Moshi-moshi minna!

Akhirnya update juga… well, lama ya? Gomen! Minggu-minggu ini Wikkey banyak banget ulangan, doa'in Wikkey ya! Oya minggu kemaren Wikkey ke Japan Matsuri di Monas lho! Ujan-ujanan huwaaa pokoknya seru! Wikkey kesana sama Na-chan! Makan takoyaki! Truss, truss… (ditimpukin bantal) oke deh langsung aaja ya…

.

.

.

Disclaimer: Kishimoto Masashi

Pairing: Neji x Gaara x Itachi

Rated: T

Warning : shounen ai, OOC

.

.

.

Senja, keremangan sinarnya mulai menghias langit dengan indah. Sinarnya yang begitu lembut dengan guratan indahnya menghias langit yang cerah. Sinar senja menembus masuk sebuah jendela aparteman memberikan sebuah rasa hangat bagi penghuninya.

"… Itachi-san giliranmu,"

Ujar Gaara yang baru menampakkan dirinya keluar dari kamar mandi. Itachi yang sedari tadi duduk menunggu di kursi kayu menoleh dan tersenyum sejenak. Ia beranjak dari posisinya dan menghampiri pemuda berambut merah yang bernama Gaara itu.

"Itachi-san!"

Gaara berkelit dari Itachi yang nampaknya ingin memeluknya. Itachi tersenyum. Gaara menghela nafas pendek, ia mendorong tubuh Itachi menuju ke kamar mandi.

"Itachi-san… kau harus segera mengeringkan badanmu, aku tak mau kau terserang flu!"

Itachi tidak menolak saat Gaara mendorongnya, namun dengan sigap tangannya menarik lengan Gaara. Ia mengecup kening Gaara dengan lembut, sehingga sukses membuat wajah Gaara yang semula datar menjadi merah padam.

"Terima kasih,"

Ujarnya lembut di telinga Gaara, lalu Itachi menuju ke kamar mandi dan meninggalkan Gaara yang tertunduk malu sendirian.

Beberapa menit kemudian Itachi keluar dari kamar mandi, rambutnya tergerai indah, masih setengah basah. Ia memakai kemeja putih yang belum terkancing dan celana jins hitam. Ia bejalan menuju pintu, berhenti sejenak untuk merapikan penampilannya.

"Gaara…"

"Ya… Itachi-san?"

"Aku akan keluar sebentar, aku ingin membeli sesuatu, ada yang kau inginkan?"

"…" hening.

"Gaa…"

Tiba-tiba Gaara memeluk punggung itachi, ia dapat merasakan aroma harum tubuh dan kehangatan itachi dari situ. Itachi tersenyum, ia membalikkkan tubuhnya, kedua pandangan mereka bertemu.

Hening beberapa saat. Merasa kurang nyaman dengan keadaan ini Gaara mengalihkan pandangan pada kemeja Itachi yang belum terkancing. Gaara merapihkan pakaian Itachi, ia membenahi kancing kemeja Itachi yang lumayan lembab tersebut dengan tempo lambat, perlahan satu demi satu.

Tangan Gaara telah mencapai bagian kerah, ia menelusuri dada bidang dan leher jenjang Itachi sebelum tangannya mencapai ke bibir Itachi yang lembut sekarang. Namun Gaara menatap Itachi dengan pandangan kosong. Itachi mengangkat kedua tangannya dan mencubit kedua pipi Gaara dengan lembut.

"Gaara? Kau mau ikut? Ada sesuatu yang kau pikirkan…"

Seolah baru bangun dari mimpi, Gaara menatap sosok yang ada di depannya, ia terpaku, dan tertunduk lemah.

"Maaf… Itachi-san… aku…" Itachi menempelkan jari telunjuknya di bibir Gaara dan tersenyum lembut.

"Baiklah, aku tidak memaksa, jika kau tidak ingin menceritakannya, itu hak mu… tapi setidaknya… aku berada di sampingmu untuk meringankan bebanmu, Gaara…"

"Maaf… aku merepotkan, Itachi-san,"

Itachi menghela nafas pendek melihat tingkah laku Gaara yang sedikit aneh hari ini. Ia-pun beranjak mendekati pintu.

"Baiklah aku pergi sebentar, aku ingin kau istirahat, sebaiknya kau tidur, biar aku yang menyiapkan makan malam hari ini... baiklah, aku pergi…"

"… hati-hati Itachi-san"

Gaara terus memandangi punggung Itachi samapai ia menghilang dari pandangannya.

Neji memarkir mobilnya di depan sebuah caffe, caffe yang sering ia kunjungi bersama Gaara dulu. Ia mematikan tape yang sengaja ia atur dengan volume yang luar biasa keras untuk di dengar dari dalam mobil.

Neji menghempaskan tubuhnya dengan keras ke jok mobil sambil memijit keningnya. Wajahnya nampak kusut tidak bersemangat, semenjak kejadian tadi, Neji memang sinis pada semua orang, hatinya benar benar sesak.

Neji bergumaam tidak jelas, badannya di banjiri keringat walaupun ia sudah menyalakan pendingin di mobilnya. Ia menahan sesuatu, sesak di dadanya. Neji menghela nafas berat, tubuhnya lunglai ketika ia keluar dari mobil, Neji berjalan menuju caffe diiringi angin sejuk yang tiba tiba berhembus sedikit kencang.

Tak lama setelah itu ia mendengar suara tangisan anak kecil, Neji menoleh dan mendapati anak kecil itu menangisi balonnya yang terbang terbawa angin. Neji kembali berjalan kearah caffe.

Di depan caffe neji berbicara dengan pemuda yang berjaga disana, Neji kembali menghampiri anak kecil tersebut dengan tiga buah balon di tangannya. Ia menyodorkannya kepada anak tersebut dengan senyum yang dipaksakan,

"Ayo jangan menangis, ini kakak berikan untukmu…"

Anak itu terdiam, jeda sejenak sampai anak itu menerima balon yang disodorkan oleh Neji.

"Anu… kakak…"

"Ya?"

"…kit, kah? Bagian mana yang sakit? Walaupun kakak tersenyum, namun aku masih bisa melihat kakak menahan rasa sakit itu..."

Neji terhenyak dengan perkataan anak tadi. Ia mencengkram dadannya, menhan sesuatu yang akan segera meleleh dari matanya.

Anak itu meraih tangan Neji, ia menyelipkan sesuatu di tangannya.

"Ini… kakak simpan ya? Ini adalah milikku yang berharga, namun kini aku telah memiliki sesuatu yang lebih berharga dari ini, dan aku akan berusaha keras untuk menjaganya agar ia tidak hilang untuk kedua kalinya dariku… kakak juga, berjuang ya…"

Neji menggenggam pemberian anak tadi tanpa berkata apa-apa dan bergegas masuk ke dalam mobil, ia mendapati air mata mengalir dengan sendirinya.

Ditengah tangisannya ia membuka genggamannya dan mendapati dua buah kalung indah bebrbentuk sayap dengan ukiran yang sangat mengagumkan, Neji mencoba menyudahi tangisnya.

Neji mengatur nafasnya, air matanya telah kering namun matanya sembab. Ia menyandarkan kepalanya dan menoleh keluar terlihat sosok orang yang telah lama kenali berjalan keluar dari sebuah minimarket di samping caffe yang ditujunya tadi. Tidak salah lagi, itu Itachi.

Sontak Neji keluar dari mobil dan membanting kasar pitunya. Neji berlari ganas kearah Itachi. Dengan kasar Neji mendorong Itachi ke arah gang kecil yang tidak jauh dari situ.

BRUKKK!

Neji menghimpit tubuh Itachi di tembok, ia mencengkram kerah baju Itachi dengan kasar, nafasnya terengah. Neji mendekatkan bibirnya kearah telinga Itachi,

"Kembalikan Gaara!" geram Neji

"Maaf… aku, tidak bisa…" jawab Itachi datar.

BUAKKK!

Pukuan mendarat di pipi Itachi, darah segar mengalir dari bibirnya dan menyiprat ke tangan Neji. Itachi tersungkur di lantai batu yang dingin, Neji kini menempatkan posisi berada di atasnya mengcengkaram baju Itachi dengan tatapan tajam kearah Itachi.

TBC

Nah, lagi klimaks-klimaksnya niiii… makasih yang udah baca n nge-riview karya Wikkey ya! (nunduk2 ala orang Jepang) pokoknya makasih banget! Well, review please…