Paradise School : Rioki Akiyama

Chapter 7.

Aku tidak tahu Mahoney begitu kekanakkan.

Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tak bisa tidur. Aku memikirkan percakapan kami di kedai kopi itu. Masa sih dia memintaku berusaha menjadi teman Hinaki? Sungguh kekanakkan, dan aku menolaknya.

Lagipula, aku yakin Hinaki tidak akan senang. Dia akan merasa terganggu kalau aku berada di sekitarnya, dan dia akan memukulku.

Aku teringat Mahoney bilang ada kesamaan antara aku dengan Hinaki karena kami berdua sama-sama setia pada sahabat kami. Aku memikirkan itu. Kurasa alasan satu-satunya yang membuat Hinaki setia pada Mahoney adalah karena Mahoney sahabat sejati satu-satunya yang dimiliki Hinaki. Aku yakin Hinaki menyadari bahwa semua orang membencinya, dan yang tulus padanya hanyalah Mahoney. Sedangka aku..? Kenapa aku tetap berteman dengan Jan? Entahlah. Persahabatan kami dimulai tahun lalu, dan itu gara-gara dia sedang mencari pinjaman uang untuk bayar sekolah. Dia mencari-cari kemana-mana, sempat dipukul geng Ryo saat mencoba meminjam pada Ryo dan Hinaki. Kemudian Jan memohon padaku, dan kebetulan saat itu pamanku memberiku hadiah uang yang cukup pada hari ulang tahunku. Aku meminjamkan pada Jan. Jimmy yang mengetahui itu marah dan mau menghajarku, dan Jan menyelamatkanku meskipun dia sendiri harus terluka akibat berkelahi dengan Jimmy. Sejak saat itu dia selalu membuntutiku dan menjagaku dari jauh karena kuatir Jimmy membalas dendam padaku. Aku dan Jan jadi akrab, walapun perbedaan kami sangat besar seperti langit dan bumi. Lalu, uang pinjamannya? Tidak pernah dikembalikan. Jan sungguh-sungguh tak punya uang. Aku juga tidak bisa memaksa lagi.

Tapi, asyik juga ya kalau kita berteman dengan seseorang dan orang itu memberikan kita uang dan menjaga kita, seperti Hinaki dan Mahoney? Dalam kasusku, aku meminjamkan uang pada Jan, dan Jan menjagaku sebagai balas budi dan berkelahi demi aku. Dalam kasus Mahoney, Hinaki melakukan keduanya untuknya.

Meski begitu, aku tahu itu bukanlah alasan kenapa Mahoney tetap tulus pada Hinaki, meskipun; bukan rahasia; kadang Hinaki pun sering membentak-bentak Mahoney di depan umum.

Aku tidak bisa tidur malam itu, meskipun Hinaki atau Mahoney bukanlah orang terpenting dalam hidupku yang rumit ini.

.

.

.

Esok harinya, aku berangkat sekolah dengan rasa kuatir dan cemas. Di satu sisi, aku takut Ryo marah dan aku akan kena getahnya juga. Dia pasti ingin membalas dendam peristiwa kemarin yang mempermalukannya. Di sisi lain, aku takut Hinaki marah padaku tanpa sebab, hanya karena aku memergokinya dengan mata sembab. Kemarin dia tidak marah karena masih shock, mungkin hari ini dia marah. Aduh. Dan aku juga takut Mahoney akan kembali bersikap cengeng dan memintaku mendekati Hinaki.

Hidupku sungguh ruwet, kayak benang kusut.

Tapi syukurlah saat aku tiba di tempat parkir dan turun dari motorku, aku tidak melihat satupun dari orang-orang itu disekitarku. Aku bernafas lega, tapi dengan satu pertanyaan: bagaimana dengan jam istirahat atau saat pulang sekolah nanti?

Dan.. Apa Jan baik-baik saja?

Jam istirahat pertama aku sengaja tetap di kelasku. Ada beberapa anak cewek yang juga tidak meninggalkan kelas. Kurasa Ryo tidak berani cari gara-gara disini, tapi kulihat Jimmy bolak-balik di depan pintu kelasku. Aku menundukkan kepala, berusaha tidak memandang ke arahnya. Entah kenapa dia tidak mau masuk ke kelasku, mungkin berpikir bahwa jika dia masuk ke kelasku dan menghajarku di dalam, wali kelasku akan menyalahkannya. Aku sebenarnya tak yakin wali kelasku akan berani menyalahkannya, sebab Jimmy kan dekat dengan Ryo. Tapi pokoknya dia tidak berani masuk.

Bel berbunyi. Aku lolos.

Tetapi sialnya aku tidak bisa melakukan trik yang sama di jam istirahat kedua. Salah seorang teman sekelasku; Marko; berhasil membujukku makan sandwich tuna di kantin. Dia berulang tahun dan sudah mentraktir anak-anak lain kemarin sore waktu aku sedang bersama Mahoney. Dia memaksa mentraktirku sekarang juga dengan berbagai alasan tak masuk akal, tapi akhirnya aku menyetujuinya. Sepanjang perjalanan ke kantin aku hanya bisa berharap geng Ryo tidak ada disana. Semoga mereka tidak lapar.

Aku masuk bersama Marko. Sayang sekali, Ryo dan kelompoknya ada disana; menduduki tempat mereka yang biasa. Nick juga termasuk disitu, tetapi aku tidak melihat Hinaki dan Mahoney, ataupun Jan.

Ryo menatapku dengan ekspresi wajah tak terbaca. Masih ada memar-memar dan lecet di wajahnya. Dia sedang makan. Mudah-mudahan dia lupa untuk memukul. Jimmy juga sedang makan. Yang lainnya di kelompok itu tidak memperdulikanku dan masih tertawa-tawa seperti biasa. Apa mereka tidak tahu apa yang terjadi?

Marko dan aku berbaris di antrian yang memesan makanan. Kami memesan sandwich dan Pepsi, lalu duduk. Aku mencari tempat di arah belakang Ryo agar dia tidak bisa mengawasiku secara langsung, tapi aku duduk menghadap ke arah Ryo.

Baru segigit aku mengunyah sandwich-ku dan hendak mengucapkan Happy Birthday pada Marko, kulihat Hinaki dan Mahoney memasuki ruangan. Entah kenapa aku jadi agak tegang. Mereka berdua berjalan ke meja Ryo dan duduk. Seseorang memberikan tempatnya pada Hinaki, sehingga dia duduk berhadapan dengan Ryo – yang segera berhenti makan. Walaupun dari posisiku aku tidak bisa memandang wajah Ryo, aku tahu dia menatap Hinaki dan sudah berhenti makan.

Dari posisiku ini aku bisa melihat wajah Hinaki. Anak itu tidak menatap ke arah Ryo. Dia menatap ke meja, kemudian melirik sekilas dan mengatakan sesuatu kepada seseorang di sebelahnya. Orang di sebelahnya itu segera bangun dan pergi ke antrian yang mengantre makanan. Mungkin Hinaki minta tolong orang itu mengantri makanan untuknya.

Selang beberapa detik kemudian – dan aku masih mengawasi Hinaki – perlahan dia mengangkat tatapannya dan langsung bentrok dengan mata Ryo. Aku berhenti makan.

"Ada apa?" Tanya Marko. Aku tersentak dan menyadari bahwa sedari tadi dia berusaha mengajakku bicara.

"Tidak apa-apa." Kataku.

"Bohong!" Tuduh Marko. Dia mengikuti arah mataku dan menengok ke arah meja Ryo, kemudian cepat-cepat kembali menatapku dan mencondongkan tubuhnya ke depan seraya berbisik. "Kenapa dengan mereka? Jangan cari gara-gara."

Well, kalau firasatku benar, 'gara-gara' yang akan terjadi bukan disebabkan olehku.

Ryo bangun tanpa berkata apa-apa. Dia meninggalkan makanannya dan berjalan keluar dari rombongan di meja. Aku mendengar beberapa anak menanyainya tapi dia diam saja.

Kemudian Hinaki berdiri.

"Tunggu!" Dia berkata. Aku tahu ucapannya dimaksudkan kepada Ryo, dan kulihat Ryo berhenti melangkah. Marko menengok dan menonton kejadian itu.

Aku melihat Hinaki berjalan keluar dari rombongan di meja, ke arah Ryo. Sekarang mereka berdua berdiri berhadapan di antara dua meja, sungguh menarik perhatian anak-anak yang ada disini untuk menonton mereka. Hinaki lebih tinggi dari Ryo. Dia menatap sang Ketua Murid, sedangkan Ryo – awalnya menunduk, kemudian membalas tatapan Hinaki. Aku bisa menangkap gerakan rahang Ryo. Dia sepertinya bertekad untuk tetap tenang dan tidak mau kehilangan wibawanya sebagai Ketua Murid SMU Paradise School.

"Kau memanggilku?" Tanyanya. Aku tahu dia berusaha tetap menjaga martabatnya.

Aku melirik Mahoney dan melihatnya duduk menonton kedua orang itu.

Orang yang tadi mengantre makanan untuk Hinaki sudah kembali dengan nampan berisi sepiring burger dan segelas teh. Dia tampak bingung, tapi Mahoney mengambil sajian itu darinya dan memakan burgernya.

Aku kembali menatap Hinaki dan Ryo saat Hinaki menjawab Ryo, "Kau pengecut, Sawajiri. Kenapa kau tidak pernah berterus-terang padaku?"

"Apa maksudmu?" Kulihat bahu Ryo agak gemetar dan dia memalingkan muka dari tatapan tajam Hinaki yang usianya lebih muda setahun (atau dua tahun?) darinya.

"Kau ingin aku diusir dari sekolah ini." Sahut Hinaki dengan nada dingin.

Mendengar itu, suasana berubah ribut. Agaknya semua orang berbicara (entah satu sama lain) atau mencoba mengatakan sesuatu pada Hinaki, atau hanya menggumamkan sesuatu sendiri, atau hanya mendesah kaget.

Hinaki tidak perduli. Dia bersikap seakan dia dan Ryo tidak sedang berada di mata publik. "Kenapa?" Desaknya, setengah mengejek, tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Ryo, "Kau takut mengakuinya? Aku tidak bisa salah mengenali suaramu."

"K-Kau mempercayai Jan!" Ryo membalas, suaranya agak gemetar. "A-Aku.. Rekaman itu… A-Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"

"Kau jelas tahu apa yang kubicarakan." Hinaki maju selangkah, dan Ryo mundur dua langkah. Cowok berambut pirang-keperakkan itu mengulurkan tangan ke bahu Ryo, seakan ingin meletakkannya di bahu Ryo, tetapi kemudian tangannya terhenti di udara dan dia menurunkannya lagi. Sepasang mata biru-kelabu kini menatap ke lantai selama beberapa saat, sebelum terangkat kembali ke wajah Ryo.

"Sebenarnya aku tidak pernah menduga kemungkinan itu sebelumnya." Dia berkata lagi, tapi kali ini nadanya lirih.

Ryo terhenyak selama sepersekian detik. "H-Hinaki…." Kudengar dia berbisik. Sayang aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya.

Dan selama sepersekian detik berikutnya, aku mengira seseorang akan menitikkan air mata. Entah Hinaki atau Ryo. Tetapi agaknya aku salah.

"Tidak usah kau jelaskan." Putus Hinaki pada Ryo kemudian, mungkin Ryo sudah membuka mulut dan mengatakan sesuatu tanpa suara. Saat ini aku melihat sepasang bola mata biru-kelabu milik Hinaki itu tampak berkaca-kaca di bawah sinar lampu, ataukah itu hanya perasaanku saja?

Aku mendengar suara rengekan tak jelas dari Ryo.

"Satu hal yang harus kau ketahui." Lanjut Hinaki tanpa memperdulikan rengekan itu, "Aku tidak akan pergi dari sini sebelum waktunya, Sawajiri."

Suara rengekan menghilang. Ryo terdiam.

Kukira Hinaki akan memukul Ryo, ternyata tidak. Dia memutar tubuh dan berjalan keluar dari kantin. Langkahnya tenang dan tidak tergesa-gesa, tapi kepalanya tertunduk sedikit. Mahoney segera bangun, meninggalkan makanannya dan bergegas menyusulnya. Keduanya meninggalkan kantin.

Bel berdering.

Anak-anak lain di meja Ryo bangun mengerumuni Ryo, menepuk-nepuk pundak dan punggungnya, beberapa merangkulnya, dan mereka mengajaknya kembali ke kelasnya sambil berbisik-bisik.

Setelah hari itu, Hinaki menghindari Ryo dan Ryo juga menghindari Hinaki. Keduanya berusaha untuk tidak saling bertemu; sebisa mungkin. Jika ada laporan atau pengaduan dari anak-anak yang menyangkut tentang Hinaki, Ryo tidak akan menggubrisnya, tetapi itu juga berarti Ryo tidak menghukum Hinaki apa pun yang diperbuat si cowok berambut pirang-keperakkan itu kepada anak-anak lain, padahal Ryo adalah Ketua Murid yang memiliki hak dan tanggung-jawab untuk menegur anak-anak yang berbuat salah. Di sisi lain, Hinaki juga tidak menjawab laporan atau pengaduan yang diberikan sahabat-sahabatnya yang lain yang menyangkut tentang Ryo. Keduanya bersikap seperti tidak pernah saling kenal. Meski begitu, dalam hal-hal lainnya (kecuali segala hal yang berhubungan dengan Hinaki), Ryo kemudian menjadi Ketua Murid yang cukup baik dan cukup disukai. Lalu dia sempat "jadian" dengan Claudia selama sebulan.

Anak-anak lain; anggota geng mereka yang lain; (kecuali Jimmy), semua bersikap netral. Mereka berbicara dan menemani Ryo seperti biasa, tetapi mereka juga berbicara dan menemani Hinaki di lain kesempatan. Jimmy memilih untuk menghindari Hinaki, sedangkan Mahoney memilih untuk berusaha bersikap netral, meskipun – tentu saja – Mahoney lebih menyukai Hinaki dibandingkan dia menyukai orang lain.

.

.

.

Jan sempat putus-asa saat mengetahui Claudia dan Ryo pacaran. Jan menyukai Claudia sejak lama. Tahun lalu Jan bahkan pernah membawa pisau ke sekolah dan mengancam akan bunuh-diri jika Claudia menolaknya. Saat itu, masalah itu ditenangkan oleh Ryo, Hinaki, dan Ketua Murid sebelum Ryo.

"Rencanamu gagal." Aku berkata pada Jan. Kami berdua duduk di kamar kost-nya. Lagi-lagi aku mengantarnya pulang hari ini karena dia tidak sehat. Dia batuk-batuk terus. Aku mengamati pipinya yang dulu bengkak akibat pukulan tangan Hinaki. Bengkaknya sudah kempis sekarang. Butuh waktu tiga bulan.

"Siapa perduli?" Jawab Jan, menghisap rokoknya, "Aku ada rencana lain."

"Apa itu?" Tanyaku penasaran.

"Kau akan lihat nanti." Dia tersenyum misterius.

Aku tak menjawab. Aku sih tidak mau ikutan. Aku beruntung semenjak saat itu rupanya diam-diam Mahoney telah meminta pada anggota geng Ryo agar berhenti menggangguku dan tidak memukulku. Mereka sekarang lebih bersikap ke arah 'Rioki tidak pernah ada'. Sedangkan terhadap Jan… well, mereka masih membenci Jan dan berusaha memukulnya jika ada kesempatan. Jan sendiri semakin sering melontarkan caci-maki kasar dan sumpah-serapah kepada mereka. Aku kasihan pada Jan.

Aku teringat sesuatu dan iseng-iseng bertanya, "Omong-omong, apa sih yang membuatmu sangat membenci Hinaki Brooks? Aku ingat kau pernah bilang bahwa sasaran utama-mu sebenarnya adalah Brooks."

Ekspresi wajah Jan berubah. Dia terbatuk dan mematikan rokoknya di asbak. Aku agak kaget melihat cahaya wajahnya seperti menggelap.

"Hinaki. Dia….." Jan terdiam sesaat, tampak ragu apakah dia harus menceritakan rahasia ini atau tidak. Dia menatapku dengan matanya yang kuyu. "Rioki, berjanjilah kau takkan mengatakan ini kepada orang lain."

"Aku janji." Jawabku penasaran.

Dia mengangguk, memutuskan untuk mempercayaiku. Dia memalingkan muka sejenak, kemudian bercerita dengan parau, "Aku membenci Brooks karena ayahnya."

"Komisaris Yujiya?" Aku kaget. Ayah Hinaki adalah seorang abdi masyarakat yang terkenal disiplin dan kaku, namun selalu menegakkan keadilan dan anti-koruptor.

"Yeah." Jan mengangguk lagi. Kebencian terpatri di wajahnya yang ekspresinya tampak kaku dan keras seperti terbuat dari batu. "Separuh derita hidupku disebabkan karena dia. Aku terjerumus begini jauh karena dia."

"Apa maksudmu?" Putusku bingung.

"Kau ingat, waktu pertama kali aku tiba di ibukota dari dusun, aku tinggal bersama almarhum bibiku. Beliau memang tidak terlalu baik, tapi bersamanya jauh lebih enak daripada hidup seperti tikus dalam sampah di rumah kost yang jorok ini dan menjadi budak pemuas nafsu seks ibu kost-ku hanya supaya aku bisa tinggal gratis." Mata Jan seperti berair. "Bibiku.. adalah pecandu narkotik. Suatu malam, di diskotik, Komisaris Yujiya menangkapnya dalam penggeledahan. Dia tidak mau mendengarkan kata-kata bibiku dan memasukkannya ke penjara bersama yang lain. Tetapi kondisi bibiku lemah. Dia meninggal di pagi harinya."

Aku terhenyak.

Senyum sedih terlukis di wajah Jan yang malang.

"Hinaki Yujiya adalah satu-satunya putra Komisaris Yujiya." Dia meneruskan. "Aku ingin membuatnya menderita, sebagaimana hidupku sudah hancur dan menderita sekarang. Aku sudah berada di lubang hitam. Aku tidak bisa keluar lagi. Aku tahu hidupku akan berakhir mengenaskan dan aku sudah kehilangan masa depanku. Apa salahnya aku memberi diriku sedikit kesenangan dan membalas dendam sedikit? Aku tidak akan membunuh Hinaki, tapi aku ingin melihat dia sangat terpuruk dan sangat menderita; sekali saja."

Aku tidak bisa menjawab.

"Aku ingin melihat Hinaki kesakitan." Jan berbisik lagi, mengepalkan tangan.

Kepalaku pusing. Satu hal yang kutahu sekarang, kisah hidup Jan lebih rumit dariku. Dan kisah hidup Hinaki tentunya lebih rumit dariku juga. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Hinaki membenci ayah kandungnya sendiri dan nyaris tidak mengakuinya lagi (walaupun sang ayah belum mengetahui itu). Hinaki bahkan mengganti nama belakangnya menjadi "Brooks"; marga ibunya waktu muda. Dan, ironisnya, Jan membencinya karena ayahnya; ayah yang selalu dibenci Hinaki sendiri. Tapi darah tetaplah darah, garis keturunan tetaplah garis keturunan. Jan yang tidak bisa membalas dendam kepada Komisaris Yujiya, tentunya jadi mengincar Hinaki yang kebetulan satu sekolah dengannya. Aku ragu Hinaki sendiri mengetahui alasan kenapa Jan membencinya sedemikian jauh. Mungkin Hinaki tidak perduli, karena sudah terlalu banyak orang yang membencinya. Dia pasti mengira bahwa pukulan-pukulan tangannya yang pernah mendarat di tubuh Jan-lah yang membuat Jan mendendam padanya.

Aku tidak begitu dengar kata-kata Jan berikutnya. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Sekolah ini terkutuk. Anak-anak disini terkutuk. Dan hidup kami lebih rumit daripada hidup yang seharusnya dijalani anak muda biasa yang kelak akan menjadi tiang-tiang Negara.


End.


Sampai jumpa di kesempatan lain. Seri cerita Paradise School juga telah menelurkan tiga episode lainnya :

- Paradise School : The Saga (asli cerita ini),

- Paradise School : St. Moris,

dan

- Paradise School : Story of Small Revenge.

( Penulis juga tengah menulis spin-off/compilation terbaru dari seri ini)