Terlambat
Sirius Black, Remus Lupin, James Potter, Peter Pettigrew, Severus Snape, Lily Evans adalah kepunyaan JK Rowling
Alternate Universe, no magic, no Voldemort, no Marauders, no 'that word'. Shonen-ai. Character Death. Rate T saja
Diikutsertakan dalam Challenge: Only Death Aparts Us punya daikirai
Terimakasih banyak untuk [at]Ghee11[at]elitralala dan [at]zenatzenut atas sumbangan fakultasnya. Sastra Jawa, wekekek! #dzigh
Untuk semua pecinta SBRL
-o0o-
Bagian Kelima
Ujian mengalahkan semuanya, semua rutinitas dijalankan hanya karena rutin, dan dilaksanakan dalam waktu yang sesingkatnya. Kemudian kembali ke bahan ujian.
Membuka koneksi internet juga seperlunya, buka inbox, baca judul-judulnya, yang tidak penting dibaca lain kali saja. Tidak membuka web-web lain. Membuka web berita sekilas saja.
Kecuali untuk berita yang ini.
UNIVERSITAS HOGWARTS MEMBARA
RATUSAN MAHASISWA UNJUK RASA
3 tewas, 12 luka, 25 hilang. Mahasiswa diliburkan, kompleks UH dijadikan kawasan tertutup
-o0o-
Tak percaya, Remus membaca sekali lagi. Dan sekali lagi. Dan sekali lagi.
Sepertinya syaraf gerak anggota tubuhnya lumpuh.
Bagaimana bisa seperti ini? Sepengetahuannya, Skotlandia bukan negara yang punya kebijakan keras menangani pengunjuk rasa. Seperti apa kata Sirius beberapa saat lalu, Skotlandia bukan Mesir, bukan Libya—
—tetapi kenapa?
Remus membaca sekali lagi dan menemukan bahwa para pengunjuk rasa itu membawa bom-bom molotov. Beberapa membawa senjata api, pistol.
—seperti disiapkan untuk perang?
Remus mengeluh. Ini Skotlandia, bukan Irlandia!
Benarkah para pengunjuk rasa ini mahasiswa Hogwarts?
Remus mencari link-link berita lain, sebelum ponselnya berdering.
Severus.
Diangkatnya segera.
"Sev—"
"Kau sudah baca—"
Remus mengangguk, sebelum ia menyadari bahwa anggukannya tak akan terdengar Severus. "Sedang membaca—"
"Kau sudah mencoba menghubungi Hogwarts?"
Baru Remus sadar. Kenapa ia tidak mencoba menghubungi mereka, menghubungi Sirius—
"—aku dari tadi mencoba menghubungi Lily, tapi tak bisa—" Severus meneruskan.
Mata Remus sekilat memindai kata-kata '—di lingkungan Hogwarts dan sekitarnya, sinyal diblokir—" pada monitor laptopnya.
"—ya. Di sini juga dikatakan sinyalnya diblokir—"
"Oke. Aku akan terus mencoba menghubungi mereka, dan kalau ada salah satu dari kita yang berhasil, kita saling memberitahu, ya?"
"Pasti, Sev!"
"Dan, Remus—"
"Ya?"
"Kau masih punya ujian?"
"—dua lagi—"
"Konsentrasi saja dulu ke ujian. Jangan buru-buru ingin pulang—"
Remus mengangguk sambil menyahut lemah, "—aku tahu—"
Severus memutuskan hubungan. Remus masih termangu.
Severus tahu benar—atau dia memang mudah terbaca?—yang ada hanyalah keinginan untuk segera kembali ke Hogwarts. Kalaulah saja dia bisa menghilang dan muncul seketika di Hogwarts—
Tapi Severus benar. Jika saja ia bisa kembali saat ini juga, apa yang bisa dilakukan?
Sepuluh kali ia mencoba menghubungi Sirius, tak terhubung. Ganti cara lain, membuka YM, sama saja.
Ganti obyek, mencoba menghubungi James, Peter, bahkan Lily. Beberapa temannya di Desain. Tak ada yang terhubung.
Mencoba menghubungi Hogwarts seperti mencoba menghubungi tempat di dimensi yang berbeda, sia-sia.
Remus merasa terputus. Merasa terkucilkan. Terisolasi—
Lemas ia meraih bukunya dan mulai memusatkan perhatian. Tapi sia-sia. Kalimat yang ia baca dari tadi belum selesai saja, dan belum masuk ke otaknya. Oke, ia melakukan tindakan drastis, dimatikan ponselnya, dimatikan laptopnya. Menutup telinga, ia mulai membaca. Beberapa kalimat, memejamkan mata mencoba memasukkan ke dalam otaknya. Kembali membaca beberapa kalimat lagi. Memejamkan mata lagi.
Agak lumayan. Bisa masuk beberapa halaman. Tapi ini tak akan ada gunanya, tak akan bertahan lama. Ia menutup bukunya, dan mulai membuka catatan summarynya. Lebih baik begini, lebih banyak yang bisa diserap—
—hanya bisa bertahan sejam. Kembali ia menghidupkan ponselnya, menghidupkan laptopnya, dan mulai lagi kegiatan menghubungi siapapun di Hogwarts—
Remus menghela napas. Kenapa begini susah? Ini abad informatika, semua terhubung dengan internet, kenapa begini susah menghubungi Hogwarts? Sudah berapa orang yang ia hubungi, tak ada yang terhubung?
Ia memencet satu nomor lain. Nomor Severus.
Sedang sibuk. Sepertinya Severus juga sama, sedang berusaha menghubungi Hogwarts—
Sudah dini hari ketika ia tertidur dalam posisi duduk, di depan laptopnya yang masih menyala, di depan ponselnya yang sedang di-charge.
-o0o-
Pagi-pagi buta ia sudah terbangun dengan posisi yang sangat tidak enak. Tetapi Remus sudah tak bisa tidur lagi. Mandi shower air hangat, turun ke dapur untuk menghangatkan susu dan memanggang setangkap roti, dilakukan Remus otomatis.
Kembali kamar, membereskan buku, mematikan laptop, mencabut charge ponselnya, iseng ia mencoba sekali lagi menghubungi Sirius.
Masih tak ada respons.
Lesu ia membereskan meja, menarik ranselnya dan keluar kamar. Bagai robot ia berjalan keluar, ke kampus. Otomatis menuju ke kelasnya. Masih sepi, ia masih terlalu cepat beberapa puluh menit.
Biasanya ia suka yang seperti ini. Duduk sendiri di kelas, membuka-buka lagi bahan sebelum ujian atau kuis. Tapi kali ini, kesunyian begitu mencekam, seakan mencengkeramnya, menenggelamkannya ke dalam kehampaan—
Detik seakan membeku, maju perlahan. Ketika kertas ujian dibagikan, ketika jawaban-jawaban diisikan, ketika mengumpulkan lembar jawaban. Ketika menunggu waktu makan siang—makan siang demi melaksanakan rutinitas. Ketika berusaha menembus blokir di pusat internet di kampus—usaha sia-sia.
Lelah Remus ketika ia kembali. Tahu ia akan hasil yang akan sia-sia, tetapi ia masih mencoba: begitu datang menyalakan laptop dan menghubungkannya dengan internet.
Sepertinya Hogwarts tak pernah ada di dunia.
Mungkin ia tertidur sejenak karena ia terkejut terbangun saat ia mendengar deringan ponselnya.
Severus lagi.
"Ya—"
"Masih belum berhasil?"
Remus menggeleng, "—belum—"
Terdengar keluhan Severus, pelan. Remus tahu, Severus juga khawatir akan seseorang di Hogwarts. Hanya mungkin saja kepribadiannya lebih kuat darinya. Terkadang terlihat lebih logis.
"Oke, kita akan mencoba terus—"
Remus mematikan hubungan dengan Severus, dan memulai lagi rutinitas tadi malam.
Jenuh. Sepertinya ia merasa ini akan sia-sia, tapi ia harus mencoba. Oke, Remus menyegarkan diri sejenak, shower dengan air dingin, menyiapkan semangkuk sup hangat, duduk lagi di depan laptop; dan inbox email di hadapannya sudah berisi satu email dari Severus. Dan ponselnya berisi beberapa belas misscall.
Bergegas Remus membuka email, penuh harapan.
'...aku mencoba menelepon tapi sepertinya kau sedang makan atau mandi, jadi aku email saja. Baru saja Mary MacDonald menelepon. Dia berusaha keluar dari lingkungan Hogwarts, berjalan cukup jauh, akhirnya mendapat kendaraan umum, dan sampai di Glasgow, tempat keluarganya. Ia dititipi pesan dari Lily—sebagaimana juga teman-temannya yang lain yang tak bisa keluar dari Hogwarts—untuk menghubungiku.
Lily baik-baik saja. James luka, tak parah. Peter luka, juga tak parah, tapi shock. Lily menunggui mereka, sukarelawan P3K...'
Sirius mana? Remus berdebar-debar membaca deretan kata mencari rangkaian huruf yang membentuk kata Sirius, tapi tak dapat.
'...ada yang membawa senjata api, juga ada yang membuat bom molotov, hingga bisa dikategorikan upaya untuk makar. Karena itulah tentara turun tangan. Mulanya hanya berjaga, tetapi karena mahasiswa—sepertinya bukan hanya mahasiswa Hogwarts—terprovokasi dan mulai melempar bom molotov, tentara mulai bertindak.
Yang sudah teridentifikasi meninggal adalah dua mahasiswa FISIP dan satu tentara. Entah berapa yang luka, kebanyakan karena panik menyelamatkan diri saat penembakan berlangsung. Masih ada entah berapa puluh mahasiswa yang dinyatakan hilang.
Remus, Mary bilang, Sirius masuk kategori hilang—'
Remus tersandar. Tangannya tak terasa menyenggol ponsel, menekan beberapa tombol.
Lamat-lamat.
La sagrada familia we pray the storm will soon be over
La sagrada familia for the lion and the lamb
Who knows where the winds will blow us, only a fool would say
Who knows if we'll ever reach the shore
Follow a rising sun with eyes that may only stare
What kind of fire will burn us there? what kind of fire?
Only a fool would say
TBC
AN:
Er ... Remus? Ulang tahun dikasih berita seperti ini, nggak apa-apa ya? *peluk-peluk Remus*
