Vocaloid's Fan Fiction
Vocaloid © Yamaha
© khiikikurohoshi
I'm Yours, Idiot!
"Remember: It will be bad ending… what? BAD ENDING! xD"
I'm Yours, Idiot!
Chapter 7
LET'S FIGHT! [1]
"HENTIKAN FESTIVAL KONYOL INI!"
Len dan Rin terkesiap. Mereka hapal betul pemilik suara itu. Semua yang mendengar suara menggelegar itu langsung menoleh ke belakang. Melihat seorang pria berambut abu-abu yang sedang merokok. Rin mengernyitkan dahinya.
Rin menatap tajam orang yang sekarang menjadi pusat perhatian itu, kemudian dia teringat, "Dia ketua geng yang kita lawan dulu itu kan?" bisik Rin pada Len. Len hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kaito yang secara samar melihat anggukan Len langsung melepas bassnya dan memegang pundak pria itu, "Kau kenal dia?" tanya Kaito.
Len dan Rin menoleh pada Kaito secara bersamaan. "Bukan hanya kenal." Kata Len. "Bahkan aku pernah menghajarnya dalam kurun waktu beberapa minggu lalu."
Miku terkesiap. "Jangan-jangan dia datang untuk balas dendam?" tanya Miku yang mulai ketakutan. Rin menatap Len dengan wajah prihatin.
"Tenanglah, Miku-senpai! Dia Cuma sendirian! Kalau bareng-bareng, kita bisa melawannya sama-sama!" ujar Rin dengan niat menenangkan Miku.
"Tidak," kata Len, masih menatap lurus ke depan. "Dia… membawa semua pasukannya." Lanjut Len. Kali ini tubuh Miku terasa berat. Gadis berkuncir dua itu langsung jatuh terduduk di tempatnya. Lapangan yang menjadi bangku penonton menjadi rusuh. Semua siswa-siswi yang tadi berniat menonton pertunjukan, sekarang menjadi ketakutan.
Mengapa tidak?
Pasukan-pasukan itu tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa balok kayu, batu-batu kerikil kecil—hingga yang ukurannya sebesar kepalan tangan.
"Jangan-jangan dia ingin balas dendam dengan cara menyerang sekolah?" tanya Gumi. Kaito menoleh pada Gumi, kemudian dia hanya bisa mengangguk pasrah. "Memang Cuma itu kemungkinannya ya…" ringis Gumi.
Luka dan Miki yang tadi lebih banyak diam langsung berlari menuruni panggung, "Kami akan menyuruh para siswi untuk menjauhi lapangan!" seru Luka—dibarengi Miki.
Len dan Rin terkejut melihat tindakan Luka dan Miki yang terbilang cepat itu. Kaito langsung menoleh pada Len. Len paham arti mata Kaito, dia mengangguk, kemudian membuka ponselnya dan menghubungi Mikuo.
"Kau sudah siap?" tanya Len ketika telepon terhubung. Suara Mikuo terdengar dari seberang. Jawaban Mikuo sukses membuat hasrat bertarung Len membara. Setelah puas mendengar semua ucapan panjang Mikuo, tanpa pikir panjang lagi, Len terjun dari panggung yang tingginya kurang lebih 2 meter.
Rin mengikuti gerakan Len.
"Aku minta, Kaito-senpai dan yang lainnya mengamankan para siswa dan guru-guru. Aku dan Len akan segera pulang!" ucap Rin sambil tersenyum. Gadis itu menjauhi panggung, berlari mendekati gerombolan siswa sekolah lain itu.
Meiko mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan tinggal diam! Miku! Kaito! Gumi! Lakukan apa yang dikatakan Rin barusan! Aku akan bertarung!" seru Meiko yang sudah berlari meninggalkan panggung. Sepeninggalan Meiko, Kaito menatap dua gadis dihadapannya dengan pandangan prihatin, terlebih Miku.
Menangkap arti mata Kaito, Miku langsung berdiri dan menghapus air matanya. "Karena semua berjuang, kita juga! Ayo!" seru Miku, kontan membuat Gumi lega. Ketiganya langsung meninggalkan panggung untuk menyeret para siswa dan guru-guru meninggalkan lapangan yang tak lama lagi…
—akan menjadi medan perang yang dahsyat.
Len menghentikan langkahnya ketika dia sudah berkumpul dengan anggotanya. Mikuo dan lainnya. Cowok berambut hijau tosca itu mengacungkan jempolnya. "Siap selalu, bos!" ucapnya dengan perasaan bangga.
Rin yang berada di sebelah Len langsung menatap nanar ke sekelilingnya. Ternyata perlakuan anggota menyanyi sangat cepat. Lapangan meriah yang dijadikan tempat menonton pertunjukan festival sudah kosong melompong.
"Medan perang sudah siap." Kata Rin. "Bahkan jika darah berceceran pun, akan mudah menghapusnya."
Len mengangguk. Dia mengalihkan pandangannya. Menatap si ketua yang tadi berteriak dengan suara yang teramat menggelegar. Dua kubu sudah siap. Ketegangan mulai mencekam di sana-sini. Tinggal menunggu beberapa detik, suara langkah kaki akan menggema di sini.
Di medan perang ini.
1 detik… 2 detik… 3 detik… 4 detik… lalu…
5 detik…
Si ketua yang berada pada kubu musuh kembali mengeluarkan suaranya yang menggelegar. "SERBUUUUUUUUUUU!"
Benar pemikiran Len, derap langkah kaki menyerbu. Kubu kepunyaan Len langsung bergerak dengan cepat. Rin yang ada di antara mereka tidak tinggal diam. Dia mengandalkan kekuatan karatenya untuk musuh pertama.
"Hiiiaaah!" Rin meninju rusuk musuhnya. Musuhnya ambruk. Tanpa menunggu musuhnya bangkit, Rin menarik tangan musuhnya itu lalu membantingnya ke belakang.
KRAK!
Rin bisa mendengar itu. Suara tulang yang patah. Namun tidak ada kata mengasihani di medan perang. Tanpa peduli erangan kesakitan dari musuhnya itu, Rin menginjak paru-paru musuhnya. Melalui ekor matanya, Rin bisa melihat ada musuh yang lain. Musuh Rin berganti.
Rin mengepalkan tangannya lalu meninju wajah musuhnya. Musuhnya masih bertahan. Dengan segera Rin meninju perut musuhnya menggunakan siku, lalu berlanjut menendang dagunya. Tak tanggung-tanggung, Rin melakukan tendangan berputar. Rin hampir saja meninju musuhnya lagi—namun sebuah kerikil tuntas mengenai ubun-ubunnya.
Rin jatuh terduduk, memegang ubun-ubunnya yang mendadak terasa sakit dan nyeri. Rin mendengar suara seseorang tengah mengerang. Rin tahu, dirinya akan dilukai. Dengan perasaan pasrah, Rin menutup matanya.
"GRAAAAHHH!"
PRAK!
Rin membuka matanya, melihat Meiko menahan serangan balok kayu dari musuh menggunakan lengannya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Meiko dengan khawatir.
Tidak ingin menyia-nyiakan pertolongan Meiko, Rin berdiri dan mengangguk mantap. Dia merampas balok kayu dari musuhnya itu. Segera diserahkannya musuh itu pada Meiko. Meiko tersenyum penuh minat. Dia mengeluarkan semua jurus karate yang dipelajarinya di dojo.
Rin menoleh ke sana-sini. Yang dilihatnya hanya seragam hitam, gakuran, dari sekolah lain. Tidak ada tanda-tanda blazer milik sekolahnya. Rin berlari menembus lautan hitam itu. Meski sesekali kepalanya ditimpuk oleh sesuatu yang keras dan menyakitkan, Rin memaksa untuk mencari sosok Len…
Len menatap nanar musuh-musuhnya.
Dengan gerakan cepat, pentolan SMP ini meninju dengan membabi-buta pada 3 lawannya. Tanpa ampun bagai iblis, dia mematahkan tulang-tulang musuhnya itu. Dia tahu hal itu sangat menyakitkan. Makanya, sebelum dia yang kena serangan menyakitkan seperti itu, dia akan melakukannya duluan.
Di belakangnya, Mikuo, juga tengah berusaha keras melawan 2 musuh yang besar-besar.
Meski kecil, Mikuo tidak boleh diremehkan. Cowok yang merupakan adik Hatsune Miku itu sangat gesit. Serangan tangan sangat kuat, serangan kaki sangat akurat. Untuk sementara ini, dia mudah memangkas tuntas lawannya.
"Len! Kau lihat di mana Rin-chan?" tanya Mikuo sementara bertarung. Sebenarnya dia malas berbicara saat bertarung. Namun dia ingat, Rin tadi berada di kubunya. Tentu Mikuo belum tahu kalau sesungguhnya, Rin itu sangat ahli bertarung. Bahkan lebih dari dirinya!
Len tidak menjawab. Namun setelah mengambrukkan satu dari tiga lawannya, cowok berambut blond itu menjawab, "Tidak! Tapi aku yakin dia baik-baik saja!"
Kata-kata itu… tidak serius di ucapkannya. Terlebih dia teringat kalau Rin… sempat merasa sakit.
Len menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia kembali fokus pada musuhnya. Meninju menggunakan siku, seperti gaya bertarung Rin, menendang dua kali sekaligus, tendangan cangkul, menangkis, semua gerakan itu dilakukannya berulang-ulang, tanpa rasa bosan dan lelah.
Kadang gerakannya terganggu akibat lemparan batu kerikil. Namun dia bukanlah orang yang pemula dalam bertarung dalam jumlah banyak seperti ini. Baginya, ini salah satu kebiasaan.
Sementara itu, Miku dan yang lainnya, yang berada di dalam gedung sekolah merasa was-was. Beberapa siswa yang merupakan musuh mulai masuk ke dalam sekolah. Kelas Miku rusuh. Tidak ada yang merasa tenang. Jelas.
Mustahil merasa tenang saat kemungkinan nyawa mereka melayang akibat hujan batu kerikil.
Miku tidak bisa melihat di mana Rin, atau Len, atau Meiko. Padahal dari seragam, jelas yang mana yang merupakan kubu kawan. Namun, sosok Rin—atau Len—atau Meiko—seakan tenggelam dalam lautan hitam dari gakuran itu.
Gumi menepuk pundak Miku. Wajah mereka sama, prihatin.
"Mana Kaito?" tanya Miku.
"Dia memilih untuk berjaga di depan sekolah. Menghadang siswa sekolah lain untuk masuk ke sini." Jawab Gumi.
Miku kembali menatap jendela. Kemudian matanya menangkap keberadaan Rin! Sontak Miku menajamkan pandangannya. Dia bisa melihat blazer Rin tidak sepenuhnya berwarna abu-abu. Dasi Rin juga tidak terikat dengan rapi sekarang. Ada bercak merah di sekitar tubuh Rin.
"Gimana ini…? Rin! Rin! Rin-chaan!" panggil Miku dengan suara serak, ingin menangis. Gumi langsung menenangkan Miku.
"Sssh… Miku! Tenang dong… kamu tidak boleh menangis di saat seperti ini! Justru sebaliknya! Kau harus tenang agar mereka semangat!" seru Gumi, berniat menenangkan Miku. Kali ini Miku terisak sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Rasa takut terlalu berat untuknya.
Luka langsung menghampiri Miku dan Gumi. Di sampingnya ada Miki. "Miku, kita harus tenang. Len, Rin, dan Meiko. Hanya mereka bertiga yang ada di luar. Kita harus percaya pada mereka. Jangan menangis. Kalau kau menangis, sama saja artinya kau menyia-nyiakan pertolongan mereka." Ujar Luka sambil menyodorkan tangannya. Begitu pula Miki. Berniat membantu Miku berdiri dengan uluran tangan itu.
Miku masih terisak, namun kemudian isakannya terhenti. Dia menatap mata Gumi, Luka dan Miki secara bergantian. "Baik…" kata Miku sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
Kali ini Rin merasakan perutnya nyut-nyutan.
"Akh!" erang Rin ketika merasakan kepalanya pusing, merasa mual, dan perutnya sakit. "Kenapa sih kau datang saat penting begini!" geretak Rin pada dirinya sendiri. Rin merasa lemas, badannya jatuh. Sedang dari dua arah berlawanan, Rin mendengar dua orang tengah mengerang.
Rin kembali merasakan bahwa dirinya akan dilukai! Dengan dua orang sekaligus!
Tapi… Rin bukanlah Rin jika langsung menyerah.
Ketika merasa jaraknya pas, Rin segera berguling ke samping, hingga dua orang dengan bermodalkan balok kayu itu nyaris melukai satu sama lain. Rin terkekeh melihat pemandangan menggelikan itu.
Namun, Rin merasakan keberadaan seseorang dari belakang. Rin menoleh. Dia melihat seorang siswa tengah mengayunkan balok kayu, dengan niat menghancurkan kepala Rin. Dahi Rin mengerut dengan sendirinya.
"JANGAN SENTUH KAKAKKU!"
Rin terkesiap mendengar suara ini. Len…
Len langsung terjun dan menendang musuh yang nyaris menghancurkan kepala Rin itu. Dia tersengal, tanpa memedulikan apa pun, Len menoleh pada Rin. "Kau tidak apa-apa, Rin!" tanya Len dengan nada tinggi.
Rin mengangguk. Mendengar suara Len, entah mengapa, sakit diperutnya, rasa mual, dan rasa pusingnya langsung hilang dengan sempurna. Berganti dengan rasa semangat yang tidak akan bisa digantikan dengan perasaan apa-apa lagi. Segera Rin mengambil balok kayu yang tercecer.
Rin menatap dua orang yang tadi ingin melukainya. Sambil menyeringai, Rin berkata; "Akan kulayani kalian dengan senang hati."
Rin tampak serius. Sorot matanya berubah serius. Sorot mata seperti ini akan ditunjukkannya ketika dia latihan kendo. Dianggapnya balok kayu adalah shinai, pedang bambunya. Dua musuh Rin itu langsung terbelalak kaget ketika melihat gerakan cepat Rin.
Mereka tidak mampu berkutik ketika Rin melakukan gyakudo, salah satu teknik kendo yang memakai sasaran menebas di sisi perut.
Salah satu musuh Rin jatuh terjerembap sambil meringis kesakitan. Kesakitan yang ditimbulkan Rin tidak bersifat sementara. Rasa sakit itu akan berlangsung lama dan bisa saja membuatmu menangis saking tak tahannya. Jujur saja, kalau Rin memakai katana saat ini, musuhnya itu sudah akan terbelah dua!
"Do!" seru Rin ketika berhasil menebas sisi perut musuhnya itu. Senyum Rin mengembang. Dia mengarahkan matanya pada musuhnya yang satu lagi. Tanpa rasa ragu, Rin mengayunkan balok kayu itu, berniat menghancurkan kepala lawannya.
PRAAAAAAK!
"MEN!" seru Rin, intinya, dia berhasil menebas kepala musuhnya. Namun karena tidak terlalu serius, musuhnya hanya merasakan rasa sakit panjang saja. Setelah membabat habis dua lawannya itu, Len langsung menarik Rin, menembus lautan hitam ini.
Rin mengikuti langkah Len yang sangat cepat.
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Len sementara berlari.
"Dari tadi, tahu…" jawab Rin.
"Bohong. Aku tahu kok. Sakit perut, mual, dan pusing, kan? Wajahmu pucat seperti itu. Jelas ada sesuatu yang terjadi padamu." Balas Len dengan serius.
Rin tersenyum samar, agaknya dia lega karena Len menyadari hal itu. "Ya… tadinya aku merasa begitu. Tapi kau datang dan mengatakan suatu kata yang membuatku lega. Terimakasih ya, Len…" sahut Rin dengan nada tenang.
Wajah Len sontak memerah karena malu.
"JANGAN SENTUH KAKAKKU!"
Itu yang dikatakannya dengan spontan tadi…
Kaito menatap musuh-musuhnya dengan pandangan jengkel. Sudah hampir 1 jam dia terpaksa mencegat musuh-musuh yang berniat masuk ke sekolah itu. Namun beberapa anggota klub basket membantunya.
Kaito meninju beberapa orang lalu kemudian menendangnya. Gerakan Kaito sangat cepat, sehingga sulit dibaca lawan. Tak lama kemudian, Kaito melihat…
Miki!
Gadis itu tengah memukul beberapa siswa menggunakan buku matematika yang sangat tebal. Dan tentu saja, sakit!
Ujung bibir Kaito terangkat. Entah kenapa saat melihat Miki, si gadis pendiam itu yang tengah berjuang sendiri, dia merasa tertantang. Kaito semakin panas!
Kaito menendang dengan sasaran perut dan dagu pada lawannya. Setelah itu dia berhasil membanting lawannya dengan tenaga penuh!
Miki yang melihatnya tertegun. Namun konsentrasinya masih terpasang pada musuh-musuh yang akan dilawannya dengan buku matematika tebal favoritnya.
Len tersengal, tak terkecuali Rin.
Dua Kagamine ini sudah berhadapan dengan musuh asli mereka. Rin langsung melemaskan otot-otot jemarinya. Di sampingnya, Len, tengah melakukan pemanasan kecil. Yaitu menggoyang-goyangkan kakinya yang terasa kram.
"Wah, wah, wah… kotor sekali kalian." Ucap si ketua yang tadi berteriak dengan suara menggelegar.
"Oi. Honne… kelihatannya mereka capek tuh. Apa kita babat habis saja?" tanya si rambut gondrong merah yang dengan mudah dihabisi Rin dulu.
Rin jadi panas mendengar ucapan si gondrong itu.
"Boleh juga tuh Ted, dua lawan dua, menarik." Kata Honne—si ketua itu. Rin mengernyitkan dahinya. Baru saja Rin ingin maju, gadis itu ditahan Len.
"Jangan gampang panasan. Ada yang direncanakannya…" bisik Len. Dengan cepat Len menelpon Mikuo. Telepon terhubung. Len masih bisa mendengar Mikuo menendang—atau meninju musuhnya. Meski telepon bertengger di salah satu telinganya.
"Ya… hentikan saja. Ganti di depan. Suruh anak buah yang lain begitu. Oke. Bagus." Ujar Len. Dengan cepat, dia memutuskan hubungan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Ehem." Len berdehem—berniat basa-basi. "Nggak salah nih? Ketua ada di belakang. Pasukanmu pada sibuk di depan lho. Mana ketuanya pakai sembunyi lagi." Ujar Len sambil terkikik.
Honne tertawa keras.
Srak! Srak! Dari balik semak-semak, dua pria besar muncul dengan seringaiannya yang lebar. Rin dan Len refleks waspada. Honne tertawa penuh kemenangan. Ted terkikik penuh semangat. "Nah… dua lawan dua kan?" ulang Honne—masih sibuk menghisap rokoknya.
Len mengatupkan rahangnya. "Rin—kau masih kuat, kan?" tanya Len tanpa menoleh pada Rin. Rin terdiam, dia menatap ganas salah satu pria besar yang—kemungkinan—akan menjadi lawannya sekarang ini.
"Sangat. Justru… aku semakin panas." Jawab Rin dengan senyum penuh minat. Len terkekeh, harusnya dia tidak usah bertanya lagi.
Honne berdehem sejenak, lalu kemudian, tanpa aba-aba apa pun, dua pria besar—anak buahnya, langsung menyerbu Len dan Rin bersamaan. Len mengangkat lengannya, menangkis serangan pertama dari pria besar itu. Rin juga melakukan hal yang sama.
Len mengepalkan tangannya erat-erat, dia langsung meninju perut pria besar itu sekuat tenaga. Rin menendang dagu pria besar itu. Dua pria besar itu agak terlempar, namun, mereka itu lawan yang sangat kuat!
T O B E C O N T I N U E D
A/N : Awalnya… aku ingin kasih satu chapter aja pertarungan ini.
Tapi… ga jadi deh. Alasannya? Well… mungkin supaya bikin penasaran?
#PLAK! xD
Maaf ya… hehehe xDD
Pendek ya? Maaf... -,- aku nggak pintar buat fic yang panjang... *nangis dipojokan. Keadaanku lagi labil nih x9 (stress pikir tugas sekolah)
MAAF YA x)
(Oke, kolom jawab review kuhapus. Kalo ada pertanyaan, kujawab dimanaaa gitu *PLAK! Terus… selebihnya, aku hanya berkata (mungkin): "Makasih udah membaca! Atau terimakasih dukungannya! Atau… sembarang deh w *PLAK!")
