"Kane wa narasanaide anata ni hizamazuki
mada DAME to sakenda migite ga tsukisasu SAYONARA…"
"Kesenai shouen wo kousui ni matou hime
tsuyoi hitomi boku no kootta kamen goto uchinuku…"
-Claire's POV-
"Hatiku sudah siap untuk berlumuran dosa… Ini demi diriku sendiri… Demi kebebasanku… Dan demi orang tuaku di surga…" kataku dengan tenang. Aku memang hanya bisa pasrah saja.
"Ah… Jangan dipikirkan kata-kataku barusan," lanjutku sambil tersenyum pada Elli, mungkin dia sedikit terkejut dengan perkataanku tadi.
"Oh! Yes, pardon me…" sahut Elli yang kembali memilih kain untuk gaunku besok malam.
"Ms. Claire, Anda menyukai gaun seperti apa?" tanya Elli sambil mengambil lagi contoh kain lainnya.
"I would like a simple one." Aku menjawab pertanyaannya dengan penuh keyakinan. Aku memang tidak menyukai gaun dan perhiasan yang terlalu berlebihan.
"Benar, Anda sudah cantik. Jadi, jika memakai pakaian yang terlalu mewah, maka kecantikan Anda akan tersia-siakan." kata Elli sambil sedikit tertawa, sepertinya kami menjadi sedikit akrab. Dulu, aku memang akrab dengan para maid, dan tukang kebun di rumah. Aku menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri. Aku menjadi sangat kesepian semenjak Ibu memecat semua pelayan untuk menghemat pengeluaran.
-Skye's POV-
'Lama sekali cewek-cewek itu… Sedang apa mereka?' pikirku sambil duduk bosan di sebuah kursi yang tadi diduduki oleh Ms. Harvenheit. Kepalaku bersandar di telapak tanganku. Sesaat kemudian, mereka menampakkan diri sambil bercanda tawa. Aku menjadi lega, sepertinya gadis pirang itu sudah ceria lagi seperti sediakala.
Elli berdiskusi dengan penjahit pakaian, sedangkan Ms. Harvenheit berjalan menuju kearahku. Dia menjadi sedikit ramah dibandingkan tadi. Tidak lama kemudian, Elli pun menyusul.
"I'm sorry Sir, I've done my best," kata Elli dengan berbisik padaku.
"Nope, thank you for your hard work. Selanjutnya, biar aku yang melakukannya sendiri." Aku berbisik kembali pada Elli dengan nada yang puas.
"Nah, Ms. Harvenheit, mungkin sedikit cepat, tapi silakan menikmati afternoon tea dulu di café bersama tuan muda, sementara Saya akan mengurus lain-lainnya," kata Elli sambil membuka buku catatan yang berisi time table yang harus dilaksanakan.
"Kalau begitu, please excuse me, nanti Saya akan menjemput Anda berdua," lanjutnya sambil menutup buku catatannya, kemudian dia menundukkan kepala dan pergi dengan kereta kuda. Aku sudah mengijinkannya untuk pergi dengan kereta kuda, karena aku dan Ms. Harvenheit akan pergi ke café dengan jalan kaki.
-Few minutes later, in a café, still Skye's POV-
Seorang waiter datang ke meja tempat aku dan Ms. Harvenheit duduk, dan memberikan kami menu. Kami pun membuka menu dan aku langsung memesan.
"Strawberry shortcake and earl gray, please." Setelah selesai memesan, mataku langsung tertuju pada gadis bermata sapphire yang kebingungan. Aku tertawa kecil.
"What would you like to have, Ms. Harvenheit?" tanyaku padanya. Matanya langsung melihatku, bagaikan anak kecil yang kebingungan. Mungkin sudah lama sekali dia tidak minum afternoon tea.
"Uh… Sandwiches and a lemon tea, thank you," jawabnya sambil mengembalikan buku menu pada waiter.
"Mr. Dowsen… May I ask you something?" Akhirnya dia mau mengeluarkan suaranya untuk berbicara padaku. Aku merasa sedikit senang.
"Panggil saja aku Skye. Apa yang ingin kau tanyakan, little angel?" tanyaku penasaran.
"Kenapa syarat bagi orang yang membunuh pangeran, kakinya harus pas untuk memakai sepatu kaca?" Matanya menatap serius mataku.
"Karena sepatu kaca itu dibuat tanpa mengetahui ukuran sepatu yang akan dihasilkan. Aku hanya mengambil pasir secara asal-asalan kemudian kuminta mereka untuk membuat sepasang sepatu kaca dengan pasir itu. Maka tidak sembarang orang yang kakinya akan sesuai dengan sepatu kaca…" jawabku dengan tersenyum.
"Kalau seandainya tidak ada orang yang sesuai dengan ukuran sepatu itu?" tanyanya lagi. Tampakny dia memang penasaran tentang perihal sepatu kaca itu. Aku pun menghelas nafas.
"The prince shall be alive…" katanya dengan tenang. Dia menatapi aku dengan pandangan khawatir. Tidak lama kemudian, pesanan kami pun datang.
-Claire's POV-
Seorang waiter menghampiri kami dengan membawa pesanan kami. Dia meletakkan sandwich dan lemon tea hangat di depanku juga earl grey dan strawberry shortcake di depan Skye. Sudah lama aku tidak menikmati afternoon tea, tapi sekarang ini aku tidak punya selera apa-apa. Aku melihat dia langsung meminum earl grey yang dia pesan.
"Hm… Not bad… But, I still prefer the tea that you made…" katanya sambil meletakkan cangkir tehnya dengan suara yang pelan.
"It is my honor," jawabku dengan singkat. Dia tersenyum dan mulai menikmati strawberry shortcake yang dia pesan. Tampaknya dia suka untuk makan yang manis-manis, tapi aku sama sekali tidak menyentuh sandwich yang kupesan. Aku hanya meminum lemon tea-ku. Mata emerald-nya langsung tertuju padaku.
"Kenapa tidak menyentuh sandwich-mu?" tanyanya sambil menunjuk sandwich yang masih utuh dengan garpu kuenya.
"Aku tidak punya selera…" kataku singkat sambil menghela nafas. Kami terdiam sebentar, kemudian dia mengambil satu sandwich-ku dan memakannya.
"Sandwich-nya lumayan enak, boleh kumakan?" katanya sambil melahap habis sandwich yang diambilnya barusan.
"Boleh…" jawabku dengan lesu. Dia langsung mengambil sandwich-ku dan menukarnya dengan kuenya.
"Kita tukaran saja, aku tidak bisa menghabiskan dua-duanya." katanya sambil memberikan garpu yang baru padaku. Aku menghelas nafas kembali dan menerima kuenya. Dulu aku sangat suka strawberry dan coklat. Tapi semenjak menjadi pembantu, aku sudah tidak pernah lagi memakan kesukaanku itu. Bahkan, aku sudah lupa terhadap rasanya.
Aku memakan kue strawberry itu kemudian aku tersenyum sedikit.
-Skye's POV-
Aku menukar kueku dengan sandwich-nya. Sebenarnya sandwich itu sama sekali tidak sesuai dengan seleraku. Aku menukarnya dengan kueku hanya karena merasa dia akan suka dengan rasa strawberry. Aku melihatnya mencicipi shortcake itu.
"Thank you," katanya sambil tersenyum lembut. Aku sampai terpesona pada senyumannya itu sampai terbengong sesaat. Tapi aku langsung menyadarkan diri dari alam khayal.
"You're welcome," jawabku sambil memakan sandwich yang masih tersisa setengahnya.
"Oh yes, setelah ini kamu bersama Elli akan pergi ke toko perhiasan untuk memilihkan perhiasanmu. Aku akan pergi untuk menyelesaikan urusanku. Sebentar lagi Elli pasti akan datang menjemput." sahutku sambil meminum teh yang tersisa.
"Dan jadwal besok, kita akan latihan dansa dulu di kediamanku. Kakak dan juga Ibumu akan ikut bersama besok untuk membicarakan rencananya," lanjutku sambil meletakkan cangkir teh. Wajahnya langsung berubah serius dan mengangguk.
Tidak lama kemudian, Elli pun datang menjemput.
-One hour later, in the castle, still Skye's POV-
Aku turun dari kereta kuda dan melihat istana megah berwarna putih itu. Claire dan Elli sudah lebih dulu pergi ke toko perhiasan. Tujuanku kesini kurang lebih hanyalah untuk menemui sahabatku sejak kecil dan juga pangeran negeri ini.
Aku menaiki tangga istana yang cukup tinggi itu, kemudian prajurit di sana menunduk padaku dan membukakan pintu yang besar. Para pelayan pun mulai menghaturkan hormat padaku.
"Where is the prince?" tanyaku pada mereka dengan sopan tetapi sedikit dengan suara yang menunjukkan statusku.
"In his highness' room, sir…" kata seorang pelayan. Aku langsung menuju ke kamarnya yang terletak lumayan jauh dari pintu depan. Aku berjalan sambil berpikir soal rencana besok. Dan tidak terasa, aku sudah sampai di depan kamarnya.
Aku membuka pintu kamar berwarna biru putih. Kulihat seseorang berambut coklat panjang dan diikat rapi kebelakang dan perpakaian pakaian formal yang menunjukkan statusnya yang tinggi. Ia sedang membaca buku di meja kerja mengkilap berwarna coklat dengan serius. Ya, dialah sang pangeran satu-satunya negeri ini, Clifford van Zealous.
-Cliff's POV-
"The ball will be held tomorrow…" pikirku dengan bosan. Semua orang sibuk dengan pesta dansa sekaligus dengan pesta ulang tahunku besok. Entah apa yang dipikirkan father and mother, yang selalu mengomeliku yang belum pernah punya pacar. Aku juga sudah lupa, berapa kali mereka berusaha menjodohkan aku dengan gadis-gadis bangsawan. Dan kali ini, mereka mengundang seluruh gadis di kota untuk bertemu denganku besok.
-Flashback, One week ago, in the castle's hall, still Cliff's POV-
"Cliff, sebentar lagi kamu akan berumur 21 tahun, sudah waktunya minimal kamu punya pacar…" kata Ibuku, Manna Felicia Zealous sambil tersenyum. Kemudian Ayahku, Duke von Zealous mengangguk-angguk karena setuju.
"Mother, just drop the subject, shall we?" kataku untuk mengalihkan pembicaraan itu.
"No, my son… Pokoknya kamu harus segera punya pacar dan menikah." kata Ayahku.
"Aku belum menemukan gadis yang tepat. Bagaimana mau menikah kalau belum menemukan gadis yang sesuai?" kataku dengan nada yang sedikit membantah. Aku memang tidak mau menikah dengan gadis yang selama ini dijodohkan oleh orang tuaku. Mereka hanya melihatku sebagai pangeran saja.
"Hm… Then, Cliff, we shall invite all girls in this city to the castle on your birthday! How is it my dear?" kata Ibuku sambil melihat pada Ayah. Aku langsung terkejut. Bisa-bisanya Ibu mendapat ide seperti itu?
"Good idea! You shall find a girl that suited for you on the ball!" kata Ayahku setuju dengan Ibu. Aku menghela nafas panjang. Sekarang, aku mendapat masalah lebih besar.
-End of flashback, still Cliff's POV-
Aku membalik halaman buku yang sebenarnya sudah berkali-kali kubaca. Kemudian suara seseorang yang kukenal memecahkan keheningan.
"Hello, your highness." Sapa seseorang sambil memasuki kamarku. Ternyata Skye, sahabatku sejak kecil. Aku langsung menghela nafas sambil tersenyum.
"Skye, aku kan sudah pernah bilang panggil saja aku Cliff… Dasar…" keluhku sambil menutup buku yang dibacanku tadi.
"Hahaha! I'm sorry." Dia tertawa sambil duduk di sebuah kursi kosong dekatnya.
"So, how are you feeling right now? Nervous?" lanjutnya sambil melipat kakinya.
"Not good…" jawabku dengan singkat. Sepertinya dia tahu kalau aku tidak suka dijodoh-jodohkan.
"Heran, padahal selama ini banyak gadis yang berusaha mendekatimu, tapi tidak ada yang kau lirik satu pun…" katanya sambil menyandar kepala pada telapak tangannya. Aku tertawa kecil.
"Alasan kita sama saja, karena belum menemukan seseorang yang tepat. Kamu juga sampai sekarang belum punya pacar kan?" balasku menyandarkan punggungku ke kursi.
"Hmp… But tomorrow is your birthday right? Maybe you'll find your destiny girl on the ball," katanya mengkira-kira. Ketika Skye mengatakan itu, aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan berjalan mendekati jendela. Kemudian memandangi pemandangan diluar jendela.
"My destiny girl, huh?" sahutku pelan. Sulit bagiku untuk menemukan gadis yang benar-benar kucari. Aku sendiri tidak tahu seperti apa tipe gadis yang kusukai.
"Then, what about yourself? Have you found yours?" sindirku pada Skye. Dia memang terkenal dikalangan para wanita karena ketampanan dan bakatnya. Aku selalu bersaing dengannya sejak kecil, baik belajar, bela diri, manners, dan lain-lain. Status dari persaingan kami selalu menang kalah. Ini menjadikan kami sebagai sahabat dan juga saingan.
"Maybe yes or maybe no," jawab Skye. Aku tidak mengerti arti atas jawabannya. Dia tertawa padaku dan bangkit dari tempat duduknya.
"Don't need to know the meaning of my answer. Wanna play chess?" ajaknya untuk menghindari topik pembicaraan kami. Tapi, sudahlah… Tidak ada gunanya juga dipikirkan.
"Maybe I will be the winner for this time." Aku menerima tantangannya tanpa banyak pikir, karena sudah cukup lama sejak aku bertanding dengannya.
"Well, we'll see about that," tanggap Skye atas jawaban tantangan tersebut sambil memasukkan tangan kirinya ke saku celananya.
-Next day, Skye's House, Claire's POV-
Aku dan kakak diajarkan dansa, manners dan lain-lain yang diperlukan untuk pesta dansa malam ini oleh tutor yang dipanggilkan Skye. Aku sudah pernah belajar semua ini sewaktu kecil termasuk dengan bahasa-bahasa asing, jadi sekarang aku cuma mengulanginya kembali.
Tapi kakak sudah berkali-kali menginjak kaki tutor kami dan dimarahi oleh Ibu. Kakak pernah disuruh Ibu untuk belajar dansa, tapi karena malas kakak menolak. Jadi sekarang kakak menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata Ibu.
"Bagus sekali, , dengan begini Anda pasti akan tampil sempurna di istana," puji tutor kami karena puas. Aku merasa tersanjung, ternyata benar apa kata Ayah dulu.
"Everyone will be praising you if you could do everything better. You will not regret it, my little angel." Kata-kata ayahku yang sering kudengar waktu kecil ketika sedang belajar.
Saat itu, Skye menghampiriku dan tersenyum padaku yang sedang duduk. Aku hanya mengangguk saja dan memperhatikan kakak yang masih asyik menginjak kaki tutor kami. Lalu, Skye mengulurkan tangan kanannya padaku. Aku melihatnya dengan wajah penuh kebingungan.
"Shall we dance?" ajaknya dengan senyuman gentleman. Aku menggelengkan kepalaku.
"Just for one song, will you?" bujuknya lagi. Akhirnya aku tidak bisa menolak ajakannya, meletakkan tangan kiriku di tangan kanannya dan berdiri. Dia meletakkan tangan kirinya di pinggangku dan kuletakkan tangan kananku di bahunya. Dia cukup tinggi, aku baru menyadarinya sekarang. Kemudian, kami pun mulai berdansa.
Elli, kakak, Ibu, dan pelayan-pelayan yang berada di ruangan itu memerhatikan dansa kami. Skye cukup hebat dalam berdansa. Mungkin inilah dansa sebenarnya seorang bangsawan. Anggun dan mampu menarik perhatian semua orang.
Dansanya berlangsung sekitar 2 menit. Aku dan Skye menghentikan langkah kami secara bersamaan, dan kami langsung menghaturkan hormat setelah dansa. Semua orang langsung bertepuk tangan kecuali Ibu dan kakak.
"Very good, Miss Claire! But it will be perfect it you add something on your dance…" kata sang tutor dengan wajah seorang penasehat yang professional.
"What is it?" tanyaku dengan penasaran karena aku tidak tahu kelemahan dansaku.
"Your smile, my lady… It would be perfect if you smile…" katanya. Memang benar, pada dansa tadi, aku sama sekali tidak tersenyum. Aku terdiam sesaat.
"Claire, I need to talk to you about the plan," kata Skye sambil menarik tanganku. Aku pun hanya bisa mengikutinya keluar.
-few minutes later, on the garden, still Claire's POV-
"Nah, aku akan bicara sedikit tentang rencana nanti malam," katanya sambil wajah yang serius.
"Mudah saja. Besok aku akan mengirim kereta kuda, naiklah sendirian. Dan selanjutnya biar aku yang atur. Kemudian… ini…" katanya kembali sambil menyerahkan sepatu kaca. Aku menerimanya.
"Aku akan memberikan senjata padamu saat pesta dansa nanti," lanjutnya kembali. Aku mengangguk, hatiku takut.
"Saat aku memberikan senjata padamu, bersiap-siaplah, kamu harus…" katanya lagi sambil memenjamkan matanya.
"Kill the prince, at midnight twelve…"
-6 pm, Harvenheit's house, still Claire's POV-
Aku mulai didandani oleh Elli dan perias yang disewa Skye. Rambutku dikuncir dan menyisakan poni dan sedikit rambut di samping poni. Kepalaku dipakaikan sebuah tiara yang sangat sederhana berhiaskan sedikit kristal pink transparan. Karena sederhana, hampir tidak kelihatan kalau aku memakai sebuah tiara.
Aku juga dipakaikan anting-anting kristal panjang yang sederhana. Warnanya mirip dengan tiara-ku. Gaun strapless putih kebiru-biruan yang kupakai memiliki pita yang panjang. Bagian ujung gaun ada sedikit renda yang sederhana. Sebagai pelengkap aksesoris, leherku memakai sebuah choker yang berwarna seperti gaunku. Berhiasan sedikit kristal pink transparan yang sama seperti tiara dan anting-antingku.
"Here you go, Miss Harvenheit." Elli menyodorkan pemerah bibir padaku. Aku hanya mengoleskannya dengan tipis, karena warnanya terlalu dewasa untukku.
"You look perfect!" kata Elli sambil menyodorkan sebuah cermin padaku.
Aku memandangi diriku yang terpantul di cermin. Yang terpantul di cermin itu seperti bukan diriku. Aku yang biasanya pakai baju maid yang kumal, sekarang memakai gaun putih yang anggun. Aku tidak memakai parfum karena baunya terlalu menyengat, selain itu sabun yang kupakai juga cukup harum dan tahan lama.
Kemudian Elli menyodorkan sepatu kaca yang kemarin kucoba. Aku baru sadar ternyata sepatu kaca itu berwarna biru transparan yang indah. Setelah kupakai sepatu kaca itu, aku mencoba untuk berdiri.
"Kereta kuda sudah menunggu," kata Elli sambil membuka pintu. Aku terdiam sejenak. Kemudian melangkahkan kakiku untuk keluar dari rumah. Dan aku mulai berkata pada diriku sendiri.
'I am ready…'
-Cliff's POV-
Aku memandang keluar dari jendela kamarku. Kulihat tamu-tamu yang diundang sudah mulai berdatangan. Aku pun sudah siap untuk menyambut para tamu. Dari tamu-tamu tersebut, sebagian besarnya adalah gadis-gadis kota ini. Pakaianku tidak begitu berbeda dari biasanya, hanya saja sedikit lebih menunjukkan statusku sebagai pangeran. Atasan biru dengan celana berwarna putih. Parfum yang kupakai mungkin sedikit terlalu banyak. Rambutku diikat rapi.
Tiba-tiba, ada seseorang menepuk pundakku.
"Hey!" panggil seseorang dengan suara yang amat sangat kukenali, Skye.
"Ah! Skye! Kupikir kamu tidak datang!" jawabku mendorong sedikit bahunya.
"Nervous?" tanyanya jahil. Aku menaikkan sebelah alisku dan tertawa.
"Nervous? Of course not!" jawabku sambil tertawa.
"Let's go then." Dia mengajakku keluar untuk menyambut para tamu. Aku mengangguk. Kupandangi lagi keluar jendela, banyak gadis yang berpakaian mewah dan aksesoris yang bagus. Tapi anehnya, mataku sama sekali tidak tertarik pada mereka semua. Kemudian aku berpikir di hatiku.
'Will I meet the girl of my destiny tonight?'
-Claire's POV-
Aku turun dari kereta kuda. Kulihat istana megah yang sudah ada di depan mataku. Dan kulihat jam besar di luar istana, yang menunjukkan jam tujuh malam.
Kulangkahkan kakiku menaiki tangga istana yang tinggi. Lima jam lagi… aku harus melakukannya…
"Please don't ring the bell, as I kneel to you,
although screaming "no," my right hand thrusts out to you an eternal farewell."
"A princess who wears gunpowder smoke as perfume,
your unyielding pupil cleaves through my frigid mask."
TO BE CONTINUED
