Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya punya saya.

Summary : Cinta… Semua orang di Konoha mulai terkena wabah cinta…

By : Filladelfia

Spesial aja buat Kak Uchinami Kudo (moga masuk UNJ), HinataLavender, …….. yang minta ShikaTemanya ditambah…

Cerita Sebelumnya : Capa ya? Langsung aja

Musim Cinta Di Konoha

"EH?" Naruto terkejut tiba-tiba. Sepasang tangan dihadapannya membawa bunga.

"Untukmu," kata seseorang yang berdiri di hadapannya, Sai. Sakura yang mendengarnya segera memuntahkan semua makanan yang tengah dikunyahnya.

"APAAAA? HEI Sai, Kau gila ya?" katanya berteriak tak percaya. Sai tersenyum. Sasuke mengerutkan keningnya.

"Eh, Sai, apa maksudmu?" kata Naruto pelan sambil menunduk.

"Untukmu. Aku mencintaimu. Jadi… maukah kau menjadi calon istriku?" kata Sai masih tetap tersenyum. Sakura mengucek matanya. Ia kemudian berdiri kemudian mendekati Sai, menampar pipinya.

"Hei, Sai. Kau ini gila ya? Kau tidak waras? Kau ini homo ya?" katanya marah-marah.

"Sakura… tenang dong," kata Naruto kemudian. Naruto lalu berdiri menghampiri Sai.

"Baiklah Sai, aku juga mencintamu," kata Naruto kemudian menerima bunga itu. Sakura bertambah marah.

"Naruto!!! Kau ini tidak normal ya, He?" Sakura berteriak marah. Tangannya hampir saja maju kalau tak ada yang menahannya, siapa lagi kalau bukan si Uchiha.

"Tenanglah," kata Sasuke pada Sakura.

"Tenang bagaimana, mereka ini tidak normal, Sasuke!" kata Sakura tidak terima.

"Hn. Dengarkan!" kata Sasuke tajam. Sakura yang takut karena wajah Sasuke yang menatapnya seperti itu terdiam, kemudian menoleh pada Naruto lagi. Terlihat Naruto yang nyengir tak bersalah. Sakura tambah jengkel.

"Sakura… Kau cemburu padaku ya?" kata Naruto cengar-cengir.

"Ihh, Naruto. Sekarang jelaskan!! Apa yang sebenarnya kau dan Sai lakukan?" kata Sakura menatap Naruto sebal.

"Kau ini jadi orang jangan terlalu cemburu gitu dong, Sakura. Aku ini sedang membantu Sai. Soalnya dia ini sedang butuh keberanian untuk menyatakan cintanya kepada seorang cewek," kata Naruto masih nyengir. Sakura melongo.

"Ah? Lalu kenapa harus berlatih denganmu segala. Kalau seperti ini kan malah membuat salah paham," kata Sakura tidak terima.

"Iya, maaf Sakura," kata Naruto lagi.

"Maaf," kata Sai kepada Sakura yang langsung mengangguk kemudian cepat-cepat menggeleng.

"Eng… aku yang minta maaf karena menampar pipimu, Sai. Jadi… siapa yang akan kau jadikan istri?" Tanya Sakura sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, menunduk malu karena terlalu gegabah.

***

Ino sedang merapikan bunga-bunganya, sampai kemudian seseorang datang. Ia menoleh dan terkejut.

"Sai, ada apa?"

"Ada yang tertinggal," kata Sai cepat. Ino berpikir sebentar.

"Apa yang tertinggal? Aku tidak menemukan apa pun?" katanya bingung.

"Ng… Oh ya?" kata Sai dengan lugunya. Ino menjadi semakin bingung.

"Iya. Memangnya sebenarnya apa sih yang tertinggal?"

"seseorang. Ini," kata Sai menyerahkan setangkai mawar merah padanya.

"I…Ini," Ino masih tak percaya.

"Itu untukmu, Ino," kata Sai lagi.

"A… Maksudnya?" kata Ino. Sai mengerutkan keningnya.

"Iya, ini untukmu. Aku tahu… mungkin aku adalah orang yang tidak punya perasaan. Tapi… aku ingin…"

"Aku juga ingin membuatmu mempunyai ekspresi seperti kebanyakan orang," sahut Ino cepat. Sai tersenyum.

"Ya. Jadi… maukah kau menikah denganku, Ino?" Tanya Sai lagi. Ino seakan tak percaya. "HA… ten Tentu saja, Sai! Aku sangat mencintaimu," kata Ino. Sai tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin. Ia mengeluarkannya, cincin emas yang indah dengan batu permata.

"Untuk mengikat hubungan kita," katanya langsung memakaikan cincin itu ke jari Ino yang masih tak percaya.

"Sai…" kata Ino langsung memeluknya. Ia menangis bahagia.

***

"Kapan kau akan menikah, ha?" Shikaku melihat Shikamaru yang terduduk lesu di meja makan.

"Entahlah," katanya Shika santai.

"Kau ini! Aku juga ingin melihat kau bersanding bersama wanita!" lanjut Shikaku lagi. Shikamaru menguap.

"Iya, kalau cari perempuan itu harus benar-benar teliti. Kau harus memilih salah satu di antara yang kau cintai, Shikamaru," lanjut ibunya. Shika mengerutkan keningnya. Yang aku cintai?

"Itadakimasu," kata Shikamaru cepat kemudian menyantap sarapannya. Ia bosan nanti mendengar ceramahan orang tuanya. Beberapa menit kemudian, "Gochisou sama deshita," Shikamaru segera berlalu meninggalkan ruang makan.

"Dasar," kata orangtuanya hampir bersamaan.

Shikamaru berjalan menuju ke tempat favoritnya dimana dia akan berbaring sambil menatap awan.

***

"SAKURAAA!" Sakura menoleh merinding.

"Le…Lee?" katanya cepat. Lee tersenyum. "Ya,"

"Eh, oh, ada apa?" Tanya Sakura yang berhasil mengatasi keadaan.

"Eh, kau kan tahu, semua chuunin diwajibkan menikah. Iya kan?" kata Lee sambil tersenyum penuh arti, meskipun Sakura tidak mengetahui artinya apa.

"Lalu?"

"Menikahlah denganku," kata Lee cepat. Lee segera berdiri di dekat Sakura, segera duduk di bawah dengan tangan menjulur ke atas menuju Sakura.

"Hoi.. kau ini apa-apaan sih? Sakura itu milikku," kata Naruto berdiri. Ia kemudian mendekati Lee.

"Eh, ka… Kalian ini apa-apaan sih?" kata Sakura mencoba memisahkan Lee dan Naruto yang saling beradu kata.

"Sa… Sasuke coba Bantu," kata Sakura menoleh kepada Sasuke. Kosong? Hah?

"Berhenti!!!!!" teriak Sakura keras dan sukses membuat kedua orang itu terdiam.

"Sudahlah, Lee, maaf aku tidak mencintaimu," kata Sakura lagi. Lee menunduk.

"Eh, maafkan aku," kata Lee kecewa.

"Eng, aku yang harus minta maaf, Lee," kata Sakura pelan. Lee mengangguk kemudian berlaik pergi,"Sampai jumpa semuanya, selamat pagi," katanya semangat kemudian berbalik dan segera pergi. Sakura mengusap dahinya.

"Eh, kemana Sasuke, Naruto?" tanyanya kepada Naruto. Naruto mengangkat bahunya. "Entahlah,"

"Sakura Haruno, kau dipanggil untuk misi oleh Hokage-sama," kata Shizune kepada Sakura tiba-tiba. Sakura mengangguk. Kemudian pergi meninggalkan Naruto,"Sampai jumpa Naruto, Sampaikan salamku pada Sasuke, ya?" kata Sakura.

***

"Jadi…" kata Chouji lagi.

"Kau ini sebenarnya mau menikah dengan siapa sih?" lanjut Chouji karena Shikamaru tak menjawab.

"Entahlah. Aku tak tahu," kata Shikamaru pelan.

"Ehm, kau sebaiknya membuang semua perasaan egomu terhadap wanita Shika. Aku rasa… aku tahu siapa yang paling cocok untukmu," lanjut Chouji lagi.

"Siapa?" Tanya Shikamaru pelan. Sebenarnya dia malas menanggapinya.

"Temari!" jawab Chouji cepat. Shika membuka matanya lebar-lebar.

"Maksudmu, orang itu? Kenapa?" tanyanya masih malas.

"Ya, kurasa kau cocok sekali bersamanya. Kau tahu? Dia mirip sekali dengan ibumu. Setidaknya seperti itu, kan? Lagipula… kata Ino dia bisa menjadi istri yang baik buatmu. Katanya, kau cocok sekali jika bersanding dengan Temari,"

"Hei, aku tidak suka orang cerewet," kata Shika lagi.

"Ha? Menurutku dia tidak cerewet kok. Dia itu perhatian," kata Chouji lagi. Shika mengerutkan keningnya.

"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"

"Karena… aku merasa dia mencintaimu, Shika," kata Chouji lagi yang sukses membuat Shikamaru terbangun.

"Ha?"

"Iya, aku merasa dia itu mencintaimu," lanjut Chouji yang disambut gelengan kepala Shikamaru.

"Kurasa tidak, eh? Sejak kapan kau jadi bisa berfikir dewasa seperti ini, Chouji?"

***

"Ternyata kau disini, ya?" kata Naruto melihat Sasuke sedang duduk di jembatan sungai.

"Hn,"

"Kau dapat salam dari Sakura, Sasuke?"

"Hn,"

"Hei, kau ini. Mahkluk aneh, bisanya cuma 'Hn' saja. Memangnya tak ada kata lain apa?" kata Naruto lagi.

"Hn,"

"Dasar. Kenapa sih kau ini? Kau tidak merasakan sesuatu? Aku tahu, kau juga mencintai Sakura, kan?" kata Naruto lagi.

"Kenapa kau berfikir seperti itu?" kata Sasuke yang mulai terpancing. Naruto tersenyum menang.

"Tentu saja, kau langsung menghilang setelah melihat Lee. Kau cemburu kan? Aku tahu dari dulu, kau sebenarnya cemburu jika Sakura dekat dengan laki-laki lain. Iya kan? Memangnya selama ini aku tidak memperhatikan? Aku selalu melihat ekspresi wajahmu ketika Sakura sedang bersama laki-laki lain."

"Tidak,"

"Ya, kau malu mengatakannya. Kau terlalu mementingkan gengsimu. Padahal kalau kau ingin tahu, dia itu sangat mencintaimu. Dia selama ini selalu menunggumu, Sasuke. Apa kau tahu itu?"

"…"

"Kau seharusnya tahu apa yang dirasakan Sakura kepadamu. Kau beruntung. Banyak orang yang menyukainya, tapi dia tetap saja memilih untuk menunggumu,"

"…"

"Hei! Teme! Aku sedang berbicara kepadamu!" Naruto mulai hilang kesabarannya, ia mulai mencengkeram kerah Sasuke.

"Kenapa?" Sasuke menatap Naruto tanpa ekspresi.

"Kau bodoh! Aku mengatakan seperti ini… karena…"

"Karena kau mencintainya, tapi dia tak pernah mencintamu," kata Sasuke sinis. Naruto seakan tak percaya.

"Kau…" Naruto menggeram.

"Sudahlah," Sasuke melepaskan cengkeraman Naruto. Naruto memandangi sosok itu.

"Kau mencintainya, kan?" Tanya Naruto meyakinkan Sasuke.

"…" Sasuke masih terdiam.

"Sebaiknya kau mengakuinya saja," Naruto terus memburu Sasuke dengan pertanyaan. Sasuke masih diam.

"Aku mau pulang," Sasuke kemudian berlalu meninggalkan Naruto yang masih termangu.

"Kalau kau tidak mencintainya, aku bersedia memilikinya, Sasuke! Aku akan merebut hatinya darimu," kata Naruto setengah berteriak. Sasuke berhenti, kemudian berbalik, menatap Naruto lekat-lekat.

"Kenapa?" Tanya Naruto sinis. Sasuke memandangnya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari Naruto.

***

Siang Hari…

"Jadi…" kata Shikamaru tak percaya.

"Iya…" kata ayah dan ibunya sambil tersenyum bangga. Ibunya Shikamaru menggandeng pundak seorang cewek yang sedang menatap Shikamaru tajam.

"Kami mau menjodohkan kamu dengan dia, Shikamaru," kata Shikaku mewakili istrinya menjawab pertanyaan Shikamaru. Shikamaru bergidik melihat cewek itu. Penampilannya sih tergolong cantik. Walaupun gak cantik-cantik amat. Tapi… yang paling membuat Shikamaru bergidik bukan itu, tetapi tatapan cewek itu yang seakan mau membunuhnya. Shikamaru menunduk. Aa… Apalagi ini? Merepotkan sekali!

"Bagaimana Shikamaru? Cantik kan?" kata Shikaku memperkenalkan gadis itu. Shikamaru mengangguk terpaksa.

"Kamu setuju dijodohkan?" kata Shikaku kepada Shikamaru. Tapi… jika dilihat lebih seksama, itu bukan sebuah pertanyaan, tetapi sebuah pertanyaan yang mengandung unsur paksaan. Shikamaru memandang gadis itu lagi. Terlihat dia tersenyum. Jujur. Mengerikan. Bukan hanya itu saja, Shikamaru merasa wanita ini cerewet dilihat dari penampilannya, sungguh suatu sifat yang tidak ia suka.

"Aku…" kata Shika serius.

"Ya?" Tanya ibunya penasaran.

"Aku sudah punya pacar….!"

***

"Huahahahaha," Temari tertawa saat mendengar cerita Shikamaru di depannya dan Chouji. Chouji tersenyum.

"Malangnya nasibmu," kata Temari mengejek. Shika mendelik.

"Tapi… kenapa kau bilang sudah punya pacar? Memangnya sudah?" kata Chouji bingung sambil mengunyah keripik kentang miliknya. Shikamaru mengangkat bahunya,"Belum," katanya enteng.

Temari dan Chouji saling berpandangan bingung.

"Dasar! Lalu kau mau apa sekarang?" kata mereka berdua hampir bersamaan.

"Tidur!" jawab Shika enteng. Chouji dan Temari kembali berpandangan. Mereka berdua merasa jengkel dengan sikap Shikamaru yang menganggap enteng masalah.

"Bangun pemalas. Apa yang akan kau katakan kepada ayah ibumu nanti, Bodoh?" Tanya Temari. Shikamaru membuka matanya.

"Aku tidak bodoh! Aku… sedang memikirkan caranya, sambil tidur!" katanya enteng, kembali mencoba memejamkan matanya.

"Tidak bisa seenteng itu!" sahut Temari kencang.

"Oe, kau ini kenapa yang sewot?" Tanya Shikamaru sebal.

"Bu… Bukan begitu, tapi… Aku kan cuma mau membantu," kata Temari pelan. Shika mengerutkan keningnya. Perempuan ini mau membantuku? Apa tidak salah?

"Tidak perlu," kata Shikamaru malas. Temari menatap Shikamaru sebal.

"Chouji… aku minta bantuanmu saja deh!" Shikamaru akhirnya membuka suara.

Filladelfia : Bantuan apa Shika? Ya udah dah, ntar lagi.