Terlambat
Sirius Black, Remus Lupin, James Potter, Peter Pettigrew, Severus Snape, Lily Evans adalah kepunyaan JK Rowling
Alternate Universe, no magic, no Voldemort, no Marauders, no 'that word'. Shonen-ai. Character Death. Rate T saja
Diikutsertakan dalam Challenge: Only Death Aparts Us punya daikirai
Terimakasih banyak untuk [at]Ghee11[at]elitralala dan [at]zenatzenut atas sumbangan fakultasnya. Sastra Jawa, wekekek! #dzigh
Untuk semua pecinta SBRL
-o0o-
Bagian Kedua
-o0o-
"—aku duluan!" sahut Remus, berdiri, mengangkat ranselnya, meninggalkan mangkuk serealnya yang sudah kosong, "—kuliah jam pertama sampai makan siang nanti. Sampai jumpa!"
Ketiga sobatnya melambaikan tangan, tak berbicara, mungkin karena mulut masih penuh sereal. Kecuali Severus, ia juga berdiri. Mangkuknya juga sudah kosong.
"Aku juga duluan ya!" dan ia melangkah keluar Ruang Makan.
Menjejeri Remus, Severus melingkarkan lengan pada bahunya. Berbicara beberapa kalimat, lalu tertawa. Keduanya berjalan bersama, irama agak dipercepat. Dari Ruang Makan, cukup banyak mahasiswa yang menyelesaikan makan cepat-cepat, akan kuliah jam pertama.
"—aneh—" Sirius menggumam, mulutnya masih dipenuhi sereal. Cepat-cepat ditelannya, disusul dengan seteguk susu—blah! Minuman anak kecil, batinnya.
"Kenapa, Siri?"
"Anak-anak Farmasi bukannya masuk jam 11 nanti?"
"Kau hapal sekali!"
"Er, bukan begitu. Kalau tidak salah, minggu lalu Severus berjalan bersama kita ke kelasnya, jadi aku mengambil kesimpulan kalau Farmasi kuliahnya hari ini jam 11—"
"Ya, mungkin dia mau ke Perpustakaan—" Peter menghabiskan serealnya, melihat kanan-kiri, "—aku masih lapar—"
"Ya, sana tambah!" Sirius ketus.
Peter nyengir, berdiri ke meja hidangan, dan mengisi lagi penuh-penuh mangkuknya, menyiramnya dengan susu murni, dan sudah mulai menyendok serealnya walau ia belum duduk di kursinya.
"Ayo, kau sudah selesai? Kelompok kerja kita kumpul jam 9 di Ruang Belajar Bersama—" James menghabiskan jus jeruknya, dan berdiri.
"OK," Sirius juga berdiri walau masih meneguk habis isi gelasnya, "—kami tinggal kau ya!"
Peter tak menjawab, mulutnya penuh, cuma tangan kirinya saja melambai memberi isyarat.
James tak memperhatikan sobatnya yang jadi pendiam, karena matanya jelalatan ke arah gerombolan gadis-gadis mahasiswi Psikologi, mencari-cari sasaran yang tak ada, "—apa dia tidak sarapan ya?" gumam James perlahan nyaris tak terdengar.
-o0o-
Ruang Belajar Bersama semakin sore biasanya semakin penuh. Duo Sipil kita ini sedang mencari-cari tempat kosong, ketika Sirius menjawil siku James, "—sebelah Remus—"
Meja-meja di Ruang Belajar Bersama ini meja yang panjaaaaang sekali, dilengkapi bangku di sisi kanan dan kiri. Jadi bisa muat banyak. Dan di sisi Remus sepertinya cukup untuk dua-tiga orang lagi.
James mengangguk, dan mengarahkan langkahnya pada pemuda yang sedang asyik membaca itu. Sesekali dia menulis sesuatu pada catatannya.
"Hei!" sapa James sambil menepuk bahunya.
Remus menoleh. "Ah, kalian! Mana Peter?"
"Tak tahulah. Kalau tak salah, Kedokteran Hewan ada tambahan praktikum sore ini—" James dan Sirius duduk di sebelah kanan Remus.
Mengangguk, Remus meneruskan kegiatannya tadi, kembali fokus membaca plus sesekali mencatat. Terbawa suasana, James dan Sirius ikut-ikutan mengeluarkan buku dan mulai membaca.
Ada beberapa saat hening seperti itu. Keheningan pecah saat Severus datang, langsung duduk di sebelah kiri Remus. Menyimpan tasnya di meja, mengeluarkan sesuatu seperti flyer, dan menyerahkan pada Remus tanpa suara.
Remus memandangnya heran, sebelum ia menatap flyer itu lurus-lurus, seolah mengeja satu demi satu kata yang ada di sana.
"Florence?" tanyanya heran.
"Ya. Tadi aku telepon orangtuaku menanyakan kabar, dan Mum—biasa, latahnya emak-emak—sedang mencari saudara, teman atau siapapun, yang sedang kuliah Desain, dan mengabarkan berita beasiswa itu. Habis menelepon, aku mencari flyer-nya di Kemahasiswaan, dan ternyata ada!"
Remus seperti tersihir oleh kertas itu, dibacanya sekali lagi, dan sekali lagi.
"Apa sih?" tanya Sirius, memanjangkan leher agar bisa ikut membaca kertas selebaran itu, dan Remus menggerakkannya sedikit ke samping agar bisa turut dibaca juga oleh Sirius.
"Beasiswa?"
"Ya," bisik Remus tertahan, "Florence Design Academy, Italia, ini sekolah desain nomer satu di dunia—"
Tapi tiba-tiba wajah yang tadi bercahaya, mendadak suram, "—mana bisa tembus—"
Severus memandangnya dengan sungguh-sungguh, "—kau belum coba kan?"
"Iya!" James turut memberi semangat, "—semangat! Kau harus coba dulu—"
Remus membaca flyer itu sekali lagi. "Test-nya tiga bulan lagi. Yah, aku harus bersiap-siap—"
"Nah, begitu dong!" James menepuk bahu Remus dengan semangat.
"Ada apa, ada apa, aku ketinggalan apa ini—" Peter datang tergesa-gesa.
James dan Sirius mengucek-ucek rambut Peter dengan riang, sambil menerangkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"'Makasih, ya, Sev!" mata Remus kini berbinar-binar kembali. Ia memasukkan flyer itu hati-hati ke dalam ranselnya, dan mulai membaca lagi bukunya, tak terganggu oleh keributan James, Sirius, dan Peter.
"Sama-sama," dan Severus pun meneruskan membaca bukunya.
Ada lagi mata yang diam-diam menatap, dengan seribu rasa tak terungkap, dengan seribu kata tak terucap.
-o0o-
Keluar dari gedung besar berlabel Pusat Administrasi itu selalu membawa rasa lega di diri Remus. Entah kenapa, gedung besar berkesan angker itu selalu berkesan menakut-nakuti mahasiswa. Sepertinya mahasiswa yang memasuki gedung itu adalah mahasiswa yang 'punya dosa' atau bermasalah dengan absen, nilai, tugas yang tak dikumpulkan atau sudah kadaluwarsa masa belajarnya? Er ... tak tahulah, atau ini mungkin hanya dirasakan Remus saja?
Yang jelas, ia harus ke Pusat Administrasi untuk mengurus segala surat-surat guna mengikuti test memperoleh beasiswa ke Florence itu. Dan sepertinya, semua sudah selesai. Dia cuma perlu stres memikirkan test-nya saja—
Di depan gedung, seperti biasa, banyak kerumunan mahasiswa. Ada yang hanya sekedar membuang waktu menunggu sesuatu yang tak jelas, ada yang cekikikan menggosip, ada juga yang sedang serius berdebat mengenai satu dan lain masalah.
"Remus!"
Remus menoleh. "James! Kau sedang apa?"
James mengangkat dagunya pada gerombolan mahasiswa yang sedang mengerumuni seseorang, sepertinya mahasiswa senior, sedang berpidato menggebu-gebu mengenai sesuatu tentang politik pendidikan, yang tak jelas kedengarannya.
"Kau mulai berpolitik ya, James?" Remus tertawa.
"Hahaha! Namanya juga mahasiswa tahun pertama, disuruh ngumpul oleh senior, ngumpul. Aku sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakannya. Lagipula, buat apa sih mahasiswa Sipil ngomongin politik, itu makanannya mahasiswa FISIP—"
"Lha, bukannya yang sedang berbicara itu juga mahasiswa FISIP?"
James mengangguk. "FISIP anak lama. Sepertinya dia dekat dengan anak Sipil angkatan lama, jadi enak saja minta kawannya mengumpulkan audiens. Supaya pidatonya seperti yang menarik, begitu—"
Remus terkekeh. "Kau ini, selalu cuek pada segala hal. Eh, Sirius mana?"
"Tuh—" James menunjuk pada barisan pertama kerumunan itu "—dia serius banget—"
Remus kembali terkekeh.
"Kau sendiri, dari mana?"
"Dari PusAd. Mengumpulkan semua syarat untuk test—"
"Owh. Kau serius?"
Remus mengangguk.
"Sudah terkumpul semua syaratnya?"
"Sudah. Tinggal stres memikirkan testnya, haha—" Remus ketawa garing.
James malah menepuk keras bahunya, "—halah! Aku tak akan pernah bisa melihat Remus stres soal pelajaran, kau akan bisa mengerjakan testnya, sobat! Kau ini cuma kurang percaya diri saja—"
Remus menyeringai. "Thanks, mate! Aku kuliah dulu ya!"
Sembari ia berbalik dan melangkah menuju kelasnya, seseorang—di dalam kerumunan yang sedang asyik mendengarkan pidato—menoleh. Matanya terus mengikuti Remus hingga tak terlihat lagi, berbelok ke sebuah gedung.
-o0o-
"Lily!"
Gadis berambut merah itu menoleh, "Oh, kamu. Ada apa?"
James terengah-engah mendekati, pertama dari segerombolen teman-temannya, "—baru mau ngajak kamu nonton Lea Cumming. Mau kan?"
Lily menoleh pada kawan-kawannya "Aku nonton dengan mereka kok—"
"Oh—" sepertinya James kecewa.
Tapi Lily seperti bermurah hati, "Kita pergi ramai-ramai saja, James! Kau bawa teman-temanmu—"
Sirius muncul menyusul, menepuk bahu James, "Ayo! Kita pergi ramai-ramai saja!" sambil menoleh pada teman-temannya yang menyusul kemudian.
"Ha? Ada apa?" Peter seperti biasa telat menangkap pembicaraan.
"Lea Cumming, minggu depan. Jangan bilang kau belum punya tiketnya—" dengan seenaknya Sirius mendekati Mary McDonald dan memeluknya longgar, "—maukah dikau pergi bersama Abang?"
"Cih, Abang katanya—" tapi Mary sama sekali tidak berusaha melepas pelukan Sirius, dan malahan tertawa cekikikan.
"Kalian juga ikut kan?" Lily menyapa Remus dan Severus yang baru saja sampai.
"Tentu, mereka juga ikut, kami yang paksa. Tidak baik terus-terusan bergelut dengan buku—" James mendekat, terlihat berusaha ingin seperti Sirius, peluk-peluk seenaknya. Tapi Lily sudah waspada dan menjauh pelan-pelan.
"Ikut," Severus membereskan tumpukan buku yang sedang dibawanya, "—tapi kalian semua beli yang kelas Festival kan?"
"Jelas, harga mahasiswa—" Mary menjawab sambil melirik Sirius. Sudah menjadi rahasia umum, James dan Sirius itu mahasiswa tajir. Berbeda dengan mahasiswa lainnya yang pas-pasan.
"Lagipula," Lily menyambung, "di Festival sebenarnya lebih seru! Coba di VIP, mana enak goyang?"
Semua tertawa.
"OK, jadi kita ketemuan di mana nih?"
"Aku masih ada kuliah sampai jam 16.30, mungkin langsung berangkat dari kampus—" Remus menggumam.
"Gimana kalau kita ketemu jam 17.00 di gerbang depan?" Lily mengusulkan. Waktu tempuh ke lokasi hanya setengah jam, dan pertunjukan dimulai pukul 19.00. Melihat antusiasme masyarakat sekitar, sepertinya cukup.
"OK!"
"Okey!"
"Aku akan datang!"
"Pukul 17.00 kita berangkat, jadi kumpulnya sebelumnya dong—"
"Iya, iya, cerewet kau—"
Dan percakapan yang riuh rendah itu lama kelamaan berpindah ke kantin. Kelaparan dan kehausan.
Tapi sepasang mata tak lepas memperhatikan seorang mahasiswa Sipil yang sedang merangkul-rangkul seorang mahasiswi Psikologi. Dan sepasang mata yang waspada pada mahasiswi Psikologi lainnya.
-o0o-
Hitungan waktu terkadang berlalu cepat. Walau selalu mengaku tak siap, Remus harus siap menghadapi test seleksi beasiswanya. Untuk hal yang diidam-idamkan, seseorang harus bekerja keras, prinsipnya.
Jadi, sore-sore, keempat sobatnya sudah menunggu tak sabar di Ruang Belajar Bersama, ketika ia datang, lusuh dan lelah.
"Bagaimana?"
"Bisa kan?"
"Ayo, minum dulu!"
"Kapan diumumkan hasilnya?"
Remus mendudukkan dirinya di ruang yang tersisa di antara Sirius dan Severus, menerima minuman kaleng yang disorongkan James, membukanya, menyeruputnya hingga habis, dan menghela napas.
"Yah, sepertinya sih lumayan. Tapi aku tak tahu dengan peserta lain. Kan yang menginginkan beasiswa itu bukan hanya dari Skotlandia, tapi dari seluruh dunia—"
"Aaah! Kau pasti bisa!" James memberi semangat.
Sirius seperti ragu hendak menggerakkan tangan, tapi ia menepuk-nepuk punggung Remus juga. "Kau pasti lulus!"
"Kau ambil yang berapa tahun?" tanya Severus.
"Aku ambil yang tiga tahun. Er—sekalian—"
"Gyah! Lama sekali—" Peter keceplosan.
Remus tersenyum. "Yah, mungkin kalau aku lolos seleksi, aku akan lama sekali tak berjumpa dengan kalian. Tapi, kita kan bisa berhubungan dengan email—"
"Florence itu di Italia kan?"
"Yap!"
"Nanti kau harus belajar bahasa Italia dong—"
"Untuk sehari-hari, ya. Tapi menurut brosurnya, kuliah diselenggarakan dalam bahasa Inggris—"
"Lucky you—belajar jauh-jauh di Italia, tapi belajarnya pake bahasa Inggris. Nah, aku belajar di Skotlandia, belajarnya bahasa Latin—" Peter bersungut-sungut, menunjuk buku anatomi hewan di hadapannya, dengan setumpuk istilah bagian tubuh, tulang, pembuluh darah, dan sebagainya.
Keempat sobatnya menertawakan.
"Terima nasibmu, nak—" sahut James sambil menepuk punggungnya terlalu keras sampai Peter terbatuk-batuk.
"Hei, sepertinya makan malam sudah siap, yuk kita lihat sekarang makan apa—" sahut Peter mengalihkan pembicaraan. Usul ini segera disetujui keempat sobatnya. Sepertinya seisi Ruang Belajar Bersama juga sedang berpindah ke Ruang Makan, kecuali beberapa orang yang gila belajar atau sedang kagok.
"Whups. Untung saja. Sepertinya, sebentar lagi Remus bisa pingsan kalau tidak makan—" goda Sirius, dan entah kenapa pipi Remus mendadak menjadi merona.
Keempatnya tertawa lagi, keras-keras. Sambil saling berangkulan, kelimanya berjalan menghalangi alur jalan orang lain, menuju Ruang Makan.
Karena mereka datang pas waktu makan baru dimulai, maka antrian pun cukup panjang. Tetap saja saat mengantri diisi dengan ngerjain atau menertawakan orang lain. Dasar!
Begitu sampai di meja hidangan, mulai mengisi piring, mencari kursi yang masih kosong, seorang senior mendekati mereka.
"Sirius?" tanyanya.
Sirius mengangguk.
"Kita bicara di sana, tidak apa-apa? Bawa saja makanannya ke sana. Maaf, ya, kupinjam dia sebentar—"
"Oh, tidak apa-apa—" James yang menyahut karena ia paling dekat dengan Sirius.
Sirius mengikuti seniornya dengan membawa piring yang masih penuh.
Ketiga temannya memandang James.
"James?" tanya Remus tanpa pertanyaan.
"Dia anak FISIP yang kubilang itu. Waktu kita ketemu di PusAd—"
Keempat anak itu sudah duduk, sudah mulai makan, dan sudah mulai mengobrolkan hal-hal yang tak penting, saat sepasang mata sebentar-sebentar mencuri pandang ke sudut ke mana Sirius pergi. Dan menatapnya tajam jarak jauh saat Sirius seperti sedang mengutarakan pikirannya. Dengan semangat. Seperti biasa seperti sehari-hari.
Seperti sehari-hari.
TBC
AN:
Okey, di sini ada tiga pasang mata yang diam-diam memperhatikan seseorang, siapa memperhatikan siapa, silakan tebak sendiri. Nggak akan dikasih tahu jawabannya #tersenyummanis
