Disc: Standard applied

catatan: aku malu banget soal bahasa penceritaan di cerita ini, jadi mohon dimaafkan kalau mungkin fanfic ini nggak memenuhi standar.

2. Pertemuan

You're a teaser, you turn 'em on
Leave 'em burning and then you're gone

(Dancing Queen - ABBA)

Namaku Orihime Inoue.

Tahun ini usiaku sembilan belas tahun. Aku bekerja paruh waktu di sebuah kafe milik kenalanku di daerah Shinjuku. Selain bekerja sebagai pelayan kafe aku juga masih menjalani pekerjaanku yang lainnya, Enjo Kosai.

Bekerja di kafe sebenarnya jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan bekerja menemani para pria hidung belang itu, tapi sayang pendapatan yang kudapat dari bekerja di kafe tidak seberapa bila dibandingkan dengan uang yang kuterima dari para pelangganku. Aku butuh uang. Meskipun aku sangat ingin berhenti dari pekerjaan itu, aku mencoba untuk bertahan. Paling tidak sampai tabunganku cukup untuk dijadikan modal untuk memulai usaha sendiri.

Aku ingin memiliki sebuah toko roti. Sampai saat ini aku selalu menyisihkan uangku untuk ditabung sebagai modal untuk membuka sebuah toko roti suatu saat nanti.

Aku tengah beristirahat di ruang ganti pegawai ketika teman sekerjaku memanggilku.

Aku mengenal Tatsuki sejak mulai bekerja di kafe ini, dia adalah salah satu pekerja paruh waktu di tempat ini. Ia adalah tipe gadis yang bertolak belakang denganku. Rambutnya hitam dipangkas sangat pendek dengan perawakan kurus namun bertenaga sangat kuat. Penampilannya seperti seorang pemuda berwajah tampan sehingga ia memiliki banyak penggemar wanita. Beberapa dari penggemarnya bahkan menjadi pelanggan tetap kafe ini. Aku menyukai Tatsuki, kami bersahabat cukup dekat.

"Ada tamu di meja dua, tolong layani. Kau sedang senggang kan?"

Aku mengangguk, "Tatsuki-chan memangnya mau kemana?"

Tatsuki merengut sambil menepuk perutnya dua kali, "Aku sakit perut."

Aku tertawa dan mengangguk, aku mengibaskan tanganku untuk mengusirnya pergi, "Sudah sana, biar aku yang urus tamunya."

Tatsuki mengucapkan terima kasih sebelum kelua dari ruangan itu.

Aku menghela nafas sambil mengikat kembali rambut panjangku. Aku menatap pantulan bayanganku di cermin dan merapikan pakaianku sebelum beranjak ke luar ruangan untuk menemui tamu yang telah menungguku.

Yang menarik perhatianku dari tamu di meja dua adalah rambutnya.

"Selamat datang, tuan anda memesan apa?"

Pria itu mengangkat wajahnya yang sejak tadi tersembunyi di balik daftar menu. Aku mengerjapkan mataku saat bertatapan dengannya. Pemuda itu memiliki rambut berwarna oranye, jauh lebih mencolok dibanding warna rambutku dan berwajah tampan. Sangat tampan.

Pemuda itu mengenakan t-shirt berwarna hitam dan celana jeans. Penampilanya sederhana tapi tetap saja ia terlihat begitu mencolok di mataku, dan itu bukan hanya karena warna rambutnya.

"Apa menu spesial hari ini?" tanyanya, suaranya rendah dan entah mengapa terdengar malu-malu.

Aku tersenyum gugup, baru kali ini aku merasa canggung saat harus melayani seorang tamu. Aku pasti terlihat bodoh di depannya.

"Emm, anda bisa mencoba menu baru kami, apa anda suka sea food?"

Ia mengangkat bahunya, "Tergantung, dimasak seperti apa?"

Aku mencoba untuk meraih daftar menu yang dipegangnya untuk menunjukkan gambar menu yang kumaksud tapi tanganku gemetaran dan menyenggol tempat gula dan creamer yang ada di atas meja. Gula pasir pun berserakan di atas meja. Wajahku memerah dan seketika aku menjadi panik.

"Ah maaf!"

Dengan panik aku buru-buru memasukkan gula-gula itu kembali ke tempatnya, dalam hati aku memarahi diriku sendiri atas kecerobohanku. Wajahku memerah dan aku hampir menangis ketika pemuda itu membantuku membereskan gula yang berserakan itu. Bajunya yang berwarna hitam pun dipenuhi gula pasir bercampur creamer yang lengket.

"Sudahlah, tidak apa-apa..." gumam pemuda itu sambil membantuku.

"T-tapi..."

"Apa yang kau lakukan, heh wanita?"

Aku tersentak. Saat aku menoleh, seorang pria berambut hitam dan bermata hijau tengah berdiri sambil melipat tangan di depan dadanya. Ia menatapku degan tatapannya yang tanpa ekspresi seperti biasanya. Aku menjadi semakin panik. Pria itu adalah Ulquiorra Schiffer, pemilik kafe tempatku bekerja.

"Ulqui-kun..."

"Ulquiorra-sensei..."

Aku dan Ulquiorra sama-sama menoleh ke arah pemuda berambut oranye itu. Aku menatap keduanya bergantian. Ulquiorra menyipitkan mataya saat menatap pemuda itu seolah-olah mengingat siapa pemuda itu. Tapi selang beberapa detik kemudian tampaknya ia mengenali siapa pemuda itu.

"Ah, Kurosaki rupanya..."

Jadi namanya Kurosaki... Wajahku semakin memerah.

"Ka-kalian saling kenal?"

Ulquiorra mengangguk, "Aku mengajar di kampusnya."

Aku mengangguk, sejak lulus kuliah dua tahun yang lalu Ulquiorra bekerja juga sebagai pengajar di universitas tempatnya dulu belajar. Kalau dia adalah murid Ulquiorra artinya Kurosaki adalah mahasiswa seni rupa. Dalam hati aku mengira-ngira berapa usianya. Ia tidak terlihat lebih dari dua puluh tahun bagiku.

"Maafkan keteledoran pegawaiku," kata Ulquiorra sambil melirik ke arahku. Aku buru-buru membungguk meminta maaf kepada kedua pria itu. Ulquiorra menghela nafas panjang, "Pesan saja sesukamu, kali ini sebagai permintaan maaf, semuanya gratis untukmu."

"Ah, tidak perlu..."

"Heh, wanita," Ulquiorra tidak menghiraukan penolakan Kurosaki, "Bawakan menu special hari ini beserta minumannya." Setelah berkata demikian ia berbalik dan meninggalkan kami tanpa mengatakan apa-apa.

"Maafkan aku telah membuatmu ditegur..." gumam Kurosaki dengan nada bersalah setelah Ulquiorra tidak tampak lagi dari pandangan kami.

Aku tertawa kecil, "Tidak apa-apa semua ini salahku sendiri. Baiklah, saya akan kembali dengan menu spesial hari ini untuk anda."

Sebelum ia bisa mengatakan apa-apa lagi aku buru-buru beranjak ke dapur.

Aku tidak bisa berlama-lama berada di dekat pemuda itu. Tatapannya membuatku meleleh. Aku merasa tidak nyaman. Saat ia menatapku, aku seperti merasa ingin melompat dan memeluknya.

Dia adalah murid Ulquiorra, aku tidak boleh tertarik padanya.

"Wajahmu merah sekali."

Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah Ulquiorra yang berdiri bersandar di dekat pintu dapur.

"Ulquiorra-kun..."

"Kau tertarik padanya?"

Wajahku bersemu merah, "Ti-tidak, kenapa kau..."

Aku tidak bisa menyelesaikan kata-kataku karena ia sudah menarikku ke sisinya dan mencium bibirku. AKu membiarkannya menciumku. Bibirnya terasa dingin seperti biasa, aku memejamkan mataku dan mencoba untuk menikmati ciumannya. Saat ia mencoba memasukkan lidahnya ke dalam mulutku aku buru-buru menjauh dari tubuhnya.

Hampir saja...

"Ulquiorra-kun, aku sedang bekerja..." kataku sambil mengerutkan dahiku.

"Lalu memangnya kenapa?" jawabnya tenang, "Kafe ini milikku."

"Kalau ada yang lihat..."

"Mereka tidak akan berkomentar apa-apa, mereka tahu kau milikku."

Aku menghela nafas sambil mencoba menepis tangannya yang merayap naik dari pinggang menuju dadaku, "Aku harus kembali bekerja..."

Saat aku berbalik dan hendak pergi ke dapur, Ulquiorra menangkap pergelangan tanganku dan menarik tubuhku ke sisinya.

"Ingat, wanita..." ia berbisik di telingaku, "Jangan jatuh cinta padanya..."

"Aku tidak..."

"Ingat baik-baik, aku tidak melarangmu..." Bisiknya lagi, nafasnya menggelitik telingaku, "Aku memperingatkanmu..."

Lalu ia melepaskan tanganku dan beranjak pergi meninggalkanku yang berwajah merah padam karena perlakuannya padaku.

.

.

Author's Note:

Perlu diperhatikan, tidak akan ada threesome di fanfic ini. Saya juga nggak menjanjikan Lemon di fanfic ini. Mungkin akan ada beberapa adegan dewasa tapi mungkin hanya sebatas lime dan bukan lemon. ^^; saya tidak suka membaca/menulis lemon dalam bahasa Indonesia karena jujur saja untuk menuliskan kata 'penis'(maaf) saja saya sudah bergidik ngeri. Kalau dalam bahasa Inggris kan ada banyak kata yang bisa dipakai menggantikan kata 'P ' itu... Saya tidak suka fanfic yang menggunakan kata-kata vulgar seperti 'P' atau 'V' karena menurut saya sebuah adegan seksual bisa dibuat sensual tanpa menggunakan kata-kata semacam itu. Yah lihat aja nanti, meskipun saya nggak menjanjikan adegan yang hot, saya akan coba lakukan sesuatu... (entah apa).

Chapter ini cuma copy paste dari cerita lama saya (seperti yang sudah saya jelaskan di capter1. Jadi soal penggunaan bahasa yang aneh dan kaku, tolong dimaklumi.

Untuk Neriel-Chan

untuk membuat akun di pertama sebaiknya online melalui PC/regular site, bukan lewat hape, selanjutnya nanti klik di bagian sudut kanan atas "sign up" lalu nanti kamu tinggal mengisi formulirnya dengan format:

Pen name: (nama pena yg mau kamu gunakan, misalnya saya: Recchinon)

Email: (email kamu)

Re-type email: masukin lagi sekali email kamu

Password: (Isi password kamu)

Re-type Password: masukin sekali lagi password kamu

centang dua kotak yang ada

tulis kode verifikasi yang diberikan

terus klik "sign up".

Setelah itu kamu akan dapat email verifikasi untuk mengaktifkan akun kamu. Akun kamu langsung bisa kamu pakai, tapi untuk bisa mempublish cerita kamu harus tunggu24 jam dulu (tapi sudah bisa dipakai buat mereview ^^)

Kalau punya account kamu bakal dapat email pemberitahuan setiap kali ada update dari cerita/author yang kamu suka. Kamu bisa ikut voting juga...

Buat yang belum punya account, silahkan bikin...

(promosi)