Vocaloid's Fan Fiction
Vocaloid © Yamaha
© khiikikurohoshi
I'm Yours, Idiot!
Genre : Romance, School Life
"I just wondering… when this fic end? Hmm… I must make it more long! xD"
Song : Only Human © K (Kei)
I'm Yours, Idiot!
Chapter 5
Look at Me, Then Sing With Me
"Kami akan menikah, Len! Jadi siapkanlah dirimu untuk melihat ibu baru dan kakak barumu!"
Kepala Len serasa mau pecah. Pusing memikirkan ini-dan-itu. Tak lama kemudian, Len merasa terhuyung. Dan… BRUGH! Len pingsan seketika.
Di dalam kesadarannya yang semakin menipis, Len mendengar teriakan ayahnya dan 'calon' ibu barunya. Juga Rin… tapi… masih ada suara yang terngiang lagi di telinganya… suara itu… suara yang sangat familiar… ya… suara itu adalah…
Flashback
"Len! Kesini kamu, anak nakal!" seru seorang wanita sambil menggelitiki pinggang seorang bocah laki-laki. Ya, wanita itu adalah ibu dari bocah itu. Dan bocah itu adalah—Len.
"Kyahahaha! Hihihi! Ibu! Hentikan! Ihihihihihihi! Geli nih, bu!" keluh Len sambil tertawa-tawa karena merasa geli.
Ibu Len langsung menghentikan gelitikannya pada anak kecilnya lalu dengan cepat dia menggendong anaknya sambil mengecup pipi bocah berusia 5 tahun itu.
"Ibu sayang pada Len! Sangat sayang!" bisik ibu Len sambil menyetuh hidung Len dengan hidungnya. Len balas memeluk leher ibunya itu.
Kehangatan terasa keras di sini.
Seorang ibu, seorang ayah, lalu seorang anak dari keluarga Kagamine ini hidup sederhana. Ketika itu, anak dari keluarga Kagamine masih berusia 5 tahun. Anak yang sangat bersemangat, ceria, jujur, namun agaknya—cengeng. Lalu ibunya sangat ramah namun tangguh, juga ceria. Setiap malam sebelum tidur, sang ibu pasti menyanyikan sebuah lagu untuk anaknya. Dan sang ayah yang pekerja keras itu sangat menyayagi istri dan anaknya, setiap malam, dia bersedia membacakan dongeng untuk anaknya.
Namun itu semua berubah ketika musim gugur setelah Len berusia 10 tahun…
Saat liburan keluarga, mobil berhantaman dengan mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Tidak sampai di sana, tabrakan beruntun terjadi.
Ibu dari Len langsung parah kondisinya. Kondisi fisik tidak begitu masalah, namun mentalnya, jiwanya, merasakan rasa syok yang amat sangat. Dengan segera, ibu Len di bawa ke rumah sakit.
Syukurlah ibu Len masih bisa menghembuskan napas. Namun kondisinya masih labil.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Len suatu hari.
Ibu Len yang sekarang diperban dahi dan lengannya. "Iya… terlebih bila kau menyanyikan sebuah lagu untuk ibu…" jawab ibu Len sambil mengelus rambut blond Len.
Len terdiam, memikirkan lagu apa yang akan dinyanyikannya, "Tidak apa-apakah lagu agak sedih, ibu? Mmm… bu—bukan berarti aku sedang sedih ya! Aku Cuma… Cuma—"
Ibu Len tertawa kecil, "Hihihihi. Tidak apa-apa, sayang. Nyanyikanlah… untuk ibu…" bisik ibu Len sambil memegang punggung tangan anaknya.
Len terdiam sejenak, kemudian dia mengambil napas dan mulai menyanyi…
Kanashimi no mukou kishi ni. Hohoemi ga aru toiu yo…
Ibu Len tersenyum mendengar lagu yang dipilih Len. "Ya… pilihan lagu yang sangat bagus, Len. Terus nyanyikan untuk ibu…" bisik ibu Len.
Kanashimi no mukou kishi ni. Hohoemi ga aru to iu yo. Tadori tsuku sono saki ni wa. Nani ga bokura wo matteru?
Len menutup matanya, berniat fokus saat menyanyi. Ibu Len kemudian menggenggam punggung tangan anaknya erat-erat. Seolah-olah takut Len pergi sekarang. "Suaramu… mampu membuat ibu tenang, Len. Terus nyanyikan… ya…"
Nigeru tame ja naku yume ou tame ni. Tabi ni deta hazusa tooi natsu no ano hi…
Ibu Len mengendurkan genggamannya sedikit, perlahan-lahan. "Menyenangkan." Bisik ibu Len. "Menyenangkan sekali bila melihatmu menyanyi. Entah kenapa… ibu ingin menangis…"
Ashita sae mieta nara tame iki mo nai kedo. Nagare ni sakarau fune no you ni. Ima wa mae he susume…
Ibu Len menghela napas ringan, lalu memejamkan matanya. Berniat untuk menghayati suara Len saat ini. Sebab, Len jarang menyanyi di hadapannya. Len itu pemalu, jika saja anak itu berani, pasti sekarang dia sudah menjadi penyanyi terkenal. Ya… ibu Len percaya itu…
Kurushimi no tsukita basho ni. Shiawase ga matsu toiu yo. Boku wa mada sagashite iru. Kisetsu hazure no himawari…
Ibu Len membuka matanya lagi. Namun kali ini terasa berat…
"Len…" panggil ibu Len dengan suara parau. Karena dia menangis… "Ibu sayang padamu…"
Kobushi nigirishime asahi wo mateba. Akai tsume ato ni namida kirari ochiru…
Ibu Len menutup matanya lagi. Senyum lembut terlukis di wajahnya. Tangannya masih menggenggam punggung tangan anaknya, Len.
Sedetik kemudian… wanita itu… terlelap.
Kodoku ni mo nareta nara. Tsuki akari tayori ni. Hane naki tsubasa de tobi tatou. Motto mae he susume…
Angin berhembus, suara Len masih mengalun. Tidak ada yang disesali ibu Len. Dia justru bersyukur. Kematiannya di antar oleh suara lembut Len. Hal yang sangat diharapkannya.
Dia teringat ketika mengatakan hal itu pada suaminya. Sang suami ternganga, lalu dia sendiri tertawa riang, dengan berkata, "Aku bercanda!", kemudian suaminya menghembuskan napas berat. Tapi, tak disangka, candaannya menjadi kenyataan.
Itu adalah harapan yang tak terduga. Juga… kenyataan yang tak terduga.
Sungguh ironis…
Amagumo ga kireta nara. Nureta michi kagayaku. Yami dake ga oshiete kureru. Tsuyoi tsuyoi hikari. Tsuyoku mae he susume…
Len mengakhiri lagunya, lalu menatap ibunya.
Seketika itu juga tubuhnya menegang. Air matanya berlinang. Namun tak berapa lama, air matanya langsung menetes dengan deras, tanpa henti. Len melirik tangannya yang masih digenggam ibunya. Tangan itu seperti berkata…
"Jangan menangis, Len. Ibu masih di sini, menjagamu…"
Len mengernyitkan dahinya, berusaha menahan tangis. Tapi nihil. Nyanyiannya adalah hal terburuk baginya. Nyanyiannya sukses membuat ibunya pergi. Nyanyiannya sukses membuatnya kehilangan seorang ibu.
"IBUUUUUUUUU!"
End of Flashback
"…en—Len… hei. Len…"
Len membuka matanya. Terang menyelimuti pemandangannya. Namun beberapa menit kemudian, pandangannya kembali normal. Rin berada di sebelahnya. Ketika melihat mata Len sudah terbuka sepenuhnya, gadis itu tersenyum senang dan menghela napas lega.
"Kau masih di sini? Khh…" Len berusaha duduk. "Ngg… mana ibumu?" tanya Len sambil mengaruk belakang kepalanya. Sejujurnya agak terasa nyut-nyutan.
"Maaf…" bisik Rin sambil tersenyum lemas. Rin langsung duduk di sisi tempat tidur Len.
"Hah?" Len agak kaget mendengar ucapan Rin. Apa maaf? Mendadak dirinya merinding. Bagaimana mungkin… Rin yang… aahh… pasti dia berbohong lagi!
"Aku serius." Sahut Rin dengan tegas, seolah-olah dia bisa mendengar ucapan Len. "Mungkin waktu itu aku egois… tapi… janji kita yang dulu… lupakan saja ya? Aku hanya ingin memancingmu…"
"Memancingku?" ulang Len.
Rin tersenyum sebentar, "Ayahmu dan ibuku… sudah lama saling menyukai. Ibuku… banyak bercerita soal keluargamu. Lalu… kau yang tidak ingin menyanyi pun… aku tahu. Dari ayahmu. Kurasa itu masalah pribadi ya? Makanya saat di ruang klub menyanyi tadi, ketika aku menunjukmu berduet, aku lihat teman-temanmu sangat setuju dengan pilihan pasangan duetku." Jelas Rin, sejenak, dia mengambil napas.
"Ibu menceritakan soal ayahmu dan kamu. Makanya saat pulang dari New York, aku langsung memutuskan masuk ke sekolah yang sama denganmu. Aku sudah tahu rupamu sejak awal. Ayah dan ibumu bertemu di jejaring sosial. Di sana, dia melampirkan semua foto yang ada. Foto ruang tamu, foto kamarmu, foto ibumu, fotomu, dan lainnya…"
Rin meraih punggung tangan Len.
"Tekananku pasti semakin memberatkanmu. Pingsanmu barusan pasti karena aku menunjukmu sebagai pasangan duetku." Bisik Rin sambil mengelus punggung tangan Len dengan lembut.
Len jadi terpana…
"Kumohon… bernyanyilah… Len…" bisik Rin, kali ini dia seperti ingin menangis. Entah mengapa, gadis itu jadi merasa bersalah pada Len.
Len terhenyak. Untuk pertama kalinya, gadis itu, Rin, memanggil namanya dengan baik.
"Aku akan jadi kakak tiri yang baik untukmu. Aku janji. Tapi… bernyanyilah, Len. Meski Cuma satu kali, saat festival saja. Makanya…"
Rin menghapus air matanya dengan cepat, mengangkat kepalanya, menatap mata Len. "Makanya… kalau kau takut menyanyi, lihat aku, lalu menyanyilah bersamaku! Akan kuiringi suaramu. Aku yakin… kau bisa melakukannya!"
Len terdiam agak lama. Ingin rasanya cowok ini menangis dan memeluk gadis di hadapannya. Namun, saat dia ingin melakukan semua itu…
"AH! KAU SUDAH SADAR, LEN! SYUKURLAH, ANAKKUUU!" seru ayah Len lalu langsung memeluk tubuh anaknya.
DHEG!
Len dan Rin, juga ibu Rin, hanya sweat drop ketika melihat ayah Len memeluk tubuh anaknya.
"Maaf sudah merepotkan. Istirahatlah dengan tenang ya, Len-kun. Jangan terlalu memikirkan soal pernikahanku dengan ayahmu… kami bisa mengurungkan niat kami kok." Ucap ibu Rin ketika sudah pamitan.
Len menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Cowok ini menyodorkan tangan pada ibu Rin. Ibu Rin langsung menjabat pria kecil di hadapannya.
"Aku menunggu kedatanganmu, ibu." Ucap Len dengan senyum ringan.
Ayah Len dan ibu Rin langsung menganga. Tanpa bicara—atau penjelasan apa pun, ayah Len langsung memeluk anak lelakinya sambil menangis bahagia, lagi.
"Kalau begitu aku juga! Sampai ketemu nanti, ayah dan adik tiri!" seru Rin sambil melompat-lompat kecil. Setelah berkata begitu, ibu Rin langsung menyeret anaknya pergi dengan wajah memerah bahagia.
Blam.
Pintu rumah ditutup.
Ayah Len langsung menatap anaknya dengan pandangan datar, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Len hanya tersenyum miris sambil mengangkat bahu. "Jangan bohong, Len. Aku ayahmu. Aku tahu apa yang terjadi selama kau pingsan."
Len tertawa ringan, "Tidak apa-apa, ayah. Hati dan tubuh ini… sudah menerima semuanya. Aku baru tahu kalau ibu justru bersyukur dengan nyanyianku hari itu. Maka dari itu, izinkanlah aku untuk menyanyi lagi. Mulai saat ini…"
Ayah Len terlihat kaget, namun tak lama senyum tersungging di wajahnya. "Kau tidak usah meminta izin dariku. Sebab itu adalah keputusanmu sendiri. Kau tahu? Ibumu… sangat menginginkanmu untuk terus menyanyi, dan membuat mereka merasa tenang dengan nyanyianmu." Balas ayah Len.
"Wow… melankolis sekali, ayah. Melankolis… hahaha!"
Kedua anak dan ayah itu saling tertawa dan bercanda hingga waktunya tidur.
The Next Day…
Blam!
Pintu klub menyanyi terbuka. Len melihat semua sudah berkumpul. Miki terlihat paling tajam pandangannya saat menatap masuknya Len barusan.
"Pandanganmu itu…" Len menggaruk pelipisnya yang tidak gatal saat melihat tatapan mata Miki. "Aku sudah memutuskan akan menyanyi. Tapi… berduet." Lanjut Len. Semua langsung menghela napas penuh kelegaan.
"Syukurlah… padahal kami berniat mengganti ide lagi lho, Len. Syukurlah…" ucap Miku dengan sangat lega. Seolah-olah dia habis berurusan dengan ujian tersulit di dunia.
"Kalau begitu sudah diputuskan? Aku akan nyanyi bareng Miku dan Luka. Lalu akan dilanjut dengan Miku duet bareng Luka, Rin dan Len, lalu terakhir, yang lainnya nyanyi sendiri-sendiri. Ayo kita putuskan lagunya!" seru Kaito yang memegang buku yang berisi lirik-lirik lagu.
Maka rapat dimulai! Miku, Kaito dan Luka langsung memutuskan menyanyi lagu Acute. Miku dan Luka memilih lagu Magnet favorit mereka. Len dan Rin agak lama memilih lagu, namun kemudian Rin memilih lagu Adolescence.
Gumi memilih lagu Alice ni Sayonara, Meiko dengan semangat memilih lagu Fukushuu Aku no Musume. Terakhir Miki, karena dia jarang menyanyi, dia hanya memilih lagu Luxurious Times.
"Lagu yang kupilih ini… kedengarannya seru." Ucap Rin sambil membaca lirik di salah satu kertas yang Kaito salin untuk Rin dan Len. Rin menoleh pada Len, wajah cowok itu masih agak tegang, badannya juga agak gemetaran.
Rin langsung mendekati Len, "Jangan tegang, santai saja. Kubilang kan, tatap mataku saja kalau kau takut. Aku… kan kakakmu?" ucap Rin sambil tersenyum.
Len menghela napas ringan, "Iya, iya. Aku tidak apa-apa kok. Cuma kaget saja, aku bakal menyanyi lagi secepat ini." Balas Len.
"Memangnya kau menduga berapa lama lagi?" tanya Rin.
"Selama-lamanya. Kupikir aku takkan menyanyi selama-lamanya." Jawab Len dengan wajah polos. Rin terkikik samar-samar.
"Kuberi kalian waktu 2 hari untuk menghapal lirik dan menyanyi! Terlebih padamu, Len! Kami berharap padamu." Ucap Kaito. Yang lainnya langsung menoleh pada Len.
Len sendiri terheran, "Ke—kenapa aku?"
"Tidak ada alasan khusus, idiot. Itu hanya karena kita teman!" ucap Gumi sambil menyentil dahi Len. Len meringis.
"Te—terimakasih…" ucap Len lalu segera memalingkan wajahnya yang sudah terlanjur memerah. Rin hanya terkikik melihat wajah Len.
T O B E C O N T I N U E D
A/N : Asal kalian tau, chapter ini jadi setelah aku publish chapter 4!
Terlalu semangat mikir bagian ini sih xDD
Hahahaha… okelah.
Terus, bisa ga, ya, kasih chapter 10 ke atas? =3= niatku sih begitu… tapi entahlah. Semoga alur ceritanya makin menegangkan. Saya, sebagai author, sumpah bingung endingnya. Ada beribu ending yang muncul di kepalaku. Lantas, kenapa judulnya 'I'm Yours, Idiot!'? =3= itu dia…
Sudah deh! Soal ending belakangan! X3
Lalu, lagu yang kuambil itu dari film One Litre of Tears! Lagu yang sedih namun aku suka :3
Serius! Kalian harus nonton film drama Jepang itu! Sedih (keren) banget lho! :3
Thanks for reading!
Jawab Review
Inked Mage
Hieee… sayangnya Rin ga ada hubungan darah sama mamanya xD
Yuuki Arakawa07
Ahh… masa sih ga ada typo? Hahaha… ngg… karate sih. Cuma sebentar. Capek banget! xD Itu juga ga bisa bela diri… yahh… Cuma ikutin gerakan aja x9
Kagamine 'Rii' Vessalius
Udah kujawab pertanyaanmu di PM kaan? xDD eh,,, kok ganti nama lagi jadi Rii sih? Nanti aku salah kira lho x3
Arasa Koneko-chan
Kenapa Len trauma? Udah kujawab di chapter ini x3 Hehehe xDD
