Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya punya saya.

Summary : Cinta… Semua orang di Konoha mulai terkena wabah cinta…

By : Filladelfia

Cerita Sebelumnya : Para tokoh kita sedang tahap perkenalan.. pada chap ini mungkin sedikit PDKT

Musim Cinta Di Konoha

Sakura merebahkan tubuhnya. Sasuke… kapan, aku akan mendapatkanmu?? Pikiran itu terus saja membayanginya. Kalau dipikir-pikir, masih ada saja orang yang sedingin itu. Sakura menutup kepalanya dengan bantal.

***

Ino baru saja menutup tokonya, ketika seseorang datang berkunjung. Ino menoleh terkejut. "Sai," katanya sedikit karena terkejut. Hmm… sebenarnya dalam hati dia bersorak senang karena bertemu dengan pujaan hatinya. Sai tersenyum.

"Maaf, Ino, tokonya sudah tutup ya?" kata Sai masih tetap tersenyum. Ino menatap Sai. Orang ini selalu saja tersenyum…

"Hei," Sai berkata lagi karena mendapati Ino masih menatapnya seperti itu.

"Oh, ha? Apa?" Ino berkata seperti orang bingung karena kaget.

"Tokonya sudah tutup? Sayang sekali!" Sai berkata kembali.

"Ah, memangnya Sai mau beli bunga?" kata Ino tiba-tiba. Sai hanya mengangguk kemudian berniat berbalik. Ino tidak rela kalau Sai cepat-cepat pulang.

"Anu, Sai, masih buka. Ini belum seluruhnya tutup. Memangnya Sai mau beli bunga untuk apa?" katanya sambil membuka kembali pintu yang hendak ditutupnya. Ia kemudian menarik tangan Sai dan membiarkannya masuk.

"Bunga apa?" dia berkata sambil memperhatikan wajah Sai. Sai berjalan ke suatu arah dan mengambil beberapa tangkai bunga. Itu adalah bunga yang biasa digunakan untuk orang yang sudah meninggal. Ino mengerutkan keningnya. Oh, mungkin untuk kakaknya…

"Hari ini mau ke makam kakakmu ya?" kata Ino memperhatikan Sai. Sai mengangguk dan tersenyum.

"Bolehkan aku ikut?" Ino memohon. Sai tampak berpikir sebentar kemudian menggeleng.

"Maaf, tapi tidak," katanya tersenyum. Ino hanya mengangguk sedih. Sai memperhatikan raut wajah Ino. Ia kemudian tersenyum lagi. Mereka melanjutkan aktivitasnya. Sai membayar sejumlah uang kepada Ino kemudian berbalik meninggalkan toko bunga Yamanaka.

"Sai, kapan-kapan apa aku boleh ikut?" Ino masih berharap. Sai berhenti melangkah. Dia menoleh.

"Kau ini keras kepala, ya?" Sai menjawab dengan tersenyum. Ino terkejut mendengarnya.

"Ya, aku akan terus meminta sampai kau sendiri bosan! Karena aku… ingin bersamamu!" Ino menjawab dengan sedikit blushing. Tak disangka ia mengatakannya. Sai tersenyum kemudian berbalik kembali dan keluar dari Toko Yamanaka. Ino tersenyum. Hmm… sepertinya dia melihat Sai mengangguk tadi, walaupun seperti tidak terlihat. Ino berjalan ke depan toko dan menutupnya.

***

"Perempuan itu cerewet sekali!" Shikamaru keluar dari rumah kemudian perlahan berjalan. Temari sudah menunggunya di depan rumahnya.

"He, kau pemalas. Ayo cepat bergegas. Kita harus keliling desa malam ini!" kata Temari yang ditugaskan oleh Desa Suna untuk menjaga di desa Konoha sementara waktu. Shikamaru memandang sebal ke perempuan itu.

"Semua perempuan di dunia itu terlalu cerewet," katanya sambil meletakkan tangan di dalam sakunya dengan tampang malas. Temari memandang Sahimaru sebal kemudian tangannya maju menjewer kuping Shikamaru yang belum sempat mengelak.

"Hei, apa yang kau lakukan, perempuan?" kata Shikamaru mencoba melepaskan tangan Temari dari telinganya.

"He, kau pikir kau ini siapa? Berani mengatakan perempuan cerewet, Ha?" kata Temari mempererat jewerannya. Shikamaru semakin menjerit kesakitan.

"Hei, memangnya ada yang salah? Perempuan memang selalu cerewet!" kata Shikamaru mempertahankan pendapatnya selama ini. Temari melepaskan jewerannya.

"Pemalas, laki-laki tak ada gunanya kalau tak ada perempuan, mengerti?" Temari kembali berjalan. Shika menatap sebal. Dia mengusap-usap telinganya kemudian berjalan menyusuri desa bersama Temari.

***

Pagi yang cerah di Konoha…

"Hmm… Jadi Hinata akan misi dengan Naruto ya?" Kiba berkata dengan nada menggoda. Hinata yang digoda hanya menatap Kiba malu-malu. Shino hanya menatap mereka berdua.

"Sukses deh, aku mau misi dengan Shino!" Kiba berkata sambil menunjuk Shino. Hinata mengangguk malu-malu.

"Oi, Hinata…!" suara cowok periang nan cempreng itu memecah keheningan sejenak. Hinata menoleh. Tampaklah Naruto berlari menghampiri mereka.

"Hinata ayo berangkat,"

Hinata kemudian membarengi Naruto yang berjalan duluan.

"Naruto… jaga Hinata baik-baik yah?" Kiba berteriak. Naruto menoleh kemudian mengacungkan jempolnya.

"Iya…!"

Hinata berjalan sambil menundukkan wajahnya.

"Eh, Hinata, maaf soal kemaren ya?" Naruto membuka percakapan. Hinata mengangguk.

"Tak apa Naruto," Hinata berkata sambil tersenyum, tidak ketinggalan wajahnya yang sedang blushing menatap Naruto. Naruto memandang Hinata tersenyum,"Baguslah. Hinata baik sekali ya? Aku suka dengan orang seperti Hinata," kata Naruto tersenyum. Hinata yang mendengarnya langsung blushing berat. Dia kemudian menatap Naruto. Naruto juga sedang menatapnya sambil meletakkan tangannya di belakang kepalanya seperti biasanya. Naruto bingung dan berkata,"Kenapa Hinata?" Hinata hanya menggeleng lemah.

***

Sakura sedang berjalan ke kantor Konoha karena dipanggil Tsunade untuk misi. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sasuke yang kelihatannya juga sedang berjalan ke Kantor Konoha.

"Sasuke?" Tanya Sakura yang langsung membarengi Sasuke. Sasuke menoleh sebentar.

"E, Sasuke mau ke Kantor Konoha juga?" Tanya Sakura.

"Hn," Sasuke menjawab. Sakura menghembuskan nafas. Orang ini… selalu saja menjawab begitu.

"Kalau begitu, sekalian saja," Sakura berkata. Sasuke hanya terdiam. Mereka pergi ke Kantor Konoha bersama. Dan… kebetulan, dipanggil oleh Tsunade untuk menjalankan misi berdua… ya, berdua.

"Hm, jadi, tugas kalian hanya mengawal sang Pangeran kembali ke Desanya, Desa Angin," kata Tsunade sambil meletakkan tangan di depan dagunya.

"Baiklah," Sakura mengangguk.

"E, kali ini hanya kalian saja. Shinobi yang lain sudah diperintahkan oleh misi. Sasuke memfokuskan diri dalam pertarungan, dan Sakura yang akan menangani masalah medis. Dengin begitu, kalian bisa menjalankan misi dengan baik!" Tsunade berkata tegas. Sasuke dan Sakura kembali mengangguk. Mereka berdua segera meninggalkan Kantor Konoha, dan tanpa basa-basi lagi segera berangkat mengawal sang Pangeran yang saat ini tengah ada di Konoha.

***

"Iya," tenten segera berlari keluar rumah. Di luar, Neji dan Rock Lee sudah menunggunya.

"Lama sekali," kata Lee ketika Tenten sampai.

"Hei, aku kan baru makan, yang penting sekarang sudah selesai," jawab Tenten ketus. Mereka bertiga kemudian berangkat untuk latihan kembali.

"Hmm… kenapa kita jarang sekali misi, ya?" Tanya Lee ketika hampir mencapai lapangan tempat mereka berlatih.

"Ng, entahlah. Mungkin sudah diambil oleh shinobi yang lain. Menurutmu bagaimana Neji?" Tenten melempar pertanyaan ke Neji.

"Mungkin," katanya pelan. Akhirnya mereka sampai ke tempat latihan. Dan… mulailah mereka berlatih jurus-jurus dan menyempurnakannya.

***

"Uh, setelah ini, menjaga Toko," seorang cewek berambut pirang keluar dari Rumah sakit. Ino, baru saja mendapat tugas untuk merawat beberapa shinobi yang terluka di tempat itu. Ino berjalan sambil menikmati hawa pagi. Pagi ini cerah, dan ia menyukainya. Ia berjalan menuju ke rumahnya. Ketika itu, ia melihat Sai duduk di sebuah taman, tepatnya di bawah pohon. Sepertinya dia sedang melukis. Ino mengerutkan dahinya, ia kemudian mendekati Sai.

"Em, Sai, bolehkah aku duduk?"

Sai mengamati Ino kemudian tersenyum dan mengangguk. Ino langsung duduk di sebelah Sai, dibawah pohon yang rindang.

"Kau sedang apa?" tanyanya mengamati lukisan yang dibuat oleh Sai.

"Wah, indah sekali," kata Ino memuji lukisan Sai yang memang indah. Sai hanya tersenyum. Ino terus mengamati lukisan pemandangan di depannya. Berkali-kali ia berdecak kagum. Sedangkan sai terus melanjutkan aktivitasnya.

"Eh, ngomong-ngomong Sai. Menurutmu, bagaimana dengan perintah Tsunade yang mewajibkan Chuunin menikah itu?" tanyanya sambil matanya terus mengawasi setiap gerakan kuas oleh tangan Sai. Sai berhenti melukis. Tapi, matanya tetap terpaku pada lukisannya. Dia tersenyum. "Entahlah," katanya kemudian kembali melanjutkan lukisannya. Ino tersenyum. Memandang Sai lalu berkata lagi," Eh, apa kamu kepikiran siapa yang akan kaujadikan istri nanti?" tanyanya lagi. Kali ini dengan suara yang agak pelan.

"Eh, aku tidak tahu," kata Sai terus melanjutkan lukisannya lagi. Ino mengerutkan keningnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam.

"Bagaimana kalau Sai menikah denganku nanti?" tanyanya lancar dengan intonasi yang datar. Ino langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jantungnya berdebar-debar. Aduh…ia tak membayangkan akan mengatakan itu kepada Sai. Seberani itu! Ia tak menyangka. Dan sampai sekarang, jantungnya masih berdebar-debar dengan kencang. Sunyi… itu yang Sai dan Ino rasakan. Hanya hembusan angin yang terasa. Dan Ino masih menunggu sesuatu yang akan dikatakan oleh orang disebelahnya itu. Tapi… ternyata sampai beberapa menit ke depan, tak ada sahutan. Ino menoleh, Sai masih menggoreskan kuasnya, masih melukis.

***

"Aku MAU! Terimakasih," kata Chouji ketika disuguhi snack oleh Shikamaru. Chouji langsung melahap snack itu, tanpa peduli dengan sahabatnya itu. Hmm… memegang prinsipnya selama ini terhadap makanan.

"Shika, menurutmu, kamu akan menikah dengan siapa?" Tanya Chouji sambil terus mengunyah. Shikamaru menguap. Membaringkan tubuhnya, menatap awan.

"Hmm, aku tidak tahu," katanya memperhatikan awan-awan itu.

"Dengan Ino?" Chouji masih terus melahap snacknya. Shika menguap lagi.

"Tentu saja bukan, dia itu terlalu cerewet!" kata Shikamaru. Chouji tersenyum. "Lalu dengan siapa?" tanyanya lagi.

"Entahlah," Shikamaru mulai tertidur.

***

"Woooo…" tiba-tiba Tenten terjatuh dari pohon. Dengan sigap Neji menangkap tubuhnya dan membawanya ke bawah pohon.

"Terimakasih, Neji," jawab Tenten malu-malu.

"Kau kenapa Tenten?" Tanya Lee menghentikan latihannya dan berjalan menghampiri Tenten. Tenten menutup sebelah matanya dan berkata,"Em. Sepertinya aku kelelahan," jawabnya mengusap dahinya.

"Ha? Padahal kau sudah makan? Bukankah seharusnya kau lebih berenergi?" Tanya Lee sambil berjongkok di depan Tenten.

"Iya sih, tapi… aku sangat lelah. Lagipula ini juga sudah lama kok, latihannya!" Tenten mencoba membela dirinya sendiri.

"Ya sudah, lebih baik kau istirahat saja disini!" Neji berkata bijak kemudian berdiri.

"Kau boleh makan sekarang, Tenten!" lanjut Neji yang membuat Tenten kaget. Ternyata… Neji perhatian juga!

"Ya, kau istirahat saja," kata Lee kemudian mulai berbalik dan mulai berlatih lagi dengan Neji sebagai partnernya. Tenten hanya memandang mereka berdua. Uh, dia mengusap keringatnya di dahi.

***

"Jadi, misi kita apa, Naruto?" Tanya Hinata sambil menunduk.

"E… kita disuruh mengantarkan surat ini kepada Gaara," kata Naruto memperlihatkan sebuah gulungan kecil kepada Hinata. Hinata hanya mengangguk.

"E, nenek Tsunade itu sepertinya merendahkan kita, Hinata! Masa, kita diberi misi yang begitu mudahnya!" kata Naruto memajukan bibirnya. Hinata tersenyum kecil.

"Bukan begitu, pasti ada alasannya," hinata berkata sambil terus melompat ke dahan-dahan selanjutnya. Mereka berangkat ke Desa Suna, menemui sang Kazekage.

SUUUTTTT sebuah kunai melayang tepat di depan wajah Naruto, mengagetkannya. Naruto berhenti lalu memandang sekeliling. Hinata langsung menggunakan Byakugannya, mencari darimana/siapa kunai itu berasal.

***

"Hmm… jadi cuma kalian yang mengantarkan aku? Tak ada yang lain?" Tanya pangeran dari Desa Angin. Pangeran Kaze. Wajahnya cukup tampan, yah, tapi masih kalah bersaing dengan Sasuke.

"Ya," Sakura menjawab. Ia mengerutkan kening. Hei, meski hanya kami, tapi kami bisa kok! Jangan merendahkan kami ya! Sedangkan Sasuke memandang Pangeran itu dengan pandangan tidak suka.

"Hmm… kenapa sih, orang semanis kamu mau menjadi shinobi?" Tanya Pangeran Kaze kepada Sakura (Hmm… seperti adegan dalam Naruto the Movie). Dia menggenggam tangan Sakura dan berniat menciumnya. Sakura langsung menarik tangannya dari Pangeran itu dan menjauh.

"Hmm… kau ini, sok jual mahal. Tapi… aku suka!" katanya tersenyum. Sakura merinding. Uh, dasar. Pangeran aneh…!

"Ayo berangkat," kata Sasuke membalikkan badannya, bersiap keluar dari ruangan di salah satu Kantor Konoha. Sakura langsung mengikuti Sasuke. Pangeran Kaze hanya tersenyum dan mengikuti mereka.

"Hmm… seharusnya aku berada di tengah, sedangkan nona ini ada di samping, atau di depanku. Kau, di belakangku saja!" Pangeran Kaze berkata kepada Sasuke. Sasuke lagi-lagi hanya menatapnya dengan pandangan tak suka. Ya..ya. pangeran ini sebelumnya tidak dikawal oleh pengiringnya, tak berada di dalam tandu seperti seharusnya. Hmm.. pangeran ini sebentar lagi akan dilantik menjadi Hokage di desanya. Dan… pangeran ini cukup kuat. Sehingga ia merasa shinobi lain lebih lemah daripada dia sendiri. Dan perasaan itulah yang mengubahnya menjadi Pangeran sombong. Mereka beriga berangkat dengan formasi yang ditetapkan Pangeran. Hanya, Sakura berada di depan, disusul Pangeran Kaze, kemudian baru Sasuke di belakang.

***

"… Aku cuma…" Ino akhirnya berkata setelah dari tadi tak ada jawaban dari Sai. Sai lagi-lagi berhenti menggoreskan kuasnya. Dia berhenti. Dia menoleh kepada Ino dan tersenyum. Ino memandang senyum itu. Sebenarnya, apa arti senyummu itu?

"Jadi…" Ino masih penasaran dengan cowok di sebelahnya itu. Sai tetap tersenyum.

"Aku belum memikirkannya," jawabnya melanjutkan kegiatannya. Ino menunduk dengan wajah kecewa. Sudah. Sudah sulit sekali ia mengatakannya dengan Sai. Tapi, sepertinya ia belum bisa mendapatkan jawabannya sekarang. Tapi, paling tidak, sekarang ia hanya akan menunggu jawaban dari seorang pujaan hatinya. Ino kemudian tersenyum. "E, kalau begitu aku pulang dulu ya? Aku mau menjaga toko!" jawabnya berdiri, membersihkan kotoran yang menempel pada bajunya. Kemudian berbalik. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, ia berkata,"E, aku akan terus menunggu jawabanmu!" katanya kemudian langsung berlari, meninggalkan Sai yang kini mulai melanjutkan aktivitasnya lagi.

***

Filladelfia : E, emm… jujur ya. Aku rada-rada pusing membuat bagaimana jadinya pairing kita nanti ini. Soalnya bingung juga, melihat karakter asli mereka masing-masing yang sulit disatukan. Dan aku mencoba mendekatkan dengan karakter aslinya meskipun banyak yang meleset. Soal Ino, memang dia pemberani kan? Dia sukanya ceplas-ceplos kan? Yah, mungkin cuma itu saja. Selamat membaca di chap berikutnya.