Terlambat
Sirius Black, Remus Lupin, James Potter, Peter Pettigrew, Severus Snape, Lily Evans adalah kepunyaan JK Rowling
Alternate Universe, no magic, no Voldemort, no Marauders, no 'that word'. Shonen-ai. Character Death. Rate T saja
Diikutsertakan dalam Challenge: Only Death Aparts Us punya daikirai
Terimakasih banyak untuk [at]Ghee11[at]elitralala dan [at]zenatzenut atas sumbangan fakultasnya. Sastra Jawa, wekekek! #dzigh
Untuk semua pecinta SBRL
-o0o-
Bagian Ketiga
Remus menimbang-nimbang amplop tebal di tangannya dengan ragu. Ada rasa ingin cepat-cepat membukanya, penasaran. Tapi ada rasa tak ingin tahu, sama sekali. Kalau ia lulus, bagaimana? Berarti ia harus meninggalkan Skotlandia selama tiga tahun? Dan Hogwarts? Ia sudah mulai betah di sini, teman-temannya juga baik-baik.
Di SMA-nya sebenarnya, teman-temannya juga baik-baik semuanya. Tetapi ia begitu sendiri, tak punya teman dekat, tak punya teman berbagi. Di sini, begitu ia masuk, ia sudah harus mengikuti OPSPEK dan hasilnya ia sekelompok dengan makhluk-makhluk mengerikan seperti James dan Sirius, dan makhluk-makhluk yang tidak begitu mengerikan seperti Severus dan Peter. Karena diasramakan untuk tahun pertama, sekamar berlima, jadilah mereka akrab.
Remus 'terpaksa' harus mengenal teman-teman sekamarnya, dan 'terpaksa' juga harus membuka diri pada teman-temannya. Keterpaksaan yang manis. Karena di sini ia mengenal sesuatu. Yang membuatnya senang. Yang membuatnya berdebar-debar. Yang membuatnya sakit. Yang belum pernah dirasakannya—mungkin pernah di SMA dulu, tapi tak sekuat ini—tapi sekaligus juga ia merasa, ia sudah mengenal perasaan ini seumur hidupnya.
Dan sekarang, kalau ia memang lulus seleksi, dengan beberapa prosedur lagi, dalam beberapa minggu ia akan berangkat ke Italia—
Di jaman seperti sekarang, komunikasi bisa berlangsung real time. Bahkan seperti kau sedang berhadap-hadapan saja dengan webcam. Jadi, soal itu tak jadi masalah. Tapi, teman-teman yang belum setahun dikenalnya ini akan ditinggalkannya—
—terutama yang satu itu.
Dan yang satu itu mungkin tak akan pernah tahu seperti apa perasaannya. Mungkin tak akan pernah tahu, Remus mengeluh. Mungkin ia bahkan tak mau tahu akan perasaan seperti itu, Remus mengeluh lagi. Reputasi dia sebagai playboy kampus muka baru sudah mulai terkenal. Setelah Mary McDonald di Psikologi, entah siapa lagi gadis-gadis dari fakultas-fakultas lainnya—
—mungkin ia bahkan akan memandangnya dengan jijik setelah tahu orientasi seksualnya seperti itu—
Remus menghela napas panjang. Mungkin memang lebih baik ia lulus seleksi ini dan pergi ke Italia, jauh dari sini. Mungkin lebih baik melupakannya. Sehingga teman-temannya di sini tak pernah tahu sisi lain kehidupannya—
Bimbang, Remus keluar dari gedung PusAd pelan-pelan. Tadi pagi, saat ada pemberitahuan bahwa pengumuman FDA sudah keluar, ia berusaha secepat ia bisa ke sini—yang tak bisa dilaksanakan secepatnya karena kuliah yang padat. Sekarang—ia berharap ia tak pernah mengikuti test itu, tetapi sekaligus juga ia ingin pergi jauh—
Berjalan pelan-pelan melewati beberapa kerumunan mahasiswa, tak sadar ia bahkan berbelok ke Perpustakaan Besar. Menyimpan ranselnya di loker, dan membawa-bawa terus amplop tebal itu. Tak tahu akan mencari apa, ia menuju rak-rak buku arsitektur. Mencari Gaudi.
Ia tahu, La Sagrada Familia akan membantunya meredakan perasaan hatinya.
Duduk dan membuka-buka halaman bergambar gereja indah itu memang bagai penawar. Entah sudah berapa lama ia di situ, bahkan belum membuka amplopnya.
"Hei—"
Remus mengangkat kepala, "Severus?"
Severus duduk di seberangnya, menyimpan setumpukan buku. Ia tak bertanya, tapi begitu ia melihat sebuah amplop tebal dengan logo FDA di depannya, belum terbuka, sepertinya ia mengerti.
"Kalau mereka memang tak menerimamu, amplop yang dikirim tak akan setebal ini. Cukup sehelai untuk memberitahumu kau tak diterima—"
Logika yang masuk akal. Remus terpaksa tersenyum. Tapi Severus tak memaksa agar membukanya, malahan ia kemudian sibuk sendiri dengan buku-bukunya.
Perlahan Remus menelusuri. Di antara buku-buku yang dibawa Severus, ada juga setumpukan kertas-kertas—
—beasiswa juga? Dalam keadaan terbalik, ia berusaha membaca huruf-huruf yang tertera.
"Jerman?" tanya Remus.
Severus mengangkat kepala. "Ya. Kalau masuk. Sama sepertimu," ia tersenyum tipis. Meletakkan buku yang sedang dibacanya, ia melanjutkan, "Hogwarts memang bagus Farmasinya, alat-alatnya lengkap, bukunya banyak. Tetapi yang diajarkan Hogwarts, Farmasi tradisional. Kita memang bisa maju karenanya, tapi semata mengikuti, bukan memelopori—"
"—dan Jerman bisa memenuhi keinginanmu?"
"Sebagian besar saudara dari ayah, kuliah di Jerman dan, ya, gaya berpikir mereka jauh ke depan—" Severus memisahkan satu lembar, sepertinya formulir yang baru saja ia isi, "—kalau bisa aku ingin mempelajari nuklir. Nuklir untuk farmasi, radiasi dan sebagainya. Tidak ada di Hogwarts, sedangkan kita semua mau tak mau akan menuju ke sana kan—"
Remus tersenyum, "Kudoakan kau berhasil!"
Severus mengangguk, tersenyum juga, "Thanks, mate!"
Remus mengambil amplopnya. Kini ia mantap. Dirobeknya sudut amplop itu, perlahan ditelusuri sisi amplop agar terbuka rapi. Dikeluarkan semua isinya.
Halaman pertama adalah surat pemberitahuan.
Seperti dugaannya, ia diterima.
Halaman kedua, jadwal. Ia harus sudah ada di sana tanggal sekian, mulai mendaftar ulang tanggal sekian, mulai belajar tanggal sekian. Halaman berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya—semua teratur rapi.
"Oke," Remus menghela napas, "tak sampai sebulan lagi aku ada di sini—"
Severus memanjangkan lehernya agar bisa melihat tanggal dalam surat pemberitahuan Remus, dan mengangguk. "Semoga kau bisa mempersiapkannya dengan matang—"
Tersenyum, Remus mengangguk, "Semoga."
-o0o-
Tanggal keberangkatan diberitahukan Remus pada sobat-sobatnya di Ruang Belajar Bersama. Seperti sudah diduga sebelumnya, sambutannya ramai.
"Jadi kau lulus? Sudah kuduga!" James menepuk-nepuk punggungnya, "tapi kau berangkat secepat itu?"
Remus nyengir, "Tidak begitu cepat kan, masih ada waktu kira-kira tiga minggu lagi—"
"Yah, dan kita ditinggal di sini—" wajah Peter nampak begitu sengsara hingga Remus tertawa.
"Nggak segitu menderitanya kaleee!"
Hihi.
"Yah, memang kita harus mengikuti jalan masing-masing kan?" sahut Severus pelan. Membuat suasana menjadi serius lagi.
"Aku tahu. Kita semua harus mengikuti jalan kita masing-masing. Dan berharap, jalan kita bisa berbarengan hingga akhir nanti—" balas James. "Kau juga, ada rencana untuk pergi kan, Sev?"
Severus mengangguk. "Kalau tembus. Mudah-mudahan—"
"Yaaa, satu lagi pergi—" Peter kembali ke wajah sengsaranya yang tadi, berakhir dengan rambutnya dikucek-kucek James.
"Eh, Sirius mana?" Severus heran, "—biasanya selalu bersamamu?"
"Tau tuh! Sedari pagi sudah menghilang—" James misuh-misuh.
"Kukira kalian kuliah bareng?"
"Kuliah sih bareng, tapi begitu selesai, langsung menghilang—"
"Bersama senior yang dari FISIP itu bukan?" Remus bertanya hati-hati. Ada rasa tak enak mendengarnya. Ia seperti anjing—seperti serigala—mengendus ada bibit-bibit bahaya, tapi entah di mana.
James mengangguk. "Sudah kubilang, di Hogwarts ini ada banyak unit kegiatan mahasiswa, kenapa dia malah sibuk dengan kegiatan yang tidak jelas begini?"
"Ha? Jadi ini nggak resmi?"
James menggeleng. "Untuk yang resmi kan ada Unit Debat Mahasiswa, nah ini bukan. Seperti kegiatan bawah tanah. Seperti diam-diam, begitu—"
Remus menghela napas dalam-dalam. Seperti serigala, mengendus bahaya yang entah ada di mana, tapi ia yakin ada. Dan ia tak mau Sirius mendekati bahaya itu—
-o0o-
Remus memeriksa lagi bawaannya. Tidak banyak. Pakaiannya tidak banyak, buku-buku juga sekarang mudah dan murah didapat di mana-mana. Belum internet. Walau demikian, ia membawa juga beberapa buku, yang penting. Siapa tahu, nanti di Florence ia tidak bisa langsung memperoleh buku-buku tersebut.
Jadi yang ia bawa hanya sebuah koper sedang, dan sebuah ransel.
Ia mendekati kertas yang tertempel di pintu lemarinya, daftar pengingat bawaan. Sudah dicoret-coret, berarti sudah ada dan sudah dikemas. Diperiksanya lagi—pakaian, buku-buku, surat-surat—semua sudah tercoret.
Berarti sudah lengkap.
Tapi ia terus merasa, masih ada yang belum lengkap—
-o0o-
Bandara Internasional Glasgow sangat ramai, meski tak bisa meramaikan hati Remus. Ada James, ada Peter, ada Severus, ada Lily, yang mengantar, tapi mana Sirius? Katanya sih, akan menyusul, terlambat sejenak, entah sedang mengurus apa.
"Kapan kita mau mengantar Severus?" James bercanda, "—sudah keluar belum pengumumannya?"
"Belum," sahut Severus, "mungkin minggu depan. Jadi, kelompok ini pecah ya?"
Remus mengangguk pelan. "Kalian tidak akan ke mana-mana?" tanyanya pada James, Peter, dan Lily.
"Sepertinya tidak. Kami akan menyelesaikan pelajaran di sini saja dulu—"
"Tapi, kalian akan kembali kan?" Peter bertanya khawatir.
"Jelas tidak!" Sirius nimbrung, datang tergesa-gesa, "—yang jelas mereka akan kepincut dengan gadis-gadis setempat, dan akan lupa pulang, wahaha!" serunya sambil menonjok main-main perut Peter. "Aku belum ketinggalan apa-apa kan?"
Jelas mereka menggeleng. "Baru saja check in, dan masih menunggu panggilan boarding,"" sahut Remus.
"Masih lama?"
"Sepertinya setengah jam lagi—"
Sirius secara aneh memandang Severus, "Boleh kupinjam Remus? Sebentar?"
Sudah barang tentu Severus mengangguk, "Silakan saja, sesukamu—"
Dan Sirius mengajak Remus berjalan pelan-pelan mengitari koridor. Berdebar-debar Remus mengikuti. Diam tak berbicara, setidaknya sampai mereka sudah agak jauh dari teman-teman.
"Remus—"
Remus menoleh.
"Aku—" Sirius berhenti sejenak. Seperti mencari-cari kata yang tepat. "—harus klarifikasi dulu. Sebelum kita berpisah, sebelum tak ada ksempatan untuk menjelaskan. Severus, dia ada hubungan apa denganmu?"
Remus mengerutkan kening, "Kenapa? Tentu saja teman—"
Sirius menggembungkan pipi dan menghembuskan napas lega. "Jadi—tidak ada hubungan khusus, denganmu?"
Remus menggeleng.
"Benar?"
"Benar. Kenapa sih—"
"Jadi—"
Sirius mendekat, semakin mendekat, ke dada, ke hati Remus, yang sudah tak jelas lagi debarannya, dan—
—hangat.
Remus sudah pernah mencium seorang gadis di SMA dulu, tapi tidak seperti ini rasanya. Lembab. Basah. Remus sampai bingung, kenapa rekan-rekannya hobi sekali mencium gadis mereka, pacar mereka, bahkan sampai di depan umum, bahkan di sekolah, mencuri-curi agar tidak kepergok guru.
Ini—Remus tak punya kata-kata. Ia sudah hancur, melebur, meleleh, begitu bibirnya disentuh bibir Sirius, yang juga hancur, melebur, meleleh, menjadi satu. Hangat. Seolah detak jantung mereka hanya satu. Seolah denyut pembuluh darah mereka hanya satu. Seolah pikiran mereka menyatu—
Sepertinya berabad-abad ketika akhirnya mereka melepaskannya.
Tidak, hanya sepasang bibir itu yang saling melepaskan, tapi tubuh mereka saling lekat, lengan mereka saling merengkuh, bahkan dahi mereka bersentuhan. Keduanya gemetar, saling meluapkan perasaan, meruah, melimpah—
"—mengapa, Sirius?" Remus memecah keheningan, "—mengapa begini lama, baru kau—"
Sirius mendekap Remus lebih lekat, seolah tadi tidak cukup untuk menyatukan hatinya dengan hati Remus, "—aku kira kau—dengan Severus," bisiknya nyaris tak terdengar.
Remus tersenyum getir, "—dan kukira, kau tak sama denganku, kukira kau lebih berpuas diri dengan gadis-gadis itu—"
"Aku bodoh, Remus! Aku bodoh! Aku kira, dengan kulampiaskan pada gadis-gadis itu, itu akan membuatmu berpaling padaku—"
Kali ini Remus terkekeh, masih getir, "—tapi itu memang benar, Sirius. Aku—cemburu—" sahutnya pelan.
Sirius turut terkekeh. Mengecup kening Remus pelan. "Bagaimana kau tahu, kalau—kalau Severus tidak—denganmu?"
"Dia straight, Sirius. Dan dia sedang mengincar seorang gadis—"
Mata Sirius bertanya siapa.
"—tapi dia tak mau menyakiti hati temannya yang lain—"
"Lily?"
Remus mengangguk. "Lily itu ternyata teman Severus saat di Elementary. Sudah lama, dan baru bertemu lagi di Hogwarts. Kau tahu—ternyata ini cinta monyetnya Severus, tapi terus dibawa, ditumbuhkan, sampai sekarang—"
"Dan Lily?"
"Sepertinya sih, dari pembicaraanku dengan Severus, Lily sudah menunjukkan tanda-tanda menerima—"
"Co cwiit!" Sirius mengecup dahi Remus lagi, "—sebaiknya aku bicara dengan James, untuk menyingkir saja. Toh dia punya banyak koleksi gadis-gadis lain—"
Remus terkekeh pelan. "Tidak usah. Biarkan saja. Biarkan saja mereka bersaing secara sehat."
Sirius tertawa pelan.
Keduanya hening sejenak, betah dengan pelukan masing-masing.
"Kalau saja aku tidak begitu bodoh, Remus, kita bisa punya banyak waktu—" gumam Sirius.
Remus menggeleng. "Kita punya banyak waktu, Sirius. Aku tidak akan lama, tiga tahun tidak lama. Lagipula, alat-alat komunikasi sekarang sangat canggih—"
"Oya, dan mungkin aku akan mengunjungimu nanti di saat libur! Kita ke pantai mediterania!" Sirius seperti baru saja dituangi ide. "Oke! Oke! Nanti begitu sampai, beri kabar, ya!"
"Pasti!"
"Kau akan baik-baik saja di sana, kan?"
"Tentu. Dan sebaliknya, kau juga harus baik-baik saja. Belajar yang benar—"
"Ah, kau sudah seperti emak-emak saja—"
Remus terkekeh, tapi ia tak bisa meneruskan kekehannya karena bibir Sirius kembali melumat bibirnya.
Suara panggilan berkumandang dari pengeras suara, memanggil para penumpang dengan tujuan Roma, Italia, agar segera boarding.
"I love you, Remus—"
"—love you too, Sirius. Always—"
Remus mengecup bibir Sirius, sejenak, dan mereka berjalan kembali.
Sepertinya James, Peter, Severus dan Lily sudah mafhum akan apa yang terjadi. Kilatan mata mereka penuh canda.
"Selamat jalan, Remus, jangan takut, Sirius akan kami jaga!" sahut James sambil menjabat tangan Remus, mengedip nakal.
Remus memerah.
"Selamat jalan Remus, belajar baik-baik!" Peter juga menjabat tangannya.
Severus memeluknya sekejap, menepuk-nepuk bahunya, "Berbahagialah, Remus! Jangan lupa ke La Sagrada tahun 2026, bawa Sirius juga ya!" Remus semakin memerah.
Lily juga memeluknya, "Sampai jumpa lagi, Remus! Baik-baik di sana ya!"
Terakhir, Sirius merengkuhnya, berbisik, "Libur semester depan aku ke sana, ya!"
Remus mengangguk. Melangkah menuju ruangan boarding, ia melambaikan tangan pada semua.
Terakhir ia memandang lekat-lekat bola mata abu-abu itu.
Entah mengapa ia bisa punya firasat buruk: bahwa ini adalah pertemuan mereka yang terakhir—
TBC
AN:
Yaks, sepertinya cuma tinggal satu bab lagi. Atau, kalau terlalu panjang, sepertinya paling banyak juga dua bab lagi. Kalau yang pengen happy ending, berhenti bacanya di sini ya? Jangan diterusin XDD
Pairing di sini, SBRL. Atau RLSB, terserah mau yang mana. Yang sudah mengira SSRL, hehehe. Jadi, sekarang tinggal JP dan PP yang belum punya pasangan. Ada yang mau menyatukan? #kabur
