyak sekali kotak-kotak dan botol-botol minuman keras yang ditumpuk sembarangan. Di sudut-sudut dinding berjejer kulkas-kulkas yang berisi minuman-minuman keras. Ketika sedang melihat-lihat tempat itu, Yosuke menemukan sebuah pisau yang menancap di sebuah foto yang berada di salah satu kotak minuman keras. Ia terkejut melihat foto itu adalah foto dirinya. Souji yang melihat keterkejutan Yosuke langsung mendekatinya dan menepuk pundak temannya itu. keanehan mulai terjadi saat itu. Suara-suara seseorang mulai terdengar di telinga mereka berempat.

" APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN BEKERJA DI GEDUNG YANG MENJADI SAINGAN KITA HAH!" suara marah laki-laki dewasa terdengar kepenjuru ruangan tersebut. Suara lain mulai muncul setelah suara teriakan laki-laki itu menghilang. "Aku—aku…" mendengar suara itu Souji dan Kaori merasa mengenali suara ini. Souji menengok kearah Yosuke. "Yosuke, jangan-jangan pemilik suara ini…." Pertanyaan Souji langsung terjawab dengan suara teriakan lelaki barusan.

"AKU APA, HAH! JAWAB PERTANYAAN AYAMU INI SAKI!" sesuai dugaan, suara wanita yang berkata gugup barusan adalah suara Saki Konishi. "Aku bekerja disana karena ada alasannya ayah!" kata Saki mencoba membela dirinya. "ALASAN? ALASAN MACAM APA LAGI?"

"Aku ingin menghancurkan perusahaan yang telah membuat usaha kita hancur ayah, aku bekerja di Junes untuk menghancurkan mall itu dari dalam." Yosuke terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Ia shock tapi tetap mau mendengarkan apa yang Saki ucapkan. "USAHA UNTUK MENGANCURKAN MALL LAKNAT ITU? APA KAU SUDAH GILA?" teriak ayah Saki. "Aku tidak gila dan aku memiliki rencana untuk itu."

"Rencana? Rencana apa?" tanya ayahnya dengan suara yang lebuih kecil dari yang tadi. "Aku mendengar ada anak pemilik Junes yang bersekolah di sekolahan yang sama denganku, maka dari itu aku akan membuat dia jatuh hati padaku dan ketika aku berhasil aku akan menyuruhnya untuk sedikit demi sedikit menghancurkan mall itu." jelas Saki dengan tenang. Yosuke shock kalau ternyata ia sedang di peralat, ia tidak tahu apa yang ia harus perbuat. Perasaannya campur aduk antara marah, sedih dan bingung. Souji menepuk punggung temannya itu dan Kaori mengelus pundaknya.

"Ha..ha..ha ternyata selama ini aku bodoh sekali, kenapa aku tidak menyadari bahwa aku hanya diperalat olehnya?" kata Yosuke lirih. Ia menunduk dan mengepalkan tangannya. Rasa kebenciannya pada dirinya sendiri makin bertambah. "KENAPA! KENAPA KAK SAKI KENAPAAA!" ia berteriak sebagai media untuk menyalurkan gundah dihatinya. Air matanya kini mengalir dari matanya."Aku memang bodoh, kenapa aku bisa terkecoh dengan kebaikannya?" kataYosuke lirih sambil terus mengeluarkan air matanya.

"Ya, kenapa kau bisa sebodoh itu ya, sampai-sampai kau tidak menyadari kalau dirimu itu di PERALAT? " suara aneh yang mirip dengan suara Yosuke bergema di ruangan itu. mereka berempat segera mencari sumber suara itu. mereka berempat terkejut setelah menemukan siapa pemilik suara tersebut. Pemilik dari suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah Yosuke.

"K-kau si-siapa?" tanya Yosuke gugup sambil menunjuk dirinya yang satu lagi. "Aku siapa? Khukhukhukhu." Yosuke yang satu lagi terkekeh menanggapi pertanyaan Yosuke. Teddie langsung memberi tahu mereka kalau Yosuke yang berada di depan mereka adalah Shadow.

"Shadow? Tapi bagaimana bisa dia mirip dengan Yosuke?" tanya Kaori kepada Teddie. "Entahlah *kuma*, tapi kemungkinan Shadow Yosuke muncul karena Yosuke tidak bisa mengontrol emosinya *kuma*." Kaori melirik Yosuke, benar saja emosi Yosuke saat ini memang tidak stabil. Yosuke menatap Shadownya dengan pandangan ketakutan. melihat pandangan Yosuke yang ketakutan Shadow Yosuke tertawa sejadi-jadinya.

"KENAPA KAU TERTAWA! DAN KAU BELUM MENJAWAB PERTANYAANKU SIAPA KAU?" teriak Yosuke kepada Shadownya sendiri. Shadownya kini berhenti tertawa tapi ia tersenyum jahat kepada Yosuke.

"Heh, aku ini siapa heh? Aku ini kau BODOH!" Shadow Yosuke membalas teriakan Yosuke. Yosuke membalak lalu mulai berteriak lagi. "APA BUKTINYA KALAU KAU ITU AKU!" cengiran Shadow Yosuke semakin lebar. Ia melangkah mendekati Yosuke dan otomatis Yosuke mundur.

"Bukti hah? Kupikir aku tidak memerlukan bukti kepada orang lemah sepertimu." hardik Shadow Yosuke. "Kau yang lemah mental dan fisik tidak pernah punya temankan?" Yosuke semakin takut akan setiap kata Shadownya sendiri. "Kau hanya bisa bersembunyi dirumah dan tidak berani menghadapi orang-orang yang terus mengejekmu,iya kan?" setiap perkataan Shadownya, Yosuke menjadi teringat kenangan masa lalunya, dimana ia yang tak bisa apa-apa hanya menjadi bahan ejekan rekan-rekan sekelasnya. Setiap pulang sekolah ia langsung berlari menuju rumahnya, takut-takut kalau ada anak lain yang mencoba menjahilinya.

"Sampai kau bertemu dengannya, ya si Saki Konishi sialan itu, dan dia telah membuatmu merasakan hidup yang lebih baik, akhirnya kau punya temankan Hanamura? Akhirnya kau bisa memiliki orang yang kau cintai? Khukhukhu, tapi sayang sekali Hanamura, dia cuman memperalatmu,ku ulangi MEMPERALATMU!"

Yosuke terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa. Souji yang sudah kesal segera memunculkan sebuah kartu tarit dari udara. Ketika ia ingin meremas kartu itu Teddie langsung menahan Souji agar ia tidak melakukannya. Souji bingung dengan tindakan Teddie ia langsung bertanya kenapa Teddie melarangnya memanggil Persona.

"Itu Cuma buang-buang tenaga *kuma*, walaupun ia di tebas oleh tombak Persona guru Shadow Yosuke tidak mungkin terluka dan sekarang yang bisa mengalahkan Shadow itu cuman Yosuke seorang *kuma*." Souji hanya menurunkan tangannya dan menatap Yosuke dengan rasa khawatir kalau-kalau ia tidak bisa mengalahkan Shadownya sendiri.

"Kau tidak tahu apa-apa, KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG DIRIKU!" teriak Yosuke yang sudah putus asa. Shadow Yosuke terkekeh lagi dengan ucapan yang baru saja Yosuke lontarkan. "Khukhulhukhu… Aku tidak tahu tentang dirimu? Tentu saja aku tahu tentang dirimu." senyuman jahat Shadow Yosuke semakin melebar. "Aku ini kau dan kau ini aku, dan tidak ada yang bisa merubah fakta itu paham?"

"Kau bukan aku… KAU BUKAN AKU BRENGSEEK!" bantah Yosuke. Setelah Yosuke melontarkan kata-kata itu suasana ruangan itu menjadi aneh sekarang. Shadow Yosuke terkekeh, aura hitam menyelimuti Shadow itu. "Khukhukhukhu.. KATAKAN LAGI!" pinta Shadow itu dengan berteriak. Yosuke mengulangi kata-katanya sampai tiga kali dan Shadownya tertawa keras sekali.

"Hahahahaha! Kau benar, aku ini bukan kau!" Aura hitam yang mengelilingi Shadow Yosuke langsung menyelimuti Shadow itu. Angin aneh dan kencang berhembus kearah Aura itu. Yosuke langsung merasa sesuatu yang aneh pada dirinya. Seluruh anggota tubuhnya terasa berat dan lemas. Ia langsung terjatuh seketika itu juga. Didepannya muncul makhluk aneh setengah kodok dan setengah badut yang menatap Yosuke yang tak berdaya. Makhluk itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengayunkannya dengan cepat menuju Yosuke.

Yosuke yang sudah tidak bisa apa-apa hanya pasrah dan menutup matanya, ia berharap ini akan berlangsung cepat dan tidak neko-neko. Anehnya serangan itu tidak kunjung datang. Ia dengan penasaran lalu membuka matanya sedikit demi sedikit. Ia melihat sosok Yakuza yang menahan tangan besar itu yang ingin menghantam dirinya. Sebuah tangan sekarang telah menyentuh pundaknya dan menariknya menjauh dari tempat itu. Ia melihat Souji telah menariknya menjauh dari pertarungan Persona vs Shadow itu menuju tempat Teddie dan Kaori.

"Sudah kuduga akhirnya akan seperti ini, KAORI, TEDDIE!" panggil Souji sambil menyerahkan Yosuke kepada mereka berdua. "Kalian pergilah dari sini, tempat ini terlalu berbahaya bagi kalian." Souji langsung mengambil sebuah tongkat besi nganggur yang tergeletak diantara tumpukan kotak-kotak minuman keras. Ketika ia hendak berlari sebuah tangan menahannya. Ia menengok kebelakang mencari tahu siapa yang menahannya dan ia melihat Kaori sebagai pemilik tangan tersebut.

"Tidak, aku akan ikut bertarung bersamamu disini." kata Kaori mencoba meyakinkan Souji. Tapi jawaban yang ia dapat adalah penolakan yang amat tegas dari Souji. "Tidak, pergilah dari sini, disini sangat berbahaya."

"Tapi…"

"Sudah aku bilang pergi!" perintah Souji. Tapi Kaori tetap tidak bergerak sama sekali. Souji menghela nafasnya lalu memegan pundak wanita yang berada tepat didepannya. "Dengarkan aku, diantara kita semua hanya aku yang dapat melawan Shadow itu karena aku memiliki Persona." Souji dan Kaori menghadap Izanagi yang sekarang sedang berputar menghindari semua serangan Shadow raksasa itu.

"Jika kau masih ada disini kau bisa terluka parah, mungkin lebih parah dari pada yang sedang aku ataupun yang kau pikirkan mungkin, dan agar kejadian itu tidak terjadi lebih baik kau pergi dari sini bersama Yosuke dan Teddie." Kaori terdiam dan terus memikirkan perkataan Souji. Tanpa menunggu, Souji langsung berlari menuju tempat pertarungan terjadi untuk membantu Personanya. Kini ia melompat dan memukul bagian belakang atau bagian bokong Shadow kodok itu, anehnya serangan itu dapat membuat Shadow itu kesakitan dan tongkat besi yang sedang ia pegang tidak bengkok seperti tongkat Golf sebelumnya. Serangan itu telah mengalihkan perhatian Shadow itu dari Izanagi ke Souji. Tapi itu membuat Izanagi mendapat kesempatan, ia langsung menebaskan tombaknya kepunggung badut itu. Sebuah cairan hitam pekat keluar dari bekas tebasan Ame-no-nobuko dan Shadow itu mengerang kencang. Kini ia menyerang secara membabi buta, ia memukul dan melompat kesegala arah, menghancurkan isi toko itu.

Kaori dan Teddie yang melihat keadaan itu langsung memapah Yosuke yang tergeletak lemah. Mereka bertiga meninggalkan Souji dan Izanagi yang sedang bertarung dengan sengit dengan Shadow Yosuke. Ketika mereka berdua keluar, suara hantaman benda terdengar kembali dari dalam toko itu. Kaori melihat kembali ke toko itu lalu melanjutkan berjalan sambil memapah Yosuke bersama Teddie. Entah kenapa perasaan Kaori tidak enak dari tadi. Ia terus-terusan merasa khawatir apakah mereka akan baik-baik saja, terutama Souji.

"Guru akan baik-baik saja kok *kuma*." kata Teddie mantap. "Entahlah Ted, aku agak khawatir dengan itu." ke khawatiran Kaori menjadi kenyataan. Terdengar suara ledakan dari arah toko itu. mereka bertiga melihat dua sosok yang terlempar dari dalam toko itu, mereka berdua tidak lain dan tidak bukan adalah Souji dan Izanagi. Mereka berdua mengatah kesebuah rumah yang berada di depan toko itu. Izanagi dengan sigap langsung berada di belakang Souji dan menahan Souji agar Souji tidak berbenturan terlalu keras dengan dinding rumah tersebut. Mereka berdua akhirnya membentur tembok dan terjatuh dengan keadaan tengkurap. Souji memapah dirinya untuk bangun dan sebuah cairan merah kental keluar dari mulutnya. Kondisi yang sama juga dialami oleh Izanagi, ia mengeluarkan cairan hitam dari lubang topengnya. Sementara sosok raksasa muncul dari dalam reruntuhan bangunan tersebut. Shadow itu melompat dan menghantam tanah dengan sebuah angin besar berhembus kepada Souji dan Izanagi. Mereka berdua terbawa hembusan angin itu dan menabrak dinding rumah yang baru saja mereka tabrak. Saking besarnya tekanan angin itu, dinding rumah itu retak terutama dibagian dimana Souji dan Izanagi menabrak dinding itu.

Kaori yang ingin membantu tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak memiliki Persona untuk melindungi orang lain ataupun orang lain seperti layaknya Souji. Ia melihat Izanagi yang menarik Souji untuk menghindari pukulan Shadow itu, Izanagi menggunakan petir untuk menyerangnya dan Shadow itu terjatuh dengan tubuh yang gemetaran tersengat aliran listrik. Izanagi langsung melompat dan menghunuskan tombaknya kearah dada badut itu. Tapi serangan itu tidak mengenai Shadow itu karena Izanagi terlempar akibat tinju si Shadow. Kaori yang sudah habis kesabarannya maju menyerang Shadow itu dan memukulnya dengan tinjunya, tapi serangannya tidak ada efek pada Shadow itu malah justru Shadow itu mendapat sasaran empuk untuk di serang. Souji terbalak lalu berlari kearah Kaori tapi Shadow itu keburu menghantam Kaori hingga ia terlempar sekitar 3 Meter. Kaori langsung memuntahkan cairan merah dari mulutnya. Souji yang melihat itu langsung emosi, kemarahannya tak bisa terbendung lagi. Ia marah sekali kepada Shadow itu dan juga dirinya sendiri. Ia segera mengambil tongkat besi lalu melompat kearah Shadow Yosuke dan memukul muka kodok itu yang dibantu oleh Izanagi yang menyerang tubuh badut yang berada diatasnya. Tapi sebuah angin besar berhembus kembali dan melempar Souji dan Izanagi,

Pandangan Kaori mulai kabur, ia tidak bisa melihat Souji dan Shadow itu dengan jelas. Ketika ia mengedipkan matanya sekali ia melihat Aimont tepat didepannya sekarang, Aimont tersenyum miris lalu ia mendekati Kaori yang tidak berdaya. Ia lalu mengambil tangan kanan Kaori dan meninggalkan sebuah benda di tangannya. Aimont tersenyum kepada Kaori.

"Sudah waktunya untuk memakai apa yang seharusnya kau punya dan aku yakin ini akan sangat membantu." Kata Aimont. Ia berbalik dan berjalan membelakangi Kaori. Kaori mengedipkan matanya lagi dan Aimont menghilang digantikan pertarungan antara Petir melawan Angin. Kekuatan petir Izanagi yang menyelubungi tombaknya berbenturan dengan kekuatan angin Shadow Yosuke. Kaori melihat tangan kanannya dan menemukan sebuah kartu biru Velvet yang tergeletak. Kaori melihat kearah pertarungan itu dan seketika itu juga kartu biru Velvet yang berada di tangannya langsung berubah menjadi lidah api biru yang menyala-nyala. Tanpa pikir panjang Kaori melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Souji

"Per.."

"So.."

"Na.."

Kaori meremas api biru yang anehnya tidak membakar telapak tangannya. Sebuah sensasi aneh menjalar diseluruh dari kaki, badan, hingga kepala. Sebuah angin aneh berhembus disekitar tubuh Kaori, mata miliknya berubah menjadi merah menyala. Diatas kepalanya muncul sebuah makhluk semi mekanik bertubuh emas, berambut coklat panjang, dan Harpa berbentuk hati yang ternyata adalah Persona. Persona itu berbicara seperti Izanagi dengan suara perempuan.

"Thou Art I…"

"And i am thou…"

"From the sea of thy soul…"

"I've come…"

"To play some song to you…"

"I am Orpheus…"

"The Master of string.."

Dada Kaori tiba-tiba terasa sakit. Ia langsung tertunduk jatuh sambil memegang dadanya sambil memuntahkan darah dari mulutnya. Hal yang aneh terjadi juga pada Orpheus, ia cairan seperti darah dari mulutnya dan cairan itu membasahi tubuhnya sehingga warna tubuhnya yang seharusnya emas berubah menjadi merah darah. Rambut panjang berwarna coklat itu berubah menjadi berwarna putih. Orpheus mengambil Harpanya dan memainkan sebuah lagu aneh. Entah bagaimana lagu itu membuat Shadow Yosuke mengerang kesakitan. Tapi yang merasakan efek dari lagu itu bukan hanya Shadow Yosuke, Izanagi, Souji, Teddie dan Yosuke juga merasakan efek dari lagu itu. Izanagi mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya, begitu juga Souji dan Teddie, sementara Yosuke hanya memejamkan matanya menahan rasa sakit itu.

Orpheus merah itu menghentikan alunan musiknya lalu membakar dan memukul Shadow Yosuke dengan harpa miliknya secara bertubi-tubi sehingga Shadow Yosuke terlempar dan terjelembab. Izanagi menyangga tubuhnya pada tombaknya agar ia tidak terjatuh. Souji terduduk sambil memegang kepalanya, Yosuke membuka matanya dan Teddie pingsan di tempat. Souji melihat kearah Orpheus merah itu dan terkejut ketika Persona itu berubah dari warna merah menjadi warna emas dalam sekejab. Souji menengok kearah Kaori yang sekarang tertelungkup lemas dengan darah yang membasahi bibirnya. Souji segera berjalan mendekati Kaori dengan langkah yang terhuyung-huyung.

"Kaori, jangan memaksakan diri seperti itu. " geram Souji. Kaori hanya tersenyum kepadanya. "Hehehehe.. aku punya Persona juga ternyata." Souji mendengus lalu ikut tersenyum kepada teman satu kamarnya itu, ia seharusnya mengucapkan terima kasih karena Kaori telah membantu dirinya. Sebuah gerakan terdengar oleh telinga Souji, ia segera berbalik dan menemukan Shadow raksasa itu telah bangkit. Izanagi telah bersiap kembali dalam pertempuran begitu pula dengan Souji. Ketika ia ingin berjalan menuju medan pertempuran tangan Kaori segera mencengkram tangan Souji.

"Kali ini aku akan ikut bertarung." kata Kaori lirih. Souji langsung menolak tindakan yang akan dilakukan Kaori, tetapi Kaori tetap memaksa akan ikut bertempur. "Aku sudah punya Persona Souji jadi tidak masalahkan?" "Tapi keadaanmu tidak memungkinkan untuk bertarung, Kaori!" ucap Souji Khawatir. Kaori menggelengkan kepalanya. "Kita lakukan secara bersama-sama, ok?" Souji sebetulnya tidak setuju dengan tindakan Kaori, tapi karena Kaori memaksa ya apa boleh buat. Souji langsung mengalungkan tangan kanan Kaori ke lehernya dan membantunya berdiri. Izanagi dan Orpheus langsung berdekatan untuk melindungi pengguna mereka. Kaori dan Souji saling bertatapan lalu mengangguk. Mereka memejamkan mata mereka dan membuka mata mereka kembali sambil mengatakan. "HEAVENLY SLASH!" Orpheus mengambil harpanya dan memainkan sebuah lagu, bukan lagu yang menyakitkan seperti tadi melainkan lagu merdu yang membuat tombak Izanagi bersinar mengeluarkan cahaya pelangi. Shadow Yosuke tidak tinggal dia, ia langsung mengeluarkan hembusan angin yang lumayan besar. Ketika angin itu hampir sampai, Izanagi langsung menebaskan pedangnya diudara dan angin bertekanan besar itu menghilang dalam sekejap. Izanagi langsung teleport kebelakang Shadow tersebut dan langsung menebasnya. Shadow itu terbelah menjadi dua berubah menjadi sosok Yosuke.

Yosuke yang tadi tidak bisa bangun karena energinya di serap kini dapat berdiri lagi. ia dengan perlahan-lahan mendekati kedua temannya dan Shadownya sendiri. Shadow Yosuke berdiri dan menghadap kearah Yosuke dengan tatapan tajam.

"Jadi… sudah bisa mengerti kalau aku adalah kau?" tanya Shadow Yosuke. Yosuke terdiam lalu berkata dengan lirih. "A-ak-aku bukan kau." Shadow itu tersenyum jahat lagi. "Jadi begitu ya.." Aura yang berada di sekitar Shadow itu mulai menghitam.

"Hey, Hanamura.."

Yosuke membalikan badannya menghadap orang yang memanggil namanya. Sebuah pikulan langsung menghantam mukanya, ia jatuh sambil memegang pipinya yang terkena pukul itu. Yosuke melihat siapa pelaku yang telah memukul dirinya. Ia melihat Souji menatapnya tajam dengan kepalan tangan di tangan kanannya.

"Kau harus tahu, yang dikatakan Shadow itu adalah emosi-emosimu yang telah lama terpenadam, Yosuke." kata Souji. Yosuke hanya diam. "Shadow itu hanya ingin kau mengakuinya saja, walaupun aku tahu itu sulit bagimu." Souji berhenti sejenak. "Tapi kalau kau tidak melakukannya dan menolak mengakuinya maka itu akan membuatnya berubah lagi dan kalau itu sampai terjadi…." Souji menatap Yosuke dengan tatapan tajam. Yosuke terpaku mendapati dirinya mendapat tatapan seperti itu. "Aku akan membunuhmu disini dan sekarang juga."

Yosuke terdiam, ia memejamkan matanya sejenak, tampak ia sedang memikirkan sesuatu. ketika Yosuke membuka matanya ia langsung berbalik menghadap Shadownya sendiri. "Yah, memang semua yang kau katakan itu benar dan sepertinya kau selalu melihat apa yang aku lakukan ya." ucap Yosuke sambil tersenyum kepada Shadownya sendiri. Shadow Yosuke terkejut karena Yosuke tersenyum kepada dirinya. "Kau adalah aku dan aku adalah kau dan sepertinya tidak ada yang bisa mengubah itu ya?" kata Yosuke. Shadow Yosuke mununduk lalu mengadah kembali menatap Yosuke. Ia tersenyum kepada Yosuke, senyumannya bukan senyuman jahat melainkan senyuman bahagia. Shadow itu melayang keudara dan berubah dari wujud Yosuke menjadi makhluk yang mirip dengan Shadow setengah kodok setengah badut. Hanya saja ia mempunyai 2 kaki dan tangan sementara ia memakai syal merah yang melilit tubuhnya, kepalanya gabungan dari badut dan kodok tersebut.

""Thou Art I…"

"And i am thou…"

"From the sea of thy soul…"

"I've come…"

"I am Jiraiya…"

"The young thunder"

Makhluk itu berubah menjadi sebuah Kartu biru Velvet dan melayang menuju tangan Yosuke. Yosuke melihat kartu yang berada di tangannya itu. "Jadi- ini Personaku ternyata." Yosuke tersenyum karena baru saja mendapatkan Persona. Souji dan Kaori ikut tersenyum, sementara Teddie baru bangun dari tidurnya.

"Apa yang terjadi *kuma*? Mana Shadow Yosuke *kuma*?" tanya Teddie sambil celingak-celinguk. "Sekarang Shadow itu sudah menjadi Persona Yosuke, Teddie." kata Kaori lirih. Souji memapah Kaori kembali ketempat yang mirip studio diikuti Teddie, tapi Yosuke hanya diam ditempat. "Umm.. Souji.." panggil Yosuke. Souji menengok kearah Yosuke.

"Umm.. bolehkah aku memukul wajahmu? Tadi cukup sakit loh." kata Yosuke malu-malu. Souji tersenyum kepadanya. "Tidak!"

"Kenapa"? tanya Yosuke tidak mengerti. "Kalau kau mau memukulku, ayo bertarung secara adil." Kaori menggerutu di sebelah Souji tapi Souji tidak memperdulikannya. Ia meminta tolong Teddie untuk menjaga Kaori dan melepaskan lengan Kaori dari lehernya. Ia maju kedepan Yosuke dan memasang kuda-kuda siap bertarung begitu juga Yosuke. Souji langsung memanggil Izanagi sementara Yosuke memanggil Jiraiya. Mereka berempat maju dan saling bertarung. Izanagi melawan Jiraiya dan Souji melawan Yosuke. Tak lama setelah itu mereka berdua terbaring tidak berdaya dengan memar disekujur tubuh mereka, sementara Izanagi dan Jiraiya telah menghilang.

"Hey Souji…"

"Hm?"

"Terima kasih ya telah menolongku tadi." Kata Yosuke. "Bukan masalah kok." Mereka berdua bangkit berdiri. Yosuke menjulurkan tangannya kedepan Souji, Souji langsung menjabat tangannya. Mereka berempat segera berjalan menuju Studio aneh tempat mereka datang ke dunia TV. Setelah mengucapkan salam perpisahan mereka segera menuju 3 TV yang bertumpuk menjadi satu dan masuk kedalam TV tersebut. Ketika mereka keluar dari TV mereka melihat Chie dengan airmata yang menggenang di matanya.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN BODOH! APA KALIAN TIDAK TAHU BAHWA AKU SANGAT KHAWATIR DAN KENAPA KALIAN BABAK BELUR SEPERTI ITU?" tanya Chie sambil berteriak. Memang tampang mereka memang penuh luka dan memar, terutama Yosuke dan Souji.

"M-maafkan kami Chie, kami…" sebelum Kaori menyelesaikan kalimatnya Chie langsung membentak mereka lagi sambil melempar tali tambang yang putus pada Yosuke lalu ia pergi sambil menangis. Yosuke, Kaori, dan Souji tidak bisa berkata apa-apa.

"Kalau begitu aku pulang dulu, aku sangat lelah." Kata Yosuke.

"Ya, kami juga merasa lelah." Kata Kaori. Mereka akhirnya berpisah. Souji sekarang sedang menggendong Kaori di punggungnya. Sebenarnya Kaori menolak tindakan Souji ini tapi Souji tidak memperdulikannya, ia merasa ini lebih mudah untuk membawa Kaori seperti. Sekarang yang hanya ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menjelaskan semua luka dan memar yang ada di sekujur tubuhnya kepada Nanako.


Author: Walah, Akhirnya bisa bikin Battle juga.. Fuuaaaahhh!

Kaori: Akhir-akhirnya juga Full bacot jugakan?

Author: Huh, emang ia si tapi biarlah toh udah sampai sini juga.

Souji:Well, sekarang tinggal baca Review, gw capek nih.

Author: Ok, saya ucapkan terima kasih kepada Readers yang mau membaca Fic saya ini dan terima kasih kepada MiLuSa ShaCaKi, meshi-chan, Baekzzz, dan Sky Zephyrus atas sumbangan Reviewnya dan balasan Review akan di bacakan oleh Souji dan Kaori.

Souji & Kaori: Kenapa harus kita?

Author: Well, gw ada urusan dikit jadi kayak di chap sebelumnya , lo pada yang bales nih fic ye-langsung ngacir-

Kaori: Seenaknya saja,Umm.. MiLuSa ShaCaKi-san anda nanya saya bakal ketemu Akihiko-senpai apa enggak ya? saya kurang tau, yang tahu cuman Akira, AKIIIIIRRRAAAA!

Author: AAAPPAAA! Berisik banget si?

Kaori: Ntuh-tuh di tanya.

Author: Oh, tentu saja ketemu, sayangnya masih rada lama, jadi sabar ya.

Souji: Next, hm… Wew meshi-chan, anda menanyakan bayaran saya? Kalo itu si..

Author: RAHASIA!

Kaori: Kk-ok, sekarang pertanyaan Baekzzz-san. Wah maksudnya anda apa nih? Saya kurang ngerti? Cara menyiksa Soujikah?

Author: Tapi idenya boleh juga tuh,MUAHAHAHAHAH!-dihajar Souji-

Souji: Sialan lu, berani-beraninya. Sekarang tinggal Sky Zephyrus. Oke emang nama aslinya Izanagi tuh Izanagi-no-mikoto yang artinya The male who invites.

Author: Oke, saya harap para Readers menikmati Fic buatan saya dan saya yakin walaupun udah saya baca berkali-kali pasti masih ada Typo, dan jika anda mau mengkeritik fic saya, Readers bisa klik di Link Review di bawah ini.

(A/N: mungkin fic ini akan sedikit lama saya update, entah minggu depan, 2 minggu lagi atau mungkin juga 1 bulan mendatang, jadi tolong maafkan saya.)