"Jangan pernah berbuat seperti itu lagi, Sakura," ucap Sasuke masih tetap memeluk gadis itu. Sakura hanya bisa mengangguk di dada bidang Sasuke masih terisak. Mereka berdua masih pada posisinya sampai akhirnya…

GEDUBRAK!

"Aww… punggungku! Jangan bersandar di tubuhku, dong! Berat tahu!"

"Sstt… Diamlah Ino. Kau membuat mereka akan tahu persembunyian kita!"

"Cih. Kalau kau ti-emph!"

"Sudah kubilang diaaam!"

Suara-suara gaje itu membuat pasangan yang sedang berpelukan itu menoleh dan langsung melepaskan pelukannya masing-masing. Mereka berdua menoleh ke tempat berasalnya suara.

"Apa yang kau lakukan, Ino!" omel Sakura ketika melihat Ino yang tengah meringis di bawah semak-semak sambil memegangi punggungnya.

"Eh… Sakura… Aku… hanya membantu pekerja taman memotong semak. Iya… hehe… benar kan, teman-teman?" tanya Ino sambil menoleh kepada 'teman-temannya' di semak-semak. Seketika wajahnya merah padam ketika mengetahui 'teman-temannya' ini telah raib.

"E-eh? Kemana mereka semu—"

"YAMANAKA INOOOOO!"

Sebuah suara cukup menggelegar disertai suara mengaduh dari seorang cewek berambut pirang yang dihadiahi sebuah jitakan dari sahabat pinknya menggema.

(_ _')zzZZ

"Aku bersumpah kalau bertemu mereka, aku akan memukul punggung mereka satu persatu!" ucap Ino sambil memegangi punggung dan kepalanya. Sakura hanya terkekeh kecil.

"Dan aku juga bersumpah akan menjitak kepalamu jika mereka tidak mau mengaku!" balas Sakura sambil menatap Ino sinis. Ino mendelik. Sebuah tatapan listrik dari mata keduanya disertai geraman muncul begitu saja ketika mereka berdu- eh, bertiga berjalan. Jangan lupakan seorang laki-laki berambut ayam di belakang mereka berdua.

"Dahi lebar!"

"Babi!"

"Dahi lebar!"

"Babi!"

"DAHI LEBAAAAAR!"

"BABIIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

Mulai lagi pertengkaran antara kedua sahabat itu. Sasuke yang di belakang mereka hanya menatapnya bosan. Sama sekali tidak menarik untuk ditonton. Ia masih memasukkan tangannya di saku sambil melihat keadaan sekeliling, malas untuk memperhatikan kedua gadis yang berdebat di depannya, meskipun salah satu darinya adalah orang yang dicintainya. Ia akan memutuskan untuk meninggalkan mereka jikalau sahabat kuningnya tidak melambaikan tangan dan memanggil namanya. Ia memutar bola matanya. Naruto berlari ke arahnya sambil menggandeng tangan Hinata.

"Hai…! Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya ketika sampai di tempat Sasuke, Sakura dan Ino berada. Hinata di sebelahnya hanya memandangi Sakura dan Ino yang masih asyik berdebat dengan bingung. Dengan segera, ia mendekat kearah mereka berdua dan melerainya.

"Su… sudahlah, Sakura-chan… I…Ino-chan, jangan bert—"

"Babi!"

"Dahi lebar!"

Naruto yang melihatnya hanya nyengir, sementara ia sendiri tidak sadar kalau sedari tadi, hawa membunuh ada di sekelilingnya. Bahkan ketika ia bertatapan langsung dengan sosok yang dimaksud, dengan tampang tak berdosa ia berkata,"Mereka lucu ya, Teme?"

"Bodoh!" ucap Sasuke seketika. Naruto mengerutkan keningnya.

"Hah? Apa maksudnya?" Naruto mengangkat alisnya tinggi karena bingung.

"Idiot," ucap Sasuke dengan tampang meremehkan.

"Apa? Enak saja kau mengatakan aku idiot!" jawabnya emosi sambil menunjukkan kepalan tangannya. Sedangkan Sasuke hanya menyeringai. Naruto memandang Sasuke sebal sekaligus gemas ingin menojoknya. Di dahinya, terdapat sebuah perempatan jalan. Ia benar-benar kesal pada Sasuke.

"Hn, terimakasih, Dobe!" ucap Sasuke tiba-tiba, sambil tersenyum kecil. Senyum tulus yang membuat Naruto melongo. Naruto menurunkan kembali kepalan tangannya.

"Kau ini kenapa, sih?" tanya Naruto bingung.

"Ya… kau tahu, kan?" ucap Sasuke kembali sambil melirik Sakura yang ada di depan yang masih melanjutkan aktivitas saling mengejeknya. Naruto hanya tersenyum. Kemudian menonjok main-main bahu temannya itu.

"Aku senang kalau kalian bahagia," ucapnya tulus. Sasuke kembali tersenyum tipis, kemudian akhirnya menyeringai.

"Berarti aku yang menang, kan?" katanya tanpa rasa bersalah. Dan seketika itu juga, ia berbalik dan menyeret lengan Sakura membawanya pergi.

"BA—E—eh?" ucap Sakura ketika Sasuke tiba-tiba menyeret lengannya, membawanya menjauh dari gerombolan kecil teman-temannya. Ia hanya melongo kebingungan. Sedangkan Ino dan Hinata hanya bisa cengo. Naruto yang masih belum bisa mencerna perkataan Sasuke hanya mengerutkan keningnya bingung. Sampai akhirnya…

"Awas kau TEMEEEEEEE!" ucapnya membahana, membuat beberapa orang yang lewat menoleh kepadanya. Sedangkan sosok yang dimaksud Naruto hanya menyeringai di kejauhan.

(_ _')zzZZ

"Jadi… kalian semua sudah mempunyai pasangan sendiri-sendiri, ya?" tanya Tsunade kepada Sakura yang sedang ada di ruangannya untuk melaporkan hasil pekerjaannya. Sakura mengangguk kecil.

"I… iya, guru!"

Tsunade tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Dengan begini… aku pikir Konoha bisa mempunyai generasi muda yang unggulan. Kau tahu, kan, maksudku memberikan perintah ini, karena menjadi shinobi sangatlah beresiko. Tak jarang dari mereka yang kehilangan nyawa. Untuk menanggulangi habisnya manusia-manusia berkualitas di sini, tentu saja shinobi harus mempunyai keturunan, kan?" kata Tsunade.

"Awalnya aku pikir, kalian akan menikah dengan orang biasa-bukan shinobi. Tapi ternyata… tak kusangka. Iya kan, Uchiha Sakura?" lanjut Tsunade. Sakura menunduk malu.

"Terkadang melihat kalian semua… membuatku mengenang masa muda. Ketika aku bersamanya. Dan… Aku pun juga tak menyangka… si tua mesum itu, dan Orochimaru akan pergi mendahuluiku… seperti orang-orang berharga bagiku yang lainnya. Aku…" Tsunade mulai menerawang, membuat Sakura yang saat itu ada di depannya menjadi tidak enak pada gurunya itu.

"Lupakan!" ucap Tsunade seketika sambil tersenyum.

"Aku ingin kalian bahagia. Sebaiknya kalian segera menikah saja. Tidak baik menunda waktu, kan?" tanya Tsunade seketika pula, membuat Sakura tersenyum malu. Tapi… hei! Itu bukan ide yang buruk, kan? Sakura mengangguk semangat. Tsunade tersenyum tulus kepada muridnya itu.

(_ _')zzZZ

"Teman-teman, kalian akan menikah kapan?" Tanya Sakura sambil membenarkan posisi duduknya di taman. Keempat temannya tiba-tiba langsung tercenung.

"Akan kubahas bersama Shikamaru nanti," ucap Temari.

"Yah, aku juga," ucap Ino sambil mengangguk.

"Membahasnya dengan Shikamaru?" Tanya Sakura usil.

"Yah, tentu saja. Eh? Dasar dahi lebar! Tentu saja dengan SAI!" ucap Ino sambil memamerkan kepalan tangannya di hadapan Sakura. Membuat gadis dengan rambut merah muda itu tertawa puas.

"Ah iya. Kau Hinata? Dan Tenten," tanya Sakura mengabaikan Ino.

"A-anooo… aku akan membica-rakannya dengan Na-naruto-kun," ucap Hinata sambil memainkan jari-jarinya gugup.

"Yah. Itu urusan mudah," ucap Tenten sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutupi matanya karena angin.

"OKE! Semoga kita berhasil teman-teman!" Sakura meninju udara kosong di depannya.

"YA!"

(_ _')zzZZ

"Sasuke-kun," Sakura berjalan ke arah dapur untuk mencari tunangannya. Kepalanya melongok dari pintu, dan tidak mendapati Sasuke di ruangan itu. Dengan cepat ia naik ke lantai dua rumah kediaman Sasuke ini. Dan kakinya menuntun ke dalam ruangan pribadi milik Sasuke, kamarnya. Yah, Sakura memang bebas pergi masuk ke dalam rumah ini, mengingat statusnya.

"Sasuke-kun!" tubuh Sakura memasuki kamar luas milik bungsu Uchiha itu. Dan kembali di dapatinya kamar itu kosong. Padahal pintunya tidak dikunci. Berarti Sasuke ada di rumah, kan?

CKLEK

Refleks Sakura menolehkan kepalanya ke arah suara barusan dan itu membuatnya…

"KYAAAAAAAA!"

"Ah, Sakura!"

"Sumpah Sasuke-kun aku belum melihat semuanya! Sumpah tadi baru sedikit. Aku berani jamin itu. Swear. Aku tidak melihat apa-apa. Aku tidak melihat bagian terlarangmu! Sumpaaaaaah!" ucapan tak jelas keluar dari mulut shinobi kesayangan Tsunade itu. Ia membalikkan badannya cepat untuk membelakangi Sasuke sambil menutupi matanya dengan telapak tangannya. Mau tak mau itu membuat Sasuke menyeringai. 'dasar aneh'

"A-anoo… Aku akan keluar! Okedeh! Aku tunggu di bawah. Ada yang mau aku bicarakan!" ucap Sakura kemudian berjalan menyamping untuk mencapai pintu. Setelah mencapainya ia langsung menutupnya keras dan berlari sambil ber'kya'ria.

Sasuke menggumam aneh kemudian membenarkan posisi handuknya yang sebelumnya sempat melorot. Ia berjalan ke arah lemari dan memakai pakaiannya.

(_ _')zzZZ

"Anoo… Naruto-kuun…" ucap Hinata ragu sambil mengamati Naruto yang asyik memakan ramen di sebelahnya, di kedai langganan Naruto ini.

"Ya Hinaha? Aha aha?" Naruto menoleh sambil mengati Hinata dengan mulut penuh dengan mi. hinata tersenyum kecil. Naruto mempercepat proses makannya.

"Maksudku, ada apa, Hinata?" ucap Naruto sambil menatap Hinata, lagi-lagi membuat Hinata merah padam wajahnya.

"Na—naruto-kun!"

"Ya? Ada apa?" Naruto mendekatkan wajahnya. Tak mengerti bagaimana wajah tunangannya itu di depannya.

"A-anoooo,"

"Katakan saja, Hinata," Naruto berucap sambil memegang kedua bahu Hinata.

"Na—ruto-khh,"

"Eh? Hinata! Hinata kenapa kau pingsaaaaaaan!" Naruto segera membopong Hinata dengan panik.

(_ _')zzZZ

"SAI-KUUUUN!" Ino berlari menuju ke tempat Sai yang sedang melukis di bawah pohon besar di taman. Sai yang sedang menggoreskan kuasnya menoleh ke arah Ino dan tersenyum—bukan senyum palsu lagi.

"Ada apa, Ino-koi?" ucapan Sai barusan membuat Ino yang sampai di sana menjadi malu sekaligus senang. Dengan segera ia mengalungkan tangannya ke lengan Sai manja.

"Anoo... Sai-kun... apa kau tidak mau kita untuk segera menikah?" ucapan Ino membuat Sai tersentak terdiam.

"Me-menikah?" ulang Sai dengan wajah yang agak terkejut. Ino mengerutkan dahinya heran.

"Iya... menikah... memang ada apa Sai-kun?" tanya Ino penasaran dengan reaksi tunangannya itu.

"Ah! Tidak apa-apa. Maafkan aku. Aku hanya terkejut," ucap Sai sambil menggaruk pipinya tersenyum. Ino ikut tersenyum. Dengan cepat Ino mencium pipi Sai.

"Jadi apa jawabannya?" tanya Ino. 'kenapa aku yang begini, sih?'

"Jawaban apa?" tanya Sai polos. Ino yang semula tersenyum manis menghilangkan senyumnya. 'ya ampun, ganteng-ganteng lemot ih'

"Apa kau mau secepatnya menikahiku?" ucap Ino kali ini dengan senyum yang dipaksakan. 'sabar Ino, dia sedang belajar bersosialisasi. Sabar... sabar...'

Sai tersenyum kemudian mengangguk. "Ajari aku untuk bicara pada orang tuamu, ya?"

Dan kali itu Ino menjadi orang yang sangat berbahagia.

(_ _')zzZZ

"Hei, kenapa kau melamun?" tanya Shikamaru melihat Temari sedang melamun di tempat pria itu tidur. Temari terkesiap.

"Ti-tidak apa-apa!" ucap Temari gugup. Ia membuang pandangannya dari Shikamaru membuat pemuda itu mengernyitkan dahinya bingung. 'kenapa perempuan ini aneh sekali? Tidak biasanya dia begini'

"Kau ada apa?" tanya Shikamaru penasaran. Tidak biasanya Temari terdiam seperti ini. Temari menunduk kemudian membuang nafasnya.

"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," Temari meremas roknya gugup. Dan itu membuat Shikamaru tidak percaya apa yang dikatakan tunangannya itu. Ia merebahkan dirinya di samping Temari kemudian menyangga kepalanya dengan tangannya—seperti bantal, melakukan rutinitasnya, melihat awan.

"Kalau ada apa-apa, bicara saja padaku. Tidak apa-apa, Temari, mungkin aku bisa membantumu," ucap Shikamaru. Dan kata-kata itu tanpa disadarinya membuat hati Temari menghangat.

(_ _')zzZZ

"Ne-neji-kun," ucap Tenten ketika melihat Neji sedang berlatih sendirian di bawah pohon. Ia kemudian berlari mendekati orang yang sangat dikasihinya itu. Dengan sabar ia menunggu Neji berlatih dengan duduk di bawah salah satu pohon lain disana.

"Ada apa, Tenten?" ucap Neji tanpa menoleh—yah menggunakan Byakugan. Tenten yang sedang menyiapkan kata-kata yang tepat terkejut.

"A-aa? Ne-neji-kun," ucapnya gugup. Neji berbalik kemudian menghampiri Tenten.

"I-ini!" ucap Tenten mengulurkan handuk dan air kepada Neji. Neji menerimanya kemudian duduk di sebelah Tenten.

"Tidak biasanya kau mengunjungiku," ucap Neji setelah menenggak air pemberian Tenten. Tenten meringis.

"Maafkan aku," Tenten mengalihkan pandangannya ke arah lain selain pada Neji.

"Kukira kau datang kesini tidak untuk meminta maaf," ucapan Neji membuat Tenten seperti tertimpa batu besar tak kasat mata. Sepertinya akan sulit menyampaikan maksudnya.

"Ahahaha, ten-tentu tidak," Tenten menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gugup. Ia menelan ludahnya berkali-kali. Dan Neji mengetahui kalau Tenten akan menyampaikan sesuatu. Dan Neji pun tahu, apa maksudnya itu. Jangan salahkan dirinya kalau dia mendengar pembicaraan para gadis di taman itu.

"Aku tahu apa yang akan kau katakan," ucapan Neji membuat Tenten menoleh dengan cepat.

(_ _')zzZZ

"Ada apa, Sakura?" Sasuke menghampiri Sakura yang sedang berada di dapur rumahnya, menyiapkan makanan untuk Sasuke. Sakura menoleh dengan gugup apalagi mengingat apa yang terjadi tadi, membuat wajahnya sekarang bersemu merah.

"Ahahaha, tidak ada," ucapnya berbohong kemudian melanjutkan kegiatannya memotong tomat. Sasuke mengerutkan dahinya tak suka.

"Kupikir kau ingin mengatakan sesuatu," ucap Sasuke seenaknya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sakura—membuat gadis itu berjengit.

"Me-memang ada," ucap Sakura.

"Katakan," Sasuke memeluk Sakura dari belakang kemudian mengambil salah satu tomat dan memakannya.

"A-ano Sasuke-kun... aku... umm... a-apa kau tidak memikirkan masa depan kita?" tanya Sakura mencoba tenang meskipun ia berdebar-debar. Sasuke terdiam mencerna maksud Sakura.

"Maksudku… kapan kita akan menikah?" lanjut Sakura sambil melepaskan pelukan Sasuke. Ia berbalik untuk menatap tunangan yang lebih tinggi darinya itu. Sasuke menatap Sakura dengan tajam. Beberapa menit ke depan tidak ada suara pasti dan itu membuat Sakura bingung sekaligus kesal.

"Kau ini niat tidak sih? Katanya mau mengembalikan klanmu?" ucap Sakura dengan dahi mengerut tak suka. Dengan kesal ia berbalik dan melanjutkan aktivitas sebelumnya, memotong tomat. 'dasar Sasuke jelek. Apa dia tidak berpikir untuk segera menikahiku apa?'

Sasuke memutar bola matanya melihat kelakuan Sakura. Bukannya dia tidak mau tapi dia tidak percaya Sakura mengatakan itu. Ia pikir Sakura belum siap untuk menjalani kehidupan bersamanya, apalagi untuk mengembalikan kejayaan klannya.

"Hn, aku serahkan padamu, Sakura," ucap Sasuke dengan lembut. Membuat Sakura dengan refleks berbalik dan langsung memeluk tunangannya itu dengan senang.

"Secepatnya ya!" ucap Sakura dengan girang.

(_ _')zzZZ

"Hinata-chaaan!" ucap Naruto panik sambil menggoyangkan tubuh Hinata yang sekarang ada di tempat tinggalnya, tepatnya di atas tempat tidurnya.

"Hinata-chan! Bangun! Kau kenapa?" ulang Naruto sambil menggoyang bahu kecil Hinata. Hinata mengerutkan dahinya kemudian membuka matanya pelan-pelan. Yang pertama dilihatnya adalah sesuatu berwarna kuning yang menempel di benda agak bulat kecoklatan dengan tiga garis di salah satu sisinya.

"Um.. Na-naruto-kun?" Hinata mencoba duduk dibantu Naruto.

"Ya? Kau kenapa sampai pingsan begitu, Hinata?" tanya Naruto bingung sambil mengelus bahu tunangannya itu. Hinata terdiam—lagi-lagi dengan wajah yang memerah. Naruto sekarang agak paham dengan gelagat Hianata yang suka pingsan jika berada di dekatnya.

"Hinata-chan," panggil Naruto dengan lembut membuat Hinata menoleh padanya. Naruto menatap lekat tunangannya itu.

"Apakah kau mau berjanji padaku?" tanya Naruto kepada Hinata. Hinata mengerutkan dahinya mencerna perkataan Naruto. Dan kemudian ia mengangguk menanti kata-kata Naruto selanjutnya.

"Berjanjilah untuk tidak pingsan lagi jika berada di dekatku. Ingat, aku ini kekasihmu, pria yang sebentar lagi akan menikahimu..." ucap Naruto serius. Hinata menunduk. Ia selalu saja pingsan apabila di dekat Naruto. Padahal ia sudah berusaha sangat keras. Hatinya selalu berdebar-debar jika ia dekat dengan pria itu. Dan ngomong-ngomong... Naruto tadi bilang apa? Sebentar lagi akan menikahimu, begitu? Apakah itu berarti...

Hinata tersentak. Wajahnya memerah padam.

"Hinata-chan... apakah kau bersedia secepatnya menikah denganku?" ucap Naruto. Ah, Hinata, kau tidak perlu gugup seperti gadis-gadis lain. Kau beruntung. Benar kan? Dan detik itu pula Hinata mengangguk malu dan berusaha keras untuk tidak pingsan saat Naruto memeluknya erat.

(_ _')zzZZ

"Apakah kau ingin segera menikah?' ucap Neji to the point membuat wajah Tenten seperti kepiting rebus. Ia mengangguk malu-malu.

"Apakah kau bersedia dengan semua konsekuensinya?" tanya Neji lagi. Tenten terdiam sebentar. Menerawang.

"Sebaiknya kau pikirkan itu dulu sebelum kita akan menjalaninya Tenten," ucapan Neji menggema di telinga Tenten. Tenten terdiam. Ia tahu dan ia semakin paham. Jika Neji adalah orang yang memperhitungkan semuanya secara matang-matang. Neji adalah orang yang berhati-hati dalam segala hal. Dan Tenten mulai berpikir. Mungkin ia tidak bisa kalau hanya memutuskan untuk menikah saja dengan Neji tanpa memperhitungkan konsekuensinya. Tapi… baginya sangatlah berarti apabila ia bisa bersama dengan pria yang dicintainya. Dalam suka maupun duka. Apapun yang akan terjadi… asalkan bersama Neji ia yakin akan dapat menjalaninya. Maka selanjutnya…

"Iya Neji! Aku bersedia dengan semua konsekuensinya!" ucap Tenten dengan wajah yang bersungguh-sungguh. Saat berikutnya yang membuat wajahnya menghangat saat ia merasakan tangan besar Neji menggenggam tangannya. Hangat...

(_ _')zzZZ

"Aku... ingin menanyakan tentang hubungan kita, Shikamaru," ucap Temari. Shikamaru yang sedang menutup matanya, segera membuka matanya dan menatap Temari.

"Apa kau tidak bosan dengan keadaan seperti ini?" tanya Temari lagi.

"Bagaimana kalau kau ucapkan saja maksudmu, Temari," ucap Shikamaru mulai jengah. Temari terdiam.

"Shikamaru, kapan kau akan menikahiku?" ucapan Temari barusan membuat Shikamaru terkejut. Temari mengerutkan keningnya melihat reaksi Shikamaru.

"Memangnya kenapa?" ucap Shikamaru berlagak seolah tak peduli.

"Kau bilang kenapa? Apa kau tidak serius denganku? Maksudku kita sudah lama berpacaran dan mengenal satu sama lain. Kenapa masih bertanya seperti itu?" ucap Temari dengan nada meninggi. Shikamaru mendesah pelan. 'merepotkan'

Tapi… bukankah dulu Shikamaru pernah memimpikan menikahi orang yang tidak merepotkan? Apakah Temari perempuan yang merepotkan? Yah, memang Shikamaru sering mengatai Temari seperti itu… Tapi dibalik itu semua Shikamaru sungguh percaya Temari adalah orang yang sangat memperhatikannya. Dibalik sikap cerewetnya, Temari merupakan orang yang bisa membuat Shikamaru merasa berharga. Temari adalah gadis dengan pikiran dewasa. Dan Shikamaru tahu ia sangat membutuhkan perempuan seperti itu.

"Hah. Baiklah. Lalu kau ingin kapan aku menikahimu?" tanya Shikamaru sambil melihat ke arah Temari.

"Dasar tidak romatis! Seharusnya kau ka—"

"Kalau kau mengenalku, kau tidak usah protes," potong Shikamaru kemudian menguap lebar. Temari berdecak pelan melihat kebiasaan kekasihnya itu.

"Iya... maukah kau menikahiku secepatnya?" ucap Temari dengan was-was.

"Hmm... merepotkan..."

"Apa kau bilang? Merepotkan? Dasar laki-laki...!"

"Eh? Hei lepaskan telingaku!"

Yah, rutinitas biasa…

(_ _')zzZZ

Beberapa tahun kemudian

"Kaa-chaaaaan! Hari ini Satsuke belajar Katon no jutsu. Satsuke sudah bisa melakukannya, Kaa-chan!" seorang laki-laki berumur lima tahunan berlari kemudian menubruk ibunya yang sedang di dapur. Seorang wanita dengan rambut panjang pink sepunggung terkejut melihat kelakuan anak lelakinya itu.

"Satsuke-kun, kau membuat Kaasan kaget. Jangan menubruk Kaasan seperti itu, kalau perut Kaasan terbentur kan bisa bahaya," ucap Sakura—nama wanita itu berbalik lalu sedikit menunduk, mengelus rambut anaknya yang mirip dengan rambut suaminya. Berwarna hitam legam. Satsuke terdiam.

"Ma-maafkan aku Kaachan. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi!" ucap Satsuke dengan wajah bersedih, mau tak mau membuat Sakura tersenyum geli sambil mengacak rambut Satsuke—anak hasil pernikahannya dengan Uchiha Sasuke.

"Iya, sayang. Sekarang kamu mandi, ya! Biar Kaasan menyiapkan makan malam," ucap Sakura akhirnya. Ia berdiri, merapikan celemeknya yang sedikit berantakan.

"Iya, Kaachan. Oh iya…" ucap Satsuke tiba-tiba kemudian dengan lembut memeluk perut Sakura dan menciumnya.

"Semoga adik cepat lahir. Jadi Satsuke ada teman bermain!" ucap Satsuke riang. Sakura terharu mendengarnya. Apalagi, teringat kejadian saat adik Satsuke—saat Satsuke berumur tiga tahun, adiknya keguguran. Dan Satsuke kecil rupanya mengerti karena ia terus menangis. Sakura mencium dahi anaknya sayang.

"Iya, Satsuke-kun. Sekarang mandi, ya. Oh iya, dimana ayah?"

"Eh? Ayah tadi bertemu paman Naruto sewaktu pulang. Jadi aku disuruh pulang duluan. Kata ayah ia akan pulang saat sarapan," ucap Satsuke dengan mimik lucu saat mengingat-ingat apa yang dikatakan ayahnya. Sakura tersenyum geli.

"Mungkin maksudmu makan malam, ya! Iya sudah. Sekarang kamu mandi. Setelah itu bergegas kesini untuk makan malam ya," kata Sakura sambil menatap mata hitam legam anaknya dengan lembut. Satsuke mengangguk pelan kemudian tersenyum dan berlari meninggalkan ibunya di dapur.

"Tadaima," suara laki-laki dewasa terdengar samar di telinga Sakura. Itu pasti suaminya, Sasuke.

"Okaeri, Sasu-kun," ucap Sakura dari dalam dapur. Beberapa detik kemudian Sakura menoleh karena ia tahu, suaminya akan datang ke dapur menyusulnya—dan melakukan rutinitasnya, mencium Sakura.

"Ew… mandi sana. Badanmu kotor dan bau," ucap Sakura sambil mendorong badan Sasuke menjauh.

"Tidak," ucap Sasuke malah mendekati Sakura dan memeluk istrinya erat. Menyandarkan kepalanya ke bahu Sakura, menghirup aroma khas istrinya itu.

"Sas—" Sakura tidak bisa menyelesaikan perkataannya setelah bibirnya terkunci oleh bibir suaminya. Ciuman biasa yang pada akhirnya menjadi ciuman panas.

"Sasskeh—" Sakura menahan pekikannya saat Sasuke menggigit leher mulusnya.

"Kaa-chaaan, aku sudah sele—eh?" jeritan anaknya terhenti ketika mencapai pintu dapur melihat pemandangan dengan rating T+ di depannya itu.

"Apa yang kaachan dan Tousan lakukan?" Tanya Satsuke polos sambil menatap orang tuanya ingin tahu. Sakura menginjak kaki Sasuke gemas karena tak tahu tempat.

"Hahahaha… Tidak ada, Satsuke-kun, Tousan hanya sedang… err—"

"Membersihkan tubuh Kaasan," ucap Sasuke asal. Membuat Sakura mendelik kearahnya.

"Tapi kenapa digigit?" lanjut Satsuke polos. Sakura gelagapan.

"Itu karena kotorannya sulit diambil. Sudah Satsuke makan sana!" perintah Sasuke. Satsuke yang tidak berani melawan ayahnya hanya mengangguk sambil terus memikirkan apa yang baru saja terjadi.

"Kau harus bertanggung jawab!" ucap Sakura berbisik ketika ia melewati Sasuke. Sasuke memutar bola matanya.

"Semuanya beres, Sakura,"

"Ya, tapi kau membuat Satsuke melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat," ucap Sakura sambil melihat Sasuke makan. Sasuke kembali memutar bola matanya lagi. Istrinya suka melebih-lebihkan suatu hal. Padahal urusannya sudah beres, kan?

"Tanggung jawab? Oke, aku tunggu kau di kamar setelah makan malam," ucap Sasuke sambil menyeringai. Sakura yang mendengarnya menjadi merah padam wajahnya.

"Me-mesum! Sudah mandi sana!" ucapnya sambil mendorong tubuh suaminya menjauh.

"Tunggu!" ucap Sasuke kemudian mendekati Sakura lagi. Sakura mendelik marah pada Sasuke saat pria itu memegang bahu Sakura. Dipikirnya lelaki itu akan berbuat aneh-aneh di depan anaknya. Tapi pendapat itu segera hilang saat Sasuke mencium perutnya yang belum begitu besar dan mengelusnya sayang.

"Cepat besar ya, ayah ingin segera melihatmu," ucapan Sasuke membuat hati Sakura benar-benar tenang.

(_ _')zzZZ

"Enak sekali ramennya, ayah!" seorang gadis kecil dengan rambut kuning cerah dan mata biru berkilauan indah berkata riang di gendongan sang ayah, hokage baru desa Konoha. Pria di depan hanya nyengir.

"Sudah kubilang kan, Hikari-chan. Ramen paman Teuchi memang paling enak!" kata lelaki itu sambil menoleh ke arah anaknya—walaupun tidak bisa melihat anaknya seluruhnya.

"Ya! Tapi Kaasan pasti marah kalau kita terus jajan ramen. Iya kan, Hikaru?" Tanya Hikari pada seorang anak yang berjalan di samping ayahnya. Lelaki dengan rambut hitam model jigrak bermata seperti sang ibu. Hikaru menoleh kepada Hikari.

"Yah. Tapi terkadang boleh, kok," ucap Hikaru, kembaran Hikari.

"Ah, sudahlah, yang penting kita nanti tetap makan malam dengan Kaasan di rumah. Ayo segera cepat, kita bantu Kaasan merawat Minato kecil. Kaasan pasti akan lelah," ucap Naruto mempercepat jalannya.

"Iya, Tousan! Aku ingin segera bermain bersama Minato. Dia lucu sekali sih!" kata Hikaru riang.

"Baiklah. Kalau begitu ayo balapan sampai di rumah. Siapa yang sampai duluan di rumah akan ayah traktir ramen lagi!" ucap Naruto.

"Ah, Tousan curang! Hikari kan digendong!" kata Hikaru tak terima. Naruto nyengir.

"Hehehe, yasudah. Ayo Hikari kamu turun," Naruto berjongkok untuk menurunkan Hikari dari gendongannya. Gadis kecil itu merengut tak suka kepada Hikaru.

"Nah kalau begini kan adil," Hikaru segera berlari meninggalkan kedua orang yang hanya bisa cengo memandangi kepergian Hikaru.

"Hikaru curaaaaaaaaaaang!" Hikari segera berlari menyusul Hikaru meninggalkan Naruto yang cengo melihat ulah kedua anaknya.

.

"Tadaima!" ucap Hikaru dan Hikari bersamaan.

"Okaeri, Hikaru-chan, Hikari-chan," kata Hinata dengan lembut sambil menggendong anak bayi berambut kuning di pelukannya, Minato.

"Kyaaah! Minato-chan. Neechan pulang!" seru Hikari sambil berlari menyusul Hinata dan memeluknya kemudian meminta Minato untuk digendongnya.

"Hati-hati, Hikari-chan," ucap Hinata mengusap lembut kepala anaknya.

"Kaasan, aku mandi dulu yah," ucap Hikaru setelah memeluk ibunya. Hinata tersenyum lembut dan mengelus puncak kepala anaknya.

"Tadaima," ketiga orang di dalam ruangan itu menoleh ke arah pria yang baru saja datang.

"Okaeri," seru semuanya ceria. Naruto tersenyum kemudian berjalan mengecup istrinya.

"Hinata-chan, kau jangan terlalu lelah ya!" ucap Naruto dengan nada lembut. Hinata menangguk kecil. "Apalagi kau sedang mengandung," lanjut Naruto kemudian mengelus perut Hinata yang sedikit membesar.

"Iya, Naruto-kun. Tidak apa-apa kok. Terimakasih, ya," Hinata tersenyum lembut sekaligus senang kepada suaminya yang sangat memperhatikan dan memanjakannya itu. Naruto tersenyum.

"Iya. Sekarang kau istirahat saja ya. Pokoknya kau harus berjanji padaku untuk tidak terlalu capek," Naruto berucap lagi sambil mengecup dahi istrinya. Hinata kembali mengangguk kalem dan tersenyum senang.

"Pasti, Naruto-kun. Arigatou," satu pelukan dari Hinata yang menegaskan ia bukan lagi Hinata yang akan pingsan lagi di depan Narutonya.

(_ _')zzZZ

"Kenji-kun! Ayo makan malam, sayang!" seru wanita dengan rambut pirang panjang kepada seorang anak yang sedang duduk di bawah pohon bersama ayahnya yang ada disebelahnya, mengajarinya melukis. Kenji menoleh kepada ibunya.

"Iya, Kaachaaan! Sebentar lagi ya!" seru Kenji dengan suaranya yang lucu. Ino menggeleng pelan.

"Dasar. Ini sudah waktunya makan malam!" Ino bergumam pelan kemudian memutuskan untuk menyusul kedua orang yang amat disayanginya.

"Sai-kun! Kenapa tidak menyuruh Kenji untuk pulang! Ini sudah waktu makan malam!" ucap Ino geram sambil berkacak pinggang kepada suaminya. Sai hanya tersenyum kecil. Ditatapnya Ino yang berdiri di depannya.

"Ah iya. Sudah selesai kan, Kenji-kun? Kau bisa memperlihatkannya kepada Kaasan!" kata Sai sambil tersenyum kepada anaknya. Kenji mengangguk semangat. Anak lelaki dengan rambut hitam cepak dan mata seperti ayahnya pula itu menggaruk pipinya seakan ragu sebentar. Membuat Ino tersenyum geli melihat kelakuan turunan Sai itu.

"Kau mau menunjukkan apa pada Kaasan?" Tanya Ino penasaran. Ia mendekat ke arah Kenji, anak semata wayangnya.

"Aaah! Jangan lihat dulu, Kaasan!" Kenji memeluk buku sketsa di dadanya. Ino mengerutkan dahinya bingung.

"Anoo… Kaasan jangan tertawa ya!" ucap Kenji sambil menatap mata ibunya dengan wajah serius. Ino bertambah bingung, kemudian mengangguk.

"Janji?" Tanya Kenji memastikan. Ia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah ibunya. Dan Ino mengaitkan kelingkingnya ke arah kelingking mungil anaknya.

"Oke. Sekarang apa yang kau ingin tunjukkan pada Kaasan?" Ino tersenyum lembut.

"Ummm… Aku ingin memberi Kaasan ini! Semoga Kaasan suka. Kalau tidak suka… ummm… juga tidak apa-apa," kata Kenji kemudian mengulurkan buku sketsa kepada ibunya. Dengan cepat, anak lelaki berusia lima tahunan itu menyembunyikan wajahnya di lengan ayahnya yang tersenyum melihatnya. Sedangkan Ino yang menerima sesuatu dari anaknya itu refleks menutup mulutnya dengan tangannya. Terharu, matanya berkaca-kaca.

"Kenji-kun… Ini kaasan?" ucap Ino tak percaya, melihat lukisan seorang wanita dengan rambut pirang sedang duduk di antara padang bunga. Ia benar-benar kagum. Meskipun lukisan anaknya belum sebagus ayahnya tapi ia sangat menghargai ini. Sangat indah. Disaat kebanyakan anak kecil masih belajar menggambar gunung, dengan matahari tersenyum dan awan di atasnya. Burung-burung di sekitarnya. Pohon dipinggir jalan, dan sawah mengelilinginya, anaknya sudah mampu membuat lukisan.

"I-iya, Kaasan. Jelek ya?" Kenji memberanikan dirinya untuk keluar dari persembunyiannya di lengan ayahnya. Ino menggeleng cepat dengan air mata meleleh turun.

"Tidak, sayang. Ini bagus sekaliii!" Ino langsung memeluk anaknya erat.

"A? kaasan kenapa menangis? Kenapa sedih?" Tanya Kenji bingung melihat ibunya seperti itu. Ino menggeleng.

"Kaasan tidak sedih, Kenji-kun, Kaasan sedang bahagia karena kamu memberi Kaasan hadiah yang sangaaat indah. Terimakasih, Sayang," Ino memeluk anaknya erat kemudian mencium dahi Kenji dan kembali memeluknya lagi.

"Ino-koi… Apakah aku juga harus memeluk kalian?" Tanya Sai polos. Ino mengangguk senang. Saat berikutnya, di tempat itu ada momen berharga sebuah keluarga kecil Yamanaka.

(_ _')zzZZ

"Tadaima," ucapan pria dewasa disertai dengan teriakan ceria anak lelaki terdengar di sebuah rumah di distrik Hyuuga.

"Okaeri, Neji-kun, Tori-kun," ucap Tenten lembut. Ia melepaskan celemeknya kemudian menyusul kedua orang berharga untuknya itu. Ia menyunggingkan senyum manis pada suaminya itu, yang dibalas dengan anggukan Neji yang segera berlalu untuk membersihkan badannya.

"Tori-kun, tadi berlatih apa dengan Tousan?" Tanya Tenten sambil menyejajarkan tingginya dengan anak semata wayangnya itu. Rambut kecoklatan anaknya yang ikut dipanjangkan seperti Neji itu bergoyang saat si empunya berkata senang.

"Byakugan!" ucap Tori kemudian memeluk ibunya penuh kasih sayang.

"Kaasan, aku lapar!" ucap Tori dengan tangan mengelus perut mungilnya. Tenten tersenyum.

"Tori-kun tidak mandi dulu, hm?" Tenten tersenyum. Tori mendesah pelan sebagai jawaban.

"Iya deh," detik berikutnya Tori segera berlari untuk menuju ke kamar mandi.

.

"Itadakimasu!" keluarga kecil itu berkata bebarengan saat akan menyantap makan malamnya. Tapi di waktu itu baik Tenten maupun Neji melihat anaknya seperti sedang memikirkan sesuatu karena makanannya tidak kunjung dihabiskan.

"Tori-kun, ada apa? Kenapa tidak dihabiskan?" Tanya Tenten kemudian mengelus kepala anaknya. Tori terdiam kemudian meletakkan sumpitnya dan menunduk.

"Kaasan… Aku ingin bilang sesuatu… Tapi jangan marah, ya?" ucap Tori tetap menunduk. Tenten mengangguk dan mengelus pundak anaknya menenangkan. Neji masih melanjutkan makannya walaupun penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh anaknya.

"Kaasan, tadi waktu di akademi, Satsuke-san bilang ia akan punya adik baru. Katanya Okaasannya sedang mengandung sebentar lagi melahirkan. Satsuke kelihatan sangat senang. Lalu… Hikari-chan juga bilang… kalau punya adik itu menyenangkan karena bisa diajak bermain… Kaasan… tolong belikan aku adik juga, ya!" ucap Tori polos. Tenten menelan ludahnya susah payah dengan wajah merah padam. Takut-takut ia melirik kepada Neji yang rupanya wajahnya biasa saja, bahkan seakan tidak mendengar apa yang anaknya bicarakan. Atau memang tidak mendengar?

"Eh? Hehehe… Hmm… Ah iya! Kenapa membeli adik?" Tanya Tenten kebingungan.

"Soalnya kata Shiro-san kalau punya adik itu harus membeli dulu. Kalau sudah dibeli, nanti adiknya akan diantarkan lewat burung bangau," suara polos anaknya membuat Tenten tersenyum geli.

"Hihihi… Adik itu tidak dibeli, Tori-kun…" kata Tenten sambil mengelus puncak kepala ayahnya.

"Oh ya? Lalu bagaimana caranya punya adik? Tori ingin cepat punya adik, Kaasan…" pertanyaan anaknya barusan membuat Tenten merutuki dirinya sendiri.

"Tousan akan berikan adik untukmu. Sekarang kau lanjutkan saja makannya!" ucapan Neji membuat kedua orang yang sebelumnya berbincang menoleh.

"Tapi kapan, Tousan?" Tori berkata senang sekaligus tak sabar.

"Secepatnya. Sudahlah, sekarang kau makan," perintah Neji. Tori segera mengangguk dan menghabiskan makanannya cepat. Sedangkan Tenten berusaha sekuat tenaga untuk meredam warna kemerahan yang menjalari wajahnya.

(_ _')zzZZ

"Bangun Tousan!"

"Ihh! Tousan pemalas. Bangun, Tousan! Kaachan bilang kita harus makan malam!" lelaki kecil dan gadis kecil sedang berusaha keras membangunkan ayahnya. Lelaki kecil itu menggoyangkan bahu ayahnya—yang hanya bergerak sedikit saja. Sedangkan gadis kecil itu memencet hidung ayahnya berkali-kali. Pria dewasa yang dibangunkan hanya bergerak sedikit lalu meneruskan tidurnya. Menghiraukan anak-anaknya yang bermaksud baik itu.

"Uuuh! Tousan pemalas! Ayo kita laporkan Kaachan saja, Shiro-kun!" ucap gadis berambut pirang dikuncir dua bermata hitam kepada anak lelaki berambut hitam jigrak di sebelahnya.

"Hmmm… Iya deh. Dasar ayah merepotkan!" anak lelaki itu segera berbalik setelah mendesah malas.

"Kaachaaan! Tousan tidak mau banguuuun!" teriakan gadis kecil bernama Erika mengganggu pendengaran sekaligus mimpi pria dewasa itu. Apalagi pria itu sempat mendengar suara itu menyebutkan Kaachan yang berarti…

"Haah! Merepotkan! Iya Tousan akan turun. Sekarang kalian duluan saja, Tousan menyusul!" perintah Shikamaru malas dengan mata setengah terpejam. Kedua anaknya mengangguk kemudian segera turun ke bawah.

Beberapa menit kemudian…

"Pemalaaaaas! Kapan kau akan berhenti dengan kebiasaan jelekmu ini, Shikamaru!" Temari berkata gemas sambil menjewer telinga suaminya. Kedua anak di sebelahnya hanya cekikian.

"Adaw! Lepaskan tanganmu! Sakit tahu!" ucap Shikamaru lalu mengelus telinganya.

"Itu salah Tousan! Katanya mau turun! Huuuu…" sorakan mengejek dari kedua anaknya membuat Shikamaru memutar bola matanya bosan.

"Iya-iya! Sekarang ayo turun dan makan malam!" ucap Shikamaru tidak mau memperpanjang semuanya.

"Aa. Tidak bisa, Tousan," kata Erika kecil sambil menggoyangkan telunjuknya. Shikamaru mengerutkan keningnya bingung.

"Kenapa?"

"Karena makanannya sudah habis," sambar Temari cepat. Shikamaru terkejut.

"APA?"

"Itu salahmu karena tidak segera turun?" kata Temari emosi.

"Tapi kau kan bisa menyisakannya untukku!" sahut Shikamaru tak mau kalah.

"Untuk apa? Tidak ada makanan untuk pemalas! Lain kali kau harus cepat!" kata Temari membela diri.

"Tap—"

"Tidak ada tapi-tapian. Kalau mau makan, silakan makan saja di luar. Atau di dalam mimpimu!"

"Da—"

"Dasar merepotkan!" lanjut kedua anak Shikamaru dan Temari kemudian tertawa. Temari ikut tertawa melihatnya, sedangkan Shikamaru hanya mampu tersenyum sedikit disertai pikiran yang menerawang mau makan apa ia nanti.

THE END

(_ _')zzZZ : Akhirnya, senang sekali saat menuliskan The End di atas itu. Maafkan saya yang lama apdetnya yah? Hehehe, pada awalnya sih maunya dibikin nikah bebarengan a.k.a nikah masal. Tapi… Sulit deskripnya gimana. Au ah. Emang ga mahir kali ya (Emang iya!).

Oh iya, maafkan apabila cerita ini lebih condong ke SasuSaku ya… Tapi… Sudah saya usahakan agar pair lainnya kebagian. Semoga readers terhibur. Hehehehe. Maafkan kalau jelek, deskrip kurang memuaskan, alur kecepetan, dan segala kecacatan yang terselip(?) di fik ini.

Oke, daripada banyak congcing cingcong, terimakasih untuk semua yang sudah membaca dan atau mereview cerita saya. Saya sangat senang… :D *HUG* Terimakasih banyaaak. Maafkan tidak bisa membalas reviewnya. Tapi saya sudah membaca semuanya dan saya sangat berterimakasih untuk itu! :D

Terimakasih banyak, yah! Sampai jumpa dilain fik. :D