"Basha no naka de furueteta

mijimena furugi mekurimegure yoru no butou."

-Claire's POV-

"Me-membunuh pangeran?" tanyaku dengan penuh ketakutan. Aku tidak punya dendam apapun terhadap pangeran. Bagaimana aku bisa membunuhnya? Aku tidak sanggup!

"I-I don't…" jawabku tergagap-gagap.

"Kamu harus melakukannya! Bukankah kamu ingin pergi ke pesta dansa itu? Sekarang kukabulkan keinginanmu! Sebagai gantinya, kamu harus melakukan misi ini menggantikan kakakmu!" bentak Ibu sambil melototiku.

"A-aku… tidak…" kataku dengan lirih. Air mataku mulai mengalir. Tanganku gemetaran dan aku menundukkan wajahku. Ibu ingin menjadikanku tumbal? Ibu memang kejam, tetapi tidak kusangka Ibu menyuruhku untuk mengotori tanganku dengan darah pangeran.

Ibu mendekatiku dan mengangkat wajahku. Dan mulai berbisik padaku dengan penuh nada kelicikannya.

"Don't you wish to be free?" Mataku langsung terbuka lebar saat mendengar ucapan Ibu. 'Ya, aku menginginkannya, aku ingin bebas…' kata hatiku dengan jujur.

"I will be very proud of you if you could do it. And if you kill the prince, the freedom shall be yours…"

"B-But…" kataku dengan sangat ragu. Aku tidak tahu kalau aku menolak akan berakibat apa.

"For the sake of your father and your mother…" kata Ibu tiriku. Kata Ibu tiriku yang terakhir langsung meresap ke hatiku yang paling dalam. Aku memenjamkan mataku yang beraliran air mata.

"As you wish… Mother…" kataku dengan kepasrahan terhadap takdirku.

'I can only resign to my fate…'

-Karen's POV-

Dikamar Ann, aku dan putriku sedang mendandani Claire. Dia duduk di sebuah kursi menghadap meja rias sambil menundukkan wajahnya. Aku memakaikannya sebuah gaun warna biru. Kemudian putriku menata rambutnya dengan mengikat setengah rambutnya. Dan dia memakai anting-anting dan kalung yang perak. Dia memakai dandanan dan lipstick yang tipis.

Kemudian dia berdiri, aku dan Ann memperhatikannya dari atas sampai ke bawah. Harus kuakui kalau dia memang sudah cantik meski tidak didandani. Hasilnya menjadi luar biasa kalau sudah didandani. Menunjukkan keanggunannya sebagai seorang lady. Hanya saja, dia wajahnya jadi tidak berekspresi sama sekali. Tidak sedih, tidak marah, tidak senang.

"Claire, smile." kata Ann sambil melipat kedua tangannya. Tetapi, dia sama sekali tidak menyahut. Hanya memandang kekosongan.

"Claire… I said, smile." ucapanku kuusahakan dapat menekannya agar mematuhi perintahku.

Akhirnya dia mengangkat wajahnya dan tersenyum manis.

"Bagus." kata Ann dengan sombong. Dia kembali ke ekspresi wajah semula, tanpa emosi.

"Ayo Claire. Our guest is waiting." kataku angkuh sambil keluar dari kamar diikuti oleh Ann. Kemudian, Claire pun mengikuti dibelakang. Dan aku mulai tersenyum licik.

'She cannot escape from her fate… Never!'

-Skye's POV-

'Lama sekali… What is taking them so long?' pikirku sambil meminum teh yang dibawa maid. Tehnya memang sudah dingin, tapi masih tetap enak.

"She have a good skill on making tea." kataku sambil memandangi tea set berwarna biru putih itu. Aku merasa sedikit tertarik dengan maid itu. Kemudian, aku melihat pintu itu terbuka. Aku segera beranjak dari tempat dudukku. Aku melihat Mrs. Karen dan Ms. Ann diikuti oleh seorang gadis berambut pirang. Tapi wajahnya tanpa ekspresi. Aku langsung teringat bahwa dia adalah maid rumah ini.

"Let me re-introduce my another daughter, her name is Claire Harvenheit." Dengan senyuman seorang wanita bangsawan yang anggun Karen memperkenalkan gadis yang disebutnya 'daughter' olehnya.

"My name is Claire Harvenheit, nice to meet you." katanya sambil mulai tersenyum kemudian menghaturkan hormat. Meski tersenyum, dia tampak seperti sebuah boneka, terlihat begitu kosong. Aku pun mengambil tangan kanannya. Aku menutup mataku dan mencium punggung tangannya.

"It is a great honor to meet you, my beautiful angel" kataku sambil menatap mata sapphire-nya dengan mata emerald-ku. "And thank you for the tea, it was the best tea I ever drink."

"Adikku yang satu ini memang sangat suka untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, sampai-sampai memakai baju maid yang sangat kumal." kata Ann sambil tersenyum padaku. Aku tidak mempedulikannya, kemudian aku bertanya dengan lagi pada Claire.

"Apakah Anda tahu apa yang akan lakukan saat pesta dansa besok?" tanyaku dengan serius. Jujur saja, aku merasa sayang jika tangan gadis sepertinya kotor oleh darah. Dan gadis itu mengangguk.

Aku sedikit kecewa atas jawabannya, tapi masih ada harapan kedua, yaitu sepatu kaca. Aku mengambil sepasang sepatu kaca. Kemudian aku menuntunnya untuk duduk di kursi. Kuletakkan sepatu kaca itu di depan kakinya, dengan posisi berlutut ala bangsawan.

Dia mulai mendekatkan kakinya pada sepatu kaca itu. Aku mulai menatap tajam kakinya yang sudah akan memakai sepatu itu.

'I really hope it isn't fit on her … I don't want it to be her fate'

-Claire's POV-

Sepatu kacanya ada dihadapanku. Aku memenjamkan mataku dan menghela nafas. Aku mulai mendekatkan kakiku pada sepatu kaca itu. Ibu dan kakak memperhatikannya di belakang Tuan Dowsen yang berlutut di depanku. Dan…

Sepatu itu cocok.

'This is my fate…' pikirku pasrah sambil memenjamkan mataku. Tuan Dowsen menghela nafas, kemudian bangkit berdiri dengan wajah yang menunjukkan kekecewaan dan pasrah. Dia mengulurkan tangan padaku, aku pun menyambut tangannya dan berdiri.

"Then… Saya akan membawa Anda untuk ke pusat perbelanjaan untuk membeli kain, perhiasan, dan lain-lain yang Anda butuhkan untuk pesta besok." katanya sambil mengganti ekspresinya dengan senyum yang gentleman lembut. Lebih lembut dari yang ditunjukkan kepada Ibu dan Kakak.

Aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban.

"Saya mohon ijinnya, Mrs. Harvenheit." lanjut Tuan Dowsen dengan wajah 'Saya-pinjam-putrimu sebentar.'

"You may go, Claire, enjoy." kata Ibuku sambil senyum.

"Then, shall we?" tanya Tuan Dowsen sambil membukakan pintu, mempersilahkanku keluar lebih dulu.

"Ladies first…" katanya sambil tersenyum gentleman. Senyuman yang pasti memikat gadis-gadis sekitarnya. Tetapi, aku pun hanya keluar dari ruang tamu tanpa ekspresi apapun.

-Few minutes later, on the horse carriage, still Claire's POV-

Kami masih terdiam di tempat duduk masing-masing, aku melihat keluar jendela. Sedangkan Tuan Dowsen yang duduk berhadapan denganku sedang memperhatikan aku sejak berangkat tadi. Tapi aku tidak memedulikannya. Dan yang duduk di sampingku adalah tangan kanan Tuan Dowsen, Elli.

-Skye's POV-

"May I ask you something?" Akhirnya aku berusaha untuk berbicara pada gadis pirang itu.

Gadis itu menatapku dan mengangguk. Matanya memang menatap mataku, tapi pandangannya kosong. Berbeda sekali waktu aku bertemu dengannya di kediaman Harvenheit. Waktu itu, meski dia berpakaian maid yang kumal, tapi dia menunjukkan senyuman yang sangat hangat. Tapi sekarang dia benar-benar seperti sebuah boneka.

"Kamu bukan putri dari Mrs. Karen, apa dugaanku benar?" kataku menduga-duga. Tapi sebenarnya, aku memang mencurigainya karena sesuka apapun gadis ini mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tidak mungkin sampai ingin memakai baju maid yang kumal.

Gadis itu hanya menutup matanya, tampak sekali kalau dia diperlakukan seperti pembantu. Dan dia membuka matanya dan sepertinya akan menjawab.

"It's okay, if you don't want to answer me. I already know the answer." jawabku sambil senyum.

"Tenang saja, aku akan menjamin keselamatanmu. Kamu pasti akan selamat jika mengikuti sesuai rencanaku." kataku untuk berusaha membuatnya merasa aman. Aku tidak peduli jika semua ini terdengar oleh Elli, sebab dia juga mengetahui tentang rencanaku.

"Sir, kita sudah sampai ke tempat pertama jadwal kita hari ini, toko kain Gracious." kata Elli sambil membuka pintu kereta, dan dia turun terlebih dahulu. Kemudian aku turun dari kereta, dan mengulurkan tangan kepada gadis pirang itu untuk mempermudah dia turun dari kereta.

-Elli's POV-

Aku mulai memilihkan kain untuk Ms. Claire yang duduk di sebuah kursi. Kata Tuanku memang benar, dia seperti sebuah boneka yang hanya bergerak untuk menjalankan tugasnya.

Ketika aku sedang sibuk berbicara dengan pemilik toko, Tuan Skye yang sedang jalan-jalan di toko sambil melihat seisi toko pun kembali memperhatikan Ms. Claire.

"Elli, come here for a second…" katanya sambil melambai-lambai tangannya untuk menyuruhku ke sana. Aku pun segera mendekati Tuan Skye yang posisinya sedikit jauh dari Ms. Claire.

"Yes, sir?" tanyaku dengan cepat tetapi mata Tuanku masih juga tertuju pada Ms. Claire. Tuanku sepertinya tertarik pada Ms. Claire. Padahal biasanya beliau hampir tidak pernah merasa tertarik pada wanita.

"Tolong ajak bicara pada Ms. Harvenheit. Buat dia tersenyum. Akan lebih mudah bagimu yang sesama wanita untuk curhat." perintah Tuanku dengan serius. Sepertinya dia memang ingin gadis itu supaya tampak lebih ceria.

Aku tertawa kecil. Tidak kusangka Tuanku begitu inginnya untuk melihat senyuman Ms. Claire. Tapi, entah kenapa aku tidak heran Ms. Claire bisa seperti ini.

'How poor she is… Because of her fate…'

-Claire's POV-

Aku hanya bisa duduk diam, sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba, ada seseorang menepuk pundakku. Aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Ternyata itu Elli, tangan kanan dari Tuan Dowsen.

"Are you okay, Ms. Harvenheit?" tanyanya dengan sopan. Aku hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Meski sebenarnya aku tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

"Kalau begitu, bisakah Anda ikut Saya? Saya ingin memilihkan kain untuk Anda." katanya sambil menunjukkan wajah lega. Aku pun bangkit dan mengikutinya.

Dia mulai mengambil kain dari rak dan membanding-bandingkan warna yang cocok untukku. Dia memang tangan kanan Tuan Dowsen, karena dia pintar untuk memilih kain yang bagus kualitasnya.

"Maafkan Tuan Saya, Ms. Claire… " katanya sambil mencocokkan warna kain padaku. Aku bingung. Kemudian aku bertanya padanya, "Kenapa minta maaf?"

"Maafkan keegoisan Tuanku dalam rencananya, dia melakukan semua ini karena tekanan dari banyak orang. Beliau pun mempertaruhkan namanya untuk menjalankan rencana ini dan juga keselamatan Anda sewaktu Anda menyelesaikan misi ini." katanya sambil memegang segulung kain pink.

"Tetap saja membunuh adalah dosa." Akhirnya aku mulai membuka mulutku untuk berbicara.

"Beliau dipaksa oleh lingkungan, situasi, dan tekanan. Semua itu menjadikannya keharusan untuk membunuh pangeran." sahutnya karena menyesali semua itu.

'Ya… aku juga terpaksa oleh semua itu.' pikirku dalam hati.

"Kenapa kamu menceritakan semua ini padaku?" kebingunganku menjadi-jadi. Mungkin wajahku jadi berekspresi.

"Sebab beliau kesepian…"

Kata-kata Elli membuatku tertegun. Aku tidak percaya kalau orang sepertinya kesepian. Kupikir dia begitu kejam sampai meminta bantuan seperti ini pada Ibu. Ternyata, sama seperti diriku, dia juga terpaksa.

'Ya… Dia juga korban… Sama seperti aku…'

-Elli's POV-

Aku menceritakan kenapa Tuan Skye melakukan semua ini. Tuan besar selalu membanding-bandingkan Tuan muda dengan pangeran. Tuan muda merasa kesepian karena orang tua yang kurang memberi perhatian padanya. Sewaktu Tuan Skye berumur 17 tahun, beliau capek akan perbandingan-perbandingan itu. Kemudian mulai berusaha lebih keras, seperti orang gila. Tetapi tetap saja sia-sia. Beliau menjadi putus asa, kemudian merencanakan pembunuhan terhadap pangeran.

"Aku tidak menyalahkannya…" kata Ms. Claire. Akhirnya, beliau mau tersenyum juga. Aku hanya sedikit lega, karena sebenarnya senyumannya merupakan senyuman kesedihan.

"Terima kasih sudah memaafkan Tuanku… Akhirnya ada juga yang mau mengerti juga perasaan Tuan Skye. Memang apa yang Saya katakan tidak akan mengubah kenyataan tentang misi Anda besok malam, tapi…" Perkataanku dipotong oleh Ms. Claire. Kemudian beliau memenjamkan matanya.

"Ini pilihanku sendiri… Bukan demi Ibu tiriku, Kakakku, ataupun Tuan Dowsen." katanya yang berkesan kesiapan hatinya. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.

"Hatiku sudah siap untuk berlumuran dosa… Ini demi diriku sendiri… Demi kebebasanku… Dan demi orang tuaku di surga…"

"You were trembling inside the horse-carriage.

Now tear away that wretched old outfit, and return to tonight's dance ball."

TO BE CONTINUED…