Paradise School : Rioki Akiyama
Chapter 2.
Siang ini aku tidak ketemu Lulu, dan itu berarti separuh hidupku sudah tamat, tenggelam dalam keputus-asaan sejati.
Lulu Nagashima adalah pacarku. Dia adalah cewek tercantik di sekolah ini, dan kami jadian sejak dua bulan lalu, padahal aku sudah suka padanya sejak aku masih SD. Dia setahun lebih muda dariku, yang berarti sekarang ini dia kelas SMP 3, dan dia masuk siang. Anak SMP masuk siang, sedang anak SMU masuk pagi dan keluar sore. Ngerti maksudku? Nah, biasanya aku dan Lulu mencuri waktu yang sangat langka dimana kami bisa berjumpa dan berduaan, tetapi hari ini aku tidak ketemu dia, dan bel masuk SMP sudah berbunyi. Tamatlah sudah. Aku sudah begitu kangen padanya.
Jan menatapku, nyengir lebar sambil menggosok pipinya yang ditonjok Ryo saat jam istirahat tadi. "Kangen Lulu, yah?" Dia mengejek. Aku mendiamkannya, maka dia mengedikkan bahu dan diam. Kami duduk di kantin lagi, tapi sekarang sudah sepi. SMU sudah bubar, tetapi karena banyak pelajaran tambahan, umumnya anak-anak SMU masih berkeliaran. Aku pun akan masuk pelajaran tambahan siang ini.
Jan menguap dan bersandar di kursinya. Matanya sudah terpejam lagi. Aku menyenggol kakinya dengan kakiku di bawah meja. "Bangun, dong!" Kataku, melirik piring makanannya yang sudah kosong. Akulah yang membayar makanan kami. Jan tidak punya uang. Dia sudah hutang banyak padaku. Kalau ibuku tahu, kami berdua bisa dibunuh. Tapi aku punya pendapat lain. Aku masih percaya pada arti kata persahabatan. Aku sudah membelikannya makanan berkali-kali selama ini.
Jan menatapku dengan matanya yang kuyu. "Jangan galak begitu." Dia menggodaku lagi. "Kau jadi mirip Sawajiri."
"Jangan samakan aku dengan mereka!" Bentakku.
Jan tertawa dan menggeleng keras-keras. Entah apa maksudnya berbuat begitu, tapi beberapa butir ketombe jatuh dari rambutnya. Seperti kataku, dia kurang waras, dan dekil. Kulitnya berminyak, dan badannya mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Campuran antara bir, rokok, dan bau tubuh.
"Yeah, mengapa tidak?" Jan menjawab, berhenti menggeleng dan kembali bersandar. "Aku kan sudah nggak lama lagi disini, jadi tidak apa-apa kalau kau belajar memusuhiku juga."
"Apa maksudmu kau sudah tidak lama lagi disini?" Tanyaku. Nada suaraku terdengar lelah, bahkan untuk diriku sendiri. Seringkali, saat kami sedang berdua saja, Jan bisa jadi begitu pesimis.
"Uang sekolah bulan depan." Dengan rileks dia menjawab, matanya menatap berkeliling ruangan, seakan mencari sesuatu. Mungkin rokok. "Aku nggak punya uang."
"Jan, demi Tuhan. Ibumu mengirimimu uang, kan?" Balasku. Aku tahu ibunya masih mengiriminya uang setiap bulan. Tidak besar, tapi cukup.
"Sudah habis." Tanpa rasa berdosa dia menjawab. "Kau tahu, kebutuhanku kan banyak, bukan hanya sekolah…."
Aku tidak mendengarkannya lagi. Aku tahu apa yang dia butuhkan. Rokok dan minuman keras! "Jan, cukup sudah!" Putusku. "Ingat masa depanmu sendiri! Aku tidak mau meminjamimu uang untuk biaya sekolahmu!"
Seakan tidak mendengarku, dia meneruskan. Pandangannya menerawang. "…Misalnya baju, makanan….."
Demi Tuhan! Baju dan makanan? Apakah itu benar? Tapi Jan tidak butuh baju baru. Dia selalu tampak kumal dan dia tidak pernah perduli. "Baju apa?" Tanyaku capek.
"Baju tidur." Dia tergelak. Hanya Tuhan yang tahu apa dia serius atau sedang bercanda. "Baju tidurku sudah compang-camping. Aku sih tidak keberatan tidur telanjang, tapi Ibu Kost-ku doyan anak muda." Dia menatapku lagi dengan pandangan mengejek, hampir seperti menguji, menantangku sejauh mana aku mempercayainya.
Dia anggap aku bodoh, ya?
"Terserah." Kataku lagi, benar-benar lelah. "Tapi usahakan jangan sampai putus sekolah, Jan. Demi masa depanmu sendiri!"
"Kalau begitu menurutmu aku harus pinjam uang?" Tanyanya sok lugu.
"Mana kutahu!" Bentakku, tidak terpancing. "Carilah pinjaman sendiri! Jangan bawa-bawa aku!"
Kemudian, ingin menyudahi semua ini, aku bangun dan meninggalkannya di kantin.
Dua hari berlalu. Kurasa Jan menganggap omonganku serius. Dia tidak masuk sekolah kemarin. Tapi toh dia memang sering membolos. Kelas kami beda, tapi aku bisa tanya pada teman sekelasnya. Dan hari ini dia masuk sekolah, tapi jadi lebih pendiam dan agak menghindariku. Aku curiga dia mencari-cari pinjaman kesana-sini.
Dugaanku ternyata benar. Jam pulang sekolah; kebetulan aku tidak ada ex-kul hari ini, Nick mendatangiku saat aku baru naik ke motorku. Motor ini satu-satunya hartaku, hadiah ulang tahunku dari ibuku untuk sepuluh tahun ke depan. Perang dunia ketiga terjadi di rumahku sewaktu aku merengek-rengek minta motor; sebelum akhirnya aku memenangkan perang dan ibuku membelikanku motor ini. Nggak keliwat mewah, tapi cukup bergaya. Semua orang punya motor atau mobil disini. Dan, yah, pacarku adalah cewek tercantik disini. Dia malu kalau harus diajak naik Bus.
"Akiyama, tunggu!" Nick menyetopku, memegang jok belakang dengan tangannya. Aku duduk di atas motor, tapi tidak menyalakan gas.
"Ya?" Sahutku.
"Akiyama, kuberitahu padamu." Nada Nick mengancam. "Jangan menyuruh Iwako meminjam uang dariku! Takkan kuberikan se-sen pun! Ngerti?"
Aduh! Aku capek sekali.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" Balasku, berusaha segalak mungkin. "Aku tidak menyuruhnya meminjam darimu!"
"Masa bodoh!" Balas Nick ngotot. Mukanya memerah. Bukan karena malu, tapi karena geram. "Aku tak perduli siapa yang menyuruh setan kecil itu, tapi yang jelas dia menanyaiku apakah dia bisa pinjam uang dariku, dan kukatakan padanya bahwa—"
Sebelum dia selesai, aku memutus. Aku sudah lelah. "Bukan aku yang suruh dia pinjam darimu!"
"Bego, aku tidak perduli!" Dia agak berteriak. "Dia anjingmu! Aku tidak perduli siapa yang suruh! Yang pasti, kalau dia masih berani mencoba bicara soal uang di depanku, kulempar kalian berdua ke laut!"
"Kok gitu sih?" Aku merinding juga, tapi kurasakan kemarahanku menggelegak. "Aku tidak ikutan!"
"Dia anjingmu!" Bentak Nick.
"Dia bukan!" Balasku mulai ngotot.
"Aku lihat sendiri di kantin!" Nick menyahut. "Dia menurutimu!"
"Aku nggak tahu!" Teriakku. "Aku capek dan mau pulang. Lepaskan motorku!" Aku menyalakan mesin, dan emosi Nick memuncak.
"Sialan kau!" Teriaknya, dan sebelum aku sempat mengelak, dia mendorongku ke samping. Aku tidak sempat bertahan atau berpegangan. Tubuhku miring dan jatuh dari motor. Lenganku menghantam tanah. Rasanya sakit sekali! Tapi Nick tidak berhenti sampai disitu. Dia melangkah menghampiriku; memutari motor, dan berdiri di depanku saat aku berusaha menarik diri ke dalam posisi duduk dan membersihkan lenganku yang luka. Seluruh sisi kanan tubuhku menghantam tanah, dan rasanya seperti kesemutan. Syukurlah kepalaku selamat. Tapi Nick tidak memberiku waktu untuk menyingkirkan kerikil kecil dan debu yang menempel pada sisi tubuhku yang menghantam tanah. Dia mengayunkan kakinya, dan tahu-tahu aku merasa sakit pada dada dan punggungku. Sedetik kemudian, kusadari aku sedang berbaring terlentang dengan sebelah kakinya di atas dadaku. Tentu saja, Nick tidak menekan dadaku terlalu keras. Dia tidak mau membunuh. Dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Aku tahu dia kesal bukan karena Jan, tapi entah karena apa, dan agaknya Jan meminta uang darinya di saat yang tidak tepat, lalu karena dia tidak bisa menemukan Jan dia melampiaskan kekesalannya padaku. Inilah hidupku. Mengerikan, bukan?
"Brengsek!" Nick memaki dan meludah. Ludahnya yang kotor jatuh di atas pipiku. Dengan marah aku menghapusnya dengan punggung tangan. Aku tahu tanganku gemetar, seluruh tubuhku gemetar. Kulihat beberapa anak menghampiri kami dan menonton. Beberapa lagi menjauhi tempat ini karena takut.
Kemudian aku melihat Ryo dan kelompoknya berjalan menghampiri kami di belakang Nick. Ryo setengah berlari, sedangkan yang lain berjalan dengan tenang. Hinaki dan Mahoney termasuk dalam kelompok yang berjalan tenang.
"Nick!" Ryo tiba di belakang Nick. "Lepaskan dia!"
Nick menengok, menatap Ryo dan yang lain yang mengerumuninya. Aku mengikuti sosok Hinaki dengan sudut mataku dan melihatnya berjalan dengan tak acuh ke motornya sendiri untuk kemudian naik dan duduk di motornya, tetapi tidak menyalakan mesin. Dia berpaling dan tatapannya yang sedingin es jatuh di wajahku. Kami bertatapan. Aku terlalu capek dan shock untuk bisa mengalihkan pandangan, tetapi karena kemudian Ryo bicara lagi, tatapan mata kami berdua pindah padanya.
"Tidak ada untungnya memukulinya saat ini!" Ryo menenangkan, tetapi matanya berkelana sekeliling ke anak-anak yang menonton, dan senyumnya aneh. Sialan! Dia hanya ingin mengambil hati anak-anak. Dia ingin semua orang berpikir dia Ketua Murid yang baik. Aku mengikuti arah matanya, dan menyadari tatapannya berhenti pada seorang siswi SMP bernama Claudia. Claudia adalah teman Lulu. Berbeda dengan Lulu yang kudengar kurang mahir dalam pelajaran, Claudia adalah siswi terpandai dan kesayangan guru.
Agaknya Ryo naksir Claudia.
Gadis itu pucat, bibirnya bergerak-gerak seakan hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar. Kemudian dia memejamkan mata rapat-rapat, seakan berusaha mengumpulkan keberanian, lalu dia membuka matanya lagi dan menatap Ryo. "Hentikan dia! Atau aku akan memanggil guru!" Teriaknya.
Semua mata menatap padanya. Semua kepala menoleh kearahnya.
Good job, Claudia.
"Yeah, tentu." Ryo nyengir. "Apapun yang kau mau." Kemudian tanpa dikomando dia menengok pada Nick lagi. "Dengar, kan?" Dia bertanya.
Nick mengutuk panjang-pendek, tapi menarik kakinya dan berjalan ke tepi. Aku terbatuk, lalu berusaha berdiri. Sial! Claudia melihatku begini! Dia pasti mengadu pada Lulu, dan Lulu akan malu padaku! Kenapa sih dia ada disini? Seluruh murid SMP seharusnya sedang di kelas. Dia satu-satunya yang tidak berada di kelas. Yang lainnya adalah murid SMU.
Claudia menyeruak ke arahku dan membantuku berdiri. Dia memegangi lenganku. Aku tidak melihat ke arah Ryo, tapi aku tahu dia memelototi kami sekarang.
"Nggak apa-apa, Rioki?" Claudia bertanya. Kami saling kenal, sebab aku pacar Lulu dan dia teman dekat Lulu. Teman dekat Lulu ada dua. Satunya Claudia; cewek terpintar di angkatannya. Satunya Nancy; terkaya di angkatannya. Keduanya tidak secantik Lulu. Claudia bertubuh kecil dan berambut pendek, sedangkan Nancy bertubuh sangat kurus dan cukup jangkung untuk ukuran siswi seusianya, dengan rambut kaku sebahu dan wajah terlalu tirus. Lulu memiliki rambut panjang yang indah dan harum, tubuh sedang, dan wajah sangat manis dengan bentuk bibir membulat.
"Y—Ya." Aku menjawab, menepiskan tangannya. Aku kurang suka dipegang-pegang cewek kecuali Lulu.
Claudia mundur, kembali menatap Ryo, kemudian berkata padaku. "Aku akan kembali ke kelas." Lalu dia bergerak dan memutar tubuh, kemudian berjalan kembali ke gedung dengan setengah berlari. Ryo tidak mengejarnya. Aku mendapat firasat bahwa Ryo sudah lama naksir Claudia, dan pernah mengatakan langsung padanya, dan sudah ditolak. Kualihkan tatapanku pada Ryo, hanya untuk melihat masih memelototiku.
"Kelakuanmu buruk." Ryo berkata dengan dingin padaku. "Aku tidak mengerti kesenanganmu untuk melanggar peraturan."
Ugh~! Dia sengaja. Dia sengaja memutarbalikkan fakta. Dia mencoba membuat semua orang berpikir bahwa aku berbuat salah, dan Nick memukulku karena aku duluan yang berbuat salah.
Aku mencoba membalas, tapi terbatuk.
"Aku terpaksa menghukummu." Ryo meneruskan, tanpa memberiku kesempatan bicara. Oh ya, aku lupa menjelaskan padamu bahwa disini Ketua Murid punya hak untuk menjatuhkan detensi kepada murid lain yang bersalah. Ide yang hebat, kecuali jika Ketua Murid-nya pilih kasih dan curang seperti Ryo.
Aku tersedak lagi, dan Ryo melanjutkan tanpa ampun. "Besok, cuci WC di lantai dua dan tiga. Bahkan toilet wanita."
Anak-anak yang berkerumun disini tertawa mendengarnya. Aku benci Ryo.
"Aku tak bersalah!" Rengekku, akhirnya bisa bicara.
"Menurutku kau bersalah!" Balas Ryo, suaranya mulai meninggi.
"Tidak! Nick memukulku tanpa sebab!" Balasku. Daguku agak gemetar. Di luar keinginan, aku pingin nangis.
"Itu tidak mungkin!" Ryo membentak. "Kau—" Sebelum dia selesai bicara, suara pria yang jernih namun bernada sangat dingin memutus. "Tanyakan pada Nick." Dan kami semua menengok pada asal suara itu - Hinaki.
Dia masih duduk di atas motornya. Matanya menatap Ryo. Sekali lagi, aku tidak bisa menilai ekspresi wajahnya. Apakah dia menolongku atau hanya sekedar bosan dengan situasi ini? Dia sepertinya sudah siap ingin pulang; atau pergi kemanapun dengan motornya itu. Mesinnya belum dinyalakan, tapi dia toh sudah duduk disitu sedari tadi. Sekarang semua orang menatap Nick.
Nick mengangkat bahu, agaknya sudah kembali tenang dan malas berdebat di depan umum. Tapi Ryo mendesaknya. "Kenapa kau memukul Rioki Akiyama?"
Aku tahu Ryo mengharapkan Nick untuk berbohong dan memfitnahku, tapi syukurlah sekali ini Dewi Fortuna berada disisiku. Nick menggeleng dan menjawab dengan enggan. "Kukira dia menyuruh Iwako meminjam uang kemana-mana."
"Aku tidak menyuruh!" Cepat aku menyelak.
Nick memelototiku.
"Nggak tahu, deh." Mahoney yang sedari tadi diam mendadak bicara. Dia menyeringai, dan melompat ke jok belakang motor Hinaki. Dia selalu dibonceng Hinaki kemana-mana, karena dia tidak punya motor sendiri. Mahoney bertubuh besar. Hanya Hinaki yang sanggup memboncengnya. Orang lain kalah oleh berat badannya, dan berbahaya untuk membonceng seseorang atau sesuatu yang sangat berat, sebab kau akan sulit mengendalikan keseimbangan motor. Kecuali untuk Hinaki. Semua orang tahu Hinaki memiliki kekuatan fisik yang besar walaupun tubuhnya ramping.
"Kita pergi?" Mahoney bertanya pada sahabatnya di motor tanpa memperdulikan Ryo lagi. Hinaki mengangguk, kemudian melirik Ryo. "Selesaikan ini." Dia memberi perintah, kemudian menyalakan mesin motornya.
"Kau mau kemana?" Ryo bertanya sambil membalikkan tubuh ke arah Hinaki. Aku menangkap ekspresi aneh di wajah Ryo, dan nada suaranya terdengar marah. Seperti kemarahan yang tertahan.
Sebelum Hinaki menjawab, Mahoney menyelak untuk memberi jawaban. "Hinaki sibuk. Dia punya urusan sendiri. Yuk, ah, semuanya." Dia melambai kecil, dan tanpa bicara lagi Hinaki melajukan motornya dan melesat ke gerbang sekolah, lalu menghilang di kejauhan.
Ryo setengah mematung selama beberapa saat sebelum membalikkan tubuh kembali ke arahku. "Sial!" Dia mengumpat, kemudian berjalan ke mobilnya yang di parkir di sisi lain. Dia meninggalkan kami begitu saja, dan aku bebas dari detensi. Nick dan yang lain pun bubar. Sebagian besar mengikutinya.
Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum naik ke motorku.
To be continued.
