Wew akhirnya saya Update juga, ahahahhahah! *ketawa girang*

Maaf atas keterlambatan meng-update karena saya banyak tugas yang perlu saya selesaikan jadi terbengkalai deh nih fic.

Terima kasih kepada yang mau meREVEW fic saya. jadi tambah semangat saya.

tanpa banyak bacot enjoy my fic okay

Disclaimer: Atlus always*hormat*

Princess Kidnapped

Di suatu pagi di sebuah kota yang penuh kabut, terdapat seorang anak manusia yang sedang menatap ketenangan kota tersebut. Balutan perban telah menempati setiap sudut tubuhnya yang luka akibat pertempuran aneh yang baru saja ia alami. Dia melihat keluar sambil berpikir apakah ia pantas mendapatkan kekuatan ini dan juga kenapa harus dirinya yang mendaoat kekuatan itu?

"Nggg…." Sebuah erangan telah menyadarkannya dari lamunan konyol yang baru saja ia pikirkan. Dia membalikan wajahnya untuk melihat sumber erangan itu. Seperti yang telah ia pikirkan sumber erangan itu berasal dari gadis berambut merah yang baru saja bangun dari tidurnya. Mata gadis itu masih sayu dan tidak fokus akibat dia baru saja terbangun. Beberapa detik setelah itu mata gadis itu mulai fokus dan menatap seseorang yang berada di hadapannya.

"Pagi, Kaori. Mimpi apa kau sampai kau bergumam tak jelas tadi malam?" tanya pemuda itu kepada gadis yang bernama Kaori. Gadis yang bernama Kaori hanya diam saja dan kembali kedalam pelukan selimut yang nyaman.

"Hey mau sampai kapan kau seperti itu?" pemuda itu langsung melempar satu stel seragam sekolah milik Kaori tepat ke kepala Kaori.

"Berisik kau Souji, lima menit lagi ya?" pinta Kaori. Souji hanya menggeleng-geleng kepalanya lalu menarik Futon Kaori secara kasar akibat Kaori tidak mau melepaskan futonnya dari tangannya.

"Tak ada waktu, hari ini hari senin tahu, kalau tidak buru-buru kita bisa terlambat."

"Lima menit!."

"Tidak!"

"Tiga menit?'

"Malah nawar lagi nih cewek, Tidak!'

"Sepuluh menit deh."

"Yee, apa lagi sepuluh, UDAH BANGUN WOY!" Souji menarik keras-keras futon Kaori tapi Kaori tidak mau kalah dan akhirnya terjadilah lomba tarik menarik antara Souji dan Kaori. Tapi apa daya dikata yang namanya cowok tenaganya lebih besar dari cewek hasilnya Souji berhasil mengambil Futon milik Kaori, sedangkan pemiliknya hanya cemberut

"Sudah cepet kamu ganti baju, sudah setengah delapan nih." ujar Souji sambil menunjuk jam dinding di kamar mereka. Dengan ogah-ogahan Kaori mengambil seragamnya dan berjalan keluar menuju kamar mandi. Souji langsung mengambil tasnya dan turun menemui Nanako yang sudah menunggu mereka plus dengan Roti isi selai kacang sebagai sarapan.

"Kakak Kaori sudah bangun,Kak Souji?" tanya Nanako yang melihat Souji turun dengan seragam Yasogaminya yang anehnya tidak compang-camping seperti kejadian sekitar 2 hari yang lalu sehabis mereka masuk kedalam TV.

Flashback

Souji dan Kaori masuk kedalam rumah kediaman Dojima dengan Keadaan gembel. Baju Souji yang seharusnya masih baru dan bersih jadi robek sana-sini sementara baju Kaori terkena ternoda darah. Nanako yang melihat keadaan itu terkejut dan segera mengambil kotak P3K. Sambil mengobati Kakak-kakaknya yang terlihat sehabis tawuran Nanako juga bertanya-tanya macamnya "Apa yang terjadi?" "Kenapa kalian bisa seperti ini?""Apa kakak berkelahi dengan orang?". Souji dan Kaori yang sudah mempersiapkan keadaan macam ini langsung berbohong menceritakan kejadian palsu seperti….

"Tadi kak Kaori di ganggu sama orang-orang jahat yah kakak dan kak Yosuke langsung melindungi kak Kaori, lalu kami bergulat dengan para penjahat itu dan menang deh." kata Souji bohong. Kalau diceritakan yang sebenarnya mana mungkin Nanako bakal percaya? Tapi emang dasar anak kecil tuh polos, dia percaya-percaya aja sama ucapan Souji. Untunglah Dojima tidak pulang malam itu, kalau sampai pulang habislah mereka berdua.

End Flashback

"Jadi, bagaimana hari-harimu Nanako?" tanya Souji sambil membuka topik pembicaraan.

"Biasa saja, tapi lumayan menyenangkan bermain bersama Ichimaru,Ita, dan teman-teman yang lain."

"Oh iya, biasanya kamu ngapain kalau kakak dan kak Kaori belum pulang?" tanya Souji sambil melahap Roti isinya.

"Cuman menonton TV dan oh iya, teman-temanku pernah datang dan kami bermain bersama disini." jawab Nanako dengan muka yang berseri-seri.

"Hahahaha! Baguslah kalau begitu Nanako." balas Souji dengan muka tersenyum.

Terdengar suara seseorang dari arah tangga dan Kaori muncul dengan muka yang lebih segar ketimbang ketika ia bangun tidur. Kaori langsung mengambil tempat duduk dimana 1 piring Roti isinya yang masih utuh, tanpa berlama-lama Kaori langsung melahap Roti isinya.

"Lama sekali kamu ganti baju" ujar Souji sedikit menggoda Kaori. Kaori tidak mengubris pertanyaan yang di lontarkan Souji dan terus memakan Roti isinya.

"Dasar, makanya jangan tidur malam-malam, masih ngantuk dikit-dikit kan?" muka Kaori sedikit memerah. Memang kemarin ia tidur malam tapi bukan karena menunggu Midnight channel tapi entah sedang apa dia dengan laptopnya.

"Apaan sih? Udah ah, ayo berangkat" ajak Kaori sambil berdiri mengambil tasnya. Souji hanya tersenyum jahil dan berdiri, begitu juga dengan Nanako. Setelah mengunci pintu rumah mereka berjalan bersama. Di Samegawa River mereka berpisah dengan Nanako.

Sambil berjalan menuju sekolah mereka berbincang-bincang mengenai kejadian 2 hari yang lalu dimana mereka bertarung dengan makhluk bernama Shadow dan mendapat kekuatan aneh benama Persona. Mereka memang tidak habis pikir kenapa mereka mendapat kejadian aneh macam ini. Mereka terus berbincang-bincang sampai seseorang menegur mereka.

"Yo!" sapa orang asing itu dari balik punggung mereka. Mereka membalikan tubuh mereka dan menemukan seseorang yang menghentikan sepeda orange-nya tepat di belakang mereka. Mereka mengenal orang asing itu sebagai Yosuke karena rambut coklatnya yang panjang sampai menutupi kupingnya.

"Selamat Pagi Souji,Kaori!" sapa Yosuke dengan senyum yang tersungging pada bibirnya

"Pagi." balas Souji dengan nada datar walau senyum juga menghiasi wajahnya

"Selamat pagi Yosuke!" sapa Kaori dengan ceria juga

"Hey, bagaimana keadaan kalian berdua? Kalian tidak apa-apa?" tanya Yosuke khawatir ketika melihat perban yang melilit kedua pergelangan dan sekitar dahi Souji. Melihat ekspresi Yosuke, Souji langsung memberitahu bahwa keadaannya sekarang tidak apa-apa. Yosuke langsung melepaskan nafas lega.

"Bagaimana dengan keadaanmu Kaori?"

"Tenang aku tidak apa-apa kok." jawab Kaori dengan ceria. Melihat ekspresi dan keadaan Kaori yang sekarang sehat-sehat saja Yosuke tahu kalau Kaori tidak berbohong. Mereka bertiga mulai berjalan kembali menuju sekolah mereka yang berada dikaki bukit. Yosuke yang penasaran akibat kejadian aneh ketika mereka dapat memasuki dunia TV mulai berceloteh.

"Hey Sou.." panggil Yosuke

"Huh? Kenapa?"

"Sejak kapan kau bisa memasuki dunia TV?"

"Mana aku tahu, tiba-tiba saja tanganku masuk begitu saja kedalam TV." jelas Souji. Ia sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai kekuatannya yang dapat masuk kedalam TV, apalagi sebelum dia ke Inaba ia tidak pernah mengalami kejadian aneh-aneh seperti ini…. Tunggu? Kejadian aneh?..

Souji merasa ia pernah mengalami kejadian aneh beberapa tahun yang lalu, tapi ia tidak mengingat kejadian apa itu. Souji mencoba mengingat-ingat kejadian macam apa itu tapi entah kenapa sekeras apapun ia berpikir ia tak bisa mengingat-ingat kejadian aneh yang terlupakan baginya.

"Hey Sou, kau kenapa?" kata Yosuke yang membuyarkan lamunan Souji. Souji langsung menggelengkan kepalanya dan mengatakan "Tidak apa-apa."

"Ngomong-ngomong Yosuke, kamu bukannya juga mendapat Persona juga? Itu yang namanya Jira-jira.. siapa?" tanya Kaori.

"Jiraya." ucap Yosuke membetulkan.

"Apa kau sudah bagaiman perasaanmu mendapatkannya?" kali ini Souji yang bertanya. Yosuke hanya tersenyum. Kalau di pikir-pikir dia memang senang mendapat persona tapi karena dia cukup terluka, ia perlu memulihkan dirinya akibat kekuatannya yang di hisap oleh Shadownya sendiri. Yosuke terus berpikir bagaimana kalau tidak ada Souji maupun Kaori? Mungkin ia sudah bertemu dengan Konishi Saki di alam sana. Mengingat tentang Saki, Yosuke teringat dengan kejadian yang terjadi di dalam TV dimana dia dan teman-temannya yang mendengar pernyataan hati seorang Saki Konishi disana. Yosuke kembali terpuruk, Hatinya kembali terasa seperti ditusuk oleh belati transparan. Ia tak habis pikir betapa bodohnya ia bisa jatuh hati kepada perempuan bermuka dua, ia juga tidak mengerti kenapa orang yang sangat ia kasihi ternyata ingin menghancurkan dirinya. Seakan bisa membaca ekspresi Yosuke, Souji langsung berkata "Tak usah dipikirkan."

Yosuke langsung menengok kearah Souji, "Kau tak perlu memikirkan Saki lagi, sekarang ia sudah tenang disana. Tak ada gunanya kau memikirkannya lagi karena ia sudah jadi bagian masa lalumu sekarang, yang perlu kau pikirkan sekarang adalah bagaimana kau bisa melangkah jauh kedepan dan meninggalkan kenangan masa lalu yang menyakitkan." ujar Souji. Yosuke memalingkan mukanya kearah Souji. Ia melihat tatapan tajam yang menggambarkan betapa bijaknya orang yang baru saja ia kenal ini. Yosuke memalingkan mukanya dari Souji dan melihat kearah langit. Ia merasa ada benarnya apa yang baru saja di katakan Souji bahwa dia tak bisa terus-menerus terpaku pada masa lalu. Dia seharusnya terus menatap kedepan dari pada melihat kebelakang. 'Kau dengar kak Saki? Apa yang baru saja Souji ucapkan? Aku memang harus melupakanmu dan terus melangkah maju. Terima kasih atas kasihmu yang kau berikan padaku walaupun itu palsu. Terima kasih atas semuanya dan aku harap kau tenang berada disana' seakan mendengar ucapan hati Yosuke, angin musim semi berhembus dengan lembutnya mengantar kepergian segala pikiran Yosuke yang menyakitkan dan juga mengantarkan kepergian Konishi Saki dari hati Yosuke. Sekarang Yosuke sudah siap menghadapi hari-harinya kedepan bersama teman-teman barunya.

"Ngomong-ngomong apa kalian lihat Midnight channel semalam?" kata Kaori mencoba mengalihkan topic pembicaraan. Spontan Yosuke dan Souji langsung menatap Kaori.

"Tidak, ada apa memangnya?" tanya mereka berdua secara bersamaan.

"Tadi malam, ketika aku begadang tanpa sengaja aku lihat TV dikamar kami…"

"TUNGGU DULU! KAMAR KAMI? MAKSUDNYA KALIAN..?" Yosuke menunjuk Kaori dan Souji secara bergantian dengan ekspresi terkejut. Dia tak berani menyebutkan kata-kata selanjutnya karena pikiran kotor seorang lelaki muncul di kepala Yosuke. Melihat gelagat Yosuke. Kaori dan Souji langsung membuang jauh-jauh pikiran mesum itu dari kepala Yosuke dengan menjelaskan kronologi mengepa mereka bisa satu kamar.

"Oh, syukurtah. Lalu tolong lanjutkan ceritamu Kaori." Pinta Yosuke.

"Yah, tadi malam aku melihat sesosok wanita mengenakan Kimono, tapi aku tak yakin itu siapa."

"Kau yakin dia wanita?" tanya Souji.

"Sangat yakin, karena rambutnya panjang dan mengenakan Kimono." ujar Kaori mencoba meyakini kedua temannya. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi dari arah sekolah mereka. Souji melihat arlojinya yang menunjukan pukul 08:30 AM. Dia terkejut akan berapa lamanya mereka mengobrol dari tadi.

"Kalau begitu nanti kita lanjutkan di sekolah, aku duluan yah." kata Yosuke yang langsung menaiki dan memacu sepeda orangenya. Souji dan Kaori berlari mengejarnya dari belakang.

.

.

.

Waktu makan siangpun tiba. Tak terasa pelajaran Matematika yang memusingkan telah mereka lewat. Kini Souji,Kaori dan Yosuke tengah membicarakan mengenai siapa sebenarnya sosok wanita yang dilihat Kaori semalam. Ditengah pembicaraan itu tiba-tiba pintu ruang kelas di buka secara kasar dan mengejutkan anak murid yang berada di kelas tersebut. seorang gadi besrambut coklat yang mengenakan jaket hijau muncul sambil meneriakan.. "YUKIKO MENGHILANG!"

"APA!" teriak seisi kelas-terutama yang lelaki-. Beberapa anak langsung mendekati gadis itu dan menanyakan maksud dari perkataan sang gadis, tapi gadis itu tidak mengubris dan berlari mendekati Souji cs.

"YUKIKO MENGHILANG! TIDAK ADA KABAR, UH DIMANA DIA SEKARANG!" teriak gadis itu. Melihat ekspresinya gadis itu benar-benar khawatir dengan keadaan Yukiko.

"Whoa, tenang dulu Chie, jelaskan dulu bagaimana dia menghilang." pinta Yosuke sambil mencoba menenangkan gadis yang bernama Chie tersebut.

"Tadi Ibunya menelpon aku dan mengatakan kalau Yukiko menghilang dan ketika aku menelpon nomor ponselnya ia tak jawab-jawab, uh bagaimana keadaannya dia sekarang?" Chie hampir menangis mengatakan hal itu. Kaori mencoba menenangkan gadis yang ketakutan tersebut.

"Coba kau telpon rumahnya, mungkin saja ada." Usul Souji. Chie terkejut dengan usulan Souji dan langsung menelpon rumah-yang lebih tepatnya penginapan Amagi- Yukiko. Setelah menekan beberapa tombol pada ponselnya Chie menyalakan speakernya Dalam ketegangan mereka menunggu telpon di angkat sampai sebuah suara terdengar dari seberang ponsel Chie.

"Halo, penginapan Amagi disini." Ucap suara lembut itu. Mereka langsung mengenali suara itu sebagai suara Yukiko. Chie langsung lemas dan mengucapkan rasa syukur yang amat sangat. Setelah memastikan keadaan Yukiko tidak apa Chie langsung menutup saluran teleponnya dan menatap Souji.

"Bagaimana kau tahu kalau dia berada dirumahnya?" tanya Chie dengan tatapan tajam sekaligus curiga.

"Yah, hanya beruntung mungkin. Lagi pula kemarin aku bertemu dengannya di tepi sungai Samegawa." Jelas Souji.

Flashback

Saat itu hujan tengah mengguyur kota kecil yang bernama Yasoinaba. Saat itu karena persediaan bahan makanan di rumah Dojima sudah tipis, Souji terpaksa pergi ke Junes membeli semua bahan makanan yang diperlukan. Kalau melihat kondisi tidak mungkin Nanako yang pergi ke Junes sendirian. Kalau Kaori ia merasa bahwa gadis itu kondisinya tidak memungkinkan(yang belakangan di ketahui kalau ternyata perasaannya salah besar). Setelah membeli cukup bahan makanan di Junes, Souji kembali dengan membawa 2 kantung penuh berisi bahan makanan. Ketika sedang melalui tepi sungai Samegawa, tanpa sengaja Souji melihat sesosok wanita berambut hitam panjang sepunggung dengan mengenakan Kimono pink tengah duduk di dalam sebuah bungalow. Souji mengenalnya sebagai Yukiko karena dari wajahnya yang putih mulus tentu saja. Langsung saja Souji mendekatinya. Yukiko terkejut dengan keberadaan Souji yang tiba-tiba muncul begitu saja di depannya.

"Hai, boleh aku duduk?" tanya Souji

"Ya, tentu saja boleh." Yukiko mempersilakan Souji duduk di sebelahnya. Mereka terdiam sejenak. Souji memperhatikan wajah Yukiko yang tengah lesu. Melihat itu sebuah pertanyaan muncul diatas kepala Souji.

"Kamu mendapat masalah?" Souji bertanya lagi, tapi Yukiko tidak bereaksi apa-apa. Yukiko hanya diam tanpa berbicara sama sekali. Keheningan mengelilingi mereka sampai Yukiko menjawab pertanyaan Souji.

"Mungkin begitu, aku merasa bingung sekarang."

"Kenapa?"

"Ibuku.. Ibuku memberi tugas kepadaku atau lebih tepatnya kepercayaan untuk mengelola penginapan Amagi karena dia tidak sanggup lagi akibat kondisinya yang mulai menua dan aku..aku…"

"Belum siap?" tambah Souji mencoba melengkapi kata-kata Yukiko. Sementara Yukiko mengangguk tanda menyetujui.

"Ia bilang mulai tahun depan aku bisa mengelolanya tapi itu terserah pada diriku mau apa tidaknya." Mendengar perkataan Yukiko, Souji hanya terdiam.

"Apa kau mau menerima kepercayaan ibumu?" tanya Souji. Kali ini Yukiko yang tediam untuk beberapa saat sampai.. "Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan ide Ibuku, aku ingin memilih jalan kehidupanku sendiri!" ucap Yukiko dengan sedikit keras.

"Tapi aku tidak bisa melawan kehendak ibuku begitu saja karena ia telah berkorban banyak untukku." jelas Yukiko yang menunjukan kebingungannya. Souji yang mendengar cerita Yukiko terdiam sebentar.

"Bukankah itu bagus?"

"Huh? Maksudmu?" tanya Yukiko yang tidak mengerti maksud dari perkataan Souji.

"Bukankah itu bagus kalau kamu diberi kepercayan oleh ibumu? Dan lagi masa depanmu terjamin jika kamu menerima kepercayaan itu bukan?" ujar Souji dengar senyum yang tesungging di bibirnya. Yukiko menatap Souji dan dia ikut tersenyum. Yukiko kini berdiri dan menghadapkan tubuhnya kearah Souji.

"Terima kasih atas semua pendapatmu, Souji. Sekarang, aku rasa bebanku sedikit berkurang." ucap Yukiko.

"Yah, sama-sama." balas Souji.

"Kalau begitu aku pergi dulu" Yukiko beranjak dari bungalow itu dan pergi meninggalkan Souji sendiri"

End Flashback

"Jadi begitu ceritanya." kata Chie menaik turukan kepalannya setelah mendengar cerita Souji. "Kalau begitu aku mau pergi kekantin dulu, ada yang mau ikut?" tanyanya. Tapi semuanya menggelengkan kepala. Dengan rasa sedikit kecewa Chie melangkah pergi meninggalkan mereka. Setelah melihat Chie tengah menghilang dibalik pintu mereka bertiga melanjutkan diskusi mereka yang sempat terhenti. Mereka mereka merasa ada keganjilan dari cerita yang diceritakan Souji dan sosok yang dilihat Kaori di Midnight Channel.

"Hey Sou, Kaori.' bisik Yosuke kepada mereka berdua.

"Apa?" jawab mereka berdua secara bersamaan.

"Apakah kau tidak merasa ada kecocokan dengan sosok Yukiko yang kau lihat kemarin dengan sosok yang dilihat Kaori tadi malam?"

"Aku juga berpikir seperti itu." kata Souji setengah berbisik.

"Aku juga begitu." ucap Kaori setuju.

"Kalau begitu bagaimana langkah selanjutnya?" tanya Yosuke. Souji melihat kearah luar jendela dimana rintik-rintik air hujan mulai turun. Souji menghela nafasny sejenak. "Kita lihat nanti malam, apakah ada sesuatu di Midnight channel dan Yosuke, tolong kau beritahu Chie soal ini nanti malam." Yosuke mengangguk mengenai usulan Souji.

.

.

.

Dengan cepat siang berganti malam, waktu hampir menunjukan pukul tengah malam. Souji tengah melihat keluar jendela dimana kabut tebal tengah menutupi pengheliatannya. Sementara Kaori tengah duduk di sofa sambil menatap layar Laptopnya. Souji yang tengah bosan menatap kabut terus ikut melihat apa yang di kerjakan Kaori.

"Kau sedang apa?" tanya Souji sambil melihat layar Laptop Kaori.

"Hanya main Twitter aja." Jawab Kaori. Benar saja, tampak sebuah icon berbentuk burung diselingi dengan kata 'Twitter' disamping kanannya. "Kau punya Twitter?" tanya Kaori.

"Ada, nanti aku Follow." kata Souji yang sudah membaca gelagat Kaori. Souji melihat jam dinding dikamar mereka dan melihat kurang lebih 20 detik lagi. Ia berdiri dan diikuti oleh Kaori dibelakangnya. Mereka tengah mendekati TV kecil yang tepat berada di depan mereka. Souji melihat jam dinding, kurang lebih 5 detik lagi menuju tengah malam

11:59:55

11:59:56

11:59:57

11:59:58

11:59:59

00:00:00

TV mulai menyala dan menunjukan seseorang wanita yang tengah berdiri didepan istana. Wanita mengenakan gaun berwarna pink yang pasti akan menggoda bagi setiap kaum laki-laki yang melihatnya. Mereka berdua terkejut karena mereka mengenali sosok wanita itu, sosok yang tadi siang baru saja mereka bicarakan, ia adalah Amagi Yukiko.

"Hai, disini Putri Yukiko tengah berbicara." kata Yukiko dengan nada gembira. "Kami mengadakan acara menyelamatkan putri yang diculik, dan yang menjadi putri disini adalah aku Yukiko." Mendengar apa yang dikatakan Yukiko, Souji dan Kaori terdiam dan terus menyaksikannya.

"Kalian pasti inginkan seorang gadis seperti aku yang cantik sekaligus memiliki proporsi badan yang ideal ini kan?" tanya Yukiko sambil menunjukan bagian dadanya dan bagian kemaluannya-walaupun masih di tutupi oleh roknya- yang mampu membuat setiap kaum pria akan tergoda imannya. Kaori menyadari gelagat Souji yang melihat tayangan tersebut dengan wajah Mupeng langsung menutupi mata pria tersebut dengan tangannya dan terjadilah adu gulat dimana Souji mencoba melepaskan tangan Kaori yang menutup matanya dan Kaori yang berusaha menutup mata Souji.

"Jika kalian ingin memilikiku maka datanglah ke istana dimana aku diculik." kata Yukiko. Sekarang ia tengah berlari kedalam istana tersebut.

Disisi lain Yosuke juga melihat tayangan tersebut dengan wajah Mupeng. Ia melihat tangannya sendiri dan mencoba memasukan tangannya kedalam TV dan ternyata BISA!. Yosuke terkejut dan tanpa pikir panjang memasukan kepalanya kedalam TV.

Di rumah Chie, Chie yang melihat tayangan tersebut hanya bisa Shock. Ia merasa menyesal tak bisa melindungi Yukiko. Air matanya mengalir menjadi tangisan seorang wanita.

Kembali kerumah Dojima, Souji yang berusaha melepas dari belenggu tangan Kaori yang tengah menutupi matanya, mencoba berdiri dan berusaha melepaskan diri. Tapi apa daya dikata, Souji tengah kehilangan keseimbangan dan kepalanya masuk kedalam TV dan di saat yang bersamaan Kaori melepaskan tangannya dari mata Souji. Ketika kepalanya masuk kedalam TV, kepala Souji membentur sesuatu yang keras dan sesuatu itu mengeluarkan suara "ADUH!"

Dengan rasa yang sedikit sakit di kepalanya Souji mengadahkan kepalanya menghadap sesuatu yang dimaksud dan menemukan kepala Yosuke muncul tepat di hadapannya.

"Hai Sou.. apa yang kau lakukan?" tanya Yosuke takut takut.

"Aku masuk kesini akibat perbuatan Kaori, kau sendiri?" balas Souji dengan tatapan curiga. Yosuke menjawabnya dengan gagap.. "Ha-hanya men-mencoba kekuatan baruku saja."

"Oh yeah?"

"Bener, suer deh." ucap Yosuke mencoba meyakini, tapi Souji tetap menatapnya dengan tatapan curiga.

"Baiklah kalau begitu." Yosuke langsung bernafas lega mendengar Souji berkata seperti itu. "Dengar, coba kau telpon Chie. Aku yakin dia sedang terguncang sekarang."

"Baiklah kalau begitu." Setelah mengucapkan kata itu kepala Yosuke langsung menghilang dan Souji juga menarik kepalanya keluar dari TV. Ketika keluar ia melihat wajah Kaori yang tampak Khawatir.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau begitu lama memasukan kepalamu kedalam sana?" tanya Kaori. Souji langsung menjelaskan pertemuannya dengan Yosuke dan Kaori mengangguk mengerti.

"Baiklah, besok kita akan membuat rencana untuk menyelamatkan Yukiko." ucap Souji sambil beranjak ke Futon miliknya.

(Author note)

Maaf-maaf karena keterlambatan Update, memang saya author yang tak bertanggung jawab, eheehhe!*Plak!*

terima kasih bagi yang mau me-REVIEW fic saya, saya ucapkan terima kasih banyak.

Kepada Sky Zephyrus sebenernya saya salah tulis dan tulisan ada benarnya tapi saya membaca di salah satu artikel artinya bukan spear of gathering cloud tapi heavenly jewelled spear

Kepada Shaneeta Chornichels I just said 'Thank you very much'

Kepada meshi-chan iya, Kaori make kartu karena diakan di dunia P4 bukan P3(yang ini karena saya yang mau)

Kepada BlazingFireAngelXXX oke, sebenernya mereka ketemu di tengah jalan..(maybe like that)

oh iya jangan lupa Review yah. jika ingin Review silakan klik link Review yang berada di bawah