Paradise School : Rioki Akiyama
Chapter 3.
Entah bagaimana aku berhasil menghindari ibuku sebelum dia memergokiku kotor dan luka-luka. Aku menyelinap masuk ke kamarku. Ibuku di dapur, sedang membuat kue. Aromanya menyenangkan, tapi aku tidak lapar. Aku naik tangga ke lantai atas dan masuk ke kamarku. Rumah kami hanya terdiri dari dua lantai, dan loteng kecil kami yang berlantai papan sepenuhnya adalah milikku. Ada dua kamar di loteng, yang satu adalah gudang. Ada televisi kecil untuk aku main playstation di luar kamar, dan selebihnya adalah buku-buku dan barang-barangku. Sangat berantakan, tapi aku puas dengan sarangku.
Aku duduk di tepi ranjang, kemudian tertidur tanpa kusadari.
Lulu meneleponku pada malam harinya. Dia marah-marah. Dia bilang dia malu karena aku dipukuli. Dia ingin aku bergabung dengan geng Sawajiri. Aku bilang itu mustahil, tapi dia terus merengek dan memohon, dan akhirnya mau tak mau aku menyanggupi. Dia telah memberiku misi bunuh diri: berusaha mendekati Sawajiri dan geng-nya! Rencananya misiku harus dimulai besok. Dia akan memantau perkembanganku dari jauh.
Pacar yang menyenangkan, ya?
.
.
.
Keesokan harinya, Lulu meneleponku lagi pagi-pagi sebelum aku berangkat sekolah, hanya untuk mengingatkanku akan misi pemberiannya. Aku tidak bisa menolak. Di kelas aku jadi sulit berkonsentrasi.
Jam istirahat pertama pun tibalah. Aku tidak melihat Jan seharian ini, dan anak sekelasnya mengatakan padaku bahwa dia tidak masuk lagi, jadi aku bebas menjalankan misi. Aku pergi ke kantin. Umumnya Ryo selalu pergi ke kantin setiap jam istirahat, walaupun cuma buat duduk-duduk dan ngumpul bersama geng-nya.
Seperti dugaanku, dia ada disana, di meja yang biasa menjadi miliknya. Kelompoknya ada disitu. Mereka selalu menggabungkan dua atau tiga meja menjadi satu, duduk sambil ngemil dan tertawa-tawa. Sebagian besar adalah cowok, dan cewek-cewek melirik-lirik mereka dengan terpesona. Tapi ada juga cewek di antara mereka.
Ada orang baru di antara mereka, tapi dia bukan siswi Paradise. Bahkan.. sebetulnya, aku nyaris tidak sadar dia itu cewek kalau dia tidak mengenakan seragam putri SMU Winston School. Gadis itu bertubuh sangat kurus, dengan ketinggian sedang. Dadanya rata, pinggulnya sempit, dan secara keseluruhan tubuhnya rata tanpa bentuk yang molek seperti layaknya wanita. Kulitnya sangat putih, bersih tanpa noda, dan matanya lebih sipit dariku. Rambutnya dipangkas pendek model cowok, bahkan lebih pendek lagi, seperti model rambut tentara yang kayak landak itu lho. Ketika dia menoleh ke samping, aku melihat ada tattoo kupu-kupu kecil di tulang pipi kirinya yang tinggi. Aku tahu itu hanya tempelan. Siswa-siswi usia sekolah tidak boleh pakai tattoo asli.
Gadis itu duduk di sebelah Hinaki, dan sedang tertawa-tawa bersama beberapa cewek lain yang berada di geng itu juga. Hinaki sendiri tidak tertawa, tetapi menunduk menatap makanannya dan mengunyah dengan perlahan. Dia satu-satunya yang sedang makan di meja itu. Yang lain hanya minum dan mengoceh.
Kemudian aku melihat cewek Winston School itu menatap Hinaki, membelai rambutnya dengan lembut dengan satu tangan, dan aku cukup terkejut melihat Hinaki tidak marah atau perduli.
Apa ini saat yang tepat untuk menghampiri mereka?
Selagi aku ragu, terdengar suara dari belakangku. "Rupanya Kiri." Itu suara Jan. Aku menengok dan melihatnya di belakangku. Dia nyengir, tapi matanya tidak kearahku, melainkan kearah cewek Winston School itu. Agaknya cewek itu bernama Ki-ri. Nama yang aneh. Mungkin nama lengkapnya adalah Kiriel? Siapa tahu.
"Oh, kau, Iwako." Kiri menjawab dengan santai, menatap kami berdua. "Apa kabar?"
Anak-anak lain dalam geng itu memandang Jan dan aku dengan jijik, tapi Kiri tidak tampak perduli.
"Mau apa kau kemari?" Jan bertanya lagi, masih menyeringai seperti kerasukan. "Menjenguk pacarmu tercinta?" Dengan dagunya dia menunjuk ke arah Hinaki.
Apa? Jadi Kiri adalah pacar Hinaki? .. Wow, aku ketinggalan gossip hangat!
Kiri tertawa singkat, mengerling ke arah Hinaki dengan penuh cinta, dan mengedikkan bahu. "Yeah. Disamping itu, aku punya urusan kecil lain disini. Tapi sekarang sudah selesai. Kalau kau membutuhkan tempat untuk makan, aku tidak keberatan untuk pergi." Dia nyengir kecil. Nadanya santai dan tak acuh. Aku segera menyukai cewek ini.
Hinaki sendiri tidak tampak senang dengan kehadiran Jan. Dia sudah berhenti makan, bersandar, dan membisu menatap Jan dengan tatapan yang sepertinya sanggup membunuh orang.
Jan melangkah ke depanku. Aku tidak bisa melihat wajahnya lagi, sebab punggungnya di depanku, tapi aku bisa mendengar dia bicara, tentu saja. "Anak baik. Makasih, ya. Tapi kelihatannya cowokmu gusar, tuh!"
Kulihat Kiri melirik Hinaki sebelum menjawab. "Aku yakin tidak. Tapi kalaupun iya, kurasa itu karena kau suka mengganggunya. Kau tahu, Iwako, aku juga tidak suka diganggu. Aku—" Dia belum selesai bicara, tapi Hinaki sudah memutus. "Tidak usah buang waktu dengannya, Kiri!" Nada cowok itu memerintah. Aku menatap padanya. Sepasang matanya masih tertuju pada Jan meskipun dia berbicara pada pacarnya.
"Tidak usah marah." Kiri tersenyum dan meletakkan satu jari di rahang Hinaki, kemudian menyentuh dagu cowok itu dan menarik wajahnya mendekat padanya. Perhatian Hinaki teralih, dan aku kaget melihat tatapan lembut cowok itu ketika dia memandang Kiri. Berbeda dengan cara dia memandang orang lain. Dan entah kenapa keduanya tampak serasi. Seorang pria angkuh yang cantik namun kuat, dan seorang gadis tomboy yang acuh tak acuh namun cerdik. Aku setengah tertegun menatap pasangan itu. Mereka nyaris berciuman, jika Ryo tidak segera berdehem.
"Bermesraan di depan umum, seperti yang selalu kau lakukan?" Jan bicara lagi, berjalan perlahan ke meja itu sambil bertepuk tangan dengan sikap mengejek. "Kalian memang pasangan yang hebat, atau sengaja mencari perhatian?"
"Iwako, kuperingatkan kau!" Bentak Ryo sambil berdiri.
"Jan!" Aku menghampiri Jan dan menarik kerah bajunya dari belakang. Dia berhenti, menyentakkan diri dariku, dan berbalik menghadapiku dengan tampang masam. "Apa? Jangan penakut begitu, Rioki!"
"Aku tidak mau cari masalah!" Balasku agak sengit. Aku sebal dikatain penakut.
Kiri berdiri. "Sudahlah, lagipula aku sudah capek." Dan kebetulan sekali pada saat itu bel berbunyi. Gadis itu menangkupkan tangannya di pipi kekasihnya, mengecup dahi sang cowok singkat, kemudian melepaskannya dan menatap aku dan Jan. "Kalian berdua tukang cari masalah, ya? Sebaiknya hati-hati. Tapi, omong-omong, sudah waktunya kalian masuk kelas, tuh. Aku juga harus pulang. See you." Dia mengedipkan mata pada Hinaki, melambai pada Mahoney dan Ryo, dan kemudian berjalan melewati aku dan Jan ke pintu kantin.
Mata Jan mengekornya, dengan seringai aneh di wajah. "Hati-hati, Kiri!" Balasnya.
"Kau yang harus hati-hati." Sahut Hinaki. Aku menengok dan melihat Hinaki berjalan ke arah kami. Dia menatap Jan dengan ekspresi – yang kali ini bisa kubaca – penuh kebencian dan jijik. Mahoney dan Ryo mengikuti di belakangnya.
"Oh ya?" Jan membalas, setengah mendongak menatap Hinaki yang memang lebih tinggi dari kami. "Kau-lah yang harus hati-hati, Brooks!"
Hinaki berhenti di hadapan kami. Matanya beralih kepadaku selama sedetik sebelum menatap Jan lagi. "Kenapa? Apa rencanamu?" Dia menjawab dengan nada menantang, meskipun suaranya tetap datar dan volumenya normal. "Kuperingatkan kau, Iwako, aku sudah muak melihatmu di sekolah ini. Kalau kau mencari-cari masalah lagi, aku tidak akan tinggal diam."
"Justru bagus!" Jan membalas, dan aku terkejut menangkap ekspresi penuh kebencian di wajah sahabatku itu. "Sebenarnya, Brooks, kau-lah yang kuincar. Aku menunggumu beraksi."
Kulihat Mahoney dan Ryo saling pandang.
Hinaki agak terkejut, tetapi dengan cepat kembali rileks. "Kalau kau punya dendam pribadi padaku, sebaiknya kau mencariku sejak dulu, dan bukannya malah membuat onar bersama temanmu di sekolah." Dia mengalihkan pandangannya padaku sekali lagi.
"Aku tidak membuat onar!" Balasku.
Hinaki tidak memperdulikanku. Dia sudah menatap Jan lagi dan meneruskan. "Kau tahu bahwa tindakanmu itu tidak menguntungkan kalian berdua, Iwako. Kau—" Dia belum selesai bicara, kali ini giliran Jan memutusnya. "Jangan bawa-bawa Rioki dalam masalah ini!" Bentak Jan.
Aku agak terkejut Jan membelaku.
Hinaki terdiam selama sedetik. Bukan kaget karena Jan membelaku, tapi karena ada orang yang berani memutus perkataannya saat dia sedang bicara. Sayangnya diamnya itu tidak berlangsung lama. Segera dia menemukan kembali suaranya. "Sahabat yang baik, rupanya?" Kali ini nadanya terdengar sangat mengejek. "Kau kuatir sesuatu terjadi pada Akiyama, Iwako?"
"Kau—" Aku dan Jan menjawab bersamaan, tetapi Hinaki telah memberi isyarat dengan dagunya kepada Mahoney dan Ryo. Kedua orang itu bergerak dengan cepat, dan sebelum aku dan Jan sadar; mereka berdua telah di belakang kami dan mendekapkan kedua lengan kuat mereka di tubuh kami, satu lawan satu. Aku mendapat Ryo. Dia mendekapku dari belakang, mengunci tubuh dan kedua lenganku dengan kedua lengannya. Aku meronta, dan Jan pun meronta dalam bekapan Mahoney yang jauh lebih kuat.
Hinaki membiarkan itu. Sebaliknya, dia menoleh pada sekelilingnya, seakan baru tersadar bahwa anak-anak di kantin ini sedari tadi sedang terpaku menatap kami. "Kalian lihat apa?" Dia membentak mereka. "Pergi! Tidak dengar bel sudah berbunyi?"
Dengan segera anak-anak lain pun bubar dan meninggalkan kantin, kecuali anggota geng Ryo yang tertawa-tawa menikmati adegan ini sambil duduk-duduk di meja-meja.
Setelah semuanya pergi, Hinaki melangkah ke arahku. Aku bersumpah akan menendangnya kalau dia berani berbuat macam-macam. Aku mengangkat lutut, tetapi dia lebih cepat. Mendadak kurasakan tinjunya sudah berada di perutku. Rasanya sakit sekali. Perutku mulas dan sakit. Kakiku lemas. Aku tahu aku meringis dan mengaduh. Kudengar Jan berteriak kalap. "Sialan! Lepaskan Rioki!"
"Aku tidak menggunakan tenaga untuk memukulnya." Hinaki menjawab dengan nada mencemooh. "Dia jatuh sendiri."
Aku memang sudah jatuh berlutut di lantai, memegangi perutku yang rasanya sakit. Ryo sudah melepaskan lengannya. Berani sumpah, aku akan mati. Hinaki boleh saja mengatakan dia tidak menggunakan seluruh tenaga, tapi toh keparat itu memang memiliki tenaga diluar akal manusia normal. Dia tidak perlu menggunakan seluruh tenaga untuk membuatku jatuh. Setengahnya pun cukup. Jangan-jangan dia memang bukan manusia. Disamping itu, berkelahi tidak cocok untukku. Aku bukan pengecut, tapi aku benci tonjok-tonjokkan, dan sewaktu kecil aku memang tidak pernah menang dalam gulat melawan siapapun.
Dia pasti sedang menatapku, sebab dia bicara kepadaku. Perutku sakit dan kepalaku pusing, tetapi aku masih bisa menangkap kata-katanya. "Seharusnya kau lebih cepat sedikit, Akiyama." Dia berkata seakan sedang memberi nasehat, seolah-olah ini adalah latihan beladiri dan aku adalah muridnya. Rupanya dia tahu aku hendak menendangnya tadi. Dia sudah terbiasa melihat gerakan lawan dalam pertandingan beladiri. Pantas saja! Aku bertanya-tanya sendiri, jika tadi aku tidak mencoba menendangnya, apa dia akan meninjuku? Mungkin tidak. Otot Hinaki terlatih untuk membela diri secara otomatis dalam menghadapi serangan, kurasa.
Kudengar Jan meneriakkan sumpah-serapah dan caci-maki kotor kepada Hinaki. Perlahan kuangkat kepalaku. Aku melihat Jan berontak di tangan Mahoney. Dengan segera mereka berdua terlibat dalam gulat seru, yang tentunya pasti dimenangkan Mahoney yang bertenaga badak dan bertubuh gajah. Kemudian aku menatap Hinaki. Dia berdiri di depanku, mengamati gerak-gerikku. Ekspresi wajahnya sudah datar kembali. Bibirnya bergerak, dan samar-samar aku masih bisa menangkap suaranya. "Bangun." Suara itu terdengar pelan di telingaku. Entah dia bicara dengan perlahan atau aku sudah terlalu pusing dan mau mati. "Akiyama. Belajarlah untuk melindungi dirimu sendiri."
Enak saja dia bicara. Memangnya dia guruku ? Tapi dia memang seperti seorang pelatih beladiri, dan saat ini aku merasa aku muridnya.
Kemudian segalanya gelap.
.
.
.
Aku bangun di klinik sekolah. Aku terbaring di dipan, dan suster penjaga di hadapanku. Dia wanita setengah baya yang baik, tapi tidak terlalu perduli pada masalah murid-murid. Dia sudah biasa kedatangan siswa-siswi yang babak-belur sehabis berantem satu sama lain, dan dia mengenal nama hampir setiap orang, karena hampir semua anak disini pernah harus mengunjungi klinik setidaknya sekali. Bukan gara-gara babak-belur. Banyak yang suka pusing dan mual saat pelajaran. Sebagian besar itu hanyalah alasan untuk menghindari jam pelajaran. Aku pun pernah kesini dulu. Saat itu aku benar-benar sakit dan hampir pingsan di jam olahraga.
"Sudah oke, Rioki Akiyama?" Suster Liu menatapku dan tersenyum kecil. Dia menyodorkan segelas teh manis hangat yang segera kuminum. Perasaanku membaik, meskipun masih mual dan mules. Kemudian, tak tertahankan, aku muntah.
Dia membersihkan muntahanku dengan wajah masam.
Aku berbaring dan menutup mata lagi, mencium bau muntah. Aku membiarkan dia membersihkan diriku juga dan menanggalkan kemejaku serta kaos dalamku dan mengoleskan sesuatu yang dingin di perutku.
"Kau dipukul orang?" Dia bertanya setelah selesai, sambil menyelimutiku.
"Ya." Jawabku tanpa membuka mata.
"Anak kelas tiga?" Tebaknya.
Aku ragu sesaat, membuka mataku, kemudian memutuskan untuk memberitahunya siapa pelaku yang sebenarnya. "Bukan. Hinaki Brooks."
"Sudah kuduga." Suster Liu tersenyum kecut. "Pastinya anak Yujiya. Anak-anak yang sudah pernah membuatnya marah bukan hanya satu."
"Aku tidak membuatnya marah!" Balasku. "Dia memukul tanpa sebab!"
"Aku juga tahu itu." Suster tersenyum lebih lebar. "Tidak ada yang bisa mengendalikan anak itu."
"Aku tak perduli." Aku agak tersinggung. "Aku tak perduli apa dia bisa dikendalikan atau tidak, tapi seharusnya dia tidak boleh seenaknya memukul orang tanpa sebab!"
Suster Liu menatapku dan menggeleng pelan. "Harus ada yang bisa menundukkan dia, barulah dia mau bersikap baik lagi. Satu-satunya orang yang bisa melakukan itu telah lama tiada."
Aku menggerutu. Aku tidak tertarik mendengar tentang masa lalu Hinaki. Tapi suster sudah meneruskan. "Katerina; ibu Hinaki, adalah orang itu."
Siapa perduli? Aku sendiri sudah tidak punya ayah, tapi aku tidak memukul orang sembarangan! Aku menutup mata dan pura-pura tidur. Suster itupun berhenti bicara.
To be continued.
