Vocaloid's Fan Fiction


Vocaloid © Yamaha

© khiikikurohoshi

I'm Yours, Idiot!

Genre : Romance, School Life

"Confuse with this chapter! Dx"


I'm Yours, Idiot!

Chapter 2

Rin

"Selamat pagi, Len." Sapa Kaito di ruang klub pagi ini.

"Mmm… pagi! Gimana bassmu? Udah bagus?" tanya Len sambil menyeruput susu pisangnya. Kaito hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Len manggut-manggut lalu meraih kertas yang tercecer di lantai beserta pena yang ada di kantung seragamnya.

"Kau mau nulis lirik?" tanya Kaito. Kali ini Len juga mengangguk sebagai jawaban. Kaito duduk di samping Len sambil mengangkat kakinya di atas kursi. Len memainkan pena di sela-sela jarinya sambil bersiul kecil.

"Menurutku kita harus membuat suasana baru." Kata Kaito tiba-tiba.

"Ah? Maksudmu?" tanya Len.

"Selama ini lagu yang kita buat selalu dinyanyikan Luka atau Miku. Aku ingin kau bernyanyi." Jawab Kaito dengan nada datar.

Dheg…

Len terbelalak. Dahinya langsung berdenyut. Kembali berputar insiden beberapa tahun lalu ketika dunianya masih normal. Ketika dia masih bisa tertawa dengan polosnya. Ketika dia masih bisa menunjukkan segala ekspresinya dengan beragam.

Nyut… nyut… nyut…

"Khh…" Len spontan memijat dahinya. Kaito langsung kaget ketika melihat Len yang pucat dan keringat dingin.

"Hei, Len, kau tidak apa-apa?" tanya Kaito sambil menarik wajah Len, agar dia bisa melihat kondisi Len baik-baik.

Kreek…

Pintu terbuka. Gumi yang membuka pintu langsung 'blank' matanya. Putih polos. Mulutnya menganga dan hampir tak bernapas lagi. "A—astaga… kalian berdua… YAOI!"

Dheg!

Len dan Kaito langsung menjauh satu-sama-lain.

"Kau… salah paham!" seru keduanya diikuti suara gelak tawa Gumi.


Huuh…

Len menggembungkan sebelah pipinya seperti seorang anak kecil bandel yang diomeli. Kenyataannya, dia bersikap begitu karena Gumi masih ketawa sambil memukul-mukul benda di dekatnya. Sudah 10 menit berlalu, tapi Gumi masih bertahan. Dia ketawa sambil mengeluarkan air mata dan memegang perutnya.

"Ahaa… ahahahaha! Buhh… buahahahaha! As… ataga! Astaga! Gyahahaha! Aduduh… auhh… perut… guh! Ahahaha! Perutku! Aha! Ahaha… hahaha!"

Len mendengus, "Mati saja sekalian."

"Aish! Jangan dong, Len! Mana lucu kan kalau mati karena ketawa?" tanya Miku yang tadi baru saja datang dan agak heran melihat Gumi yang tertawa bagai orang gila dekat rumahnya.

"Emang nggak lucu." Tambah Kaito dengan aura-aura hitam di sekelilingnya.

Miku menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudahlah. Jam pertama sudah mulai. Sebaiknya kita masuk kelas." Ajak Miku.

Len melirik jam dinding. Yeah… Miku benar. "Kalau begitu, kumpul di sini sepulang sekolah." Tutur Len sambil meninggalkan ruangan.

Blam.

Bersamaan dengan itu, tawa Gumi berhenti. "Fuhh… aku juga balik ke kelas deh. Bareng yuk, Miku!" ajak Gumi sambil menyikut lengan Miku.

"Ayo. Ehm… Kaito-san. Kami permisi."


BETE.

Itu satu kata yang dapat menggambarkan perasaan Len Kagamine pagi ini. Kalian tahu? Sejak tadi dia ketiban sial. Pertama, Gumi menertawakannya sampai gadis itu hampir mati. Mana lucu kalau dia sampai dituntut kepolisian karena telah membunuh orang dengan cara membuat gadis itu tertawa terpingkal-pingkal?, lalu sekarang. Gadis itu—Kagamine Rin. Tak disangkanya akan sekelas dengannya! Parah lagi, gadis itu duduk di sampingnya!

Apa salahku ya? Aku pasti sudah dikutuk… Yah… pasti…, bisik Len dengan wajah memelas minta dikasihani (oleh siapa?). Tapi yang paling dia harapkan adalah dikasihani oleh Dewi Fortuna, untuk kali itu saja. Yah… bit of.

Len mencatat sesuatu di secarik kertas. Bukan pelajaran Kimia yang dicatatnya—tapi lirik. Di sampingnya, Rin terus menatapnya dengan tatapan tajam dan tentu saja—kelewatan terasa. "Ngapain?" tanya Rin sambil menopang dagunya.

"Lihat juga tahu kan?" balas Len dengan ketus.

"Kuberitahu ke orang lain deh kalau kau itu adalah stalker nomor satu. Sekarang juga." Ancam Rin dengan nada datar. Nyali Len langsung ciut. Seciut-ciutnya.

Menyebalkan!, geram Len dalam hati. "Geh… aku sedang menulis… Kagamine Rin…" jawab Len dengan emosi tertahan.

"Oh…" Reaksi instan. Bisa dikatakan begitu. Len memang mengharapkan reaksi Rin seperti itu. Namun—di sisi lain dia tidak menyangka. Gadis ini tidak rebut dengan bertanya-tanya, 'Apa yang kau tulis?'. "Ehem." Rin berdehem pelan.

Kemudian gadis itu mengacungkan tangannya, menarik perhatian satu kelas.

"Ada masalah, Kagamine-san?" tanya guru Kimia yang tengah menjelaskan. Wanita itu terkesan lembut—kadang juga nyentrik dengan gadis manis.

"Saya ingin keluar kelas. Perut saya sakit." Katanya, dengan suara tenang dan agak… lemas?

"Uhm… baiklah. Sebaiknya kau segera ke UKS. Bersedia untuk ditemani?" tanya guru itu. Rin menggeleng dengan tegas.

"Saya bisa sendiri."

Len terpaku setelah menyadari Rin tidak duduk di sampingnya. Sekilas, dia mendengar suara gadis itu memang tegas—namun… sangat lemas! Sekilas juga, dia melihat wajah gadis itu memang tegar—namun juga… sangat kesakitan! Apa yang terjadi? Baru saja dia masuk kelas dan pelajaran berlangsung… wajahnya nampak pucat dan… kering?

"Kita lanjutkan pelajaran." Kata guru Kimia itu, membuyarkan lamunan siswa-siswinya yang 'meratapi' kepergian Rin.

Ada yang aneh, gumam Len—namun dia tetap fokus pada kertas yang ada di hadapannya. Wajah Len langsung berubah kesal ketika terus melihat kertas usang itu. Entah apa yang merasuki pikirannya, dia merasa ketas itu tengah meledeknya begini : "Hehehe… payah sekali. Tidak kepikiran untuk menulis. Kau hanyalah lelaki bencong tidak jelas, tidak berotak, tidak kreatif, tidak ber-ide, dan tidak mampu menulis kata-kata indah. Huehehehe."

Sekelebat, kertas itu menjadi bola.


Rin memegang perutnya yang terasa nyut-nyutan. Dia merasa mual dan pusing. Dengan cepat dia duduk di taman, menyandarkan punggungnya di bangku lalu mengambil 'perbekalannya' yang selalu di bawanya.

Rin membuka kotak makanan yang berisi sandwich daging asap dan penuh sayuran. Dengan agak pelan dan gemetaran, gadis ini memasukkan potongan kecil sandwich ke dalam mulutnya. Agak berat, memang. Beberapa kali dia merasa tersedak dan ingin muntah. Tapi dia terus berusaha hingga akhirnya setengah sandwich itu habis.

"Nggg…" Rin menghela napas lega setelah berapa kali menahan napasnya saat menelan makanan. "Sial. Sial. Sial… ugh…" Rin memegangi perutnya lagi. Nyeri…

"Hahahah. Lucunya…"


Len menyeruput susu pisangnya sambil terus menatap kertas lusuh, memainkan pena di sela jarinya, dan mendengar musik melalui headphone-nya.

"Hmm… hmm… hmm…" sesekali terdengar dia berdehem mengikuti alunan suara—tanda dia menikmati.

"Oi, Len. Kau ngapain sih? Nggak menulis dari tadi." Panggil Kaito sambil memainkan bassnya. Len menoleh, namun dia tidak begitu manangkap ucapan Kaito, sehingga dia kembali mendengar musik. "Cih…"

Len membuka headphone-nya lalu menghela napas berat. "Tidak ada inspirasi…" keluh Len lemas. Kaito mengangkat kedua alisnya.

"Len, mukamu pucat banget." Komentar Kaito sambil mendekati Len. Len menatap wajah Kaito dari dekat. Mata mereka saling beradu…

"Hentikan, kalian menjijikkan."

Kaito dan Len langsung menoleh dan mendapati Meiko tengah duduk bersila sambil menggertakkan gigi—menatap dua pria itu dengan mata menusuk bagai elang menangkap mangsa.

"Aku tahu kalian kesepian karena Cuma kalian anggota cowok di sini. Tapi seenggaknya, jangan berlaku yaoi di hadapan kami, brengsek!" gertak Meiko sambil menekankan kata 'brengsek'.

BUGH! BUGH!

Kata-kata Meiko bagai serbuan meteor di kepala Len dan Kaito.

"Tidak apa-apa kok, Mei-san! Begini-begitu Miki-san kelihatan menikmati!" komentar Gumi sambil tersenyum penuh kelicikan pada Miki. Sedang yang ditatap langsung merona.

"Berisik." Tutur Miki dengan gembungan pipi kecilnya.

"Hahahahahaha!"

Len berdiri dan menggaruk kepalanya, "Oke. Aku cari ide." Ucap Len yang langsung menutup pintu klub.

Blam.


BUAGH!

Len terbelalak mendengar suara 'benturan' itu. Dengan cepat dia berlari ke arah suara. Suaranya berasal dari gerbang belakang sekolah. Dia melihat Rin yang sendirian, dengan kepala yang agak lebam dan tubuhnya yang gemetaran.

Kali ini Len ingat, sejak tadi dia tidak melihat Rin (kecuali saat di kelas). Setiap pelajaran masuk, dia lebih banyak diam. Padahal kemarin, gadis itu malah sangat bersemangat. Sampai mengancamnya.

"Oi." Panggil Len.

"Ng…" Rin membuka matanya dengan lemas. Napasnya tersengal dan dia keringatan. "Len… Kagamine?" ucap Rin. Sepertinya dia agak heran dengan kedatangan orang yang tak disangka.

"Kau… baik-baik saja?" tanya Len—agak waspada.

"Yah… tentu saja…" jawab Rin. TIDAK! Dia bohong! Memang dia berkata begitu, tapi kondisi luarnya berkata TIDAK! Dia sakit!

"Kau sakit, bodoh! Ayo ke UKS!" ajak Len sambil menarik lengan Rin perlahan.

GREB!

Rin 'memeluk' lengan Len. Len terbelalak. "Bagus." Bisik Rin sambil menyeringai. Lagi-lagi, dengan gerakan super cepat, Rin melempar tubuh Len—gerakannya seperti dia berpengalaman ikut judo. Apakah iya?

"Fuh…" Rin mengibaskan rambutnya.

"A… a… a… ap… apa-apaan kamu! Membanting tanpa sebab!" gertak Len dengan kaget dan… sejujurnya… agak takut.

"Tidak sakit kan? Bagus…" kata Rin. Kali ini wajahnya terlihat sangat… menyegarkan. Semua keringat dan juga wajah pucatnya seolah-olah 'lupa' dan pergi. Yang jelas, Rin sangat segar seperti hidup kembali. Terakhir, suaranya sangat riang dan bahagia.

"Kau... kenapa MEMBANTINGKU!"

"Diam saja kau, bego. Berterima kasihlah karena aku membantingku." Kata Rin dengan wajah—hmm—sulit digambarkan.

"APANYA 'BERTERIMA KASIH'!"

Rin tersenyum samar, "Fuh… kau tak usah tahu alasan pastinya."

"Apa? APA KATAMU! HEI! JELASKAN SEMUANYA PADAKU, BODOH!"

"Diam. Dasar stalker."

Grrr…

Len menggeram. Dia benar-benar muak di permainkan gadis ini! Tapi di sisi lain, Rin, dia justru tersenyum sambil terkikik pelan. Dia benar-benar Kagamine Len…


T O B E C O N T I N U E D


A/N : BASI! Oke, bener banget. Ini aja niatnya ku kasih hiatus. Tapi ga jadi. SANGAT DISAYANGKAN. Oke. Memang banyak basa-basi di sini. Nanti saja cerita yang lebih nantang.

Bye!

xT


JAWAB REVIEW


BloodStained Kagamine Len 3/26 ch1

Yo! Jumpa lagi Khiiki! XDD

Aduh... L-Len nasibmu naas sekali .. Harus mematuhi Rin ;_;

Ficnya bagus, Khiiki! Karakter Rin dan Len mantap abiss di sini! XDD

Dan Len tsundere? O.O

KAWAIII!

Ya udah, gak bisa reviews banyak nih, soalnya saya cuma cumi hp buat buka ffn ;_; *Len: Kere' lo =='*

Oke, UPDATE FAST and KEEP WRITING~! XDD *Mencet-mencet tombol fave*

Sign,

_Kagamine Len_


JAWABANKU : Ketemu lagi, Risa ^^ tunggu saja adegan di saat Rin harus mematuhi Len -_- mungkin. (PUSING mikirin adegan selanjutnya sih ^)


SabakuEki 3/23 ch1

Waah Rin jago banget! XD

Oh iya Rin ikut bela diri apa? Karate? Taekwondo? :D

Ajarin Len juga! hehehe XD

Oh iya kok Rin bisa tau ada Len?

Cepat-cepat ya update nya aku tunggu!


JAWABANKU : Rin jago semuanya. Karate, Taekwondo, Judo, et cetera—et cetera xDD soal Rin tau Len… let see next! xD


Kurara animeluver 3/22 ch1

Aww~ tsundere Len is sooo cute!

Rin-chan emang sudah lekat sama karakter Yandere kok! *dilempar jeruk*

update fast~ XD


JAWABANKU : Satu kata saja, ROGER BOSS x3


Mage 3/22 ch1

Oke, kalo boleh jujur, ini lebih keren dari ficmu yang sbelumnya. Ampoun lebih keren. Kayaknya lebih menantang gitu 8DD

pokoknya gitu deh. Haha 8DD walaupun entah kenapa kassa'na Rin sama Len berkelahi tadi itu bikin ingat Kyouhei sama Sunako XDD

apdet ya ;D


JAWABANKU : ('terharu' orz *make ya ^w^) Yosh,, thankiess Mage! Btw Kyouhei ama Sunako dari cahara apa? Kimi ni todoke? OwO sok tahu…


yuuki arakawa07 3/22 ch1

bagus!

saya cuma tau tsundere, tp g bsa mnjelaskan,pkokny sjenis Rin di fic ku yg Behind Your Smile...-dijotos gara2 numpang promosi-

ya yang penting ttp semangat dan

UPDATE~! XD


JAWABANKU : Hehehehe Xd oke!


Arasa Koneko-chan 3/22 ch1

chiuut~

Lohaa~~ X3

Arasa-chan disinii~~ XD

Ceritanya bagus! Untuk awal ini udah keren banget! Arasa-chan suka image Len disini~ keren banget~ *nge-fly

Gerakan-gerakan Rin juga keren. rasanya "berasa" banget. (maksud lo? '=,=) Pokoknya gitu lah X3

Nemu satu typo sih, tapi nggak terlalu menggangu kok!

Akhir kata, UPDATE!

Ganbatte~


JAWABANKU : Yoshh! Hei hoo,, Arasa-chan! :3 yang pertama oke, yang kedua… (langsung mojok dii ujung ruangan sambil coret-coret dinding) -3- gomen…