Vocaloid's Fan Fiction


Vocaloid © Yamaha

© khiikikurohoshi

I'm Yours, Idiot!

"I'm thinking the end! It will be bad ending! BAD ENDING! xDDD"

I'm Yours, Idiot!


Chapter 6

Kagamine Rin's Past

Klak.

Len membuka pintu rumahnya. "Oh? Selamat siang, ibunya Rin. Cari ayah ya?" tanya Len, ketika melihat siapa yang ada di depan pintu.

"Selamat siang, Len-kun." Sapa ibu Rin sambil berjalan masuk ke ruang tamu sembari Len menuntunnya. Len segera menghilang ke dapur, segera dia membuat teh dan membawakannya kembali pada ibu Rin.

"Silahkan." Tawar Len. Dia lalu menaruh cangkir berwarna orange di hadapan ibu Rin.

"Terimakasih, Len-kun." Ucap ibu Rin. Ibu Rin meraih cangkir itu lalu meresap tehnya. "Ngg… lembut sekali rasanya. Ini teh apa?" tanya ibu Rin yang sebenarnya—peminat teh.

Len menggaruk belakang kepalanya. "Kata ibuku dulu sih… namanya teh Darjeeling. Sejak kecil aku sudah terbiasa membuat yang seperti itu." Jawab Len, agaknya tersipu.

"Hebat ya…" ucap ibu Rin. Entah kenapa Len melihat wajah ibu itu agak… sedih.

"Eee… ee… ayahku masih ada sedikit tugas kantor. Dia sedang kerja di atas. Mau ku… panggilkan?" tanya Len. Ibu Rin menggeleng pelan.

"Tidak apa-apa. Aku ingin mengobrol denganmu sedikit, Len-kun." Tolak ibu Rin dengan lembut. "Aku ingin… cerita sedikit soal Rin."

Len mengangkat alisnya, "Rin?" ulang Len. Ibu Rin mengangguk pelan.

Dia mendehem, "Anakku itu… tidak memiliki hubungan darah denganku." Ucap Ibu Rin. Ya. Len tahu itu, dia sudah pernah diceritakan oleh ayahnya. "Singkatnya, aku memungut anak itu ketika dia berusia 8 tahun."

Len terdiam, berniat mendengar lebih lanjut. Ibu Rin melirik Len sebentar lalu melanjutkan, "Kudengar dari ceritanya… dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Anak tunggal. Waktu itu, takdir menemukan kami, di suatu pesta pernikahan."

"Dia bilang, dia pergi bersama orang tuanya, seperti biasa. Lalu, di tengah pesta, listrik padam. Agak lama listrik padam hingga membuat ball room yang sangat luas itu rusuh. Lalu, 20 menit kemudian, ruangan itu menyala. Bukan menyala karena listrik…tapi—"

Ibu Rin berhenti lagi, meresap teh. "…tapi… yang menyala adalah kobaran api yang sangat dahsyat. Entah dari mana datangnya api itu, yang pasti ball room langsung rusuh total. Semua, hiruk-pikuk berebutan mencari jalan keluar. Tidak untungnya, aku terperosok akibat di dorong seseorang. Aku diinjak-injak hingga aku pingsan." Lanjutnya.

"Entah berapa lama aku pingsan, saat tersadar, aku masih hidup. Di sebelahku ada Rin—anakku itu. Wajahnya polos tanpa air mata. Malah, dia tersenyum saat melihatku. Melihat api masih berkobar di mana-mana, segera aku bangkit dan spontan… kutarik tangan kecil Rin keluar ruangan."

Len terhenyak. Di benaknya, memikirkan bila dia yang berada dalam kobaran api itu… pasti sangat… menyeramkan.

"Tidak sulit untukku mencari jalan keluar. Saat di luar, hampir semua orang selamat. Syukurlah tidak ada korban jiwa. Namun kemudian aku tersadar, orangtua Rin. Kemana mereka? Kutanya pada Rin, namun anak itu hanya nyengir sambil melepas kunciran rambutnya. Dia bilang…"

"Tadi waktu aku melihat kobaran api, mereka langsung menepis tanganku dan lari. Kurasa mereka meninggalkanku."

Len terbelalak. "Rin… tidak menangis sama sekali?" tanya Len—sejujurnya, dalam kondisi seperti itu, siapa pun akan menangis meraung-raung.

"Katanya air matanya sudah habis akibat terlalu sering menangis. Aku tidak percaya sih, tapi… katanya… dia sering dipukul oleh ayah dan ibunya." Jawab ibu Rin.

Len mengangguk-ngangguk. "Hmm… apakah Rin baik-baik saja?" tanya Len kemudian.

"Aku yakin demikian. Sebab Rin bukanlah anak gadis yang cengeng. Namun kuat dan tangkas. Makanya saat diputuskan dia menjadi anak angkatku, dia langsung memintaku untuk membawanya ke latihan bela diri. Dan… beginilah hasilnya." Jawab ibu Rin dengan keyakinan yang tinggi. Len jadi terhenyak. Dia sekarang tahu bagaimana masa lalu Rin.

Pedih dan gelap.

Tapi Rin tidak pernah menunjukkan rasa pedih masa lalunya. Di sekolah, di kelas, di ruang klub, dan di hadapanku. Dia itu gadis yang aneh, pikir Len dalam hati.

"Leeen! Kau sudah masak makan siang be—"

Ibu Rin dan Len segera berdiri. Ayah Len hanya terkaget melihat siapa yang ada di ruang tamu. Len dan… calon istrinya.

"Aaa…"

Ibu Rin terkikik melihat perubahan ekspresi Ayah Len, "Kalau mau makan siang, kubuatkan deh." Tawar ibu Rin. Len segera meninggalkan mereka berdua.


Blam.

Len menutup pintu kamarnya lalu menghambur ke tempat tidurnya. Hari ini hari Kamis, libur sekolah. Persiapan festival nanti. Sedang festival hari Sabtu nanti. Len segera meraih kertas lirik dan kembali melatih vokalnya.

Namun di tengah lirik, tepatnya lirik yang dinyanyikan Rin, Len teringat kembali apa yang dikatakan Rin dengan senyum yang merekah, pipi merona dan mata yang berbinar.

"Hei! Hei! Lirik yang bagian sini kita pakai pose keren yuk! Misalnya pose kamen rider atau power rangers atau… pahlawan bertopeng! Ya? Ya? Ya? Hei… ayolah! Jangan garing begitu, ah! Hei, Len! Leeen!"

Len tertawa kembali mengingat ucapan konyol Rin. "Dia itu… memang cewek aneh." Kata Len sambil tertawa hambar. "Aku kalah olehnya…"

Tok! Tok! Tok! Tok!

"Ada apa ayah?" tanya Len tanpa membuka pintu.

"Makan siang!" ajak ayah Len dari luar. Dengan segera Len melompat dari tempat tidurnya dan menuju dapur. Untuk makan bersama ibu barunya…


The Next Day…

"Hoi, Len!" sapa Mikuo di pagi hari.

"Yo. Kelihatannya sibuk ya." Sahut Len. Mikuo mengangguk mantap.

"Maaf deh sudah jarang berduaan. Aku kangen sama kamu kok, Len." Goda Mikuo sambil memeluk tubuh Len dari belakang. Len langsung mendelik. Ingin dia menghantam Mikuo, namun gerakannya membeku ketika melihat Rin dan Gumi. Kedua gadis itu pasti ingin ke klub.

Kembali, mata Gumi jadi 'blank', mulutnya menganga lebar, wajahnya juga pucat pasi. Sedang Rin, dia hanya menyeringai penuh arti.

"Geh! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" gertak Len.

Sontak Gumi dan Rin tertawa terbahak-bahak. Sedang Mikuo semakin bermanja pada Len, membuat Len semakin jijik dengan pria yang merupakan adik dari Hatsune Miku ini.


Len POV


Aku hanya mendecak sebal ketika disampingku, Rin, masih tertawa.

"Sudah dong!" gertakku galak. Rin langsung menahan tawanya.

"Ehmmhmhmhmm—hihihmm… ukh! Iya! Iya! Nggak lagi kok!" seru Rin ketika aku mengepalkan tinjuku padanya. Gadis itu langsung bungkam dan memandang langit yang kosong tanpa awan. Terbersit dipikiranku, ketika ibunya menceritakan masa lalu Rin padaku.

Ctuk!

Aku menyentil dahi Rin dengan telunjukku, tidak terlalu kencang, namun tetap meninggalkan rasa sakit. Rin sampai meringis gitu…

"Aduhh! Kau kenapa sih? Marah?" tanya Rin dengan sebal. Dia memegang dahinya sambil menahan rasa pedisnya.

Aku terdiam melihat reaksinya, lalu kemudian, tanpa kusadari, senyumku mengembang sendiri. "Masih semangat toh." Kataku—lalu segera meninggalkannya sendirian. "Ayo kembali ke ruang klub. Latihan masih panjang lho. Ingat, besok udah festival." Ajakku sebelum terlalu jauh dari Rin.

Rin mengangguk dengan wajah masam. Dia masih agak sebal dengan sentilanku, kurasa.


Normal POV


"Aku pulang." Ucap Len.

Sepi. Len langsung menduga kalau ayahnya pergi berkunjung ke rumah ibu Rin. Len langsung beralih ke dapur, namun… betapa shock-nya Len ketika melihat ayahnya ambruk sambil memegang dadanya. Dan tangan lainnya memegang ujung meja dapur—seperti menahan badannya tadi. Juga, napas ayahnya yang terdengar lemas dan sangat berat.

Len menduga ayahnya sakit. Dengan segera Len mendekati ayahnya dan membantu beliau berdiri. "Ayah segera ke kamar dan istirahat! Aku panggil dokter!" suruh Len setelah membopong ayahnya ke kamar.

Len segera menekan beberapa tombol di telepon. Dan langsung dihibungkan pada rumah sakit.

"Dia hanya kelelahan." Ucap dokter setelah memeriksa ayah Len. "Pastikan padanya untuk istirahat yang cukup dan tidak terlalu banyak bergerak." Lanjut dokter itu lalu segera keluar dari rumah Len.

Len menghela napas panjang-panjang. Dia merasa kesal.

"Ayah! Sejak dulu kukatakan untuk tidak memaksakan diri, kan! Lihat sekarang? Kau ambruk! Kalau saja aku tidak cepat datang… apa yang terjadi? Kau bisa sekarat!" geretak Len dengan bertubi-tubi. Ayah Len yang disuruh berbaring hanya tersenyum mendengar celotehan Len.

"Begitulah kamu, nak. Marah-marah, namun niatmu baik. Maafkan ayah…" ucap ayah Len sambil tertawa kecil. Len hanya mendecak.

"Terserah! Tunggu di sini! Aku bawakan makanan!"

Len menghilang dari kamar ayahnya.

"Uhk… uhk… lihat anakmu itu… dia semakin lucu saja…" bisik ayah Len sambil tersenyum hangat—cenderung pada dirinya sendiri.

Klak.

Len membuka pintu kamar ayahnya sambil membawa nampan berisi teh hangat dan sup bawang. Segera Kagamine junior itu menaruh nampan itu di samping tempat tidur ayahnya. "Aku akan larang ayah menikah kalau tidak bisa jaga diri." Ucap Len.

Ayah Len tertawa kencang.

Len mengambil cangkir teh dan menyodorkan pada ayahnya. "Tadi itu bukan joke, ayah… aku serius. Kalau ayah tidak bisa jaga diri, pasti akan merepotkan ibu. Memalukan keluarga Kagamine yang sekarang saja kalau sampai ayah merepotkan ibu…" ucap Len sambil geleng-geleng kepala. Ayah Len menahan tawanya kali ini.

Tapi dia benar-benar suka gaya bicara Len.

"Entah sejak kapan kau jadi suka khawatiran begini. Lucu lho." Komentar ayah Len cuek. Bulu kuduk Len serempak meremang. Wajah Len langsung merona saking malunya dikatai 'lucu'.

"A—aku… aku nggak lucu!" geretak Len sambil meninggalkan kamar ayahnya.

Blam!

Ayah Len tertawa samar. "Kapan kau bisa bersikap jujur ya, Len?"


The Next Day…

Len merasakan perubahan keras di sekolahnya. Agak meriah dari biasanya. Bukan agak—tapi sangat! Sangat meriah dari biasanya! Ini pasti karena kepala sekolah maniak pesta…

"Selamat siang, Len-kun!" sapa Miku saat dia melihat Len.

"Hei, Miku-san. Yang lain sudah kumpul?" tanya Len yang sedang menenteng tas sekolahnya. Miku mengangguk, tapi tak lama…

"Sisa… Rin-chan…" ucap Miku dengan wajah cemas. "Kami tadi melihatnya, namun dia belum ke klub. Dia langsung menghilang entah kemana. Padahal acara kita dimulai jam 11… sekarang sudah jam setengah 10. Masih ada waktu sih… sebaiknya kau cari dulu. Tasmu kusimpan deh."

Len berpikir sejenak, kemudian dia menyerahkan tasnya pada Miku dan berlari tak tentu arah untuk mencari Rin.


Rin POV


"Hhh… ahhh… ahh… khh… uhk! Uhk! Aaahhh…" aku meremas pinggangku dan menghapus air mataku yang keluar dari pelupuk mataku.

"Sial…!" umpatku dengan gemas. "Kenapa di saat seperti ini… dia… datang sih?" keluhku sambil memegang perutku. Kupeluk tubuhku dan menenggelamkan kepalaku dalam-dalam. Sekarang aku ada di kelas. Sendirian. Pasti tidak akan ada yang tahu keberadaanku.

"Tapi… pertunjukannya…" aku kembali menggeram.

Sakit… perih… perutku sakit… aku mau muntah… tolong aku…

Aku menutup mataku yang terasa berat. Tidak boleh! Aku harus kuat! "Cukup, Rin! Ayo cepat bangkit!" seruku pada diri sendiri. Aku mendebamkan meja dan keluar kelas. Meski perutku terasa nyut-nyutan, meski tenggorokanku terasa pahit, meski aku ingin muntah, aku akan bertahan! Aku pasti bisa!

Klak!

Aku membuka pintu ruang klub. Di sana semua terlihat cemas. Namun saat melihatku, wajah cemas mereka langsung hilang. Berganti dengan helaan napas penuh kelegaan.

"Kami mencarimu kemana-mana, Rin! Astagaaa… syukurlah!" ucap Meiko-senpai yang langsung berjalan ke arahku. Aku menggaruk tengkukku.

"Ngg… maafkan aku. Tadi… aku—" ucapanku terhenti. Mendadak rasa mual yang luar biasa menggerogoti tubuhku. Aku langsung menggeleng dengan cepat.

"Ngg… tadi aku menerima telepon dari teman lama. Kami banyak ngobrol deh. Maaf ya… maaf!" ucapku sambil menempelkan kedua telapak tanganku satu sama lain di depan wajahku.

"Sebaiknya kau minta maaf sama Len deh, Rinny! Dia masih mencarimu lho!" ucap Gumi sambil mengecungkan jarinya.

Aku terdiam. Len? Masa sih?

Aku mengangguk seadanya. "Akan kususul dia…" ucapku lalu segera pergi. Aku melirik jam tanganku yang berwarna orange, jam 10.45. Agak mepet memang, tapi ini darurat.

"Ah! Kebetulan! Mi—Mikuo-senpai!" panggilku saat melihat punggung orang yang kukenal, Mikuo-senpai, sahabat Len.

Mikuo-senpai menoleh dan langsung melambaikan tangannya padaku, "Hei… kau cari Len yah? Dia tadi ke kelasmu. Lalu… nggak tahu deh." Ucap Mikuo-senpai tepat dan cepat. Aku langsung memutar lajuanku untuk mengejar Len ke kelas.

"Makasih ya, Mikuo-senpai!"

Greeek…

Aku membuka pintu kelas dan kulihat Len tengah duduk di bangkunya, tertidur. Dia… mencariku sampai tertidur?

"Oi, stalker." Panggilku.

Len membuka matanya dan langsung memegang pundakku cepat, "Kau! Kucari kemana-mana, idiot! Sampai ketiduran gini nih! Kamu itu… hobi banget buat orang susah ya! Ayo balik ke klub!"

Begitu tersadar, cowok itu langsung menyambutku dengan gertakan-gertakannya yang tidak penting. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, namun—kembali rasa mual dan kali ini, rasa nyeri di perut membuat tubuhku limbung.

Aku langsung refleks memegang pinggiran meja terdekat untuk menjadi penopangku. Kulihat Len menoleh padaku. "Ada apa? Wajahmu pucat." Ucap Len. Dia mendekatiku.

"Ngg… tidak apa-apa. Perasaanmu saja." Elakku seadanya.

"Kau belum makan pagi kan? Wajahmu pucat begitu, pasti belum makan tadi pagi. Masih ada waktu 5 menit! Kita bisa beli roti di kantin!" ujar Len sambil menarik lenganku, namun segera kutepis.

"Jangan! Aku udah kenyang, idiot! Aku nggak sanggup makan lagi! Aku baik-baik saja!" keluhku. Len terlihat tidak percaya, namun kembali kuyakinkan dia, "Aku baik-baik saja! Percaya padaku deh!"

Len akhirnya nyerah dengan ke-keras kepala-anku. "Kalau kau sampai pingsan saat manggung, kau akan kutuntut." Ancam Len lalu berjalan lebih cepat di depanku.

Aku hanya menghela napas berat. "Diam saja deh… aku tahu kok…"


Normal POV


"Len! Rin!" panggil Kaito dari kejauhan. Pandangan mereka tertuju pada Kaito yang berada dekat dengan panggung festival. Len dan Rin langsung menghampiri Kaito. Di dekat Kaito juga sudah ada semua anggota klub musik. "Kalian telat bener! Habis ini giliran kita lho!"

Len hanya bisa mengangguk pasrah. Sedang Rin hanya diam.

Hanya 3 menit mereka meredakan diri, nama mereka di sebut untuk mempertunjukkan pertunjukannya. Klub menyanyi yang kecil dan tidak terkenal…

Kaito meraih bassnya, Rin dan Len langsung meraih mike. Setelah melihat siapa yang ada di atas panggung, sontak semua yang menonton saling berbisik. Mengapa tidak? Yang berada di atas adalah Kagamine Len! Len! Si tukang onar sekolah!

"Ngg… kami memang masih sebuah kelompok kecil yang tidak apa-apanya. Namun, di sini, akan kami tunjukkan, betapa bersinarnya kami di sisi kelompok orang yang berbeda-beda." Ucap Len, basa-basi sebelum menyanyi.

Kelompok orang yang berbeda-beda…

Yang dimaksudkannya adalah : "Anak klub menyanyi berisi berbagai macam anak. Ada yang pintar, jenius, bahkan nakal dan tukang onar." Atau semacamnya…

Jreng!

Kaito menggenjrengkan bassnya. Baru saja Rin ingin menyanyi, sebuah gema suara yang sangat keras membuyarkan niatnya itu.

"HENTIKAN FESTIVAL KONYOL INI!"

Lho? Dia… kan…


T O B E C O N T I N U E D


A/N : Agak berputar-putar!

Ya… ceritanya agak berputar-putar…

Tapi sisi klimaksnya setelah ini nih! Santai aja!

xD

Well… itu aja deh, keep reading!


Jawab Review


Kagamine 'Rii' Vessalius

Hei, hei, Risa! X3

Iya, ya… baru nyadar kalo chapter 5-nya pendek… gomen! Gomen! Gomen Dx

Kuharap chapter ini lebih panjang dikit dibanding chapter sebelumnya. Sekali lagi, hontouni gomennasai! Dx *sujud2

Lagu-nya RinLen, eh? Kuharap sempat kutulis di chapter selanjutnya deh! xDD


Yuuki Arakawa07

Well… makasih selalu atas nasehat dan dukungannya! *terharu

Serius ga ada typo? Untung dehh… ^^ sampai 10 chapter lebih, ya? Niatku gitu sih. Tapi kita lihat saja nanti! Kurasa masih panjang ini! xDD


Mage

Kau nge-spam ya? Haha! Becanda bos! xDD

Betul juga tuh, mending kasih family. Tapi kayaknya saya udah ganti deh. Well… whatever? xD

Romance-nya masih jauuuuh sekali lho… -,-

Hehehe… thankiess, Mage! xD


Arasa Koneko-chan

Hehehe… mungkin ini sudah 6 kali kau muncul ya? Makasihhh! xDD

Aww… betul! Len trauma karena takut nyanyiannya bisa buat orang jadi pergi :3


Hanna Kagamine

Baiklah… nanti kusalahin ffn-nya xDD

Masih panjang nih cerita! *kurasa… PLAK!

Keep reading aja deh! xD *maksa=PLAK!