Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya punya saya.
Summary : Cinta… Semua orang di Konoha mulai terkena wabah cinta…
By : Filladelfia
Cerita Sebelumnya : NejiTen sukses. Sekarang giliran… Yasudalah, baca saja…*ditampar*
Musim Cinta Di Konoha
"…"
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang aku sekarang. Aku tidak peduli. Karena aku… aku sangat… sangat mencintaimu, Sai!" Ino masih memeluk erat Sai. Air matanya berjatuhan.
"Maaf… Tapi, aku benar-benar tidak tahu…" Sai menunduk. Ino melepaskan pelukannya, menatap Sai dengan mata sembab. Mereka berdua terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
"Hujan sudah reda!" Sai mendongak kemudian tersenyum ke arah Ino. Ino menatapnya bingung.
"Ayo pulang!" Sai mulai melangkah. ino mengikutinya dari belakang. Aku benar-benar bingung dengan orang ini. Seperti tadi tidak terjadi apa-apa. Sekarang… apa yang dia pikirkan tentang aku…mereka berdua terus berjalan.
"Sudah sampai!" Sai menatap toko bunga Yamanaka. Ino mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Sai melangkah meninggalkannya. Ino mengamati Sai sampai dia benar-bear menghilang dari pandangan.
***
"Ayo. Pemalas!!!" kata Temari berteriak. Shika memandangnya sebal.
"Kau ini cerewet sekali sih!" katanya dengan pandangan seakan tak percaya. Ada orang yang sebegitu cerewetnya.
"He… kau harusnya terbiasa denganku!" Temari mulai menatap Shikamaru.
"Kenapa?"
"Tidak!"
"…"
"Soal Hokage mewajibkan chuunin menikah, apa kau nanti akan melaksanakannya, Pemalas?" Tanya Temari kepada Shika yang malah asyik menguap. Mereka berdua masih berjalan keliling desa.
"Entahlah," kata Shika menguap kembali. "Buat apa kau Tanya seperti itu? Kau aneh sekali!" kata Shika (terus) menguap.
"Buat apa? Ya… aku sih cuma ingin tahu saja, siapa sih yang nantinya bakalan mau menikah denganmu?" kata Temari mengejek. Shika menatap Temari aneh.
"Memangnya apa urusanmu? Lagipula… urusan perempuan itu gampang. Asal dia tidak cerewet dan merepotkan, aku mau menikahinya," katanya santai. Temari manggut-manggut. Mereka berdua meneruskan perjalanannya.
***
Sasuke dan Sakura kembali ke Konoha. Ketika melewati daerah pantai, tiba-tiba segerombolan musuh datang. Mereka menyerang Sasuke dan Sakura.
"Cih, ninja Konoha ya? Seenaknya melewati daerah kami!" kata seorang dari mereka. Mereka (musuh) berjumlah sekitar 10 orang saja. Tanpa menunggu waktu lagi mereka segera saling serang. Hanya saja… musuh pandai. Mereka mulai menenggelamkan Sasuke dan Sakura ke dalam air, sehingga Sasuke dan Sakura kurang leluasa bergerak karena itu bukan keahlian mereka. Sasuke dan Sakura mulai kesulitan bernafas, sedangkan Sakura mulai tak sadarkan diri. Bukan Sasuke namanya kalau ia tidak dapat meloloskan dirinya. Dia mulai membunuh musuh-musuh itu di permukaan air. Hari sudah mulai gelap. Ia mulai berhasil membunuh semua musuh, sampai akhirnya ia tersadar, Sakura masih berada di dalam air. Ia mulai menyelam dan mendapati Sakura ada di sana dipegangi oleh dua shinobi musuh sehingga sulit bergerak. Sasuke segera melancarkan serangannya. Menggunakan kecepatannya, walaupun tidak leluasa namun, cukup memberikan arti. Musuh tersebut mulai terpancing ke daerah permukaan, dimana Sasuke bisa melancarkan penyerangan dengan lancar. Berhasil! Dia berhasil membunuh semua musuh. Meskipun begitu, tampak beberapa bagian tubuhnya lecet terkena kunai.
"Sakura," Sasuke berlari di atas air kemudian menggendong Sakura dengan bridal style menuju ke gua yang tak jauh dari pantai, kemudian meletakkannya pelan-pelan. Sasuke mulai menggoncangkan tubuh Sakura berharap gadis itu segera bangun. Tapi tidak. Sasuke segera sasuke segara menekan dada bagian atas Sakura, berharap air segera keluar dari tubuhnya. Tapi tidak. Sasuke menatap sosok itu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasa aneh. Jujur saja. Siapa tahu, dibalik wajahnya yang selalu dingin dan tanpa ekspresi itu dalamnya menyimpan sejuta perasaan yang tak tersampaikan. Sasuke melihat gadis itu lagi. Ia menutup matanya. Haruskah?
***
Jam 7 malam…
Tenten segera berangkat, tak ada kesan 'lebih' saat ia berdandan. Ia sendiri tak tahu apa tujuan Neji mengajaknya ke taman. Tidak biasanya… ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke sebuah bangku taman yang… kosong… ia mendengus kesal. Gimana sih? Katanya jam tujuh…ia mulai duduk di bangku itu, menunggu seseorang. Satu menit…. Tak apa.
Dua menit…
Ah, masih sebentar.
Tiga, lima, sepuluh…
Ya… cukup lama…
Limabelas, duapuluh…
Cih, ini sih sudah lama sekali.
Dualima tigapuluh…
"Ih, kemana sih Neji? Sejak kapan dia terlambat?" Tenten mulai memegangi kepalanya sambil berteriak kesal. Tiba-tiba dia terkejut. Sepasang tangan berada di depan wajahnya sambil membawa kotak kecil berwarna merah. Tenten mendongak.
"Ne… Neji," katanya setengah terkejut.
"E… aku… maaf terlambat. Aku harus…"
"Oh, tak apa… Tapi… sebenarnya apa tujuan Neji membawaku ke tempat ini?" Tanya Tenten sambil mengerutkan keningnya, masih dengan Neji berdiri di depannya.
"E… Aku…"
"Ya?" Tenten mulai penasaran.
"Aku… aku ingin menikah denganmu jadilah istriku," kata Neji cepat. Kalau dicermati, Neji berkata tanpa tanda baca yang jelas, tanpa penekanan. Semua datar. Datar, tanpa rima, irama, intonasi dan mimik yang jelas. (tjia)
Tenten terpaku.
"A…." hanya itu kata yang bisa ia ucapkan. Seorang Neji…
Seorang Neji
Seorang Neji
Hanya itu yang ia pikirkan. Antara perasaan geli karena mendengar suara Neji, perasaan tak percaya karena seorang Neji berkata seperti itu, perasaan ragu, bila Neji hanya bercanda, perasaan senang yang berlebih karena selama ini ia mengharapkannya.
"Jadi…" Neji berkata pelan. Kotak yang ia sodorkan kepada Tenten mulai ditarik kembali.
"E… aku ini… sedang mimpi kan?" Tenten berkata dengan mata kosong.
"Kau tidak sedang bermimpi," kata Neji tegas. "Aku, nyata di hadapanmu!" katanya kembali tegas.
"Ha… ja…jadi," Tenten mulai mendongak. Neji. Dia benar-benar nyata.
"Jadi, apa jawabanmu?" Tanya Neji sekali lagi.
Tenten mulai meyakinkan dirinya. Ini bukan mimpi. Ini bukan mimpi. Di depanku adalah Neji. Adalah Neji. Tenten mulai berdiri. Ia memeluk Neji senang.
"Iya… iya Neji," tenten seperti berteriak. Hari ini, ia adalah calon istri Neji.
Neji mulai melepas pelukan Tenten.
"Untukmu," katanya menyodorkan kotak kecil imut (halah) berwarna merah. Neji membukakan kotak kecil itu, berisi sebuah cincin emas bertabur berlian. Indah sekali. Ya, benar-benar sangat indah. Neji memakaikan cincin itu pada jari manis Tenten, membuat hati Tenten berbunga-bunga.
"Terimakasih, Neji!" Tenten memeluk Neji kembali.
"Hei, Hei… dilarang bermesraan di tengah jalan!!!" Temari berkata melihat kedua orang yang tengah kasmaran itu di taman. Tenten segera melepaskan pelukan Neji kemudian blushing.
"Kau ini ternyata," kata Shika menatap aneh pada Neji.
"Hei… memangnya kenapa? Kalian sendiri juga, kan?" kata Tenten menggoda. Yang digoda hanya berpandangan sebentar kemudian membuang muka.
"Hah. Lupakan!!!" Temari berkata ketus.
"Sudahlah merepotkan!" Shikamaru hanya berkata seperti itu. Tenten memandang mereka kemudian tertawa kecil.
***
Sasuke menelan ludah. Ia memposisikan kepala Sakura mendongak. Ia sendiri berada di samping Sakura. Tangan kirinya mulai memijat hidung Sakura dengan telunjuk dan ibu jari sedangkan tangan kanannya menarik dagu gadis berambut pink itu keatas. Sasuke mengalihkan pandangan sebentar. Memastikan tak ada orang. Entah apa alasannya. Ia kemudian menarik nafasnya dalam-dalam. Perlahan namun pasti, ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Ia kemudian mulai menempelkan mulutnya sampai menutupi seluruh mulut Sakura, menghindari adanya kebocoran udara yang akan ia pindahkan kepada Sakura. Sasuke pun segera meniupkan udara melalui mulut. Ia mulai memperhatikan gerakan dada Sakura. Belum. Ia mengulanginya lagi. Menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya melalui mulut kepada Sakura. Sampai ia merasakan dada Sakura yang bergerak. Artinya udara yang ia pindahkan masuk ke paru-paru. Ia kemudian mengangkat mulutnya, melepaskan jarinya pada hidung Sakura, memberikan kesempatan dada gadis itu untuk kembali ke posisi sebelum dilakukan pernapasan buatan. Tapi… Sakura belum juga bangun. Sasuke menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai menarik nafasnya, ia kembali menutup hidung Sakura, mendekatkan mulutnya. Ia mulai mendekatkan mulutnya. Kurang lebih jarak 1 inchi (2,5 cm) terdengar suara yang sangat mengagetkan seorang Uchiha.
"Mnmphphh," Sasuke memundurkan wajahnya, melihat Sakura yang menggeleng-geleng lemah karena tak bisa bernafas. Sasuke segera melepaskan jarinya dari hidung gadis itu.
"Sas…Sasuke…" kata Sakura sambil mencoba setengah duduk. Ia masih belum sadar.
"A… Hn," kata Sasuke agak gugup. Memang, itu bukan Uchiha. Tapi, siapa tahu?
"Apa yang terjadi?" kata Sakura sambil memperhatikan Sasuke. Sasuke langsung membuang muka. "Tak ada," cuek.
"Eh, kau terluka," Sakura memegang lengan Sasuke lembut, tanpa menunggu sesuatu lagi, ia segera mengeluarkan kemampuannya, menyembuhkan Sasuke. Perlahan dan sangat pasti, lukanya menipis kemudian menghilang. Dan ketika itu juga perlahan namun pasti, seulas senyum yang sangat tipis terlihat samar di dalam kegelapan gua.
***
"Terkadang, hidup itu ironis ya?" Temari berkata sambil melihat sang rembulan.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Shika mengamati gadis itu bingung.
"Hm. Tak ada. Tapi, mereka terlihat bahagia sekali,"
"Siapa? Neji? Kau iri?" kata Shikamaru semakin aneh.
"Bukan begitu, tapi…"
"Aku tahu. Kau iri pada mereka, kan?" kata Shika kembali.
"…"
"Aku bingung. Ternyata orang secerewet dan tidak pedulian seperti kamu juga peduli soal cinta," kata Shikamaru yang sukses membuat Temari marah.
"Heeee…. Jadi orang jangan sembarangan ya? Kenapa kau selalu berfikir hal buruk kepadaku, Ha? Kau ini apa tak peduli perasaan seorang gadis?" Temari mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Hah.. OK… aku tahu. Maaf," kata Shika mengelak. Temari menarik kembali tangannya.
"Hah, aku bingung. Kenapa aku harus selalu bersamamu!" katanya sambil menunjuk wajah Shikamaru.
"Huh, merepotkan! Aku malas berdebat denganmu," katanya sambil berlalu.
"Tunggu…!"
***
"Kenapa?" Sasuke memperhatikan Sakura yang memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di balik lututnya sendiri. Menggigil. Sakura mendongak, kemudian menggeleng. Ia mulai menenggelamkan wajahnya lagi. Meskipun Sasuke telah membuat api unggun kecil di dalam gua, tetap saja ia merasa kedinginan.
"Pakailah," Sasuke memberikan rompinya kepada Sakura.
"Tapi…"
"Sudahlah!" kata Sasuke. Sakura menerima rompi itu kemudian memakainya. Sedikit mengurangi hawa dingin yang menusuk.
"Sasuke,"
"Hn,"
"E… Apa yang sebenarnya terjadi dalam pertarungan tadi? Bagaimana dengan para musuh? Apa yang terjadi padaku?" katanya bertubi-tubi.
"Tak ada yang menarik, mati, tak ada," kata Sasuke menjawab semua pertanyaan tadi.
"Oh," Sakura manggut-manggut tak puas. "Kapan kita akan kembali ke Konoha?" katanya lagi.
"Mungkin besok. Sudah terlalu malam. Kita perlu istirahat," katanya kembali sambil melihat api. Sakura mengamati Sasuke. Wajahnya terlihat sangat tampan. Tampan sekali. Ingin rasanya ia memeluknya. Entah mengapa setiap kali melihat wajah Sasuke, rasa itu tak tertahankan.
"Hn,"
"Ah, apa Sasuke?" kata Sakura bingung. Perasaan ia tak mengajak Sasuke bicara.
"Kenapa memandangku terus?" kata Sasuke.
"A…Ah..haha.. tidak!" Sakura salting menjawab pertanyaan Sasuke sedikit tertawa kemudian membuang mukanya.
"Kau tidak kedinginan?" kata Sakura mulai tersadar kalau Sasuke hanya menggunakan kain tergolong tipis. Sasuke hanya menggeleng.
"Maafkan aku, kau kedinginan? Kau bisa pakai lagi!" kata Sakura hendak melepaskan rompinya.
"Tak usah, pakailah, kau bisa sakit," kata Sasuke kembali. "Tidurlah!" lanjutnya. Sedikit tak percaya, Sakura mengangguk saja, kemudian membaringkan tubuhnya. Perlahan tapi pasti, ia mulai memejamkan matanya, membiarkan Sasuke yang sudah berjanji akan menjaga. Malam yang indah…
***
Pagi yang cerah di Konoha…
"Akhirnya," Ino mengusap dahinya dengan punggung tangannya, mengelap keringat. Ia sudah selesai membersihkan tokonya. "Sekarang tinggal menunggu pembeli datang," ia bergumam sendiri. Ia menunduk. "Euh, Sai… orang itu… aneh sekali," katanya sedih.
"Maaf," sebuah suara mengagetkannya. Ino cepat-cepat mendongak. Dilihatnya Sai sedang tersenyum ke arahnya.
"Eh, oh. Sa… Sai? Ada apa?" kata Ino gugup dia benar-benar kaget.
"Eng… Aku ingin membeli bunga," kata Sai tersenyum.
"Iya. Kalau itu aku juga tahu," Ino mulai berjalan, mendekati rak yang penuh bunga biasanya untuk orang yang sudah meninggal (=.=. aku ga tahu…). Pasti untuk kakaknya kan?
"Hei, aku tidak membeli itu hari ini," katanya pelan. Ino mengerutkan keningnya.
"Ha? Lalu kau ingin beli yang mana?" katanya heran. Sai membalikkan tubuhnya mendekati sekumpulan bunga mawar. Dia mengambil satu tangkai. Berwarna merah.
"Eh. Kau…" Ino bingung sekali.
"Hn?"
"Kau tidak biasanya kan?" kata Ino kembali mengerutkan keningnya karena merasa aneh.
"Ya. Lalu?"
"Eng… tidak ada. Mungkin kau… Ah sudahlah, memangnya kau membelinya untuk siapa?" kata Ino berpura-pura senang. "Sekarang kau sudah tambah romantis ya? Tak kusangka!" Lanjutnya.
"Ini untuk seseorang yang special untukku," lanjut Sai masih tersenyum.
"Oh… siapa kira-kira ya?" Ino menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Seseorang. Yah, mungkin aku… tidak mengerti apa itu cinta. Tapi… aku yakin, dengan bersamanya aku akan lebih memahami arti cinta," kata Sai lagi-lagi masih tersenyum.
"Oh, baguslah. Ya, aku juga ingin melihatmu sekali-kali bisa memiliki ekspresi selain tersenyum. Semoga orang itu bisa membuatmu bahagia," kata Ino sambil tersenyum, menutupi kesedihannya.
"Ya, terimakasih. E… aku membeli satu tangkai. Katanya…"
"Satu tangkai artinya aku hanya untukmu," sahut Ino cepat. Sai mengangguk kemudian menyerahkan sejumlah uang kepada Ino di kasir.
"Jadi… kapan kau akan menyerahkan bunga itu, Sai?" kata Ino pura-pura menggoda.
"E… mungkin secepatnya," kata Sai cepat.
"Oh, yasudah. Semoga berhasil," kata Ino sambil menunduk. Terdengar derap langkah kaki yang semakin menjauh. Semakin jauh langkah kaki itu darinya, semakin hancur pula perasaannya.
***
"Wah, hebat… ternyata Neji sudah akan menikah dengan Tenten," kata Sakura cepat.
"Iya.. aku juga tidak menyangka. Orang sedingin Neji ternyata bisa juga. Benarkan, Sakura?" Naruto berteriak heboh. Ichiraku Ramen sekarang ramai sekali. Tapi, buykan ramai karena pengunjung. Tetapi ramai karena suara heboh dari Naruto dan Sakura.
"Ya… kupikir orang sedingin Neji dan Gaara tak akan bisa menikah," Sakura manggut-manggut setelah mendengar cerita dari Naruto.
"Ya… kau jangan keras-keras begitu dong, Sakura. Kau tidak tahu ya? Ada orang yang sama dinginnya disampingmu!" kata Naruto setengah berisik. Sakura tertawa kecil.
"Ehm, bagaimana kira-kira ya? Orang sedingin dan tidak peka seperti Sasuke akan mencari seorang wanita. Kira-kira bagaimana menurutmu, Sakura?" kata Naruto masih berbisik. Sekarang dua orang heboh itu mendekat satu sama lain. Naruto membisiki Sakura sesuatu yang intinya membicarakan Sasuke.
"Entahlah, kenapa kau tidak Tanya saja!" Sakura berkata biasa.
"yah, untuk apa? Lagipula aku yakin seratus persen kalau orang sedingin Sasuke akan selamanya memilih menjadi perjaka tua daripada seorang wanita. Huahahaha," Naruto mulai tertawa.
"Hahahahihihuhuhehehehohoho," tawa semakin tak jelas.
"Eng… Na.. Naruto," Sakura mulai bergidik ngeri. Naruto masih tertawa saja.
"Huahaahahahaha…huaaegghghggggep," Naruto tiba-tiba berhenti. Sebuah tangan kokoh 'merangkul' lehernya.
"Diam, Baka!" Sasuke berkata sambil memberikan death glare kepada Naruto.
"Akh, am…ampun, Sasuke!" kata Naruto berteriak kesakitan. Sakura hanya tertawa melihatnya. Sasuke melepaskan cengkeraman tangannya. Mengampuni Naruto, kemudian duduk di samping Sakura lagi. (posisi duduk Sasuke, Sakura kemudian Naruto).
Filladelfia : Eng… aku jadi malu. Aku gak tahu tentang bunga… dan sepertinya lama-lama tokoh kita sangat ke-OOC-an. Aduh, padahal aku sudah berusaha. Tapi… bagaimana lagi? Ntar mereka malah gak bisa nyatu. Maaf, ceritanya kayaknya terlalu 'maksa' deh.
