Paradise School : Rioki Akiyama
Chapter 4.
Aku sudah tertidur lagi, dan bangun senja harinya. Suster Liu masih menungguiku. Dia bilang dia baru hendak membangunkanku. Anak SMP sudah pulang. Aku segera turun dari dipan dan berpakaian. Untunglah ternyata Hinaki benar-benar tidak menggunakan seluruh tenaga dan perutku sudah jauh lebih baik sekarang. Aku memeriksa handphone-ku dan menemukan pesan-pesan dari Lulu dan ibuku. Aku membalas mereka, kemudian merapikan diri dan mengambil tas-ku (sudah dibawakan oleh Suster Liu dari kelas kesini), lalu meninggalkan klinik.
Jan menungguku di motorku.
Dia luka-luka dan memar-memar, banyak tensoplast di wajahnya. Ekspresinya sangat murung. "Kau baik-baik saja?" Dia menanyaiku.
"Yeah." Aku mengangguk, naik ke motorku. Perutku sakit lagi ketika aku dalam posisi duduk, tapi aku berusaha bertahan. "Kau sendiri?"
"Aku oke." Jawabnya muram. "Tapi rasanya aku bakal dikeluarkan dari sekolah besok."
"Apa maksudmu?" Aku menengok padanya.
"Kepala Sekolah memanggilku tadi. Ada yang melapor tentang perkelahian di kantin itu. Ryo memberikan kesaksian palsu, dan aku dianggap menantang Mahoney berkelahi. Si sialan Mahoney tidak diapa-apakan oleh KepSek." Dia menerangkan dengan ekspresi wajah jijik.
"Bagaimana dengan Hinaki?" Tanyaku cepat.
"Brooks?" Jan menyeringai sinis. "Dia anak kesayangan. Tentu saja dia juga tidak diapa-apakan."
"Brooks memukulku tanpa sebab." Kataku kesal. "Kau tidak bilang pada Kepsek?"
"Aku bilang, tapi dia lebih percaya pada Ryo. Dan Mahoney tidak mengungkit-ngungkit Hinaki, jadi seolah-olah Hinaki tidak tahu apa-apa dan hanya kebetulan berada disitu." Jan menghela nafas.
Yeah. Sungguh tidak adil.
Apa yang bisa kuperbuat?
Jan menumpang di boncengan motorku sampai ke perempatan di jalan tak jauh dari sekolah, kemudian dia akan berjalan kaki ke rumah kost yang ditinggalinya. Aku kasihan padanya. Dia sudah kuyu dan tampak capek. Karena kasihan, aku menawarkan untuk mentraktirnya makan dulu, dan dia senang sekali serta langsung setuju. Begitulah, kami pergi ke rumah makan sederhana yang terdekat dan memesan makanan. Dia makan sangat lahap.
"Siapa cewek Winston School tadi?" Aku bertanya sambil memasukkan sesendok bakmi ke mulutku.
"Kiri?" Jan menatapku sekilas. "Dia pacar Hinaki. Kau tidak tahu, ya? Astaga, ketinggalan berita, deh. Mereka sudah jadian sejak enam bulan lalu, mungkin malah sudah setahun. Kiri itu anak Winston School, seumur dengan Brooks. Jangan lihat tubuhnya yang kurus. Kiri itu juga jagoan beladiri."
"Ngapain dia ke sekolah kita?" Tanyaku lagi, sekedar mengalihkan pikiran Jan dari kepala sekolah dan hukuman apapun yang pasti sudah menderanya di kantor kepala sekolah tadi siang.
"Paling-paling hanya menjenguk Brooks." Sahut Jan, kemudian diam sejenak. Dia mengunyah, tapi tampak serius memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Eh.. t-tidak!" Jan meraih gelasnya dan meminum airnya. "Kau tahu Winston School?" Dia meletakkan gelas dan mengusap bibirnya dengan punggung tangan.
"Pernah dengar." Sahutku. Sekolah itu kecil, tapi kabarnya siswi disitu cantik-cantik dan sombong-sombong.
"Kau pernah dengar nama Elizabeth Voltaire?" Sekali lagi Jan bertanya. Matanya menatapku dengan tajam.
Aku menggeleng. Nama itu asing bagiku.
"Kau jarang nonton berita, ya?" Jan berkomentar lagi, tapi ekspresinya kembali rileks, dan dia meneruskan makannya.
"Nggak juga. Kenapa?" Desakku penasaran.
"Elizabeth itu adiknya Vincent." Jawab Jan tak acuh. "Kabarnya Elizabeth adalah sahabat Kiri. Itu gossip yang kudengar." Dia berhenti, lalu meneruskan dengan cepat, "Tentunya, aku dengar itu bukan dari TV atau majalah atau media pers."
"Siapa Vincent itu?" Tanyaku sekali lagi, tidak mengerti arah pembicaraan kami.
Ekspresi Jan berubah. "Bukan siapa-siapa!" Sahutnya. Mendadak dia tampak aneh, seolah sedang memikirkan sesuatu yang menggelikan dan nyengir sendiri. "Hey, Rioki.. Kurasa.. aku tidak akan berhenti dari sekolah." Dia meneruskan dengan misterius.
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Lihat saja nanti." Jan tersenyum. Aku mendesaknya untuk mengatakannya padaku sepanjang sisa sore itu, dan dia berhasil menghindari semua pertanyaanku.
.
.
.
Malam kemarin kulewatkan dengan menjawab pertanyaan ibuku kenapa aku pulang terlambat, lalu menghindari ejekan-ejekan adikku yang nyinyir, lalu menjawab telepon dan pesan-pesan dari Lulu, kemudian mengakhirinya dengan main playstation. Hari sudah pagi lagi, hari yang baru datang lagi, dan aku yakin hari ini sama buruknya seperti kemarin. Lulu masih berusaha membujukku agar mencoba mendekati Ryo dan Hinaki. Mau tak mau aku agak sakit hati dan cemburu. Memang, sejujurnya aku pernah dengar gossip bahwa Lulu sebetulnya naksir Hinaki dan Hinaki menolaknya. Tentunya Hinaki itu sinting, kalau benar dia telah menolak cewek semanis Lulu. Tapi toh sekarang aku sudah tahu tipe cewek seperti apa yang cocok buatnya: Kiri, yang jauh dari kata 'manis'.
Hari ini, aku menghindari kantin pada jam istirahat. Aku tidak melihat Jan, tapi aku percaya dia masuk sekolah. Aku pergi ke perpustakaan dan ingin menghabiskan waktu dengan membaca. Sialnya, secara kebetulan Ryo berada disini, tersembunyi di salah satu rak bersama temannya, dan aku cepat-cepat menyelinap ke belakang rak agar dia tidak melihatku. Dia berdiri menghadapi temannya. Aku kenal orang itu. Namanya Jimmy. Dia teman sekelas Ryo dan anggota geng-nya juga.
".. Aku tidak tahan!" Ryo tengah berbisik kepada Jimmy.
"Ta—tapi, apa yang bisa kita lakukan?" Balas Jimmy. Suaranya lebih keras dari Ryo sehingga aku mendengarnya dengan jelas. "B-bagaimana cara mengusirnya?"
"Tentunya ada cara untuk itu!" Bisik Ryo meskipun tak yakin. "Binatang itu kesayangan Kepala Sekolah, tapi aku percaya kita bisa membuat sesuatu yang akan membuatnya tidak dipercayai Kepala Sekolah lagi, dan perlahan-lahan Kepala Sekolah akan mengeluarkannya dari tempat ini."
"Kau yakin?" Jimmy terdengar cemas.
"Yeah." Ryo mengangguk mantap. "Adikku ada di SMP 3 sekarang. Adikku tidak popular, tidak setampan aku, dan tidak cerdas. Saat aku sudah tidak disini, tahun depan, Hinaki Brooks akan menjadi Ketua Murid, dan adikku hanya akan jadi budaknya. Aku berani taruhan Brooks akan mengganyang adikku dan membuat hidupnya seperti neraka. Aku harus menyingkirkan Brooks dari sekarang!"
"Tapi.. bagaimana caranya?" Jimmy bertanya lagi,
Otakku bekerja. Mereka ingin mengusir Hinaki dari sekolah? Benarkah?
"Mana kutahu. Di dunia ini tidak ada yang bisa menandinginya!" Sahut Ryo dengan kesal. Kemudian terdengar suara yang lain, tapi tak asing bagiku, dan aku baru sadar bahwa ada orang lain disitu. Bukan di rak yang sama denganku. Orang itu bersembunyi di rak di seberang rak-ku, tapi dia juga telah mendengarkan Ryo dan Jimmy, mungkin lebih lama dariku. Dia melangkah keluar dari persembunyiannya. Dia adalah Jan Iwako.
"Kalian membicarakan Brooks, ya?" Menyeringai, Jan menatap Ryo dan Jimmy bergantian. "Cari mati? Brooks benci dibicarakan. Aku akan pergi mengadu padanya!"
"K-Kau!" Wajah Ryo berubah pucat. Dia bergerak mendekati Jan dan tangannya menyambar kerah baju Jan, tapi Jan tersenyum kalem. "Jangan bodoh, Sawajiri. Ada penjaga perpustakaan disini. Aku tinggal berteriak, dan reputasimu hancur."
Gertakan itu berhasil. Ryo melepaskannya dan mundur selangkah, tampak geram sekali.
"K-Kau, apa gunanya kau mengadu padanya?" Bentak Ryo.
"Tenang, pelankan suaramu." Jawab Jan santai. "Kau dan aku, dan semua orang, tahu bahwa walaupun semua anak membenci Brooks, mereka juga suka menjilatnya dan ingin mendapatkan perhatiannya. Kau sendiri kan salah satunya. Kini giliranku untuk menjadi temannya."
"Bukankah kau sangat membencinya?" Tanya Jimmy pada Jan. "Aku dengar kemarin!"
"Aku memang membencinya." Jan angkat bahu. "Tapi kata siapa aku tidak membencimu juga, Sawajiri?"
"Keparat!" Ryo menggeram. "Kau ingin mengadu domba aku dan Brooks! Kuberitahukan padamu, dia lebih mempercayaiku darimu!"
"Sayangnya tidak." Jan menyeringai dengan misterius. "Aku membawa alat perekam dalam tubuhku."
Ryo maju lagi, hendak menyambar Jan, tetapi sahabatku itu mundur dan berkata dengan kalem. "Satu langkah lagi, dan aku teriak!"
"Kau takkan pulang dengan selamat hari ini!" Bentak Ryo. "Tidak disini, mungkin pulang sekolah!"
"Begitu?" Jan menguap malas-malasan. "Sayangnya aku bisa saja minta izin pulang saat kalian masih di kelas. Atau.. menitipkan benda ini kepada seseorang.. bukan, bukan Rioki. Seseorang yang tak kalian duga. Atau menyembunyikannya di suatu tempat sampai aman."
Ryo dan Jimmy kehabisan kata.
Inikah yang direncanakan Jan kemarin? Dia tahu bahwa Ryo diam-diam membenci Hinaki karena iri pada popularitas Hinaki? Aku menatap sahabatku dengan bangga. Tapi apa betul dia punya alat perekam suara di badannya? Darimana dia mendapatkan barang begituan?
Bel masuk berbunyi. Jan menyeringai puas dan mundur beberapa langkah. "Sampai nanti, Sawajiri!" Kemudian dia membalikkan tubuh dan berlari pergi. Aku menahan nafas, menunggu sampai Ryo dan Jimmy pergi, baru keluar dari tempat persembunyianku dan kembali ke kelas.
.
.
.
Aku mendapat kesempatan bicara dengan Jan sore harinya. Bukan di sekolah. Dia benar-benar minta izin pulang lebih awal, tapi aku tahu rumah kost-nya. Agak sulit menuju kesana hari ini, sebab aku tahu Jimmy membuntuti motorku dengan curiga. Dia curiga aku ikut dalam rencana Jan. Tapi aku lumayan pintar dan berhasil meloloskan diri dari kejaran Jimmy di salah satu lampu merah. Dia terjebak disitu.
Rumah kost Jan memang buruk, tempatnya pun di gang kecil yang kumuh dan daerah kotor. Dia keluar menyambutku, hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek yang berlubang, dengan rokok di mulut.
Setelah membiasakan diri dengan suasana kumuh di tempat ini, aku dibawa ke kamarnya yang kecil dan tak-layak-huni. Aku duduk di tepi ranjang berjamur yang sprei-nya ada noda-noda darah, lalu aku menceritakan bahwa aku pun berada di perpustakaan tadi siang. Aku menyelesaikan ceritaku dengan pertanyaan. "Jadi itu rencanamu?"
"Tidak juga." Jawab Jan yang duduk di kursi kecil di depan ranjang. Dia masih merokok, karena itu jendela dibiarkan terbuka. Tapi aku juga tahu bahwa jendela itu memang sudah rusak dan selalu terbuka. "Rencanaku yang sebenarnya melibatkan seseorang yang sangat berkuasa." Dia menyeringai penuh rahasia.
"Siapa?"
"Itu tidak penting lagi. Tapi sekarang aku sudah mengubah rencana." Mendadak dia tampak serius. "Rioki, kau harus membantuku."
"Bagaimana caranya?" Spontan aku bertanya. "Aku tidak mau cari masalah, lho."
"Tenang saja." Dia menghembuskan asap rokoknya yang bau dan aku menutup hidungku dengan tangan. "Kita hanya akan mengadu-domba Hinaki Brooks dan Ryo Sawajiri. Aku sudah memperhatikan selama ini bahwa agaknya Ryo iri pada popularitas Hinaki, dan rupanya dugaanku benar. Aku bisa mendekati Ryo, dan kau harus mendekati Brooks—"
Dengan cepat aku memutus. "Aku tidak mau mendekati Brooks!"
"Sudah kuduga!" Sahut Jan rileks. "Nggak apa-apa. Aku bisa memainkan game ini sendiri."
"Hati-hati kepalamu!" Aku memperingatkannya.
"Jangan kuatir. Aku punya backing." Jawabnya, kembali bersikap misterius.
"Siapa? Sawajiri? Aku takkan mempercayainya!"
"Bukan." Dia menggeleng lambat-lambat. "Kau tidak kenal orang ini, tapi Hinaki mengenalnya. Justru Hinaki tidak akan membiarkan aku mati, karena orang ini. Kalau Ryo mau membunuhku, Hinaki-lah yang akan mencegah."
Kata-kata yang tidak masuk akal. Bukankah Hinaki membenci Jan?
"Apa maksudmu?" Tanyaku penasaran.
"Ada orang yang sangat disegani Hinaki." Jan menerangkan. "Dia bukan murid Paradise School. Dia sudah dewasa. Kau tidak kenal dia. Hinaki adalah budak orang ini. Dan aku kenal seseorang yang sangat dekat dengan orang tersebut."
Aku benar-benar tidak mengerti. Aku memaksanya menjelaskan dengan kata-kata yang lebih sederhana, tapi dia menolak.
"Kau-lah yang harus waspada." Dia berkata padaku, pada akhirnya. "Kurasa Sawajiri dan Jimmy menduga rekaman itu sekarang ada padamu. Mereka pasti akan mengincarmu."
"Kau benar." Aku mulai kuatir. "Apa yang harus kulakukan? Dan alat apa itu? Darimana kau mendapatkannya?"
Jan tertawa terbahak-bahak. "Sederhana. Pertama, usahakan berada di sekitar Hinaki Brooks. Kau tidak perlu bicara dengannya, hanya usahakan kau selalu berada di sekitarnya. Sawajiri takkan berani menyentuhmu di depan matanya. Kenapa? Sebab dia takut Hinaki akan penasaran dan bertanya jika dia memukulmu tanpa sebab, dan kau bisa saja menceritakan kejadian di perpustakaan itu kepada Hinaki. Kau adalah saksi bahwa Sawajiri ingin mengusir Hinaki dari sekolah. Tentu saja, Sawajiri tidak tahu kau ada disitu saat itu, tapi dia pasti menduga aku telah menceritakan segalanya padamu."
Aku terdiam, mendengarkan.
Jan meneruskan. "Yang paling ditakuti Sawajiri sebenarnya adalah Hinaki. Mereka sahabat, tapi diam-diam dia membencinya. Karena itu, usahakan berada di dekat Hinaki." Dia diam sejenak, lalu menjawab pertanyaan lainku tadi tentang alat itu. "Ingat handphone tua-ku yang jelek, usang, dan sudah tidak ada pulsa? Setiap handphone memiliki alat recorder. Aku menyalakannya dan menyimpannya dalam saku ketika kulihat Jimmy dan Ryo berbisik-bisik. Kebetulan yang menguntungkan. Dewi Fortuna berpihak padaku." Dia menyeringai puas.
"Dimana handphone itu sekarang?" Tanyaku.
"Tidak ada padaku." Jan tergelak. "Aku menyembunyikannya di sekolah, di suatu tempat. Batere-nya habis, jadi dia tidak akan berbunyi. Aku akan mengambilnya di saat yang tepat."
"Kau yakin office boy takkan menemukannya?" Tanyaku.
"Kurasa tidak." Jan tersenyum penuh rahasia.
Aku yakin dia menyembunyikannya dalam pot bunga atau vas. Barang-barang seperti itu ada dimana-mana, dan kau takkan tahu yang mana. Mau tak mau aku kagum pada Jan. Cara berpikirnya sudah seperti mafia saja.
.
.
.
Jan benar. Keesokan harinya, aku sadar bahwa Jimmy dan Ryo mencurigaiku dan membuntutiku kemana pun. Aku cukup kuatir. Mereka bisa saja menyergapku, karena itu aku berusaha selalu berada di tempat-tempat ramai atau dekat dengan guru. Aku menghindari perpustakaan, melainkan pergi ke kantin pada jam istirahat. Aku tahu Ryo berani memukul orang di kantin, tapi Hinaki berada disana, dan sesuai dugaan Jan; Ryo tidak berani menimbulkan keributan yang akan memancing Hinaki untuk bertanya padaku atas apa yang sebenarnya terjadi.
Aku mendapati mata Ryo dan Jimmy melirik-lirik padaku setiap saat.
Karena merasa kuatir, aku minta izin untuk pulang cepat siang itu. Aku berhasil lolos dari kejaran mereka untuk hari itu, tapi kemudian sore harinya Ryo malah meneleponku.
Aku sedang main playstation waktu handphone-ku bunyi. Nomor yang tampak di layar tidak kukenal, tapi aku menjawab panggilan. "Halo?"
"Akiyama, ini aku; Ryo Sawajiri!" Ryo berkata dengan nada tidak sabar. Hatiku langsung mencelos. Dia meneruskan, "Aku mendapat nomormu dari teman sekelasmu. Tidak usah tanya siapa! Dengar! Aku ada urusan penting denganmu. Bisa kita ketemu sekarang?"
"Sekarang?" Ulangku, menengok ke arah jam dinding. Jam setengah enam sore.
"Yeah, sekarang." Dia agaknya tengah merokok dan menghisap rokoknya saat ini. Suaranya agak tercekat. "Kau tahu apa yang kuinginkan."
"Sayangnya aku tidak tahu—"
"Jangan berlagak pilon!" Dia memutusku dengan kasar. "Aku menginginkan rekaman itu! Kau pasti tahu! Kau kan sahabat Jan! Dengar, Akiyama, aku memberi penawaran." Nada suaranya berubah melunak dengan terpaksa. "Aku bisa bayar… tidak mahal, tapi aku punya uang. Atau, aku bisa melindungimu di sekolah. Kujamin kau akan menjadi popular sepertiku. Tapi, tinggalkan si keparat Iwako dan serahkan rekaman itu!"
Aku agak tergoda. Separuh ingin menyetujuinya, separuh lagi ingin mengejeknya dan mengatakan bahwa aku akan menjual rekaman itu ke Hinaki dan mendapatkan sejenis bayaran yang sama dari Hinaki. Aku yakin Hinaki akan 'tertarik' mendengar seseorang menyebutnya 'binatang' di belakangnya.
Toh, akhirnya aku memutuskan untuk tidak melakukan keduanya. "Aku benar-benar tidak mengerti." Jawabku. "Rekaman apa? Apa yang terjadi? Jan tidak bilang apa-apa!" Nada suaraku memaksa. "Sudah, ya, aku mau makan!" Kemudian aku memutuskan hubungan telepon.
Ryo pasti sangat geram.
To be continued.
