Paradise School : Rioki Akiyama
Chapter 5.
Ryo mengejarku di pagi harinya sebelum bel masuk berbunyi. Aku tidak tahu dimana Hinaki, tapi Ryo menungguku di tempat parkiran motor, dan setelah aku turun dari motor dia langsung menyergapku, meraih tanganku. Aku menyentakkan diri dan mundur selangkah. "Lepaskan!" Bentakku. "Atau aku teriak!"
"Jangan bodoh!" Ryo tampak geram sekali. "Aku tidak mau memukulmu. Aku hanya ingin bicara baik-baik!"
"Tentang apa? Aku tidak tahu apa-apa!" Sahutku.
"Kau pasti tahu sesuatu!"
"Sama sekali tidak! Jan tidak bilang apa-apa-" Aku terhenti, menatap Mahoney di belakang Ryo.
"Ada apa?" Tanya Mahoney dengan tatapan ingin tahu, tapi tidak tampak curiga. Entah sejak kapan dia sudah disitu.
Ryo memutar tubuh untuk menghadapnya. "Tidak ada apa-apa!" Jawabnya kaku.
"Akiyama buat ulah lagi?" Mahoney mendesaknya.
"Tidak!" Sahut Ryo kesal. "Tidak ada apa-apa!" Kemudian dia mengubah sikapnya dengan cepat dan merangkul Mahoney; meskipun tentunya dia tidak bisa mencapai bahu Mahoney. "Yuk, ke dalam. Aku tidak perduli dengan Akiyama."
Mereka berdua berjalan menjauh, tetapi Jan sudah muncul di sampingku. Rupanya Jan juga berada di sekitar sini sejak tadi. "Hey!" Dengan sengaja Jan berteriak. "Sawajiri, sudah kubilang rekamannya tidak ada pada Rioki!"
Ryo berhenti. Mukanya memucat. Dengan cepat dia melepaskan Mahoney dan membalikkan tubuh ke arah Jan.
"Rekaman apa?" Tanya Mahoney.
"Rekaman yang menarik tentang Ryo." Jan menyeringai. "Dia—"
"Diam!" Putus Ryo. Itu adalah tindakan yang salah, sebab Mahoney malah jadi penasaran. Dengan bingung gajah itu menatap Jan dan Ryo bergantian, lalu ke aku.
"Ada apa, sih? Rekaman apa?" Dia bertanya, kemudian menatap Ryo lagi. "Kau mau aku mendapatkan rekaman itu untukmu secara paksa?"
"Ti—tidak!" Balas Ryo dengan gugup. "A-aku tidak tahu apa yang Iwako bicarakan! Yuk, kita pergi!" Dengan gugup Ryo menggamit lengan Mahoney, tetapi Mahoney tidak bergeming. Dia menyeringai menatap Jan. "Rekaman apa? Serahkan padaku." Pintanya. Tentunya dia tidak pernah menduga apa isi rekaman itu sebenarnya.
Aku menengok pada Jan; setengah berharap Jan akan memberikannya. Kuharap dia mengerti isyarat mataku, tapi dia tidak melihat ke arahku. Dia tidak menjawab Mahoney, tetapi bertanya pada Ryo. "Bagaimana? Apa kuserahkan pada Mahoney?"
Wajah Ryo memerah. Dia melepaskan Mahoney dan maju dua langkah kepada Jan. "Apa maumu sebenarnya?" Teriaknya tidak tahan lagi. "Uang? Kau mau memerasku ya?"
Aku melihat Mahoney agak kaget dengan reaksi Ryo dan tampak heran.
"Kalau uang," Jan menyeringai, "Kurasa Hinaki tidak keberatan meminjamiku, setelah mendengar percakapan dalam rekaman itu."
"Percakapan apa-?" Mahoney bertanya, tapi terputus oleh teriakan marah Ryo. Dengan tiba-tiba Ryo menubruk Jan dan keduanya terlibat gulat seru di tanah.
Bel berdering.
Anak-anak yang berada di sekitar sini segera sibuk berteriak-teriak dan memonton. Aku pun tidak ingin masuk ke kelas.
"Hey, hentikan!" Seru Mahoney. Dengan cepat dia bergerak dan menyambar baju Ryo dari belakang. Dia berhasil menyeret Ryo berdiri dan memeganginya. Ryo meronta liar. Tapi Jan yang juga sudah kalap segera bangun dan menubruk Ryo sambil melayangkan tinju dan cakar; yang juga mengenai lengan Mahoney yang melingkari tubuh Ryo.
"Hentikan, Iwako!" Bentak Mahoney, kemudian menatapku. "Pegangi temanmu!"
"Jan!" Aku maju selangkah. Jan tampak liar tak terkendali. Tangannya bergerak-gerak memukul kesana-sini, dan posisi Ryo malah dalam bahaya karena dipegangi Mahoney. Beberapa pukulan Jan telah mengenai wajah Ryo. Anak-anak yang menonton berteriak-teriak kuatir.
Mendadak seseorang membelah kerumunan penonton dan menyelak maju. Dengan gesit dia menghampiri medan perkelahian tanpa takut terkena pukulan nyasar. Ketika tinju Jan nyaris mengenai wajah Ryo lagi, orang itu menangkap pergelangan tangan Jan dan memuntirnya ke belakang. Bersamaan, dia melangkah ke belakang Jan dan mendekapnya, sehingga Jan tidak bisa memukul lagi. Jan menjerit spontan saat tangannya terpuntir, kemudian berhenti, dan menengok ke belakang.
"Brooks!" Geram Jan.
Sekarang Ryo dipegangi Mahoney, sedang Jan di tangan Hinaki. Ryo sudah tak sadarkan diri. Wajahnya babak-belur, tertunduk, bajunya kotor. Jan meronta sesaat, tapi Hinaki mengeraskan cekalannya dan Jan berteriak sesaat sebelum berhenti meronta.
Mahoney melepaskan Ryo. Tubuh Ryo merosot, dan cepat-cepat Mahoney (yang baru sadar bahwa Ryo sudah pingsan), menangkapnya kembali dan membaringkannya di tanah dengan lembut.
Jan tergelak. Hanya perlu satu detik bagi Hinaki untuk memindahkan tangannya dari pergelangan tangan dan tubuh Jan ke bahu kurus Jan dan memaksa anak itu berputar menghadapnya, lalu; begitu cepat; tangannya sudah melayang dan menghantam pipi Jan.
Jan terkesima. Tangan Hinaki telak menampar pipinya. Setengah detik kemudian Jan tersadar dan mulai memegangi pipinya dengan satu tangan. Matanya terbelalak memelototi Hinaki. Dengan ngeri aku menyaksikan Jan kemudian meludahkan darah dan gigi. Beberapa anak yang melihat itu menjerit, tetapi ekspresi Hinaki tetap sedingin es. Sepertinya Hinaki tidak perduli kalaupun pukulannya bisa menyebabkan seseorang kehilangan seluruh gigi, walaupun mungkin gigi Jan yang tanggal itu memang sudah mau copot sejak sebelumnya.
"Binatang! Lagi-lagi kau berulah disini!" Bentak Hinaki tanpa ampun. Sepasang matanya memancarkan kemarahan, membalas tatapan Jan, sama sekali tidak melirik kepada gigi yang jatuh di kaki Jan. Bahkan, tidak memperdulikan sisa darah di mulut Jan. "Kau bosan hidup, ya?" Dia nyaris melayangkan tangannya sekali lagi, tapi cepat-cepat Mahoney berkata, "Hinaki, tunggu!"
Tangan Hinaki terhenti di udara.
"Hinaki." Mahoney meninggalkan tubuh Ryo dan melangkah ke samping sahabatnya. "Dengar dulu penjelasan Iwako. Bangsat ini sedang memperebutkan sesuatu dengan Ryo barusan."
Hinaki tidak tampak tertarik. Dia mendengus, tapi menurunkan tangannya. "Tanyalah semaumu!" Jawabnya kasar, kepada Mahoney.
Mahoney menatap Jan yang sudah terduduk di tanah. Tangannya masih di pipi, dan masih memelototi Hinaki dengan penuh kebencian. Cepat-cepat aku menghampiri Jan dan berjongkok di sebelahnya, menarik tangannya dari pipinya untuk memeriksa lukanya. Dengan enggan dia melepaskan tangannya, dan aku melihat tanda merah di pipi Jan yang mulai membengkak. Sepasang mata Jan sama sekali tidak meninggalkan wajah Hinaki.
Mahoney menatap kami. "Serahkan rekaman itu." Ucapnya.
"Tidak ada padaku!" Jawabku ketus. Jan sendiri tidak bicara. Aku menatapnya. Dia masih memelototi Hinaki, seakan tidak ada orang lain disini kecuali dia dan cowok itu.
"Kau dengar, kan?" Dengan nada tidak sabar Hinaki menengok pada Mahoney. "Mereka tidak akan memberitahumu, dan aku tidak perduli barang apa pun itu." Dia kembali menatap kami dan menunjuk pada Jan. Ekspresi wajahnya penuh kebencian. "Aku ingin menghajar tikus ini sampai kapok, dan kemudian semua orang bisa melihat apa persisnya yang akan terjadi pada mereka jika mereka berbuat onar disini!"
Detik ini, aku membenci Hinaki melebihi aku membenci Ryo. Hinaki benar-benar iblis. Dia tidak punya perasaan. Kurasa Ryo takkan jadi sekeji itu. Mereka berdua memang memukul orang seenaknya, tapi kurasa Ryo; atau siapapun yang lain; takkan bisa sampai sekejam ini. Jan sudah tidak berdaya, dan Hinaki tidak mau melepaskannya, malah mengucapkan hal yang kejam. Aku yakin tubuh Hinaki tidak terdiri dari darah dan daging. Anak itu reinkarnasi iblis dalam bentuk yang rupawan, tetapi mungkin sanggup memakan manusia.
Saat ini otakku berpikir dengan cepat dan memutuskan mengambil jalan darurat. "H-Hinaki." Aku memberanikan diri, demi Jan. "T-tunggu! Akan kuberitahu padamu!"
Jan tersentak, tersadar dan menengok padaku dengan geram, tapi mungkin pipi dan giginya terlalu sakit untuk bicara, jadi dia diam saja.
"Minggir, Akiyama!" Hardik Hinaki tanpa perduli tawaranku. Dia sudah mengangkat tangan lagi, tapi dengan cepat Mahoney menarik bahunya. "Tunggu!" Pinta Mahoney, lalu menatapku. "Beritahu aku! Rekaman apa itu?"
"Hinaki akan tetap membunuh kami." Kataku getir.
Mahoney diam sejenak, berpikir, kemudian melirik Hinaki yang sama-sekali tidak tampak perduli, lalu menjawabku. "Tidak. Aku sumpah dia tidak akan memukul lagi kalau kau beritahu kami."
Hinaki menengok padanya dengan ekspresi tak senang. "Kau gila?" Bentaknya.
"Hinaki, kumohon!" Rengek Mahoney. "Rekaman itu ada hubungannya denganmu! Iwako menyebut-nyebut namamu sebelum kau datang, waktu bertengkar dengan Ryo!"
Dan seketika Hinaki berubah pikiran. Anehnya, selama sedetik wajahnya menjadi pucat. Rupanya dia menyembunyikan suatu rahasia juga, dan mungkin berpikir bahwa Jan merekam sesuatu tentangnya. Aku mengawasinya. Ekspresinya berubah. Awalnya dia terlihat kaget, kemudian cemas, kemudian tampaknya menimbang-nimbang segala kemungkinan dalam benaknya, dan aku memperhatikan rahangnya mengeras sesaat sebelum dia kembali menatapku. "Baiklah. Serahkan apapun itu yang Mahoney katakan tadi, dan aku tidak akan menghajar kalian berdua."
Aku membuka mulut, hendak menerangkan padanya, tapi Jan mendahuluiku. Suaranya terdengar aneh akibat pipinya bengkak. Agak cadel dan parau, tapi dia memaksakan diri bicara mendahuluiku kepada Hinaki, "Dasar siluman ular! Semua ucapanmu tidak bisa dipercaya! Setelah kuserahkan rekaman itu, kau pun akan menghajar kami!"
Aku menengok padanya. Jan tidak menatapku, matanya masih terpaku pada wajah Hinaki.
Cowok berambut pirang-perak itu sendiri sesaat tampak tersinggung dengan ucapan Jan. Dia sudah mengepalkan tangan dan mengangkatnya sambil maju selangkah ke arah Jan, tapi Mahoney meletakkan tangan di bahu Hinaki dan memberi isyarat dengan gelengan. Mereka berdua lucu. Aku mengamati keduanya dan menyadari bahwa; meskipun Mahoney bertubuh gajah, berkulit coklat kasar, dan berwajah lebih maskulin dengan rahang lebar, dia berhati feminim. Meskipun Hinaki bertubuh ramping dengan kulit bagaikan porselen dan bentuk dagu meruncing, hatinya lebih maskulin. Melirik Mahoney sekilas, Hinaki menurunkan tangannya lagi.
"Aku tidak akan melanggar janji." Hinaki menjawab Jan dengan enggan.
Jan tampak menimbang-nimbang sejenak. "Baiklah." Akhirnya dia berkata, masih dengan suara aneh dan masih memegangi pipinya yang bengkak jelek. "Toh kurasa kau akan sibuk memiliki musuh lain setelah kau mendengarkan rekaman itu, Brooks." Dengan tertatih-tatih Jan bangun. Aku merangkul lengannya; membantunya berdiri.
"Apa ini ada hubungannya dengan …?" Hinaki bertanya, tapi tidak menyelesaikan kalimatnya.
Jan menatapnya dengan tatapan setengah mengejek setengah bertanya. "Dengan siapa?"
Aku mengira Hinaki akan menjawab 'dengan Ryo', tapi ternyata tidak.
"Dengan.. kau tahu." Dia menggumam, menolak menyebutkan nama.
Jan menatapnya sambil berusaha menyeringai dengan pipi bengkaknya. "Tidak tahu apa maksudmu." Tantangnya. "Sebutkan dulu, baru kuambilkan rekamannya!"
Hinaki menatap ke bawah. Dia tampak ragu, tapi lalu berbisik pelan sambil kembali menatap Jan, "Dengan.. Vincent, Liza, dan Gabri..?"
Jan memberikan senyuman terburuknya. "Kau akan tahu nanti. Rekaman itu akan tetap menarik bagimu meskipun tidak ada hubungannya dengan mereka."
Terseok-seok dia memutar tubuh. Aku mengikutinya, dan baru tersadar bahwa di antara kerumunan orang yang menonton juga ada beberapa guru, tetapi mereka tidak berbuat banyak kecuali mengerutkan kening dengan ekspresi cemas dan menanyai beberapa anak tentang apa yang terjadi. Aku nyaris tidak mempercayai ini. Mereka membiarkan saja waktu Brooks bertindak seperti seorang raja disini? Sungguh, tempat ini bukan sekolahan. Ini neraka.
Jan berusaha berjalan ke arah gedung sekolah. Aku memapahnya.
Kemudian kurasakan seseorang mencekal pergelangan kakiku. Aku terkejut dan menengok ke bawah, mendapati tangan Ryo. Dia sudah bangun.
Matanya menatapku, wajahnya masih kotor, berbilur-bilur dan lecet-lecet. Dia mencengkeram satu pergelangan kakiku dengan dua tangannya. Pandangannya memohon.
Aku terhenyak.
Jan menatap Ryo juga, tetapi Jan tidak tampak kasihan. Kemudian Jan kembali menatap Hinaki, pandangan Jan liar. Aku tahu Jan mengharapkan Ryo dan Hinaki bermusuhan.
Hinaki, Mahoney, dan semua orang kini menatap Ryo. Mahoney yang tidak menduga rekaman itu akan menyakiti Ryo, menghampiri sang Ketua Murid dan menarik tangannya dari kakiku dengan lembut. "Tenang." Mahoney berkata dengan nada menghibur, "Aku akan mendapatkan rekaman itu untukmu, Ryo."
Ryo menggeleng lemah, sesegukan tanpa suara. Mahoney berhasil menarik tangannya dan membantunya berdiri. Ryo tak berdaya dalam rangkulan Mahoney.
Aku menatap Hinaki. Cowok itu mengawasi gerak-gerik Ryo tanpa ekspresi, kemudian kembali memandang Jan. "Teruskan." Perintahnya pada Jan.
"T-Tunggu!" Akhirnya Ryo bisa bersuara. "H-Hinaki, r-rekaman itu tak ada h-hubungannya de-denganmu!" Suaranya gemetar, wajahnya pucat, dagunya gemetaran.
Sebelum Hinaki menjawab, dengan polosnya Mahoney berkata duluan, "Ada! Tadi Iwako menyebut-nyebut Hinaki waktu bertengkar denganmu, Ryo!"
"T-Tidak!" Balas Ryo setengah putus-asa. Dia lalu menatapku dengan pandangan memohon. "R-Rioki, j-jangan….!" Pintanya lemah. Dia tahu dia tidak bisa memohon pada Jan, maka dia memohon padaku. Aku tidak bisa menjawab. Kemudian Ryo menatap Hinaki lagi dan setengah merengek berusaha membujuknya, "Hinaki.. s-sungguh, a-aku tidak apa-apa! R-rekaman itu.. ada h-hubungannya dengan k-keluargaku. Jangan p-percaya.. Jan.. dia pembohong!"
"Tapi..?" Mahoney bergumam, namun Ryo memutus dengan cepat. Dia meronta dari rangkulan Mahoney dan maju selangkah kepada Hinaki. "H-Hinaki, kita teman. K-kau percaya.. a-aku, kan?"
Aku melihat Hinaki membalas pandangannya. Selama sepersekian detik aku menangkap ekspresi ragu, bimbang, dan bingung di wajah Hinaki. Dia mengalihkan tatapannya pada Mahoney dengan pandangan bertanya, seakan bertanya apa yang harus dia putuskan. Mahoney menggaruk kepala sendiri, berpikir sesaat.
Akhirnya Mahoney berkata, "Oke, tidak usah lihat atau dengar rahasia pribadi Ryo!"
Ryo tampak lega, tapi dengan cepat Jan berkata (masih dalam suara kacau), "Brooks! Rekaman itu menyebut-nyebut namamu!"
Ryo menjerit kesal dan menerkam Jan. Aku terhempas ke samping, jatuh dan bertumpu pada sisi tubuhku. Jan dan Ryo sudah bergumul lagi. Dengan cepat Hinaki dan Mahoney maju. Hinaki menarik Ryo dan Mahoney menarik Jan.
"Brooks!" Seru Jan kalap. Suaranya masih kacau, tapi dia tetap berusaha bicara. Dia tidak mau rencananya mengadu-domba mereka gagal. "Brooks, sebaiknya biarkan aku ambil dulu rekaman itu dan kau dengar dulu!"
"Bangsat!" Maki Ryo, "Kubunuh kau!" Dia meronta kuat dalam dekapan Hinaki dengan sia-sia.
Aku melihat; lagi-lagi Hinaki mengerling ke arah Mahoney, yang kini tampak lebih bingung dari Hinaki sendiri.
"Kurasa aku ingin mendengarnya." Akhirnya Hinaki memutuskan, dan Ryo terlonjak kaget.
"Hinaki!" Seru Ryo, "K-kita teman! K-kau tidak akan-?" Tapi dia kehabisan kata-kata.
"Aku akan mendengarkannya seorang diri." Jawab Hinaki, "Kau tak usah kuatir. Kau bisa mempercayaiku. Jika itu memang rahasia keluargamu, aku sumpah tidak akan ada lagi yang tahu."
Ryo terduduk lemas.
Mahoney melepaskan Jan.
"Temani yang lain disini." Hinaki berkata pada Mahoney sambil menghampiri Jan. "Aku akan berdua saja dengan Iwako."
Kemudian dia setengah menyeret Jan pada kerah baju untuk berjalan bersamanya ke gedung sekolah. Aku masih melihat dia melepaskan cekalannya saat di pintu, hanya untuk mendorong Jan berjalan di depannya untuk menunjukkan jalan ke tempat rekaman itu disembunyikan.
Setelah Hinaki pergi, guru-guru mulai melakukan tugasnya, membubarkan para penonton dan menyuruh beberapa anak membawa Ryo ke klinik. Ryo tidak melawan, tampak lesu.
Tanpa dikomando, aku dan Mahoney bergegas ke gedung sekolah; mencari Jan dan Hinaki. Anak-anak lain yang tadi menonton sudah disuruh masuk kelas oleh para guru, tapi aku dan Mahoney terlalu penasaran akan rekaman itu. Aku sih sudah tahu isinya. Aku penasaran akan reaksi Hinaki.
To be continued.
