Warning: OOC, abalisme, typo, ancur, character death in later chapter
Chapter 2 – Tragedy
.
.
Sungguh, aku ingin terbang ke pelukanmu
Merasakan hangatnya dirimu
Dan bersamamu
Hingga akhir waktu
.
.
Malam ini, Eliza kembali termenung, ia masih ragu apakah itu Gilbert teman masa kecilnya yang dulu, atau bukan.
Ia pun mencari-cari 'gelang persahabatan' nya dengan Gilbert. Eliza masih ingat, sebelum Eliza pergi, ia memberikan gelang yang sama dengan miliknya.
'Gelang persahabatan ya... Apa Gilbert masih memakainya?' batin Eliza sambil melihat-lihat gelang itu dan langsung dipakai dipergelangan tangannya.
*Kriing kriing*
Ketika Eliza sedang termenung, tiba-tiba terdengar suara handphone milik Eliza yang berbunyi.
'Ini siapa ya? Kok nomornya ga gue kenal' pikir Eliza.
Tanpa pikir panjang Eliza pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo?" terdengar suara dari seberang sana.
"Ya halo, ini siapa ya?" tanya Eliza.
"Ini gue, Gilbert" jawabnya.
'Kok Gilbert bisa tau nomor handphone gue ya...' pikir Eliza.
"Ooh Gilbert, ada apa?" tanya Eliza
"Mm..Mau ga besok berangkat sekolah bareng gue?" tanya Gilbert dengan suara yang agak malu-malu.
"Eeh...Boleh deh" jawab Eliza
"Ok, gue jemput ya besok" ucap Gilbert
"Ok" ucap Eliza.
Esok paginya, ketika Eliza selesai sarapan, terdengar suara mobil di depan rumahnya.
'Ah, itu pasti Gilbert' pikir Eliza.
Eliza pun langsung pamit ke orangtuanya dan langsung menuju kedepan rumah.
"Hai Gilbert!" sapa Eliza
"Hai, ayo. Silahkan masuk sayang" ucap Gilbert.
'Sa-sayang? Kenapa Gilbert manggil gue sayang? Ah, sudahlah' pikir Eliza.
Eliza's POV
Kok dia manggil gue sayang? Sejak kapan kita pacaran emangnya? Ah tau lah yang penting cepet nyampe sekolah. Bentar lagi bel nih. Ayolah Gil! Cepet sedikit napa! Kalo telat kan bisa kena hukumannya bu Ancient Greece yang super galak itu.
"Gil, bentar lagi bel nih"
"iya iya, udah ngebut nih!" jawab Gilbert sambil mukanya... tidak bisa dijelaskan.
Gue sih percaya percaya aja sama dia. Tunggu, itu di laci mobilnya ada apa? Kok mirip gelang persahabatan kita?
Gue yang penasaran akhirnya nanya ke Gilbert.
"Gil, itu apaan?"
"Oh, itu gelang yang dikasih sahabat gue dulu. Dia baiiiik banget. Cantik lagi" jawabnya sambil senyum-senyum
"memangnya dia kenapa?" tanyaku yang makin penasaran
"dulu, dulu sekali, Pas gue masih kecil deh. Gue punya temen, namanya... gue lupa. Pokoknya rambutnya coklat kayak punya lo, selalu dikuncir. Tomboi, BANGET. Dan waktu itu dia mau pergi. Katanya ke kota yang jauh banget. Terus dia ngasih gue gelang ini" Jawabnya lagi sambil nunjukin gelang itu.
Hem.. penjelasan yang singkat, padat, jelas. Kok kayak slogan berita-beritanya si Nesia sih..
Beberapa menit kemudian
"Akhirnya kita sampe sekolah juga!" ucapku sambil merentangkan tangan. "dan masih ada 10 menit lagi menuju bel" tambahku
"lo rasanya seneng banget sih nyampe sekolah aja" tanyanya
"gue bukannya seneng Gil, syukur! Kalo telat kan bisa kena hukuman!"
"i-iya sih..."
"udah yuk masuk aja!" aku langsung menarik tangannya Gilbert menuju kelasku ter-cin-ta!
Normal POV
Sesampainya di kelas, Bella, teman sebangku Eliza langsung menyapanya.
"Pagi Eli!" sapa Bella
"Pagi juga~" bales Eliza
"ciee yang pagi pagi udah mesra-mesraan!" ledeknya
"apasih Bel" ucap Eliza sambil ngeluarin frying pan oh-so-sexy andalannya
"ampun mak!"
KRIIIING
"BEL PENGGANGGU!" Eliza yang udah naik darah karena bunyi bel laknat itu langsung melempar frying pannya ke arah bel. Alhasil bel malang tersebut pecah berkeping-keping. Mari kita merenung untuk kepergian bel yang telah memberikan banyak jasa kepada kita (?)
Mari kita skip bagian humor enggak kerasa ini dan ke waktu pulang sekolah
Gilbert's POV
Akhirnya waktu pulang. Gue ga tahan sama pelajarannya pak Rome itu! Sungguh menyiksa! Ngomong ngomong, gue pengen ngajak Eliza jalan. Ke mana kek, oh ya! Ke taman aja! Kan romantis romantis gitu. Jalan kaki saja, lebih sehat(?)
"Eli! Jalan jalan yuk!" sapa gue
"ayo, kemana?" tanyanya
"ke taman mau ga? Jalan kaki aja"
"hem... oke"
Normal POV
Mereka berdua berjalan bersama keluar sekolah. Ke taman tepatnya. Letak taman tersebut tidak jauh. Hanya beberapa menit jalan kaki dari sekolah mereka. Mereka berhenti sebentar di perempatan jalan, menunggu mobil mobil lewat. Akhirnya lampu hijau tanda untuk menyebrang menyala. Eliza yang saat itu pake sepatu kets membetulkan tali sepatunya.
"woy Eli, lampunya udah nyala tuh!" ucap Gilbert
"duluan aja! Gue masih ngiket tali sepatu!" jawab Eliza
Gilbert pun berjalan duluan. Namun, sebuah mobil yang dikendarai pemuda yang mabuk ngebut di jalan tanpa melihat tanda berhenti. Mobil itu langsung menerobos lampu merah dan...
CIIIT!
"Woi ada kecelakaan!"
"hei nak bangun!"
"panggil ambulans!"
"kecelakaan! Tolong anak ini!"
"sepertinya pendarahannya cukup parah..."
'ada ribut ribut apaan sih? Cek deh' batin Eliza
"pak, bu, ini ada apa?" tanya Eliza
"anak ini tertabrak mobil dek, sepertinya dia luka parah" jawab seorang ibu paruh baya.
"sia-GILBERT! BANGUN GIL! GILBERT!" teriak Eliza panik "WOI GA LUCU AH GIL!"
"adek kenal sama anak ini?" tanya seseorang
"iya pak, dia temen sekelas saya" jawab Eliza lagi
Eliza's POV
Haaah lampu hijaunya udah nyala, tapi tali sepatu malah copot. Iket dulu deh, biar si Gil jalan duluan.
"woy Eli, lampunya udah nyala tuh!" ucapnya
"duluan aja! Gue masih ngiket tali sepatu!"
Gilbert akhirnya jalan duluan. Hah, selesei deh ngiketnya
CIIIIT!
Bunyi apaan tuh? Tabrakan ya? Tunggu, Gilbert gapapa kan? T-tadi kan dia nyebrang duluan.. cek ah
"pak, bu, ini ada apa?" tanyaku
"anak ini tertabrak mobil dek, sepertinya dia luka parah" jawab seorang ibu ibu yang kebetulan lewat.
"sia-GILBERT! BANGUN GIL! GILBERT! WOI GA LUCU AH GIL!"
Tolong Gil, jangan mati dulu... kau sahabatku bukan? Aku yakin kau sudah menungguku selama ini.. Gil, jangan...mati.. hiks
Gilbert's POV
Haaah Eliza lama banget sih, jalan duluan aja deh
"woy Eli, lampunya udah nyala tuh!"
"duluan aja! Gue masih ngiket tali sepatu!" Jawab Eliza
Oke deh, daripada lampunya keburu merah lagi terus nunggu lama mending jalan duluan.
Ngomong-ngomong, kok Eliza mirip temen gue waktu kecil ya? Terus di tangannya ada gelang yang mirip punya gue sama temen gue dulu. Tanya deh nanti. Siapa tau bener berarti janjinya dulu udah ditepatin..
CIiIIT!
Kok jadi putih? Ga awesome ah! Masa gue mati? Enggak mungkin lah orang awesome kayak gue mati! Tapi kok samar-samar ada suara ya? Manggil manggil nama gue...
"GILBERT! BANGUN GIL!"
Itu kok mirip suaranya Eliza ya...
Duh gue lemes banget.. tangan sama kaki gue gabisa digerakin..
Mein Gott, inikah akhir hidup gue?
t-tapi, gue masih pengen ngelakuin banyak hal...
...terutama, nembak Eliza...
Normal POV
"kecelakaan di perempatan hotel **** kemarin sore akibat kelalaian pengendara yang mabuk mengakibatkan seorang siswa Hetalia Gakuen menderita luka parah. Pelaku kecelakaan tersebut sampai saat ini masih diburu oleh polisi. Pelaku tersebut akan terkena sanksi berlapis yaitu ..blablablabla"
Seperti itu bunyi berita di pagi hari ini. Gilbertlah siswa tersebut. Kini ia dirawat di rumah sakit ******. Sanak saudara dan teman-teman sekelas Gilbert menjenguk mereka.
"KAKAK! Kau tidak apa-apa kan?" teriak Ludwig, Adiknya Gilbert
"tolong jangan teriak disini ya" ucap seorang perawat yang lewat
"maaf, hanya saja, dia satu-satunya keluargaku.."
"vee... Ludwig jangan khawatir! Kak Gilbert pasti sembuh! ...semoga vee.." hibur Feliciano, pacar Ludwig (Usa-pyon: woi ini kok ada GerIta?)
"ya.."
Sementara itu di dalam ruang rawat Gilbert...
"Gil, aku tahu ini bodoh.. tapi, ini aku Gil. Elizaveta Herdevary, teman..bukan, sahabatmu dulu. Tolonglah Gil jangan mati sekarang..." isak Eliza
"...karena..."
"..aku mencintaimu, Gil.."
Kau tahu semua yang aku katakan,
Kau tahusemua yang telah kita lakukan,
Dan sesuatu yang aku berikan kepadamu
Kenapa kau sangat jauh?
Padahal kau tahu bahwa sulit bagiku untuk dekat denganmu
Azért, mertszeretle...
Disini Usa-pyon yang nulis! Karena Kurocchi ga jago nulis hurt/comfort akhirnya fic ini di serahkan kepada saya XD
Akhirnya... CHAPTER 2 APDET JUGA!
Makasih banyak kepada para pembaca yang sabar menunggu!
Karena pengaruh Usa-pyon yang nulis, maka cerita ini menjadi lebih sinetron-ish dan tragedy~
Penggalang puisi/lagu itu hasil translate lagu 'I Will Fly' nya... siapa saya lupa ._.
Azért, mertszeretle: Karena aku mencintaimu
Balesan ripiu:
Gicchan's Encounter : terimakasih atas ripiunya! Wah wah anda penyuka PrussHung ya XD atas sarannya sudah diusahakan disini ^^
Chapter ini sama yang sebelumnya beda orang yang nulis, jadi mungkin pada bagian albino dia salah ngetik atau lupa ^^
Terimakasih atas dukungannya!
Bonnefoy Clementie : terimakasih atas ripiunya! Cerita ini sudah di update~! Maaf lama menunggu!
Sekali lagi minna, klik tombol REVIEW dibawah ini!
