Vocaloid's Fan Fiction
Vocaloid © Yamaha
© khiikikurohoshi
I'm Yours, Idiot!
Genre : Romance, School Life
"Next! I hope this is more good than before…"
I'm Yours, Idiot!
Chapter 3
WHAT THE HECK!
Plok! Plok!
Len menempelkan kedua telapaknya satu sama lain lalu menutup mata. Hari ini, seperti dijanjikan ayahnya, dia akan mengunjungi makam ibunya setelah 4 tahun tidak berkunjung. Len berdo'a dan mengelus-elus nisan ibunya.
"Maaf kami jarang menjengukmu lagi… banyak kejadian seru di sekolah. Tapi kurasa bukan hari ini aku bisa menceritakannya. Aku akan datang lagi bersama, otou-san. Sampai nanti…" gumam Len. Len berdiri, melangkahkan kakinya keluar dari lapangan pemakaman. Di luar, dia melihat ayahnya yang duduk di salah satu kursi sambil menundukkan kepalanya.
Len menghampiri ayahnya, "Hei. Jangan terpuruk begitu. Kau tahu, okaa-san bahagia sekarang." Ujar Len sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya. Ayahnya mendongakkan kepala lalu tersenyum dan mengangguk.
Segera, pria yang hampir berusia 35 tahun itu mengelus rambut sang anak. Len tersentak, namun dia mengerti mengapa pria itu mengelusnya. Itu artinya… 'maaf dan terimakasih'.
"Hhh… iya… ayo kita balik." Ajak Len.
"Bagaimana kalau kita mampir makan dulu? Dari pagi aku belum makan." Ucap sang ayah. Len mengangguk. Tidak ada salahnya kalau sekali-sekali dia pergi berdua dengan ayahnya. Karena tugas sekolah Len dan tugas kantor sang ayah, mereka jarang bertemu. Biasanya Cuma 1 kali dalam seminggu.
Len paham, berat bagi ayahnya yang merupakan single parents.
"Jadi mau makan di mana?" tanya Len.
Seutas senyuman tersungging di wajah pria itu. "Aku tahu tempat yang bagus." Katanya sambil berjalan masuk menuju mobil sedan hitam. Len mengikuti.
Len hampir menjatuhkan rahang bawahnya ketika melihat rumah makan yang agaknya—luxurious. Sang ayah menuntun Len masuk.
Kenapa di sini? Apa ada kenangan di sini? Tidak… tidak, pikir Len sambil mengikuti langkah ayahnya menuju salah satu meja. Waitress datang. Keduanya memesan hidangan yang sama. Setelah waitress itu pergi, sang ayah langsung buka suara.
"Kaget aku membawamu ke tempat luxury begini?" tanyanya—menebak pikiran sang anak.
Len menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Dan lagi… aku tidak punya kenangan di sini. Jadi mustahil kau ke sini untuk mengenang sesuatu. Oh, jangan bilang kau ingin mengenang masa lalumu sendiri?"
Sang ayah menggeleng tegas, "Tempat ini adalah rumah makan pertama yang kau kunjungi." Katanya.
"Pertama? Aku?"
"Ya. Waktu melahirkanmu, ibumu sangat senang. Setelah kau berumur 3 bulan, kau langsung dibawa ke sini. Repot memang—karena kau cengeng sekali saat itu. Tapi dia senang kau ikut. Maka dari itulah, aku teringat lagi." Jelas sang ayah. Len terperangah.
Ada rasa hangat yang menjalar ke tubuhnya.
"Tapi… bukan hanya itu aku membawamu ke sini." Kata ayah.
"Permisi… 2 kopi hitamnya siap, tuan-tuan. Selamat menikmati!" seru seorang waitress yang tadi melayani Len dan ayahnya. Waitress itu menaruh dua cangkir kopi hitam di hadapan tamunya masing-masing. Setelah berkata manis sebagai perpisahan, waitress itu meninggalkan keduanya.
Len mengambil 1 gula batu lalu mencemplungkannya ke dalam cangkir kopinya.
"Apa yang ingin ayah katakan lagi?" tanya Len sambil meresap kopi hitamnya. "Soal pernikahan ya?" tebak Len.
Ayah Len tersenyum, meski pahit—dia mengangguk membenarkan. Len menghela napas panjang. Dia sudah tahu. Menjadi single parents selamanya tidaklah mudah. Sulit dan beresiko.
"Sebelum ayah memberitahu, aku pasti akan tahu. Ini adalah hal wajar untuk single parents. Aku tidak bisa bilang apa-apa… tapi kurasa…" Len berhenti sejenak. "Tidak ada salahnya jika memiliki keluarga baru."
"Hahahaha! Kau sudah dewasa ya, Len." Kata sang ayah. Len tertawa dengan gurauan ayahnya itu.
"Kau tenang saja. Aku sudah menemukan calon yang cocok untukku dan untukmu." Kata sang ayah. Kali ini Len mengangkat sebelah alisnya—heran.
"Untukmu dan untukku?" ulang Len.
"Iya. Aku sudah kenal lama dengannya. Dia punya seorang anak yang bukan anak kandungnya. Dia sudah menimbang-nimbang untuk menikah denganku. Aku yang lamban. Lalu kemudian aku bercerita ini padamu. Meminta izinmu…"
Entah kenapa… perasaan Len tidak enak. Ya. Sangat tidak enak.
The Next Day…
Len ternganga melihat apa yang ada di hadapannya. Agak jauh dari hadapannya. Dia melihat Rin, tengah di kerumuni oleh… kurang lebih 5 orang lelaki. Gadis itu dicegat di tengah jalan raya menuju sekolah. Len melihat wajah Rin tenang-tenang saja, seperti biasa. Tapi nalurinya sebagai lelaki tidak terhapus melihat wajah itu. Dia memutuskan untuk menunggu Rin. Meski resikonya dia akan dikatai stalker…
"Kudengar kau jago berkelahi. Meski cewek… sayang disia-siakan nih!" ucap pria yang rambutnya spike. Sepertinya dia ketua dari geng itu.
"Kalian dengar dari mana?" tanya Rin dengan suara angkuh.
"Woo! Dia ngomong tuh, bos! Suaranya merdu deh! Kita mainin aja yuk!" seru seorang pria berambut gondrong merah.
"Boleh tuh…" kata si ketua sambil menempelkan telapak tangannya di samping kepala Rin. Rin terlihat tersenyum.
Len bisa menebak senyum Rin. Senyum yang berniat...
"Satu-satu… oke?" bisik Rin pada anak-anak yang mencegatnya. Mendengar respon Rin yang terdengar positif, sang ketua langsung mendekati Rin.
"Oke, satu-satu…" kata Rin lagi.
Greb!
Rin mendorong wajah si ketua hingga ketua itu terpental jatuh. Rin lolos dari si ketua. Dengan cepat gadis itu melirik ke teman-temannya yang lain. Rin menyiapkan setengah kuda-kuda lalu menendang salah satu teman ketua itu.
Hebat!, jerit Len dalam hati.
Rin menendang, lalu kembali meninju perut dan wajah. Satu musuh K.O! Tidak sampai di situ, Rin menatap yang lainnya. Kali ini agak sengit. Rin menggunakan kaki sepenuhnya. Menendang sasaran pundak, dagu lalu perut. Belum puas sampai di sana, Rin meninju dengan membabi-buta.
Hegh!
Len melihat si ketua bangkit lalu mendekati Rin. Gawat! Rin bakal di keroyok! Len langsung keluar dan menarik si ketua.
"Oi, siapa kau!" gertak si ketua geng. Len menyeringai.
"Kau akan tahu setelah mendengar kata Len." Bisik Len lalu melempar orang itu. Tanpa Len tahu, sebenarnya wajah si ketua tadi langsung pucat setelah mendengar kata Len.
Rin menoleh ketika menghindar dari tendangan lawan. "Kau datang, stalker? Jangan khawatir. Ini sudah biasa kok." Kata Rin sok tenang.
"Aku tahu kok ini sudah biasa. Justru karena sudah biasa itulah… aku ingin menghentikan kebiasaanmu ini." Ucap Len lalu menghajar salah satu lawannya. Rin terperangah melihat kekuatan Len—yang sesungguhnya. Len betul-betul gesit. Memang gerakannya tidak sempurna, tapi kuat dan tangkas!
"Kalau begitu… bareng saja." Tawar Rin sambil menendang berputar si rambut gondrong merah. Len tersenyum menyanggupi.
"Oke." Kata Len.
"Yosh… si ketua sudah selesai?" tanya Rin sambil meninju si gondrong. Len mengangguk sambil melawan dua musuh sekaligus. Bagi Len, ini seperti game. Menyenangkan dan menegangkan. Tapi seru—tidak menakutkan.
Rin berhasil menghabisi si gondrong. Bersamaan dengan Len yang berhasil menghabisi dua lawan lainnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Len—bukan, Rin—tidak. Keduanya. Secara bersamaan.
Len dan Rin membolakkan mata, terperangah, lalu kemudian tertawa bersamaan. Entah mengapa Len merasa lucu bisa kompak dengan gadis yang dibencinya.
"Jangan senang dulu, bocah." Kata seseorang, tiba-tiba.
Ternyata si ketua masih belum menyerah. Tepatnya nekad. Dia sudah tahu siapa lawannya. Len. Siswa kelas 3 SMP yang terkenal berandalan di sekolahnya. Hampir semua orang yang mengenalnya, memberinya predikat, 'Len si Bringas.'
Len tidak peduli dengan predikan macam itu. Predikat seperti itu tidak menghilangkan semangatnya. Dalam hal apa pun…
"Kau mundur, Rin." Kata Len. Nuraninya sebagai lelaki—berandalan, muncul kembali. Sebenarnya Rin ingin memberontak. Tapi entah kenapa dia tidak berani…
Len membuka blazernya. "Aku sudah siap, bos. Ayo." Tantang Len sambil menjulurkan lidahnya. Si ketua naik pitam. Dengan segera dia menyerbu Len. Namun dengan sigap Len menghindari pukulan pertama si ketua.
Len memukul wajah si ketua hingga terpental. Memar di sekitar mata.
Rin memilih diam dan melihat taktik bertarung Len. "Ya. Nyaris sempurna. Tapi belum. Kau terlalu mengandalkan kekuatan. Kesempurnaan dalam bertarung itu perlu, Len. Gunakan insting dan taktik. Jangan menyerbu sekali serang. Salah-salah kau malah terluka." Gumam Rin.
Sudah 5 menit mereka menyerbu satu sama lain. Seperti dugaan Rin, Len akan babak belur. Tapi lebih parah si musuh. Jujur, Rin merasa sudah sangat bosan, dia langsung mendorong Len dan menahan tinjuan si musuh. Len sekarang jatuh terduduk di belakang Rin.
"Aku tidak menolongmu. Jadi tenang saja. Aku hanya merasa bosan." Kata Rin lalu balas memukul ketua. Ketua itu nyaris jatuh. Namun dia bangkit dan berniat memukul wajah Rin. Rin menghindar ke bawah, meluncur melalui sela-sela kaki si ketua.
Rin kemudian berdiri dengan cepat, dan… WHUK!
Rin menyenggol kaki ketua itu hingga dia terjatuh hingga menciptakan suara debaman yang sangat keras. Setelah jatuh, Rin menginjak pundak ketua itu dengan keras. Persis seperti yang dilakukannya pada Len dulu.
Len terperangah melihatnya. Hanya 5 menit dan selesai! Rin bisa membuat musuhnya jatuh dan menyerah dengan cepat. Lalu, gadis itu tidak kotor seperti dirinya. Tak ada luka di tubuhnya. Bahkan setitik pasir pun tidak ada yang menempel!
"Kau lihat? Setidaknya gunakan otakmu untuk bekerja. Gunakan instingmu, jangan hanya membabi buta." Ucap Rin—setidaknya pada Len dan si ketua ini.
"Uuh… aku mengerti. Maaf." Kata Len dengan sebal.
"Kalau sudah paham, ayo cepat pergi, stalker." Ucap Rin lalu meninggalkan Len. Setelah mengambil dan memakai blazernya, Len mengikuti langkah Rin—menjauhi lokasinya tadi.
"KABAR BURUK!" seru Kaito begitu masuk ke dalam ruangan.
Len yang tengah menyeruput susu kotak rasa pisang nyaris memuntahkan semuanya. Miku yang tengah memakan snack nyaris tersedak. Meiko yang sedang menulis sontak berhenti melakukan aktifitas itu. Luka yang tengah teleponan dengan Gakupo-sensei spontan memutuskan sambungan telepon. Lalu Gumi yang mengisengi Miki langsung berhenti dan menganga berdua.
"Ada apa?" tanya Miku setelah terbatuk-batuk kaget.
"BENAR-BENAR BURUK!" seru Kaito berulang-ulang. Dia mengunci pintu ruang klub lalu jatuh terduduk. Sontak semuanya menghampiri pria berambut biru itu.
"Ada apa sih?" tanya Meiko yang mulai khawatir.
"Aku dipanggil kepala sekolah dengan cengiran lebarnya. Dia bertanya, 'apa klubmu sudah siap?'" jelas Kaito.
"Lalu?"
"Lalu… aku jawab sekenanya. 'Iya', kataku. Dan dia menepuk tangan dengan bangga kemudian berkata, 'Kalau begitu minggu depan festival dimulai'." Sambung Kaito.
Hening.
"APAAAAAAAA!" Semua berteriak, tak terkecuali Len. Dari 3 bulan sekarang menjadi 1 minggu! Kurang ajar! Bukan main-main kepala sekolah mempercepat jadwal.
"Bagaimana ini?" pikir Meiko sambil mengacak-ngacak rambutnya yang pendek.
"Kenapa kepala sekolah berkata begitu?" tanya Len dengan putus asa.
"Mana aku tahu! Aku tidak bertanya lebih jauh saking syoknya, idiot! Aaargh! Kalau begini kita batal saja, lagu tidak ada yang kita dapatkan." Keluh Kaito.
Len menatap alat musik di belakangnya. "Aku tidak mau batal." Kata Len. "Kita bisa lanjut dengan cara kita sendiri."
"Hah?"
Len tersenyum misterius. "Aku punya ide."
T O B E C O N T I N U E D
A/N : Hei, maaf telat UPDATE! Sumpah aku kehilangan ide untuk chapter ini! Berapakali aku hapus lalu ngulang chapter ini -_- akhir-akhir ini aku kacau deh! Parah! Yaa… pokoknya konflik utama ada di chapter selanjutnya. Relax… sebenarnya dari awal konfliknya sudah kupikirkan. Okelah -_- aku permisi dulu…
JAWAB REVIEW
Arasa Koneko-chan
2011-03-27 . chapter 2
Yosh~
Lohaa~~ X3
Arasa-chan disinii~~ XD
Hohoho~ judul chapter yang singkat: "Rin"~ XD
Nee? Kenapa confuse? Chapter ini keren kok! tenang saja~ XD
...Nemu satu typo nih! Satu aja! Satuuuu~! (iye iye udah tau '=_=)
...tapi seperti biasa, nggak terlalu mengganggu kok~
Yosh! Akhir kata, UPDATE~
Ganbatte~
JAWABANKU : Serius? O_O baiklah… TT^TT terimakasih… Cuma itu yang bisa kubilang…
BloodStained Kagamine Len
2011-03-27 . chapter 2
Waaa~ udah update~! XDD
gak ada typo, nih kayaknya. Yah.. soalnya saya baca fic ini dengan mata masih tertutup (?), sih! XDD
Dan kata 'bencong'? Bukannya banci, Khi? Bencong itu bahasa daerah khas kita kayaknya :3 *Bangga karna sekota dgn Khiiki*
Eh, Khiiki, gak ada kebalikannya, nih?
Misalnya Rin yang diperintah balik oleh Len :3
Pasti seru, tuh! x) *Ngebayangi ketampanan Len yang masang evil smile*
Eh, kebanyakan bacot, nih aku. =='
ya udah, update fast and keep your writing Khiiki! XDD
Sign,
_Kagamine Len aka B-Rabbit_
JAWABANKU : Aaaah! Kesalahan FATALku! ;; gomen! Gomen! Gomen! Aku kurang tahu bahasa Indonesia atau Makassar xDD PAYAH. Nanti kita lihat saja soal Len jahat *ditendang. Awright ^^ makasih,, Risa!
Mage
2011-03-28 . chapter 2
Basa-basi sih... Tapi, jangan ningkatin tingkat fujoshi orang dong -_- KaitoLen kan... Udahlah harus setia dgn OTP saya :3
dari perfect girl evolution. Mereka nggak rasional
JAWABANKU : Ehehehe ^w^ sorry deh… lupa kau Fujoshi xDD
Hanna Kagamine
2011-03-30 . chapter 2
LOL XD ceritanya kereen~ saya pindahin ceritanya ke fav ya? ;D hehe
Umh keep writing! XD
JAWABANKU : Makasih yaa ^w^d
