Vocaloid's Fan Fiction


Vocaloid © Yamaha

© khiikikurohoshi

I'm Yours, Idiot!

Genre : Romance, School Life

"Great… just continue!"


I'm Yours, Idiot!

Chapter 4

Nice To Meet You.

"Aku punya ide…"

Setelah berucap begitu, rapat dadakan langsung digelar. Beribu pertanyaan dilontarkan pada Len. Namun pertanyaan utama adalah : "Apa idemu?"

Len mengambil napas sebentar, lalu berbicara, "Tidak usah membuat lagu baru. Tidak usah bubar. Kita satukan saja lagu lama kita. Jadi… kita bisa menyanyikan banyak lagu." Jelas Len.

Meiko mengangguk-anggukkan kepalanya, "Aku juga pernah berpikir begitu. Tapi… Kaito. Berapa lama kita dibolehkan tampil di panggung?" tanya Meiko.

"Paling lama 15 menit. Kita yang paling sedikit waktu tampilnya." Jawab Kaito yang sudah tenang.

"Wajar sih. Klub kita tidak pernah dapat penghargaan apa pun." Keluh Luka sambil memainkan ujung rambutnya yang berwarna pink muda.

"Kalau begitu… kita dapatkan penghargaan kita. Di sana." Ucap Miki dengan wajah tenang. Dia menggenggam buku tulis yang berisi lagu-lagu buatan klub menyanyi ini.

Miki membuka buku itu lalu memperlihatkan isinya pada mereka semua. "Kalau 15 menit itu bisa kurang lebih 4 atau 5 lagu. Aku ingin… kita semua menyanyi." Ujar Miki sambil menatap Len tajam. Mengapa tidak? Di antara mereka semua, Len lah yang tidak pernah menyanyi. Alasan Len simpel, dia takut untuk menyanyi.

"Aku tidak mau mendengar alasanmu lagi, Len. Kalau kau takut menyanyi sendirian, kita bisa duet." Ujar Miki dengan tegas.

Sebenarnya Len tahu dia akan dipaksa menyanyi suatu saat nanti. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini. Alasan Len tidak ingin menyanyi adalah… dia trauma. Trauma? Ya… trauma. Masa lalu Len tidaklah cerah seperti anak-anak kebanyakan. Tapi… dia tidak ingin membicarakannya lagi.

"Uuh… a—aku mengerti…" ucap Len apa adanya.

Miki saling pandang dengan anggota yang lain lalu menganggukkan kepala dengan mantap.


Len POV


"Boleh aku keluar sebentar?" tanyaku pada anggota klub menyanyi. Yang lain hanya mengangguk. Aku lalu segera pergi.

Blam.

"Aku heran." Ucap Kaito. "Setiap kali berbicara soal menyanyi, dia terlihat gusar dan pucat. Ada apa ya?" tanyanya.

Meiko terdiam, "Mungkin… dia trauma. Sebab, mustahil bila suaranya jelek. Aku pernah dengar dia bersenandung. Satu kali. Lalu suaranya sangat indah." Jawab Meiko.

"Intinya dia trauma? Atau phobia?" balas Gumi.

"Apa pun alasan dari Len, tujuanku agar semua menyanyi saat festival adalah itu. Agar Len mampu mendengarkan suaranya." Sahut Miki dengan tenang.

"Jadi… supaya orang bisa melihat sisi baik Len juga, gitu?" tanya Miku penasaran.

"Tidak buruk. Tidak buruk." Komentar Luka sambil memelintir rambutnya.


Aku berjalan tanpa arah. Lalu—saat aku tersadar, aku berdiri di koridor. Koridor ini… adalah tempat di mana aku bertemu Rin Kagamine. Saat itu dia… menyanyi!

Sebersit ide melayang di kepalaku, kenapa tidak mengajaknya saja?, pikirku. Tapi… aku malas berurusan dengan gadis yang selalu mengataiku stalker itu. Dia sebenarnya tangkas dan kuat. Juga tegar. Tapi sifatnya yang yandere itu menyebalkan.

"Hei, stalker. Ngapain bengong sendiri di tengah koridor?"

PANJANG UMUR!

"Eee—err… bukan urusanmu kan?" balasku sambil mengelihkan pandangan ke arah lain. Kulihat Rin terdiam.

"Ehm… OII! LEN KAGAMINE ITU SEBENARNYA STAL—UPH!"

Aku lupaa! Dia sudah mengancamku seperti itu!, seruku dalam hati sambil membungkam mulutnya. Rin tidak meronta saat kubungkam. Tapi, apa yang kutahu? Gadis itu meludahi telapak tanganku! Sial! Gadis ini… menjijikkan banget! Gyaaaaa!

"A… a… a… apa yang kau lakukan!" gertakku saat melihat telapak tanganku… yang… ugh… disgusting…

"Kau pikir bertarung hanya mengandalkan otot? Nu' uh… ini juga." Balas Rin sambil menunjuk pelipisnya yang maksudnya adalah 'kepala, otak'.

"Uuugh… menyebalkan!" umpatku sambil membersihkan pergelangan tanganku. "Lalu, kenapa kau tidak pulang?" tanyaku dengan sebal.

"Hee… ngusir nih? Haha! Aku hanya mau keliling sekolah kok." Jawab Rin sambil memegang pundaknya. Aku terdiam. Dia juga. Suasananya jadi awkward begini…

Saat itu kedengar langkah kaki seseorang. Kulihat Mikuo, tengah melambaikan tangannya padaku. "Hei, Len. Masih sibuk ya dengan klubmu?" tanya Mikuo.

"Begitulah…" jawabku seadanya.

"Klub? Kau ikut klub apa?" celetuk Rin sambil menoleh kepadaku.

Sekilas, kulihat Mikuo agak terkejut melihat Rin yang berdiri disampingku, "Wah… kudengar kau akrab dengan seorang gadis. Ternyata benar. Siapa namanya, Len?" potong Mikuo sambil tersenyum menyelidik.

Aku mendelik seketika, "Memangnya kau dengar dari mana!" tanyaku emosi.

"Insting." Jawab Mikuo sambil duduk di lantai dan menyelonjorkan kakinya. "Sudahlah. Aku tanya deh, siapa namamu, cewek?" tanya Mikuo—mendadak lembut.

Kulihat Rin terdiam—lalu kemudian ikut tersenyum (palsu) pada Mikuo. "Namaku Kagamine Rin. Aku pindahan." Jawab Rin.

"Wooww… pindahan. Dari mana?" tanya Mikuo lagi.

Kali ini Rin terlihat ragu menjawabnya, "New York…" jawab Rin, akhirnya.

Aku merasa sesak dengan perbuatan palsu Rin, segera aku meninggalkan two lovebirds di sana. "Cukup! Aku harus fokus! Kau dengar Len? Kau disuruh menyanyi! Menyanyi! Itu sih hal yang besar! Big deal…! Aaagh! Bagaimana ini?" keluhku sambil berjalan.

Kyut.

Seseorang memegang ujung seragamku. Sontak aku menoleh. "Kau lagi…" keluhku sambil menghela napas berat.

"Antar aku ke klub menyanyi." Ucap Rin sambil tersenyum lebar.

"Ngapain?" balasku dengan malas.

"Janji kita kan?" ucap Rin dengan senyum kemenangan. Aku cengo—bingung. "Kau janji akan mengikuti apa yang aku harapkan… atau apa yang aku minta." Lanjut Rin.

Aku memukul dahiku dengan gemas. "Iya, iya, ayo deh." Ajakku akhirnya—putus asa.

"Wajar kan kalau aku ingin tahu apa yang dilakukan calon adikku?"

"Hah? Apa? Aku tidak dengar…" ucapku setelah—mungkin—mendengar Rin mengucapkan sesuatu dengan suara kecil. Kulihat Rin terkesiap, namun kemudian dia tersenyum manis palsu sambil menggeleng cepat. Yah… whatever…


Klak.

Aku membuka pintu klub menyanyi. Serempak, yang berada di dalam langsung menoleh ke arah pintu. Kulihat mereka terheran-heran melihat Rin yang ada di belakangku.

"Umm…" Miku menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk. "Siapa gadis itu, Len?" tanya Miku akhirnya. Len menoleh pada Rin.

"Ini Kagamine Ri—" "AAAAHH! KAGAMINE RIN!" potong Meiko yang dengan cepat, dia langsung berdiri dan menghampiri Rin.

Semua langsung menatap Meiko dengan pandangan bertanya-tanya.

"Dia itu ahli bela diri! Kudengar dia menang perlombaan Judo internasional 2 kali, Taekwondo internasional 5 kali, Kendo nasional 3 kali dan Karate internasional 7 kali! Sejak kecil dia dilatih bela diri dan berhasil meraih piala berturut-turut! Aku pernah melawannya saat karate tingkat nasional dan dia menang!" jelas Meiko panjang lebar dengan mata berbinar.

Rin terlihat tersipu, "Aku ingat kok. Meiko Sakine, kan?" tebak Rin. Meiko terlihat terkesiap.

"Aaaahh! Kau ingat namaku!" seru Meiko lalu spontan memeluk tubuh mungil Rin. Segera aku teringat gerakan-gerakan bertarungnya. Pantas saja…

"Baru kali ini aku melihat Meiko histeris." Bisik Gumi pada Miki. Miku yang mendengarnya langsung terkikik.

"Dia mau apa ke sini, Len?" tanya Kaito.

"Dia mau lihat klub ini katanya. Lalu… sekali kukatakan saja deh. Dulu aku overheard, curi dengar dia menyanyi di taman sekolah. Suaranya bagus banget… bagaimana menurutmu?" balasku sambil menaruh tangan di pinggang.

Kaito mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ehm… siapa namamu?" tanya Kaito.

"Kagamine Rin." Jawab Rin setelah lepas dari pelukan Meiko. Kaito melirikku. Segera aku memalingkan wajahku darinya.

"Sekalian ke sini… boleh kau mendengar sedikit cerita kami?" tanya Kaito sambil duduk di salah satu sofa. Rin terdiam, kemudian mengangguk. "Ehm… kami butuh bantuanmu untuk memeriahkan klub menyanyi dalam festival sekolah satu minggu ke depan." Jelas Kaito.

"Kami berpikir akan menyanyi. Satu orang satu lagu. Yahh… boleh berduet sih." Lanjut Miku yang duduk di lantai, di samping Luka.

Rin terdiam sejenak, "Intinya… kalian merekrutku masuk ke klub ini. Dan meminta padaku menyanyi di festival nanti?" tebak Rin.

"…secara teknis begitu." Ucap Kaito dengan tenang.

"Menyanyi saja kan? Tapi…" Rin tampak menimbang-nimbang. Entah kenapa aku jadi tegang. "Aku bersedia. Tapi… aku ingin duet. Dengan… dia." Lanjut Rin sambil menunjukku dengan jari tulunjuknya. Aku langsung terbelalak.

Kulihat semuanya mengangguk-ngangguk dengan puas. "Baiklah. Latihan dimulai besok pagi dan sepulang sekolah. Mohon bantuannya ya, Rin…" kata Kaito, selaku ketua klub.

Rin tersenyum, "Kalau begitu… aku harus segera pulang. Ada acara keluarga." Ucap Rin dan lalu meninggalkan ruang klub menyanyi.

Aku hanya terbengong melihatnya pergi begitu saja tanpa ada permintaan maaf atau semacamnya kepadaku. Sial!


Normal POV


Blam!

"Aku pulang." Ucap Len dengan ogah-ogahan. Ingin dia menggertak Rin saat itu juga karena sudah seenaknya memutuskan. Meski begitu… Rin jauh lebih tegas dibanding dirinya. Besok… dia akan menyanyi. Memikirkannya, selalu membuat tubuh Len lemas.

Aku takut untuk menyanyi…, pikir Len sambil mengerutkan keningnya, lemas. Di saat lelaki itu kebingungan, ayahnya muncul dari ruang tamu.

"Kebetulan sekali, Len! Ayo sini!" ajak ayahnya sambil menarik lengan anaknya. Len menengadah dan mengikuti langkah ayahnya. "Akan ayah kenalkan dengan orang yang ayah ceritakan di rumah makan kemarin."

Hah? Apa? Secepat ini?

Len dipaksa duduk di salah satu sofa. Ketika itu, dia kaget sekali. Sekarang… firasat buruknya terbayar dengan sempurna.

"Kenalkan, ini anakku, Len Kagamine!" seru ayah Len sambil menepuk-nepuk anaknya, bangga.

Seorang wanita berambut blond tersenyum lembut ke arah Len. Wanita itu langsung berdiri, bersama… anak gadisnya…

"Salam kenal, Len-kun. Ayahmu banyak membicarakan soal dirimu." Ucap wanita itu sambil menggenggam tangan Len. Len masih terbengong, hingga sang wanita mendorong punggung anak gadisnya perlahan. "Ini anak saya, dia seumuran denganmu lho…"

Anak gadis berambut blond berpita putih itu melangkah sedikit lalu menyodorkan tangannya pada Len. Dia tersenyum miris,

"Namaku Kagamine Rin. Senang berkenalan denganmu…"

Ohh… kami-sama… mohon ampuni aku!


T O B E C O N T I N U E D


A/N : Lagi-lagi konflik belakangan =A= maaf… maaf… maaf… ^

Untuk berikutnya kubaikin lagi, kuusahakan ada adegan 'bagh bigh bugh'-nya lagi xD

Malas ngebacot,

Great, ciao!


JAWAB REVIEW


Yosh… mulai di sini sampai seterusnya, kolom jawab review akan kupersingkat ^w^ maaf ya, minna…


Inked Mage


Thanks udah baca! ^w^ udah kuterima fic ultah dari kau. Oke, mantab!

Lalu… saya mau bilang, dari kemaren saya slalu putus hubungan tiba-tiba pas smsan =3= sori…

Itu bukan karna malaska balas smsmu. BUKAN! BUKAN! BUKAN! Tapi karena akhir-akhir ini jaringan susah di rumahku! Bahkan untuk cek pulsa saja susah! Q3Q maaf… maaf!

Udah ya, thanks for review :D


Yuuki Arakawa07


Hehehe… makasih ^^

Jurus-jurus itu kudapat dari pengalaman pribadi (bukan berantem ama orang lho! Latihan! Latihan! xD), imajinasi, atau juga dari film yang kuingat. Ah! Novel juga ada! xD hahaha… begitulah.


Rin YahiKonan-Kagamine


Oke, satu saja, MAKASIH BANYAK! QwQ


BloodStained Kagamine Len


Makasih udah setia membaca, Risa… QwQ

Ha? Fave? Wow! Makasih banyaak sekali deh! xD


Arasa Koneko-chan


3 kata saja deh.

Makasih, makasih, makasih

xDDD