Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya punya saya.
Summary : Cinta… Semua orang di Konoha mulai terkena wabah cinta…
By : UchiHAruno Sasusaku
Musim Cinta Di Konoha
"Menikah dengan Temari? Kenapa?" Tanya Shikamaru bingung. Ibu Shikamaru menatapnya bosan.
"Dasar! Kemarin ibu ngobrol banyak dengannya. Yang ibu tahu dia itu orangnya baik, ramah, penyayang, dan sepertinya cocok denganmu, Shikamaru!" kata Ibunya menjelaskan.
"Merepotkan!" kata Shikamaru kemudian berlalu pergi meninggalkan ibunya. Tiba-tiba ia mundur lagi. Seseorang menarik telinganya.
"Mau kemana?!" omel ibunya pada Shika. Shika hanya mengaduh.
"Kalau ibu bicara, dengarkan duluu!!!"
"I… Iya. Merepotkan saja!" kata Shika yang langsung mengelus telinganya setelah sang ibu melepaskan jeweran mautnya.
"Bagaimana?" Tanya ibunya memastikan.
"Huuh! Iya… iya! Aku coba! Merepotkan!" kata Shikamaru. Ibunya tertawa kecil.
"Aku tahu kau suka padanya!" katanya menggoda. Shikamaru dengan malas beranjak pergi, daripada mendengar komentar-komentar ibunya yang jelas-jelas pasti ngaco.
***
PAGI HARI DI KONOHA…
Naruto membopong sesosok tubuh dengan bridal style. Ia membopong tubuh itu ke Kantor Konoha.
"TSUNADEEEE!!!" teriak Naruto langsung membuka pintu secara paksa. Terlihat Tsunade yang sedang meminum minuman keras tersedak. Shizune menatap Naruto bingung.
"Tolong… tolong Sakura!" kata Naruto disela-sela nafasnya yang ngos-ngosan.
"Apa yang terjadi padanya!" kata Tsunade khawatir melihat Sakura sekarang ada dalam gendongan Naruto.
"Bawa dia ke ruang perawatan!" perintah Tsunade.
***
"Sasuke…!" teriak Naruto pada sahabatnya yang sedang berlatih jurus di hutan Konoha. Sasuke menoleh malas.
"…"
"HE… ayo kita ke rumah Sakit. Sakura sakit parah! Ia terluka sehabis misi! Ayo, Sasuke!" kata Naruto kepada Sasuke. Tanpa ba-bi-bu lagi mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
***
"Shikamaru!!!" teriak Temari saat melihat kepala nanas itu berjalan sendirian. Shikamaru menoleh malas. Temari langsung mendekat.
"Hei!" katanya basa-basi. Shikamaru menatapnya malas.
"Ada keperluan apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bersamamu saja," kata Temari tersipu. Shikamaru menatapnya datar. Kemudian berjalan diikuti Temari.
***
Di sana ada Ino, Sai, Lee, Tenten, Neji, dan HInata yang duduk di luar ruang perawatan. Jantung Sasuke berdetak lebih cepat. Ino menangis, HInata, Tenten, Lee, mereka semua tampak menangis. Ada apa ini?
"Apa. Apa yang terjadi?" kata Sasuke. Mereka semua diam.
"APa? Apa kataku? Apa kalian dengar?" katanya lagi. Semua masih diam. Sasuke dengan panik langsung memasuki ruang perawatan. Jantungnya berdegup lebih kencang. Tampak di sana seseorang yang ditutupi selimut sampai ke wajahnya. Sasuke dengan tergesa mendekat. Ia membuka penutup selimut itu dan terkejut.
"Sa… Sakura?" katanya.
"YA. Sakura telah meninggal. Pagi tadi karena misi. SAKURA MENINGGAL!!! Aku kehilangan dia. Sungguh malang nasibnya, harus meninggal secara tragis seperti itu. Bahkan sebelum ia memperoleh kepastian dari orang yang dicintainya- Kau" tuding Ino tepat di wajah Sasuke. Sasuke menatanya tajam. Tetapi lama-kelamaan tatapannya melemah. Ia melihat Sakura yang terbaring. Melihat wajahnya membuat apa yang diperbuat gadis itu menari-nari dalam memorinya.
***
Aku mencintaimu sampai tak tertahankan…
-
Bawalah aku bersamamu
-
Sasuke!
-
"Hmmm… Menurutmu, apa kau akan menikah?"
-
"Dasar bodoh kau, Naruto!"
-
Hehehehe…
-
Aku… Aku…
-
Terimakasih, hei!
-
***
"Shikamaru…" kata Temari pelan. Shikamaru kembali menoleh malas.
Dan ketika ia menoleh, Temari langsung memeluknya. Shikamaru terkejut.
"Ap-"
"Aku mencintaimu, Shikamaru!" kata Temari sambil terisak. Shikamaru mengerutkan keningnya.
"Kau sedang sakit?" tanyanya lalu memeriksa suhu badan Temari. Temari menggeleng.
"Tidak! Aku tidak sakit. Aku…. Dari dulu aku selalu menyembunyikannya. Dan sekarang, sekaranglah kurasa waktu yang tepat untuk mengungkapkannya," kata Temari.
Shikamaru menghela nafasnya panjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, hei?!" katanya tanpa melepaskan pelukan Temari. Temari mendongak untuk mengamati ekspresi Shikamaru. Dilihatnya goresan berwarna pink di sekitar pipi Shikamaru.
"Aku… Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Aku sama sekali tidak mengerti. Karena yang ku tahu, aku mencintaimu! Walaupun, aku tidak tahu apa alasannya sampai aku bisa mencintaimu, mungkin karena kita terus bersama," kata Temari ia kemudian menunduk, memilih mengamati ujung kakinya daripada harus menatap mata Shikamaru, selain untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Shikamaru menatap Temari. Kemudian menelan ludah.
"Aku… Sebenarnya, aku…"
***
"Sa… Sakura!!!!" kata Sasuke panik sambil terus menatap sesosok tubuh tak bernyawa di hadapannya. Sosok yang selama ini mungkin pernah menjadi bagian dari hidupnya juga.
"SELAMAT SASUKE! Kau Sudah Membuatku Benar-Benar Membencimu Sekarang. Karena kau, sampai sekarang Sakura tak pernah merasakan bahagia denganmu!" kata Naruto.
"Sebenarnya apa yang kau tunggu?! Aku TAHU KAU MENYUKAINYA JUGA! Tapi kenapa kau masih tak mau mengakuinya juga?! Padahal aku sangat berharap kau mau membuang egomu itu jauh-jauh, Uchiha!" lanjut Naruto dengan emosi. Segala yang dia rasakan ia tumpahkan untuk teman kecilnya itu. Bagaimanapun juga, Naruto tidak akan pernah terima kalau Sakura tidaklah bahagia.
Sasuke masih terdiam. Tampaknya ia terlalu shock dengan apa yang terjadi di depannya. naruto menggenggam tangannya erat, mencoba menahan semua emosi yang terpendam. Ia menunduk. Akan tetapi, perlahan terdengarlah suara samar-samar dari Sasuke.
-
"Ma.. Maafkan aku!"
"Aku benar-benar pengecut. Maafkan aku! Aku sama sekali tidak tahu akhirnya akan seperti ini. Yang kutahu…. Kau akan selalu bersamaku,"
"Sakura. Maaf. Maaf aku tidak pernah mengungkapkannya selama ini. Aku tahu, aku sangat terlambat Sakura… Aku….."
Naruto menajamkan pendengarannya, mencoba memastikan apa yang sahabatnya katakan.
***
"Aku mencintaimu, Temari!" kata Shikamaru sambil menggenggam erat pundak Temari. Temari membelalakkan matanya sedikit tak percaya apa yang didengarnya.
"Maaf… Ma… Maaf, bisakah… ak-" kata-kata Temari terputus ketika tiba-tiba Shikamaru memeluknya erat.
"Aku memang tak mengerti semua ini. Tapi, aku benar-benar… Aku…. Aku benar-benar menyukaimu!" katanya tanpa melepaskan pelukannya pada Temari.
***
Siapa lagi yang akan menghiburmu?
-
Siapa lagi yang akan menemanimu?
-
Siapa lagi yang akan mencintaimu setulus hati?
-
Siapa lagi yang akan tersenyum kepadamu? Selalu mencoba bersabar terhadapmu?
-
Siapa lagi yang akan mengisi harimu?
-
Jangan lagi berharap dia akan datang. Jangan berharap kalau sebentar lagi dia akan kembali tersenyum padamu. Jangan harap dia masih bisa menemani hidupmu, walau sedetik saja, kesempatan itu tak ada.
Semuanya hilang, musnah. Yang tertinggal hanyalah kenangan-kenangan bersama orang itu, yang akan selalu menari di dalam otakmu. Tak akan ada lagi dia yang sesungguhnya di dunia fana ini. Semua sudah terpisah. Kau tak kan bisa lagi bertemu dengannya.
Sesungguhnya, gunakanlah kesempatanmu selagi kau masih hidup bersamanya, karena… setelah kematian datang dengan segala misterinya, kau tak akan bisa mengulangnya, tak akan bisa mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki dirimu, untuk mengatakan hal itu…
***
"AKU MENCINTAIMU, SAKURA!!!" tanpa diduga, Sasuke berteriak di kamar tempat Sakura terbujur kaku. Setitik air mata jatuh dari mata onyxnya. Satu titik air mata yang mewakili berbagai emosi dalam hatinya. Sasuke menunduk, jatuh terduduk di samping tempat tidur.
Naruto tersenyum.
-
"Huh! Dasar bodoh kau ini, cepat bisa tidak sih!!!"
"Uuh, Ino. Aku capeeeek. Untuk apa kau membawaku kesini, hah?"
"Kau lihat saja!"
-
-
-
"Kyaaaaaaaa!!!!"
-
-
Tiba-tiba saja sesosok tubuh jatuh menimpa Sasuke yang sedang terduduk. Sasuke menengok ke belakang untuk melihat sosok itu. Ia pun membelalakkan matanya melihat Sakura tiba-tiba ada di belakangnya, menubruknya. Begitu juga dengan Sakura yang sangat terkejut. Dengan cepat ia berdiri dan merapikan bajunya yang berantakan. Ia menunduk dalam-dalam.
"Ma… Maaf, Sasuke-kun! Aku tidak sengaja. Ino jelek itu yang mendorongku!" katanya sambil mengerucutkan bibirnya begitu melihat Ino. Sasuke menatap mereka semua kebingungan. Tiba-tiba saja ia berdiri. Dan ia menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah 'Sakura' yang terbaring di tempat tidur, dan ternyata itu adalah sebatang pohon. Sasuke menggeram dan mengepalkan tangannya. Ini pasti gara-gara kepanikannya, sehingga jurus yang mudah itu mampu mengecohnya. Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa, Sasu-" sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya Sasuke telah menghilang.
"Pasti ini rencana Naruto yang kemarin!" kata Sakura sambil mendengus kesal sambil mencari sosok yang harus bertanggung jawab atas semua ini, Uzumaki Naruto. Akan tetapi, ketika ia menolehkan kepalanya, rupanya Naruto telah pergi bahkan jauh-jauh sebelum Sasuke sadar apa yang telah terjadi. Sakura menoleh kepada Ino. Ino menatapnya dengan tatapan memelas, minta berdamai.
"Peace…. Ano…. Kau tahu Sakura…. Ternyata cara ini ampuh loh…. ?! Kau lihat? Apa kau melihat ekspresi Sasuke tadi? Hah? Dan apa kau dengar apa yang dia katakan, Sakura? DIA MENCINTAIMU!!!" kata Ino sambil berteriak kegirangan layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan es krim. Sakura mendengus kesal.
"IYAAAA!!! Tapi bukan begini dong caranya. Kau lihat?! Sekarang dia ngambek, tahu!!!!" katanya sambil berlalu pergi meninggalkan Ino yang masih di kamar beserta yang lain yang berdiri tegang ketika Sakura melewati mereka. Karena tak ada dari mereka yang tak tahu, kalau tenaga Sakura bukan tenaga manusia biasa.
***
Sakura melangkahkan kakinya tergesa menuju ke tempat Sasuke berada, meskipun ia sendiri tak tahu, tapi ia tetap melangkah menuruti kata hatinya, ia melangkah sampai ia tiba di taman, di mana bangku-bangku dimana ia dulu ditinggalkan Sasuke. Menjadi kenangannya dengan Sasuke. Dengan segera ia membelalakkan matanya begitu mengetahui bahwa Sasuke ternyata ada di tempat itu. Dia sedang berdiri membelakanginya.
Dengan takut-takut Sakura mendekati Sasuke.
"Sa… Sas-"
"APA KAU PUAS?!!!!" Sasuke tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya menghadap Sakura dan berteriak. Sontak Sakura mundur ke belakang.
***
"Memang seharusnya dari dulu aku sadar, Sakura tak pernah melihatku sebagai seorang yang pantas dicintai. Aku memang bodoh selama ini selalu mengharapkan cinta itu darinya. Aku memang aneh, Tapi… Aku…. " Naruto menunduk, ia mencengkeram bangku taman yang sekarang sedang didudukinya. Ia termenung, menangis dalam hati mengetahui betapa mirisnya perasaan cintanya untuk Sakura yang tak pernah berbalas.
"Na… Naru… Naruto….!" Sebuah suara dan sebuah tepukan lembut di bahu mengagetkannya. Dengan cepat ia menoleh ke arah Hinata, yang tersenyum ke arahnya meskipun canggung. Dengan cepat gadis itu menarik tangannya.
"Ma… Maaf, Naruto-kun… A.. Aku… Aku hanya…." Nampaknya penyakit itu belum sembuh juga. Naruto tersenyum.
"Ah, Hinata… Duduklah, duduklah, Hinata! Aku… Aku senang kau datang!" sambut Naruto ceria, berusaha menutupi kesedihannya baru saja. Hinata duduk di sebelah Naruto kemudian memainkan jari-jarinya seperti biasa. Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman. Ia tersenyum, kemudian kembali menunduk.
"Hinata…. Emmm… Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Naruto sambil menatap Hinata dengan senyumnya yang lebar. Hinata tersipu melihatnya.
"E… Eng…. Bo… Boleh, Naruto-kun…. Iya…."
"Eng…. Apakah Hinata pernah menyukai seseorang?" Tanya Naruto sambil terus mengamati Hinata. Mata bertemu mata. Hinata terkesiap.
"A… A…. Per… Pernah, Naruto-kun. Ada.. ada apa menanyakan itu?" Tanya Hinata yang dengen gelagapan membuang pandangannya ke arah rerumputan di depannya. naruto tersenyum.
"Lalu… Apakah perasaan Hinata bila seseorang yang Hinata cintai lebih memilih orang lain daripada Hinata?"
Hinata semakin menunduk. Tiba-tiba saja ia merasakan perasaan yang sangat sakit, mengingat hal itu juga terjadi pada dirinya. Padanya, Naruto, dan Sakura. Mereka terlibat cinta segitiga. Dan sampai sekarang dan seterusnya mungkin akan tetap sama.
Melihat Hinata yang masih diam tak merespon, Naruto merasa tak enak juga.
"Maaf, Hinata. Aku cuma bertanya. Tidak usah diawab tidak apa-apa kok!" kata Naruto dengan sebuah cengiran, sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hinata menggeleng cepat mengetahui kelalaiannya melupakan Naruto karena tenggelam dalam pikirannya.
"Buk.. Bukan begitu Naruto-kun… Rasanya sangat sakit…. Me.. melihat orang yang dicintai tida… tidak mencintai kita, ak… akan tetapi mncintai orang lain…. Tapi… tapi lebih dari semua itu…. Lebih sakit lagi… jika mengetahui orang yang kita cintai …. Berpura-pura mencintai kita…" Hinata menelan ludahnya. "Sebenarnya… banyak sekali hal… yang bisa dilakukan…. Yaitu salah satunya…. Dengan melepaskan orang itu… mungkin… dengan membiarkan orang yang kita cintai bahagia… kita pasti juga akan merasakan senang…. Walau sakit pada awalnya…." Hinata semakin menunduk dalam-dalam. Membahas semua ini pasti kaan membuat hatinya sakit.
Sementara itu, Naruto mencoba merenungkan baik-baik kata-kata Hinata. Ia tersenyum. Ya, Hinata benar…. Meskipun rasanya sakit di awal, tapi seiring waktu, dengan melepaskan Sakura Naruto yakin, ia akan mendapatkan kebahagiaan.
Naruto tersenyum lebar seperti biasanya. Ia kemudian berdiri, merenggangka kedua tangannya.
"Wah, rasanya lega sekali…. Aku senang kau ada disini, Hinata…. Hihihi… Oh, ya… Aku jadi penasaran siapa laki-laki yang kau suk- eh?!!" perkataan Naruto terpotong ketika Hinata memeluknya, menenggelamkan kepalanya di puggung Naruto.
"Kau! Kau Naruto! Aku… Aku mencintaimu!!!!" kata Hinata. Naruto membelalakkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Hinata mencintainya? Apakah….
"Hi… Hinata?" ucap Naruto kemudian berbalik, menatap Hinata yang melepaskan pelukannya dan menunduk.
"A… Aku selalu… mencintai Naruto-kun… dari dulu… Aku… Aku sakit mengetahui Naruto-kun tak pernah memperhatikanku… aku…. Aku… hanya bisa berharap suatu hari nanti… Naruto-kun bisa mencintaiku…. Tetapi…. Bila Naruto-kun tidak pernah mencintaiku… aku…. Aku tidak akan bersedih terlalu lama…. Karena… karena bagaimanapun juga…. Meluhat Naruto bahagia bersama orang lain… jauh memberikan kebahagian tersendiri bagiku…." Kata Hinata di sela-sela air mata yang mengalir dari sudut kedua matanya. Naruto bisa merasakan kesedihan yang dialami Hinata, karena bagaimanapun juga, ia juga mengalaminya.
"Hi… Hinata… Aku…. Maaf, belum bisa menjawabnya karena ini terlalu tiba-tiba… Aku pikir…" Naruto terdiam, melihat Hinata yang tertunduk di hadapannya. Ia menunduk. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya.
Tiba-tiba Naruto tersenyum.
"Aku pikir… Aku bisa mencobanya denganmu, Hinata… Karena…. Karena aku senang sekali mengenalmu Hinata, mungkin… Mungkin mulai sekarang kita bisa menjadi lebih dari sekedar teman. Aku… akan mencobanya, Hinata…" kata Naruto sambil memegang kepala Hinata, mengusap rambutnya. Hinata mennduk semakin dalam.
"Te… Terimakasih, Naruto… Aku… Ak----"
"HEH!?! HINATA?! KENAPA KAU PINGSAAAAANNNN??"
***
"Sas…. Sasuke… Apa yang… Aku…." Sakura menjawab terbata-bata. Dengan takut-takut ia melihat mata Sasuke yang menatapnya tajam. Angin sepoi-sepoi meniup rambut Sakura, menutupi sebagian wajahnya, begitu pula dengan Sasuke.
"Aku…." Sakura semakin menunduk. Ia menatap sepatunya. Perlahan, beberapa butir cairan bening turun dari matanya. Tubuhnya bergetar. Sasuke masih menatapnya tajam.
"Kalau…. Kalau Sasuke-kun tahu, aku bahkan tidak mengerti kalau akhirnya Naruto akan melakukan itu, karena kemarin dia bilang dia hanya akan memaksa Sasuke!!!" ucap Sakura tegas.
"ITU BERARTI KAU IKUT CAMPUR JUGA, KAN? KAU SEBELUMNYA TAHU JUGA, KAN?!" Sasuke masih membentak Sakura yang langsung menatapnya tajam. Tapi kemudian gadis itu kembali menunduk.
"Ya… aku hanya…. Aku hanya ingin tahu… tetapi"
"…"
"Tetapi kalau Sasuke akhirnya marah, aku minta maaf. Dan… sepertinya… aku…" dengan cepat ia berbalik dan berniat meninggalkan Sasuke-tidak sampai akhirnya tangan kokoh itu menahannya dan menariknya dalam pelukannya dengan erat, menenggelamkan kepala gadis itu ke dadanya yang bidang, dan menundukkan kepalanya ke kepala gadis itu, mencium aroma rambutnya. Ia memeluknya dengan erat dan tak ingin melepaskannya.
***
TBC
***
Hueeee…. Minna-san…. Lama(sekali) tak jumpa dalam fict ini. Maafkan…. Maafkan saya…. m(_ _)m.
Maaf baru bisa update. Habis yang ini kena WB, tapi untung bisa selesaikan juga *lirik-lirik atas* Buseettt, kok makin ancur, ya? (readers : Bukannya dari dulu?)
Hohoho~halah, pokoknya terimakasih buat yang sudah mengingatka saya akan fict ini. Maaf bila baru update. Maaf…. Pokoknya makasih sekali…. ^^
Lxu
Hehhe, masihhh.... :D, Makasih sudah mereview... :D
Sakura Hinamori
Hehehe, ini udah ada Sasusakunya... :D, Makasih reviewnya. :D
-Kasumi Luph Deidara-
Hohoho, itu yah? Aku juga mau buaaaatt..... :D. Iya, ntar deh..... (^.^)b, Makasih reviewnya. :D
Kazekage
Hehehe, . Maaf, soalnya slight doang yang itu... gomen, Gaaranya ga ada... m(_ _)m, Makasih reviewnya. :D
Zankerrr
Hehehe, makasih. Iya, ini mau diselesaikan.... :D, Makasih reviewnya. :D
SeEcReT gIrL tanpa login
Jiahahaha, hehehe.... iya tuh, Shika ama Temari aja mah.... :D. Hehehe, setelah saya pikir-pikir, masih lama kayaknya cuma hiatus ga jadi keluar -ditimpukin batu-. Hehehe, makasih reviewnya. :D
Chiwe-Sasusaku
Hehehe, ho'o. Sulit banget sih, si ayam itu -dihajar Sasu FC-
Makasih udah review Chiweeee...... :D
Lollipop 'Dolphin' Li Qiu
Hehehe, wah.... Iya, dia memang jago makan -ditiban Chouji-
Hohoho, ini banyak NH-nya.... :D, Makasih reviewnya. :D
Yak, maaf review sebelumnya belum bisa bales dulu.... m(_ _)m. Ano, kemarin ini updatenya 2 chap loh, jangan kelewatan ya.... hehehe... Maaf.....
