Paradise School : Rioki Akiyama
Chapter 1.
Namaku adalah Rioki Akiyama. Aku putra sulung keluarga Akiyama, dan; meskipun hal ini sudah berlangsung beberapa tahun; tetap saja ada berat bagiku mengatakan bahwa aku adalah anak yatim alias tidak memiliki ayah. Beliau meninggal saat aku duduk di kelas SMP 1, dan sejak saat itu ibuku yang bekerja untuk menghidupi rumah tangga kami yang terdiri dari satu orang ibu dan dua anak. Aku memiliki adik perempuan, namanya Mia, dan dia baru umur lima tahun. Mia sangat mirip denganku, kecuali bentuk matanya yang lebih mirip dengan ayah kami. Aku mirip ibu. Rambutku hitam alami, dipotong pendek agar rapi; walaupun seringnya sia-sia. Kulitku agak sawo matang. Aku memiliki mata sipit khas Asia; seperti Ibu. Tinggi badanku sedang, cukup bagi anak seusiaku; lima belas tahun. Saat ini aku duduk di kelas SMU 1; Paradise School; sekolah untuk anak elite dan kaya. Bukan hal yang menyenangkan. Yah.. awalnya menyenangkan; sebelum "Dia" datang.
Aku sudah bersekolah disana semenjak kelas 1SD. Dulu ayahku yang membiayaiku masuk kesana karena gajinya di kantor swasta lumayan. Kemudian beliau meninggal, tapi Ibu bersikeras agar aku tetap bersekolah disana. Tentu saja, sebagai gantinya; dia harus bekerja keras membuat kue dan mengantarnya ke toko-toko, demi membayar uang sekolah yang sangat mahal. Yeah, aku tahu uang sekolah di sekolahku lima kali lipat sekolah umum. Orang luar pasti berpikir bahwa anak-anak di sekolah ini semuanya kaya, pelajarannya bagus, dan prilaku mereka baik. Huh-huh. Semuanya salah. Paradise School hanya indah diluarnya saja. Di dalamnya, segala macam hal yang tak bisa dibayangkan akan terjadi pada anak berumur lima belas tahun; dapat terjadi. Contohnya sahabatku; Jan Iwako. Dia sama sekali bukan anak orang kaya. Orang tuanya tinggal di desa yang jauh dari Ibukota tempat kami ini. Mungkin orang tuanya memang terkaya di desa, tapi mereka bukan apa-apa disini, dan Jan yang tertekan dengan kesenjangan sosial yang tinggi di Paradise School; berubah menjadi liar. Dia memiliki kesempatan menjadi liar karena dia tinggal di rumah kost di kota ini sendirian. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun. Sebelumnya, ketika masih agak kecil, dia tinggal dengan bibinya yang juga pecandu narkoba. Awalnya; waktu dia baru masuk di kelas 1SMP, dia anak yang pendiam dan baik. Dia lebih tua dariku, tetapi tidak naik kelas dua kali, karena itulah sekarang dia setingkat denganku, dan selama bertahun-tahun ini Jan telah menjadi anak yang liar dan pecandu minuman keras dan narkotik secara diam-diam. Hanya aku yang tidak sepenuhnya menyalahkan Jan. Semua anak di sekolah membencinya. Aku tidak membencinya. Kenapa? Karena aku lebih membenci "Dia".
Nama "Dia" adalah Hinaki Brooks.
Hinaki masuk ke sekolah ini saat dia kelas 1 SD; seperti sebagian besar dari kami. Dulu Hinaki anak yang pendiam dan dingin, tetapi semuanya berubah. Oh ya, sebelum aku melanjutkan; aku ingin kau tahu bahwa dia juga lebih tua dariku. Dia setingkat di atasku dan setahun lebih tua dariku. Hinaki adalah putra tunggal Kepala Polisi di ibukota ini, tetapi aku bersumpah bahwa prilakunya jauh berbeda dari apa yang bisa diharapkan dari putra seorang pembela kebenaran. Awalnya tidak begitu, tapi semua berubah. Akan kuceritakan sedikit tentang Hinaki, asal kau bisa menjaga rahasia. Jangan pernah mengatakan bahwa aku membicarakannya di belakang, atau aku akan mati. Dia tidak akan segan membunuhku. Toh dia memang membenciku.
Hinaki dan aku sangat berbeda. Dia memiliki tubuh tinggi dan ramping, dan dia blasteran. Tingginya di atas rata-rata anak laki-laki seusianya, tapi aku akui bahwa itu sesuai untuknya; mengingat dia bukan orang Asia tulen. Dia memiliki rambut pirang pucat; nyaris putih; dan bola matanya berwarna kelabu kebiruan. Kulitnya pucat dan bersih sempurna. Dadanya bidang. Menurut semua orang, dia sangat tampan… Well, bukan hanya tampan, tapi juga bisa dibilang cantik, terutama karena sepasang matanya dihiasi oleh bulu mata yang panjang dan lentik, kulitnya putih dan halus, dan gerak-geriknya sebenarnya sangat anggun. Tidak dalam arti kebanci-bancian. Dia anggun seperti seorang putra bangsawan atau seorang pangeran. Anehnya, aku tidak pernah cemburu kepada fisiknya. Aku jarang cemburu kepada seseorang. Mungkin karena aku baik hati. Yang membuatku membenci Hinaki adalah kekejamannya.
Sewaktu pertama kali datang ke sekolah kami, Hinaki sangat pendiam dan penyendiri. Dia sangat disukai oleh semua guru karena ketampanannya dan karena bakatnya yang luar biasa dalam olahraga. Sekalipun tubuhnya kurus, ketinggiannya sangat menolong dalam bidang olahraga, apalagi dia memiliki bahu yang bidang. Tetapi di antara semua cabang olahraga, Hinaki secara khusus lebih menyukai Judo dan cabang beladiri lainnya. Dengan cepat dia meraih sabuk hitam, bahkan sampai ke kejuaraan antar-kota. Dia anak berbakat yang jenius, dia kuat, masa depannya cerah. Tetapi; saat itu; Hinaki tidak pernah sombong atau mengganggu yang lebih lemah.
Sampai kemudian ibunya meninggal.
Aku pernah melihat ibunya satu kali. Namanya Katerina Brooks. Wanita itu kelahiran Inggris dan persis seperti pinang dibelah dua dengan putranya. Seandainya Hinaki seorang perempuan, Katerina pasti adalah wujudnya di masa depan. Perbedaan satu-satunya adalah warna mata Katerina lebih biru dari Hinaki, mungkin karena ayah Hinaki orang Asia seperti kami yang lain. Ayahnya adalah Komisaris Yujiya yang sangat dihormati masyarakat karena kearifan dan budi pekertinya yang tinggi. Bahkan kabarnya Yujiya adalah keturunan bangsawan di zaman Samurai dulu.
Oh ya, sebenarnya nama lengkap Hinaki adalah Hinaki Yujiya, tetapi kemudian dia memaksa semua orang memanggilnya Hinaki Brooks. Kecuali, tentunya, para guru.
Setelah ibunya meninggal, Hinaki mulai berubah. Kabarnya ayahnya sangat terpukul karena Katerina meninggal. Ayahnya jadi lebih banyak bekerja di luar kota dan meninggalkan putranya sendiri di rumah. Awalnya kudengar ada nyonya tetangga yang suka datang ke rumah Hinaki untuk mengurus Hinaki saat sang ayah tidak di rumah, tetapi kemudian kudengar lagi bahwa nyonya itu pindah rumah dan jauh dari Hinaki, sehingga Hinaki harus hidup sendirian di rumah. Tentu saja, ayahnya mengiriminya uang. Mereka bukan orang kaya, tetapi cukuplah untuk sekolah dan melanjutkan hidup secara sederhana.
Hinaki berubah. Dia menjadi kasar dan keji. Dia sering memukuli anak-anak yang lebih lemah dan mengganggu mereka. Dia mulai berteman dengan senior-senior yang senang menindas anak-anak, dan kemudian dia malah menjadi ketua geng mereka. Dia memperbesar kesenjangan sosial di sekolah ini, dan Jan adalah salah satu yang paling sering menjadi korbannya, karena Jan berani menentangnya. Sayang, tak ada yang berpihak pada Jan. Jan tidak sebanding dengan Hinaki yang tampan dan sempurna. Jan bertubuh kurus-kering dan ketinggian sedang, berambut kemerahan tak terurus, dengan kulit dipenuhi bintik-bintik merah. Jan selalu lusuh, dan otaknya mulai tidak beres akibat pengaruh minuman dan narkotik. Sama sekali tidak sebanding dengan Hinaki yang bersih dan waras, namun berhati kejam. Ah, kadang.. yang "putih" tidak selamanya putih, yang "hitam" tidak selamanya hitam. Sayangnya, hanya aku yang menyadari itu. Hinaki juga membenciku, karena aku berteman dengan Jan, tetapi dia tidak bisa terlalu jahat padaku. Kenapa? Karena aku bekas siswa terpintar di sekolah ini. Selama SD aku selalu Ranking satu, dan nilai-nilaiku tinggi. Aku selalu jadi Ketua Kelas. Tetapi semenjak masuk SMP peringkatku menurun. Yah… bukan salahku. Banyak yang bilang ini karena cintaku pada si cewek tercantik di sekolah; Lulu Nagashima, dan mereka bilang dia membuyarkan konsentrasiku pada pelajaran. Itu tidak benar. Aku hanya.. bosan dengan pelajaran. Tetapi syukurlah walaupun bukan peringkat nomor satu lagi aku tetap masuk dalam sepuluh murid terbaik di kelasku.
Sahabat Hinaki adalah Mahoney. Dia orang Asia tulen, seperti kami, tapi badannya mirip orang bule. Tinggi dan besar, dalam artian gendut. Tingginya setara dengan Hinaki. Mahoney adalah satu-satunya orang yang masih didengarkan oleh Hinaki, dan satu-satunya orang miskin dan tidak keren yang masih diladeni Hinaki. Mahoney berkulit coklat, keadaannya hampir mirip denganku; tidak kaya, dan ibunya harus berusaha kuat untuk menyekolahkan dia disini. Dia anak tunggal, seperti Hinaki. Dia juga sudah tidak punya ayah, tapi itu karena ayahnya meninggalkan ibunya dan dia ketika dia masih kecil. Beda denganku. Ayahku meninggal.
Mahoney dan Hinaki sudah berteman cukup lama, kurasa semenjak Hinaki masih SD dan belum jahat. Aku tidak tahu nama asli Mahoney, atau apakah itu benar namanya. Semua orang memanggilnya begitu. Dia juga menyebut dirinya begitu. Aku tidak perduli. Tidak ada yang perduli. Semua hanya perduli tentang Hinaki. Walaupun semua tampaknya menurut padanya di depannya, di belakangnya banyak yang berharap dia mati. Aku tahu semua orang berbisik-bisik tentang dia di belakangnya, dan kurasa dia sendiri tahu. Kadang aku kasihan. Kurasa itu hanya menjadikannya semakin jahat. Oh ya, yang penting, jangan sekali-kali memanggilnya Hinaki Yujiya. Dia akan membunuhmu. Hinaki Yujiya yang pendiam dan baik hati telah mati. Dia adalah Hinaki Brooks; si iblis kecil.
Sudah lewat satu setengah bulan di awal semester tahun ini. Semua berlangsung seperti biasa, sama seperti yang sudah-sudah. Setidaknya sekarang Hinaki kelas 2 SMU, dan berarti tinggal dua tahun lagi (termasuk tahun ini) maka dia akan meninggalkan sekolah ini, dan aku akan menjalani satu tahun yang merdeka tanpanya. Sesinting apapun dia, aku yakin dia tidak akan memutuskan untuk tinggal kelas. Ugh! Kenapa aku selalu memikirkan dia? Bukan berarti aku suka. Tapi dia selalu menjadi topik hangat dalam gossip. Cewek-cewek menggosipinya sebab mereka suka padanya. Cowok-cowok menggossipinya karena mereka benci padanya. Tapi tetap saja, begitu dia lewat, semua menundukkan kepala dan membisu seperti patung hidup.
Mau tak mau aku mencuri pandang ke arahnya. Sekarang ini sedang jam istirahat dan aku duduk di meja di sudut di kantin sekolah bersama Jan yang sepertinya sudah jatuh tertidur di depanku dengan kepala menelungkup di tangan di atas meja. Aku melirik ke meja di tengah, dimana sekelompok siswa-siswi kelas 3 SMU duduk dan bergurau. Ketua Murid ada disana, namanya Ryo Sawajiri. Anak-anak; khususnya cewek; menganggap dia orang terkeren kedua di sekolah ini sesudah Hinaki Brooks. Bedanya, Ryo adalah anak orang kaya, meskipun nggak seganteng Hinaki. Ryo adalah teman Hinaki. Dulu sekali mereka adalah musuh, tetapi sudah berubah selama bertahun-tahun. Jelas sekali Ryo akan menunjuk Hinaki sebagai penggantinya. Ngomong-ngomong, aku lupa bilang, di sekolah kami menganut sistem "musyawarah", yang artinya murid-murid memutuskan dan mengorganisir segalanya sendiri. Bertujuan untuk melatih murid agar menjadi dewasa dan pandai. Kenyataannya, tsk – yang kuat yang menang.
Mata Ryo melirik padaku, maka dengan cepat aku menunduk; menghadapi piring-ku yang sudah setengah kosong; berpura-pura sibuk mengiris daging dengan sendok. Aneh sekali Hinaki tidak berada bersama geng Ryo. Biasanya dia selalu bareng mereka. Aku melihat Mahoney di sebelah Ryo, tapi tidak ada Hinaki. Hanya sedikit murid kelas 2 SMU yang diterima dalam geng-nya Ryo, dan salah satunya adalah Mahoney dan Nick. Hinaki, sih, tidak usah dibilang lagi. Dia sudah seperti ketua geng itu. Tampangnya saja sudah sedewasa anak-anak kelas 3 SMU.
Aku berdoa dalam hati agar Ryo tidak mencari-cari masalah denganku, tetapi rupanya hari ini bukan hari mujurku. Dia menatap Jan, lalu bangun. Teman-teman semejanya berhenti berbicara dan segera mengawasinya saat dia melangkah ke arah mejaku.
"Iwako." Ryo mendesis sebelum menghela nafas keras-keras untuk menarik perhatian semua anak di ruangan ini, dan seketika semua mata menoleh ke mejaku. "Iwako Jan, aku tidak tahu lagi cara menghadapimu." Tangannya terulur ke kepala Jan, tetapi sebelum dia sempat menyentuh rambutnya (untuk menjambaknya, tentu), mendadak Jan bergerak dengan cepat, dan tahu-tahu dalam sekejap mata dia sudah mencekal pergelangan tangan Ryo di tangannya.
Untuk seorang anak liar, dia masih memiliki naluri yang baik. Mau tak mau aku tersenyum.
Jan tidak menatapku. Sepasang matanya yang kuyu, besar, dan mengantuk menatap wajah Ryo. Seringainya muncul. "Hello, Sawajiri. Kenapa? Kangen padaku?"
Bukan lelucon yang lucu, tapi Jan tertawa sendiri; menertawai leluconnya sendiri. Mereka dulu pernah sekelas, sebelum Jan tinggal kelas.
"Tidak lucu!" Ryo merengut dan menarik kembali tangannya. Jan melepaskannya dengan lagak tak acuh. Sang Ketua Murid melotot, merasa dipermalukan di depan umum. Dia menunjuk ke wajah Jan. "Dengar, kau telah melanggar peraturan lagi! Kau tahu bahwa murid dilarang tidur di sekolah!"
"Di sekolah, katamu?" Jan nyengir. "Di sekolah atau di jam pelajaran? Sebab ini bukan jam pelajaran, dan aku tidak benar-benar-"
"Cukup!" Dengan cepat Ryo menarik kerah baju Jan dan memaksanya berdiri. Aku pun ikut berdiri. "Ryo!" Aku berkata, berusaha melerai. "Sudahlah." Aku kasihan pada Jan. Dia sering dipukuli.
Tetapi ekspresi wajah Jan sama sekali tidak menyiratkan rasa takut. Sebaliknya dia tertawa, tetapi tidak berontak. Sudah kubilang, dia agak tidak waras karena pengaruh obat bius. Dia sepertinya selalu mengantuk dan setengah tak sadar akan apapun di sekelilingnya.
"Mau memukulku?" Dia malah menantang. "Aku ragu apakah pukulan mana yang lebih asyik. Kau atau Brooks. Kurasa kau tidak sekuat dia, tetapi mungkin kau bisa menghasilkan efek yang lebih besar, sebab jari-jarimu lebih gemuk dan lebih besar, meskipun miliknya lebih panjang dan len-" Jan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, sebab sebuah tinju telah menghantam wajahnya dan membuatnya nyaris terpental; kalau saja kerah bajunya tidak sedang dipegangi. Spontan anak-anak cewek menjerit, tetapi teman-teman Ryo segera bergerak dan menyuruh semua orang diam.
"Kau brengsek!" Maki Ryo.
Aku menatap Jan dengan ngeri. Wajahnya menoleh ke samping akibat pukulan, dan perlahan dia meluruskan pandangannya lagi ke depan. Pipinya merah dan membengkak, pastinya akan menimbulkan bekas legam. Ada sedikit darah dari sudut bibirnya.
"Jangan bandingkan aku dengan Brooks!" Ryo mengancam lagi.
"Kenapa?" Jan menjawab juga, kembali menyeringai tanpa kapok. "Kau iri padanya?"
"Sama sekali tidak, keparat!" Tinju Ryo kembali terkepal. "Dan sebaiknya kututup mulut brengsekmu sekarang sebelum kau—"
"Cukup!" Kembali terdengar suara, tapi kali ini suaraku. Nadaku tidak membentak atau berteriak, tetapi lebih mirip merengek. "Ryo, sudahlah, jangan cari-cari masalah!"
Perlahan Ryo berpaling kepadaku. Ekspresinya tidak melunak. "Jangan ikut campur, Akiyama!" Dia membentakku. "Kadal ini harus mati!" Dia mengedik ke arah Jan.
Aku takut dipukul, tetapi entah kenapa saat itu aku memberanikan diri. Jan baru saja berkelahi dengan Nick minggu kemarin. Luka-lukanya belum sembuh benar. "Ryo." Aku bersikeras. "Ini kan tahun terakhirmu disini. Kumohon, tinggalkan kesan yang baik kepada kami. Kau kan ketua kami."
Ryo meludah. Tapi aku terus melanjutkan. "Kau tahu Jan sering ngaco dan bicara omong-kosong. Buat apa kau ambil di hati? Bagaimana pun kau kan Ketua Murid kami yang kami hormati karena kami anggap paling bijaksana." Nadaku membujuk, dan akhirnya dia menyerah. Dia melepaskan Jan.
"Baik." Dia berkata padaku. "Kau membuatku cukup senang, Akiyama. Kulepaskan Iwako kali ini!"
Aku menarik nafas lega, tetapi kemudian aku menyadari seperti ada sepasang mata yang menatapku dengan sangat tajam. Segera aku berpaling, mencari arah tatapan itu, dan aku menemukannya di pintu kantin. Dia Hinaki Brooks. Dia berdiri bersandar di dinding di sebelah pintu kantin yang memang dibiarkan terbuka. Tangannya disilangkan di dada. Dia tidak mengatakan apa-apa dan ekspresi wajahnya tak terbaca, tapi yang pasti dia sedang menatapku.
"Aku…." Mulutku terbuka, berbisik samar. Tetapi sebelum kuselesaikan kalimatku, Hinaki sudah mengalihkan pandangan matanya yang terkesan dingin itu. Kini dia menatap Ryo; yang juga sudah menyadari kehadirannya dan sedang menatapnya juga.
"Hey." Ryo menyapanya, nyengir, dan menggaruk belakang kepala sendiri.
Di saat yang sama, bel berdentang. Tanpa menjawab Ryo, Hinaki meninggalkan dinding, membalikkan tubuh, dan melangkah pergi. Kulihat Mahoney berlari mengikutinya. Aku melirik Ryo dan melihat dia mematung; menatap kepada punggung Hinaki yang menjauh.
Apakah diam-diam Ryo membenci Hinaki?
To be continued.
