Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya punya saya.
Summary : Cinta… Semua orang di Konoha mulai terkena wabah cinta…
By : Filladelfia
Cerita Sebelumnya : tokoh kita sedikit megalami kemajuan untuk mendapatkan cintanya. Demi menjalankan perintah Tsunade sekaligus mendekati orang yang mereka suka. Di chap ini, yah mungkin masih kelanjutan yang kemarin. Tapi, ini lebih mendekat dan mendetail lagi.
Musim Cinta Di Konoha
"Awas Naruto," hinata berteriak. Terlambat. Sesuatu terlalu cepat, menyergap tubuh Naruto. Sepertinya, pertarungan akan dimulai…
Naruto dan Hinata melawan beberapa shinobi. Tepatnya 15 menurut prediksi Hinata. Shinobi musuh tersebut mempunyai keahlian, yaitu pada kecepatannya yang melebihi orang normal, Lee sekalipun. Jadi, cuma bisa mengandalkan Byakugan milik Hinata, ya, Byakugan cukup membantu memprediksi ke mana para shinobi itu bergerak dan mengandalkan keberuntungan. Naruto dan Hinata sudah mulai pertarungan.
***
"Sudah selesai?" Tanya Tenten tersenyum kepada dua sahabatnya yang menuju ke pohon tempatnya bersandar. Kedua temannya itu mengangguk dan mengambil posisi duduk di dekatnya, membuka bekal masing-masing dan mulai makan.
"Kau belum makan?" Tanya Neji memperhatikan Tenten. Tenten menggeleng.
"Aku menunggu kalian dulu," katanya tersenyum kepada Neji. Neji yang melihatnya mengerutkan keningnya.
***
Tengah Hari…
"Heh… Pemalas! Bangun kau!" Temari mengguncang-guncangkan bahu Shikamaru, membuat cowok ber-IQ tinggi itu merasa terganggu. Shikamaru kemudian mengambil posisi duduk, dengan mata yang masih setengah tertutup.
"Cerewet," cuma itu kata-kata yang dikeluarkannya, menatap Temari.
"Hei, kau ini!!! Dasar pemalas… Kau lupa ya? Hari ini kita disuruh menjaga desa lagi!!!" Temari mulai sewot, mengambil ancang-ancang untuk menjewer telinga cowok pemalas itu. Eit, Shikamaru ternyata lebih cepat mengelak. Sedangkan Temari yang sudah melancarkan serangan dengan memajukan badannya tidak bisa menjaga keseimbangan. Jadilah, dia menubruk Shikamaru. Ehm…
***
"Hei, kau! Terlalu lambat!!!" Pangeran Kaze tiba-tiba berteriak kepada orang dibelakangnya. Sasuke menatapnya dengan pandangan tajam.
"Kau!!!" Sasuke sepertinya tidak bisa menahan kesabarannya.
"Hei! Kau ini apa-apaan, Ha? Memangnya kau tidak tahu siapa aku?" Pangeran Kaze berteriak ketika Sasuke mencengkeram bajunya dan berniat menghajarnya. Sakura menoleh ke belakang, melihat Sasuke dan Pangeran hendak berkelahi, dia segera mendekati mereka.
"Kau hanya orang sombong!" kata Sasuke yang mana membuat Pangeran marah. Mereka berdua langsung melancarkan serangan masing-masing. Mereka berdua, masing-masing merasa lebih hebat daripada yang lain dan berniat membuktikannya.
"Hentikan!" teriak Sakura membuat kedua orang yang hendak berkelahi itu menoleh. Hanya sejenak. Tapi kemudian berlanjut lagi, kali ini Sasuke dan Pangeran Kaze benar-benar berkelahi. Sakura menatap mereka bingung, ia berkeringat dingin. Bagaimana ini? Ia mendekati kedua orang yang sedang berkelahi itu. Pangeran Kaze terlempar menatap pohon kemudian jatuh. Sakura dengan cepat mendekati Pangeran. Naas, tepat saat itu, Sasuke sedang melancarkan pukulannya untuk sang Pangeran. Tak ayal, Sakura yang terkena pukulan itu. Sasuke tidak bisa menghentikan pukulannya, mengenai Sakura. Sekarang, Sakura terlempar beberapa meter jauhnya dari Pangeran Kaze.
"Sakura!!!" teriak kedua laki-laki yang menemaninya bersama-sama.
***
"Hinata!!" Naruto berteriak ketika Hinata terkena pukulan shinobi itu. Naruto segera berlari menghampiri Hinata yang jatuh terduduk.
"Apa mau kalian?" Tanya Naruto marah, masih memperhatikan para shinobi yang mengelilingi mereka. Tinggal sekitar 7 lagi, karena selebihnya sudah berhasil dikalahkan.
"Gulungan itu!" seorang shinobi mewakili teman-temannya. Naruto menggeram. Shinobi itu terus menyerang Naruto dan Hinata. Naruto kali ini hendak menjadi kyuubi. Tetapi masih ekor 1. ia mulai mengamuk, menghabisi beberapa shinobi di depannya. Semua berhasil kalah, diantaranya sudah mati. Tinggal 1 shinobi yang belum dibereskannya. Matanya menatap tajam ke arah shinobi itu.
"Na… Naruto…" Hinata mulai memperhatikan orang yang dicintainya tersebut. Tampak mengerikan. Ia segera berlari menghampiri Naruto, kemudian memeluknya. (Seperti Sakura yang memeluk Sasuke saat ujian chuunin di hutan). Naruto setengah kaget. Berhubung masih mencapai ekor 1, ia masih sadar. Ia bisa mengontrol dirinya sendiri kembali seperti semula. Mereka berdua terjatuh.
"Na… Naruto!" kata Hinata mulai meneteskan air mata. Ia begitu tersiksa sendiri melihat Naruto yang berubah menjadi seperti itu. Naruto yang melindunginya. Hinata menangis.
"Hinata…" Naruto memandang wajah gadis itu. Ia merasa iba. Dihapusnya air mata gadis itu.
"Semua baik-baik saja," katanya tersenyum. Naruto kemudian memeluk Hinata erat. Menenangkan gadis yang menangis itu. Gadis itu tetap menangis, walaupun begitu, terlihat wajahnya mulai memerah karena dipeluk oleh seseorang yang amat dicintainya.
***
Mereka berdua masih dalam posisi yang sama. Mereka saling berpandangan. Mereka berdua masih sama-sama terkejut.
"Shika, Tema, kalian ini…" kata Chouji yang sedari tadi memperhatikan mereka. Temari segera sadar kemudian bangun dan mengelap bajunya.
"Cih…" hanya kata itu yang bisa diucapkannya. Temari… malu! Bagaimana bisa? Shikamaru ikut mengelap bajunya sendiri.
"Kalian ini mesra sekali ya?" Chouji berkata sambil tersenyum. Temari yang masih blushing menatap Chouji melotot.
"Hee.. itu hanya kecelakaan tahu! Memangnya aku mau dengan si Pemalas ini?" katanya setengah berteriak sambil tangannya menunjuk ke arah Shikamaru yang malah menguap.
"Dasar, cerewet. Memangnya kau pikir aku mau?" katanya masih menguap. Temari melotot kepada pemuda rambut nanas itu. Dengan sekali gerakan ia berniat memukul pria itu. Tapi, Shikamaru masih bisa mengelak.
"Kau ini! Sepertinya mau lagi?" kata Shikamaru enteng. Mendengarnya Temari langsung berteriak,"APPAAAA?? Cih, dasar bodoh! Mana sudi aku," katanya membuang muka. Chouji mengamati mereka tertawa.
***
"Ugh, tengah hari ya? Hmm.. apa yang bisa aku lakukan? Hanya menjaga toko seperti ini tentu saja membuatku bosan! Sakura sedang misi, aku tak ada teman menggosip. Uh!! Membosankan…!" Ino berkata sendiri. Ia melihat sekeliling tokonya. Sepi. Ia mulai menguap. E… Apa sekarang yang dipikirkan Sai tentang aku ya? Apa? Uh, apa dia akan membenciku? Aduh… Ino… Apa yang aka dilakukan Sai jika bertemu denganku lagi… apa??? Ino mulai mengusap-usap kedua pipi dengan tangannya. Ino mulai berjalan megelilingi tokonya, menghilangkan rasa bosan dan suntuk.
***
"Ayo, kita ke Suna segera!" Naruto berdiri kemudian membantu Hinata berdiri. Hinata mengangguk. Mereka berdua segera bergegas ke Desa Suna. Hinata menatap Naruto malu-malu. Dia malu sekali karena Naruto tadi memeluknya. Na… Naruto…
"Kenapa Hinata? Apa kau sakit? Eh, kau tidak terluka kan?" Naruto bertanya khawatir. Sedangkan Hinata hanya mengeleng cepat. Dia gugup sekali.
***
"Sakura… kau tidak apa-apa?" Tanya kedua laki-laki itu kepada Sakura yang kini terbaring. Ia menahan sakit. Pipinya bengkak. Meski begitu, ia tetap sigap mengobati dirinya sendiri dengan kemampuannya. Sasuke segera mengangkat Sakura ke bawah pohon dan mendudukannya di sana.
"Ini semua gara-gara KAU!" Pangeran Kaze menunjukkan jarinya ke depan wajah Sasuke yang sedang berjongkok di samping kiri Sakura. Sasuke menggeram. Dia menahan marah.
"Kalau bukan karena kau yang sok, ini tak akan terjadi!" balasnya sengit.
"Ya, tapi kau!! Jika kau adalah ninja, seharusnya kau bisa menghentikan seranganmu sendiri, bukannya mengenainya. Kau… TIDAK PROFESIONAL!!" Pangeran Kaze berteriak. Sasuke mulai melayangkan tinjunya. Tapi sesuatu membuatnya terhenti. Sesuatu yang erat menahannya, menahan tangannya. Dan itu adalah sebuah pelukan.
Sakura memeluk Sasuke… kali ini tidak seperti dulu, dari belakang. Melainkan dari depan. Dia menghentikannya. Sasuke terkejut sebentar.
"Hentikan Sasuke!" katanya tegas sambil tetap terus memeluk Sasuke erat. Sasuke mulai menurunkan tangannya. Membatalkan 'hadiah' untuk Pangeran Kaze. Sedangkan Pangeran Kaze hanya menatap kedua orang itu tertegun. Inner Sakura sepertinya sedang bersorak. Sasuke tetap diam saja. Ia saja bingung dengan apa yang SEHARUSNYA dia lakukan.
"He, ayo lanjutkan perjalanan!!!" Pangeran Kaze berdiri. Mendengar itu, Sakura langsung berdiri, melepas pelukannya kepada Sasuke walaupun sebenarnya dia TIDAK MAU (Jelas!). Sasuke juga ikut berdiri.
"Kau… tak apa, kan?" Sasuke memperhatikan Sakura yang sedang mengelus pipinya. Sakura menggeleng.
"Sasuke… Aku mohon, kau jangan terbawa emosi. Meskipun sebenarnya aku tahu, itu memang menyebalkan, tapi, kau harus berusaha bersabar. Karena misi kita adalah membawa pangeran sampai ke Desanya dengan SELAMAT," Sakura memberikan penekanan pada kata 'selamat'. Berharap Sasuke benar-benar mengerti apa yang ia maksudkan. Sakura kemudian berjalan mendekati Pangeran Kaze.
"Saya mohon, anda jangan bertindak semau diri anda sendiri. Karena kita bertiga bergerak atas nama Tim, bukan perorangan. Jadi, saya minta anda jangan tindak semau anda, karena itu akan menyulitkan kami, selaku pengiring anda dalam misi kali ini," kata Sakura serius. Pangeran Kaze menatapnya kemudian mengangguk. Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan.
***
"Ayo, kita berlatih lagi!" Lee berdiri dengan semangat. Ia kemudian berlari ke tengah lapangan kemudian memperagakan jurus-jurusnya.
"Ya ampun, bukannya dia baru selesai makan?" Tenten berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja," Neji menyahut.
"Eh, Neji kau mau berlatih juga?" Tanya Tenten.
"Tidak. Aku masih lelah," kata Neji yang terus memperhatikan Lee. Tenten ikut-ikutan memperhatikan Lee.
"Mengenai perintah Tsunade itu…" Neji berkata sambil menuduk. Tenten agak terkejut mendengarnya.
"Apa Neji?" Tanya Tenten penasaran.
"Eng… sudahlah," Neji mengalihkan pandangannya ke arah Lee lagi.
***
Sore Hari…
"Ibu, aku keluar dulu," Ino pamit kepada ibunya kemudian keluar dari toko. Ia bosan. Ia ingin jalan-jalan. Entah mengapa, perasaannya aneh sekali. Ia ingin segera mengetahui apa yang dipikirkan Sai kepada dirinya. Apa…
Ino melangkah. hari mulai sore. Ino mendongak. Awan mendung. Sebentar legi pasti hujan. Ino tetap melangkah pelan. Ia kembali melewati taman. Matanya menatap ke seluruh penjuru taman. Berharap menemukan objek yang menarik. Ia kemudian melangkah lagi. Hujan mulai turun. Ino segera berlari berteduh ke bawah pohon.
"Uh, Sial…!" dia bergumam sambil memperhatikan bajunya yang sedikit basah. Matanya tiba-tiba menangkap seseorang yang begitu di kenalnya. Sai! Masih di pohon yang sama. Sekarang dia sedang membereskan perlangkapan melukisnya. Mungkin takut terkena hujan. Ino memandangi sosok itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera menerobos hujan dan mulai beteduh di bawah pohon yang sama dengan Sai. Sai menoleh sebentar, mengamati Ino.
"Kenapa?" Tanya Ino sambil mengerutkan keningnya. Sai tersenyum kemudian menggeleng.
***
"Sudah sampai," Naruto menoleh kepada Hinata yang langsung menunduk ketika bertatapan muka dengan Naruto. Naruto mengerutkan keningnya.
"Naruto…" suara khas dari seorang Kazekage Suna memanggil Naruto. Naruto langsung menoleh.
"Oi, Gaara…. Ini ada surat untukmu dari Tsunade!!!" Naruto langsung berteriak senang kepada Gaara.
"Hei, kau ini. Berisik sekali sih!!! Kau ini sedang bicara dengan Kazekage tau!" Kankurou berteriak kepada Naruto. Naruto memandang Kankurou dengan tatapan yang seolah mengatakan 'galak banget sih, biasa aja kale'.
"Sudahlah. Kalian ini," kata Matsuri tiba-tiba.
Mereka semua yang berkumpul di tempat itu kemudian untuk sejenak berbincang-bincang.
"HA? Jadi…" Naruto berteriak keras sekali.
"Hei, biasa aja dong. Tuli ni lama-lama kuping!" Kankurou menatap Naruto sebal. Naruto menyeringai kepada Kankorou.
"Tak kusangka, seperti itu, Gaara, ternyata sebentar lagi kau akan menikah!" kata Naruto yang sudah bisa mengatasi rasa terkejutnya. Dia menatap Gaara seakan tak percaya.
"Jadi… dengan siapa kau akan menikah?" Tanya Naruto penasaran.
"Matsuri!" Kankurou menjawab mewakili Gaara. Naruto menatap Kankurou.
"Ooohhh…!" Naruto manggut-manggut. Gaara cuma diam saja. Saat itu kebetulan Matsuri dan Hinata sedang berada di luar. Entah apa yang mereka lakukan.
"Jadi… kapan giliranmu, Naruto?" Tanya Kankurou memecah keheningan beberapa saat. Naruto mengerutkan keningnya. Sepertinya berfikir. Dia tersenyum-senyum sendiri. Hee… Kalau aku sih, secepatnya. Bersama Sakura… hehe pasti dunia akan terasa lebih indaaahhh. Naruto mulai mesem-mesem. Dia membayangkan menikah dengan Sakura Haruno.
"Yah, nantilah. Memangnya kapan giliranmu!" Tanya Naruto kepada Kankurou. Kankurou cuma mengangkat bahunya.
"Eng… Aku bingung. Bagaimana orang se pendiam Gaara mampu mempunyai cewek. Bahkan sebentar lagi akan menikah…" Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kau ini mau tau saja! Itu rahasia Negara! Lagipula kau tidak perlu bertanya lagi. Gaara kan banyak sekali penggemarnya," Kankorou lagi-lagi mewakili Gaara.
"Hei, aku kan Tanya kepada Gaara!!!" kata Naruto yang sebal karena selalu saja dijawab oleh kakaknya orang yang dia tanyai. Mereka bertiga kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan bermacam-macam tema.
***
"Jadi, sebenarnya kau ingin mengatakan apa?" Tanya Tenten kepada Neji ketika mereka pulang berdua. Lee lagi-lagi masih latihan.
"Tidak," Neji masih berjalan. Tenten memandang sosok itu dari belakang.
"Soal perintah dari Hokage itu ya?" Tenten memandangi Neji.
"Memangnya apa yang ingin kau katakan?" Tenten mulai penasaran. Tenten berhenti berjalan. Dia memandangi sosok Neji yang masih berjalan. Neji pun menghentikan langkahnya. Tenten memandangi Neji yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Tenten…" Neji memandang ke bawah. Tenten semakin penasaran.
"Iya…!" katanya semakin penasaran.
"Anu…"
"Iya…"
"Sudah sampai!" kata Neji cepat. Tenten menghembuskan nafasnya. Sedari tadi ia menahan nafasnya, sekarang ia langsung menghembuskannya tiba-tiba. Kecewa. Uh, aku pikir…
"Sudah, masuk sana!" perintah Neji. Tenten segera membalikkan badannya. Mendengus kesal.
"Dasar," gumamnya pelan.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Neji yang mendengar ocehan Tenten
"Eh, tidak ko!" katanya sambil berlalu memasuki rumahnya.
"TENTEN!" kata Neji tiba-tiba. Tenten langsung menoleh cepat, sampai merasakan sakit pada lehernya.
"Tenten… Aku… aku ingin bilang sesuatu padamu," kata Neji menunduk.
"Hah? Apa? Bilang saja!!" kata Tenten mulai deg-degan.
"Nanti malam, kau mau keluar sebentar? Kau mau pergi ke taman?" Neji berkata aneh. Tenten mengerutkan keningnya.
"Ha? E… Jadi kau mengajakku kencan?" Tenten seakan tak percaya.
"Bukan! Eh, maksudku… Ah Bukan! Aku hanya…" Neji terlihat gugup. Tenten tertawa kecil.
"Sudahlah, ya, aku akan datang malam ini. Pukul tujuh di Konoha," katanya sambil mengerling dan sukses membuat Neji salting.
***
"Kau… jangan berpikir macam-macam tentang aku ya… aku sama sekali tidak bermaksud, aku hanya…" Ino terbata-bata menjelaskan alasan dia mengatakan hal itu pada Sai. Sai diam saja, masih menunggu hujan reda. Menit-menit mereka lalui, tak ada yang bicara. Ino semakin gusar. Diamatinya sosok yang selama ini membuatnya jatuh cinta. Ino sekarang menjadi bingung. Apa yang harus aku lakukan? Ia terus mengamati sosok itu. Tak bicara. Karena didesak perasaannya sendiri, Ino memeluk Sai dari belakang, menangis.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang aku! Tidak tahu! Tapi… aku mohon, aku sangat mencintaimu. Sangat!" Ino mulai mengeluarkan air mata. Hujan masih mengguyur Konoha…
***
"Ayo, kembali ke desa!" teriak Naruto. Hinata mengangguk pelan kemudian mengikuti Naruto dari belakang.
"Hei, Hinata, menurutmu soal perintah dari Tsunade mewajibkan kita semua menikah bagaimana ya?" Tanya Naruto sambil menoleh kepada Hinata sambil bergerak pulang menuju ke Konohagakure. Hinata sedikit terkejut dengan pertanyaan Naruto.
"Eng.. itu… aku… ti…tidak ta…hu," katanya gugup. Naruto memandangi Hinata sehingga membuat gadis itu menjadi malu.
"Kira-kira, kau akan menikah dengan siapa ya, Hinata? Aku ingin kau mendapatkan laki-laki yang baik," kata Naruto sambil menyeringai. Sedangkan dalam hati, Hinata mengatakan dua kata. Kau Naruto…
***
"Terimakasih Sakura dan… kau, Sasuke!" kata Pangeran Kaze. Kelihatan sekali dia keberatan mengatakan nama 'Sasuke'. Sakura mengangguk senang. Dalam hatinya dia bersyukur, Sasuke dan Pangeran Kaze tidak berkelahi lagi.
"Sama-sama. Misi sudah selesai, kami akan pulang," kata Sakura tersenyum. Pangeran Kaze membalas senyumnya.
"Oh, ya. Kudengar Hokage kalian mewajibkan semua chuunin untuk menikah ya? Dan… Sakura, bagaimana?" Tanya Pangeran Kaze tersenyum kepada Sakura.
"Eh… ap..apanya?" Tanya Sakura bingung.
"Kau… menikah dengan siapa? Kalau tidak keberatan… kau mau kan menikah denganku nanti?" Tanya Pangeran Kaze.
"A….a- aa" Sakura tidak dapat berkata-kata.
"Aku akan membuatmu bahagia disini, Sakura," rayu Pangeran Kaze. Sakura langsung tidak dapat berkata-kata lagi.
"Sa… Saya rasa saya tidak bisa menikah dengan anda," kata Sakura setelah berhasil mengatasi rasa keterkejutannya.
"Kenapa? Aku bisa memberikan kebahagiaan, kemewahan, Sakura!" kata Pangeran Kaze.
"Tapi… saya rasa, saya tidak akan menikah dengan orang yang tidak saya cintai," katanya lagi menunduk. Pangeran Kaze terlihat kecewa sekali.
"Ya sudah. Tapi… Sakura, aku akan terus berharap. Jadi, kalau suatu hari nanti kau berubah pikiran, aku masih mau menerimamu," Pangeran Kaze menatap Sakura kecewa.
***
Filladelfia : Yasudalah. Gini contoh orang yang gak bakat nulis. Maaph kalo jelek. Dan yang paling parah, semua tokoh mulai ke-OOC-an.
