Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K Rowling

Warning: AU, OOC, slash, gaje, typo, fluff

Pairing: DMHP, RWHG, others


AN: Akh... akhirnya part two dari seri ini berhasil aku selesaikan, nggak perlu basa-basi lagi. selamat membaca


EMERALD KITTEN

by

Sky


Harry memberikan glare kepada gadis yang ada di hadapannya itu, berani sekali ia mendekati Draco untuk kesekian kalinya seperti orang yang tidak mempunyai malu, oh…. Harry lupa kalau Astoria Greengrass itu memang tidak mempunyai malu sama sekali. Selalu mendekati kekasih Harry, padahal jelas-jelas ia tahu kalau Draco selalu menolaknya dan lebih memilih Harry ketimbang dirinya, buktinya saja Draco membatalkan pertunangan di antara dirinya dengan Astoria saat usianya 15 tahun, bukankah itu adalah bukti yang nyata? Tapi coba lihat, gadis itu sama sekali tidak menyerah untuk membuat Draco kembali ke dalam pelukannya.

Harry menggeretakkan giginya karena geram, ia menggenggam lengan kekasihnya dengan begitu erat, seolah-olah Harry takut kalau ia tidak memegangi Draco maka Draco akan diterkam oleh Astoria dan meninggalkan Harry untuk selama-lamanya untuk bersama Astoria. Oh, tentu saja Harry tidak bisa membiarkan hal itu untuk terjadi.

"Kitten, kau memegang lenganku terlalu erat." Kata Draco pelan, ia mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca untuk melihat ke arah kekasih kecilnya yang tengah duduk di sampingnya.. er… mungkin lebih mirip di atas pangkuannya kalau melihat betapa dekatnya Harry duduk dengan Draco.

Harry merenggangkan pelukan tangannya, ia memberikan tatapan mata lebar dan sedikit berkaca-kaca. Mata emeraldnya itu terlihat begitu indah dan polos pada saat yang sama, sukses untuk memberikan kesan puppy dog eye dan mampu membuat orang terhipnotis untuk melakukan apapun yang diinginkannya.

"Tapi, Dray…. Lenganmu itu begitu nyaman untuk dipeluk." Protes Harry dengan nada manis. Ia menggosokkan pipinya pada lengan yang dimaksud tadi.

"Ah..ah…ah, Kitten, tapi bukan berarti kau harus memeluknya dengan begitu erat." Jawab Draco singkat, ia menutup buku yang tadi ia baca dan menaruhnya di sampingnya. Tangan kanannya membelai rambut hitam Harry yang sangat lembut itu, "Katakan padaku, Kitten, apa yang membuatmu menjadi seperti ini?"

"Seperti apa? Aku sama sekali tidak mengerti." Elak Harry, mencoba untuk bersikap polos. Harry memang seperti seorang Slytherin, ia menggunakan charm yang ia miliki dengan sangat baik. Tapi sayangnya ia berada di Gryffindor, dan itu adalah rencana yang sangat bagus.

Draco memutar bola matanya karena itu, namun ia tidak bisa memungkiri kalau Harry itu sangat imut. Pemuda itu menarik Harry untuk bersender pada bahunya sebelum ia mencium kepala yang berambut hitam itu dengan penuh sayang. Harry tersenyum kecil karena itu, ia melirik ke arah Astoria Greengrass dan menemukan gadis itu memberinya glare hebat serta tatapan penuh kecemburuan di sana. Kalau saja sebuah tatapan maut bisa membuat orang tewas, maka kita akan menemukan Harry Potter, The-Boy-Who-Lived-Twice, tewas terkapar di lantai.

Harry tidak bisa membantu untuk tidak tersenyum lebar penuh kemenangan, skornya adalah satu untuk Harry dan nol untuk Greengrass. Harry menikmati kehangatan yang diberikan oleh tubuh Draco, ia sama sekali tidak peduli sedang berada di mana mereka atau siapa saja yang melihat mereka berdua karena yang terpenting bagi Harry adalah ia dapat mengklaim Draco sebagai miliknya, adanya penonton yang di sana bisa dijadikan sebagai nilai tambah, mereka akan tahu kalau Draco itu adalah milik Harry.

Beberapa orang yang ada di sana langsung menatap mereka berdua dengan penuh kekaguman, jarang-jarang mereka melihat dua orang popular di Hogwarts menampilkan adegan mesra yang manis seperti itu. Namun Harry juga tahu kalau ada beberapa orang yang cemburu padanya karena ia bisa berdekatan dengan Draco sementara mereka tidak, ha… Harry memang hebat. Inner kecil Harry menyorakinya dengan penuh semangat.

Saat ini mereka berdua tengah berada di perpustakaan, alasan mereka berdua ada di tempat yang penuh dengan buku ini adalah Harry mendapat detensi lagi untuk membantu madam Pince di perpustakaan, kali ini detensi bukan datang dari Snape (Thank Merlin karena itu, Harry sudah masuk dalam buku hitam milik Snape sebagai langganan detensi dari professor super dubber sadis itu) melainkan dari Trelawney. Kalau membayangkan itu pikiran Harry menjadi suram, maksud Harry adalah bagaimana mungkin professor yang punya hobi memprediksikan kematian Harry setiap saat bisa memberinya detensi hanya karena Harry melamun di kelas. Rasanya Harry menyesal untuk tidak mengikuti saran Hermione, ia SEHARUSNYA keluar dari kelas 'pemrediksian kematian' milik Trelawney itu.

Lalu apa detensi yang harus dilakukan Harry? Tentu saja madam Pince menyuruhnya menata buku-buku baru yang jumlahnya 2905 ke rak-rak berdasarkan catalog yang ada. Orang waras mana yang mau melaksanakan tugas itu, begitu membosankan dan sulit tentunya.

Harry memeluk tubuh Draco dengan erat, ia masih merasa kesal dengan hukuman yang menurutnya jauh lebih parah daripada menggosok kuali ramuan milik Snape. Apalagi di tempat ini ia melihat Greengrass memberinya senyuman menyebalkan, ia sepertinya kelihatan senang sekali kalau Harry menderita. Rasanya Harry ingin meremas-remas Astoria Greengrass sebelum menguburnya hidup-hidup, tapi Harry mengurungkan niatnya itu karena ia tidak ingin menjelaskan kematian adiknya kepada Daphne. Akh… itu tidak bisa terjadi, bagaimana mungkin Daphne yang suka dan mendukung hubungan Harry dengan Draco (Daphne ini adalah teman baik Draco selain Blaise dan Pansy) bisa mempunyai adik dengan hati seperti setan yang ingin merebut Draco dari sisi Harry seperti ini? Dunia memang begitu kejam.

Untung saja saat itu kekasih tercintanya segera datang menyelamatkan Harry dengan menawarkan bantuan yang sangat menolong. Draco yang hafal betul seluk beluk perpustakaan (ia ini kutu buku tapi tetap saja keren) tentu terlihat seperti malaikat penolong bagi Harry yang dari dulu sedikit alergi dengan buku (Harry ini tipe orang malas bila berhadapan dengan buku), sehingga dua jam kemudian tugas Harry selesai sudah dan mereka bisa duduk di salah satu bangku perpustakaan dan bermesraan di sana, tentunya Harry yang melakukan duluan karena sedari tadi Draco sibuk membaca buku.

"Kitten." Suara Draco membuyarkan lamunan Harry, "Kau melamun lagi. Apa yang tengah kau lamunkan?"

"Aku tengah melamunkan kalau kau adalah pahlawanku di setiap saat."

"Pahlawan? Bagaimana bisa? Bukankah kau adalah pahlawan yang dimaksud itu, Kitten?" Tanya Draco sedikit bingung dengan maksud Harry.

Harry memberikan senyuman yang begitu manis di wajahnya, ia mencium pipi kiri Draco dengan lembut sebelum berkata, "Aku menyebutmu pahlawan karena kau selalu ada di setiap kali aku membutuhkanmu. Seperti waktu detensi dengan Snape, aku harus menggosok kuali tanpa sihir sampai tengah malam, tiba-tiba kau muncul seperti seorang ksatria dan membantuku menyelesaikannya. Lalu hari ini juga begitu, kau membantuku tanpa diduga-duga. Bukan hanya waktu detensi saja kau membantuku, bahkan saat peperangan dulu kau rela membunuh ayahmu untuk menolongku. Aku sama sekali tidak….."

Kata-kata Harry berhenti dari bibirnya saat Draco meletakkan telunjuk tangan kanannya di depan bibir Harry, membuat remaja itu berhenti berhenti berbicara. Draco menyingkirkan jari tangannya dan ia mencium bibir milik Harry yang ranum itu dengan bibirnya, keduanya berciuman untuk beberapa saat dan ciuman yang mereka lakukan bertambah panas karena Harry sampai mendesah penuh kenikmatan. Saat mereka kehabisan oksigen, barulah keduanya menghentikan ciuman itu namun tentu saja hal itu tidak membuat Draco berhenti begitu saja.

Harry memejamkan kedua kelopak matanya, wajahnya bersemu merah saat Draco menciumi lehernya dengan perlahan sementara kedua tangannya melakukan sesuatu yang membuat Harry menjadi gila. Pemuda berambut hitam berantakan yang manis itu duduk tepat di pangkuan Draco dan membiarkan Draco menciumi lehernya, membuat tanda berwarna merah di kulit leher yang mulus itu.

"Dray… oh…" desah Harry saat ia merasakan tangan kiri Draco melingkar di pinggangnya dengan erat sementara tangan kanannya masuk ke dalam jubahnya dan membelai kulitnya yang berada di balik kemeja yang ia kenakan.

"Apa kau menyukainya, Kitten?" Tanya Draco dengan nada seksi yang menjanjikan kenikmatan bagi Harry nantinya, apalagi mata silver kebiruannya terlihat begitu cemerlang dan senyuman seksi yang mampu membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapannya itu muncul di wajah tampannya.

Harry tidak bisa mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk dan bergidik hebat saat Draco menciumi hickey kemerahan yang ia buat di leher Harry itu dengan sensual.

"Aku bukan pahlawan, Kitten¸ dan tidak akan pernah menjadi satupun dari itu. Tapi aku akan menjadi sesuatu apapun yang kau inginkan, harus ada orang yang menjaga dan melindungimu. Aku tahu kalau Weasel-bee dan Granger mampu melakukannya bahkan aku yakin kau bisa melakukannya sendiri, dan aku sama sekali tidak meragukan mereka karena mereka adalah teman baikmu ataupun dirimu sendiri, tapi aku tahu kalau mereka tidak akan bisa melakukannya setiap saat. Oleh karena itu aku yang akan melakukan tugas itu dan mencintaimu sebisaku, sampai takdir memisahkan kita." Di sini Draco menatap mata emerald Harry dengan serius, kedua mata emerald yang indah itu berkaca-kaca dan tanpa sadar sebutir air mata mengalir dari sudut mata Harry, mengalir ke pipinya. Draco mengusap air mata itu dari wajah manis Harry dan mencium kedua pipi yang bersemu merah itu, "Karena kau adalah satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini, 'Ry."

Kata-kata Draco begitu menyentuh perasaan Harry, meskipun Draco sulit untuk mengutarakan perasaannya lewat kata-kata ataupun perkataannya terdengar tidak sesuai, namun sekali mengatakan perasaannya Draco mampu membuat siapa saja terharu dan menitikkan air mata. Harry sama sekali tidak tahu kalau dirinya begitu berarti bagi Draco, kalau saja Draco tidak mengatakannya sendiri maka Harry tidak akan yakin dengan perasaannya sendiri. Anak laki-laki itu memeluk Draco dengan erat, meneggelamkan wajahnya di dada kekasihnya.

Apa yang telah Harry lakukan di masa lalu sehingga ia mendapatkan orang yang begitu luar biasa seperti Draco? Betapa beruntungnya Harry, ia jadi mengerti mengapa ketiga teman Blaise, Pansy, dan Daphne begitu protektif terhadap Draco. Kekasihnya itu memang orang yang dingin dan tidak akan membiarkan seorangpun untuk bisa masuk ke dalam hatinya apalagi mempengaruhi perasaannya, ia melakukan itu untuk menutupi perasaannya yang begitu rapuh dan tidak ingin disakiti oleh siapun. Namun Harry senang Draco bisa terbuka dengannya seperti ini, meskipun terkadang Draco masih main misterius-misteriusan dengannya.

"Love you, Dray." Bisik Harry pelan. Ia menggenggam kemeja putih oxford yang dikenakan oleh Draco.

Draco tidak mengatakan apa-apa, namun Harry tahu kalau Draco mempunyai perasaan yang sama padanya. Harry merasa nyaman saat tangan Draco membelai punggunggnya, membuatnya tenang dan berhenti menitikkan air mata.

Namun suasanya yang melankolis dan nyaman itu buyar saat Ron Weasley dan Hermione Granger masuk ke dalam perpustakaan untuk mencari Harry. Bukannya Harry yang tengah menata buku yang mereka temukan, namun mereka menemukan Harry dan Draco tengah berciuman dengan panas.

Wajah Hermione memerah dan matanya berbinar-binar, sementara itu Ron malah terlihat mau muntah.

"AAKHH….. MATAKU…. My virgin eyes…" Teriak Ron mendramatisir sambil menutup kedua matanya dengan tangan.

Teriakan dari Ron itu membuat kedua sejoli tersebut langsung memisahkan diri, keduanya menemukan Ron dan Hermione berada di sana. Wajah Harry langsung merah padam seperti kepiting rebus, sementara Draco hanya menatap tingkah Ron yang berlebihan dengan bosan seperti biasa.

"Harry, ini adalah perpustakaan dan bukannya tempat untuk bermesraan dengan Malfoy seperti itu. Akh… kau meracuni mataku yang masih suci ini." Ujar Ron, ia masih menutup kedua matanya.

Baik Hermione dan Draco memuutar kedua bola mata mereka melihat tingkah Ron yang kekanakan, berbeda sekali dengan apa yang dilakukan Harry, wajah Harry tambah merah dan ia langsung membenamkan wajahnya pada dada Draco.

"Aku malu sekali." Gumam Harry,

"Oh, Harry…. Itu adalah adegan panas yang pernah kulihat. Aku ingin melihatnnya sekali lagi, apa kau dan Draco mau melakukannya?" pinta Hermione.

Hermione memanggil Draco dengan nama pertamanya karena mereka telah mendapatkan pemahaman satu sama lain dan menjadi teman, namun Draco dengan Ron? Keduanya masih suka berselisih karena bagaimanapun seorang Weasley dengan seorang Malfoy sangat mustahil untuk bisa akur, jadi tidak heran kalau keduanya saling memanggil dengan nama keluarga masing-masing, tapi untungnya mereka tidak pernah bertengkar hebat seperti dulu.

"Hermione!" Tegur Ron dan Harry bersamaan dalam alasan yang berbeda tentunya.

"Oh, aku harus menceritakannya pada Pansy. Ini akan jadi hal yang sangat menyenangkan."

Draco melihat interkasi golden trio itu dengan tatapan yang mengatakan kalau ia terhibur dengan itu. Namun melihat wajah Harry yang memerah terus, ia tidak bisa membiarkannya juga. Ia takut kalau Harry akan kehabisan darah kalau ia terus-terusan memerah seperti ini. Kepala murid laki-laki itu menghela nafas panjang.

"Granger, meskipun aku senang kau menemukan apa yang kami lakukan sangat seksi dan tidak peduli kalau kau ataupun Weasel ada di sini untuk menonton." Di sini Draco menyeringai lebar saat menemukan ekspresi dari wajah Ron, "Tapi aku tidak ingin kau membuat malu Harry lebih lanjut lagi."

"Ferret, aku tidak ingin melihat itu lagi! For Merlin sake, apakah kalian tidak bisa melakukannya di tempat yang lebih tertutup dan tidak di tempat umum seperti perpustakaan! Akh…. Hilang sudah minatku untuk membaca." Keluh Ron.

Hermione memukul kepalanya karena ia sangat berisik, "Sejak kapan kau punya minat untuk membaca, Ronald Weasley. Kalau saja aku tidak menyeretmu ke tempat ini, aku yakin kau tidak akan mau belajar."

"Tapi, 'Mione."

"Tidak ada tapi-tapian." Ujar Hermione, gadis itu berjalan menghampiri Draco dan Harry sebelum ia duduk di hadapan mereka berdua dan larut pada apa yang akan ia kerjakan.


Bulan Januari berganti dengan bulan Februari, udara di sekitar Hogwarts yang tadinya membeku akibat musim dingin yang lumayan panjang kini sedikit demi sedikit menjadi hangat, meskipun tidak jarang salju masih turun. Peralihat dari musim dingin ke musim semi memang belum terjadi secara maksimal, tapi hal itu sama sekali tidak membuat Harry untuk tidak menemukan keindahan di sekitar danau.

Remaja berambut hitam berantakan dan berwajah manis itu tengah duduk di tepi danau hitam, ia menghiraukan dinginnya air danau yang menyentuh kakinya secara langsung. Wajahnya sedikit memerah karena udara yang masih dingin, meskipun begitu ia sama sekali tidak kedinginan karena Harry mengenakan sweeter hadiah dari Molly Weasley dengan warna merah dan huruf HP di dada kirinya, baju ini adalah kesayangannya karena begitu nyaman dan hangat untuk dikenakan. Harry memeluk kedua lututnya, kedua mata emeraldnya yang indah ia biarkan menatap keindahan danau yang masih sedikit membeku di sana.

Tahun ini adalah tahun terakhir ia berada di Hogwarts karena sebentar lagi ia akan lulus, Harry sedikit sedih bila memikirkan akan keluar dari Hogwarts sebab Hogwarts itu adalah rumah pertama yang membuat Harry merasa nyaman. Ron dan Hermione memutuskan untuk menikah setelah lulus dari Hogwarts, tentu saja Harry merasa bahagia untuk mereka, namun ia juga sedih kalau memikirkan kehidupannya sendiri. Apa yang akan ia lakukan setelah lulus nanti? Berbagai pertanyaan yang serupa juga muncul bertubi-tubi.

Setelah mengalami banyak hal seperti perang yang terjadi di Hogwarts, Harry memutuskan untuk tidak menjadi seorang Auror seperti yang ia rencanakan sebelumnya. Harry sudah lelah bertarung atau melihat pertempuran yang sama sekali tidak mempunyai arti, ia juga sudah lelah berhadaan dengan pelahap maut. Mungkin Harry harus mencari profesi yang lain, dan Harry menemukan hal yang ia sukai. Ia ingin menjadi seorang Healer atau Mediwizard seperti madam Pomfrey, mungkin ia harus meminta madam Pomfrey untuk menerimanya sebagai Apprentice.

Harry tersenyum kecil ketika memikirkan rencananya itu, namun senyuman yang indah itu kembali redup saat ia melihat bayangan seseorang yang membuat mood-nya kembali buruk.

"Well, apakah ini hari keberuntunganku bisa menemukan seorang Harry Potter duduk di tepi danau sendirian. Ooh… sendirian rupanya, menyedihkan sekali." Ujar sebuah suara yang sangat menyebalkan.

Harry berdiri dari tempat duduknya, ia berbalik dan langsung memberikan glare pada gadis itu. Ia menemukan Astoria Greengrass berdiri dengan santai seperti ia adalah orang penting, gadis itu memberikan seringai sadis, membuat wajahnya yang cantik menjadi jelek.

"Itu bukan urusanmu, Greengrass!" kata Harry dengan tegas.

"Ooh, bukan urusanku rupanya. Di mana Draco, Potter? Aku sama sekali tidak melihat sang pangeran di sekitar sini." Kata Astoria, ia berkacak pinggang dan memberikan senyuman penuh ejekan kepada Harry, "Ah, aku tahu. Kurasa Draco sudah bosan dengan seorang slut sepertimu, jadinya ia mencampakkanmu sendirian. Itu tindakan yang sangat bagus."

Darah Harry mendidih karena itu, tidak hanya Greengrass menyebut Harry seperti pelacur dan sebagainya, namun ia berani-beraninya mengatakan kalau Draco meninggalkannya.

"Tutup mulutmu, Greengrass. Siapa yang kau sebut sebagai pelacur, apa kau yakin kau tidak menyebut dirimu sebagai salah satunya?" di sini Harry tersenyum senang, ia merasa di atas angin saat menemukan Greengrass memberinya glare yang menunjukkan kemarahan.

Harry heran dengan Greengrass, bagaimana mungkin orang yang temperamental sepertinya bisa masuk ke dalam asrama Slytherin? Seharusnya gadis itu mencontoh kakaknya, tidak terlalu menonjolkan diri sendiri dan lebih berperilaku seperti seorang Lady ketimbang Astoria.

Mata milik Greengrass berkilat-kilat berbahaya, Harry melihat gadis itu mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku jubah yang dikenakan. Dengan reflex yang cepat Harry segera menghindar ke balik pohon saat mantra pemotong yang Greengrass lemparkan mencoba untuk menyerangnya.

"Diam. Kau. Half-blood. Rendahan!" Greengrass menekankan kata-katanya dalam setiap kalimat, ia benar-benar marah. "Sudah cukup aku mengalah padamu, Potter. Kali ini aku akan membunuhmu dan mendapatkan Draco untukku sendiri."

Harry sedikit panik di balik pohon tempatnya bersembunyi, ia merasa bodoh saat menyadari kalau ia tidak membawa tongkat sihirnya. Di dalam kepalanya Harry serasa mendengar sebuah teguran yang mirip dengan suara Hermione yang mengatakan kalau Harry itu bodoh karena bisa melupakan tongkat sihirnya di kamar asramanya. Dan lihatlah ia sekarang, ia mempunyai seorang penyihir gila yang haus akan darahnya.

"Bombarda." Kata Greengrass, menghancurkan pohon yang Harry gunakan.

"Greengrass, hentikan itu!" pinta Harry, "Tidak ada gunanya bertengkar karena masalah sepele."

"Omong kosong, semua yang kau katakan adalah omong kosong belaka. Oh, biar aku tebak, kau mencoba untuk menipuku dengan mengatakan hal yang akan membuatku menyerah sebelum kau berhasil untuk mendorongku lagi. Rencana yang sangat licik, Potter." Kata Astoria, "Aku tidak tahu apa yang Draco lihat dari dirimu.

"Menarik saja tidak, tampan juga tidak, kaya juga tidak. Apa yang membuat Draco begitu tertarik padamu sehingga ia berpaling dariku?"

Harry mengambil langkah mundur saat gadis itu berjalan mendekat ke arahnya, Greengrass benar-benar gila.

Astoria berhenti tepat di depan Harry, senyuman yang ada di bibirnya sangat kejam dan mata hazelnya berkilat-kilat memendam kemarahan yang luar biasa. Kata Draco mata seseorang itu adalah jendela emosi dari setiap individu, sedingin apapun orangnya bila Harry menatap mata orang itu maka ia akan menemukan apa emosi mereka. Dan saat ini ketika Harry menatap mata hazel milik Greengrass, beribu-ribu emosi terlihat begitu jelas dari balik matanya. Perasaan seperti cemburu, marah, benci, dan sedih bercampur menjadi satu.

"Draco tertarik padaku karena aku menawarkan cinta padanya." Jawab Harry dengan lantang.

"Benarkah? Aku tidak yakin dengan itu, tidak ada orang yang mencintaimu selama ini jadi mana mungkin kau bisa menawarkan hal yang mustahil seperti itu? Kau adalah anak yatim piatu yang sangat malang, kau pasti memberikan blackmail padanya bukan? Mengaku saja, Potter, atau kau bersikap begitu menyedihkan sehingga membuat Draco menerimamu?"

Kalau saja Astoria itu bukan wanita, pasti Harry sudah memukulnya sejak tadi karena mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak benar mengenai dirinya. Harry jadi tahu mengapa Draco meninggalkan gadis ini, Astoria mempunyai mulut yang tidak bisa dijaga dan hatinya berbeda dengan wajahnya. Terlebih lagi gadis itu juga sangat sombong.

"Buah memang tidak jauh dari induknya, jangan-jangan ibumu yang berdarah-lumpur itu juga menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan seorang penyihir berdarah murni seperti James Potter. Dan yang lebih parah ia menggunakan ramuan cinta. Anak dan ibu sama sekali tidak ada bedanya."

"TUTUP MULUTMU!" Teriak Harry, ia benar-benar marah. Daranya mendidih dan matanya berkilat tajam, "Kau tidak mempunyai hal untuk menghinaku apalagi menghina ibuku, Greengrass!"

Greengrass memicingkan matanya, giginya bergemeretak karena marah. Melihat ia sangat dekat dengan Harry dan mereka berdua berdiri tepat di tepi danau, dengan kuat ia mendorong remaja berambut hitam itu ke danau. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat Harry meronta-ronta, ia tahu kalau Potter tidak bisa berenang dan oleh karena itu ia mendorongnya agar jatuh ke dalam danau. Apalagi di cuaca yang sangat dingin seperti ini, pasti Potter akan mati kedinginan karena hypertemia.

"Ini balasannya karena kau telah berani menantangku, Potter." Ujar Astoria dengan sadis.

"Expelliarmus." Ujar seseorang dari belakang, Astoria yang terkejut karena tongkatnya terlepas dari pegangannya dan Ia tidak bisa melakukan apa-apa.

Gadis itu berbalik dengan sangat cepat dan tiba-tiba merasakan sebuah tamparan yang sangat keras pada pipi kanannya, ia tidak beranjak dari tempatnya dan mencoba untuk mengetahui apa yang terjadi. Bahkan ia tidak mendengar suara seseorang terjun ke danau dan menolong Potter.

Astoria memegang pipinya yang panas, ia menemukan sepasang mata emerald dari seorang gadis cantik berambut pirang panjang memberikan tatapan penuh marah padanya.

"Kau benar-benar sudah keterlaluan, Torry. Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan melakukan hal seperti ini kepada Harry, apa kau tidak tahu kalau perbuatanmu ini bisa membunuh seseorang?" bentak gadis itu.

"Daphne, Potter…"

"Jangan Daphne padaku, Astoria Lucretia Greengrass! Aku tidak mau mendengar apapun darimu, kali ini kau benar-benar kelewatan." Ujar Daphne, suaranya berubah menjadi lunak saat ia berbicara pada orang yang berada di belakang Astoria, "Bagaimana keadaannya, Draco?"

Astoria berbalik dan ia menemukan Draco yang tengah menggendong Potter bridal style keluar dari dalam danau. Draco masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam sekolahnya tampak basah dari ujung rambut sampai kaki, namun sepasang mata silver kebiruan miliknya itu memberikan tatapan terdingin miliknya yang dulu pernah ia berikan pada ayahnya pada Astoria.

"Aku harap ia baik-baik saja, Daph. Dan kau, Torry, aku akan mengurusmu nanti setelah Harry sadar. Berdoalah dia tidak kenapa-kenapa atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Ujar Draco dengan nada yang sangat dingin.

Dengan itu Draco berjalan meninggalkan mereka berdua di sana, ia menyerahkan masalah Astoria itu pada Daphne. Ia tahu kalau Daphne bisa mengurusnya sendiri, bagaimanapun juga Daphhe adalah kakak dari Astoria.


Saat Harry mulai membuka kedua kelopak matanya, ia menemukan kalau hari sudah sangat gelap. Remaja itu melihat di mana ia berada saat ini dan menemukan kalau ia berada di rumah sakit, Harry tidak tahu apa yang terjadi hari ini tapi apapun itu ia merasa tidak suka. Untuk beberapa saat Harry mencoba untuk mengingatnya dan barulah ia sadar kalau ia berada di rumah sakit karena ulah Greengrass, ia dan gadis itu bertengkar di pinggir danau yang berakhir dengan Astoria mendorong Harry hingga jatuh ke danau yang sangat dingin sampai ia tidak sadarkan diri.

Remaja itu menggigil ketika membayangkan betapa dinginnya air danau menyentuh kulitnya. Dua buah pelajaran yang Harry petik pada hari ini, jangan pernah bertengkar dengan siapapun di pinggir danau atau kau akan berakhir terjatuh di air yang sangat dingin dan jangan pernah meninggalkan tongkat sihir di kamar asrama, akibatnya adalah tidak bisa mempertahankan diri dengan baik yang berakhir dengan berada di rumah sakit.

"Oh, kau sudah sadar." Ujar sebuah suara yang membuyarkan lamunan Harry.

Harry menengok ke samping kanannya dan baru menemukan kalau sedari tadi Draco tertidur di atas kursi yang ada di samping tempat tidurnya di rumah sakit itu. Penampilan kekasihnya itu tidak sempurna seperti biasa, ia mengenakan T-shirt lengan panjangan warna hijau dengan celana warna hitam. Rambutnya sedikit berantakan dan yang terpenting adalah ekspresi wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa.

Harry tidak tahu apa yang terjadi karena detik kemudian ia berada di pelukan Draco yang hangat, ia juga tidak sempat protes atau menyapanya karena bibirnya langsung dicium oleh Draco dengan panas. Draco terus mencium Harry dan ia duduk di tempat tidur Harry, lengan kekarnya terus memeluk Harry seperti takut kalau Harry akan kembali tidak sadarkan diri.

Keduanya berhenti berciuman saat udara menjadi masalahnya, namun Draco tidak beranjak dari mana ia duduk. Keduanya berbaring di tempat tidur Harry yang ada di rumah sakit dengan Harry menggunakan dada Draco sebagai bantalnya.

"Jangan pernah membuatku takut seperti itu lagi." Ujar Draco, "Aku tidak mau kau kenapa-kenapa lagi, Harry."

"Ini semua bukan salahmu. Dan, Love, thank for saved my life again."

"You're welcome, kitten." Jawab Draco, ia mencium bibir Harry untuk sekali lagi namun kali ini dengan ringan seperti kecupan saja. "Tidurlah, kau butuh istirahat."

"Tapi bagaimana dengan Greengrass?" Tanya Harry yang masih penasaran.

"Ssssh… tenang saja, kitten. Dumbledore sudah memberikan hukuman yang sangat baik pada Astoria, dia tidak akan mengganggumu lagi."

Dengan itu Harry tersenyum puas dan memejamkan kedua matanya, ia tertidur dengan menggunakan Draco sebagai bantal seperti biasanya. Lagipula Draco itu hangat.


Tiga bulan berlalu setelah kejadian itu terjadi, Astoria mendapatkan hukuman yang sangat berat yaitu detensi bersama Filch selama dua bulan. Tentu saja itu adalah hukuman yang cukup ringan daripada dikeluarkan dari Hogwarts. Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Harry, hari di mana ia dan teman-temannya yang lain lulus dari Hogwarts.

Setelah melakukan pembicaraan yang panjang lebar akhirnya madam Pomfrey merekomendasikan Harry pada sebuah akademi para healer, St. Marie, sebuah sekolah untuk para calon mediwitch dan mediwizard. Ron yang sejak dulu bercita-cita untuk menjadi seorang auror akhirnya masuk ke dalam pelatihan, dan hal itu membuat semua teman-temannya gembira. Hermione memilih untuk mengajar di Hogwarts setelah lulus nanti, sementara Daphne menjadi Apprentice dari professor Snape. Harry sangat heran kok ada juga orang yang tahan bekerja dengan Snape. Draco mendapat tawaran untuk menjadi seorang Curse breaker yang ada di departemen misteri sejak dulu akhirnya menerima tawaran itu.

"Kau melamun lagi." Ujar Hermione, membuyarkan lamunan Harry yang sudah terbang ke mana-mana. "Apa pestanya tidak menarik sehingga kau melamun?"

Saat ini mereka ada di aula besar, pesta kelulusan yang Dumbledore adakan disambut baik oleh semua murid dari tahun pertama sampai tahun terakhir, Harry adalah salah satu di antaranya meskipun ia tidak terlalu antusias dengan sebuah pesta.

"Tidak, pestanya sangat menarik. Hanya saja akhir-akhir ini aku sering melamunkan sesuatu." Jawab Harry, ia mengucapkan terima kasih pada Ron yang telah mengambilkannya minum.

"Sama-sama. Apa yang kalian bicarakan barusan?" tanay Ron penasaran.

"Bukan apa-apa, Ron. Hanya saja akhir-akhir ini Harry lebih sering melamun, tidak jelas apa yang dilamunkannya." Jawab Hermione. "Aku khawatir kalau otaknya sudah terganggu dengan hal-hal yang tidak jelas."

"Atau mungkin Ferret sudah meracuni pikirannya dan membuatnya gila." Tebak Ron sambil menyeruput jus labunya.

Baik Hermione dan Harry hanya bisa menghela nafas dengan sifat kekanak-kanakan Ron. Tentu saja bukan karena itu mengapa Harry melamun.

"Aku hanya berpikir dengan apa yang telah terjadi beberapa bulan terakhr ini. Setelah perang yang berkepanjangan yang berakhir dengan kematian Voldemort, hidup ini rasanya sangat berubah. Aku bisa berhubungan dengan Draco secara bebas, kalian berdua bisa bersama, dan rasanya tenang sekali. Sama sekali tidak ada kekacauan, meskipun aku tidak melupakan beberapa hal yang bisa dikatakan mengganggu juga, tapi setidaknya aku merasa sangat bahagia. Dan coba kalian pikirkan, kita akhirnya lulus dari tempat ini tanpa terduga." Ujar Harry.

Baik Ron dan Hermione mengangguk setuju, "Rasanya begitu cepat. Aku masih ingat ketika aku menerima surat pertamaku, rasanya masih sulit untuk dipercaya kalau aku adalah seorang penyihir dan beberapa tahun kemudian aku berdiri di tempat ini." Kata Hermione.

Ketiganya berbicara terus seputar masa lalu, Harry asyik sendiri sampai-sampai ia tidak sadar kalau keributan yang ada di aula besar mendadak sepi. Remaja itu baru sadar saat ia mendengar sebuah musik yang mengalun begitu lembut, sebuah musik yang berasal dari permainan sebuah biola solo. Harry sangat hafal dengan permainan itu, oleh karenanya ia beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju arah sumber musik.

Musiknya bergitu menyentuh dengan ritme yang sangat teratur dan mendramatisir, nafas Harry terasa tercekat saat ia melihat siapa yang berdiri di atas podium itu yang juga memainkan biola solo yang sangat memukau.

Draco Lucien Malfoy, ia berdiri di atas podium dengan memainkan sebuah melodi yang sangat indah, ekspresinya mengisyaratkan kelembutan di sana. Ia memejamkan kedua matanya saat memainkan nada itu, jiwanya mengalun dan mampu menyentuh hati para pendengarnya. Untuk sesaat Draco membuka kelopak matanya dan matanya bertemu dengan mata milik Harry.

"Violin Concerto number one in G minor." bisik Harry pelan, ia ingat akan permainan kesukaan kekasihnya itu.

Permainan biola solo dari Draco berhenti, sesaat kemudian tepuk tangan riuh terdengar dari penjuru arah yang diberikan oleh para siswa yang ada di sana. Pemuda berambut pirang platinum itu terus menatap Harry tanpa berkedip, ia baru turun dari podium ketika riuh tepuk tangan padam dan berjalan menghampiri Harry di mana kekasihnya itu berdiri.

Beberapa murid menyingkir dan memberikan jalan bagi Draco untuk menjangkau Harry, pemuda itu berdiri di hadapan kekasihnya dan tersenyum kecil.

"Harry Potter." Kata Draco lirih, namun semua orang bisa mendengarnya. Wajah Harry bersemu merah saat Draco meraih kedua tangannya, "Sei la ragione per cui vivo, per cui ogni giorno sorrido. Voglio passare il resto della mia ita con te. Il tuo amore per me e immenso, spero di meritarlo sempre. Sei la mia anima gemella. Se la mia vita. Il mio cuore e per voi. Ti amo."

Beberapa orang yang mengerti akan bahasa Italia langsung memberikan selamat kepada Harry, Harry yang sendiri yang sedikit-sedikit tahu akan apa yang Draco ucapkan langsung bersemu merah dan tersenyum kecil. Ia menatap ke bawah dan menemukan Draco meletakkan satu lutut di lantai dan berjongkok di hadapan Harry seperti seorang pangeran, apalagi pemuda itu mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya dan membukanya, memperlihatkan sebuah cincin emas putih yang sangat cantik dengan berlian kecil berwarna emerald, warna yang sama dengan mata Harry. Cincin itu sangat cantik, apakagi terdapat symbol keluarga Malfoy yang terukir di sana.

"Harry, mungkin aku tidak bisa mengatakannya dengan baik tapi aku sudah mencobanya. Maukah kau menghabiskan hidupmu bersamaku, maukah kau menikah denganku?" Tanya Draco penuh harap.

Beberapa anak perempuan yang melihat adegan romantic itu langsung menitikkan air matanya, begitu pula dengan Harry. Dengan antusias ia menganggukkan kepalanya dan memeluk Draco dengan sangat erat, tepuk tangan bergemuruh untuk sekali lagi dan ucapan selamat diucapkan oleh mereka yang ada di sana kepada mereka berdua.

Draco berdiri dari posisi semulanya dengan Harry yang masih ada di dalam pelukannya, ia mengambil cincin keluarganya itu dan memasangkannya di jari manis kanan milik Harry, Draco mengambil tangan itu dan menciumnya.

"Kau membuatku menjadi orang yang sangat bahagia, Kitten." Bisik Draco sebelum mencium bibir Harry dengan lembut.

Harry tidak mampu berkata apa-apa, ia merasa sangat bahagia dengan apa yang terjadi hari ini. Dalam hati ia hanya berharap kalau kehidupannya akan menjadi lebih baik seperti kisah-kisah dongeng pengantar tidur yang pernah ia baca ketika masih kecil. Akhirnya Draco menyatakan cintanya pada Harry dan melamarnya pada saat yang sama, mungkin ini adalah akhir bahagia yang ia dapat setelah mengalami semuanya. Harry benar-benar merasa sangat bahagia.


THE END


Translate:

You are my reason for living every day, for why I smile every day. I want to spend the rest of my life with you. Your love for me is immense, I hope that I will deserve it. You are my best friend. You are my soulmate. You are my life. My heart is for yoy. I love you


AN: Terima kasih udah membaca, aku tahu kalau part two ini sangat gaje atau malah nggak sesuai. meskipun begitu aku sudah berusaha untuk menyelesaikannya dalam waktu sehari dan nggak meninggalkannya dalam status hiatus lagi. bagaimana pendapat kalian? Baikkah? atau burukkah? aku nggak tahu harus nulis apa lagi, jadi thanks ya!

Author: Sky