"Ima mo mimi ni anata no toiki ga
tsukisasaru no tooi yume…"
"SUTENDOGURASU goshi hikaru tsuki ga
kimi ni kabuseta BEERU…"
-Normal POV-
Claire mulai melangkahkan kakiku untuk menaiki tangga istana. Para penjaga istana mulai melirik sang gadis yang sedang menaiki tangga dengan suara langkah kaki yang anggun. Mereka terpesona pada gadis itu.
Langkahnya sudah semakin mendekati aula istana yang megah. Memandangi para penjaga yang membukakan pintu, Claire semakin berdebar-debar. Mungkin dia ingin melihat seperti apa istana itu, sang pangeran, juga ketakutan akan misi yang dia bawa. Dia menapakkan kakinya di aula istana.
-Claire's POV-
Kulihat aula istana yang begitu megah, sudah bagaikan dunia lain dari yang biasa. Banyak orang yang melihatku sewaktu aku memasuki ruangan ini sambil berbisik-bisik. Apa karena aku terlalu sederhana? Aku gugup, karena baru pertama kali aku ke istana. Aku merasa akulah yang berpakaian paling sederhana disini. Para gadis-gadis lainnya memakai gaun yang jauh lebih indah dari yang kupakai, meski menurutku terlalu berlebihan.
Tanpa sengaja, aku menabrak seseorang. Aku langsung mundur beberapa langkah.
"I-I am sorry…" ujarku dengan pelan sambil menunduk sedikit. Aku memalingkan pandangan mataku ke tengah aula. Pandangan mataku tertangkap pada seseorang berambut coklat panjang yang diikat yang sedang melihatku. Mata deep blue-nya memandangi mata sapphire-ku. Dia memakai baju yang menunjukkan status yang tinggi. Diakah sang pangeran?
-Cliff's POV-
Kuturuni tangga menuju aula dimana pestanya dilaksanakan bersama Skye. Para gadis-gadis mulai berdatangan pada kami berdua. Skye tenggelam di lautan para gadis. Aku mulai memberi salam pada bangsawan-bangsawan yang juga hadir di pesta ulang tahunku. Mungkin cuma untuk basa-basi saja. Dan mereka mulai coba untuk menginvestasikan anak perempuan mereka padaku.
Saat itu, terdengar suara langkah kaki yang terdengar begitu berbeda di telingaku. Pandangan semua orang langsung menuju pada pemilik suara langkah kaki itu.
Seorang gadis bergaun sederhana, kakinya memakai sepasang sepatu kaca. Wajahnya yang kebingungan di tengah aula, bagaikan anak yang tersesat. Dan tidak sengaja dia menabrak seorang tamu.
"I-I am sorry…" katanya sambil mundur beberapa langkah. Suaranya pun terdengar begitu berbeda. Kemudian, matanya bertemu dengan mataku. Aku hanya bisa terbengong saja melihatnya. Dia yang berpakaian paling sederhana disini. Tapi dia berhasil menangkap pandangan mataku.
"My lord?" panggil Skye. Panggilannya membangunkanku dari lamunanku.
"A-ah… Yes?" jawabku pada Skye.
"Your parents are waiting." Aku langsung berjalan ke tempat Skye. Aku menoleh lagi sebentar untuk melihat gadis itu dan tersenyum sedikit. Kemudian aku langsung mengikuti langkah Skye.
"Gadis itu cantik ya?" kata Skye. Sepertinya gadis itu juga menarik perhatian Skye.
"Iya…" jawabku dengan suara kecil, hampir-hampir tidak kedengaran. Sepertinya, aku terbang menuju lamunanku lagi.
-Claire's POV-
Aku memang sudah dilatih dari kecil untuk menghadapi situasi seperti ini. Tapi, baru kali ini aku mempraktekannya. Dan sekarang, aku masih bingung dan gugup. Aku masih memikirkan orang berambut coklat panjang tadi. Pria itu berwajah lembut. Kami sempat bertatap mata selama beberapa detik.
"Would you like some orange juice?" tanya seorang maid yang membawa senampan minuman.
"Yes, thank you." Aku menerima tawarannya dan menerima segelas jus. Sepertinya dansa akan segera dimulai. Para tamu pun mulai berkumpul untuk berdansa.
Aku melihat banyak gadis yang seumuran denganku mulai berbincang-bincang tentang pangeran dan ingin berdansa dengan pangeran. Tapi, aku kurang berminat untuk berdansa. Aku hanya ingin semua ini segera selesai, jika tidak aku ingin semua ini berhenti sampai disini saja. Aku tidak ingin semua ini terjadi, aku tidak ingin membunuh pangeran.
-Cliff's POV-
Aku dan Skye bertemu dengan orang tuaku. Mereka memerhatikan jalannya pesta itu dari lantai dua.
"Yes, father? Mother?" tanyaku dengan singkat. Mereka mulai senyum-senyum padaku.
"Cliff, my son, bagaimana dengan gadis-gadis tadi?" tanya Ibuku. Aku hanya terdiam saja. Skye mulai tersenyum sendiri dan menggantikanku menjawab pertanyaan Ibu.
"Pardon me, your majesty… Biar Saya yang menjawab pertanyaan itu. Pangeran sepertinya tertarik pada seorang gadis," kata Skye seakan-akan dia membaca hatiku. Wajahku langsung sedikit memerah.
"Skye!" teriakku pada Skye.
"Oh? Is that true, my son?" tanya kembali Ayahku padaku. Wajahku bertambah merah dan tanganku mulai menyisiri poniku. Ya, aku memikirkan gadis pirang tadi. Baru pertama kali ada gadis yang mampu membuatku selalu memikirkannya. Padahal, namanya saja aku tidak tahu.
"… yes…" jawabku terhadap pertanyaan Ayah. Aku merasa sudah tidak bisa untuk memungkiri topik ini.
"That's great! You shall ask her to dance with you!" kata Ibuku senang.
"Dansa babak pertama akan segera dimulai! Ayo Cliff, pergilah! Ayah dan Ibu akan memantau dari sini!" kata Ayah sambil mengangguk-angguk. Aku tidak diberi kesempatan bicara maupun membantah. Skye dan aku langsung berbalik dan kembali menuju aula.
"Damn you Skye!" kataku sambil menonjok bahu Skye. Skye langsung tertawa agak keras.
"Lho? Aku kan membantumu," jawab Skye polos.
"Kamu malah menjebloskanku pada masalah yang lebih besar!" teriakku pada Skye. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengajak gadis itu untuk berdansa bersamaku. Memang, ini pernah diajari. Tapi baru kali ini aku ingin mengajak dengan gadis yang kusukai!
"Leave it to me…" jawab Skye santai.
-Claire's POV-
Tujuh lewat empat puluh lima… Aku menonton para tamu lainnya yang mulai siap berdansa sambil menikmati jus tadi. Tadi memang ada beberapa orang yang ingin mengajakku berdansa, tapi aku menolaknya karena aku tidak ingin berdansa. Tiba-tiba terdengar suara teriakan para gadis. Ternyata, Skye dan pria tadi kembali ke aula ini.
"Kyaaaa! Pangeran dan Tuan Skye datang!" teriak seorang gadis kegirangan.
Ternyata benar, orang itu pangeran…
Mata pangeran dengan mataku bertemu lagi, dan dia tersenyum padaku. Aku menunduk sedikit. Dari kejauhan, mereka dikerubungi gadis-gadis, tapi kulihat Skye menepuk bahu pangeran dam mulai berjalan mendekatiku. Skye mengulurkan tangannya padaku.
"May I have this dance?" tanyanya padaku. Aku tidak mau berdansa dengan orang yang tidak kukenal, tapi kalau dengan Skye tidak apa-apa. Kuulurkan tanganku, dan dia menerima tanganku.
Kami berjalan ketengah ruangan. Alunan lagunya dimulai. Kemudian kami berdansa seperti tadi siang, perbedaannya, ini adalah dansa yang sesungguhnya. Orang-orang yang tidak berdansa, matanya mulai tertuju pada kami berdua. Skye mendekatkan wajahnya padaku.
"Be natural. Just enjoy it until the time come," bisiknya didekat telingaku. Aku tertegun. Dan aku merasa tanganku sedikit gemetaran. Dan menunduk sedikit.
Skye langsung mempererat genggaman tangannya yang menggenggam tanganku, seakan-akan menyadarkanku dari ketakutan. Kupandang mata emerald-nya dan dia tersenyum hangat padaku.
"Don't be afraid… Just enjoy it until the time comes, okay?" katanya berusaha menenangkanku. Kemudian kami menghentikan langkah kami untuk berganti pasangan dansa. Dansa ini memang diatur untuk dapat berganti pasangan. Saat kuraih tangan seseorang yang merupakan pasangan dansaku selanjutnya. Begitu kulihat wajah pasangan dansaku yang berikut. Aku terkejut. Tenyata itu pangeran.
-Skye's POV-
Sejauh ini, rencanaku berjalan dengan lancar. Aku mengajak Claire berdansa. Kurasakan tangannya gemetaran. Apa dia takut?
Melihat wajahnya yang ketakutan, aku menjadi merasa sangat bersalah dan sedih. Ya, ini salahku, seandainya aku tidak membuat sepatu kaca itu. Tapi aku tidak akan bertemu kalau tidak ada sepatu kaca tersebut.
Aku mencoba membuatnya lebih tabah, kupererat genggaman tanganku. Dia langsung melihat wajahku. Aku senang, karena akhirnya dia mau benar-benar melihat wajahku.
"Don't be afraid… Just enjoy it until the time comes, okay?" bisikku tenang. Aku ingin menyenangkannya meski hanya sebentar.
Dansa kami selesai dan kami harus berganti pasangan. Aku menyuruh Cliff untuk menjadi pasangannya yang berikutnya. Ya, Claire harus bisa dekat padanya untuk bisa membunuhnya.
-Cliff's POV-
Mereka selesai berdansa. Dalam dansa ini, pasangan harus diganti dengan orang yang paling dekat pada saat selesai dansa. Gadis itu mengulurkan tangannya padaku, tapi dia belum tahu bahwa akulah pasangannya berikutnya. Aku langsung menerima tangannya.
Kemudian dia menolehkan pandangannya padaku, aku tersenyum padanya. Dia terkejut dan melepaskan tangannya kemudian menunduk ala gadis bangsawan.
"E-excuse me…" katanya terburu-buru, lalu pergi. Aku langsung menangkap tangannya. Banyak gadis yang mulai berbisik-bisik.
"May I have the dance, lady?" tanyaku padanya dengan senyuman. Akhirnya dia mengangguk dan mengulurkan tangannya.
Kuterima tangannya, lalu aku berlutut ala bangsawan, kupenjamkan mataku dan mencium punggung tangannya.
Matanya menerawang padaku. Kuletakkan tanganku di pinggangnya dan satu tanganku lagi mengenggam salah satu tangannya. Dia juga meletakkan tangannya di bahuku. Dan kami mulai berdansa, di tengah aula itu. Banyak mata yang tertuju pada kami, tapi aku tidak mempedulikan mereka.
-Claire's POV-
Jantungku berdegup kencang. Aku tidak menyangka pangeran sendiri akan mengajakku untuk berdansa. Senyumnya terasa begitu tulus. Dansa kami diperhatikan oleh begitu banyak orang. Memang, dansa itu tidak berbeda dengan dansaku bersama Skye. Dansa ini terasa lebih berwarna, lebih bersinar.
"May I know your name, lady?" tanyanya sopan dengan senyuman hangat. Hatiku luluh karena senyumannya itu.
"C-Claire… My name is Claire, my lord…" jawabku dengan tergagap-gagap.
"Don't need any formality… My Name is Cliff… May I just call you Claire?" sahutnya dengan ramah.
"Yes, you may… Prince…" jawabku memperbolehkan.
"No prince tonight, only Cliff…" katanya lagi. Akhirnya aku tersenyum lepas juga. Suaranya terasa sangat menenangkanku. Aku menjadi sangat rileks untuk berdansa.
-Normal POV-
"Iri… Tapi keren…" sahut seorang gadis yang memerhatikan dansa Claire dan Cliff. Wajah mereka yang penuh dengan senyuman terhadap satu sama lain, memukau banyak orang.
Claire yang sekarang penuh dengan senyuman, berbeda dengan tadi, kaku dan penuh kegugupan. Dia jadi memukau begitu banyak pria termasuk Skye yang baru pertama kali melihat senyuman indah Claire. Sedangkan Cliff, baru kali ini juga mengajak seorang gadis berdansa dengan atas permintaan sendiri. Dansa mereka berdua sampai berhasil menangkap perhatian seisi aula istana, juga mata raja dan ratu.
"How is it, my dear?" tanya ratu kepada raja.
"That girl is very compatible with our son! Perfect!" jawab sang raja senang karena ada yang diterima oleh putranya.
Skye yang memerhatikan Claire dan Cliff berdansa sedikit merasakan kecemburuan. Claire yang sudah diajaknya berdansa dua kali tapi tidak mau tersenyum sama sekali. Tetapi begitu Cliff berdansa dengannya, Claire menunjukkan senyuman yang sangat ingin dilihat oleh Skye kepada Cliff.
Suara langkah sepatu kaca terdengar begitu menyolok di aula dansa itu…
-Cliff's POV-
Tidak terasa dansa babak pertama seudah selesai. Dansa akan dilanjutkan menjelang tengah malam nanti. Kupikir dansanya akan terasa lama, tapi sekarang terasa begitu cepat. Aku langsung menghentikan langkahku saat musiknya berhenti.
"Thank you for the dance…" katanya sambil memandangiku dan menunduk padaku kemudian pergi. Apa aku sudah tidak bisa lagi bersamanya? Tidak… Aku masih ingin bersamanya!
"Claire!" panggilku terhadapnya. Dia langsung menghadap padaku lagi.
"Can I have a dinner with you?" tanyaku dengan senyum. Aku ingin mengenalinya lagi lebih dalam lagi. Aku merasa mungkin dialah 'destiny girl'-ku.
"I-It's my honor, but…" jawabnya atas tawaranku, tapi aku memotong perkataannya. Dia melihat kiri kanannya dulu. Aku bingung, sebenarnya apa yang ditakutkan gadis itu dari tadi. Pada awal dansa kami pun dia terlihat ketakutan akan sesuatu.
"Please?" ajakku lagi. Semoga saja dia tidak menghindariku karena aku seorang pangeran.
"Uh.. okay…" jawabnya. Akhirnya dia tidak sanggup untuk menolak permintaanku. Kemudian, aku dan Claire menuju ke tempat untuk mengambil piring kosong dan makanan.
"Here…" kataku sambil menyodorkan sebuah piring kosong pada gadis bermata biru langit itu. Dia pun menerimanya dan mulai mengambil sedikit makanan.
"Kenapa? Tidak selera makan?" tanyaku lagi. Aku merasa seperti aku saja yang berbicara dari tadi.
"Makanannya kurang cocok dengan seleraku." Dia menjawab dengar jujur. Aku tidak heran, karena kata Skye, makanan seorang bangsawan dan keluarga kerajaan memang terkesan kaku. Aku memang belum pernah memakan makanan rakyat, hanya makan makanan yang mewah-mewah. Padahal, aku ingin sekali mencoba untuk jalan-jalan di kota dan makan makanan rakyat.
"Aku juga tidak selera makan, bagaimana kalau dessert saja?" tanyaku padanya sambil mengambil 2 gelas es krim. Salah satunya rasa strawberry dan satunya lagi chocolate.
"Which one do you like?" tanyaku dengan singkat.
"Strawberry flavor, please." Kuberikan gelas berisi es krim rasa strawberry padanya. Dia langsung melahapnya.
-Claire's POV-
Pangeran memberikan gelas berisi es krim strawberry kesukaanku. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Thank you…" kataku dengan senang. Aku pun menikmatinya, kemudian pangeran juga ikut memakan es krim bagiannya.
"Um… pangeran?" tanyaku pada pangeran. Kepalaku harus menengadah untuk melihat wajahnya, karena dia cukup tinggi, seperti Skye.
"No prince, but Cliff," katanya dengan tegas.
"Okay… Cliff…" sahutku dengan pelan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" katanya sambil memakan es krimnya.
"Es krimmu… Rasa coklat?" tanyaku penasaran. Aku juga sangat menyukai rasa coklat selain strawberry. Dan aku hanya pernah memakan es krim rasa vanilla dan strawberry.
"Iya. Mau coba?" katanya sambil menyendoki sesendok es krim rasa coklat padaku.
"Amm…" kata Cliff polos sambil membungkuk sedikit. Apa dia menganggapku sebagai anak-anak? Raut wajahnya pun seakan-akan tidak tahu apa-apa. Sepertinya benar, dia terisolasi di istana ini.
"A-Aku bukan anak-anak…" sahutku dengan muka yang sedikit memerah. Kuambil sendok yang dipeganginya untuk menyuapiku. Kemudian aku memakan es krim itu.
"Mmm… Enak!" kataku senang. Aku melihatnya tersenyum.
"Mau tukaran?" sahutnya lagi. Dia mengambil gelas es krimku dan memberikan gelas es krimnya.
"Terima kasih…" kataku dengan pelan.
-Cliff's POV-
"Terima kasih…" katanya padaku dengan senyuman yang sangat lembut. Aku merasa jantungku berdetak keras dan wajahku terasa panas. Belum pernah ada seseorang yang bisa membuatku merasa seperti ini. Segelas es krim bisa membuatnya tersenyum seperti ini. Tiba-tiba aku teringat, sudah berapa lama aku tidak menerima senyuman seperti ini? Senang sekali rasanya bisa menerima senyuman yang begitu tulus…
"Terima kasih juga…" kataku kembali. Dia terlihat bingung kenapa aku berterima kasih padanya. Aku tertawa kecil.
"Hahaha…. Bagaimana kalau kita duduk disana?" tanyaku sambil menunjuk meja dan kursi diluar beranda kecil.
"Boleh." Kemudian kami menuju ke beranda itu.
Kami duduk disana, kemudian menikmati sisa es krim yang mulai sedikit mencair. Aku selesai lebih dulu, aku memandang cahaya lampu dari kota yang terlihat begitu indah. Tiba-tiba aku ingin sekali bertanya sesuatu.
"Suasana di kota seperti apa, Claire?"
"Eh? Kota? Seharusnya Anda yang lebih mengetahuinya dibandingkan aku," jawabnya bingung.
"Bukan tentang perekonomian ataupun politik. Melainkan suasana kota," tanyaku dengan sedikit nada penasaran, namun serius.
Claire terdiam sebentar. Kemudian dia memandang pemandangan kota.
"My father said this when I was a child, every glow represent one home."
Kemudian dia melanjutkan kata-katanya lagi.
"Setiap cahaya itu pasti memiliki kehangatan dan kesusahan yang berbeda-beda. Dan memiliki kenangan yang berbeda-beda."
"Senang, sedih, marah, dan lain-lain, terkumpul dalam cahaya itu pada malam hari," katanya sambil tersenyum.
"Tetapi kalau siang hari, di kota akan ramai, apalagi sewaktu festival! Kota akan dipenuhi keramaian, banyak permainan disana-sini! Dan itu sangat menyenangkan!" katanya bagaikan mendeskripsikan cahaya kota pada siang maupun malam.
"Sepertinya menyenangkan…" sahutku dengan singkat.
"Cliff belum pernah ke kota ya?" tanyanya dengan polos.
"Pernah, tapi bukan dalam rangka jalan-jalan. Biasanya karena politik Negara." Kata-kataku terdengar sedikit pasrah.
"Selama ini, aku hanya memandang pemandangan kota dari kereta kuda maupun beranda istana, sepi sekali rasanya…" lanjutku dengan sedikit sedih.
-Claire's POV-
Aku tidak menyangka menjadi seorang anggota keluarga kerajaan akan merasakan kesepian yang tidak kuduga. Tapi, mungkin aku bisa mengerti sedikit perasaannya. Semenjak aku dijadikan pembantu, aku hanya memandang keluarga-keluarga lain yang memiliki suasana hangat. Iri sekali rasanya.
"Waktu aku berumur 7 tahun, aku pernah kabur dari istana untuk jalan-jalan di kota bersama Skye," ceritanya padaku sambil memikirkan masa lalu.
"Saat itu, aku dan Skye merencanakan untuk pergi ke festival tahunan. Kami memakai jubah untuk menutupi pakaian bangsawan kami kemudian kabur dari belakang istana,"
"Pertama kali aku merasakan keramaian kota yang sesungguhnya. Kami berdua bermain sampai larut malam. Tapi begitu kami pulang…"
Aku mendengarkan ceritanya yang tiba-tiba terdengar begitu serius.
"Aku dan Skye dipergoki oleh Ibu yang sedang menungguku sambil senyum-senyum. Aku ditanya oleh Ibu tentang pengalaman jalan-jalan pertamaku. Tapi, aku dan Skye langsung dijitak oleh Ibuku karena membuat se-istana khawatir!" ceritanya sambil tertawa lepas.
Aku pun tidak tahan dan akhirnya tertawa lepas. Seorang pangeran dijitak oleh ratu, ternyata istana juga tidak terlalu berbeda dengan rumah tangga umumnya. Aku mencoba menahan tawaku.
"Se-semoga kamu punya kesempatan lagi untuk jalan-jalan di kota…" kataku sambil menghapus air mataku yang keluar karena tertawa tadi.
"Terima kasih…" katanya dengan tersenyum.
TENG… TENG… TENG…
'Deg!'
Aku langsung melihat jam besar di menara istana. Sang waktu sudah menunjukkan jam 10. Waktu cepat sekali berlalu.
'Secepat inikah? Sebentar lagi aku akan membunuhnya? Apakah aku harus membunuhnya?' pikirku dalam hati. Bel masih terus berdentang.
'Bell, please, I beg you! Please stop ringing!' teriakku dalam hati. Suara dentangan bel benar-benar membuatku takut. Aku sampai terjatuh dari kursi yang kududuki.
'Time! Please stop yourself! Please!' teriakku dalam hati sambil menutup telingaku dengan tanganku. Suara bel tersebut membuatku membayangkan saat-saat aku membunuh pangeran nanti. Tanganku akan berlumuran darahnya. Dia akan mati di malam ulang tahunnya. Apa dia akan dendam padaku? Apa dia akan benci padaku?
"Claire? Claire!" teriak Cliff yang menyadarkanku dari ketakutan. Tangannya yang hangat menggenggam kuat tanganku.
"Y-Yes?" kataku dengan langsung memandangnya. Wajahnya tampak khawatir sekali.
-Cliff's POV-
"Are you okay? Are you afraid of bell?" tanyaku dengan khawatir padanya. Dia sampai terduduk di lantai, wajahnya terlihat sangat pucat.
"I'm… fine…" katanya sambil mengatur nafasnya kembali. Aku membantunya untuk berdiri. Wajahnya masih terlihat sangat ketakutan. Aku masih mengenggam tangan mungilnya.
"Ehem!"
Terdengar suara deheman seseorang. Aku langsung berbalik melihatnya. Ternyata Skye berdiri disana sambil melipat kedua tangannya.
"Skye? Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?" kataku sedikit gugup. Jangan-jangan dia mendengar semua pembicaraan kami.
"Two minutes ago. Prince, the king is waiting for you in his chamber," kata Skye dengan sedikit tegas.
"But…" kataku ragu-ragu sambil melihat kearah Claire yang sudah baik-baik saja. Munglin dia akan menghilang kalau sebentar saja aku tidak melihatnya. Bagiku, dia seperti gadis bingung yang tersesat di istana ini. Apa aku bisa bertemu lagi dengannya jika aku melepaskan kesempatan ini?
"Lend her to me… And I will look her up for you, okay?" bisik Skye lalu melambai-lambaikan tangannya seperti mengusirku.
"Okay… Okay…" kataku kemudian meninggalkan mereka. Aku menghentikan langkahku lagi dan melihat pada mereka.
"Wait for me, okay?" kataku sambil melihat pada Claire. Dan aku tersenyum, kemudian berjalan pergi.
-Claire's POV-
Cliff meninggalkan aku dan skye berdua. Saat kulihat senyumannya padaku entah kenapa, aku menjadi tenang sekali. Aku merasa sangat aman kalau berada bersamanya.
"Claire, are you fall in love to Cliff?" kata Skye dengan serius. Pertanyaannya membuatku terkejut.
"W-what are you talking about?" kataku terbata-bata. Sepertinya wajahku bertambah panas.
"… never mind…" kata Skye sambil menutup matanya. Syukurlah, dia memutuskan perbincangan ini.
"Shall we dance again to kill our time?" tanya Skye.
"Okay…" jawabku dengan singkat.
-Few minutes later, on the hall, still Claire's POV-
Kami berdansa lagi. Tetapi, lagu ini sedikit lebih pelan dibanding tadi. Sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Sebentar lagi… aku harus membunuh pangeran.
"Claire…" panggil Skye padaku dengan serius. Kemudian dia meletakkan sesuatu ditanganku selagi semua orang asyik berdansa dengan pasangan masing-masing. Segera kulihat apa yang dia letakkan ditanganku.
Ternyata, Skye memberikanku sebilah pisau yang sedikit panjang yang masih mengkilap. Mataku langsung terbelalak.
"Here…" kata Skye pelan. Aku menerima senjata itu dengan tangan yang gemetaran dan meletakkannya di saku gaunku yang didesain khusus. Tiba-tiba, dia berhenti berdansa, padahal musiknya belum selesai.
"Skye?" panggilku terhadap Skye. Pandangan matanya seakan-akan simpati. Kemudian dia menarik tanganku dan berjalan dengan cepat. Aku bingung dan hanya berusaha menyamai langkah kakinya yang cepat. Ternyata kami menuju beranda tempat aku dan Cliff berbincang-bincang tadi.
"Can we have the dance at here?" dia bertanya padaku. Tiba-tiba dia tersenyum lemah. Matanya terlihat buram. Kenapa?
"But, the music is…" sahutku bingung karena musiknya tidak sampai ke beranda ini. Kalimatku terpotong karena dia meletakkan telunjuk kanannya di bibirku.
"Please? I want nobody to see this…" pintanya lagi. Kemudian, aku mengangguk.
Kemudian kami berdansa dengan sangat pelan. Aku tidak tahu kenapa Skye ingin berdansa dengan musik yang hampir tidak bisa terdengar dan tanpa dilihat orang lain. Seakan-akan, dia ingin menyampaikan sesuatu padaku.
"Claire, may you forgive me?" tanya Skye padaku. Aku hanya diam saja. Dalam hatiku, sebenarnya aku tidak bisa memaafkannya.
TENG… TENG… TENG…
Langkahku langsung terhenti dan tanganku gemetaran. Tinggal satu jam… tidak… tidak…
'TIDAK!'
Aku tidak tahan mendengar suara bel yang seakan-akan memaksaku untuk membunuh pangeran. Suaranya terus bergema dikepalaku.
-Normal POV-
Claire langsung berjongkok sambil menutup telingaku lagi dengan kedua tanganku. Matanya juga terpenjam kuat. Skye yang langsung memeluk Claire dengan kuat dan berusaha menenangkannya lagi.
"Claire! You will be fine… you will be fine… I promise" kata Skye sambil mengelus kepala Claire yang ketakutan dengan lembut.
-Claire's POV-
Aku mendorong Skye dengan halus. Skye pun hanya diam saja dan berdiri. Dan dia membantuku berdiri.
Saat itu, aku melihat Skye melambaikan tangan pada seseorang. Ternyata Cliff sudah kembali.
"Claire…" panggil Skye dengan sangat pelan. Tapi aku tidak menyahutnya ataupun melihatnya. Kemudian Skye membisikkan sesuatu di telingaku dengan nada suara yang serius.
"I love you… I will be waiting for you…"
Kata-katanya benar-benar membuatku terkejut sekali. Aku tidak percaya kalau dia memiliki perasaan padaku. Kemudian dia berjalan pergi.
"Sorry to make you wait," katanya sambil berjalan kearahku.
"Nope, prince, it's getting late. I must go home now. Enjoy your time!" katanya sambil menepuk pundak Cliff. Setelah itu, dia pergi meninggalkan kami berdua.
-Skye's POV-
Aku memeluknya, tapi dia menolakku. Dia sepertinya membenciku karena takdir telah memilih dia untuk membunuh Cliff. Tapi, aku tidak bisa menyalahkannya…
Aku membantunya berdiri. Dan kulihat Cliff yang menuruni tangga dari kamar orang tuanya. Dan aku melambaikan tanganku padanya. Dia membalas lambaianku. Sudah waktunya Claire mulai serius menjalankan tugasnya.
"Claire…" panggilku pada Claire. tapi dia sama sekali tidak mempedulikanku. Hatiku terasa sedih, sedih sekali. Dialah gadis pertama yang mampu membuatku merasa seperti ini.
Aku menyukainya…
Kemudian, aku tidak dapat menahan diriku untuk membisikkan kata-kata ini di telinganya.
"I love you… I will be waiting for you…"
Aku akan menunggunya dan menghiburnya setelah misinya selesai…
Aku langsung pamitan dengan Cliff dan meninggalkan mereka berdua. Inilah saat terakhirku bersama sahabatku.
'I'm sorry… Cliff…'
-Claire's POV-
"Your highness…" kataku sambil menunduk sedikit.
"I'm sorry to make you wait, I want to take you to a place, come with me," kata Cliff dengan tersenyum dan mulai berjalan ketempat dia datang tadi. Aku hanya mengikutinya dengan bingung.
Aku melihat sebuah tangga berkilauan yang sedikit tinggi. Cliff mulai menaiki tangga itu. Dan dia mengulurkan tangannya padaku.
"I wanna have a special dance with you… only with you…" katanya dengan senyuman seorang pria idaman para gadis. Aku menerima ulurannya tanpa ragu-ragu. Senang sekali rasanya bisa mengenalinya.
Kami menaiki tangga itu bersama-sama, kemudian kami memasuki sebuah ruangan luas dengan gorden berwarna putih. Ada beranda dengan tangga yang bisa langsung menuju ke lantai satu. Ruangan yang begitu simple. Menara jam yang diistana dapat dilihat dari jendela itu.
Dia mulai menatapku dengan sangat lembut. Aku membalas senyumannya. Aku belum pernah merasa sebahagia ini selain bersama orang tuaku.
"Shall we dance?" katanya. Aku hanya mengangguk dengan pelan saja, tapi aku benar-benar senang.
Kami berdansa tanpa musik. Tapi justru itu membuat kami merasa sangat tenang. Tak ada gangguan dari manapun. Bahkan, aliran waktu pun tidak kami rasakan.
Tidak sengaja kulihat jam yang berada diluar jendela. Waktu sudah menunjuk pada jam 11.30 lebih. Aku mulai menunduk dan masih meneruskan dansa.
Tak terasa, air mataku menetes. Kalau seandainya… kakiku tidak sesuai pada sepatu kaca itu…
Mungkin aku tidak perlu membunuhnya… tapi, aku tidak menyesali pertemuan kami.
Jari Cliff menyentuh air mataku. Aku melihat padanya, dia mencium air mataku dan tersenyum padaku.
"I love you… Claire…" katanya dan kami masih berdansa.
Aku semakin merasa bersalah. Perasaanku sama, tapi…
"Cliff… may I talk to you?" ajakku saat waktu sudah menunjuk jam 11.49. aku mulai mendahului Cliff untuk menuju ke beranda yang tinggi itu.
Sambil berjalan, aku berusaha menguatkan diriku untuk tetap tegar. Aku menutup semua keraguan hatiku. Aku tidak boleh ragu. Tapi meski aku berusaha menutupnya. Hatiku tetap saja bergejolak.
"Claire? Is something wrong?" tanya Cliff cemas. Aku mulai meraih gagang pisau dari saku gaunku. Aku menundukkan kepalaku.
"I am sorry." aku merasa pelupuk mataku mulai basah. Aku menguatkan genggaman tanganku.
"What's wrong Claire?" tanyanya semakin khawatir. Aku mulai melihatnya dengan mata yang sedikit basah. Kukeluarkan pisau itu dengan cepat dari sakuku.
AKU HARUS MELAKUKANNYA! AKU HARUS MEMBUNUHNYA!
"I AM SORRY!"
"Now your sighs penetrate my ears.
It all seems like a faraway dream…"
"Through the stained glass,
the moonlight covered you with a veil…"
TO BE CONTINUED…
