Terlambat

Sirius Black, Remus Lupin, James Potter, Peter Pettigrew, Severus Snape, Lily Evans adalah kepunyaan JK Rowling

Alternate Universe, no magic, no Voldemort, no Marauders, no 'that word'. Shonen-ai. Character Death. Rate T saja

Diikutsertakan dalam Challenge: Only Death Aparts Us punya daikirai

Terimakasih banyak untuk [at]Ghee11[at]elitralala dan [at]zenatzenut atas sumbangan fakultasnya. Sastra Jawa, wekekek! #dzigh

Untuk semua pecinta SBRL

-o0o-

Bagian Keempat

Rangkaian nada yang familiar sayup-sayup terdengar. Sirius mengeluarkan ponselnya dari saku.

Ada SMS.

From: Remus

Mendarat di Roma. Masih 4 jam lagi dg bis ke Florence. Beda waktu 1 jam, Italia duluan. Love you, Remus

Sirius tersenyum. Sudah akan dijawabnya, ketika ponselnya ada yang merebut. James.

"Cie, cie, cie—" dibacanya sampai habis. Lalu diketikkan beberapa kata, dan dikirimkan.

"Woi—"

Tapi ponsel berpindah tangan, ke Severus. Menyeringai. Pencet-pencet beberapa kata, sent.

Diberikannya pada Peter.

"Itu ponselku—"

"Siapa bilang itu mobilmu, Siri! Tenang, teman-temanmu ingin memberikan salam—"

Setelah Peter selesai mengirim, baru ponselnya kembali dalam keadaan selamat sentosa tak kurang suatu apapun.

Sambil misuh-misuh, barulah bisa Sirius mengetik dalam damai—

-o0o-

Begitu mendarat, Remus kemudian mengurus bagasinya yang cuma satu itu. Tetapi karena masih memakan waktu, maka ia mengetik SMS itu dan mengirimkannya pada Sirius. Begitu selesai, dimasukkan lagi ke dalam saku, ternyata bagasi sudah mulai bisa diambil.

Jadi, selagi ia mencari yang mana kopernya, ia mendengar lamat-lamat deringan ponselnya memberi tahu kalau ada balasan SMS.

Sirius membalas, pikirnya senang.

Sekali lagi.

Heh? Dua pesan? Tapi kopernya sudah terlihat, jadi ia memprioritaskan mengambil kopernya dulu. Paling lima menit, habis ini ia bisa membalasnya—

Sekali lagi.

Satu lagi? Ya ampuuun! Masa' baru beberapa jam berpisah, dia sudah kangen, dan mengirimkan SMS bertubi-tubi? Berpikir begitu, tapi Remus diam-diam merasa senang bukan kepalang. Tapi koper harus diurus dulu. Jadi ia mengambil kopernya dengan hati-hati, dan menariknya ke sudut yang aman, baru ia bermaksud membuka SMS dari Sirius.

Sekali lagi.

Penasaran ia membuka ponselnya. Empat SMS semua dari nomor ponsel Sirius.

From: Sirius

Cieciecie... udah nyampe ya! Selamat yayang-yayangan ya! –dari James

From: Sirius

Italia panas kah? Sepertinya sih begitu, tidak sedingin Skot. Tapi orang Skot akan selalu bisa mengatasi apapun!1) Sukses ya! –Sev

From: Sirius

Remus, kau sudah sampai! Bagaimana orang2 di sana? Baik2 di sana ya! –Peter

Baru pesan keempat datang dari Sirius—

From: Sirius

#$^₤&€*¥^%! Ponselku dibajak! Btw, kangen :DD Oke, baik2 di sana, dan aku akan segera mengunjungimu. Love you –THE REAL SIRIUS!

Hati Remus terasa hangat. Ternyata ia meninggalkan teman-teman yang baik, dan terutama, mau menerima keadaannya. Bersama kekasihnya, tentu saja.

Ia sudah akan membalasnya, ketika satu lagi SMS masuk.

From: Lily

Hai, hai, hai! Sudah sampai kah? Semoga betah, dan cepat pulang kembali ya!

Senyum Remus semakin lebar. Terbayang olehnya, ponsel Sirius dialihpemilik-kan sambil Sirius berteriak-teriak ribut, sebelum akhirnya kembali ke pemilik yang sah. Lalu mereka memberitahu Lily—alangkah hangatnya suasana. Remus tak menyesal punya teman-teman seperti itu. Ia akan belajar keras agar bisa kembali secepatnya, bergabung bersama lagi dengan mereka!

-o0o-

Sudah beberapa minggu berlalu. Jadwal Remus sangat padat. Selain kuliah—yang walau diselenggarakan dalam bahasa Inggris, tetapi banyak profesornya yang sangat berdialek Italia—lalu kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat berarsitektur indah. Dan kalau disebutkan berarsitektur indah di Florence, maka sepertinya tak akan habis-habisnya. Leonardo da Vinci, Michaelangelo—belum lagi ia tak akan puas jika hanya berkunjung sekali.

Jadi, waktu berjalan dengan cepat. Atau, mungkin lebih tepatnya, waktu berlari.

Jika siang dipenuhi dengan kuliah dan kunjungan ke obyek, malam diisi dengan tugas-tugas dan saat membaca yang banyak. Juga membaca email yang banyak. Selain dari email-email teman-temannya yang selalu mengabarkan berita-berita terbaru, tentu yang ditunggunya adalah email Sirius.

Emailnya panjang dan penuh cerita. Jika kebetulan keduanya sedang berada di depan komputer, email berganti dengan chatting, plus webcam kalau perlu. Pendeknya, komunikasi tiada henti.

Ah, indahnya dunia!

-o0o-

Bunyi SMS membuat Remus menangguhkan tangan yang sudah hendak membuka pintu, hendak keluar, hendak ke kampus.

Dibukanya.

From: Sirius

Mentari, di manakah kau, sayang? Yang kulihat hanyalah kabut, di jendela, di ambang pintu, di halaman kampus, di cakrawala~

Remus tersenyum. Kadang Sirius memang gombal sangat.

Diketiknya:

Saat kubuka pintu, yang kulihat hanyalah mentari, di ambang pintu, di jendela, di pucuk daun, di jalanan, dan di kalbu XDD

Sent.

Entah kapan mulainya, dia dan Sirius tiba-tiba malihrupa menjadi penyair, senyum Remus dalam hati. Dibukanya pintu, keluar, ditutup dan dikuncinya pintu, sebelum berjalan dengan semangat ke kampus.

SMS-SMS Sirius, chat bersamanya, email-emailnya yang panjang, selalu menjadi penyemangat dalam kesibukannya. Hari tak akan panjang, pikirnya, tiga tahun tak akan lama dan mereka akan bersama lagi. Oya, jangan lupa, libur semester ini juga bukankah Sirius sudah berjanji akan berlibur ke pantai-pantai mediterania bersamanya?

Untuk ukuran Sirius, bepergian ke mana saja bukan hal yang sulit, terutama masalah keuangannya. Tidak seperti Remus, yang harus menabung dulu jika menginginkan sesuatu. Tapi, kekayaan sepertinya bukan segalanya.

Dalam email-emailnya yang panjang, mereka saling berbagi cerita. Remus, merasa keluarganya biasa-biasa saja, tidak begitu banyak bercerita. Berbeda dengan Sirius. Pertemanan mereka selama di Hogwarts beberapa bulan kemarin, belum membuka pribadi Sirius. Selintas Sirius itu terkesan anak orang kaya, cuek akan segala hal.

Kini Sirius banyak membuka diri. Ya memang, ia datang dari keluarga kaya, tetapi ia merasa sepi. Sebenarnya ia punya seorang adik, Regulus. Tapi tak ada bedanya. Rumah ibarat hotel, pulang hanya berfungsi untuk tidur. Semuanya, baik ayah, ibu, maupun adiknya. Bisa dibilang mereka jarang berkomunikasi.

Ayahnya menyekolahkannya dan adiknya di sekolah ternama. Bisa ditebak, teman-temannya kebanyakan hanya berpikir tentang harta dan sejenisnya. Lulus SMA, Sirius sudah akan dikuliahkan di Perguruan Tinggi swasta ternama di Glasgow. Saat itu Sirius menyatakan bahwa ia sudah diterima di Universitas Hogwarts.

Ayahnya tak bisa berkata apa-apa, karena walau tak bergengsi karena tak ada cerita jumlah uang yang harus dibayarkan untuk menyekolahkan Sirius—tak bisa menyombong pada koleganya—tapi jurusan Teknik Sipil di Universitas Hogwarts ini terkenal bagus. Satu lagi yang sangat disukai Sirius tentang Universitas Hogwarts: tingkat pertama semua mahasiswa diasramakan. Dengan begitu, ia bisa berdalih untuk menjauh dari keluarganya—

Tak heran ia sepertinya sangat betah di asrama, pikir Remus. Teman sekamarnya, James, Remus, Severus, dan Peter, selalu saling memperhatikan. Jadi terasa seperti keluarga sendiri—tidak seperti keluarganya yang sebenarnya.

Kalau Sirius sudah mulai mengeluh hal-hal seperti itu, paling-paling Remus menanggapi seperlunya. Menghiburnya. Mendukungnya.

Jika saja mereka dekat, batin Remus.

Tapi dalam semua rasa yang ia alami, masih ada satu yang tak dapat ia paparkan lebih jauh.

Ia selalu merasa ada sesuatu yang jelek, sesuatu yang jahat, sedang mengendap-endap mengintainya—

-o0o-

Bulan-bulan berlalu. Tugas-tugas menumpuk. Kuis-kuis menghadang. Ujian membayang. Sementara itu, karena sudah tingkat dua, mahasiswa Hogwarts dibebaskan untuk memilih, tinggal di asrama atau keluar. Yang Remus dengar, James dan Sirius memilih untuk keluar, berbagi apartemen, sementara Severus dan Peter memilih tetap tinggal di asrama.

Remus menapaki tangga, berhenti di depan pintu kamarnya. Merogoh saku, mengeluarkan kunci, membuka kunci dan melangkah masuk.

Bunyi yang sangat ia kenal terdengar sayup dari saku jaketnya. SMS.

Diletakkannya tumpukan buku di meja, di sebelahnya ransel yang berat, dan ia merogoh saku jaketnya. Membukanya.

Severus!

From: Severus

Aku sudah berada di Munich!

Yaiy! Jadi juga Severus mendapat beasiswa itu.

Cepat-cepat dibalasnya. Dalam hitungan detik, SMS-nya berbalas.

From: Severus

Kau bisa OL? Sekarang?

Remus menyalakan laptopnya, menghubungkannya dengan internet. Sambil membalas SMS-nya.

Baru pulang. Sedang menyalakan laptop.

Begitu layar tampilan inbox terbuka—default—yang terlihat adalah sederetan email belum dibaca, dan email teratas adalah kiriman Severus.

Dibukanya.

Cukup panjang.

Dengan berbedanya tempat tinggal mereka di Hogwarts, komunikasi agak lambat dilangsungkan. Tetapi, Severus berusaha tetap saling berhubungan, terutama saat-saat ia sudah akan berangkat ke Jerman.

Begitu ia akan berangkat—di bandara, selain Lily, yang mengantar dari geng-nya ini hanya James dan Peter. Sirius tak ada.

James bilang, Sirius sudah dua hari ini tak pulang ke apartemen—

Remus tercenung di depan layar monitor.

Perasaan, ia dan Sirius tiap hari selalu berkomunikasi. Paling tidak, SMS atau YM.

Tetapi memang, mereka lebih sering mengkomunikasikan perasaan. Lebih sering daripada memberitahukan mereka sedang apa, sedang di mana. Dengan perasaan agak bersalah, Remus berusaha menelusuri di mana sekarang Sirius, dari SMS-SMS-nya, dari arsip YM-nya—

—nampaknya Sirius baik-baik saja, walau Sirius tak memberitahu ia ada di mana.

Remus meraih ponselnya, mengetik beberapa kata. Sent

Hanya perlu beberapa detik untuk mendapat balasan.

From: Sirius

Aku masih di kampus, dear. Kau sudah pulang ya? Btw, hari ini Severus pergi ke Jerman, ia sudah menghubungimu?

Malam-malam begini, masih di kampus? Mata kuliah apa? Lagipula, kalau Sirius ada matakuliah, bukankah seharusnya bersama James?

Remus mengirim balasannya, sedikit basa-basi.

Malam-malam begini masih di kampus? Severus sudah SMS

Sambil menunggu jawaban Sirius, Remus menulis email balasan pada Severus. Tak begitu panjang, karena belum apa-apa, SMS Sirius sudah tiba.

From: Sirius

Diskusi kelompok. Kelompokku beda dg James, dia sudah pulang dari sore

Seharusnya Remus lega, tetapi entah mengapa, masih ada saja rasa yang mengganjal. Apalagi, kalau Severus juga sampai memperhatikan, berarti ada sesuatu yang tak beres dengan Sirius—

-o0o-

'—kami merasa, ini tidak tepat. Tidak efektif, tidak efisien. Kita sudah berada di jaman internet, jaman teknologi nano, tetapi masih banyak unsur kurikulum kuno yang diajarkan pada para mahasiswa. Itu sangat menghambat. Banyak waktu yang seharusnya dipakai untuk belajar hal-hal lain, justru digunakan untuk mempelajari artefak-artefak atau fosil ini—'

Remus tersenyum. Para dosen pasti mengamuk kalau tahu mata kuliahnya disebut artefak. Ketinggalan jaman.

Sepertinya Sirius merasa. Semenjak Severus mengirim email tempo hari itu, Sirius jadi lebih terbuka. Ia menceritakan lebih jauh tentang apa saja yang sedang ia kerjakan. Kenapa ia jadi jauh lebih sibuk dibandingkan James, yang satu jurusan dan satu angkatan.

Sejumlah mahasiswa dari fakultas yang berbeda, merasa bahwa apa yang diajarkan Universitas Hogwarts pada mereka itu sudah jauh ketinggalan jaman. Apalagi di jaman internet sekarang, orang bisa mudah membandingkan apa yang kaudapat dengan apa yang didapat oleh mahasiswa jurusan yang sama di universitas lain di seluruh dunia.

Ada sejumlah mahasiswa yang cukup beruntung punya dana lebih, sehingga bisa pindah ke universitas lain. Ada juga yang cukup beruntung punya kepandaian lebih, sehingga bisa mendapat beasiswa untuk belajar ke universitas lain di negara lain—Remus merasa ia dan Severus termasuk ke dalam golongan ini, dan mereka merasa, apa yang diajarkan memang jauh lebih maju dari Universitas Hogwarts-

Maka, Sirius dan sejumlah mahasiswa yang mempunyai pandangan yang sama, bergabung, dan merancang untuk melakukan unjuk rasa, menekan mereka yang berwenang—Dewan Guru Besar, Senat Universitas, Menteri Pendidikan—agar melakukan sesuatu. Perombakan kurikulum, peninjauan silabus—

Mereka ingin melakukan perubahan pada alma mater. Ingin melihat alma mater yang maju. Ingin mempunyai alma mater yang bisa dibanggakan.

'Apakah caranya memang harus unjuk rasa, Siri?'

'Tahun-tahun lalu sudah ada yang menulis pada Universitas tetapi sepertinya diabaikan. Kami akan melakukan hal ini, supaya bukan saja Universitas hirau, tetapi seluruh masyarakat juga tahu. Kalau mereka tahu, tentu mereka akan turut melakukan penekanan. Masyarakat mana yang mau punya Universitas kolot dan ketinggalan jaman?'

Remus memandang layar monitor. Tulisan Sirius seperti berpendar-pendar di jendela YM. Terbayang Sirius mengatakan kalimat-kalimat itu berapi-api—

Apakah ketakutan itu akan menjadi nyata?

'Hati-hati, Sirius—'

"Aaaah! Remmy, Remmy, kau takut apa? Skotlandia sudah beratus-ratus tahun aman. Memangnya mau seperti Mesir atau Libya? Paling-paling juga akan ada beberapa polisi menjaga, dan sambil unjuk rasa kita akan ngobrol sambil minum kopi dari vending machine—'

Remus mematikan laptop malam itu dengan rasa tak tentu.

-o0o-

Ujian demi ujian mulai menghadang. Rutinitas Remus-Sirius berkirim email mulai berkurang, setidaknya selama musim ujian semester. Sama-sama memaklumi, mereka hanya saling berkirim SMS.

Sepertinya Sirius selesai duluan musim ujiannya, tapi ia tidak berani mengganggu kesibukan Remus.

Yang berani mengalihkan perhatian Remus justru judul di portal berita, malam itu.

UNIVERSITAS HOGWARTS MEMBARA

RATUSAN MAHASISWA UNJUK RASA

3 tewas, 12 luka, 25 hilang. Mahasiswa diliburkan, kompleks UH dijadikan kawasan tertutup

TBC

AN:

1) Ibunya Laura Ingalls (Little House on the Prairie) itu orang Skotlandia. Ayahnya selalu bilang: kau kan orang Skot, jadi pasti bisa mengatasi apapun!

Mulai tahun ajaran di Skotlandia, Italia, dan Jerman, Ambu nggak tahu pasti, tetapi sepertinya di awal musim gugur. Soalnya, musim panas kan libur panjang! Jadi, dengan semena-mena tanpa browsing, Ambu anggap saja demikian XDD